Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

TEKNIK PENGUMPULAN DATA DENGAN OBSERVASI


Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian
Kualitatif
Dosen Pengampu : Sofwan Indarjo, S.KM, M.Kes
Disusun oleh :
Rombel 1
Noviyani Dwi Raharjanti

6411414005

Fairuza Umami

6411414015

Arum Mustikasari

6411414016

Yessy Annike Putri

6411414024

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, berkah dan karuniaNya, sehingga makalah yang berjudul Teknik Pengumpulan Data dengan
Observasi

dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun untuk

memenuhi mata kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif di Jurusan Ilmu


Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri
Semarang.
Makalah ini membahas tentang Teknik pengumpulan data dengan
observasi. Dalam proses pembuatan makalah ini tentu penulis mendapatkan
bantuan dan arahan untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif Sofwan Indarjo, S.KM,
M.Kes dan kepada segenap pihak yang telah membantu penulisan makalah ini.
Semoga amal baik dari pihak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari
Allah SWT. Disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan
karya selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat.

Semarang,

Penyusun

Oktober 2015

DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL.....................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3 Tujuan.............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
2.1 Pengamatan (Observasi).................................................................................3
2.2 Pengamatan dan Ingatan.................................................................................3
2.3 Sasaran Pengamatan.......................................................................................4
2.4 Beberapa Jenis Pengamatan...........................................................................5
2.5 Kelebihan dan Kekurangan Teknik Pengamatan............................................9
2.6 Beberapa Alat Observasi................................................................................9
2.7 Manfaat observasi.........................................................................................12
2.8 Objek observasi............................................................................................12
2.9 Tahapan Observasi........................................................................................13
2.10 Pendekatan Prosedur Observasi.................................................................13

BAB III PENUTUP..............................................................................................14


3.1 Simpulan.......................................................................................................14
3.2 Saran.............................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelian kualitatif merupakan sebuah penelitian yang digunakan untuk
mengungkapkan permasalahan dalam kehidupan kerja organisasi pemerintah,
swasta, kemasyarakatan, kepemudaan, perempuan, olah raga, seni dan budaya,
dan lain-lain sehingga dapat dijadikan suatu kebijakan untuk dilaksanakan demi
kesejahteraan bersama. Menurut Sugiyono, (2008: 205) Masalah dalam
penelitian kualitatif bersifat sementara, tentative dan akan berkembang atau
berganti setelah peneliti berada dilapangan.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang
berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan
masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran
kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan
melakukan studi pada situasi yang alami (Cresswell, 1998: 15). Bogdan dan
Taylor

(Moleong,2007:

3)

mengemukakan

bahwa

metodologi

kualitatif

merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Dalam penelitian kualitatif akan terjadi tiga kemungkinan terhadap masalah
yang akan diteliti yaitu (1) masalah yang dibawa oleh peneliti tetap, sejak awal
sampai akhir penelitian sama, sehingga judul proposal dengan judul laporan
penelitian sama, (2) masalah yang dibawa peneliti setelah memasuki penelitian
berkembang yaitu diperluas/diperdalam masalah yang telah disiapkan dan tidak
terlalu banyak perubahan sehingga judul penelitian cukup disempurnakan, (3)
masalah yang dibawa peneliti setelah memasuki lapangan berubah total sehingga
harus diganti masalah sebab judul proposal dengan judul penelitian tidak sama
dan judulnya harus diganti.
Peneliti kualitatif yang merubah masalah atau ganti judul penelitiannya setelah
memasuki lapangan penelitian atau setelah selesai merupakan peneliti kualitatif
yang lebih baik, karena dipandang mampu melepaskan apa yang dipikirkan
sebelumnya, dan selanjutnya mampu melihat fenomena secara lebih luas dan
mendalam sesuai dengan apa yang terjadi dan berkembang pada situasi sosial

yang diteliti. Asumsi tentang gejala dalam penelitian kulitatif adalah bahwa gejala
dari suatu obyek itu sifatnya tunggal dan parsial. Berdasarkan gejala tersebut
peneliti dapat menentukan variable-variabel yang akan diteliti. Gejala itu bersifat
holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan) yaitu situasi sosial yang
meliputi (1) aspek tempat place, (2) aspek pelaku actor, (3) aspek aktifitas
activity, yang ketiganya berinteraksi secara sinergis.
Kegiatan yang harus dilakukan pada penelitian kualitatif pada tahap pralapangan adalah menyusun rancangan penelitian yang memuat latar belakang
masalah dan alasan pelaksanaan penelitian, studi pustaka, penentuan lapangan
penelitian, penentuan jadwal penelitian, pemilihan alat penelitian, rancangan
pengumpulan data, rancangan prosedur analisa data, rancangan perlengkapan
yang diperlukan dilapangan, rancangan pengecekan kebenaran data.
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian. Hal ini karena tujuan utama dari penelitian itu sendiri adalah untuk
memperoleh data. Dengan demikian, maka tanpa mengetahui tehnik pengumpulan
data, maka peneliti tidak akan memperoleh data yang memenuhi standar yang
ditetapkan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut latar belakang dari makalah ni adalah
Apakah yang dimaksud dengan metode pengumpulan data dengan observasi?
1.3 Tujuan Penulisan
Bedasarkan rumusan masalah tersebut tujuan dari penulisan makalah ini adalah
untuk mengetahui tentang metode pengumpulan data dengan observasi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengamatan (Observasi)
Pengamatan adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh
perhatian untuk menyadari adanya rangsangan. Mula-mula rangsangan dari luar
mengenai indera, dan terjadilah pengindraan, kemudian apabila rangsangan
tersebut menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya pengamatan. Contoh :
sebuah

mobil di didepan kita akan menyebabkan pengindraan kepada kita.

Apabila mobil itu menarik perhatian kita, maka akan terjadi proses pengamatan.
Pada pengindraaan tidak disertai keaktifan jiwa, sdangkan pada pengamatan
disertai keaktifan jiwa.
Dalam penelitian pengamatan adalah suatu prosedur yang berencana, yang
antara lain meliputi melihat, mendengar dan mencatat sejumlah dan taraf aktifitas
tertentu atau situasi tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.
Jadi dalam melakukan observasi bukan hanya mengunjungi, melihat, atau
menonton saja, tetapi disertai keaktifan jiwa atau perhatian khusus dan
melakukan pencatatan- pencatatan. Ahli lain mengatakan bahwa observasi adalah
studi yang disengaja dan sistematik tentang fenomena sosial dan gejala-gejala
psychis dengan jalan mengamati dan mencatat.
Observasi sebagi teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik
bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuisioner. Kalau
wawancara dan kuisioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi
tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain.
Sutrisno Hadi ( 1986) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu
proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara
yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian
berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila
responden yang diamati tidak terlalu besar.
2.2 Pengamatan dan Ingatan
Ingatan adalah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan ,memproduksi
kesan. Dalam pengumpulan data melalui pengamatan ini diperlukan ingatan yang

cepat, setia, teguh, dan luas. Ingatan yang cepat artinya, dalm waktu yang singkat
dapat memahami sesuatu hal tanpa menjumpai kesukaran-kesukaran. Setia,
artinya kesan-kesan yang telah diterimanya akan disampaikan sebaik-baiknya,
tidak akan berubah. Teguh, artinya dapt menyimpaan kesan waktu lama, tidak
mudah lupa. Luas, artinya dapat menimpan kesan yang banyak.
Tetapi pada umumnya kita sulit untuk mempunyai sifat- sifat ingatan seperti
tersebut diatas. Oleh sebab itu, untuk mengatasi kelemahan ini dan untuk
mengurangi timbulnya kesalahan-kesalahan, observasi dapat diabantu dengan
jalan:
1.
2.
3.
4.
5.

Mengklasifikasikan gejala-gejala yang relevan


Observasi diarahkan pada gejala-gejala yang relevan
Menggunakan frekuensi pengamatan yang lebih sering
Melakukan pencatatan dengan segera
Didukung pula oleh alat-alat mekanik/elektronik seperti alat alat pemotret,
film, tape recorder dan lain-lain.
Pertimbangan lain diperlukannnya alat-alat ini mengingat bahwa didalam

penelitian ilmiah, baik yang ada di laboratorium maupun di lapangan, indera


pengamtan yang pentig adalah mata dan telinga. Indera-indera tersebut
kemampuannya terbatas, berbeda-beda secara individual dan tidak lepas dari
kelemahan-kelemahan. Ditambah pula dengan kompleksnya fenomena sosial yang
berdimensi majemuk, yang , menyulitkan proses pengamatan. Hal ini semua
apabila para pengamat tidak dibantu dengan alat-alat tersebut diatas maka akan
memperbesar kesalahan yang akan dilakukan.
2.3 Sasaran Pengamatan
Apabila seorang peneliti terjun ke tengah-tengah masyarakat akan dijumpai
banyak sekali kenyataan atau gejala-gejala sosial yang dijadikan sasaran
pengamatan. Tetapi tidak semua yang dilihat dan diamati itu diperlukan dalam
penelitian. Oleh kerena itu, dalam menghadapi sasaran pengamatan, peneliti akan
menjumpai kesukaran dalam menentukan apa ang harus diamati dan diperhatikan
dengan seksama, dan apa yang diabaikan.
Pembatasan tentang sasaran pengamatan ini, sebaiknya dipertimbangakan
terlebih dahulu sebelum peneliti memulai mengadakan pengamatan. Untuk
membanyu pembatasan sasaran penelitian ini, peneliti dapat mempelajari teoriteori apapun ataupun pengetahuan- pengetahuan tentang substansi penelitian yang
4

bersangkutan. Dari sisni akan diperoleh gambaran mengenai kenyataan-kenyataan


yang perlu diperhatian dalam mempelajari masalah sosial tertentu termasuk
kesehatan. Misalnya kita akan mengamati ststus sosisal ekonomi seseorang,
disamping kit dapat mengamati kekayaannya, kita juga dapat mengamati gejalagejala lain yang menunjukan tinggi rendahnya status sosial orang tersebut, yang
semua ini dapat dipelajari dalam literatur atau pengalaman-pengalaman.
Disamping itu untuk menentukan batasan sasaran pengamatan diperlukan
kerangka teori atau kerangka konsep yang merupakan teori atau konsep-konsep
dan hipotesis, yang telah disusun dalam suatu rancangan penelitian. Kemudian
konsep ataupun hipotesis tersebut dijabarkan pada instrumen yang lebih konkret
(misalnya formulir pengamatan).
2.4. Beberapa Jenis Pengamatan
Dari segi pelaksaan pengumpulan data , observasi dibedakan menjadi
paricipant observation (observasi berperan serta) dan non paricipant observation.
1. Observasi berperanserta (paricipant observation)
Pada jenis pengamatan ini, pengamat (observer) benar-benar mengambil
bagian dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sasaran pengamatan
(obsever). Dengan kata lain pengamat ikut aktif berpatisipasi pada aktifitas dalam
kontak sosial yang yang diselidiki jenis teknik ini, biasanya digunakan didalam
penelitian yang bersifat eksploratif atau dalam penelitian kualitatif. Mula-mula
jenis pengamatan ini dipakai dalam penelitian dibidang atropologi, tetapi akhirnya
diterapkan pula terhadap kesatuan-kesatuan sosial lainnya. Di bidang kesehatan
dapat digunakan biasanya untuk penelitian-penelitian yang terkait dengan perilaku
kesehatan, pola makan, gaya hidup, perilaku penggunaan jamban keluarga, dan
sebagainya.
Suatu hal yang perlu diperhatikan didalam obsevasi partisipatif ini adalah
jangan sampai mereka (observer) tahu bahwa pengamatan yang berada ditengahtengah mereka sedang memperhatikan gerak-gerik mereka. Oleh karena itu, pada
pencatatan-pencatatan yang dibuat oleh pengamat jangan sampai terlihat oleh
sasaran pengamatan. Apabila observer tahu bahwa mereka sedang diperhatikan
(diamati), maka akan terjadi kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut :
1. Tingkah laku mereka akan dibuat-buat
2. Kepercayaan mereka terhadap pengamat akan hilang, yang akhirnya menutup
diri dan selalu berprasangka.
5

3. Dapat menggangu situasi dan relasi pribadi


4. Akibat dari ini semua kemungkinan akan diperoleh data informasi yang biasa
Agar obsever partisipatif ini berhasil, perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Dirumuskan gejala apa yang harus diobserver
2. Diperhatikan cara pencatatan yang baik, sehingga tidak menimbulkan
3.
4.
5.
6.

kecurigaan.
Memelihara hubungan baik dengan observer.
Mengetahui batas intensitas partisipasi
Menjaga agar situasi dan iklim psikologis tetap wajar
Sebaiknya pendekatan pengamatan dilakukan melalui

tokoh-tokoh

masyarakat setempat(key person)


Dalam hal intensitasnya, observasi partisipatif dapat digolongkan menjadi dua
yaitu:
1. Observasi partisipatif partill(sebagian), yang hanya mengambil bagian pada
kegiatan-kegiatan tertentu saja, dimana tingkah laku-tingkah laku yang akan
diamati timbul
2. Obsevasi partisipatif penuh, dengan ikut serta pada semua kegiatan sosial
yang ada.
Sudah barang tentu, kedua jenis partipatif ini dalam rangka pengamatan
pengumpulan data mempunyai kelemahan-kelemahan dan kelebihankelebihan masing-masing.
2. Observasi Nonpartisipan
Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dalam aktivitas
orang-orang yang sedang diamati, maka dalam observasi nonpartisipan peneliti
tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Misalnya dalam suatu
Tempat Pemungutan Suara (TPS), peneliti dapat mengamati bagaimana perilaku
masyarakat dalam hal menggunakan hak pilihnya, dalam interaksi dengan panita
dan pemilih lainnya. Peneliti mencatat dan menganalisis dan selanjutnya dapat
membuat kesimpulan tentang perilaku masyarakat dalam pemilihan umum.
Pengumpulan data dengan observasi nonpartisipan ini tidak akan mendapatkan
data yang mendalam, dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilainilai dibalik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis.
Dalam suatu proses produksi peneliti dapat mengamati bagaimana mesinmesin bekerja dalam mengolah bahan baku, komponen mesin mana yang masih

bagus dan yang kurang bagus, bagaimana kualitas barang yang dihasilkan, dan
bagaimana performance tenaga kerja atau operator mesinnya.
Sedangkan dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat
dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
a. Observasi Terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah direncanakan secara
sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya. Jadi
observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti tentang
variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti
menggunakan instrumen penelitian yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
Pedoman wawancaa terstruktur atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai
pedoman untuk melakukan observasi. Misalnya peneliti akan melakukan
pengukuran terhadap kinerja pegawai yang bertugas dalam pelayanan IMB (Ijin
Mendirikan Bangunan), maka peneliti dapat menilai setiap perilaku dan ucapan
dengan menggunakan instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja
karyawan tersebut.
b. Observasi Tidak Terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara
sistematis tentang apa yang akan dilaksanakan. Hal ini dilakukan karena peneliti
tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan
pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya
berupa rambu-rambu pengamatan.
Dalam suatu pameran produk industri dari berbagai negara, peneliti belum
tahu pasti apa yang akan diamati. Oleh karena itu peneliti akan melakukan
pengamatan bebas, mencatat apa yang menarik, mealkukan analisis dan kemudian
dibuat kesimpulan.
Selain itu juga ada jenis observasi yang lain yaitu observasi eksperimental.
Observasi Eksperimental
Dalam observasi ini observee dicoba atau dimasukkan ke dalam suatu
kondisi atau situasi tertentu. Kondisi dan situasi itu diciptakan sedemikian rupa
sehingga gejala atau perilaku yang akan dicari atau diamati akan timbul.
Pengamatan dilakukan dengan amat teliti, karena pada umumnya gejala-gejala
sosial itu sulit untuk ditimbulkan lagi meskipun dalam situasi dan kondisi yang
sama.
7

Dalam jenis observasi ini semua kondisi dan faktor-faktornya dapat diatur
dan dikendalikan, maka observasi eksperimental ini juga disebut pengamatan
terkendali. Keuntungan dari pengamatan terkendali ini antara lain: orang tidak
perlu menunggu terlalu lama timbulnya suatu gejala atau tingkah laku yang
diperlukan. Sebab gejala atau tingkah laku yang sulit timbul dalam keadaan
normal, dengan stimulus atau kondisi tersebut gejala-gejala dapat muncul.
Misalnya: yang sengaja diciptakanitu, gejalanya gejala frustasi, ketekunan, agresi,
reaksi, dan sebagainya.
Namun demikian, pengamatan jenis ini mempunyai kelemahan-kelemahan
karena hasilnya sering bias. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang
menjadi sasaran pengamatan seolah-olah dipaksa untuk meninggalkan lingkungan
mereka yang asli, dan memasuki suatu tempat atau ruangan yang asing bagi
mereka sehingga apa yang dilakukan mereka ditempat atau situasi yang asing ini
berbeda dengan tingkah laku mereka di tempat asal mereka. Jadi, kemungkinan
tingkah laku mereka selama di dalam percobaan dibuat-buat.
Sedikit untuk mengurangi kelemahan ini kadang-kadang digunakan one
way screen, yaitu suatu alat yang memungkinkan pengamat melihat segala
sesuatu yang terjadi atau yang diperbuat oleh observee di belakang layar,
sedangkan orang yang diamati tidak melihat pengamat (observer). Hal ini akan
lebih menjamin observee dapat berbuat bebas dan wajar. Sering juga observasi
eksperimental ini disebut observasi terkontrol, kerena dengan sengaja proses atau
gejala-gejalanya diusahakan agar dapat dekendalikan dan dikontrol. Pengamatan
semacam ini banyak dilakukan dalam laboratorium ilmiah. Klinik khusus, ruangruang penelitian dan sebagainya yang mengadakan penyelidikan terhadap gejala
kealaman dan fenomena sosial yang sedehana, termasuk perilaku.
Tetapi pada kenyataan gejala sosial itu sangat kompleks, di mana satu gejala
sosial itu berada di tengah matrix sosial yang luas dan riil, yang kondisi dan
situasinya sulit untuk dikontrol. Maka timbullah observasi tidak terkontrol, karena
kondisi dan situasinya tidak dikendalikan oleh pengamat untuk kemudian
dilakukan pengontrolan. Untuk mempelajari fenomena sosial ini dapat
menggunakan teknik observasi partisipatif.
2.5 Kelebihan dan Kekurangan Teknik Pengamatan

Kelebihan:

Merupakan cara pengumpulan data yang murah, mudah, dan langsung dapat

mengamati terhadap macam-macam gejala.


Tidak mengganggu, sekurang-kurangnya tidak terlalu mengganggu pada

sasaran pengamatan (observee).


Banyak gejala-gejala psychis penting yang tidak atau sukar diperoleh dengan

teknik angket ataupun interview, tetapi dengan metode ini mudah diperoleh
Dimungkinkan mengadakan pencatatan secara serempak kepada sasaran
pengamatan yang lebih banyak.
Kekurangan:

Banyak peristiwa psychis tertentu yang tidak dapat diamati, misalnya


harapan, keinginan, dan masalah-masalah yang sifatnya sangat pribadi, dan

lain-lain.
Sering memerlukan waktu yang lama sehingga membosankan, karena tingkah

laku atau gejala yang dikehendaki tidak muncul-muncul.


Apabila sasaran pengamatan mengetahui bahwa mereka sedang diamati,
mereka akan dengan sengaja menimbulkan kesan-kesan yang menyenangkan,

atau berperilaku yang dibuat-buat.


Sering subjektivitas dari observer tidak dapat dihindari.

2.6 Beberapa Alat Observasi


Seperti yang telah disinggung didepan bahwa pelaksanaan observasi agar
dengan cermat memperoleh data, diperlukan beberapa alat bantu pendukung
pengamatan ini. Alat alat tersebut antara lain.
1. Check List
Adalah suatu daftar untuk mencek, yang berisi nama subjek dan beberapa
gejala serta identitas lainnya dari sasaran pengamatan. Pengamat tinggal
memberikan checklist pada daftar tersebut yang menunjukkan adanya gejala atau
ciri dari sasaran pengamatan. Checklist dapat bersifat individual dan juga dapat
bersifat kelompok. Kelemahan checklist ini adalah hanya dapat menyajikan data
yang kasar saja, hanya mencatat ada atau tidaknya suatu gejala. Contoh checklist
dapat dilihat dibawah ini:

Chekcklist Kelompok
Nama

Faktor / Gejala
Disiplin Kecerdasan Ketekunan Keterampilan
Ali
V
V
v
badu
V
V
v
V
cholik
V
V
dadana V
V
v
Kelemahan checklist adalah hanya dapat menyajikan data yang kasar sebab hanya
mencatat ada tidaknya gejala , kurang memberikan jawaban yang bersifat
kualitatif.
2. Skala Penilaian(Rating Scale)
Skala ini berupa daftar yang berisikan ciri-ciri tingkah laku yang dicatat secara
bertingkat. Rating Scale ini dapat merupakan satu alat pengumpulan data untuk
mengelompokkan, menggolongkan,dan menilai seseorang atau suatu gejala. Skala
penilaian ini ada bermacam macam bentuk antara lain:
a) Bentuk Kuantitas yang menggunakan skors atau ranking . contoh: Penilaian
terhadap gejala tertentu sebagai berikut
Gejala
1
Kerjasama
Kerajinan
Pertisipasi
ketekunan

Skors
3
4
X

Pengamat
penilai

X
x
X

memberikan
sesuai

atau
tinggal
skors
dengan

pendapatnya , sesuai dengan gejala yang diamati sendiri, dan menurut


judgement sendiri.
b) Bentuk Deskripsi
Contoh : Penilaian terhadap kerja sama
Kerjasama :
1----------2----------3---------4----------5
5= Dapat/mau bekerjasama dengan orang lain.
4= Kadang-kadang mau bekerjasama.
3= Mau bekerjasama tetapi dengan orang-orang tertentu saja.
2= Tidak mau bekerjasama secara baik dengan orang lain pada bidang tertentu
1= Tidak mau bekerjasama dengan oranlain sama sekali.
Pengamat memberikan tanda check pada nilai (angka) sesuai dengan pendapatnya
sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
c) Bentuk grafis
Contoh : Bekerja Mandiri (independentcy)

10

( )
Selalu
Minta
Petunjuk

( )
Biasanya
Minta
Petunjuk

( )
Dlm hal
Tertentu
Perlu
Petunjuk

( )
Sewaktu
Waktu
Minta
Petunjuk

( )
Bekerja
Baik bila
Dibiarkan
Sendiri

Pengamat memberikan tanda checklist pada skala gejala yang telah tersusun.
Kelemahan dari skala penilain ini antara lain sangat subjektif dan sangat kaku.
Sehingga kurang memberikan kesempatan luas kepada observer.
3. Daftar Riwayat Kelakuan (Anecdotal Record)
Adalah catatan catatan mengenai tingkah laku seseorang(observer) yang luar biasa
atau sifatnya khas . Catatan semacam ini kecuali dibuat oleh pengamat seringpula
dibuat oleh guru pemimpin organisasi,pendeta,direktur perusahaan. Pada
prisnsipnya harus dibuat secepat mungkin dalam kala peristiwa itu terjadi atau
sesudah terjadi. Dengan catatan ucapan atau tingkah laku tertentu dari anggota
masyarakat.
4. Alat Alat Mekanik
Aat alat ini antara lain : alat perekam, alat fotografi, film, tape recorder, kamera
telefisi dan sebagainya. Alat tersebut setiap saat dapar diputar kembali untuk
memungkinkan mengadakan analisis secara teliti.
2.7 Manfaat observasi
Menurut Patton sebagaimana dikutip Nasution, manfaat observasi adalah
sebagai berikut
1. Dengan observasi dilapangan peneliti akan lebih mampu memahami
konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh
padangan yang holistik atau menyeluruh.
2. Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung, sehingga
memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak
dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif
membuka kemungkinan melakukan penemuan.
3. Dengan observasi peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak
diamati orang lain. Khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu,
karena telah dianggap biasa dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam
wawancara.

11

4. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak


akan terungkapkan oleh responder dalam wawancara karena bersifat
sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga.
5. Dengan obsesrvasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang diluar persepsi
responder, sehingga penelliti memperoleh gambaran yang kompeerhensif.
6. Melalui pengamatan dilapangan, peneliti tidak hanya mengumpulkan data
yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan merasakan
suasana atau situasi sosial yang diteliti.

2.8 Objek observasi


Obyek penelitian kualitatif yang di observasi menurut spradley dinamakan
situasi sosial, terdiri atas tiga komponen yaitu tempat, pelaku dan aktifitas. Tempat
dimana interaksi dalam situasi sosial sedang berlangsung. Pelaku atau orangorang yangs sedang memainkan peran tertentu. Kegiatan yang dilakukan oleh
aktor dalam situasi sosial yang sedang berlangsung.
2.9 Tahapan observasi
Menurut spadley tahapan observasi ada tiga yaitu observasi descripstif,
observasi terfokus, observasi terseleksi. Perhatikan gambar berikut :
Tahapan Deskriptif

Tahapan Raduksi

Tahapan Seleksi

Memasuki situasi sosial:


da, tempat, aktor,
aktivitas

Menentukan fokus:
memilih diantara yang
telah dideskripsikan

Mengurai fokus : menjadi


komponen yang lebih
rinci

2.10

Pendekatan Prosedur Observasi


Ada sejumlah kriteria yang dapat digunakan dalam memilih teknik observasi

yang akan digunakan untuk sesuatu siklus tindakan perbaikan dalam rangka
penelitian tindakan kelas. Adapun kriteria yang dimaksud adalah :
1. Jenis data yang diperlukan dalam rangka penerapan suatu siklus tindakan
perbaikan.
2. Indikator-indikator yang relevan yang termanifestasikan dalam bentuk
tingkah laku guru dan siswa.
3. Prosedur perekaman yang paling sesuai

12

4. Pemanfaatan data dalam analisis dan refleksi.

13

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian, maka tanpa mengetahui tehnik pengumpulan data, maka peneliti tidak
akan memperoleh data yang memenuhi standar yang ditetapkan.
Salah satu metode pengumpulan data adalah dengan observasi, observasi
adalah studi yang disengaja dan sistematik tentang fenomena sosial dan gejalagejala psychis dengan jalan mengamati dan mencatat. Observasi berdasarkan
pelaksanaan pengumpulan data dibedakan menjadi paricipant observation dan
non paricipant observation, dimana dalam melakukan observasi digunakan alat
bantu pendudkung seperti check list, skala penilaian, daftar riwayat kelakuan dan
alat-alat mekanik.
Tahapan observasi ada tiga yaitu observasi descripstif, observasi terfokus,
observasi terseleksi, dengan melakukan observasi kita bisa mendapatkan berbagai
manfaat antara lain : memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial,
pengalaman

langsung,

menemukan

hal-hal

yang

sedianya

tidak

akan

terungkapkan oleh responder dalam wawancara, dan menemukan hal-hal yang


diluar persepsi responden.
3.2 Saran
Sebelum melaksanakan penelitian, sebaiknya mempersiapkan teknik untuk
pengumpulan data. Teknik Observasi sangat disarankan dalam penelitian kualitatif
karena dapat mengupas permasalahan secara mendalam, selain itu teknik ini lebih
murah, mudah, dan langsung dapat mengamati terhadap macam-macam gejala
yang ada.

14

DAFTAR PUSTAKA
Notoatmodjo, Soekidjo, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, PT Rineka
Cipta : Jakarta
Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D), Alfabeta : Bandung
Raharjo, Sahid, 2013, Pengumpulan Data Penelitian dengan Observasi,
http://www.konsistensi.com/2013/04/pengumpulan-data-penelitiandengan_13.html

15

Anda mungkin juga menyukai