Anda di halaman 1dari 16

Kelompok Sembilan

IKHLAS
(Menjauhi Perbuatan Riya’ atau Syirik Kecil)

(Makalah Ini Disusun Sebagai Tugas Kelompok Pada Mata Hadits)


Semester I Tahun Ajaran 2008-2009

Disusun Oleh:

ARIF RAHMAN NIM : 0821019

Dosen Pembimbing:
NAZARMANTO, M.A

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
RADEN FATAH
PALEMBANG
2008

1
Kelompok Sembilan

PENDAHULUAN

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu
yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia
berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit
untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia
ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama,
ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal
kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-
siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah
yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah
orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Ya, sebuah amal
yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan
Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan
bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya
kecuali jika ia bertaubat darinya
Dalam mengerjakan ibadah untuk berbuah ikhlas biasanya terbentur dengan
problematika riya’. Riya’ yang menjadikan ibadah itu bisa sia-sia dan bahkan
berdosa. Maka dalam makalah singkat ini akan di jelaskan tentang riya’ dan
keikhlasan serta cara mengatasinya.
Dengan hadirnya tulisan ini tentunya akan mennambahkan pengetahuan kita
seputar Riya’ yang merupakan termasuk syirik kecil, sehingga kita dapat
mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari tentunya lebih berhati-hati lagi
dalam menjalankan ibadah yang semestinya hanya untuk Allah Swt.

2
Kelompok Sembilan

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ikhlas dan Riya’

Makna ikhlas sebagaimana dikatakan oleh Dr. Yusuf Al


Qardhawy: menghendaki keridhaan Allah Swt dengan suatu amal,
membersihkan dari segala noda individual maupun duniawi. Noda-
noda tersebut seperti kecenderungan pada diri sendiri, harta,
kedudukan, takut tercela, ketenaran, dsb.

Adapun Riya’ adalah melakukan sesuatu sekedar ingin dilihat


atau dinilai oleh orang lain, bukan ikhlas karena Allah SWT. Dalam
sebuah hadis disebutkan bahwa: “Orang Islam itu sia-sia, kecuali
yang mukmin, yang mukminpun sia-sia kecuali yang pandai atau
alim, tapi yang alimpun sia-sia kecuali yang beramal, dan yang
beramalpun sia-sia kecuali yang ikhlas.”1

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu
yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia
berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit
untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia
ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama,
ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal
kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-
siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah
yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah
orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Ya, sebuah amal

1
Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy , "Muhtashor
Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat
Petunjuk", penerjemah: Kathur Suhardi (Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997), hal. 271-286

3
Kelompok Sembilan

yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan
Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan
bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya
kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman:

    


   
     
   
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-
Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan
riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat
dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya
yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi
orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya).
Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak
ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan
hukuman dari Allah.” 2

Tanda yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang
melihat ketaatannya. Berapa banyak orang yang ikhlas mengerjakan amal secara
ikhlas dan tidak bermaksud riya' dan bahkan membencinya. Dengan begitu amalnya
menjadi sempurna. Tapi jika ada orang-orang yang melihat dia merasa senang dan
bahkan mendorong semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya' yang
tersembunyi. Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang.
2
http:// www.muslim.or.id

4
Kelompok Sembilan

Dari sini bisa diketahui bahwa riya' itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang
tersembunyi di dalam batu. Jika orang-orang melihatnya, maka bisa menimbulkan
kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada hal-hal yang
dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu
membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak langsung maupun
secara langsung.3
Kesenangan atau riya' ini sangat tersembunyi, hampir tidak mendorongnya
untuk mengatakannya, tapi cukup dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat,
badan kurus, suara parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang
menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.
Yang lebih tersembunyi lagi ialah menyembunyikan sesuatu tanpa
menginginkan untuk diketahui orang lain, tetapi jika bertemu dengan orang-orang,
maka dia merasa suka merekalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima
kedatangannya dengan muka berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala
kebutuhannya, menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak
berbuat seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.
Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa takut terhadap riya' yang tersembunyi,
yaitu yang berusaha mengecoh orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga
apa yang disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang
menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena mengharap
agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.
Noda-noda riya' yang tersembunyi banyak sekali ragamnya, hampir tidak
terhitung jumlahnya. Selagi seseorang menyadari darinya yang terbagi antara
memperlihatkan ibadahnya kepada orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya,
maka di sini sudah ada benih-benih riya'. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan
pahala dan merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.
Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr Radliyallahu Anhu,

3
Op.Cit., Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy, hal. 271-
286

5
Kelompok Sembilan

dia berkata, "Ada orang yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat
engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang
memujinya?" Beliau menjawab, "Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin
yang diberikan lebih dahulu di dunia."Namun jika dia ta'ajub agar orang-orang tahu
kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya'.4

B. Riya’ Termasuk Syirik Kecil

1. Waspada terhadap riya’


Keterangan beberapa hadits:
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik
paling kecil. Maka beliau ditanya tentang itu. Beliau berkata: Riya”
Hadits tersebut disitir oleh syeikh Muhammad bin Abdul Wahab tanpa
mengulas panjang lebar. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Thabrani, Ibnu Abid
Dunya dan Baihaqi di dalam Az Zahdu.

Berikut ini lafaz Ahmad: Yunus menceritakan kepadaku, menceritakan


kepadaku Laits dari Yazid, yakni Ibnu Ilhad, dari Amru dari Mahmud bin Labid.
Bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan
menimpa kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil. Mereka bertanya: Apakah itu
syirik yang paling kecil ya Rasulullah? Beliau menjawab: Riya! Allah berfirman pada
hari kiamat, ketika memberikan pahala terhadap manusia sesuai perbuatan-
perbuatannya: Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang kamu pamerkan
perilaku amal kamu di dunia. Maka nantikanlah apakah kamu menerima balasan dari
mereka itu.”

Sabda beliau: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu


sekalian ialah syirik yang paling kecil.” Ini karena kasihnya Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam terhadap ummat dan belasnya kepada mereka dan memperingatkan
4
Ibid., hal. 271-286.

6
Kelompok Sembilan

terhadap apa yang ditakutkan yang akan merongrong ummatnya. Maka kebaikanlah
bagi manusia setelah ditunjukkan oleh beliau karena waspada dan khawatir terhadap
riya itu.

2. Godaan riya’

Dan tatkala jiwa-jiwa berambisi tertarik kepada wibawa dan kedudukan di


dalam hati manusia -kecuali tentunya jiwa orang-orang yang diselamatkan oleh Allah,
tidak ambisius- ini adalah godaan yang paling dikhawatirkan oleh orang-orang
shaleh, karena kuatnya godaan kepadanya, sedangkan orang yang terpelihara ialah
barangsiapa yang dipelihara oleh Allah.

Hal yang serupa ini, berbeda dengan ajakan kepada syirik besar, karena
godaan ini adakalanya tidak tergores di dalam hati orang-orang mukmin yang
sempurna, dan oleh sebab itu terdapatnya mereka dalam neraka lebih gampang lagi
daripada kekufuran. Adakalanya godaan ke sana adalah lemah, ini beserta
keselamatan. Dan adakalanya dengan bala bencana, maka Allah menetapkan mereka
yang beriman dengan kemantapan dalam kehidupan dunia dan akherat.

Sedangkan orang-orang yang zalim itu adalah menyesatkan dirinya sendiri


dan Allah memperbuat apa-apa yang dikehendakinya. Justru itulah Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam sangsi dan kuatir terhadap ummatnya tergoda oleh riya, lebih sangat
karena kuat daya tariknya, bisa tergiur karena banyaknya daripada syirik besar.

Bersamaan dengan itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan


bahwa pasti terjadi penyembahan berhala di kalangan ummatnya. Lalu beliau
memperingatkan, bahwa seyogyanya bagi manusia takut dirinya ditimpa oleh syirik
besar, sedangkan orang-orang yang shaleh khawatir terhadap syirik yang paling kecil,
karena semuanya itu mengurangi iman dan maksiat kepada Allah, ini kehendak dari
syeikh kita . Beliau juga menyimpulkan bahwa di dalamnya terdapat keterangan

7
Kelompok Sembilan

bahwa riya itu adalah termasuk syirik, dan walaupun terkecil namun ditakuti
menimpa orang-orang yang shaleh dan didalamnya terdapat pendekatan syurga dan
neraka, seakan-akan berbarengan keduanya: Amal sama macamnya, rupanya juga
sama, lagi mirip. 5

C. Agar Bisa Ikhlas dan Terhindar dari Riya’

Setan akan senantiasa menggoda dan merusak amal-amal kebaikan yang


dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan
iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan
iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting
bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat
mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-
hal tersebut adalah:

Banyak Berdoa

Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan
banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:

« ‫عَلُم‬
ْ ‫ل َأ‬
َ ‫ك ِلَما‬
َ ‫سَتْغِفُر‬
ْ ‫عَلُم َوَأ‬
ْ ‫ك َوَأَنا َأ‬
َ ‫ك ِب‬
َ ‫شِر‬
ْ ‫ن ُأ‬
ْ ‫ك َأ‬
َ ‫عْوُذ ِب‬
ُ ‫» َالّلهّم ِإّني َأ‬

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-


Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan
syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)

Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal
beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattab

5
Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abul Wahhab, Taisirul ‘azizil hamid fi
syarhi kitabit tauhid ,Edisi Indonesia: Ketuhanan Yang Maha Esa Menurut Islam , penerjemah: Drs.
Ja’far Soejarwo., (Al Ikhlas, Surabaya, 1986), hal. 152-153,

8
Kelompok Sembilan

radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu
Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah
seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas
mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena
orang lain.”

Menyembunyikan Amal Kebaikan

Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan
menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal
kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat
sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui
orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang
mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Tujuh
golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari
naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan
kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang
yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang
diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia
berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan
menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa
yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu
sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).

Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat
orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang
melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah

9
Kelompok Sembilan

bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik shalat yang dilakukan oleh seseorang adalah


shalat yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik shalat adalah shalat yang


dilakukan di rumah kecuali shalat wajib, karena hal ini lebih melatih dan mendorong
seseorang untuk ikhlas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah
dalam Syarah Riyadush Sholihin menyatakan, “di antara sebabnya adalah karena
shalat (sunnah) yang dilakukan di rumah lebih jauh dari riya, karena sesungguhnya
seseorang yang shalat (sunnah) di mesjid dilihat oleh manusia, dan terkadang di
hatinya pun timbul riya, sedangkan orang yang shalat (sunnah) di rumahnya maka hal
ini lebih dekat dengan keikhlasan.” Basyr bin Al Harits berkata, “Janganlah engkau
beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana
engkau menyembunyikan keburukanmu.”

Seseorang yang dia betul-betul jujur dalam keikhlasannya, ia mencintai untuk


menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya.
Maka dari itu wahai saudaraku, marilah kita berusaha untuk membiasakan diri
menyembunyikan kebaikan-kebaikan kita, karena ketahuilah, hal tersebut lebih dekat
dengan keikhlasan.

Takut Akan Tidak Diterimanya Amal

Allah berfirman:

َ ‫جُعو‬
‫ن‬ ِ ‫جَلٌة َأّنُهْم ِإَلى َرّبِهْم َرا‬
ِ ‫ن َما آَتْوا َوُقُلوُبُهْم َو‬
َ ‫ن ُيْؤُتو‬
َ ‫َواّلِذي‬

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati
yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada
Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)

10
Kelompok Sembilan

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin
adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak
diterimanya amal perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).6

Hal semakna juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa


sallam yang diriwayatkan dari Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah
tentang makna ayat di atas. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah
apakah yang dimaksud dengan ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang
telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa)
Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” adalah orang yang
mencuri, berzina dan meminum khamr kemudian ia takut terhadap Allah?. Maka
Rasulullah pun menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yang dimaksud
dengan ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedekah namun mereka takut
tidak diterima oleh Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih )

Ya saudaraku, di antara hal yang dapat membantu kita untuk ikhlas adalah
ketika kita takut akan tidak diterimanya amal kebaikan kita oleh Allah. Karena
sesungguhnya keikhlasan itu tidak hanya ada ketika kita sedang mengerjakan amal
kebaikan, namun keikhlasan harus ada baik sebelum maupun sesudah kita melakukan
amal kebaikan. Apalah artinya apabila kita ikhlas ketika beramal, namun setelah itu
kita merasa hebat dan bangga karena kita telah melakukan amal tersebut. Bukankah
pahala dari amal kebaikan kita tersebut akan hilang dan sia-sia? Bukankah dengan
demikian amal kebaikan kita malah tidak akan diterima oleh Allah? Tidakkah kita
takut akan munculnya perasaan bangga setelah kita beramal sholeh yang
menyebabkan tidak diterimanya amal kita tersebut? Dan pada kenyataannya hal ini
sering terjadi dalam diri kita. Sungguh amat sangat merugikan hal yang demikian itu.

6
Safuan Al Fandi, Kumpulan Khutbah Jum’at Modern, (Solo: Sendang Ilmu, 2005), cet I,
hlm. 56-57.

11
Kelompok Sembilan

Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia

Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada
umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika
ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia
karenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi
seorang mukmin.” (HR. Muslim)

Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada
umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian
atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut
bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang
yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh.
Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah
pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada
Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya,
sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut.
Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun
celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari
Allah. Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah
mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?

Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka

Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia


jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang
tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri
di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu
keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan
meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang

12
Kelompok Sembilan

dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka.
Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai
manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk
mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku,
mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk
mereka?

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam berkata: “Barang siapa yang
berpuasa, shalat, berzikir kepada Allah, dan dia maksudkan dengan amalan-amalan
tersebut untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan
tersebut sama sekali, amalan-amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, bahkan
hanya akan menyebabkan ia berdosa”. Yaitu amalan-amalannya tersebut tidak
bermanfaat baginya, lebih-lebih bagi orang lain.

13
Kelompok Sembilan

KESIMPULAN

Makna ikhlas sebagaimana dikatakan oleh Dr. Yusuf Al


Qardhawy: menghendaki keridhaan Allah Swt dengan suatu amal,
membersihkan dari segala noda individual maupun duniawi. Noda2
tersebut seperti kecenderungan pada diri sendiri, harta, kedudukan,
takut tercela, ketenaran, dsb.

Sedangkan Riya’ adalah melakukan sesuatu sekedar ingin


dilihat atau dinilai oleh orang lain, bukan ikhlas karena Allah SWT.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa: “Orang Islam itu sia-sia,
kecuali yang mukmin, yang mukminpun sia-sia kecuali yang pandai
atau alim, tapi yang alimpun sia-sia kecuali yang beramal, dan yang
beramalpun sia-sia kecuali yang ikhlas.”

Agar bisa Ikhlas dan terhindar dari Riya’

• Banyak Berdoa
• Menyembunyikan Amal Kebaikan
• Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
• Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia
• Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka

14
Kelompok Sembilan

DAFTAR PUSTAKA

Alquranul karim

,Al-Maqdisy Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah,


"Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan
Orang-orang yang Mendapat Petunjuk", penerjemah: Kathur Suhardi
(Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997)

Abul Wahhab, Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin, Taisirul ‘azizil
hamid fi syarhi kitabit tauhid ,Edisi Indonesia: Ketuhanan Yang Maha Esa
Menurut Islam , penerjemah: Drs. Ja’far Soejarwo., (Al Ikhlas, Surabaya,
1986),

Al Fandi, Safuan, Kumpulan Khutbah Jum’at Modern, (Solo: Sendang Ilmu, 2005)

http:// www.muslim.or.id

15
Kelompok Sembilan

16