Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PEKERJAAN GEOLISTRIK
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Geologi Teknik
Dosen : Drs. Wahyu Wibowo MT

Oleh :

Adi Hamdani
1203220

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL S1


DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN
KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah
melimpahkan rahmat dan karuniaNya pada kami, salawat beserta salam
semoga Allah limpah curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW,
beserta keluarga, sahabat, dan umatnya sampai akhir zaman.
Upaya maksimal telah saya lakukan untuk menyelesaikan laporan
tugas ini dengan harapan dapat mencapai hasil sebaik mungkin. Saya
menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih kurang dari harapan
mengingat kemampuan yang dimiliki terbatas.
Sehingga,

kritik

dan

saran

kami

harapkan

untuk

kemajuan

pengetahuan serta kemampuan kami untuk kedepannya. Laporan ini juga


tidak akan berhasil tanpa berbagai pihak yang telah rela membantu
pembuatannya. Maka saya mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu.
Akhirnya, saya berharap laporan ini dapat memberikan manfaat
dan sumbangan pemikiran bagi saya khususnya dan para pembaca pada
umumnya.

Bandung, September 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
1.1

Latar Belakang.......................................................................................... 1

1.2

Rumusan Masalah..................................................................................... 1

1.3

Tujuan Penulisan........................................................................................ 1

BAB II..................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN........................................................................................................ 2
2.1.

Pengertian Geolistrik................................................................................. 2

2.2.

Sejarah Perkembangan Geolistrik.............................................................3

2.3.

Cara kerja dan prinsip Geolistrik...............................................................4

2.4.

Fungsi dan kegunaan geolistrik...............................................................12

BAB II................................................................................................................... 13
PENUTUP.............................................................................................................. 13
3.1.

Kesimpulan.............................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggunaan geolistrik

pertama

kali

dilakukan

oleh

Conrad

Schlumberger pada tahun 1912. Geolistrik merupakan salah satu metoda


geofisika untuk mengetahui perubahan tahanan jenis lapisan batuan di
bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan arus listrik DC (Direct
Current) yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah. Injeksi arus
listrik ini menggunakan 2 buah Elektroda Arus A dan B yang ditancapkan
ke dalam tanah dengan jarak tertentu. Semakin panjang jarak elektroda AB
akan menyebabkan aliran arus listrik bisa menembus lapisan batuan lebih
dalam.
Dengan adanya aliran arus listrik tersebut maka akan menimbulkan
tegangan listrik di dalam tanah. Tegangan listrik yang terjadi di permukaan
tanah diukur dengan penggunakan multimeter yang terhubung melalui 2
buah Elektroda Tegangan M dan N yang jaraknya lebih pendek dari pada
jarak elektroda AB. Bila posisi jarak elektroda AB diubah menjadi lebih besar
maka tegangan listrik yang terjadi pada elektroda MN ikut berubah sesuai
dengan informasi jenis batuan yang ikut terinjeksi arus listrik pada
kedalaman yang lebih besar.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Apa Pengertian Geolistrik ?
b. Bagaimana Sejarah Perkembangan Geolistrik ?
c. Bagaimana Cara kerja dan prinsip Geolistrik ?
d. Apa fungsi dan kegunaan geolistrik ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :
a. Pengertian Geolistrik
b. Sejarah Geolistrik
c. Cara kerja dan prinsip Geolistrik
d. Fungsi dan kegunaan geolistrik

ADI HAMDANI - 1203220

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Geolistrik
Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari
sifat aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di
permukaan bumi. (http://um.ac.id) Dalam hal ini meliputi pengukuran
potensial, (http://ksupointer.com) arus dan medan elektromagnetik yang
terjadi baik secara alamiah ataupun akibat injeksi arus ke dalam bumi. Ada
beberapa macam metoda geolistrik, antara lain : metode potensial diri, arus
telluric,

magnetoteluric,

elektromagnetik,

IP

(Induced

Polarization),

resistivitas (tahanan jenis) dan lain-lain. Dalam bahasan ini dibahas khusus
metode geolistrik tahanan jenis. Pada metode geolistrik tahanan jenis ini,
(http://yan.komputasi.web.id) arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi melalui
dua elektroda arus. Kemudian beda potensial yang terjadi diukur melalui
dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial
untuk setiap jarak elektroda yang berbeda kemudian dapat diturunkan
variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur
(sounding point). Metoda ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi
yang sifatnya dangkal, jarang memberikan informasi lapisan di kedalaman
lebih dari 1000 feet atau 1500 feet. Oleh karena itu metode ini jarang
digunakan untuk eksplorasi munyak tetapi lebih banyak digunakan dalam
bidang engineering geology seperti penentuan kedalaman batuan dasar,
pencarian reservoar air, juga digunakan dalam eksplorasi geothermal.

ADI HAMDANI - 1203220

Gambar 1. Skema Geolistrik


2.2. Sejarah Perkembangan Geolistrik
Sejarah

perkembangan

geolistrik

eksplorasi

geolistrik

adalah

perubahan yang paling unik dari semua geofisika eksplorasi. Unik lantaran
dalam perubahannya metoda ini terdiri - untuk dalam sebagian mazhab
(school) , walau sebenarnya sumber basic teori sama. Ketidaksamaan itu
terdapat pada :
a. tata langkah kerja (konfigurasi elektroda, interpretasi)
b. alat yang dipakai, sebenarnya setiap alat bisa dipakai untuk
mazhab apa pun, walau demikian ketidaksamaan konfigurasi
elektroda yang digunakan memengaruhi daya penetrasi alat.
c. data prossessing, Pemakaian sifat-sifat kelistrikan untuk maksud
eksplorasi telah di kenal peradaban manusia kian lebih dua era
waktu lalu. Pelopor yang awal mula menggunakan langkah
geofisika untuk maksud ksplorasi yaitu :
Gray serta Wheeler thn. 1720, lakukan pengukuran pada batuan
serta mecoba membakukan tidak tipis konduktivitas batuan.
Watson thn 1746, temukan, bahwa tanah adalah konduktor di mana
mungkin yang dilihat pada titik-titik di antara dua elektroda arus
yang

dipotong

sejarak

ketidaksamaan

mil,

keadaan

bervarisai
geologi

disebabkan

ada

setempat.

Robert W. Fox thn. (1789 - 1877) , bisa dikatakan sebagai Ayah


Metoda Geolistrik, lantaran beliau yang pertama kali mempelajai
jalinan

sifat-sifat

terrestrial

ADI HAMDANI - 1203220

electric

listrik
serta

dengan

situasi

geothermal.

geologi,

Fox

temperatur,

pelajari

sifat-sifat

kelistrikan tersebut di tambang-tambang Corn wall, Inggris.


Perubahan dilanjutkan dengan cara bertahap : thn. 1871 oleh W.
Skey, thn. 1847 oleh Charles Matteucci. , thn. 1882 oleh Cart Barus,
thn. 1891 oleh Brown, thn. 1897 oleh Bernfield, thn 1912 oleh
Gottchalk, thn. 1914 oleh R. C. Wells serta George Ottis.
Perubahan agak tidak sama sesudah Conrad Schlumberger serta R.
C. Well di mana geolistrik berkembang di dua benua, lewat cara
serta histori yang tidak sama. Walau demikian di ujung perubahan
itu ke-2 mazhab ini bersua lagi, terlebih dalam memakai rencana
matematika yang sama yang diaplikasikan pada teori interpretasi
semasing. Perkembangan peralatan diawali dari peralatan geolistrik
didalam truk hingga pada alat geolistrik sebesar tas kecantikan.
Perubahan pemrosesan data nilai tahanan type pada era ke 20
yakni dengan dibuatnya kurva baku serta kurva penambahan oleh
Orellana E. serta Mooney H. M. , 1966, Bhattacharya P. K. serta
Patra H. P. , 1968, Rijkkswaterstaat, The Netherland, 1975, Zohdy,
A. A. R. , 1975. Perubahan dalam penafsiran lengkungan tahanan
type dengan pembuatan piranti lunak dari lakukan " matching
curve " hingga piranti lunak VESPC, RESINT 53, GRIVEL, RESIX serta
IP2Win.
2.3. Cara kerja dan prinsip Geolistrik
Metoda geolistrik terdiri dari beberapa konfigurasi, misalnya yang ke 4
buah elektrodanya terletak dalam satu garis lurus dengan posisi elektroda
AB dan MN yang simetris terhadap titik pusat pada kedua sisi yaitu
konfigurasi Wenner dan Schlumberger. Setiap konfigurasi mempunyai
metoda perhitungan tersendiri untuk mengetahui nilai ketebalan dan
tahanan jenis batuan di bawah permukaan. Metoda geolistrik konfigurasi
Schlumberger merupakan metoda favorit yang banyak digunakan untuk
mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan dengan biaya
survei yang relatif murah.
Umumnya lapisan batuan tidak mempunyai sifat homogen sempurna,
seperti yang dipersyaratkan pada pengukuran geolistrik. Untuk posisi
lapisan batuan yang terletak dekat dengan permukaan tanah akan sangat
berpengaruh terhadap hasil pengukuran tegangan dan ini akan membuat
data geolistrik menjadi menyimpang dari nilai sebenarnya. Yang dapat
ADI HAMDANI - 1203220

mempengaruhi homogenitas lapisan batuan adalah fragmen batuan lain


yang menyisip pada lapisan, faktor ketidakseragaman dari pelapukan
batuan induk, material yang terkandung pada jalan, genangan air
setempat, perpipaan dari bahan logam yang bisa menghantar arus listrik,
pagar kawat yang terhubung ke tanah dsbnya.
Spontaneous Potential yaitu tegangan listrik alami yang umumnya
terdapat pada lapisan batuan disebabkan oleh adanya larutan penghantar
yang secara kimiawi menimbulkan perbedaan tegangan pada mineralmineral dari lapisan batuan yang berbeda juga akan menyebabkan ketidakhomogenan lapisan batuan. Perbedaan tegangan listrik ini umumnya relatif
kecil,

tetapi

bila

digunakan

konfigurasi

Schlumberger

dengan

jarak

elektroda AB yang panjang dan jarak MN yang relatif pendek, maka ada
kemungkinan tegangan listrik alami tersebut ikut menyumbang pada hasil
pengukuran tegangan listrik pada elektroda MN, sehingga data yang
terukur menjadi kurang benar.
Untuk mengatasi adanya tegangan listrik alami ini hendaknya sebelum
dilakukan pengaliran arus listrik, multimeter diset pada tegangan listrik
alami tersebut dan kedudukan awal dari multimeter dibuat menjadi nol.
Dengan demikian alat ukur multimeter akan menunjukkan tegangan listrik
yang benar-benar diakibatkan oleh pengiriman arus pada elektroda AB.
Multimeter yang mempunyai fasilitas seperti ini hanya terdapat pada
multimeter dengan akurasi tinggi.
Konfigurasi Wenner

Konfigurasi Wenner
Keunggulan dari konfigurasi Wenner ini adalah ketelitian pembacaan
tegangan pada elektroda MN lebih baik dengan angka yang relatif besar
karena elektroda MN yang relatif dekat dengan elektroda AB. Disini bisa
digunakan alat ukur multimeter dengan impedansi yang relatif lebih kecil.

ADI HAMDANI - 1203220

Sedangkan kelemahannya adalah tidak bisa mendeteksi homogenitas


batuan di dekat permukaan yang bisa berpengaruh terhadap hasil
perhitungan. Data yang didapat dari cara konfigurasi Wenner, sangat sulit
untuk menghilangkan factor non homogenitas batuan, sehingga hasil
perhitungan menjadi kurang akurat.
Konfigurasi Schlumberger
Pada konfigurasi Schlumberger idealnya jarak MN dibuat sekecilkecilnya, sehingga jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena
keterbatasan kepekaan alat ukur, maka ketika jarak AB sudah relatif besar
maka jarak MN hendaknya dirubah. Perubahan jarak MN hendaknya tidak
lebih besar dari 1/5 jarak AB.

Konfigurasi Schlumberger
Kelemahan dari konfigurasi Schlumberger ini adalah pembacaan
tegangan pada elektroda MN adalah lebih kecil terutama ketika jarak AB
yang

relatif

jauh,

sehingga

diperlukan

alat

ukur

multimeter

yang

mempunyai karakteristik high impedance dengan akurasi tinggi yaitu yang


bisa mendisplay tegangan minimal 4 digit atau 2 digit di belakang koma.
Atau dengan cara lain diperlukan peralatan pengirim arus yang mempunyai
tegangan listrik DC yang sangat tinggi.
Sedangkan

keunggulan

konfigurasi

Schlumberger

ini

adalah

kemampuan untuk mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan


pada permukaan, yaitu dengan membandingkan nilai resistivitas semu
ketika terjadi perubahan jarak elektroda MN/2.
Agar pembacaan tegangan pada elektroda MN bisa dipercaya, maka
ketika jarak AB relatif besar hendaknya jarak elektroda MN juga diperbesar.
Pertimbangan perubahan jarak elektroda MN terhadap jarak elektroda AB
yaitu ketika pembacaan tegangan listrik pada multimeter sudah demikian
kecil, misalnya 1.0 milliVolt.

ADI HAMDANI - 1203220

Umumnya perubahan jarak MN bisa dilakukan bila telah tercapai


perbandingan antara jarak MN berbanding jarak AB = 1 : 20. Perbandingan
yang lebih kecil misalnya 1 : 50 bisa dilakukan bila mempunyai alat utama
pengirim arus yang mempunyai keluaran tegangan listrik DC sangat besar,
katakanlah 1000 Volt atau lebih, sehingga beda tegangan yang terukur
pada elektroda MN tidak lebih kecil dari 1.0 milliVolt.

Parameter yang diukur :


1. Jarak antara stasiun dengan elektroda-elektroda (AB/2 dan MN/2)
2. Arus (I)
3. Beda Potensial ( V)
Parameter yang dihitung :
1. Tahanan jenis (R)
2. Faktor geometrik (K)
3. Tahanan jenis semu ( )
Cara intepretasi Schlumberger adalah dengan metode penyamaan kuva
(kurva matching). Ada 3 (tiga) macam kurva yang perlu diperhatikan dalam
intepretasi Schlumberger dengan metode penyamaan kurva, yaitu :

Kurva Baku

Kurva Bantu, terdiri dari tipe H, A, K dan Q

Kurva Lapangan

ADI HAMDANI - 1203220

Untuk mengetahui jenis kurva bantu yang akan dipakai, perlu diketahui
bentuk umum masing-masing kurva lapangannya.

Kurva bantu H, menunjukan harga minimum dan adanya variasi 3


lapisan dengan 1 > 2 < 3.

Kurva bantu A, menunjukkan pertambahan harga dan variasi lapisan


dengan 1 < 2 < 3.

Kurva bantu, K menunjukan harga maksimum dan variasi lapisan


dengan 1 < 2 > 3.

Kurva bantu Q, menunjukan penurunan harga yang seragam : 1 >


2 > 3

Kurva-Kurva Bantu Dalam Metode Penyamaan Kurva Schlumberger


Alat-alat yang digunakan : kertas kalkir/mika plastik, kertas double log,
marker OHP.

Plot nilai AB/2 vs pada mika plastik diatas double log. AB/2 sebagai
absis dan sebagai ordinat.

ADI HAMDANI - 1203220

Buat kurva lapangan dari titik-titik tersebut secara smooth (tidak


selalu harus melalui titik-titik tersebut, untuk itu perlu dilihat
penyebaran titik-titiknya secara keseluruhan).

Pilih kurva Bantu apa saja yang sesuai dengan setiap bentukan kurva
lapangan.

Letakkan kurva lapangan diatas kurva baku, cari nilai P 1 merupakan


kedudukan :

d1,1 (kedalaman terukur, tahanan jenis terukur)

d1 = kedalaman lapisan perama = sebagai absis

1 = tahanan jenis lapisan pertama = sebagai ordinat

Pindahlah kurva lapangan dan letakkan diatas tipe kurva Bantu


pertama yang telah ditentukan. Tarik garis putus-putus sesuai dengan
harga 1/2 pada kurva Bantu tersebut. Garis putus-putus sebagai
kurva Bantu ini merupakan tempat kedudukan P 2.

Kembalikan kurva lapangan diatas kurva baku, geser kurva lapangan


berikutnya sedemikian sehingga kurva baku pertama melalui pusat
kurva baku. Tentukan nilai 3/2 serta plot titik P2. (catatan : posisi
sumbu-sumbunya harus sejajar dengan sumbu-sumbu pada kurva
Bantu)

Dari P2 dapat ditentukan d2, 2

Titik pusat P3, koordinat d3, 3 dan nilai kurva Bantu selanjutnya dapat
dicari dengan jalan yang sama.

Koreksi Kedalaman
Untuk titik-titik pusat (Pn) yang terletak pada kurva bantu tipe H, tidak perlu
dikoreksi.
Titik P pada kurva Bantu tipe A, K dan Q perlu dikoreksi.
Titik P1 apapun kurvanya tidak perlu dikoreksi.

ADI HAMDANI - 1203220

Contoh Kurva Bantu


Titik P1, tidak perlu dikoreksi
Titik P2, tidak perlu dikoreksi karena terletakpada kurva Bantu tipe H
Titik P3 dan P4, perlu dikoreks nilai d (kedalaman), karena terletak pada
kurva Bantu selain tipe H.
Cara Koreksi Kedalaman
Untuk titik P3 :
Letakkan/impitkan kembali mika plastik diatas kurva Bantu tipe A (dengan
nilai 4/3 = 10) dengan pusat P2. baca nilai koreksi (sebagai n) tepat pada
titik P3 (nilai absis dari kurva Bantu tersebut ditandai dengan garis putusputus). Kemudian dapat dicari ketebalan lapisan ke-3 dengan rumus :
H3 = n.d2
Sehingga kedalaman lapisan ke-3 dapat dihitung dengan rumus:
D3 = h3 + d2
Demikian juga untuk titik P4, dan seterusnya.

ADI HAMDANI - 1203220

10

Jadi, dari hasil penyamaan kurva (curve matching) akan diperoleh data
sebagai berikut :
1. Koordinat Pn = (dn, n)
2. Kn = n+1/n
3. Jenis Kurva Bantu
4. Nilai Koreksi Kedalaman (n)
Setelah diperoleh nilai-nilai dan d, kemudian dibuat penampang tegaknya
(berupa kolom) sesuai harga d-nya (menggunakan skala). Selanjutnya
dilakukan pendugaan unt interpretasi litologi penyusun pada masingmasing lapisan berdasarkan nilai .
Penafsiran litologi ini akan semakin mendekati kebenaran apabila kita
memiliki data bawah permukaan seperti data dari sumur. Jika tidak ada
sumur, maka kita sebaiknya mengetahui geologi regional daerah penelitian
tersebut atau data yang diperoleh dari pengamatan geologi daerah sekitar
(untuk mengetahui variasi litologi).
Tabel Nilai Resistivitas
Rock

Resitivitas

Common rocks

Common

Topsoil
Loose sand
Gravel
Clay
Weathered

ADI HAMDANI - 1203220

rocks
50100
5005000
100600
1100

bedrock

1001000

Sandstone

2008000

Limestone

50010 000

Greenstone

500200 000

Gabbro

100500 000

11

Granite

200100 000

Basalt

200100 000

Graphitic schist

10500

Slates

500500 000

Quartzite

500800 000

Ore minerals

Ore mineral

Pyrite (ores)

0.01100

Pyrrhotite

0.0010.01

Chalcopyrite

0.0050.1

Galena

0.001100

Sphalerite

0.011

Magnetite
Cassiterite
Hematite

000

000
0.011000
0.00110 000
10001

000

000

ADI HAMDANI - 1203220

12

Resistivities of common rocks and ore minerals (ohm-metres) Milsom After


Palacky, 1987

2.4. Fungsi dan kegunaan geolistrik


Mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan sampai
kedalaman sekitar 300 m sangat berguna untuk mengetahui kemungkinan
adanya lapisan akifer yaitu lapisan batuan yang merupakan lapisan
pembawa air. Umumnya yang dicari adalah confined aquifer yaitu lapisan
akifer yang diapit oleh lapisan batuan kedap air (misalnya lapisan lempung)
pada bagian bawah dan bagian atas. Confined akifer ini mempunyai
recharge yang relatif jauh, sehingga ketersediaan air tanah di bawah titik
bor tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca setempat.
Geolistrik ini bisa untuk mendeteksi adanya lapisan tambang yang
mempunyai kontras resistivitas dengan lapisan batuan pada bagian atas
dan bawahnya. Bisa juga untuk mengetahui perkiraan kedalaman bedrock
untuk fondasi bangunan.
Metoda geolistrik juga bisa untuk menduga adanya panas bumi
(geotermal) di bawah permukaan. Hanya saja metoda ini merupakan salah
ADI HAMDANI - 1203220

13

satu metoda bantu dari metoda geofisika yang lain untuk mengetahui
secara pasti keberadaan sumber panas bumi di bawah permukaan.

ADI HAMDANI - 1203220

14

BAB II
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa geolistrik
merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik
di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di permukaan bumi.
Disini juga ada beberapa metode atau konfigurasi yang di gunakan dalam
geolistrik atau tahan jenis itu sendiri yang seperti telah di jelaskan di
pembahasan

di

antaranya,

konfigurasi

wenner

dan

Konfigurasi

schlumberger.
Metoda geolistrik terdiri dari beberapa konfigurasi, misalnya yang ke 4
buah elektrodanya terletak dalam satu garis lurus dengan posisi elektroda
AB dan MN yang simetris terhadap titik pusat pada kedua sisi yaitu
konfigurasi Wenner dan Schlumberger. Setiap konfigurasi mempunyai
metoda perhitungan tersendiri untuk mengetahui nilai ketebalan dan
tahanan jenis batuan di bawah permukaan. Metoda geolistrik konfigurasi
Schlumberger merupakan metoda favorit yang banyak digunakan untuk
mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan dengan biaya
survei yang relatif murah.
Fungsi dan aplikasi geolistrik :

Mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan sampai

kedalaman sekitar 300 m.


Mengetahui kemungkinan adanya lapisan akifer yaitu lapisan batuan

yang merupakan lapisan pembawa air.


Mendeteksi adanya lapisan tambang

resistivitas dengan lapisan batuan pada bagian atas dan bawahnya.


Mengetahui perkiraan kedalaman bedrock untuk fondasi bangunan.
Menduga adanya panas bumi (geotermal) di bawah permukaan. Hanya

yang

mempunyai

kontras

saja metoda ini merupakan salah satu metoda bantu dari metoda
geofisika yang lain untuk mengetahui secara pasti keberadaan sumber
panas bumi di bawah permukaan.

ADI HAMDANI - 1203220

15

ADI HAMDANI - 1203220

16

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.
Geolistrik
Konfigurasi
Schlumberger.
02
Oktober
http://robophysic7.blogspot.co.id/2012/05/geolistrik-konfigurasischlumberger.html

2015.

Daulay,
Umar
Efendi.
Geolistrik
.
02
http://umared.blogspot.co.id/2010/09/geolistrik.html

2015.

Oktober

Nurhasanah, Siti. Metode Tahanan Jenis Konfigurasi Wenner 02 Oktober 2015.


https://sinurhasanah.wordpress.com/2012/02/29/metode-tahanan-jeniskonfigurasi-wenner/
Winata, arief pandu, Metode Tahanan Jenis. 02 Oktober 2015.
http://arifpanduwinata.blogspot.co.id/2012/06/metode-tahanan-jenisgeolistrik.html

ADI HAMDANI - 1203220

17