Anda di halaman 1dari 55

Perpustakaan Unika

Studi Persepsi dan Preferensi Mahasiswa Unika Soegijapranata yang


Indekost di Karangrejo dan Tinjomoyo terhadap Produk Ikan dan
Daging Kalengan
Study of Perception and Preference toward Canned Fish and Meat
Products among The Students of The Soegijapranata Catholic University
Living In Private Dormitories In Karangrejo and Tinjomoyo Area
SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana


Teknologi Pangan

Disusun oleh :
Yuliani
01.70.0020

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2006

Perpustakaan Unika

LEMBAR PENGESAHAN

Studi Persepsi dan Preferensi Mahasiswa Unika


Soegijapranata yang Indekost di Karangrejo dan Tinjomoyo
terhadap Produk Ikan dan Daging Kalengan
Study of Perception and Preference toward Canned Fish and Meat
Products among The Students of The Soegijapranata Catholic University
Living In Private Dormitories In Karangrejo and Tinjomoyo Area

Oleh:
Nama: Yuliani
NIM: 01.70.0020

Laporan skripsi ini telah disetujui dan dipertahankan di hadapan sidang penguji pada
tanggal 28 Juni 2006

Semarang, 28 Juni 2006


Program Studi Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Katolik Soegijapranata

Pembimbing I

(Prof. Dr. Ir. Budi Widianarko, MSc)

Pembimbing II

(Ir. Christina Retnaningsih, MP)

Dekan

(Kristina Ananingsih, ST , MSc)

Perpustakaan Unika

Cinta tak bersyarat.....


adalah cinta yang terkemas dalam keanggunan
dan diikat dengan pita penerimaan,
pertolongan yang tidak mengikat dan pengabdian
Cinta tak bersyarat....
adalah cinta yang memotivasi, memberi energi,
menenangkan, menyembuhkan,
memberi penerangan baru di saat-saat gelap, berani berharap
dan berenang melawan arus ketidakpercayaan

The greatest regrets in our lives are the risks we did not take.
If you think something will make you happy, go for it!
Remember that you pass this way only once!

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya


(Pengkhotbah 3:11)

Karya ini kupersembahkan untuk


keluarga dan kekasihku yang tercinta

Perpustakaan Unika

RINGKASAN

Seiring dengan kemajuan teknologi dan semakin terbatasnya waktu, memaksa manusia
untuk mencari bahan pangan yang praktis, siap saji, dan tahan lama. Makanan kaleng
adalah salah satu alternatif bagi mahasiswa yang indekost. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui persepsi dan preferensi mahasiswa kost terhadap produk ikan, corned beef
dan sosis kalengan. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan metode Snow
Ball Sampling. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa Unika Soegijapranata
yang indekost di Karangrejo dan Tinjomoyo sebanyak 90 orang. Analisis data
ditampilkan secara deskriptif. Sebagian besar responden berjenis kelamin wanita (83%),
dan uang makan responden per bulan Rp. 301.000-500.000,- (59%). Responden
mengetahui produk ikan dan daging yang dikalengkan dari iklan dengan tempat
pembelian di supermarket dengan frekuensi konsumsi < 3 kaleng per minggu karena
produk ikan dan daging yang dikalengkan bagi responden hanya makanan selingan saja,
yaitu dikonsumsi bila ada selera. Responden mengolah dan menambahkan bahan-bahan
makanan seperti sayuran, cabai, dan sebagainya jika akan mengkonsumsi produk ikan
dan daging yang dikalengkan. Responden berpendapat bahwa produk ikan dan daging
yang dikalengkan aman dikonsumsi sesuai kebutuhan, sehingga mereka tidak
mengkhawatirkan kesehatan setelah mengkonsumsi produk ikan dan daging yang
dikalengkan. Produk ikan yang dikalengkan yang paling disukai responden adalah ikan
sarden dengan saos standar dengan merk ABC sedangkan produk corned beef yang
dikalengkan yang paling disukai responden adalah merk ABC. Produk sosis yang
dikalengkan yang paling disukai responden adalah sosis sapi dengan merk Pronas. Rasa
enak, mudah didapat, kualitas terjamin, harga terjangkau menjadi pertimbangan
responden dalam memilih produk ikan dan daging yang dikalengkan. Banyak responden
yang tidak mengetahui proses produksi dan gizi produk ikan dan daging yang
dikalengkan karena pengetahuan gizi tidak berpengaruh banyak terhadap kebiasaan
makan seseorang.

Perpustakaan Unika

SUMMARY
Modernization has forced human being to find practical, fast and preserved food.
Canned food is one alternative for college students in boarding houses. This research
aims to find out the perception and preference of college students on fish product,
corned beef and canned sausage. The data gathering uses questionnaires distributed to
respondents who are selected based on a Snow Ball Sampling technique. The
respondents in this research are the students of Unika Soegijapranata, which are
staying at boarding houses in Karangrejo and Tinjomoyo as many as 90 individuals.
The data were presented descriptively. Most of the respondents are female students
(83%) and the respondents monthly meal money is Rp.301.000-500.000,- (59%). The
respondents know the canned meat and fish products from the advertisement and the
purchasing places, e. g supermarket with the consumption frequency less than three
cans per week, because canned meat and fish products are only variation food from the
routine to the respondents, that is consumed conforming their appetite. The respondents
process and add food materials such as vegetables, chilly, and some others when they
want to consume canned meat and fish products. The respondents believe that canned
meat and fish products are safe to consume as needed, therefore they are not worried
about their health after consuming canned meat and fish products. The most preferred
canned fish products by the respondents is sardines in regular sauce (ABC brand),
while the most preferred canned corned beef products by the respondents is ABC brand.
The most preferred sausage products by the respondents is beef sausage of Pronas
brand. The delicious taste, the easiness to obtain, the noted quality, and the reasonable
price are the consideration of the respondents in choosing canned meat and fish
products. Many respondents are not aware of the production process and the nutrition
of canned meat and fish products because the knowledge of nutrition does not give
much influence to a persons eating habit.

ii

Perpustakaan Unika

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria atas kasih dan anugerah-Nya
yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan laporan
skripsi dengan judul Persepsi dan Preferensi Mahasiswa Unika Soegijapranata yang
Indekost di Karangrejo dan Tinjomoyo terhadap Produk Ikan dan Daging Kalengan.

Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada para pembaca
tentang produk ikan dan daging yang dikalengkan yang disukai oleh mahasiswa Unika
Soegijapranata yang indekost di Karangrejo dan Tinjomoyo, seberapa besar frekuensi
dan jumlah pembeliannya, serta persepsi mahasiswa kost tersebut terhadap produk ikan
dan daging yang dikalengkan. Selain itu juga untuk memenuhi tugas sebagai salah satu
kewajiban guna mencapai gelar Sarjana Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Pangan
pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

Tersusun skripsi ini tidak lepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

Kepada : Prof. Dr. Ir. Budi Widianarko, M. Sc selaku Pembimbing I


Ir. Christina Retnaningsih, MP selaku Pembimbing II
Terimakasih banyak atas support, waktu, tenaga, pikiran dan saran-saran yang telah
diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Mohon
maaf bila selama ini penulis telah banyak merepotkan Pak Budi dan Bu Nik.

Kepada: Kristina Ananingsih, ST, MSc selaku dekan FTP


Ir. Laksmi Hartayanie, MP selaku dosen wali,
dan para dosen yang telah membagikan ilmunya selama ini untuk penulis.

Untuk keluargaku tercinta : Mama, Papa, Mami, Papi, Emak, Nina, Sheilla, Siska, dan
Vio yang ada di kota tercinta, Pekalongan. You are everything for me. Dan untuk U
Slamet, Goik, Dedi di Semarang terimakasih banyak atas bantuannya selama ini.

iii

Perpustakaan Unika

Special for Irwan, kekasihku tercinta yang selalu mendukungku dan selalu
mendampingiku selama hampir enam tahun ini. Sie-sie atas semua yang dikau berikan
pada daku, temanku, sahabatku, kekasihku, kakakku. Tanpa dirimu dunia mungkin akan
terasa hambar. Jangan berhenti mencintaiku, ya........Ndut!

Very big thanks to Nanik Indriani (psy 03) atas segalanya. Makasih banget dikau rela
membantuku dalam menyusun skripsi ini, tak peduli hujan atau panas, dirimu selalu
mendampingiku. Jalan kaki, naik angkot, naik bus, susah senang kita tanggung bersama.
Terimakasih untuk persahabatan yang sangat indah yang kita jalin selama ini.
Semangat! Cia yao! Bansai!

For Mas Miki makasih banget atas bantuannya selama ini. Tanpa dirimu semua bisa
kacau balau. Sorry banget sudah ngrepotin dan thanks yah buat jeruk lemonnya..

Untuk teman kurcaciku: Mas Pri yang jenaka, dan agak-agak gimana gitu.... Di TP
berkurang satu lagi nih kurcacinya, Mas dan untuk keluarga besar FTP: Mas Agus,
Mbak Wati, Mbak Ros terimakasih atas waktu, tenaga, dan saran-saran yang diberikan
untukku selama ini.

Untuk teman-temanku yang selalu membuat aku jengkel sekaligus tertawa: Dewi (akt
02), Dedi (manj 01), Ganung (sast 01). Uei, kapan mau ke Ngepos? Lihat matahari
terbit di Baon lagi yuk! Ketemu sama Pak Sup, Lekah, Ayu, dll. Masih ingatkah kalian
atas satu malam minggu di Curug Sewu dan Sukorejo? Dan untuk Rica: hoi kamu kok
menghilang tidak ada kabarnya, kemana???

Untuk teman-teman seperjuanganku Anita T, Kendo, Evans, Beny, Steven, Jiban


makasih buat sharing-nya.

Untuk keluarga besar Griya Fiona: Sylvia, Osin, Rachel, Yeni Agnes, Mbak Santi,
Mbak Amal, Mbak Puji, Om Han, Pak Bardi, Pak Sur ..... trims banget buat doa dan
dukungannya selama ini. Dont forget me, yach....

iv

Perpustakaan Unika

Untuk Heni (sast04), Andre (psy03) dan para respondenku, terimakasih banyak atas
kesediannya mengisi kuesioner.

Untuk teman-teman yang lain, baik dari TP maupun bukan, yang tidak bisa disebutkan
satu per satu. Terimakasih atas dukungan dan bantuannya selama ini.

Semarang, Juni 2006

Penulis

Perpustakaan Unika

DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN

...............................................................................................

SUMMARY

............................................................................................... ii

KATA PENGANTAR

............................................................................................... iii

DAFTAR ISI

................................................................................................ vi

DAFTAR TABEL

................................................................................................ vii

DAFTAR GAMBAR

...............................................................................................viii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................ ix

1. PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
2. MATERI dan METODA ........................................................................................
2.1 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................................
2.2 Responden ..............................................................................................................
2.3 Penarikan Sampel .................................................................................................
2.4 Analisis Data ..........................................................................................................

8
8
8
8
9

3. HASIL PENELITIAN
........................................................................................ 10
3.1 Sampel .................................................................................................................. 10
3.2 Karakteristik Responden ...................................................................................... 10
3.3 Persepsi Responden terhadap Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan ........ 12
3.4 Persepsi Responden terhadap Produk Ikan yang Dikalengkan ............................ 18
3.5 Persepsi Responden terhadap Produk Corned Beef yang Dikalengkan .............. 23
3.6 Persepsi Responden terhadap Produk Sosis yang Dikalengkan ........................... 29
4. PEMBAHASAN

........................................................................................ 35

5. KESIMPULAN

....................................................................................... 42

6. DAFTAR PUSTAKA

........................................................................................ 43

LAMPIRAN

vi

Perpustakaan Unika

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Hasil Perhitungan Jumlah Sampel ............................................................. 10
Tabel 2. Sumber Informasi Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan ............... 12
Tabel 3. Perlakuan Responden setelah Pembelian Produk Ikan
dan Daging yang Dikalengkan .................................................................... 13
Tabel 4. Pola Konsumsi Responden ......................................................................... 13
Tabel 5. Lokasi Pembelian Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan .................. 14
Tabel 6. Kekhawatiran Responden terhadap Produk Ikan dan Daging
yang Dikalengkan ....................................................................................... 17
Tabel 7. Faktor Mengkonsumsi Produk Ikan yang Dikalengkan
berdasarkan Atribut .................................................................................... 19
Tabel 8. Jenis Ikan yang biasa Dikonsumsi Responden ........................................... 19
Tabel 9. Jenis Saos Produk Ikan yang Dikalengkan

............................................... 20

Tabel 10. Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab


Kerusakan, dan Ciri-ciri Kerusakan Produk Ikan yang Dikalengkan ........

21

Tabel 11. Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan


Produk Ikan yang Dikalengkan .................................................................. 23
Tabel 12. Faktor Mengkonsumsi Produk Corned Beef yang Dikalengkan
berdasarkan Atribut .................................................................................... 25
Tabel 13. Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab
Kerusakan, dan Ciri-ciri Kerusakan Produk Corned Beef
yang Dikalengkan ....................................................................................... 26
Tabel 14. Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan
Produk Corned Beef yang Dikalengkan ...................................................... 28
Tabel 15. Faktor Mengkonsumsi Produk Sosis yang Dikalengkan
berdasarkan Atribut .................................................................................... 30
Tabel 16. Jenis Sosis yang biasa Dikonsumsi Responden ........................................ 30
Tabel 17. Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab
Kerusakan, dan Ciri-ciri Kerusakan Produk Sosis yang Dikalengkan ....... 31
Tabel 18. Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan
pada Produk Sosis yang Dikalengkan ...................................................

vii

34

Perpustakaan Unika

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Persentase Responden berdasarkan Jenis Kelamin ............................... 11
Gambar 2. Persentase Responden berdasarkan Uang Makan Per Bulan ...............

11

Gambar 3. Frekuensi Pembelian Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan .....

14

Gambar 4. Alasan Responden Mengkonsumsi Produk Ikan dan Daging


yang Dikalengkan .................................................................................

15

Gambar 5. Pendapat Responden tentang Keamanan Produk Ikan dan Daging


yang Dikalengkan .................................................................................

16

Gambar 6. Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan yang Paling Disukai
oleh Responden ....................................................................................

17

Gambar 7. Merk Produk Ikan yang Dikalengkan ................................................... 18


Gambar 8. Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi Produk
Ikan yang Dikalengkan ........................................................................

21

Gambar 9. Pengetahuan Responden tentang Kelengkapan Gizi Produk


Ikan yang Dikalengkan ........................................................................

22

Gambar 10. Merk Produk Corned Beef yang Dikalengkan .....................................

24

Gambar 11. Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi


Produk Corned Beef yang Dikalengkan ................................................

26

Gambar 12. Pengetahuan Responden tentang Kelengkapan Gizi Produk


Corned Beef yang Dikalengkan .............................................................

27

Gambar 13. Merk Produk Sosis yang Dikalengkan .................................................

29

Gambar 14. Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi Produk


Sosis yang Dikalengkan .......................................................................

32

Gambar 15. Pengetahuan Responden tentang Kelengkapan Gizi Produk


Sosis yang Dikalengkan .......................................................................

viii

33

Perpustakaan Unika

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner
Lampiran 2. Hasil Perhitungan Responden
Lampiran 3. Data Frequency

ix

1
Perpustakaan Unika

1. PENDAHULUAN
Komoditas hasil laut merupakan salah satu bahan pangan sumber protein selain daging
dan unggas (Potter & Hotchkiss, 1996). Umumnya komoditas hasil laut terdiri dari ikan
dan shellfish. Ikan mengandung gizi tinggi, merupakan sumber protein hewani yang
baik dan rendah kolesterol sehingga membuat ikan sebagai bahan makanan yang sehat
dan aman untuk dikonsumsi (Agustini & Swastawati, 2003). Dewasa ini di negara maju
maupun beberapa negara berkembang, kesadaran untuk mengkonsumsi ikan semakin
meningkat dan pola makan serta gaya hidup mereka beralih terutama untuk protein
intake, dari semula yang bersumber dari hasil peternakan sekarang beralih pada hasil
perikanan (Agustini & Swastawati, 2003).

Data selama 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa di Indonesia produksi ikan yang
diolah hanya 23-47% dan sisanya dijual sebagai ikan segar atau ikan basah. Cara
pengolahan tradisional seperti penggaraman, pengeringan, pemindangan, pengasapan
dan fermentasi lebih dominan daripada cara pengolahan modern seperti pembekuan dan
pengalengan (Herawati, 2002). Tujuan utama proses pengawetan dan pengolahan ikan
adalah:
Mencegah proses pembusukan pada ikan, terutama pada saat produksi melimpah.
Meningkatkan jangkauan pemasaran ikan.
Melaksanakan diversifikasi pengolahan produk-produk perikanan.
Meningkatkan pendapatan nelayan atau petani, sehingga mereka terangsang untuk
melipatgandakan produksi (Afrianto & Liviawati, 1989).

Ikan-ikan yang termasuk dalam jenis yang umum dibuat produk sardin saus tomat yang
dikemas dalam kaleng adalah Lemuru (Clupea longiceps, Clupea harengus), kembung
(Sadinelin aurita), Walbaum (Sardina pilchardus), Sardina sardina, Sardinops
caeralea, Melanostic, Neopilchardus, Ocellata atau Sagax, Sardinella aucnevia,
Brasillensis atau eba, Clupea antipodum, Fuegensis, Sprattus (Clupea spratus),
Hyperlopus vittatus, Fluvilosa vlamiaghi, Etrumeus micropus, Ethmidium maculatus,
dan Engraulus anchoita (Arpah, 1993).

2
Perpustakaan Unika

Daging adalah bagian badan ternak yang dimanfaatkan untuk konsumsi manusia.
Daging dapat berasal dari berbagai jenis ternak potong, baik ternak besar (sapi, kerbau)
maupun ternak kecil (domba, kambing, dan babi) (Winarno, 1993).

Komposisi daging relatif mirip satu dengan yang lain, terutama kandungan proteinnya
sebesar 15-20% dan kadar protein tersebut terutama yang menentukan tingginya mutu
daging dari segi gizi. Protein yang terkandung dalam daging, seperti halnya juga yang
terkandung dalam telur dan susu, sangat tinggi mutunya. Kadar lemak daging, yang
berkisar antara 5-40%, bergantung pada jenis ternak dan spesiesnya, serta makanan dan
umur ternak (Winarno, 1993).

Sebagian besar kalsium dalam badan ternak terdapat dalam tulangnya, karena itu bagian
daging yang dapat dikonsumsi rendah kandungan mineralnya. Meskipun demikian,
daging tanpa lemak merupakan sumber yang bagus bagi fosfor dan besi. Hati yang lebih
dikenal sebagai jeroan mengandung vitamin A dan besi yang sangat tinggi. Secara
umum daging merupakan sumber yang bagus sekali untuk niasin dan riboflavin serta
tiamin (Winarno, 1993).

Daging mengandung pigmen pemberi warna merah (mioglobin). Perubahan warna


daging dari karkas menjadi merah cerah, mioglobin berubah menjadi metmioglobin
(Arpah, 1993).

Penyebab

utama

kerusakan

daging

segar

adalah

tercemarnya

daging

oleh

mikroorganisme. Kegiatan mikroorganisme dapat menimbulkan kerusakan daging


berupa terjadinya penyimpangan warna, bau busuk, timbulnya gas, asam dan beracun.
Kerusakan tersebut sangat cepat terjadi bila persyaratan penanganan sebelum dan
sesudah pemotongan tidak dapat dipenuhi. Pembusukan daging dapat terjadi karena
timbulnya bakteri proteolisis, deaminasi asam amino, ammonia, asam keto, asam lemak,
CO2 dan H2S. Oleh karena itu setiap usaha ke arah mengurangi mikroorganisme, dapat
meningkatkan keawetan daging tersebut (Setiaji et al., 1990). Salah satu cara untuk
mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh kegiatan mikroorganisme tersebut adalah
mengurangi perkembangan mikroorganisme dalam daging dengan metode pengalengan.

3
Perpustakaan Unika

Daging sapi merupakan bahan makanan yang mempunyai nilai gizi tinggi, terutama
protein karena mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Di samping itu protein daging
juga mengandung asam amino esensial yang lengkap dan pola susunannya sesuai
dengan kebutuhan tubuh manusia dalam peranannya untuk pembentukan sel-sel tubuh
(Arpah, 1993).

Gizi daging ayam pada prinsipnya tidak banyak bedanya dengan gizi daging-daging
lain, yaitu tinggi nilai gizinya. Proteinnya memiliki kandungan asam amino yang
lengkap dan seimbang. Daging dada ayam ternyata banyak mengandung vitamin niasin
(anti penyakit pellagra) dibandingkan dengan daging tak berlemak lainnya. Karena
tingginya kandungan niasin, daging dada sabagai sumber niasin dapat disamakan
dengan hati. Daging ayam yang lebih muda lebih tinggi kadar niasinnya (Winarno,
1993).

Sosis sudah lama dikenal penduduk Indonesia. Sosis berasal dari kata salsus (bahasa
latin) yang berarti menggarami. Sosis merupakan suatu jenis produk makanan yang
berbentuk simetris dan merupakan hasil pengolahan daging cincang yang telah diberi
bumbu. Pada mulanya sosis hanya dibuat secara alami, yaitu dengan menggunakan
pembungkus atau selongsong (casing) dari usus halus ternak, seperti usus sapi,
kambing, domba, atau babi. Dengan makin meningkatnya permintaan akan sosis,
keperluan selongsong tidak dapat dipenuhi seluruhnya dari usus ternak. Maka perhatian
diarahkan ke bahan-bahan lainnya, seperti cellophan dan plastik yang dilapisi campuran
polimer vinyl chlorida, vinyl asetat, parafin, selulosa, serat maupun kolagen. Jenis
casing yang digunakan dapat mempengaruhi mutu sosis yang dihasilkan (Astawan &
Astawan, 1988).

Kecenderungan mahasiswa kost untuk membeli dan mengkonsumsi makanan yang


dikalengkan bukan tanpa alasan, tapi punya alasan-alasan tertentu. Efisiensi waktu
sudah jelas merupakan alasan utama. Kepraktisan dalam memasak juga turut mewarnai
ramainya permintaan makanan yang dikalengkan. Karena itulah makin lama makin
banyak saja produk-produk makanan dalam kaleng yang dipasarkan. Ikan, corned beef

4
Perpustakaan Unika

dan sosis yang dikemas dalam kaleng merupakan jenis produk yang dikalengkan yang
praktis, siap saji hanya dengan pengolahan minimal.

Pengalengan merupakan salah satu cara pengawetan dengan menggunakan suhu tinggi
(110-120o C). Suhu tinggi itu digunakan untuk mematikan semua mikroorganisme
(bakteri pembusuk dan bakteri patogen, termasuk spora yang mungkin ada). Kemasan
kaleng adalah wadah yang terbuat dari baja lembaran tipis, yang kedua permukaannya
dilapisi timah putih (tin) sehingga lembaran baja itu disebut tin plate (Moeljanto, 1992).

Suhardjo (1989) berpendapat bahwa suatu makanan dianggap memenuhi selera tidak
hanya tergantung pada hubungan sosial dan budaya tetapi juga sifat fisiknya, yaitu
flavor yang meliputi aroma, tekstur dan suhu, penampilan yang meliputi warna dan
bentuk akan berpengaruh terhadap pangan. Dengan menggunakan teknologi pangan,
makanan yang tersaji akan menghasilkan bentuk, warna, tekstur dan rasa yang menarik
disamping mudah disimpan, mudah dihidangkan dan mudah diperoleh dalam kehidupan
sehari-hari.

Winarno (1993) menyatakan bahwa secara teoritis, konsumsi pangan dipengaruhi oleh
penyediaan pangan, daya beli, pengetahuan, dan kesadaran gizi, serta faktor budaya.
Selain itu, konsumsi pangan juga seringkali dipengaruhi oleh selera konsumen yang
didasarkan pada nilai-nilai sosial, ekonomi, budaya, agama, politik, dan harga diri yang
sangat tinggi. Adanya perbedaan dalam berbagai faktor pada diri individu seperti
pengetahuan, pengalaman serta minat, perasaan, dan situasi lingkungan menimbulkan
sikap yang berbeda-beda terhadap pangan dan makanan.

Perilaku konsumen adalah proses-proses ketika individu atau kelompok memilih,


membeli, menggunakan, atau menentukan produk, jasa, ide atau pengalaman untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan (Triwijayanti, 1997). Jadi secara sederhana, studi
perilaku konsumen meliputi hal-hal sebagai berikut, yaitu: apa yang dibeli (what they
buy), mengapa konsumen membelinya (why they buy it), kapan mereka membelinya
(when they buy it), dimana mereka membelinya (where they buy it), berapa sering

5
Perpustakaan Unika

mereka membelinya (how often they buy it), dan berapa sering mereka menggunakannya
(how often they use it) (Sumarwan, 2003).

Persepsi konsumen adalah suatu kesan konsumen terhadap suatu objek sebagai akibat
dari penerimaan informasi tentang objek tersebut, memperhatikan informasi atau
objeknya dan memahami informasi tersebut (Sumarwan, 2002). Sciffman & Kanuk
(2000) mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses untuk memilih, mengorganisasikan
dan menginterpretasikan suatu stimulus menjadi sebuah realitas yang mempunyai
makna. Mowen & Minor (1998) meletakkan landasan teori persepsi tersebut pada teori
proses pengolahan informasi. Ada lima tahapan pengolahan informasi, yaitu tahap
pemaparan, perhatian, penerimaan, dan tahap retensi. Persepsi adalah bagian dari tahap
pengolahan informasi, yaitu pemaparan (ketika konsumen menerima informasi dari
pelbagai media), tahap perhatian dan tahap pemahaman terhadap informasi tersebut.
Menurut Mendelson et al, ada 8 kategori yang menjadi barrier dalam perubahan
pemilihan makanan, yaitu: informasi atau pengetahuan, pengaruh keluarga atau teman
pada saat makan, preferensi (suka/tidak suka), ketersediaan makanan, harga, alasan
kesehatan dan kebiasaan.

Persepsi tentang keamanan pangan sangat berkaitan dengan penerimaan konsumen


terhadap suatu produk. Persepsi tersebut terjadi karena pengetahuan konsumen tentang
adanya senyawa-senyawa yang menjadi faktor keamanan pangan. Adanya perbedaan
persepsi antar responden tidak hanya tergantung pada sifat-sifat rangsangan fisis, tetapi
juga pada hubungan rangsangan dengan medan sekelilingnya dan kondisi dalam
individu. Persepsi yang berbeda terhadap suatu objek yang sama dapat terjadi karena
tiga proses yang berkenaan dengan persepsi, yaitu penerimaan rangsangan, perubahan
makna informasi dan mengingat sesuatu secara selektif (Irawan et al., 1996). Tingkat
kepercayaan atau keyakinan merupakan suatu pemikiran deskriptif yang dipertahankan
seseorang mengenai sesuatu, yang didasarkan atas pengetahuan dan opini yang
dipengaruhi oleh rasa emosional atau unsur perasaan. Sikap ini dapat menggambarkan
penilaian yang baik maupun tidak baik (evaluasi), perasaan atau kecenderungan yang
konsisten atas suka atau tidak sukanya seseorang terhadap objek atau ide. Evaluasi

6
Perpustakaan Unika

produk oleh konsumen meliputi penilaian terhadap sifat produk, bobot kepentingannya,
kepercayaan terhadap produk, dan manfaat yang didapat (Kotler & Armstrong, 2001).

Preferensi konsumen terhadap makanan merupakan ukuran tentang suka atau tidak
sukanya konsumen terhadap makanan yang dikonsumsinya. Memahami preferensi
konsumen terhadap pangan ialah dengan menganalisa motif yang mendorong seseorang
memilih produk pangan konsumsinya. Karakteristik makanan yang mempengaruhi
preferensi adalah sifat organoleptik makanan, kemudahan, metode penyiapan, daya
cerna dan ketersediaannya (Suyantohadi et al., 2000; Simatupang & Ariani, 1997).

Usia adalah salah satu dari variabel yang paling sering digunakan dalam pemangsaan,
karena usia adalah salah satu dari variabel yang paling berguna untuk menentukan
motivasi dan minat. Antara anak-anak dan orang dewasa terdapat perbedaan kesukaan
dan toleransi (Engel et al., 1994). Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun sampai
kira-kira 40 tahun (Hurlock, 1980). Menurut Turner & Helms dalam Dariyo (2003),
dewasa muda mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan kapasitas berpikir
abstrak, logis dan rasional. Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa,
segala urusan yang dialami dalam hidupnya sedapat mungkin ditangani sendiri tanpa
bantuan orang lain, termasuk orang tua.

Sekarang ini produk ikan, corned beef, dan sosis yang dikemas dalam kaleng yang
beredar di pasar sangat beragam, dan masing-masing produk makanan yang
dikalengkan tersebut memiliki ciri khusus untuk membedakan produk ikan, corned beef
dan sosis yang dikalengkan yang satu dengan yang lain. Mahasiswa kost mungkin
memiliki persepsi dan preferensi yang beragam terhadap produk ikan, corned beef dan
sosis yang dikemas dalam kaleng tersebut.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi dan preferensi mahasiswa Unika
Soegijapranata yang indekost di Karangrejo dan Tinjomoyo terhadap produk ikan,
corned beef dan sosis yang dikemas dalam kaleng.

8
Perpustakaan Unika

2. MATERI dan METODA


2.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada mahasiswa Unika


Soegijapranata yang indekost di Karangrejo dan Tinjomoyo pada awal bulan Maret
sampai awal bulan April 2006. Waktu pelaksanaan bervariasi dengan waktu maksimal
untuk menjawab seluruh pertanyaan adalah 15 menit. Tempat penelitian, yaitu di
rumah-rumah kost responden.

2.2 Responden

Responden merupakan mahasiswa Unika Soegijapranata yang indekost di Karangrejo


dan Tinjomoyo dan berusia 1824 tahun karena dianggap mampu menangani sendiri
segala urusan yang dialami dalam hidupnya tanpa bantuan orang lain, termasuk orang
tua. Responden dipilih dengan metode Snow Ball Sampling. Dalam menentukan
responden, pertama kali peneliti memilih salah satu orang terdekat yang dikenal dan
mempunyai kriteria purposif untuk menjadi responden, kemudian orang tersebut akan
menentukan responden yang berikutnya (Santoso & Tjiptono, 2001).

2.3 Penarikan Sampel

Metode yang digunakan dalam penarikan sampel adalah metode survei dengan
menggunakan kuesioner. Adapun pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner meliputi dua
bagian, yaitu bagian yang mengandung data identitas responden dan bagian yang
mengandung pertanyaan-pertanyaan yang ingin diperoleh jawabannya. Kuesioner yang
digunakan dalam survei adalah structured non disguised, yaitu daftar pertanyaan yang
tersusun rapi dengan tujuan yang jelas bagi responden. Pertanyaan-pertanyaan dalam
kuesioner terdiri dari pertanyaan terbuka, dan gabungan pertanyaan terbuka dan tertutup
(Hermianto & Andayani, 2002). (Kuesioner lihat Lampiran 1).

9
Perpustakaan Unika

Survei dilaksanakan dalam dua periode. Periode pertama adalah survei pendahuluan dan
periode kedua adalah survei akhir. Jumlah responden pada survei pendahuluan sebanyak
20 orang. Survei pendahuluan ini bertujuan untuk mengevaluasi pertanyaan dalam
kuesioner tersebut dan menentukan jumlah sampel berdasarkan item jawaban
pertanyaan kesukaan responden terhadap produk ikan, corned beef dan sosis yang
dikemas dalam kaleng. Penentuan jumlah responden didekati dengan rumus ukuran
sampel acak berdasarkan proporsi menurut Scheaffer et al. (1996), yaitu:

n=

N . p.q
(N 1)D + ( p.q )

Keterangan:
N = Populasi total, asumsi mahasiswa aktif Unika Soegijapranata yang berasal dari luar
kota Semarang pada semester ganjil periode 2005/2006, yaitu 2123 orang
(Puskom, Unika).
P = Perkiraan proporsi pada populasi
B = Error of estimation at 95% = 0.1

Tingkat keyakinan yang digunakan, yaitu 95% dengan tingkat kesalahan 0,1. Bila
jumlah sampel penelitian lebih besar daripada jumlah sampel hitung (n penelitian > n
hitung), maka dapat dikatakan bahwa jumlah sampel yang digunakan telah mewakili
jumlah memadai (Supranto, 2001) (Perhitungan responden lihat di Lampiran 2).

2.4 Analisis Data

Data karakteristik responden beserta konsumsi dan persepsi terhadap produk ikan dan
daging yang dikalengkan dianalisis secara deskriptif menggunakan perangkat lunak
Microsoft Excel dan Statistical Package for The Social Sciences (SPSS) versi 10.0 for
Windows.

10
Perpustakaan Unika

3. HASIL PENELITIAN
3.1 Sampel

Dalam penelitian tentang produk ikan dan daging yang dikalengkan didapatkan jumlah
responden sebanyak 90 orang berdasarkan hasil pra-survei. Hasil perhitungan responden
dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Perhitungan Jumlah Sampel


Item Jawaban Pertanyaan

Kesukaan pada produk ikan,

0,65

Kesimpulan

N Orang
N Hitung

N Penelitian

87

90

Memenuhi

corned beef dan sosis yang


dikemas dalam kaleng

Pada tingkat keyakinan sebesar 95% dan tingkat kesalahan 0,1 didapatkan hasil
perhitungan jumlah sampel untuk item jawaban pertanyaan kesukaan terhadap produk
ikan, corned beef dan sosis yang dikemas dalam kaleng sebesar 87 responden.
Sedangkan item jawaban pertanyaan tersebut yang digunakan pada penelitian ini
sebanyak 90 responden, dengan demikian dapat dikatakan bahwa persyaratan minimal
jumlah sampel penelitian telah terpenuhi.

3.2 Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini, responden yang diwawancara berjenis kelamin pria dan wanita.
Data karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Gambar 1.

11
Perpustakaan Unika

17%

Pria
Wanita

83%

Gambar 1. Persentase Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Pada Gambar 1. dari 90 orang responden yang diwawancara ternyata 83% responden
berjenis kelamin wanita dan 17% responden berjenis kelamin pria.

Uang makan responden dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok yang memiliki
uang makan per bulan < Rp. 300.000,-; kelompok yang memiliki uang makan Rp.
301.000-Rp. 500.000,-; dan kelompok yang memiliki uang makan > Rp. 500.000,-. Data
karakteristik responden berdasarkan uang makan dapat dilihat pada Gambar 2.

11%
30%

< = Rp 300.000

Rp. 301.000 - Rp. 500.000

> Rp. 500.000


59%

Gambar 2. Persentase Responden berdasarkan Uang Makan Per Bulan

Pada Gambar 2. terlihat bahwa dari 90 orang responden, 30% memiliki uang makan per
bulan < Rp. 300.000,-; 59% responden memiliki uang makan per bulan Rp. 301.000500.000,- dan 11% responden memiliki uang makan per bulan > Rp. 500.000,-.

12
Perpustakaan Unika

3.3 Persepsi Responden terhadap Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan

3.3.1 Sumber Informasi

Informasi tentang produk ikan dan daging yang dikalengkan dapat diperoleh responden
melalui: iklan, teman, keluarga, atau ketiga-tiganya (dari iklan, dari teman, dan dari
keluarga). Sumber informasi yang diterima responden dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Sumber Informasi Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan

Sumber Informasi

Persentase Responden

Iklan

55.6

Teman

6.7

Keluarga

31.1

Ketiga-tiganya (Iklan, teman, keluarga)

6.7

Berdasarkan Tabel 2. di atas ternyata responden mengetahui produk ikan dan daging
yang dikalengkan dari iklan (55.6%), kemudian diikuti informasi dari keluarga (31.1%),
sedangkan informasi dari teman dan informasi dari ketiga-tiganya sebesar 6.7%.

3.3.2 Perlakuan Responden setelah Pembelian Produk Ikan dan Daging yang
Dikalengkan

Setelah responden membeli produk ikan dan daging yang dikalengkan tersebut, ada dua
macam alternatif yang dapat dipilih responden dalam mengkonsumsi produk ikan dan
daging yang dikalengkan tersebut, yaitu responden langsung mengkonsumsi produk
tersebut atau produk tersebut diolah terlebih dahulu baru dikonsumsi. Perlakuan
responden setelah pembelian produk ikan dan daging yang dikalengkan dapat dilihat
pada Tabel 3.

13
Perpustakaan Unika

Tabel 3. Perlakuan Responden setelah Pembelian Produk Ikan dan Daging yang
Dikalengkan

Perlakuan setelah Pembelian

Persentase Responden

Langsung dikonsumsi

11.1

Diolah

88.9

Berdasarkan Tabel 3. diketahui bahwa sebagian besar responden mengolah produk ikan
dan daging yang dikalengkan tersebut terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi (88.9%)
dan hanya 11.1% saja yang langsung mengkonsumsi produk ikan dan daging yang
dikalengkan tersebut tanpa mengolahnya terlebih dahulu.

3.3.3 Pola Konsumsi Responden

Dalam mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan responden dapat
menambahkan bahan pangan tertentu seperti sayuran, gula, garam, dan sebagainya.
Tetapi ada juga responden yang tidak menambahkan bahan pangan tertentu seperti
sayuran, gula, garam, dan sebagainya. Pola konsumsi responden dapat dilihat pada
Tabel 4.

Tabel 4. Pola Konsumsi Responden

Pola Konsumsi

Persentase Responden

Menambahkan bahan pangan tertentu

73.3

Tidak menambahkan bahan pangan tertentu

26.7

Pada Tabel 4. dapat diketahui bahwa sebagian besar responden (73.3%) menambahkan
bahan pangan tertentu ketika mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan
sedangkan sisanya (26.7%) tidak menambahkan bahan pangan tertentu ketika
mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan.

14
Perpustakaan Unika

3.3.4 Lokasi Pembelian Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan

Responden bisa membeli produk ikan dan daging yang dikalengkan di supermarket,
toko dekat kost atau kampus, atau toko dekat rumah. Lokasi pembelian produk ikan dan
daging yang dikalengkan yang dipilih responden dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Lokasi Pembelian Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan

Lokasi Pembelian

Persentase Responden

Supermarket

80

Toko dekat kost atau kampus

11.1

Toko dekat rumah

8.9

Berdasarkan Tabel 5. dapat diketahui bahwa responden membeli produk ikan dan
daging yang dikalengkan di supermarket (80%), toko dekat kost atau kampus sebesar
11.1% dan toko dekat rumah sebesar 8.9%.

3.3.5 Frekuensi Pembelian Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan

Frekuensi pembelian produk ikan dan daging yang dikalengkan dalam seminggu dibagi
menjadi empat kategori, yaitu: < 3 kaleng; 3-7 kaleng; 7-10 kaleng; > 10 kaleng.
Frekuensi pembelian produk ikan dan daging yang dikalengkan dapat dilihat pada
Gambar 3.

16%

1%
<3 kaleng
3-7 kaleng
7-10 kaleng

83%

Gambar 3. Frekuensi Pembelian Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan

15
Perpustakaan Unika

Pada Gambar 3. dapat diketahui bahwa frekuensi pembelian produk ikan dan daging
yang dikalengkan terbesar dalam seminggu adalah < 3 kaleng (83%), kemudian diikuti
oleh frekuensi pembelian sebanyak 3-7 kaleng dalam seminggu (16%), dan 7-10 kaleng
dalam seminggu (1%). Tidak ada responden yang mengkonsumsi produk ikan dan
daging yang dikalengkan lebih dari 10 kaleng dalam seminggu.

3.3.6 Alasan Responden Mengkonsumsi Produk Ikan dan Daging yang


Dikalengkan

Ada tiga alasan responden mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan,
yaitu: tidak memasak, waktu ada selera, dan tidak ada pilihan makanan yang lain.
Alasan yang dikemukakan responden mengapa mengkonsumsi produk ikan dan daging
yang dikalengkan dapat dilihat pada Gambar 4.

19%

22%

Tidak memasak
Waktu ada selera

59%

Tidak ada pilihan


makanan lain

Gambar 4. Alasan Responden Mengkonsumsi Produk Ikan dan Daging yang


Dikalengkan

Berdasarkan Gambar 4. diketahui bahwa alasan mengkonsumsi produk ikan dan daging
yang dikalengkan karena waktu ada selera (59%) kemudian karena tidak ada pilihan
makanan lain (22%) dan karena tidak memasak (19%).

16
Perpustakaan Unika

3.3.7 Pendapat Responden tentang Faktor Keamanan Produk Ikan dan Daging
yang Dikalengkan

Pendapat responden tentang keamanan produk ikan dan daging yang dikalengkan dibagi
menjadi tiga, yaitu: aman, dapat dikonsumsi berapapun dan kapanpun; aman, bila sesuai
kebutuhan; dan dapat mengganggu kesehatan. Pendapat responden tersebut dapat dilihat
pada Gambar 5.

12%

17%

Aman dapat dikonsumsi


berapapun dan
kapanpun

Aman bila sesuai


kebutuhan

71%

Dapat mengganggu
kesehatan

Gambar 5. Pendapat Responden tentang Keamanan Produk Ikan dan Daging yang
Dikalengkan

Pada Gambar 5. diketahui bahwa sebesar 71% responden berpendapat bahwa produk
ikan dan daging yang dikalengkan aman dikonsumsi bila sesuai kebutuhan; sebesar 17%
berpendapat bahwa produk tersebut dapat mengganggu kesehatan, dan sebesar 12%
berpendapat bahwa produk tersebut aman dan dapat dikonsumsi berapapun dan
kapanpun.

3.3.8 Kekhawatiran Responden terhadap Aspek Kesehatan setelah Mengkonsumsi


Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan

Responden setelah mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan ada yang
mengkhawatirkan kesehatannya dan ada juga responden yang merasa baik-baik saja

17
Perpustakaan Unika

atau tidak mengkhawatirkan kesehatannya. Kekhawatiran responden tersebut dapat


dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Kekhawatiran Responden terhadap Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan

Kekhawatiran Responden terhadap Produk Ikan

Persentase Responden

dan Daging yang Dikalengkan


Khawatir

38.9

Tidak Khawatir

61.1

Berdasarkan Tabel 6. diketahui bahwa sebesar 61.1% responden mengatakan bahwa


mereka tidak mengkhawatirkan kesehatan mereka setelah mengkonsumsi produk ikan
dan daging yang dikalengkan. Sedangkan yang lain (38.9%) mengatakan mereka
mengkhawatirkan kesehatannya setelah mengkonsumsi produk ikan dan daging yang
dikalengkan.

3.3.9 Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan yang Paling Disukai oleh
Responden

Produk ikan dan daging yang dikalengkan tersebut, yaitu ikan, corned beef, dan sosis
yang dikalengkan. Produk yang paling disukai oleh responden dapat dilihat pada
Gambar 6.

20%
47%

Ikan

Sosis

Corned Beef
33%

Gambar 6. Produk Ikan dan Daging yang Dikalengkan yang paling Disukai oleh
Responden

18
Perpustakaan Unika

Berdasarkan Gambar 6. didapatkan bahwa produk yang paling disukai responden adalah
produk ikan yang dikalengkan (47%), diikuti produk sosis yang dikalengkan (33%), dan
produk corned beef yang dikalengkan (20%).

3.4 Persepsi Responden terhadap Produk Ikan yang Dikalengkan

3.4.1 Merk Produk Ikan yang Dikalengkan yang Biasa Dibeli oleh Responden

Merk produk ikan yang dikalengkan yang ada di pasaran bermacam-macam, yaitu ABC,
Gaga, Pronas, Maya, Botan, Vinisi, Kokin, Richman, Home, Yoko, Cip, Kiku, Lotus,
Ayam Brand, Del Monte, Deho, dan S & W. Merk produk ikan yang dikalengkan yang
biasa dibeli responden dapat dilihat pada Gambar 7.

5%
32%

ABC
Gaga
Del Monte

63%

Gambar 7. Merk Produk Ikan yang Dikalengkan

Berdasarkan Gambar 7. dapat diketahui bahwa dari sekian banyak merk produk ikan
yang dikalengkan hanya merk ABC (63%), Gaga (32%), dan Del Monte (5%) yang
paling digemari oleh responden.

3.4.2 Faktor Mengkonsumsi Produk Ikan yang Dikalengkan berdasarkan Atribut

Maksud dari atribut di sini, yaitu rasa, harga, kemasan, kualitas, dan mudah didapat.
Faktor mengkonsumsi produk ikan yang dikalengkan oleh responden dapat dilihat pada
Tabel 7.

19
Perpustakaan Unika

Tabel 7. Faktor Mengkonsumsi Produk Ikan yang Dikalengkan berdasarkan Atribut

Atribut

Persentase Responden

Rasa

25.66

Harga

2.5

Kemasan

Kualitas

4.11

Mudah Didapat

7.18

Berdasarkan Tabel 7. atribut rasa paling mempengaruhi pengkonsumsian produk ikan


yang dikalengkan (25.66%), kemudian mudah didapat (7.18%), kualitas (4.11%), dan
harga (2.5%). Responden tidak mempedulikan atribut kemasan dalam mengkonsumsi
produk ikan yang dikalengkan.

3.4.3 Jenis Ikan yang biasa Dikonsumsi Responden

Jenis ikan dibagi menjadi tiga, yaitu mackerel, sarden, dan tuna. Jenis ikan yang biasa
dikonsumsi oleh responden dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Jenis Ikan yang biasa Dikonsumsi Responden


Jenis Ikan

Persentase Responden

Mackerel

18.4

Sarden

71.1

Tuna

10.5

Berdasarkan Tabel 8. dapat diketahui bahwa produk ikan yang dikalengkan yang paling
disukai adalah ikan sarden (71.1%), kemudian mackerel (18.4%), dan tuna (10.5%).

20
Perpustakaan Unika

3.4.4 Jenis Saos Produk Ikan yang Dikalengkan yang biasa Dikonsumsi
Responden

Jenis saos yang biasa dikonsumsi responden dibagi menjadi dua, yaitu standar (saos
tomat dan saos tomat + cabai) dan saos lainnya. Jenis saos pada produk ikan yang
dikalengkan yang biasa dikonsumsi responden dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Jenis Saos Produk Ikan yang Dikalengkan

Jenis Saos

Persentase Responden

Standar

97.4

Lainnya

2.6

Berdasarkan Tabel 9. didapatkan bahwa produk ikan yang dikalengkan dengan saos
standar (saos tomat dan saos tomat+cabai) yang paling disukai oleh responden (97.4%).
Sedangkan produk ikan yang dikalengkan dengan saos yang lain kurang disukai (2.6%).

3.4.5 Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab Kerusakan,


dan Ciri-ciri kerusakan Produk Ikan yang Dikalengkan

Proses produksi, penyebab kerusakan dan ciri-ciri kerusakan pada produk ikan yang
dikalengkan adalah salah satu hal yang penting dalam menentukan persepsi responden.
Pengetahuan responden tentang proses produksi, penyebab kerusakan, dan ciri-ciri
kerusakan tersebut dapat dilihat pada Tabel 10.

21
Perpustakaan Unika

Tabel 10. Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab Kerusakan, dan
Ciri-ciri Kerusakan Produk Ikan yang Dikalengkan

Pengetahuan Responden

Persentase Responden
Mengetahui

Tidak Mengetahui

Proses Produksi

24

76

Penyebab Kerusakan

42

58

Ciri-ciri Kerusakan

55.3

44.7

Berdasarkan Tabel 10. ternyata responden tidak mengetahui proses produksi (76%) dan
penyebab kerusakan (58%) produk ikan yang dikalengkan. Tetapi responden lebih
banyak yang mengetahui ciri-ciri kerusakan produk ikan yang dikalengkan (55.3%).

3.4.6 Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi Produk Ikan yang


Dikalengkan

Produk ikan yang dikalengkan mengandung nutrisi yang penting bagi tubuh. Nutrisi
yang terdapat dalam produk ikan yang dikalengkan bermacam-macam. Pengetahuan
responden tentang kandungan nutrisi yang terdapat dalam produk ikan yang
dikalengkan dapat dilihat pada Gambar 8.

Mengetahui
50%

50%

Tidak Mengetahui

Gambar 8. Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi Produk Ikan yang


Dikalengkan

22
Perpustakaan Unika

Berdasarkan Gambar 8. didapat bahwa 50% responden mengetahui dan 50% responden
tidak mengetahui kandungan nutrisi produk ikan yang dikalengkan.

3.4.7 Pengetahuan Reponden tentang Kelengkapan Gizi Produk Ikan yang


Dikalengkan

Zat gizi sangat besar manfaatnya bagi tubuh kita, yaitu untuk memelihara kesehatan
tubuh, untuk pertumbuhan dan perkembangan, dan lain-lain. Tubuh kita harus menerima
asupan zat gizi yang cukup dan lengkap. Kelengkapan zat gizi mutlak diperlukan oleh
tubuh karena kekurangan salah satu zat gizi dapat mengganggu proses metabolisme
dalam tubuh. Pengetahuan responden tentang kelengkapan gizi yang terdapat dalam
produk ikan yang dikalengkan dapat dilihat pada Gambar 9.

5%
26%
Lengkap
Tidak Lengkap
Ragu-ragu
69%

Gambar 9. Pengetahuan Responden tentang Kelengkapan Gizi Produk Ikan yang


Dikalengkan

Berdasarkan Gambar 9. terlihat bahwa sebesar 69% responden mengatakan ragu-ragu


(tidak tahu apakah gizi produk ikan yang dikalengkan lengkap atau tidak). Sebesar 26%
responden mengatakan kandungan gizi produk ikan yang dikalengkan tidak lengkap dan
hanya 5% responden yang mengatakan kandungan gizi produk ikan yang dikalengkan
lengkap.

23
Perpustakaan Unika

3.4.8 Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan pada Produk


Ikan yang Dikalengkan

Bahan tambahan makanan adalah bahan-bahan yang ditambahkan secara sengaja ke


dalam makanan dalam jumlah sedikit, yaitu untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa,
tekstur, atau memperpanjang masa simpan. Pengetahuan responden tentang bahan
tambahan makanan yang terdapat dalam produk ikan yang dikalengkan tersebut dapat
dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan Produk Ikan
yang Dikalengkan

Bahan Tambahan Makanan

Persentase Responden
Ya

Tidak

Pengawet

100

Pewarna

81.6

18.4

Pemanis

92.1

7.9

Pengental

92.1

7.9

Penyedap Rasa

100

Berdasarkan Tabel 11. diketahui bahwa responden menjawab bahwa ada bahan
pengawet (100%), bahan pewarna (81.6%), bahan pemanis (92.1%), bahan pengental
(92.1%), dan bahan penyedap rasa (100%) pada produk ikan yang dikalengkan.

3.5 Persepsi Responden terhadap Produk Corned Beef yang Dikalengkan

3.5.1 Merk Produk Corned Beef yang Dikalengkan yang Biasa Dibeli oleh
Responden

Merk produk corned beef yang dikalengkan yang ada di pasaran bermacam-macam,
yaitu Libbys, Cip, Great-Wall, B.V.D.A.K, S & W, Pronas, ABC, dan Liberty. Merk

24
Perpustakaan Unika

produk corned beef yang dikalengkan yang biasa dibeli responden dapat dilihat pada
Gambar 10.

4%

12%

4%

Cip

Great-Wall

Pronas

ABC

45%
35%

Liberty

Gambar 10. Merk Produk Corned Beef yang Dikalengkan

Berdasarkan Gambar 10. produk corned beef yang dikalengkan yang biasa dibeli
responden dengan merk ABC (45%), disusul merk Pronas (35%), Cip (12%), Great-wall
(4%) dan Liberty (4%).

3.5.2 Faktor Mengkonsumsi Produk Corned Beef yang Dikalengkan berdasarkan


Atribut

Maksud dari atribut di sini, yaitu rasa, harga, kemasan, kualitas, dan mudah didapat.
Faktor mengkonsumsi produk corned beef yang dikalengkan oleh responden dapat
dilihat pada Tabel 12.

25
Perpustakaan Unika

Tabel 12. Faktor Mengkonsumsi Produk Corned Beef yang Dikalengkan berdasarkan
Atribut

Atribut

Persentase Responden

Rasa

80.8

Harga

Kemasan

Kualitas

3.8

Mudah Didapat

15.4

Berdasarkan Tabel 12. atribut rasa paling mempengaruhi pengkonsumsian produk


corned beef yang dikalengkan (80.8%), kemudian mudah didapat (15.4%), dan kualitas
(3.8%). Responden tidak mempedulikan atribut harga dan kemasan dalam
mengkonsumsi produk corned beef yang dikalengkan.

3.5.3 Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab Kerusakan,


dan Ciri-ciri kerusakan Produk Corned Beef yang Dikalengkan

Proses produksi, penyebab kerusakan dan ciri-ciri kerusakan pada produk corned beef
yang dikalengkan adalah salah satu hal yang penting dalam menentukan persepsi
responden. Pengetahuan responden tentang proses produksi, penyebab kerusakan, dan
ciri-ciri kerusakan produk corned beef yang dikalengkan tersebut dapat dilihat pada
Tabel 13.

26
Perpustakaan Unika

Tabel 13. Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab Kerusakan, dan
Ciri-ciri Kerusakan Produk Corned Beef yang Dikalengkan

Pengetahuan Responden

Persentase Responden
Mengetahui

Tidak Mengetahui

Proses Produksi

3.8

96.2

Penyebab Kerusakan

34.6

65.4

Ciri-ciri Kerusakan

46.2

53.8

Berdasarkan Tabel 13. ternyata responden tidak mengetahui proses produksi (96.2%),
penyebab kerusakan (65.4%), dan ciri-ciri kerusakan (53.8%) produk corned beef yang
dikalengkan.

3.5.4 Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi Produk Corned Beef


yang Dikalengkan

Produk corned beef yang dikalengkan mengandung nutrisi yang penting bagi tubuh.
Nutrisi yang terdapat dalam produk corned beef yang dikalengkan bermacam-macam.
Pengetahuan responden tentang kandungan nutrisi yang terdapat dalam produk corned
beef yang dikalengkan dapat dilihat pada Gambar 11.

27%
Mengetahui
Tidak Mengetahui

73%

Gambar 11. Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi Produk Corned Beef
yang Dikalengkan

27
Perpustakaan Unika

Berdasarkan Gambar 11. didapat bahwa 73% responden tidak mengetahui dan hanya
27% responden yang mengetahui kandungan nutrisi produk corned beef

yang

dikalengkan.

3.5.5 Pengetahuan Reponden tentang Kelengkapan Gizi Produk Corned Beef


yang Dikalengkan

Zat gizi sangat besar manfaatnya bagi tubuh kita, yaitu untuk memelihara kesehatan
tubuh, untuk pertumbuhan dan perkembangan, dan lain-lain. Tubuh kita harus menerima
asupan zat gizi yang cukup dan lengkap. Kelengkapan zat gizi mutlak diperlukan oleh
tubuh karena kekurangan salah satu zat gizi dapat mengganggu proses metabolisme
dalam tubuh. Pengetahuan responden tentang kelengkapan gizi yang terdapat dalam
produk corned beef yang dikalengkan dapat dilihat pada Gambar 12.

4%

Lengkap

Ragu-Ragu

96%

Gambar 12. Pengetahuan Responden tentang Kelengkapan Gizi Produk Corned Beef
yang Dikalengkan

Berdasarkan Gambar 12. terlihat bahwa sebesar 96% responden mengatakan ragu-ragu
(tidak tahu apakah gizi produk corned beef yang dikalengkan lengkap atau tidak) hanya
4% responden mengatakan kandungan gizi produk corned beef yang dikalengkan
lengkap.

28
Perpustakaan Unika

3.5.6 Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan pada Produk


Corned Beef yang Dikalengkan

Bahan tambahan makanan adalah bahan-bahan yang ditambahkan secara sengaja ke


dalam makanan dalam jumlah sedikit, yaitu untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa,
tekstur, atau memperpanjang masa simpan. Pengetahuan responden tentang bahan
tambahan makanan yang terdapat dalam produk corned beef yang dikalengkan tersebut
dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan Produk Corned
Beef yang Dikalengkan

Bahan Tambahan Makanan

Persentase Responden
Ya

Tidak

Pengawet

96.2

3.8

Pewarna

46.2

53.8

Pemanis

50

50

Pengental

57.7

42.3

Penyedap Rasa

92.3

7.7

Berdasarkan Tabel 14. diketahui bahwa responden menjawab ada bahan pengawet
(96.2%), bahan pemanis (50%), bahan pengental (57.7%), dan bahan penyedap rasa
(92.3%), tetapi tidak ada bahan pewarna (53.8%) pada produk corned beef yang
dikalengkan.

29
Perpustakaan Unika

3.6 Persepsi Responden terhadap Produk Sosis yang Dikalengkan

3.6.1 Merk Produk Sosis yang Dikalengkan yang Biasa Dibeli oleh Responden

Merk produk sosis yang dikalengkan yang ada di pasaran bermacam-macam, yaitu
Great-Wall, Cip, Bernardi, dan Pronas. Merk produk sosis yang dikalengkan yang biasa
dibeli responden dapat dilihat pada Gambar 13.

27%

Great-Wall

43%

Cip

Bernardi
15%

Pronas

15%

Gambar 13. Merk Produk Sosis yang Dikalengkan

Berdasarkan Gambar 13. produk sosis yang dikalengkan yang biasa dibeli responden
dengan merk Pronas (43%), disusul merk Great-Wall (27%), Cip (15%), dan Bernardi
(15%).

3.6.2 Faktor Mengkonsumsi Produk Sosis yang Dikalengkan berdasarkan Atribut

Maksud dari atribut di sini, yaitu rasa, harga, kemasan, kualitas, dan mudah didapat.
Faktor mengkonsumsi produk sosis yang dikalengkan oleh responden dapat dilihat pada
Tabel 15.

30
Perpustakaan Unika

Tabel 15. Faktor Mengkonsumsi Produk Sosis yang Dikalengkan berdasarkan Atribut

Atribut

Persentase Responden

Rasa

84.6

Harga

Kemasan

Kualitas

7.7

Mudah Didapat

7.7

Berdasarkan Tabel 15. atribut rasa paling mempengaruhi pengkonsumsian produk sosis
yang dikalengkan (84.6%), kemudian kualitas (7.7%) dan mudah didapat (7.7%).
Responden tidak mempedulikan atribut harga dan kemasan dalam mengkonsumsi
produk sosis yang dikalengkan.

3.6.3 Jenis Sosis yang biasa Dikonsumsi Responden

Jenis sosis dibagi menjadi dua, yaitu sosis ayam dan sosis sapi. Jenis sosis yang biasa
dikonsumsi oleh responden dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Jenis Sosis yang biasa Dikonsumsi Responden


Jenis Sosis

Persentase Responden

Ayam

46.2

Sapi

53.8

Berdasarkan Tabel 16. dapat diketahui bahwa produk sosis yang dikalengkan yang
paling disukai adalah sosis sapi (53.8%), kemudian sosis ayam (46.2%).

3.6.4 Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab Kerusakan,


dan Ciri-ciri kerusakan Produk Sosis yang Dikalengkan

Proses produksi, penyebab kerusakan dan ciri-ciri kerusakan pada produk sosis yang
dikalengkan adalah salah satu hal yang penting dalam menentukan persepsi responden.

31
Perpustakaan Unika

Pengetahuan responden tentang proses produksi, penyebab kerusakan, dan ciri-ciri


kerusakan produk sosis yang dikalengkan dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Pengetahuan Responden tentang Proses Produksi, Penyebab Kerusakan, dan
Ciri-ciri Kerusakan Produk Sosis yang Dikalengkan

Pengetahuan Responden

Persentase Responden
Mengetahui

Tidak Mengetahui

Proses Produksi

7.7

92.3

Penyebab Kerusakan

23.1

76.9

Ciri-ciri Kerusakan

50

50

Berdasarkan Tabel 17. ternyata responden tidak mengetahui proses produksi (92.3%)
dan penyebab kerusakan (76.9%) produk sosis yang dikalengkan. Tetapi antara
responden lyang mengetahui dengan responden yang tidak mengetahui ciri-ciri
kerusakan produk sosis yang dikalengkan persentasenya sama, yaitu 50%.

3.6.5 Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi Produk Sosis yang


Dikalengkan

Produk sosis yang dikalengkan mengandung nutrisi yang penting bagi tubuh. Nutrisi
yang terdapat dalam produk sosis yang dikalengkan bermacam-macam. Pengetahuan
responden tentang kandungan nutrisi yang terdapat dalam produk sosis yang
dikalengkan dapat dilihat pada Gambar 14.

32
Perpustakaan Unika

19%
Tidak Mengetahui
Mengetahui

81%

Gambar 14. Pengetahuan Responden tentang Kandungan Nutrisi Produk Sosis yang
Dikalengkan

Berdasarkan Gambar 14. didapat bahwa 81% responden tidak mengetahui kandungan
nutrisi dan hanya 19% responden yang mengetahui kandungan nutrisi produk sosis yang
dikalengkan.

3.6.6 Pengetahuan Reponden tentang Kelengkapan Gizi Produk Sosis yang


Dikalengkan

Zat gizi sangat besar manfaatnya bagi tubuh kita, yaitu untuk memelihara kesehatan
tubuh, untuk pertumbuhan dan perkembangan, dan lain-lain. Tubuh kita harus menerima
asupan zat gizi yang cukup dan lengkap. Kelengkapan zat gizi mutlak diperlukan oleh
tubuh karena kekurangan salah satu zat gizi dapat mengganggu proses metabolisme
dalam tubuh. Pengetahuan responden tentang kelengkapan gizi yang terdapat dalam
produk sosis yang dikalengkan dapat dilihat pada Gambar 15.

33
Perpustakaan Unika

8%

12%

Lengkap

Ragu-ragu

Tidak Lengkap
80%

Gambar 15. Pengetahuan Responden tentang Kelengkapan Gizi Produk Sosis yang
Dikalengkan

Berdasarkan Gambar 15. terlihat bahwa sebesar 80% responden mengatakan ragu-ragu
(tidak tahu apakah gizi produk sosis yang dikalengkan lengkap atau tidak). Sebesar 12%
responden mengatakan kandungan gizi produk sosis yang dikalengkan tidak lengkap
dan hanya 8% responden yang mengatakan kandungan gizi produk sosis yang
dikalengkan lengkap.

3.6.7

Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan pada Produk


Sosis yang Dikalengkan

Bahan tambahan makanan adalah bahan-bahan yang ditambahkan secara sengaja ke


dalam makanan dalam jumlah sedikit, yaitu untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa,
tekstur, atau memperpanjang masa simpan. Pengetahuan responden tentang bahan
tambahan makanan yang terdapat dalam produk sosis yang dikalengkan dapat dilihat
pada Tabel 18.

34
Perpustakaan Unika

Tabel 18. Pengetahuan Responden tentang Bahan Tambahan Makanan Produk Sosis
yang Dikalengkan

Bahan Tambahan Makanan

Persentase Responden
Ya

Tidak

Pengawet

100

Pewarna

65.4

34.6

Pemanis

57.7

42.3

Pengental

42.3

57.7

Penyedap Rasa

88.5

11.5

Berdasarkan Tabel 18. diketahui bahwa responden menjawab bahwa ada bahan
pengawet (100%), bahan pewarna (65.4%), bahan pemanis (57.7%), dan bahan
penyedap rasa (88.5%), tetapi lebih banyak yang menjawab tidak ada bahan pengental
(57.7%) pada produk sosis yang dikalengkan.

35
Perpustakaan Unika

4. PEMBAHASAN

Sebagian besar responden mengetahui produk ikan dan daging yang dikalengkan dari
iklan (55.6%). Menurut Peter & Olson (2000), iklan merupakan penyajian informasi
non personal tentang suatu produk atau merek yang dilakukan dengan pesan-pesan
tertentu. Iklan ditujukan untuk mempengaruhi konsumen berdasarkan evaluasi,
perasaan, pengetahuan, makna kepercayaan, sikap dan citra yang berkaitan dengan
produk atau merek. Iklan telah dianggap menciptakan dan memelihara citra dan makna
dalam benak konsumen. Sikap konsumen terhadap iklan dapat mempengaruhi sikap
mereka terhadap produk atau merek yang diiklankan. Iklan yang disenangi konsumen
terlihat menciptakan sikap merek yang positif dan keinginan untuk membeli kembali
produk yang sama. Hal ini terlihat dari merk yang sering dibeli oleh mahasiswa kost.
Untuk produk ikan dan corned beef, merk yang sering dibeli adalah merk ABC diikuti
merk Gaga. Iklan merk ABC dan Gaga sangat gencar ditayangkan di televisi
dibandingkan merk yang lain. Sedangkan untuk produk sosis adalah merk Pronas karena
merk Pronas lebih dikenal daripada merk yang lain.

Selain iklan, mahasiswa kost mengetahui produk ikan dan daging yang dikalengkan dari
keluarga (31.1%). Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh seseorang.
Anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pembelian
produk. Orang tua mempunyai pengaruh pada preferensi merk yang dipilih anak
(Irawan, 2003). Seringkali mahasiswa kost memilih suatu produk ikan dan daging yang
dikalengkan selain karena iklan yang gencar juga karena orang tuanya selalu membeli
produk ikan dan daging yang dikalengkan dengan merk tertentu, sehingga menjadi
kebiasaan bagi mahasiswa kost tersebut untuk membeli merk tertentu.

Sumber informasi dari teman (6.7%) tidak terlalu mempengaruhi pembelian produk
ikan dan daging yang dikalengkan. Pada usia dewasa muda, faktor teman sudah tidak
terlalu mempengaruhi keputusan seseorang untuk membeli suatu barang atau jasa.
Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa, segala urusan yang dialami
dalam hidupnya sedapat mungkin ditangani sendiri tanpa bantuan orang lain (Turner &
Helms dalam Dariyo, 2003).

36
Perpustakaan Unika

Ketika akan mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan, sebagian besar
dari mahasiswa kost mengolah produk tersebut terlebih dahulu (88.9%) tetapi ada juga
yang langsung mengkonsumsi produk tersebut tanpa mengolahnya terlebih dahulu
(11.1%). Mereka ada yang menambahkan sayuran, cabai, garam, dan bahan-bahan lain
(73.3%) tetapi ada juga yang tidak menambahkan bahan makanan apapun (26.7%). Cara
penyajian makanan yang berbeda-beda tersebut bergantung dari selera masing-masing
individu. Makanan yang disukai adalah makanan yang memenuhi selera atau cita rasa
atau inderawi, yaitu dalam hal rupa, warna, aroma, rasa, suhu, dan tekstur (den Hartog
et al., 1980).

Sebagian besar mahasiswa kost membeli produk ikan dan daging yang dikalengkan di
supermarket. Kenyamanan seorang konsumen untuk berbelanja di suatu tempat
ditentukan oleh banyaknya barang yang tersedia dan kemudahan memperoleh barang
(Sumarwan, 2002). Selain di supermarket, mahasiswa kost membeli produk ikan dan
daging yang dikalengkan di toko dekat kost atau kampus (11.1%) bisa dikarenakan
malas ke supermarket, atau merk yang biasa mereka beli tersedia di toko tersebut. Ada
juga yang membeli produk ikan dan daging yang dikalengkan di toko dekat rumah
(8.9%). Ketika mereka sedang di rumah dan akan kembali ke kost, biasanya mahasiswa
kost membawa bekal makanan untuk dimakan di kost. Jadi mereka membeli produk
ikan dan daging yang dikalengkan di toko dekat rumah kemudian dibawa ke kost,
sehingga uang makan mereka bisa untuk membeli makanan yang lain.

Dalam seminggu, sebagian besar mahasiswa kost mengkonsumsi produk ikan dan
daging yang dikalengkan kurang dari tiga kaleng (83%). Mahasiswa kost
mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan waktu ada selera (59%).
Selain itu karena tidak ada pilihan makanan lain (22%) dan karena tidak memasak
(19%), sehingga mereka jarang membeli produk ikan dan daging yang dikalengkan.

Mahasiswa kost berpendapat bahwa produk ikan dan daging yang dikalengkan aman
dikonsumsi bila sesuai kebutuhan (71%). Mereka mengatakan bahwa mereka
mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan hanya ketika ada selera untuk
mengkonsumsi produk tersebut, sehingga hal ini berpengaruh terhadap frekuensi

37
Perpustakaan Unika

pembelian produk ikan dan daging yang dikalengkan, yaitu kurang dari tiga kaleng per
minggu (83%). Mereka tidak perlu menggunakan pengetahuan gizinya dalam memilih
produk ikan dan daging yang dikalengkan karena mereka tidak menjadikan produk ikan
dan daging yang dikalengkan sebagai makanan pokok. Produk ikan dan daging yang
dikalengkan hanya sebagai makanan selingan. Tetapi ada juga mahasiswa kost yang
berpendapat bahwa produk ikan dan daging yang dikalengkan dapat mengganggu
kesehatan (17%). Mereka yang berpendapat demikian mungkin berpikiran bahwa
frekuensi konsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan yang baik adalah 3-7
kaleng per minggu, sehingga bila mengkonsumsi produk ikan dan daging yang
dikalengkan lebih dari tujuh kaleng per minggu dapat mengganggu kesehatan.
Sedangkan mahasiswa kost yang berpendapat bahwa produk ikan dan daging yang
dikalengkan aman dikonsumsi berapapun dan kapanpun (12%) karena mereka sering
mengkonsumsi produk ikan daging yang dikalengkan (7-10 kaleng per minggu) dan
tidak pernah mengalami gangguan kesehatan.

Mahasiswa kost sebagian besar mengatakan bahwa mereka tidak mengkhawatirkan


kesehatannya setelah mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan
(61.1%). Hal ini disebabkan karena frekuensi konsumsi mereka yang sedikit (< 3 kaleng
per minggu), sehingga mereka berpendapat bahwa produk ikan dan daging yang
dikalengkan aman dikonsumsi. Sedangkan mereka yang mengatakan mengkhawatirkan
kesehatannya setelah mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan (38.9%)
mungkin karena frekuensi konsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan yang
melampui jumlah yang mereka biasa konsumsi. Faktor lain yang menjadi pertimbangan
responden dalam mengkonsumsi produk ikan, corned beef atau sosis yang dikemas
dalam kaleng adalah adanya ijin dari Departemen Kesehatan, sehingga dapat dikatakan
bahwa produk makanan yang dikalengkan tersebut tergolong aman, sehingga mereka
menganggap sah-sah saja mengkonsumsi produk makanan yang dikalengkan tersebut.

Produk ikan dan daging yang dikalengkan yang paling disukai adalah ikan yang
dikalengkan (47%) kemudian sosis yang dikalengkan (33%), dan yang terakhir adalah
corned beef yang dikalengkan (20%). Konsumen memiliki berbagai pertimbangan
dalam mengambil keputusan untuk membeli atau memilih suatu produk. Menurut

38
Perpustakaan Unika

Swasono (1995), budaya pangan mengutamakan pada selera makan dan makanan
kesukaan daripada kesadaran akan bahaya makanan bagi kesehatan.

Dalam mengambil keputusan pembelian, konsumen (dalam hal ini adalah mahasiswa
kost) pertama kali mengenali kebutuhannya, apakah mereka benar-benar menganggap
makanan kaleng sebagai makanan pokok atau hanya sebagai makanan pelengkap saja.
Setelah mereka mengetahui kebutuhannya, mereka mencari informasi baik informasi
yang disimpan di dalam ingatan (pencarian internal) maupun informasi dari lingkungan
(pencarian eksternal). Setelah mendapatkan informasi-informasi tersebut, mereka
mengevaluasi produk makanan kaleng apa yang cocok untuk dikonsumsi pada saat itu,
apakah produk ikan, corned beef, atau sosis kalengan? Setelah menentukan produk
makanan kaleng yang sekiranya cocok dikonsumsi pada saat itu, mereka melakukan
pembelian. Terkadang pembelian suatu produk makanan kaleng tersebut bisa karena
coba-coba (mereka belum pernah mengkonsumsi produk tersebut sebelumnya) atau bisa
karena ketika mereka hendak membeli produk makanan kaleng yang biasa mereka beli
ternyata sudah habis terjual. Prosesnya tidak berhenti hanya sampai di situ. Setelah
melakukan pembelian, mereka mengevaluasi produk yang mereka beli. Bila produk
tersebut dirasa enak, mereka akan merekomendasikannya kepada orang lain dan akan
membeli kembali produk makanan kaleng tersebut bila kebutuhan akan makanan kaleng
tersebut muncul kembali (Engel et al., 1994).

Merk produk ikan yang dikalengkan yang biasa dikonsumsi oleh mahasiswa kost adalah
ABC (63%) disusul oleh Gaga (32%) dan Del Monte (5%). Merk produk corned beef
yang dikalengkan biasa dibeli mahasiswa kost adalah merk ABC (45%), disusul Pronas
(35%), Cip (12%), dan Liberty serta Great-Wall (masing-masing 4%). Sedangkan merk
produk sosis yang dikalengkan yang biasa dibeli oleh mahasiswa kost adalah Pronas
(43%), disusul Great-Wall (27%), dan Cip serta Bernardi (masing-masing 15%).
Menurut Peter & Olson, 2000 dalam persaingan, promosi sering menjadi elemen kunci
suksesnya persaingan. Promosi yang sering dilakukan adalah melalui iklan. Iklan
merupakan penyajian informasi non personal tentang suatu produk atau merek yang
dilakukan dengan pesan-pesan tertentu. Iklan ditujukan untuk mempengaruhi konsumen
berdasarkan evaluasi, perasaan, pengetahuan, makna kepercayaan, sikap dan citra yang

39
Perpustakaan Unika

berkaitan dengan produk atau merek. Iklan telah dianggap menciptakan dan memelihara
citra dan makna dalam benak konsumen. Sikap konsumen terhadap iklan dapat
mempengaruhi sikap mereka terhadap produk atau merek yang diiklankan. Iklan yang
disenangi konsumen terlihat menciptakan sikap merek yang positif dan keinginan untuk
membeli kembali produk yang sama. Ekuitas merek adalah nilai yang dikandung oleh
sebuah merek, nama atau simbol dari sebuah produk atau jasa yang sangat bermanfaat
bagi pelanggan maupun produsen. Suatu merek yang memiliki ekuitas merek yang
tinggi akan memberikan kemudahan bagi konsumen untuk mempercayai dan memilih
merek tersebut (Durianto et al., 2001).

Mahasiswa kost dalam memilih produk ikan yang dikalengkan yang disukai, mereka
lebih mempertimbangkan faktor rasa (25.66%), mudah didapat (7.18%), kualitas
(4.11%), dan harga (2.5%). Sedangkan untuk memilih produk corned beef yang
dikalengkan atribut yang dipertimbangkan adalah rasa (80.8%), mudah didapat (15.4%),
dan kualitas (3.8%). Dan untuk memilih produk sosis yang dikalengkan, mahasiswa
kost lebih mempertimbangkan atribut rasa (84.6%), dan kualitas serta mudah didapat
(masing-masing 7.7%). Menurut Putra et al (2001), dalam menentukan pilihan dalam
suatu produk, seorang konsumen akan mempertimbangkan berbagai atribut yang
melekat pada produk tersebut, yaitu cita rasa, harga, kualitas, kemasan, dan kemudahan
untuk mendapatkannya. Karena itulah mahasiswa kost banyak yang memilih merk ABC
untuk produk ikan dan corned beef yang dikalengkan dan merk Pronas untuk produk
sosis yang dikalengkan karena mereka menganggap merk ABC dan Pronas mempunyai
rasa yang enak, di mana-mana banyak yang menjual merk ABC dan Pronas sehingga
mudah didapat, kualitas terjamin, dan harganya juga terjangkau.

Jenis ikan pada produk ikan yang dikalengkan yang paling disukai oleh mahasiswa kost
adalah ikan sarden (71.1%) bila dibandingkan ikan mackerel (18.4%), dan ikan tuna
(10.5) dengan saos standar (saos tomat atau saos tomat + cabai) (97.4%). Pengaruh iklan
di sini sangat mempengaruhi konsumsi produk ikan yang dikalengkan. Iklan di televisi
lebih sering menyebutkan sarden dan menampilkan sarden dengan saos tomat atau saos
tomat + cabai. Misalnya, merk ABC yang lebih sering menyebutkan sarden ABC dan
yang ditampilkan adalah produk dengan saos standar. Bahkan seringkali konsumen

40
Perpustakaan Unika

menyebut produk ikan yang dikalengkan dengan sebutan ikan sarden padahal
maksudnya semua jenis ikan yang dikalengkan, entah itu ikan sarden, ikan tuna, atau
ikan mackerel.

Sosis sapi yang dikalengkan lebih disukai mahasiswa kost (53.8%) daripada sosis ayam
(46.2%). Hal ini bisa disebabkan karena rasa sosis sapi lebih enak daripada sosis ayam,
atau bisa juga sosis sapi lebih mudah didapat daripada sosis ayam.

Pengetahuan mahasiswa kost tentang proses produksi, penyebab dan ciri-ciri kerusakan
baik itu proses produksi produk ikan, corned beef, maupun sosis yang dikalengkan
ternyata banyak mahasiswa kost yang tidak mengetahuinya. Begitu juga dengan
kandungan nutrisi dan kelengkapan gizi produk ikan, corned beef, dan sosis yang
dikalengkan banyak dari mahasiswa kost yang mengatakan tidak mengetahui
kandungan nutrisi produk ikan, corned beef, dan sosis yang dikalengkan. Ketika ditanya
apakah gizi produk ikan, corned beef, dan sosis lengkap atau tidak, kebanyakan
menjawab ragu-ragu (tidak tahu gizi produk tersebut lengkap atau tidak). Sedangkan
pengetahuan mahasiswa kost tentang ada tidaknya bahan tambahan makanan (pengawet,
pewarna, pemanis, pengental, dan penyedap rasa) pada produk ikan yang dikalengkan,
sebagian besar responden menjawab bahwa ada bahan-bahan tambahan makanan
tersebut pada produk ikan yang dikalengkan. Sedangkan bahan-bahan tambahan untuk
produk corned beef yang dikalengkan, mahasiswa kost banyak yang menjawab bahanbahan seperti pengawet, pengental, dan penyedap rasa ada dalam produk corned beef
yang dikalengkan tersebut. Untuk produk sosis yang dikalengkan bahan-bahan seperti
pengawet, pewarna, pemanis, dan penyedap rasa ada dalam produk sosis yang
dikalengkan. Sehingga dari ketiga produk tersebut, yaitu produk ikan, corned beef, dan
sosis yang dikalengkan menurut mahasiswa kost terdapat bahan pengawet dan penyedap
rasa. Tingkat pengetahuan gizi dan proses produksi produk ikan, corned beef, dan sosis
yang dikalengkan dari mayoritas mahasiswa kost yang kurang disebabkan karena
sebagai seorang mahasiswa, apalagi mahasiswa kost, mereka cenderung untuk lebih
bebas menentukan apa yang akan dilakukan dan dipilih. Pengetahuan gizi tidak
berpengaruh banyak terhadap kebiasaan makan seseorang karena kunci dari kebiasaan
tersebut adalah termotivasi (Guthrie, 1983).

41
Perpustakaan Unika

Persepsi mahasiswa kost terhadap produk ikan dan daging yang dikalengkan cukup
baik. Pengetahuan mahasiswa kost tentang pengetahuan gizi dan proses produksi
produk ikan dan daging yang dikalengkan tidak mempengaruhi persepsi mahasiswa kost
karena mahasiswa kost lebih mementingkan atribut rasa dan kemudahan untuk
mendapatkan produk ikan dan daging yang dikalengkan tersebut. Tetapi persepsi
mahasiswa kost yang sudah baik terhadap produk ikan dan daging yang dikalengkan
tidak mempengaruhi frekuensi konsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan
karena mahasiswa kost hanya mengkonsumsi produk ikan dan daging yang dikalengkan
hanya bila ada selera.

Preferensi mahasiswa kost terhadap produk ikan dan daging yang dikalengkan dengan
berbagai faktor resiko yang ada pada produk tersebut tidak membuat mereka takut untuk
mengkonsumsinya. Mereka tetap menyukai dan mengkonsumsi produk ikan dan daging
yang dikalengkan dengan batas konsumsi maksimal yang aman menurut mereka adalah
tiga kaleng. Preferensi mahasiswa kost yang tergantung pada atribut rasa dan
kemudahan mendapatkan produk ikan dan daging yang dikalengkan sangat perlu
diperhatikan bagi produsen supaya produknya laku di segmen pasar dewasa muda
khususnya mahasiswa kost. Juga untuk perusahaan iklan agar meningkatkan mutu
iklannya karena mahasiswa kost mendapatkan informasi tentang produk ikan dan
daging yang dikalengkan dari iklan. Dan untuk penjual agar memperlengkap produkproduk ikan dan daging yang dikalengkan di tokonya.

Perpustakaan Unika

5. KESIMPULAN
> Persepsi mahasiswa kost terhadap produk ikan dan daging yang dikalengkan cukup
baik, yaitu bahwa produk ikan dan daging yang dikalengkan aman dikonsumsi bila
sesuai kebutuhan dengan batas maksimal frekuensi konsumsi per minggu tiga
kaleng.
> Persepsi mahasiswa kost yang cukup baik terhadap produk ikan dan daging yang
dikalengkan tidak mempengaruhi frekuensi konsumsi produk tersebut karena
mereka mengkonsumsi produk tersebut hanya bila ada selera.
> Preferensi mahasiswa kost terhadap produk ikan dan daging yang dikalengkan
tergantung pada atribut rasa dan kemudahan mendapatkan produk tersebut.
> Produk ikan dan daging yang dikalengkan yang paling disukai mahasiswa kost
adalah ikan sarden dengan saos standar dengan merk ABC; corned beef dengan
merk ABC; dan sosis sapi dengan merk Pronas.
> Responden mengetahui produk ikan dan daging yang dikalengkan dari iklan dengan
tempat pembelian di supermarket.
> Pengetahuan gizi tidak berpengaruh banyak terhadap kebiasaan makan seseorang.

42

41
Perpustakaan Unika

6. DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E dan E. Liviawati. (1989). Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kanisius.
Yogyakarta.
Agustini, T.W dan F. Swastawati. (2003). Pemanfaatan Hasil Perikanan sebagai Produk
Bernilai Tambah (value-added) dalam Upaya Penganekaragaman Pangan. Jurnal
Teknologi dan Industri Pangan vol XIV no.1. IPB. Bogor.
Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.
Astawan, M. W dan M. Astawan. (1988). Teknologi Pengolahan Pangan Hewani Tepat
Guna Edisi Pertama. CV. Akademika Pressindo. Jakarta.
Dariyo, A. (2003). Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Grasindo. Jakarta.
den Hartog, C; Hautvast, J.G.A.J & den Hartog, A.P. (1980). Nieuw Voedingsleer
Utrecht: Het Spectrum, ed 2.
Durianto, D; Sugiarto dan T. Sitinjak. (2001). Strategi Menaklukan Pasar melalui Riset
Ekuitas dan Perilaku Merek. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Engel, J.F; R.D. Blackwell dan P.W. Miniard. (1994). Perilaku Konsumen. Bina Aksara
Rupa. Jakarta.
Guthrie, H. A. (1983). Introductory Nutrition. The C. V. Mosby Company. London.
Herawati, E.S. (2002). Pengolahan Ikan secara Tradisional: Prospek dan Peluang
Pengembangan. Jurnal Litbang Pertanian. Jakarta.
Hermianto, J dan R. Y. Andayani. (2002). Studi Perilaku Konsumen dan Identifikasi
Parameter Bakso Sapi Berdasarkan Preferensi Konsumsi di Wilayah DKI Jakarta. Jurnal
Teknologi dan Industri Pangan vol XIII no.1. Bogor.
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.
Irawan, F; Wijaya dan Sudjoni. (1996). Pemasaran Prinsip dan Kasus Edisi Dua. BPFE.
Yogyakarta.
Kotler dan Armstrong. (2001). Dasar-dasar Pemasaran Jilid Satu. Prentise Hall. New
Jersey.
Mendelson, R; H. Anderson; H. Brown; J. Chappen & V. Tarasuk. (2000). Barriers to
Changing Food Selection. Canada.
Moeljanto. (1992). Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penebar Swadaya.
Jakarta.

42
Perpustakaan Unika

Mowen, J. C and Minor, M. (1998). Consumer Behaviour. 5th Edition. Prentise Hall.
New Jersey.
Peter, J.P & J.C. Olson. ( 2000 ). Consumer Behaviour: Perilaku Konsumen dan Strategi
Pemasaran Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Potter, N.N and J.H. Hotchkiss. ( 1996 ). Food Science 5th ed. Chapman & Hall, Inc.
New York.
Santoso, H. B. (1998). Teknologi Tepat Guna Ikan Pindang. Kanisius. Yogyakarta.
Santoso, S dan F. Tjiptono. (2001). Riset Pemasaran : Konsep dan Aplikasi dengan
SPSS. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
Scheaffer, R. L; W. Mendenhall III and L. Ott. (1996). Elementary Survey Sampling. 5th
Ed. Duxbury Press. Washington.
Setiaji, B; Tranggono; Suparno; S.U. Sardjono dan Gandjar, I.G. (1990). Kajian
Kimiawi Pangan II. PT. Tiara Wacana. Yogyakarta.
Suhardjo. (1989). Pangan, Gizi dan Pertanian. UI Press. Jakarta.
Sumarwan, U. (2003). Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran.
Gahlia Indonesia. Jakarta.
Supranto, J. (2001). Statistik Teori dan Aplikasi Edisi Ke-6. Erlangga. Jakarta.
Swasono, M.F. (1995). Makanan Kelompok Lanjut Usia dalam Konteks Budaya:
Prosiding Widyakarya Nasional. Khasiat Makanan Tradisonal. Kantor Urusan Pangan
dan Urusan Logistik Republik Indonesia. Jakarta.
Triwijayanti, Anna. (1997). Pengaruh Keluarga dalam Perilaku Konsumen. Jurnal
Ilmiah Widya Mandala No. 006 dan 007 Juni-September.
Winarno, F.G. (1993). Pangan: Gizi, Teknologi, dan Konsumsi. PT. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.