Anda di halaman 1dari 15

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten(dr. soekidjo).

Tidak semua
penyakit dapat dicegah dengan imunisasi. Yang dapat dicegah adalah penyakit
yang menular, yang disebabkan karena masuknya kuman penyebab penyakit
tertentu ke dalam tubuh kita oleh karena itu seorang Anak kebal atau resisten
terhadap suatu penyakit, tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain.(dr.
soekidjo dan hendra utama). Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan
sengaja memberikan kekebalan (Imunitas) pada bayi atau anak (KONSEP
PERAWATAN ANAK<<<yupi supartini,,,penerbit buku kedoktran EGC,,2002
jakarta,,,EDIT monika Ester,,,173. Anak diimunisasi, berarti diberikan kekebalan
terhadap suatu penyakit tertentu. (dr. soekidjo) umumnya diberikan bayi dan anak
dengan harapan agar bayi dan anak tetap tumbuh dalam keadaan sehat. Secara
alamiah tubh sudah memiliki pertahanan terhadap berbagai kuman yang masuk.
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mrncegah
terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan Vaksin adalah
bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang di masukkan
kedalam tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT, dan campak) dan
melalui mulut (misalnya vaksin polio).
Tujuan dari imunisasi adalah diharapkan agar anak menjadi kebal terhadap
penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortabilitas serta
mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Macam-macam imunisasi berdasarkan proses atau mekanisme pertahanan
tubuh, imunisasi dibagi menjadi dua: imunisasi aktif dan imunisasi pasif.

Imunisasi aktif
Merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi proses
infeksi buatan, sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan
menghasilkan respon seluler dan humoral serta dihasilkannya cell memory. Jika
benar-benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat merespons. Dalam imunisasi
aktif terdapat empat macam kandungan dalam setiap vaksinnya, yaitu:
a. antigen merupakan bagian dari vaksinasi yang berfungsi sebagai zat atau
mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan (berupa polisakarida, toksoid,
virus yang dilemahkan atau bakteri yang dimatikan)
b. pelarut dapat berupa air steril atau berupa cairan kultur jaringan.
c. preservative, stabilizer, dan antibiotic yang berguna untuk mencegah timbulnya
mikroba sekaligus untuk stabilisasi antigen
d. adjunvans yang terdiri atas garam aluminium yang berfungsi untuk
meningkatkan imunogenitas antigen
Imunisasi Pasif
Merupakan pemberian zat (immunoglobulin) yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui
suatu proses infeksi yang berasal dari plasma manusia atau binatang yang
digunakan untuk mengatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang
terinfeksi.
Jenis-jenis imunisasi dasar dan booster:
1. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG (basillus cabmette Guerin) merupakan imunisasi yang


digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat Pengantar
Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan
Oleh A. Aziz Alimul,,,penerbit salemba medika,,2008,,Jakarta,,editor: rida
2.

Angriani,,TTG IMUNISASI))

1. Macam macam kekebalan


Kekebalan terhadap suatu penyakit menular dapat digolongkan menjadi 2,
yakni:
a. Kekebalan tidak spesifik (non-spesifik resistance)
yang dimaksud dengan faktor-faktor non khusus adalah pertahanan tubuh
pada manusia yang secara alamiah dapat melindungi bahan dari suatu
penyakit, misalnya, kulit, air mata, cairan-cairan khusus yang keluar dari
perut (usus), adanya reflek-reflek tertentu misalnya batuk, bersin dan
sebagainya.
b. Kekebalan spesifik (specipic resistance)
Kekebalan spesifik dapat diperoleh dari dua sumber, yakni:
(1) Genetika
Kekebalan berasal dari sumber genetika ini biasanya berhubungan
dengan ras (warna kulit) dan kelompok-kelompok etnis, misalnya orang
kulit hitam (Negro) cenderung lebih resisten terhadap penyakit malaria
dan sejenisnya.
(2) Kekebalan yang diperoleh (acquaied immunity)
Kekebalan ini diperoleh dari luar tubuh anak atau orang yang
bersangkutan. Kekebalan bisa bersifat aktif, dan dapat bersifat pasif.
Kekebalan aktif dapat diperoleh setelah orang sembuh dari penyakit
tertentu. Misalnya anak yang telah sembuh dari penyakit campak ia
akan kebal terhadap penyakit campak. Kekebalan aktif juga dapat
diperoleh melalui imunisasi, yang berarti ke dalam tubuhnya

dimasukan organisme pathogen (bibit) penyakit. Kekebalan pasif


diperoleh dari ibu melalui plasenta. Ibu yang telah memperoleh
kekebalan terhadap penyakit tertentu, misalnya campak, malaria,
tetanus, maka anaknya (bayi) akan memperoleh kekebalan terhadap
penyakit tersebut untuk beberapa bulan pertama. Kekebalan pasif ini
hanya bersifat sementara (dalam waktu pendek saja)
(3) Fakto-faktor yang mempengaruhi kekebalan

Umur
Untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita), dan prang tua lebih
mudah terserang. Sedangkan pada usia sangat muda atau usia tua lebih rentan,
kurang kebal terhadap penyakit-penyakit menular tentu. Hal ini mungkin
disebabkan karena kedua kelompok umur tersebut daya tahan tubuhnya

rendah.
Seks
Untuk penyakit-penyakit menular tertentu seperti polio dan diphteia lebih parah

terjadi pada wanita daripada pria.


Kehamilan
Wanita yang sedang hamil pada umumnya lebih rentan terhadap penyakit
menular tertentu misalnya penyakit polio, pneumonia, malaria serta amebiosis.
Sebaliknya untuk penyakit typhoid dan meningitis jarang terjadi pada wanita

hamil.
Gizi
Gizi yang baik pada umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap
penyakit-penyakit infeksi, sebaliknya kekurangan gizi berakibat kerentanan

seseorang terhadap penyakit infeksi.


Trauma
Stress adalah salah satu bentuk trauma dan merupakan penyebab kerentanan
seseorang terhadap suatu penyakit infeksi tertentu.

Kekebalan masyarakata (heard immunity)

Kekebalan yang terjadi pada tingkat komuniti disebut heard immunity. Apabila
heard immunity di masyarakat rendah, maka masyarakat tersebut akan mudah
terjadi wabah sebaliknya apabila heard immunity tinggi, maka wabah jarang terjadi
pada masyarakat tersebut.
Masa inkubasi

(4)
2.

Program lingkungan sehat menurut program pembangunan nasional .


(Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan Oleh Ferry Efendi, Makhfudli,Ferry Efendi- Makhfudli, editor;
Nursalam, M. Nurs,,penerbit salemba Medika,,tahun 2009,,bab dasar
kesehatan lingkungan,,,76-82)
Bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang sehat, yang mendukung
tumbuh kembang anak dan remaja, memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup sehat,
dan memungkinkan untuk hidup sehat, dan memungkinkan untuk interaksi social,
serta melindungi masyarakat dari dari ancaman bahaya yang berasal dari
lingkungan sehingga tercapai derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
yang optimal.
Sasaran yang dicapai oleh program ini adalah sebagai berikut :
1. Tersusunnya kebijaksanaan dan konsep peningkatan kualitas lingkungan di
tingkat lokal, regional, dan nasional dengan kesepakatan lintas sektoral
tentang tanggung jawab perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan

2. Terselenggaranya upaya peningkat lingkungan fisik, social, dan budaya


,masyarakat dengan memaksimalkan potensi sumber daya secara mandiri.
3. Meningkatnya kesadaran dan tanggung jawab masyarakat untuk memelihara
lingkungan sehat
4. Meningkatkan cakupan keluarga yang mempunyai akses terhadap air bersih
yang memenuhi kualitas bakteriologis dan sanitasi lingkungan diperkotaan
dan pedesaan
5. Tercapainya permukiman dan lingkungan perumahan yang memenuhi syarat
kesehatan dipedesaan dan perkotaan termasuk penanganan daerah kumuh
6. Terpenuhinya persyaratan kesehatan ditempat-tempat umum termasuk
sarana dan cara pengelolaannya.
7. Terpenuhinya lingkungan sekolah dengan ruang yang memadai dan kondusif
untuk menciptakan interaksi social dan mendukung perilaku hidup sehat.
8. Terpenuhinya persyaratan kesehatan di tempat kerja, perkantoran, dan
industry termasuk bebas radiasi
9. Terpenuhinya persyaratan kesehatan diseluruh rumah sakit dan sarana
pelayanan kesehatan lain termasuk pengelolaan limbah
10.Terlaksananya pengelolaan limbah industry dan populasi udara oleh industry
maupun sarana transportasi
11.Menurunnya tingkatan paparan pestisida dan insektisida di lingkungan kerja
pertanian dan industry serta pengawasan terhadap produk-produknya untuk
keamanan konsumen.
Kegiatan pokok yang tercakup dalam program lingkungan sehat adalah:
1. Meningkatkan promosi hygiene dan sanitasi ditingkat individu, keluarga dan
masyarakat
2. Meningkatkan mutu lingkungan perumahan dan pemukiman termasuk
pengungsian
3. Meningkatkan hygiene dan sanitasi tempat-tempat umum dan pengelolaan
makanan
4. Meningkatkan kesehatan keselamatan kerja
5. Meningkatkan wilayah atau kawasan sehat termasuk kawasan bebas merokok

Masalah-masalah kesehatan lingkungan di Indonesia:


1. Air bersih
Adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.
Sedangkan air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan
dan bisa langsung diminum. Syarat-syarat kualitas air bersih diantaranya:
1. Syarat fisik : tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
2. Syarat kimia : kadar besi maksimum yang diperbolehkan 0,3 mm/l,
kesadahan (maks. 500 mg/l)
3. Syarat mikrobiologis: koliform tinja atau total koliform ( maks. 0 per 100 ml
air)
2. pembuangan kotoran atau tinja
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu menggunakan jamban dengan syarat
sebagai berikut:
1. Tanah permukaan tidak boleh terkontaminasi
2. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata
3.
4.
5.
6.

air atau sumur.


Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
Tinja tidak boleh terjangkau lalat dan hewan lainnya
Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang
Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal

3. pembuangan sampah
Teknik pengelolaan sampah yang baik harus memperhatikan faktor-faktor atau
unsure sebagai berikut:
1. Penimbunan sampah: faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah
adalah jumlah penduduk dan kepadatannya, tingkat aktivitas, pola kehidupan

atau tingkat social ekonomi, letak geografis, iklim, musim, kemajuan


2.
3.
4.
5.

teknologi.
Penyimpanan sampah
Pengumpulan, pengelolaan dan pemamfaatan kembali
Pengangkutan
Pembuangan.

Dengan mengetahui unsure-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui


hubungan dan uregensi masing-masing unsure tersebut agar kita dapat
memecahkan masalah ini secara efisien.
4. Serangga dan binatang pengganggu
Serangga sebagai reservoir bibit penyakit yang kemudia disebut sebagai
vector. Misalnya pinjal tikus untuk penyakit pes atau sampar, nyamuk
anopheles sp. Untuk penyakit malaria, nyamuk aedes sp. Untuk penyakit
deman berdarah dengue (DBD), nyamuk culex sp. Untuk penyakit filariasis
(kaki gajah). Penanggulangan atau pencegahan dari penyakit tersebut
diantaranya merancang rumah atau tempat pengelolaan makanan yang antitikus, kelambu yang dicelupkan ke dalam pestisida untuk mencegah gigitan
nyamuk Anopheles sp. Gerakan 3M (Menguras, Mengubur, Menutup) tempat
penampungan air untuk mencegah penyakit DBD, penggunaan kasa pada
lubang angin dirumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit
filarisasi dan usaha-usaha sanitasi.
Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit, misalnya anjing,
dapat menularkan penyakit anjing gila atau rabies. Kecoa dan lalat dapat
menjadi perantara perpindahan bibit penyakit kemakanan sehingga
menimbulkan diare. Tikus dapat menyebabkan leptospirosis dari pengeluaran
urine yang telah terinfeksi bakteri penyebab.
5. Makanan dan minuman
Sasaran hygiene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah
makan, jasa boga dan makanan jajanan (yang diolah oleh pengrajin makanan

ditempat penjualan dan/atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk


dijual bagi umum, selain yang disajikan jasa boga, rumah makan atau
restoran dan hotel). Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman
tempat pengelolaan makanan dan minuman meliputi persyaratanpersyaratan seperti lokasi dan bangunan; fasilitasi sanitasi: dapur, ruang
makan, dan gudang makanan; bahan makanan dan makanan jadi;
pengolahan makanan; penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi; serta
peralatan yang digunakan.
6. Pencemaran lingkungan
Pencemaran lingkungan diantaranya pemcemaran air, tanah, dan udara.
Pencemaran udara dapat dibagi lagi menjadi pencemaran udara didalam
ruangan (indoor air pollution) misalnya, di dalam rumah, sekolah, kantor dan
pencemaran udara diluar ruangan (outdoor air pollution) mulai dari tingkat
lingkungan rumah, perkotaan, hingga ke tingkat regional, bahkan saat ini
sudah menjadi gejala global contohnya Pencemaran udara . Polusi udara
dalam ruangan merupakan masalah dalam pemukiman, gedung umum, bis,
kereta api, dan lainya. Masalah ini lebih berpotensi menjadi masalah
kesehatan yang sesungguhnya, mengingat manusia cenderung lebih sering
dalam ruangan dari pada di jalanan. Pembakaran kayu bakar dan bahan
bakar rumah tangga lainnya diduga merupakan salah satu faktor resiko
timbulnya infeksi saluran pernapasan bagi anak balita.
Polusi udara diluar ruangan, berbagai analisa data menunjukan ada
kecenderungan meningkat sekarang. Beberapa penelitian menunjukan
adanya perbedaan resiko dampak pencemaran pada beberapa kelompok
beresiko tinggi penduduk kota dibandingkan pedesaan. Keadaan ini, bagi
jenis pencemaran yang akumulatif, tentu akan lebih buruk di masa
mendatang. Pembakaran hutan untuk lahan pertanian atau sekedar diambil

kayunya ternyata membawa dampak serius, misalnya infeksi saluran


pernapasan, iritasi pada mata, tergantungnya jadwal penerbangan, dan
tergantungnya ekologi hutan.
Penyebab masalah kesehatan di Indonesia antara lain adalah pertambahan dan
kepadatan penduduk, keanekaragaman social dan budaya dan adat istiadat dari
sebagian besar penduduk, serta belum memadainya pelaksanaan fungsi
manajemen. Contoh hubungan dan pengaruh kondisi lingkungan terhadap
kesehatan masyarakat diperkotaan dan pemukiman diantaranya sebagai berikut:
Urbanisasi

kepadatan kota

keterbatasan lahan

daerah kumuh (slum)

sanitasi kesehatan lingkungan buruk


kegiatan di kota ( industrialisasi )

menghasilkan limbah cair

dibuang

(kesungai) tanpa pengelolaan sungai dimamfaatkan untuk mandi, cuci, kakus


penyakit menular.
Kegiatan di kota ( lalu lintas alat transportasi )

emisi gas buang (asap)

mencemari udara kota


udara tidak layak dihirup
penyakit ISPA
Peningkatan kesehatan lingkungan perlu diselenggarakan untuk mewujudkan
kualitas lingkungan. Lingkungan yang sehat, yaitu lingkungan yang bebas dari
resiko yang membahayakan kesehatan keselamatan hidup manusia.
Puskesmas (Perawata Ibu and bayi,,,penerbit buku kedokteran EGC
Puskesmas ( pusat kesehatan) dipakai untuk menjelaskan fasilitas yang
memberikan pelayanan kesehatan ditingkat kabupaten ( WHO). Puskesmas pada
umumnya berfokus pada pasien rawat jalan, dan puskesmas juga mampu
memberikan pelayanan pencegahan (preventif) dan pelayanan pengobatan (kuratif)
yang lebih baik dibandingkan pelayanan serupa yang diberikan oleh masyarakat,

tetapi tidak secanggih pelayanan yang membutuhkan kapasitas teknis dan fasilitas
yang hanya terdapat di rumah sakit. Di puskesmas mempunyai rim multi-disipliner
yang mampu memberikan suatu rentang pelayanan termasuk perawatan ibu dan
anak, dan acapkali hal itu merupakan cirri khas dari pelayanan yang diberikan oleh
puskesmas pemerintah. Untuk alasan itulah, puskesmas merupakan tempat yang
paling tepat untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar di tingkat kabupaten.
Puskesmas memiliki peran yang berorientasi pada komunitas, puskesmas
bertanggung jawab terhadap sekelompok penduduk tertentu, dan memberikan atau
mengawasi semua kegiatan kesehatan yang meliputi tindakan pengobatan,
pencegahan, dan promosi kesehatan yang dilakukan didalam masyarakat tersebut.
Macam-macam Puskesmas:
1. Puskemas tipe 1
Merupakan kelompok yang penting, tetapi jenisnya bermacam-macam. Demi
tujuan kita, adalah sangat penting untuk membedakan puskesmas tersebut,
yang melibatkan seseorang tenaga terlatih untuk melakukan perencanaan
dibidang kebidanan dan keluarga berencana, dengan balai pengobatan dan
pos-pos kesehatan yang peran utamanya adalah memberikan perawatan
kuratif primer dan yang kontribusinya kepada perawatan kesehatan
reproduksi adalah pelayanan klinik kesehatan ibu dan anak secara berpindah
dan berkala. Puskesmas tipe I ada yang mempunyai kamar bersalin dan ada
juga yang tidak, bahkan kebanyakan tidak mempunyai tempat tidur sama
sekali, dan ada beberapa persalinan yang ditolong oleh bidan dilakukan di
rumah masing-masing penduduk. Sebagian besar perawatan kesehatan
reproduksi yang diberikan oleh puskesmas adalah klinik pranatal, dan
layanan keluarga berencana dengan tambahan berupa pelayanan abortus.
2. Puskesmas tipe II
Mencakup semua puskesmas yang ada dinegara berkembang yaitu
puskesmas pedesaan yang agak lebih besar. Umumnya tenaga kerja adalah

1 atau beberapa orang ahli klinis (dokter, pengawas klinik, atau asisten
dokter), seorang perawat professional atau bidan yang bertanggung jawab
khusus di bidang pelayanan kesehatan ibu dan anak seta kegiatan keluarga
berencana, dan seorang pengawas kesehatan atau asisten sanitasi.
Puskesmas ini mungkin juga memiliki beberapa tempat tidur yang dapat
dipakai oleh pasien untuk sementara dan untuk memberikan pertolongan
kebidanan, meskipun jumlah ibu yang akan melahirkan sangat bervariasi,
bahkan umumnya cukup sediki. Fasilitas kamar operasi yang ada umumnya
hanya dapat digunakan untuk melakukan prosedur bedah minor. Seringkali
juga terdapat laboratorium dasar yang kecil. Puskesmas ini umumnya
didirikan oleh pemerintah, tetapi banyak juga diselenggarakan oleh
organisasi social atau organisasi perusahaan atau organisasi nirbala
nonpemerintah (lembaga swadaya masyarakat <LSM>).
Tipe
Nama
1. Balai pengobatan
Pos kesehatan
Puskesmas
pembantu

2. Puskesmas

Karakteristik
Pelayanan kuratif (pengobatan) dan pelayanan
rawat jalan yang terbatas
Pengembangan masyarakat
Tidak ada tempat tidur, tetapi mungkin saja ada 1
(satu) tempat tidur maternitas
Tenaga kerja hanya bidan pembantu
Jumlah penduduk yang dilayani < 10.000
Pelayanan kuratif (pengobatan) dan pelayanan
rawat jalan
Promosi kesehatan, pencegahan, dan pendidikan

kesehatan.
Tempat tidur maternitas dan obsevasi
Dukungan terhadap puskesmas pembantu
Kamar operasi untuk pasien rawat jalan
Tenaga kerja adalah tim yang terdiri atas tenaga
kesehatan professional dan tenaga bantuan lain

Jumlah penduduk yang dilayani antara 10.00050.000


Pendidikan kesehatan
Tujuan pendidikan kesehatan adalah menanamkan pengetahuan, dengan
harapan agar pengetahuan tersebut dapat membentuk sikap yang pada
gilirannya akan mempengaruhi perilaku. Ada keraguan besar terhadap
keefektifan upaya pendidikan kesehatan sekolah. Banyak program yang
begitu buruknya sehingga membenarkan karaguan tersebut, tetapi banyak
bukti baru yang menunjukan bahwa upaya pendidikan kesehatan sekolah
yang didesain dengan baik dapat meningkatkan gizi, menurunkan perilaku
beresiko misalnya, konsumsi miras (minuman keras) dan merokok serta
mencegah kehamilan.
tindakan pencegahan umum:
1. Air dan sanitasi: jumlah dan kualitas air yang memadai; sanitasi yang
memadai; penyuluhan kebersihan
2. Ketahanan pangan, gizi dan bantuan pangan: akses terhadap
pangan/makanan yang memadai dan pengelolaan kekurangan gizi
3. Hunian: penampungan yang memadai dan mencukupi

pencegahancampak dan perluasan program imunisasi (EPI)


dilakukan karena campak berpotensi tinggi untuk menjadi KLB
dan mengakibatkan kematian, vaksinasi masal untuk anak-anak
untuk mencegah penyakit tersebut sering menjadi perioritas
tinggi bagi penduduk yang tekena dampak bencana, terutama
mereka yang mengungsi dan/atau terkena dampak konflik.
Vaksinasi untuk mencegah penyakit-penyakit yang diderita anakanak lainnya. Piagam Kemanusiaan dan standar minimum dalam respons
bencana,,penerbit PT grasindo (Ed.Rev)
Oleh Proyek Sphere,,,2006,,,Jakarta

Pelayanan kesehatan merupakan suatu unsure penentu yang kritis untuk


pertahanan hidup pada tahap awal suatu bencana. Bencana hampir selalu
menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat dan kesejahteraan
penduduk yang terkena dampak bencana baik dampak kesehatan secara langsung
misalnya cidera, trauma psikologis dan secara tidak langsung misalnya
meningkatnya tingkat penyakit infeksi, kekurangan gizi, komplikasi penyakit
menahun. Dampak kesehatan tidak langsung ini biasanya berkaitan dengan faktor
faktor seperti tidak memadainya jumlah dan kualitas air, tidak berfungsinya
sanitasi, terputusnya pasokan makanan, terganggunya pelayanan kesehatan,
penduduk yang terlalu padat dan pengungsian.

Keikut sertaan masyarakat yang terkena dampak bencana dalam


perancangan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pelayanan kesehatan
adalah penting. Selama proses ini harus ada usaha untuk mengidentifikasi
dan meningkatkan kemampuan yang ada dalam sector kesehatan. Dalam
kebanyakan situasi, perempuan dan anak-anak adalah pengguna utama

(Piagam Kemanusiaan dan


standar minimum dalam respons
bencana,,penerbit PT grasindo (Ed.Rev)
pelayanan kesehatan

Oleh Proyek Sphere,,,2004,,,Jakart


Peran serta masyarakat
Masyarakat perlu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Dalam hal ini, perilaku hidup manusia
sejak usiadini melalui kegiatan penyuluhan dan pendidikan kesehatan, sehingga menjadi bagian dari norma hidup
dan budaya masyakat dalam meningkatkan kesadaran dan kemandirian untuk hidup sehtan. Peran serta masyarakat
dalam pembangunan kesehatan masyarakat tetap didorong dan bahkan dikembangkan untuk menjamin terpenuhinya
kebutuhan serta kesinambungan upaya kesehatan.

Strategi Indonesia sehatn 2010

Adalah sebagai berikut:


1. Pembangunan nasional berwawasan kesehatan
Semua kebijakan pembangunan nasional yang sedang dan / atau akan diselenggarakan harus memiliki wawasan
kesehatan. Program pembangunan nasional tersebut harus memberi dua konstribusi yang positif terhadap kesehatan.
Pertama, terhadap pembentukan lingkungan sehat. Kedua, terhadap perilaku sehat. Diharapkan, setiap program
pembangunan nasional yang diselenggarakan di Indonesia dapat memberikan konstribusi yang positif terhadap
terbentuknya lingkungan dan perilaku sehat tersebut.
Secara mikro, semua kebijakan pembangunan kesehtana yang sedang dan /atau akan diselenggarakan harus makin
mendorong dalam meningkatkan derajat kesehatan seluruh anggota masyarakat. Jika diketahui pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan tersebut akan lebih efektif dan efisien melalui upaya promotif dan preventif, bukan dengan
upaya kuratif dan rehabilitative, kedua pelayanan yang pertama tersebut dapat lebih diutamakan. Untuk
terselenggaranya pembangunan berwawasan kesehatan, perlu dilaksanakan kegiatan sosialisasi, orientasi, kampanye,
dan pelatihan sehingga semua pihak yang terkait (stakeholders) memahami dan mampu melaksanakan
pembangunan nasional berwawasan kesehatan. Faktor penentu keberhasilan strategi pembangunan nasional
berwawasan kesehatan adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Wawasan kesehatan sebagai asas pembangunan nasional


Paradigm sehat sebagai komitmen gerakan nasional
Sistem yang mendorong aspek promotif dan preventif dalam pemeliharaan kesehatan komprehensif
Dukungan sumber daya yang berkesinambungan
Sosialisasi internal dan eksternal

Meningkatkan peran serta masyarakat..


Peningkatan peran serta masyarakat dalam membantu perbaikan status kesehatan ini sangat penting, sebab upaya
pemerintah dalam rangka meningkatkan kesehatan massyarakat tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah,
melainkan peran serta masyarakat dengan keterlibatan atau partisipasi secara langsung. Upaya masyarakat tersebut
sangat menentukan keberhasilan program pemerintahan sehingga mampu mengatasi berbagai masalah kesehatan.
Upaya atau program pelayanan kesehatan yang membutuhkan peran serta masyarakat antara lain yaitu pelaksanaan
imunisasi, penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan, perbaikan gizi dan lain-lain. Upaya tersebut akan
memudahkan pelaksanaan program kesehatan yang tepat pada sasaran yang ada.