Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS INFEKSI SALURAN NAPAS AKUT (ISPA)

DENGAN METODE PENDEKATAN DOKTER KELUARGA


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAMILY FOLDER
Febrian
10-2012-091
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: leofebrian7@yahoo.com

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Salah satu masalah besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini ,
yaitu kualitas pelayanan. Untuk mengatasi masalah ini salah antara lain dengan
penyelenggaraan

pelayanan

kedokteran

keluarga,

yang

salah

satu

cirinya

mengutamakan pelayanan yang efektif dan efIsien, dengan mengutamakan upaya


promotif dan preventif Dokter keluarga merupakan gate-keeper dalam pelayanan
kesehatan dengan ditunjang sistem Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM), memberikan pelayanan tingkat pertama, menyeluruh dan berkesinambungan
dengan pendekatan keluarga . Peran dokter keluarga dalam pelayanan kesehatan di
Indonesia merupakan suatu kebutuhan. Hal ini dapat dimulai dengan pembenahan
dalam pembelajaran di fakulltas kedokteran dan sekaligus menjawab tiga tantangan
utama , yaitu pendayagunaan dokter pasca Pegawai

Tidak Tetap (PiT).

pengembangan JPKM dan menghadapi globalisasi.


Berhasilnya upaya kesehatan menyebabkan munculnya pola penyakit yang
berbeda sehingga peran dokter dalam berbagai upaya pelayanan kesehatan pun
berubah. Dalam upaya kuratif,dokter masa kini harus siap untuk menolong pasien,
bukan saja yang berpenyakit akut tetapi juga yang berpenyakit kronis,penyakit
1

degeneratif dan harus siap membantu kliennya agar dapat hidup sehat dalam kondisi
lingkungan yang lebih rumit masa sekarang ini. Untuk itu ia harus mengenal
kepribadian dan lingkungan pasiennya. Upaya prevensi pun bergeser dari orientasi
kesehatan masyarakat lebih kearah kesehatan perorangan (private health).
Pengaruh berbagai faktor ini, mendorong kesadaran pentingnya peningkatan
jumlah dan mutu jajaran pelayanan kesehatan tingkat primer. Disiplin ini berkembang
secara epistemologis atas dasar dorogan kebutuhan akan layanan yang kemudian
dikenanl sebagai disiplin kedokteran keluarga. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO)
dan Organisasi Dokter Keluarga Sedunia (WONCA) telah menekankan pentingnya
peranan dokter keluarga (DK) ini dalam mencapai pemerataan pelayanan kesehatan.
Dalam tugas family forder ini, mahasiswa secara langsung terjun ke dalam
lingkungan puskesmas dan meninjau keadaan kesehatan masyarakat dalam
lingkungan puskesmas tersebut. Mahasiswa juga langsung mewawancarai pasien
ataupun keluarga pasien mengenai penyakit yang diderita. Dengan demikian, dapat
secara langsung mengetahui penyebab dari masalah kesehatan tersebut.
Dalam makalah ini akan dilaporkan mengenai masalah kesehatan pada pasien
dan apa yang menjadi penyebab dari masalah kesehatan tersebut.

2. Tujuan
Melihat secara langsung bagaimana keadaan atau masalah kesehatan masyarakat
3. Manfaat
Mengetahui bagaimana masalah kesehatan di lingkungan masyarakat
Mengetahui cara mengatasi masalah kesehatan pada masyarakat
Mengetahui bagaimana cara menghadapi pasien secara langsung.

BAB II
LAPORAN KASUS
Data riwayat keluarga
2

I.

II.

Identitas pasien :
a) Nama
b) Umur
c) Jenis kelamin
d) Pekerjaan
e) Pendidikan
f) Alamat
g) No telepon

: Bpk. Zaenal
: 32 tahun
: Laki-Laki
: Tukang Kebun
: SMP
: Jl. Sekretaris No 378, Jakarta Barat
: 085778738981

Riwayat biologis keluarga :


a) Keadaan kesehatan sekarang
b) Kebersihan perorang
c) Penyakit yang sering diderita
d) Penyakit keturunan
e) Penyakit kronis atau menular
f) Kecacatan anggota keluarga
g) Pola makan
h) Pola istirahat
i) Jumlah anggota keluarga

: sedang
: sedang
: Demam, Pusing, Batuk, Maag kronis
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: Sedang
: Sedang
: 3 orang

III.

Psikologis keluarga :
a) Kebiasaan buruk
: Merokok (1-2 bungkus/hari)
b) Pengambilan keputusan
: Bapak
c) Ketergantungan obat
:d) Tempat mencari pel kesehatan : puskesmas (menggunakan BPJS)
e) Pola rekreasi
: Sedang

IV.

Keadaan rumah / lingkungan


a) Jenis bangunan
b) Lantai rumah
c) Luas rumah
d) Penerangan
e) Kebersihan
f) Ventilasi
g) Dapur
h) Jamban keluarga
i) Sumber air minum
j) Sumber pencemaran air
k) Pemanfaatan pekarangan
l) Sistem pembuangan limbah
m) Tempat pembuangan sampah
n) Sanitasi lingkungan

V.

VI.

: permanen
: keramik
: 2 x 2 m2
: kurang
: kurang
: Sedang
: ada (Fasilitas untuk umum)
: ada (Fasilitas untuk umum)
: ledeng
: tidak
: tidak
: ada
: ada
: kurang

Spiritual keluarga
a) Ketaatan beribadah
: Baik (sholat 5 waktu)
b) Keyakinan tentang kesehatan : Baik
Keadaan sosial keluarga
3

a)
b)
c)
d)
e)
VII.

VIII.
No

Tingkat pendidikan
Hubungan antar anggota kel
Hubungan dengan orang lain
Kegiatan organisasi sosial
Keadaan ekonomi

Kultural keluarga
a) Adat yang berpengaruh
b) Lain-lain

Nama

Hub

Umur

Zaenal

psien
pasie

32th

Pendi

Pekerj

Aga

Kead.

Kead.

Imuni KB

dikan

aan

ma

kes

Gizi

sasi

SMP

Tukang

islam

sakit

Baik

Juju

Istri

Ket

islam

sehat

Kura

Batuk Sedan -

kebun

n
2

::-

Daftar anggota keluarga (khusus pasien)

dg
1

: Sedang
: baik
: kurang
: kurang
: kurang

38th

SMP

IRT

ng
3

Anisa

Anak

Aulia

kandu

4th

PAU

islam

ng

IX.
X.
XI.

Keluahan Utama

: Demam

Keluhan tambahan

: Batuk dan Maag kronis

Riwayat penyakit sekarang

: pasien mengalami batuk dan badannya terasa

demam, dan keluhan tersebut terjadi setelah pasien pulang bekerja dimana saat itu
pasien telat makan, dan kurang istirahat.
XII.

Riwayat penyakit dahulu

: sakit paru-paru setahun yang lalu dengan sesak

nafas
XIII.

Pemeriksaan fisik

: Tekanan Darah:100/80, Suhu: 37,90 C, batuk

berdahak (hijau kekuningan).


4

XIV.

Pemeriksaan penunjang

:-

XV.

Diagnosis penyakit

: ISPA (suspect pneumonia)

XVI.

Diagnosis keluarga

:-

XVII.

Anjuran penatalaksanaan penyakit


a) Promotif
: Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penanggulangan
ISPA melalui pendidikan & pelatihan petugas pemberi pelayanan kesehatan di
tempat kerja, penyuluhan, penyebarluasan informasi, peningkatan kebugaran
jasmani, peningkatan gizi.
b) Preventif
: Adalah upaya untuk mencegah timbulnya penyakit atau
kondisi yang memperberat penyakit ISPA.
c) Kuratif
: memberikan terapi obat-abat yang tepat, dengan dosis yang
benar, waktu pemberian yang adekuat, dan harga yang terjangkau. Contohnya
berikan parasetamol.
d) Rehabilitatif : Memperbaiki status gizi pasien guna meningkatkan daya
tahan tubuh juga agar proses tumbuh kembang lebih baik. Perbaikan status
gizi dengan memberikan asupan makanan yang bergizi dan seimbang dirumah.
Dengan perbaikan status gizi secara tidak langsung juga akan memperbaiki
imunitas pasien terhadap penyakit.

XVIII.

Pro gnosis
a) Penyakit

: Pasien mengalami gejala batuk dan demam. Saat kunjungan

keadaan umum pasien sedikit kurang baik (data-data telah dicantumkan di atas). Dengan
data yang ada dan pemeriksaan serta pengamatan saat kunjungan disimpulkan pasien
mengalami Infeksi Saluran Napas Atas ( ISPA ) tipe non-pneumonia (untuk sementara).
Dari informasi yang diterima, pasien kurang istirahat, makan tidak teratur, hal ini juga
meningkatkan keterpajanan pasien terhadap bakteri.
b) Keluarga

: Prognosis untuk penyakit pasien di atas adalah baik, jika

pasien cepat menangani dengan membawa dirinya ke tempat pelayanan kesehatan seperti
puskesmas sehingga dokter atau tenaga kesehatan segera mendiagnosa. Pasien tinggal
satu rumah dengan sang suami, dan berserta anaknya. Pasien kurang peduli akan
kesehatannya, dimana pasien kurang menjaga kebersihan rumah, tidak istirahat teratur
dan makan yang tidak teratur. Dari segi sosial dan psikologisnya, dianggap cukup, pola
rekreasi keluarga sedang, karena terkadang melakukan rekreasi ke taman kota. Pasien
5

merokok sehingga terdapat pencemaran udara yang dapat menggangu kesehatan keluarga.
Keadaan sosial ekonomi keluarga pasien kurang sehingga tidak dapat menunjang
perawatan kesehatan pasien.
c) Masyarakat

: Lingkungan kurang mendukung kesembuhan pasien ISPA

tersebut. Dari keadaan rumahnya yang ventilasi terbatas, rumah yang kurang bersih
sehingga banyak debu dan atap rumah kurang baik. Hal ini dapat mempersulit sembuhnya
ISPA tersebut dengan cepat sehingga anak sering mengalami sakit yang sama/berulang.
XIX.

Resume : BAB III

1. Definisi
ISPA sering disalah-artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas.Yang benar, ISPA
merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, yang meliputi saluran
pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Penyakit infeksi akut
yang menyerang salah satu atau lebih bagian dari saluran napas mulai dari hidung
(saluran bagian atas) hingga jaringan di dalam paru-paru (saluran bagian bawah).
2. Gejala
Gejala pada ISPA:2

Badan pegal (myalgia)


Batuk
Sakit kepala
Sakit tenggorokan,
Beringus, demam ringan, tekanan di muka, bersin.

Gejala biasanya tampak setelah 1-3 hari setelah terpapar patogen microbial.Penyakit ini biasa
berlangsung selama 7-10 hari.Gejala ISPA yang disebabkan oleh streptpcoccus adalah sakit
leher tiba-tiba, sakit saat menelan dan demam tanpa diikuti hidung beringus, suara berubah
atau batuk.Kadang kala, gejala ISPA dibarengi sakit dan tekanan di kuping yang disebabkan
oleh infeksi telinga tengah (otitis media) dan mata merah disebabkan oleh virus conjuvitis.

3. Penyebab
6

ISPA dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus.Kebanyakan ISPA disebabkan oleh
virus, virus yang paling banyak menyerang adalah virus Rhino. Sekitar 15% dari faringitis
akut disebabkan oleh bakteri.Bakteri yang paling banyak menyerang adalah Streptococcus,
sehingga dikenal sebagai "Strep Throat".Pada kondisi tertentu jamur pun dapat menyebabkan
ISPA.
4. Epidemiologi
Salah satu penyakit yang di derita oleh masyarakat terutama adalah ISPA (Infeksi
Saluran Pernafasan Atas), yaitu meliputi infeksi akut saluran pernafasan bagian atas dan akut
saluran pernafasan bagian bawah. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak di derita oleh
anak; baik di negara berkembang maupun di negara maju dan sudah banyak diantara mereka
perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran
pernafasan pada masa bayi dan anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa
dewasa, sebagai ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya chromic obstructive
pulmonary disease. ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena
menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dan 4 kematian
yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3 6 episode ISPA setiap tahunnya.Data
yang diperoleh dari kunjungan ke puskesmas mencapai 40 60 % adalah oleh penyakit ISPA.
Dari seluruh kematian yang disebabkan ISPA adalah karena pneumonia dan pada bayi
berumur kurang 2 bulan. Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat
tinggi, kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan
berat dan sering disertai penyulit-penyulit kurang gizi. Data morbiditas penyakit pneumonia
di Indonesia per tahun berkisar antara 10 20 % dan populasi balita.Hal ini didukung oleh
data penelitian di lapangan (kecamatan Kediri, NTB adalah 17,8%). Bila kita mengambil
angka morbiditas 10% pertahun, berarti setiap tahun jumlah penderita pneumonia di
Indonesia berkisar 2,3 juta.Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak
tahun 1984, dengan tujuan beerupaya untuk menurunkan kesakitan dan kematian khususnya
pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA, namun kelihatannya angka kesakitan
dan kematian tersebut masih tetap tinggi seperti yang telah dilaporkan berdasarkan penelitian
yang telah disebutkan di atas.4,6

Cara penularan
7

Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar, bibit
penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, oleh karena itu maka penyakit ISPA ini
termasuk golongan Air Borne Disease.Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara
penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi.
Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak langsung, namun
tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya adalah karena menghisap udara yang
mengandung unsur penyebab atau mikroorganisme penyebab.5

Gbr 1. Penyebaran penyakit ISPA

Gbr 2. Cara penularan ISPA

5. Penatalaksanaan
I. Mengatasi panas (demam)

Untuk orang dewasa, diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol.

Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, demam diatasi dengan memberikan parasetamol dan
dengan kompres.
-

Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya,

tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan.

- Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air biasa (tidak
perlu air es).

Bayi di bawah 2 bulan dengan demam sebaiknya segera dibawa ke pusat pelayanan
8

kesehatan.
II. Mengatasi batuk

Dianjurkan memberi obat batuk yang aman, yaitu ramuan tradisional berupa jeruk nipis
sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

Dapat digunakan obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti
kodein, dekstrometorfan, dan antihistamin.
III. Maag kronis
Dapat mengurangi gejala maag dengan cara tidak merokok atau minum kopi sebelum makan
Mengusahakan makan tepat waktu
Dapat digunakan obat maag seperti Bromhexin HCl, Antasida.
IV. Pemberian makanan

Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari
biasanya, lebih-lebih jika muntah.

Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.


V. Pemberian minuman
Kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. Usahakan pemberian
cairan (air putih, air buah, dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu
mengencerkan dahak dan mencegah kekurangan cairan.
VI. Lain-lain

Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih
pada anak dengan demam dan menghambat keluarnya panas.

Jika pilek, bersihkan hidung untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi
yang lebih parah.

Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat, yaitu yang berventilasi cukup, dengan
pencahayaan yang memadai, dan tidak berasap.

Apabila selama perawatan dirumah keadaan memburuk, maka dianjurkan untuk membawa ke
dokter.
9

Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, obat yang diperoleh tersebut harus diberikan
dengan benar sampai habis.

Dan untuk penderita yang tidak mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari kembali
ke dokter untuk pemeriksaan ulang.4

BAB IV
PEMBAHASAN
Definisi
ISPA (infeksi saluran pernafasan) adalah sekelompok penyakit infeksi pada sistem
pernafasan yang dapat disebabakan oleh mikroorganisme.Istilah ISPA meliputi tiga unsur
yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut.
Infeksi
Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang
biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
Saluran pernafasan
Adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ seperti sinus-sinus, rongga
telinga tengah dan pleura.
Infeksi Akut
Adalah Infeksi yang langsung sampai dengan 14 hari. batas 14 hari diambil untuk
menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan
dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.1
KLASIFIKASI PENYAKIT ISPA:
Klasifikasi Berdasarkan Umur
a. Kelompok umur < 2 bulan, diklasifikasikan atas :
Pneumonia berat: bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti berhenti menyusu
(jika sebelumnya menyusu dengan baik), kejang, rasa kantuk yang tidak wajar atau
sulit bangun, stridor pada anak yang tenang, mengi, demam (38C atau lebih) atau
suhu tubuh yang rendah (di bawah 35,5 C), pernafasan cepat 60 kali atau lebih per
menit, penarikan dinding dada berat, sianosis sentral (pada lidah), serangan apnea,
distensi abdomen dan abdomen tegang.
Bukan pneumonia: jika anak bernafas dengan frekuensi kurang dari 60 kali
permenit dan tidak terdapat tanda pneumonia seperti diatas.3
10

b. Kelompok umur 2 bulan - < 5 tahun, diklasifikasikan atas :


Pneumonia sangat berat: batuk atau kesulitan bernafas

yang

disertai

dengansianosis sentral, tidak dapat minum, adanya penarikan dinding dada,


anakkejang dan sulit dibangunkan.
Pneumonia berat: batuk atau kesulitan bernafas dan penarikan dinding dada,tetapi
tidak disertai sianosis sentral dan dapat minum.
Pneumonia: batuk (atau kesulitan bernafas) dan pernafasan cepat tanpapenarikan
dinding dada.
Bukan pneumonia (batuk pilek biasa): batuk (atau kesulitan bernafas)
tanpapernafasan cepat atau penarikan dinding dada.
Pneumonia persisten: anak dengan diagnosis pneumonia tetap sakit walaupuntelah
diobati selama 10-14 hari dengan dosis antibiotik yang adekuat danantibiotik yang
sesuai, biasanya terdapat penarikan dinding dada, frekuensipernafasan yang tinggi,
dan demam ringan.3
Klasifikasi Berdasarkan Lokasi Anatomi
a. Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut (ISPaA)
Infeksi yang menyerang hidung sampai bagian faring, seperti pilek, otitis media,
faringitis.
b. Infeksi Saluran Pernafasan bawah Akut (ISPbA)
Infeksi yang menyerang mulai dari bagian epiglotis atau laring sampai dengan alveoli,
dinamakan sesuai dengan organ saluran nafas, seperti epiglotitis, laringitis,
laringotrakeitis, bronkitis, bronkiolitis, pneumonia.2

Etiologi
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebabnya
antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pnemococcus,Hemofilus, Bordetella dan
Corinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Micsovirus, Adenovirus,
Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus.1,2
1. ISPA atas : Rinovirus, coronavirus, adenovirus, enterovirus, ( virus utama ).
bawah : Parainfluenza, 123 coronavirus,adenovirus ( Virus Utama ).
2. Bakteri utama : Steptococus, pneumonia, hemapholus, influenza, staphylococus aureus.

11

3. Pada neonotus dan bayi muda : Chalmedia tachomatis.3


Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit ISPA
a. Agent
Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. Kejadiannya bisa secara akut atau
kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks, faringitis, tonsilitis, dan sinusitis. Rinitis
simpleks atau yang lebih dikenal sebagai selesma/common cold/koriza/flu/pilek,
merupakan penyakit virus yang paling sering terjadi pada manusia. Penyebabnya adalah
virus Myxovirus, Coxsackie, dan Echo.2
b. Manusia
Umur
Berdasarkan hasil penelitian Daulay (1999) di Medan, anak berusia dibawah
2tahun mempunyai risiko mendapat ISPA 1,4 kali lebih besar dibandingkan dengananak
yang lebih tua. Keadaan ini terjadi karena anak di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum
sempurna dan lumen saluran nafasnya masih sempit.
Jenis kelamin
Berdasarkan hasil penelitian Kartasasmita (1993), menunjukkan bahwa tidak
terdapat perbedaan prevalensi, insiden maupun lama ISPA pada laki-laki dibandingkan
dengan perempuan.
Status Gizi
Di banyak negara di dunia, penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama
kematian terutama pada anak dibawah usia 5 tahun. Akan tetapi anak-anak yang
meninggal karena penyakit infeksi itu biasanya didahului oleh keadaan gizi yang kurang
memuaskan. Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan
mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh.

Berat Badan Lahir


Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir<2.500
gram. Menurut Tuminah (1999), bayi dengan BBLR mempunyai angkakematian lebih
tinggi dari pada bayi dengan berat 2500 gram saat lahir selama tahunpertama
kehidupannya. Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar akibat infeksipada bayi
baru lahir.
Status ASI Eksklusif
12

Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi kaya
akanfaktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus, terutama selama
minggu pertama (4-6 hari) payudara akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal
mengandung zat kekebalan (Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus factor danselsel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi.
Bayi (0-12 bulan) memerlukan jenis makanan ASI, susu formula, dan makanan
padat. Pada enam bulan pertama, bayi lebih baik hanya mendapatkan ASI saja (ASI
Eksklusif) tanpa diberikan susu formula. Usia lebih dari enam bulan baru diberikan
makanan pendamping ASI atau susu formula, kecuali pada beberapa kasus tertentu ketika
anak tidak bisa mendapatkan ASI, seperti ibu dengan komplikasi postnatal.
Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh (2006), didapatkan
bahwa proporsi balita yang tidak mendapat ASI eksklusif menderita pneumonia sebesar
56,2%, sedang yang tidak menderita pneumonia 38,8%. Hasil uji statistik diperoleh
bahwa anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2 kali lebih besar pada anak
balita yang tidak mendapat ASI eksklusif.

Status imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit
menular

tertentu

agar

kebal

dan

terhindar

dari

penyakit

infeksi

tertentu.

Pentingnyaimunisasi didasarkan pada pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan


upaya terpenting dalam pemeliharaan kesehatan anak.Imunisasi bermanfaat untuk
mencegah beberapa jenis penyakit seperti,POLIO (lumpuh layu), TBC (batuk berdarah),
difteri, liver (hati), tetanus, pertusis.Bahkan imunisasi juga dapat mencegah kematian
dari akibat penyakit-penyakit tersebut.

c. Lingkungan
Kelembaban Ruangan
Berdasarkan KepMenKes RI No. 829 tahun 1999 tentang kesehatan perumahan
menetapkan bahwa kelembaban yang sesuai untuk rumah sehat adalah 40-70%,
optimum 60%. Kelembaban ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi
faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 28 kali.
Suhu Ruangan
Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum 18300C. Hal ini berarti, jika suhu ruangan rumah dibawah 18 0C atau diatas 300C keadaan
13

rumah tersebut tidak memenuhi syarat. Suhu ruangan yang tidak memenuhisyarat
kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 4 kali.
Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah menjaga
agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O 2
yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan
menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun
bagi penghuninya menjadi meningkat. Sirkulasi udara dalam rumah akan baik dan
mendapatkan suhu yang optimum harus mempunyai ventilasi minima l10% dari luas
lantai.
Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007), didapatkan bahwa prevalens rate
ISPA pada bayi yang memiliki ventilasi kamar tidur yang tidak memenuhi syarat
kesehatan sebesar 69,9%, sedangkan untuk yang memenuhi syarat kesehatan sebesar
30,1%.
Kepadatan Hunian Rumah
Kepadatan penghuni dalam rumah dibedakan atas 5 kategori yaitu, 3,9
m2/orang, 4-4,9 m2/orang, 5-6,9 m2/orang, 7-8 m2/orang, 9 m2/orang. Dikatakan
padat jika luas lantai rumah 3,9 m2/orang, dan tidak padat jika luas lantai rumah 4
m2/orang.
Menurut Gani dalam penelitiannya di Sumatera Selatan (2004) menemukan
proses kejadian pneumonia pada anak balita lebih besar pada anak yang tinggal di
rumah yang padat dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah yang tidak padat.
Berdasarkan hasil penelitian Chahaya tahun 2004, kepadatan hunian rumah dapat
memberikan risiko terjadinya ISPA sebesar 9 kali.
Penggunaan Anti Nyamuk
Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk
dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak
sedap. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan
paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.
Bahan Bakar Untuk Memasak
Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat menyebabkan
kualitas udara menjadi rusak. Berdasarkan hasil penelitian, prevalens rate ISPA pada bayi

14

yang dirumahnya menggunakan bahan bakar untuk memasak adalah minyak tanah sebesar
76,6%, sedangkan gas elpiji sebesar 33,3%.
Keberadaan Perokok
Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif. Asap
rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya merupakan racun antara lainCarbon
Monoksida (CO), Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan lain-lain. Prevalensi
perokok pasif pada balita sebesar 69,5%, pada kelompok umur 5-9 tahun sebesar 70,6% dan
kelompok umur muda 10-14 tahun sebesar 70,5%. Tingginya prevalensi perokok pasif pada
balita dan umur muda disebabkan karena mereka masih

tinggal serumah dengan orang tua

ataupun saudaranya yang merokok dalam rumah.


Status Ekonomi dan Pendidikan
Persepsi masyarakat mengenai keadaan sehat dan sakit berbeda dari satu
individu dengan individu lainnya. Bagi seseorang yang sakit, persepsi terhadap penyakitnya
merupakan hal yang penting dalam menangani penyakit tersebut. Untuk bayi dan anak balita
persepsi ibu sangat menentukan tindakan pengobatan yang akanditerima oleh anaknya.
Manifestasi klinis
1. Tanda-tanda dan gejala ISPA5
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan
dan gejala-gejala yang ringan.Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi
lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan
mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan
penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu
diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat
ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.
Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda
laboratoris.

Tanda-tanda klinis:
1. Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea),
2. retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah
3. atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
15

4. Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi


5. dan cardiac arrest.
6. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala,
7. bingung, papil bendung, kejang dan coma.
8. Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.

Tanda-tanda laboratoris
1. hypoxemia,
2. hypercapnia dan acydosis (metabolik dan atau respiratorik).
Tanida-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa
minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada
anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan
minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya),
kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing, demam dan dingin.
Pencegahan
- Menjaga keadaan gizi anda dan keluarga agar tetap baik. Memberikan ASI eksklusif
pada bayi anda.
- Menjaga pola hidup bersih dan sehat, istirahat/tidur yang cukup dan olah raga
teratur.
- Membiasakan cuci tangan teratur menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer
terutama setelah kontak dengan penderita ISPA. Ajarkan pada anak untuk rajin cuci
tangan untuk mencegah ISPA dan penyakit infeksi lainnya.
- Melakukan imunisasi pada anak anda. Imunisasi yang dapat mencegah ISPA
diantaranya imunisasi influenza, imunisasi DPT-Hib /DaPT-Hib, dan imunisasi PCV.
- Hindari kontak yang terlalu dekat dengan penderita ISPA.
- Hindari menyentuh mulut atau hidung anda setelah kontak dengan flu. Segera cuci
tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer setelah kontak dengan penderita
ISPA.
- Apabila anda sakit, gunakanlah masker dan rajin cuci tangan agar tidak menulari
anak anda atau anggota keluarga lainnya.
- Upayakan ventilasi yang cukup dalam ruangan / rumah.4

16

BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut menderita penyakit
ISPA akut, dilihat dari gejala klinis yang tidak disertai dengan adanya infeksi, tarikan dinding
dada saat bernapas serta tidak ditemukannya pernapasan cepat pada pemeriksaan fisik yang
telah dilakukan. ISPA pasien tersebut dapat dipicu dari lingkungan tempat tinggal yang
kurang mendukung serta pola hidup yang tidak sehat.
Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor kebersihan lingkungan dan kesadaran keluarga
akan kesehatan pasien yang kurang baik sehingga pasien dapat mengalami sakit karena
adanya ketidakseimbangan yang berperan terhadap terjadinya gangguan pada kesehatan
pasien. Oleh sebab itu untuk mengatasi suatu penyakit dalam masyarakat juga perlu
memperhatikan faktor di sekeliling masyarakat tersebut, seperti halnya kesehatan
perseorangan yang dilakukan pada survey pendekatan keluarga ini. Hal ini menjadi hal yang
perlu disadari pemerintah, pelayanan kesehatan swasta, serta masyarakat sendiri agar tercipta
masyarakat yang sehat dan produktif.

DAFTAR PUSTAKA
1. Asdien, ahmad. Harisson.prinsip ilmu penyakit dalam. Edisi 13. Jakarta: EGC.
2007.h.205-8
2. Richard N, Mtitchell, et al. Buku saku dasar patologis penyakit. Edisi 7: Jakarta:
EGC., 2008.h. 506.
3. Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal . Jakarta: Buku
Kedokteran EGC
4. Widoyono. Penyakit

Tropis

Epidemiologi,

Penularan,

Pencegahan

dan

Pemberantasan. Edisi I. Jakarta: Erlangga; 2005. Hal 155-60.


5. Depkes 2002, Etiologi ISPA dan Pneumonia litbang.depkes.co.id,online,2002 Akses :
15 Juli 2012
6. Azwar, Azrul. Pengantar Epidemiologi . Edisi Revisi. Jakarta: Binarupa Aksara; 2007.

17

Gambar : kamar mandi umum

Gambar : dapur umum

18

Gambar : Ventilasi rumah

Gambar : kondisi rumah

19

Gambar : Teras rumah

Gambar : Anggota keluarga

20