Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Light Dependent Resistor (LDR) Sebagai Alarm Anti Maling


Disusun untuk melengkapi Tugas Rangkaian Elektronika kelas A
Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknik Elektro UNESA

Disusun oleh :
Nama :

Dimas Yoga Apriawan

NIM

135874013

Kelas :

TE 13 A

Jurusan Teknik Elektro


Fakultas Teknik Elektro
Universtas Negeri Surabaya
Tahun Ajaran 2013/2014

ABSTRAK

Light Dependent Resistor atau yang biasa disebut LDR adalah jenis resistor
yang nilainya berubah seiring intensitas cahaya yang diterima oleh komponen
tersebut. Biasa digunakan sebagai detektor cahaya atau pengukur besaran konversi
cahaya. Light Dependent Resistor, terdiri dari sebuah cakram semikonduktor yang
mempunyai dua buah elektroda pada permukaannya. Pada saat gelap atau cahaya
redup, bahan dari cakram tersebut menghasilkan elektron bebas dengan jumlah
yang relatif kecil. Sehingga hanya ada sedikit elektron untuk mengangkut muatan
elektrik. Artinya pada saat cahaya redup LDR menjadi konduktor yang buruk, atau
bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yang besar pada saat gelap atau cahaya
redup.
Pada saat cahaya terang, ada lebih banyak elektron yang lepas dari atom
bahan semikonduktor tersebut. Sehingga akan ada lebih banyak elektron untuk
mengangkut muatan elektrik. Artinya pada saat cahaya terang LDR menjadi
konduktor yang baik, atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yang kecil pada
saat cahaya terang.

KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya
kepada kita semua, dan taklupa sholawat serta salam tetap tercurah limpahkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, terimakasih atas segala partisipasi
dari bapak/ibu dosen dan teman menyelesaikan makalah yang berjudul Light
Dependent Resistor (LDR) Sebagai Alarm Anti Maling,semoga dengan adanya
makalah ini dapat membantu dalam pengembangan pengetahuan pembaca akan
berbagai informasi yang terkait.
Hormat Kami,

Penyusun

DAFTAR ISI
ABSTRAK......................................................................................................................i
KATA PENGANTAR......................................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................1
1.3 Tujuan..................................................................................................................1
BAB II DASAR TEORI..................................................................................................2
2.1
A. Light Dependent Resistor (LDR)..................................................................2
B. Silicon Control Rectifier (SCR).....................................................................5
C. Transistor.....................................................................................................8
D. Resistor......................................................................................................12
E. Kapasitor Elektrolit.....................................................................................14
F. Buzzer........................................................................................................15
2.2 Alat dan Bahan yang Digunakan......................................................................16
2.3 Gambar Rangkaian Alarm...............................................................................16
2.4 Cara Kerja Rangkaian (Pembahasan).............................................................16
BAB III PENUTUP.....................................................................................................18
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kejahatan semakin meraja lela saja pada akhir-akhir ini. Nilai rupiah kian lama kian
menurun. Ini menyebabkan pada kehidupan yang semakin sulit saja. Persaingan dalam
mencari pekerjaan pun begitu ketat. Alhasil banyak pengangguran pun meluas bak
jamur di musim penghujan. Aksi pencurian yang terjadi pun juga semakin tinggi. Mari
kita atasi masalah tersebut dengan membuat alarm pencuri. Dari namanya saja terlihat
bahwa alarm tersebut dikhususkan untuk mendeteksi pencuri.
1.2 Rumusan Masalah
Pada makalah ini berikut akan mengambil masalah mengenai :
1. Apa itu rangakaian LDR Anti maling?
2. Bagaimana prinsip kerja dari Rangkaian LDR anti maling?
3. Bagaimanana pengaplikasiannya dari Rangkaian LDR anti maling?
1.3 Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan dari penyusunan makalah
ini adalah :
1. Menguji prinsip kerja LDR terhadap perubahan intensitas cahaya.
2. Mengetahui prinsip kerja dari Rangkaian LDR anti maling.
3. Membuat rangkaian anti maling serta pengaplikasiannya.

BAB II
2.1. Dasar Teori
A. Light Dependent Resistor (LDR)
LDR atau light Dependent Resistor adalah salah satu jenis resistor yang
nilai hambatannya dipengaruhi oleh cahaya yang diterima olehnya. Besarnya
nilai hambatan pada LDR tergantung pada besar kecilnya cahaya yang diterima
oleh LDR itu sendiri..
Tampilan fisik dan simbol LDR dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini :

Gambar 1. Tampilan Fisik dan Simbol LDR

Biasanya LDR (atau lebih dikenal dengan fotoresistor) dibuat berdasarkan


kenyataan bahwa film kadmium sulfida mempunyai tahanan yang besar kalau
tidak terkena cahaya dan tahanannya akan menurun kalau permukaan film itu
terkena sinar.
Resistor peka cahaya atau fotoresistor adalah komponen elektronik yang
resistansinya akan menurun jika ada penambahan intensitas cahaya yang
mengenainya. Fotoresistor dapat merujuk pula pada light dependent resistor
(LDR), atau fotokonduktor.
Fotoresistor dibuat dari semikonduktor beresistansi tinggi. Jika cahaya
yang mengenainya memiliki frekuensi yang cukup tinggi, foton yang diserap
oleh semikonduktor akan menyebabkan elektron memiliki energi yang cukup

untuk meloncat ke pita konduksi. Elektron bebas yang dihasilkan (dan


pasangan

lubangnya)

akan

mengalirkan

listrik,

sehingga

menurunkan

resistansinya.
Besarnya tahanan LDR / fotoresistor dalam kegelapan mencapai jutaan
ohm dan turun sampai beberapa ratus ohm dalam keadaan terang. LDR dapat
digunakan dalam suatu jaringan kerja (network) pembagi potensial yang
menyebabkan terjadinya perubahan tegangan kalau sinar yang datang
berubah.
LDR digunakan untuk mendeteksi intensitas cahaya, yang mana intensitas
cahaya sendiri dinyatakan dalam dua satuan fisika, yaitu lumens per meter
persegi dan Watt per meter persegi. Kedua satuan itu agak berbeda. yang satu
berdasarkan pada kepekaan mata manusia, yang satu lagi berdasarkan energi
listrik yang dialirkan ke sumber cahaya.
Karakteristik LDR
LDR adalah suatu bentuk komponen yang mempunyai perubahan resistansi
yang besarnya tergantung pada cahaya. Karakteristik LDR terdiri dari dua
macam yaitu Laju Recovery dan Respon Spektral:

1.

Laju Recovery
Bila sebuah LDR dibawa dari suatu ruangan dengan level kekuatan cahaya
tertentu ke dalam suatu ruangan yang gelap, maka bisa kita amati bahwa nilai
resistansi dari LDR tidak akan segera berubah resistansinya pada keadaan
ruangan gelap tersebut. Namun LDR tersebut hanya akan bisa mencapai harga
di kegelapan setelah mengalami selang waktu tertentu. Laju recovery
merupakan suatu ukuran praktis dan suatu kenaikan nilai resistansi dalam
waktu tertentu. Harga ini ditulis dalam K/detik, untuk LDR tipe arus harganya
lebih besar dari 200K/detik (selama 20 menit pertama mulai dari level cahaya
100 lux), kecepatan tersebut akan lebih tinggi pada arah sebaliknya, yaitu
pindah dari tempat gelap ke tempat terang yang memerlukan waktu kurang dari
10 ms untuk mencapai resistansi yang sesuai dengan level cahaya 400 lux.

2.

Respon Spektral
LDR tidak mempunyai sensitivitas yang sama untuk setiap panjang
gelombang cahaya yang jatuh padanya (yaitu warna). Bahan yang biasa
digunakan sebagai penghantar arus listrik yaitu tembaga, aluminium, baja,
emas dan perak. Dari kelima bahan tersebut tembaga merupakan penghantar
yang paling banyak, digunakan karena mempunyai daya hantar yang baik
(TEDC,1998)

3. Cara Sensor Cahaya LDR Bekerja


Resistansi LDR akan berubah seiring dengan perubahan intensitas cahaya
yang mengenainya atau yang ada disekitarnya. Dalam keadaan gelap
resistansi LDR sekitar 10M dan dalam keadaan terang sebesar 1K atau
kurang. LDR terbuat dari bahan semikonduktor seperti kadmium sulfida.
Dengan bahan ini energi dari cahaya yang jatuh menyebabkan lebih banyak
muatan yang dilepas atau arus listrik meningkat. Artinya resistansi bahan telah
mengalami penurunan.

4. Prinsip Kerja LDR


Pada sisi bagian atas LDR terdapat suatu garis / jalur melengkung yang
menyerupai bentuk kurva. Jalur tersebut terbuat dari bahan cadmium sulphida
yang sangat sensitiv terhadap pengaruh dari cahaya. Jalur cadmium sulfida
yang terdapat pada LDR dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Jalur Cadmium

Pada gambar jalur cadmium sulfida dibuat melengkung menyerupai kurva


agar jalur tersebut dapat dibuat panjang dalam ruang (area) yang sempit.
Cadmium sulfida (CdS) merupakan bahan semi-konduktor yang memiliki gap
energi antara elektron konduksi dan elektron valensi.
Ketika cahaya mengenai cadmium sulfida, maka energi proton dari
cahaya akan diserap sehingga terjadi perpindahan dari band valensi ke band
konduksi. Akibat perpindahan elektron tersebut mengakibatkan hambatan dari
cadmium sulfida berkurang dengan hubungan kebalikan dari intensitas cahaya
yang mengenai LDR.
B. Resistor
Resistor adalah suatu komponen elektronika yang dapat membatasi aliran arus
listrik. Hampir semua proyek elektronika menggunakan komponen yang satu
ini. Resistor atau tahanan mungkin lebih banyak digunakan dari pada
komponen-komponen lain. Resistor bekerja berdasarkan sifat resistansi suatu
bahan yang dapat menghantarkan listrik

Gambar 3. Resistor

C. Transistor
Transistor adalah komponen elektronika yang mempunyai tiga buah
terminal. Terminal itu disebut emitor, basis, dan kolektor. Transistor seakanakan dibentuk dari penggabungan dua buah dioda. Dioda satu dengan yang
lain saling digabungkan dengan cara menyambungkan salah satu sisi dioda
yang senama. Dengan cara penggabungan seperti dapat diperoleh dua buah
dioda sehingga menghasilkan NPN.
Bahan yang digunakan untuk menghasilkan bahan N dan bahan P
adalah silikon dan germanium. Oleh karena itu, dikatakan :
1. Transistor germanium PNP
2.Transistor silikon NPN
3.Transistor silikon PNP
4.Transistor germanium NPN
Semua komponen di dalam rangkaian transistor dengan simbol. Anak
panah terdapat di dalam simbol menunjukkan arah yang melalui transistor.

Gambar 4. Simbol Transistor NPN dan PNP

Keterangan :
C = kolektor
E = emitter
B = basis
Didalam pemakaiannya, transistor dipakai sebagai komponen saklar
(switching) dengan memanfaatkan daerah penjenuhan (saturasi) dan daerah
penyumbatan (cut off) yang ada pada karakteristik transistor.
Pada daerah penjenuhan nilai resistansi persambungan kolektor
emitter secara ideal sama dengan nol atau kolektor dan emitter terhubung
langsung (short). Keadaan ini menyebabkan tegangan kolektor emiter (V CE) = 0
Volt pada keadaan ideal, tetapi kenyataannya V CE bernilai 0 sampai 0,3 Volt.
Dengan menganalogikan transistor sebagai saklar, transistor tersebut dalam
keadaan on seperti gambar di bawah 4.

Gambar 5 Transistor sebagai saklar ON

Pada daerah penyumbatan, nilai resistansi persambungan kolektor


emitter secara ideal sama dengan tak terhitung atau terminal kolektor dan
emitter terbuka (open). Keadaan ini menyebabkan tegangan (V CB) sama

dengan tegangan seumber (VCC). Tetapi pada kenyataannya VCC pada saat ini
kurang dari VCC karena terdapat arus bocor dari kolektor ke emitter. Dengan
menganalogikan transistor sebagai saklar, transistor tersebut dalam keadaan
off seperti gambar di bawah ini.

Gambar 6. Transistor sebagai saklar Off

Karakteristik Ic dengan Vce


Gambar di bawah memperlihatkan karakteristik keluaran yang
menghubungkan arus Ic dengan tegangan Vce untuk harga arus Ib tertentu.
Kurva ini menyajikan hubungan antara arus masukan di satu sisi dan arus serta
tegangan keluaran di sisi yang lain. Parameter yang sangat penting bagi
transistor adalah penguat arus DC, yang dikenal sebagai penguat arus statis
hfe. Ini adalah penguatan transistor pada keadaan stasioner, yaitu tanpa sinyal
masukan. Tidak mempunyai satuan (karena suatu perbandingan).

Gambar 7. Karakteristik Ic terhadap Vce

Karakteristik arus kolektor terhadap Vce pada transistor 2. Transistor


NPN Kolektor dan emitter merupakan bahan semikonduktor jenis n dan lapisan
diantaranya merupakan semikonduktor jenis p. Transistor bekerja dalam satu
arah, yaitu dari kolektor menuju emitter, karena kedua terminal tersebut terbuat
dari bahan yang sama.
Pada dasarnya transistor dapat dianggap sebagai suatu piranti yang
beroperasi karena adanya arus. Kalau alat mengalir ke dalam basis dan
melewati sambungan basis emitter, suatu suplai positif pada kolektor akan
menyebabkan arus mengalir antara kolektor dan emitter. Dua hal yang harus
diperhatikan pada arus kolektor ini adalah :
a. Untuk arus basis nol, arus kolektor turun sampai pada tingkat arus
kebocoran, yaitu kurang dari 1 mikro Ampere dalam kondisi normal (untuk
transistor dengan bahan dasar silicon).
b. Untuk arus basis tertentu, arus kolektor yang mengalir akan jauh lebih besar
daripada arus basis itu. Arus kolektor tersebut dicapai dengan: Ic = hfe x Ib. 3.
Transistor sebagai saklar cara yang termudah untuk menggunakan
sebuah transistor adalah sebagai sebuah saklar, artinya bahwa kita
mengoperasikan transistor pada salah satu dari saturasi atau titik sumbat, tetapi
tidak di tempat-tempat sepanjang garis beban.
Jika sebuah transistor berada dalam keadaan saturasi, transistor
tersebut seperti sebuah saklar yang tertutup dari kolektor ke emitter.
Jika transistor tersumbat (cut off), transistor seperti sebuah saklar
yang terbuka.

Gambar 8 Transistor Sebagai Saklar dan rangkaian switching transistor.

Penjumlahan tegangan sekitar loop input memberikan:

Jika arus basis lebih besar atau sama dengan Ib (sat), titik kerja Q
berada pada ujung atas garis beban (gambar 8. (kanan)). Dalam hal ini
transistor bekerja pada ujung bawah dari garis beban, dan transistor terlihat
seperti sebuah switch yang terbuka.
Cara mengetahui transistor jenis PNP atau NPN
Anda harus menggunakan ohm meter atau multitester ( Avometer ).
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam menentukan transistor jenis
PNP atau jenis NPN adalah sebagai berikut :
Pastikan bahwa anda ingin menentukan jenis PNP atau NPN.
Saklar multitester pada posisi R x 100 ohm.
Hubungkan pencolok hitam (-) pada kaki emitor.
Hubungkan pencolok merah (+) pada kaki basis.

10

Catat berapa jarum skala bergerak dan berhenti.


Kemudian pencolok hitam pada kaki kolektor.
Lihat jarum skala pasti bergerak dan berhenti pada angka tertentu.
Jika pengukuran pengukuran pertama jarum lebih kecil dari
pengukuran yang kedua berarti Transistor jenisPNP
Jika jarum lebih skala lebih besar daripada pengukuran kedua
berarti jenis NPN.

D. Resistor
Sebuah resistor sering disebut werstan, tahanan atau penghambat, adalah
suatu komponen elektronik yang dapat menghambat gerak lajunya arus listrik.
Resistor disingkat dengan huruf "R" (huruf R besar). Satuan resistor adalah
Ohm, yang menemukan adalah George Ohm (1787-1854), seorang ahli Fisika
bangsa Jerman.

Gambar 9 Gambar fisik macam-macam resistor

Kemampuan resistor untuk menghambat disebut juga resistensi atau


hambatan listrik. Besarnya diekspresikan dalam satuan Ohm. Suatu resistor
dikatakan memiliki hambatan 1 Ohm apabila resistor tersebut menjembatani
beda tegangan sebesar 1 Volt dan arus listrik yang timbul akibat tegangan
tersebut adalah sebesar 1 ampere, atau sama dengan sebanyak 6.241506
1018 elektron 1per detik mengalir menghadap arah yang berlawanan dari arus.
Hubungan antara hambatan, tegangan, dan arus, dapat disimpulkan
melalui hukum berikut ini, yang terkenal sebagai hukum Ohm:

11

V=I.R
Dimana V adalah beda potensial antara kedua ujung benda penghambat, I
adalah besar arus yang melalui benda penghambat, dan R adalah besarnya
hambatan benda penghambat tersebut.
Gelang Warna pada Resistor
Pada Resistor biasanya memiliki 4 gelang warna, gelang pertama dan
kedua menunjukkan angka, gelang ketiga adalah faktor kelipatan, sedangkan
gelang ke empat menunjukkan toleransi hambatan.
Pertengahan tahun 2006, perkembangan pada komponen Resistor terjadi
pada jumlah gelang warna. Dengan komposisi: Gelang Pertama (Angka
Pertama), Gelang Kedua (Angka Kedua), Gelang Ketiga (Angka Ketiga),
Gelang Keempat (Multiplier) dan Gelang Kelima (Toleransi).
Berikut Gelang warna dimulai dari warna Hitam, Coklat, Merah, Jingga,
Kuning, Hijau, Biru, Ungu (violet), Abu-abu dan Putih Sedangkan untuk gelang
toleransi hambatan adalah: Coklat 1%, Merah 2%, Hijau 0,5%, Biru 0,25%,
Ungu 0,1%, Emas 5% dan Perak 0%. Kebanyakan gelang toleransi yang
dipakai oleh umum adalah warna Emas, Perak dan Coklat.
Sifat-sifat resistor, antara lain sebagai berikut :

Jika pada ujung-ujungnya dipasang tegangan, akan mengalirkan arus


sebesar I=V/R

Dapat mengalirkan arus searah maupun bolak-balik


Dapat mengalirkan arus bolak-balik berfrekuensi tinggi maupun rendah.
Jika dua buah resistor R1 dan R2 disusun secara seri, maka nilai resistansi
penggantinya adalah R1+R2 dan jika disusun secara paralel nilai resistansi
penggantinya adalah R1.R2/(R1+R2).

Gambar 10 Rangkaian a.seri b.paraller

12

E. Kapasitor Elektrolit
Kapasitor elektrolit adalah sebuah kapasitor yang memiliki polaritas.
Sehingga untuk pemasangan komponen pada rangkaian harus memperhatikan
polaritas pada kaki-kakinya, antara kutub positif dan kutub negatif.Jika terjadi
kesalahan pemasangan pada rangkaian maka dapat menyebabkan kerusakan
pada komponen lainnya yang terdapat didalam rangkaian tersebut. Salah satu
comtoh kapasitor elektrolit adalah ELCO (Electrilyte Condensator).

Gambar 11. Simbol Kapasitor

Pada umumnya nilai kapasitansi dari kapasitor tetap dapat dilihat dari label
permukaannya. Hanya saja ada perbedaan dalam pembacaan nilai dari
masing-masing jenis kapasitor. Pada kapasitor elektrolit, untuk mengetahui nilai
kapasitansinya cukup dengan membaca langsung label yang sudah tersedia
dan umumnya disusun dalam satuan mikro Farad (F) dan dilengkapi dengan
batas tegangan kerjanya.
Ada dua cara untuk membaca nilai kapasitansi yang terdapat pada badan
kapasitor non-elektrolit.Untuk kapasitor non-elektrolit yang pada badannya
tertera tiga angka,cara membacanya sebagai berikut. Angka pertama dan
kedua adalah variabel nilai, sedangkan angka ketiga adalah faktor kali. Adapun
satuan yang digunakan adalah pico Farad (pF).

13

F. Buzzer

Gambar 12 Simbol Buzzer

Gambar 13 Buzzer

Buzzer adalah sebuah komponen elektronika yang berfungsi untuk


mengubah getaran listrik menjadi getaran suara. Pada dasarnya prinsip kerja
buzzer hampir sama dengan loud speaker, jadi buzzer juga terdiri dari
kumparan yang terpasang pada diafragma dan kemudian kumparan tersebut
dialiri arus sehingga menjadi elektromagnet, kumparan tadi akan tertarik ke
dalam atau keluar, tergantung dari arah arus dan polaritas magnetnya,
karena kumparan dipasang pada diafragma maka setiap gerakan kumparan
akan menggerakkan diafragma secara bolak-balik sehingga membuat udara
bergetar yang akan menghasilkan suara. Buzzer biasa digunakan sebagai
indikator bahwa

14

2.2 Alat dan Bahan yang Digunakan

Daftar komponen yang digunakan

Resistor : 5 = 1 K 2 R3 = 47k

Kapasitor : C = 220F / 12 VDC

Transistor : TR = BC547

LDR : Type ORP 12

BUZZER : 6 - 9 VDC

SAKLAR : S = Saklar SPDT

BATERAI : 9 VDC

2.3 Gambar Rangkaian Alarm

2.4 Cara Kerja Rangkaian (Pembahasan)


Rangkaian alarm ini sangat cocok dipakai untuk mengusir tamu tak
diundang atau pencuri. Sebagai komponen utama adalah sebuah sensor yaitu
berupa komponen LDR (Light Different Resistance) yang dipasang pada tempat
tersembunyi namun mendapat cahaya lampu penerangan yang ada.
Rangkaian alarm ini akan berbunyi apabila ada cahaya yang menyinari LDR

15

terpotong/terhalang oleh orang atau sebuah gerakan yang lewat sensor


tersebut.
Telah kita ketahui bahwa komponen-komponen elektronika yang dibutuhkan
untuk merangkai alarm diatas mempunyai cara kerja sendiri-sendiri yaitu:
1. Resistor berfungsi sebagai tahanan listrik yang mempunyai besar
tahanan sesuai dengan warna-warna yang ditunjukkan pada transistor.
2. Kapasitor berfungsi untuk menyimpan muatan listrik. Kapasitor yang
digunakan dalam rangkaian alarm ini adalah kapasitor elektrolisis jenis
elektrolisis aluminium. Kapasitor jenis ini memiliki terminal positif dan
terminal negatif. Kedua terminal ini harus disambungkan dengan
polaritas yang benar.
3. Transistor berfungsi untuk mengalirkan arus melalui terminal emitor
dengan polaritas paling negatif, terminal kolektor beberapa volt lebih
positif dibandingkan terminal emitor lainnya dan terminal basis lebih
positif 0,7 V daripada terminal emitor lainnya.
4. SCR fungsinya hampir sama dengan Transistor yaitu untuk mengalirkan
arus melalui terminal emitor dengan polaritas paling negatif, terminal
kolektor beberapa volt lebih positif dibandingkan terminal emitor lainnya
dan terminal basis lebih positif 0,7 V daripada terminal emitor lainnya.
5. LDR (Light Dependent Resistor) yang terdiri dari sebuah piringan bahan
semikonduktor dengan dua buah elektroda pada permukaannya. Di
bawah cahaya yang cukup terang, banyak elektron yang melepaskan diri
dari atom-atom bahan semikonduktor sehingga nilai tahanan listrik
bahan rendah. Dan sebaliknya apabila dalam gelap atau dibawah
cahaya yang redup, bahan piringan hanya mengandung elektron bebas
dalam jumlah yang relatif sangat kecil sehingga nilai tahanan bahan
sangat tinggi sehingga alarm dapat bekerja.
6. Buzzer (speaker) berfungsi sebagai penghasil suara alarm.
7. saklar SPDT (Single-Pole, Double-Throw) berfungsi untuk menyambung
dan memutuskan arus listrik yang mengalir pada alarm.
8. Baterai berfungsi sebagai sumber daya pada alarm.
Apabila saklar pertama dihidupkan, maka alarm yang bekerja adalah alarm
yang pertama yaitu yang diletakkan pada pintu rumah. Sehingga apabila
ada seorang maling yang masuk kedalam rumah melalui pintu, maka
cahaya yang menyinari sensor (LDR) akan terpotong dan alarm akan
berbunyi.

16

Jika saklar kedua dihidupkan, maka alarm yang bekerja adalah alarm yang
kedua yang diletakkan pada ruangan atau bagian dalam rumah. Dimana
cara kerja rangakaian alarm yang kedua, apabila ada orang yang bergerak
didalam ruangan tersebut, maka akan mengakibatkan cahaya yang
menyinari sensor (LDR) akan terhalang dan alarm akan berbunyi.
Sedangkan apabila kedua saklar dihidupkan, maka alarm yang bekerja
adalah kedua-duanya, sehingga apabila ada seorang pencuri yang masuk
melalui pintu maupun terdapat gerakan didalam ruangan rumah maka alarm
akan berbunyi, dan sebaliknya apabila kedua saklar alarm dimatikan maka
tidak
ada
alarm
yang
bekerja.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari penyusunan makalah ini antara lain :
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa rangkaian alarm anti
maling tersebut dapat berbunyi ketika sensor (LDR) dalam keadaan gelap atau
tidak mendapat cahaya lampu, karena jika sensor (LDR) dalam keadaan gelap
mempunyai tahanan yang lebih tinggi daripada sensor (LDR) dalam keadaan
yang tersinari cahaya, sehingga alarm dapat bekerja atau berbunyi.

17

DAFTAR PUSTAKA
http://de-kill.blogspot.com/2008/03/perancangan-alarm-anti-maling.html Diakses
pada 18 mei 2014