Anda di halaman 1dari 14

Tinjauan Pustaka

Sick Building Syndrome


Sherly Meygaretha
102010186
9 Oktober 2013

Pendahuluan
Kehidupan modern di kota-kota besar menuntut tersedianya prasarana yang memadai. Salah
satu di antaranya adalah gedung-gedung kantor yang megah yang dilengkapi dengan sistem
AC sentral. Gedung-gedung seperti ini biasanya tertutup dan memiliki tempat yang amat
nyaman untuk bekerja, selain itu dapat juga meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Di
lain pihak, adanya kemungkinan gangguan kesehatan pada gedung-gedung seperti itu yang
akan menurunkan produktivitas kerja karyawan yang berada di dalam gedung-gedung
tersebut.
Sick Building Syndrome (SBS) atau sindrom gedung sakit adalah kumpulan gejala
akibat adanya gedung yang sakit, artinya terdapat gangguan pada sirkulasi udara gedung
itu. Adanya gangguan itulah yang menyebabkan gedung tersebut dikatakan sakit, sehingga
muncul istilah sindrom ini yang memang terjadi karena penderitanya menggunakan gedung
yang sakit. Gejala-gejala yang muncul memang berhubungan dengan tidak sehatnya udara
di dalam gedung. Keluhan yang ditemui pada sindrom ini antara lain dapat berupa batuk,
sakit kepala, iritasi di mata, hidung dan tenggorokan, kulit kering dan gatal, badan lemah dan
lain-lain. Keluhan-keluhan tersebut biasanya menetap setidaknya dua minggu. Keluhan yang
biasanya tidak hebat tapi tersasa cukup mengganggu dan yang penting amat berpengaruh
pada produktivitas seseorang.1
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Email: sherlymeymey@ymail.com

7 Langkah Diagnosis Okupasi


1. Diagnosis klinis
a. Anamnesis
Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau
terhadap keluarganya atau pengantarnya (allo-anamnesis) jika keadaan pasien tidak
memungkinkan untuk diwawancarai. Komponen yang ditanyakan pada anamnesis
adalah identitas pasien (nama, umur, alamat, pekrejaan, jenis kelamin, agama, suku),
keluhan utama, keluhan tambahan, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit
dahulu, riwayat penyakit keluarga, dan riwayat pekerjaan.
Pada riwayat pekerjaan ditanyakan sudah berapa lama bekerja sekarang, riwayat
pekerjaan sebelumnya, alat kerja, bahan kerja, proses kerja, waktu bekerja sehari,
kemungkinan pajanan yang dialami, dan hubungan gejala dan waktu kerja. Pastikan
kemunculan gejala dalam hubungannya dengan pekerjaan seperti apakah gejala yang
muncul membaik pada saat istirahat atau libur, apakah terdapat pekerja lain yang
mengalami hal yang sama. Pertanyaan kronologis tentang pekerjaan terdahulu
sampai yang sekarang mengenai deskripsi lingkungan kerja, informasi tentang bahan
mentah yang digunakan, proses kerja, produk yang dihasilkan serta tata cara
penanganan limbah industri, lama berkeja di masing-masing tempat kerja, deskripsi
tugas dan jadwal waktu kerja/shift, serta jumlah hari absen dan alasannya.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan dilaksanakan seperti pada penyakit umum lainnya, yaitu pemeriksaan
fisik secara umum dengan menitikberatkan pada pemeriksaan sistem organ yang
diperkirakan terpengaruh oleh pajanan yang diduga menjadi etiologi penyakit.
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium dimaksudkan untuk mencocokan benar tidaknya
penyebab penyakit akibat kerja yang bersangkutan ada dalam tubuh tenaga kerja
yang menderita penyakit tersebut. Guna menegakkan diagnosis penyakit akibat
kerja, biasanya tidak cukup sekedar pembuktian secara kualitatif yaitu tentang
adanya faktor penyebab penyakit, melainkan harus ditunjukkan juga banyaknya atau
pembuktian secara kuantitatif. Pemeriksaan penunjang antara lain laboratorium,
rontgen, sprometer dan yang lainnya.
d. Pemeriksaan tempat kerja
Pemeriksaan tempat kerja misalnya penerangan, kebisingan, dan kelembaban. Jika
memungkinkan akan jauh lebih baik dilakukan survey pada tempat kerja, yang perlu
dinilai adalah tentang bahan baku, proses produksi, dan hasil produksi, aspek kimia,
2

mekanik, ergonomi, biologi, psikososial, data tenaga kerja menunjukkan jumlah


populasi yang terpajan), pelayanan kesehatan yang tersedia, serta fasilitas
pendukung lainnya.
2. Pajanan yang dialami
Penyakit akibat kerja dapat disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan dan manusia.
Faktor-faktor bahaya yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja antara lain:
a. Faktor fisik meliputi penerangan, suara, radiasi, suhu, kelembaban dan tekanan
udara, serta ventilasi.
b. Faktor biologi meliputi mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, parasit), tumbuhan
(debu organik).
c. Faktor kimia meliputi gas, uap, debu, kabut, asap, awan, cairan, abu terbang dan
benda padat.
d. Faktor ergonomi atau fisiologis meliputi sikap dan cara kerja.
e. Faktor mental-psikologis meliputi suasana kerja, hubungan di antara pekerja dan
atasannya.3
3. Hubungan pajanan dengan penyakit
Pada pasien ditanyakan apakah ada hubungan pajanan dengan keluhan yang dialaminya
sekarang. Misalnya stres di tempat kerja (jemu, konflik dengan atasan/bawahan/teman
kerja dan lain-lain).
4. Pajanan yang dialami cukup besar
Caranya dengan mengobservasi tempat dan lingkungan kerja, serta tanyakan jumlah
pajanan yang dialaminya. Secara kualitatif dapat pula diketahui dari cara/proses kerja,
dan lamanya bekerja dalam sehari.
5. Faktor individu
Status kesehatan fisik dari masing-masing individu mempengaruhi berat-ringannya
penyakit ini. Kerentanan dan status kesehatan individu yang lemah misalnya pada orang
yang menderita penyakit parah atau penggunaan obat-obat yang menurunkan daya tahan
tubuh, merupakan faktor lain yang memudahkan penyebaran infeksi. Demikian juga
dengan kebersihan perorangan sangat penting dalam munculnya penyakit ini. Kebersihan
perorangan yang baik, meminimalisasikan adanya pajanan yang dapat masuk ke dalam
tubuh seseorang. Semakin meningkatnya usia maka lebih rentan terhadap suatu penyakit.
6. Faktor lain di luar pekerjaan
Selain daripada kualitas dan kuantitas paparan dalam pekerjaan, juga dapat ditimbulkan
dari faktor lain di luar pekerjaan seperti kebiasaan, pekerjaan di rumah atau pekerjaan
sambilan. Kebiasaan yang buruk seperti merokok, juga membuat lebih rentan pada
infeksi oleh karena zat yang terkandung di dalamnya dapat merusak sistem pertahanan
alami dalam tubuh kita, sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu
rokok juga dapat memperberat kondisi pasien terhadap penyakit, bahkan dengan

merokok seseorang lebih mungkin mengalami bentuk lanjut daripada penyakit itu sendiri
dan bahkan mempercepat munculnya komplikasi yang berat.2
7. Diagnosis okupasi
Diagnosis Klinis Penyakit Legionnaire (Legionnaires disease)
Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh Legionella pneumophila dimana bakteri ini merupakan
bakteri aerob, organisme uniselular, bakteri Gram negatif berbentuk batang yang memiliki
ukuran panjang 2-20m dan lebar 0,5-0,7m.4
Epidemiologi Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri akut yang menyerang saluran
nafas bawah dan merupakan 5-15% dari semua penderita pneumonia yang ada di masyarakat.
Legionella pneumophila adalah salah satu dari Legionella dan 90% menyebabkan kasus
legionnaire.4,5
Ekologi dan Tranmisi Pertumbuhan kuman ditemukan secara luas pada sumber-sumber air
alami, seperti saluran air perumahan, danau, sungai-sungai kecil, atau genangan air lainnya
dengan suhu lingkungan yang relatif panas (sampai 60). Namun pertumbuhan yang optimal
terjadi pada penampungan air dengan suhu berkisar 34-43. Genangan atau stagnasi air yang
cukup lama, tersedianya O2 dan CO2, tempat penampungan yang berlumut atau berkarat akan
mempercepat berkembangbiaknya kuman tersebut. Oleh sebab itu, gedung-gedung tinggi
yang menggunakan AC sentral atau sistem pendistribusian air panas dengan menara
penyimpanan di air di puncak gedung, pipa-pipa pendistribusian dan kran-kran air yang
kurang terpelihara merupakan media yang baik untuk berkembangbiaknya kuman ini.
Penyebaran dapat terjadi jika manusia menginhalasi aerosol air/uap air yang tercemar
kuman ini, sedangkan air minum dan air mandi tidak dapat menimbulkan infeksi. Penyebaran
infeksi dapat terjadi jika konsentrasi kuman dalam partikel aerosol harus terdapat dalam
jumlah yang mencukupi, besar partikel pun harus terdapat dalam jumlah yang mencukupi,
besar partikel pun harus < 10 m agar dapat mencapai alveoli paru. Kerentanan dan status
kesehatan individu yang lemah merupakan faktor lain yang memudahkan penyebaran infeksi.
Sistem pendingin pada AC sentral dilakukan dengan cara mengalirkan air dalam
gulungan pipa-pipa pendingin dari menara penyimpanan air di puncak gedung, selanjutnya
dialirkan melalui mesin pelembab udara untuk menambah kelembaban udara. Uap air yang
dihasilkan dari proses ini akan didorong oleh kipas angin menuju lubang-lubang di atap
gedung untuk mendinginkan ruangan. Genangan air yang terdapat di menara penyimpanan air
memungkinkan penyebaran infeksi ke lingkungan di sekitar gedung lebih mungkin terjadi
4

terutama jika jarak antara menara penyimpanan air pendingin terlalu dekat dengan pintu
masuk udara luar dari sistem AC sentral di puncak gedung, apalagi jika cawan-cawan
penampungan air kondensat tidak terawat dengan baik sehingga merupakan media yang baik
untuk berkembang biaknya kuman Legionella.2
Gejala Klinis Gejala berat menyerupai influenza (80%) dengan demam, kaku otot, mialgia,
dan nyeri kepala.4-6 Adanya gejala ekstrapulmonal yang menonjol (35%) seperti diare, nyeri
abdomen, hematuria. Berkembangnya gejala dada seperti batuk kering dan dispnea.
Hemoptisis, nyeri dada, dan batuk produktif dapat terjadi kemudian. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan toksisitas sistemik, bradikardia relatif, takipnea. 6 Sulit mendiagnosis penyakit ini
berdasarkan gejala klinis karena menyerupai gejala klinis pneumonia sehingga memerlukan
pemeriksaan laboratorium yang khusus.
Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan darah lengkap ditemukan peningkatan neutrofil
(neutrofilia). Pada kultur terdapat pertumbuhan bakteri dari sampel antara lain sputum pada
media Buffered Charcoal Yeast Extract agar (BCYE), BCYE/PVA (terdiri dari polimixin B,
vancomisin, anisomisin), BCYE/PAC (terdiri dari polimixin B, anisomisin, cefamandol) lalu
diinkubasi pada suhu 35-37. Sensitivitas 80%, spesifisitas 100%. Waktu yang dibutuhkan 35 hari. Direct Fluorescent Antibody (DFA) dari sputum atau cairan tubuh yang lain.
Sensitivitas 33-70%, spesifisitas 95-100%. Waktu yang dibutuhkan dalam beberapa jam.
Urinary Antigen Test untuk mendeteksi antigen Legionella pada urin. Sensitivitas 80%,
spesifisitas 95%. Waktu yang dibutuhkan dalam beberapa jam. Tes serologi sampel darah,
sensitivitas 40-60%, spesifisitas 95-100%. Waktu yang dibutuhkan adalah 2-8 minggu.4,7

Diagnosis Okupasi Sick Building Syndrome (SBS)


Definisi SBS adalah sekumpulan gejala yang dialami oleh penghuni gedung atau bangunan
dimana di dalamnya terjadi ganggua sirkulasi udara, yang dihubungkan dengan waktu yang
dihabiskannya di dalam gedung tersebut, tetapi tidak ada penyakit atau penyebab khusus
yang dapat diidentifikasi.1,8 Keluhan-keluhan tersebut dapat muncul dari penghuni ruangan
atau bagian tertentu dari gedung tersebut, meskipun ada kemungkinan menyebar pada seluruh
bagian gedung. Penggunaan istilah SBS jika terdapat petunjuk-petunjuk utama bahwa gedung
merupakan penyebabnya, antara lain adanya gejala-gejala ketika bekerja atau tinggal di
5

dalam gedung, kejelasan berkurangnya gejala-gejala ketika meninggalkan gedung atau


bekerja di tempat lain untuk sementara, munculnya kemabli ke gedung, serta adanya gejala
yang dialami oleh orang banyak.
Gejala Klinis Para penghuni gedung umumnya mengalami gejala SBS yang bervariasi.
Gejala-gejala yang muncul memang berhubungan dengan tidak sehatnya udara di dalam
gedung. Keluhan yang ditemui pada sindrom ini antara lain dapat berupa batuk-batuk, sakit
kepala, iritasi di mata, hidung dan tenggorokan, kulit kering dan gatal, badan lemah,
kelelahan, peka terhadap bau yang tidak sedap serta sulit berkonsentrasi. Keluhan-keluhan
tersebut biasanya menetap setidaknya dua minggu.
Epidemiologi Sampai saat ini masih sulit untuk menentukan suatu penyebab tunggal dari
sindrom gedung sakit, namun sebagian besar keluhan yang muncul dari terjadinya SBS
diakibatkan oleh pencemaran udara yang terjadi di dalam ruangan. Menurut hasil penelitian
dari Badan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Amerika Serikat atau National Institute for
Occupational Safety and Health (NIOSH) 466 gedung di Amerika Serikat menemukan bahwa
ada enam sumber utama pencemaran udara di dalam gedung yaitu:
1. 52% pencemaran akibat ventilasi yang tidak adekuat dapat berupa kurangnya udara segar
yang masuk ke dalam ruangan gedung, distribusi udara yang tidak merata, dan buruknya
perawatan sarana ventilasi.
2. Pencemaran udara dari alat-alat di dalam gedung seperti mesin fotokopi, kertas tisu, lem
kertas dan lem wallpaper, zat pewarna dari bahan cetakan, pembersih lantai serta
pengharum ruangan (sebesar 17%).
3. Pencemaran dari luar gedung dapat juga masuk ke dalam ruangan, hal ini dikarenakan
tidak tepatnya penempatan lokasi masuknya udara segar dalam ruangan (sebesar 11%).
4. Pencemaran bahan bangunan meliputi pencemaran formaldehid, lem asbes, fiberglass
dan bahan lain yang merupakan komponen pembentuk gedung tersebut (sebesar 3%).
5. Pencemaran akibat mikroba dapat berupa bakteri, jamur, protozoa, dan produk mikroba
lainnya yang dapat ditemukan di saluran udara dan alat pendingin serta seluruh
sistemnya (sebesar 5%).
6. Sebesar 12% dari sumber tidak diketahui.1
Burge menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi peningkatan prevalensi SBS
antara lain faktor individu (debu kertas, asap rokok, debu dalam ruangan, penggunaan
komputer) dan faktor gedung (suhu ruangan yang tinggi (lebih dari 23C dalam ruangan berAC), aliran udara dalam ruangan rendah (kurang dari 10 liter/detik/orang), AC dalam

ruangan, kontrol yang rendah terhadap suhu dan pencahayaan, rendahnya perawatan dan
kebersihan gedung, kerusakan pada jaringan air).
Etiologi Gejala dari SBS secara statistik diubungkan dengan ventilasi udara yang kurang
emadai sehingga udara segar yang masuk ke dalam gedung juga berkurang, distribusi udara
yang kurang merata, kurang baiknya perawatan sarana ventilasi, serta ruang kerja yang
berisik. Ada berbagai jenis faktor yang dicurigai menjadi penyebab dari SBS.
Pajanan Fisik (temperatur, kelembaban dan cahaya)
Umumnya SBS berlangsung pada bangunan yang memiliki ventilasi udara yang kurang
memadai, di bawah 20cfm/20 orang. SBS tidak berlangsung dalam ruangan yang memenuhi
standar ventilasi udara dan temperatur yang baik. Pada beberapa kasus, ventilasi yang kurang
memadai akan menyebabkan akumulasi banyaknya kontaminan, seperti Volatile Organic
Compounds (VOCs), aldehid, asap rokok, debu, kontaminan narkoba, dimana keseluruhan
dari kontaminan bersama-sama akan menyebabkan munculnya gejala SBS. Sistem ventilasi
yang biasanya digunakan dalam gedung perkantoran adalah sistem HVCA (heating,
ventilation, and air conditioning) yang didesain untuk menyediakan udara pada temperatur
dan kelembaban yang nnyaman, serta bebas dari konsentrasi polutan udara yang
membahayakan. Kualitas udara dalam ruangan akan memburuk jika satu atau lebih dari
proses tersebut tidak terpenuhi. Misalnya karbon dioksida (gas yang dihasilkan dari
pernapasan manusia) dapat bertumpuk dalam area tertentu apabila aliran sejumlah udara luar
yang tidak mencukupi dan kurang didistribusikan ke seluruh gedung. Karbon dioksida
merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang menyebabkan pekerja menjadi malas,
sakit kepala, dan menurunkan produktivitas kerja. Desain, operasi, dan perawatan sistem
HVAC yang tepat diperlukan untuk dapat menyediakan udara bersih yang bebas dari polutan
di dalam ruangan. Persoalan muncul apabila sistem ini tidak diajalnkan dengan tepat dan
kontinyu sehingga pekerja tidak mendapatkan udara bersih yang sesuai dengan kebutuhan.
Sementara itu peningkatan temperatur dihubungkan dengan peningkatan kelembaban
relatif. Hal ini dapat mengurangi kesegaran udara yang dirasakan serta meningktkan
munculnya gejala SBS. Selain itu peningkatan kelembaban udara juga dapat meningkatkan
pertumbuhan jamur, mikroba lainnya, penumpukan debu. Hal ini juga akan menyebabkan
munculnya gejala SBS. Selain itu HVAC yang jarang dibersihkan (idealnya dibersihkan 3-4
kali setahun), biasanya menjadi lokasi yang ideal bagi perkembangbiakan bakteri. Kawanan
Chlamydia sp, Eschericia sp, dan Legionella sp akan bersarang nyaman di sela filter HVAC
yang berair dan lembab. Ketika udara HVAC menyembur ke seluruh sudut ruangan, saat itu
7

koloni menyusup ke saluran pernapasan, terhirup melalui mulut, hidung, atau masuk lewat
mulut, hidung, atau masuk lewat lubang kuping. Bagi orang sehat dengan stamina prima,
masuknya kuman tidak mendatangkan masalah. Berbeda jika yang terkontaminasi adalah
mereka dengan daya tahan tubuh yang sedang menurun.
Pencahayaan juga termasuk faktor fisik penyebab munculnya SBS. Terlalu lama
berkerja di depan komputer akan menyebabkan mata cepat lelah karena mata akan
berakomodasi lebih saat menerima cahaya yang dipantulkan ke mata.1
Pajanan Kimia
Adanya pajanan kimia juga berperan dalam menimbulkan gejala SBS. Sumber polusi
udaranya adalah VOCs, formaldehid, dan debu.1,8 VOCs muncul dalam bentuk gas dari
berbagai padatan atau cairan. VOCs yang merupakan variasi dari bahan-bahan kimia,
memiliki efek merugikan kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Konsentrasi dari VOCs biasanya lebih besar di dalam gedung (indoors) daripada di luar
gedung (outdoors).
Keberadaan VOCs dalam ruang kerja dideteksi muncul dari berbagai produk seperti
cat, bahan pengelupas cat, bahan pengawet kayu, alat penyemprot aerosol, pembersih dan
desinfektan, material gedung dan perlengkapan, peralatan kantor seperti mesin fotokopi dan
printer, correction fluids, perekat, cap permanen, dan penyegar udara. Jika dibiarkan dalam
jangka waktu yang lama, beberapa jenis organik bahkan dapat menyebabkan kanker. Seperti
polutan-polutan lainnya, tingkat dan sifat dasar gejala yang terjadi akan bergantung dari
banyak faktor, termasuk level dan jangka waktu seseorang berhubungan langsung dengan
produk yang mengandung VOCs. Sampai saat ini tidak ada standar yang ditetapkan untuk
VOCs dalam lingkungan non industri. OSHA (Occupational Safety and Helat
Administration) menetapkan formaldehid, VOCs yang spesifik, sebegai penyebab kanker
(karsinogen). Gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari formaldehid adalah iritasi mata,
hidung, dan tenggorokan, bersin-bersin, batuk, dan bintik merah pada kulit.
OSHA telah mengadopsi tingkat eksposur yang diijinkan (Permissible Exposure
Level) sebesar 0,75 ppm yang berarti dalam 1 juta partikel yang ada di udara, 0,75 bagian
mengandung VOCs. Alat yang dapat digunakan untuk mengukur partikel berukuran kurang
dari 10 mikron yang dapat terhirup oleh manusia dalam ruangan di dalam gedung adalah
High-Flow Indoor Particulate Sampler.
Debu merupakan partikel-partikel zat padat, yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan
alami atau mekanis seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan yang cepat,
8

peledakan, dan lain-lain dari bahan baik organik maupun anorganik yang memiliki ukuran
antara 0,1-2,5 mikron. Sumber alamiah partikulat atmosfir adalah debu yang memasuki
atmosfir karena terbawa oleh angin. Oleh karena itu debu bisa terdapat di mana saja,
misalnya untuk indoor, penumpukan barang-barang bekas yang menimbulkan debu. Karena
ukurannya yang kecil, debu dapat terhirup dan tersangkut di dalam paru sehingga dapat
mengganggu aktivitas pernapasan manusia. Gejala iritasi mukosa, sakit kepala serta kelehan
umumnya dihubungkan dengan peningkatan kontaminasi dan akumulasi debu dalam suatu
ruangan.1,8
Pajanan Biologi
Pajanan biologi meliputi berbagai macam mikroorganisme, seperti serangga, bakteri, dan
jamur. Mikroorganisme yang tersebar dalam ruangan dikenal dengan istilah bioaerosol. 1,8
Bioaerosol di dalam ruangan dapat berasal dari lingkungan luar dan kontaminasi dari dalam
ruangan. Bioaerosol dari lingkungan luar dapat berupa jamur yang berasal dari organisme
yang membusuk, tumbuh-tumbuhan yang mati dan bangkai binatang, bakteri Legionella yang
berasal dari soil-borne yang menembus ke dalam ruang, alga yang tumbuh dekat kolam/
danau dan masuk ke dalam ruangan melalui hembusan angin dan jentik-jentik serangga di
luar ruang dapat menembus bangunan tertutup. Kontaminasi yang berasal dari dalam ruang
banyak terjadi pada kelembaban antara 25-75%. Pada kisaran ini spora jamur akan meningkat
dan terjadi peningkatan pertumbuhan jamur, dan sumber kelembaban di dalam atau di sekitar
ruangan misalnya tandon air dan bak air di kamar mandi. Penyakit yang berhubungan dengan
bioaerosol dapat berupa penyakit infeksi seperti flu, legioneir, hipersensitivitas (asma,a lergi)
dan toksikosis yaitu toksin dalam udara di ruangan yang terkontaminasi yang menjadi
penyebab gejala SBS.
Pajanan Ergonomis
Pajanan ergonomis ini meliputi posisi tubuh/lengan yang nyaman untuk bekerja, khususnya
pada pekerja kantoran. Nyaman di sini menunjukkan posisi dimana otot dalam keadaan relaks
dan tidak berkontraksi. Posisi pengguna komputer yang idela: kepala tidak membungkuk,
posisi bahu yang santai, pandangan yang sejajar dengan komputer, tangan sejajar dengan
komputer, tinggi monitor yang sejajar pandangan dan lengan, kaki pada bantalan kaki, postur
punggung yang tertopang.
Posisi kerja yang kurang nyaman dapat menyebabkan timbulnya gejala regional
dalam bentuk nyeri dan rasa lelah yang hebat dirasakan selama bekerja, tetapi hilang pada
9

saat tidur malam dan pada saat libur. Biasanya tidak ditemukan kelainan fisik dan tidak
mempengaruhi penampilan kerja. Kondisi ini dapat muncul setelah bekerja untuk beberapa
bulan, tetapi biasanya bersifat sementara.2
Pajanan Psikososial
Berdasarkan penelitian pajanan psikososial seperti pekerjaan rutin yang membosankan,
prestasi kerja buruk, hubungan yang kurang baik dengan atasan sering dihubungkan dengan
gejala SBS lainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa etiologi SBS bersifat multifaktorial.
Faktor Individu Karakteristik pekerja yang berhubungan dengan SBS antara lain status
kesehatan pekerja seperti alergi atau asma yang diderita pekerja yangbersangkutan, perilaku
merokok, usia, jenis kelamin dan sebagainya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh
NIOSH menyatakan bahwa usia di atas 40 tahun yang berhubungan denganpeningkatan
gejala SBS. Pada umumnya, usia berkaitan dengan daya tahan tubuh, semakin tua usia
seseorang maka semaki menurun pula daya tahan tubuhnya. Sedangkan menurut penelitian
yang dilakukan oleh Swedish Office Illness Project, dikatakan bahwa wanita memiliki risiko
mengalami gejala SBS lebih besar yaitu sebanyak 35% dibandingkan dengan laki-laki yang
hanya 21%.2,8
Penatalaksanaan
Tatalaksana medikamentosa berupa pemberian obat Azitromycin 500 mg/hari secara oral atau
Clarithromycin 2x500 mg/hari secara oral. Pemberiannya 10-14 hari, khusus untuk penderita
dengan imunokompromis direkomendasikan pemberian terapi selama 21 hari.9

Pencegahan
Keluhan yang timbul pada penderita biasanya dapat ditangani secara simtomatis asal diikuti
dengan upaya agar suasana lingkungan udara di gedung tempat kerja menjadi lebih sehat.
Yang perlu mendapat perhatian utama tentu bagaimana pencegahan yang dapat dilakukan
untuk menghindari suatu gedung menjadi penyebab sindrom gedung sakit ini.Ternyata upaya
pencegahannya cukup luas, menyangkut bagaimana gedung itu dibangun, bagaimana desain

10

ruangan, bahan-bahan yang digunakan di dalam gedung, perawatan alat-alat dan lain-lain.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan meliputi:
1.

Umumnya penderita SBS akan sembuh apabila keluar dari dalam gedung tersebut,
gejala-gejala penyakitnya dapat disembuhkan dengan obat-obat simtomatis (obat-obat
penghilang gejala penyakit).

2.

Upaya agar udara luar yang segar dapat masuk ke dalam gedung secara baik dan
terdistribusi secara merata ke semua bagian di dalam suatu gedung. Dalam hal ini perlu
diperhatikan agar lubang tempat masuknya udara luar tidak berdekatan dengan sumbersumber pencemar di luar gedung agar bahan pencemar tidakterhisap masuk ke dalam
gedung. Ventilasi dan sirkulasinya udara dalam gedung diatur sedemikian rupa agar
semua orang yang bekerja merasa segar, nyaman dan sehat, jumlah suplay udara segar
sesuai dengan kebutuhan jumlah orang didalam ruangan, demikian pula harus
diperhatikan jumlah suplay udara segar yang cukup apabila ada penambahanpenambahan karyawan baru dalam jumlah yang signifikan.

3.

Perlu pula diperhatikan pemilihan bahan-bahan bangunan dan bahan pembersih ruangan
yang tidak akan mencemari lingkungan udara di dalam gedung dan lebih ramah
lingkungan (green washing, non toxic, natural, ecological friendly).

4.

Penambahan batas-batas ruangan dan penambahan jumlah orang yang bekerja dalam satu
ruangan hendaknya dilakukan setelah memperhitungkan agar setiap bagian ruangan dan
setiap individu mendapat ventilasi udara yang memadai.

5.

Jangan asal membuat sekat ruangan saja, dan jangan terus menerus menambah jumlah
orang untuk bekerja dalam satu ruangan sehingga menjadi penuh sesak.

6.

Alat-alat kantor yang mengakibatkan pencemaran udara, seperti mesin fotokopi,


diletakkan dalam ruangan terpisah.

7.

Renovasi kantor dengan menggunakan bahan-bahan bangunan baru, cat baru, lem baru,
agar dipasang exhaust fan yang memadai agar pencemaran dari VOCs, terutama uap
benzen dan formaldehid yang berasal dari bahan-bahan bangunan baru dapat segera
dibuang.

Pengelolaan dan Pengendalian Kualitas Udara


Pengendalian masalah Indoor Air Quality terletak pada desain gedung, untuk itu perlu
diperhatikan langkah-langkah berikut ini:
1. Pemilihan material gedung dengan tingkat emisi rendah, termasuk peralatan dan
furniture.

11

2. Memastikan sistem ventilasi sesuai dengan standar yang ada (menggunakan metode
terbaru dari sistem ventilasi mekanik jika memungkin, hybrid ventilation)
3. Mempunyai perencanaan untuk operasi dan pemeliharaan gedung.
4. Pendokumentasian untuk setiap kegiatan pemeliharaan gedung termasuk HVAC sebagai
perbaikan di masa akan datang.
Selain itu perlu dilakukan pengambilan sampel udara secara berkala serta
menganalisis dan membandingkannya dengan standar yang digunakan untuk menilai kualitas
udara yang ada di dalam ruangan sehingga tidak membahayakan bagi penggunanya.
Agar ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan
upaya-upaya sebagai berikut:
1. Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
2. Bila suhu udara >28o C perlu menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner
(AC), kipas angin, dll.
3. Bila suhu udara <18oC perlu menggunakan pemanas ruang.
4. Bila kelembababn udara ruang kerja >60% perlu menggunakan alat dehumidiefier.
5. Bila kelembaban udara ruang kerja <40 % perlu menggunakan humidifier (misalnya:
mesin pembentuk aerosol)
Selain itu ada cara lain yang dapat dipertimbangkan untuk menjaga agar udara dalam
ruangan tidak menjadi panas. Cara tersebut adalah dengan pengaturan ruang dan tempat
duduk yang benar, sehingga ruang atau meja yang ditempati manusia dalam waktu yang lama
tidak terpapar sinar matahari langsung. Rancangan ruang atau desain ruang, termsuk
perletakan dan pemilihan bahan bangunan untuk pintu, jendela, dan ventilasi dari ruangruang, ikut menentukan adanya kualitas udara yang baik dalam ruangan. Dengan rancangan
ruang yang benar, aliran udara degar dalam ruangan dapat berlangsung dengan lancar secara
alami.
Agar kandungan udara di dalam ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan
kesehatan maka perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
1. Kegiatan membersihkan ruang kerja perkantoran dilakukan pada pagi dan sore hari
dengan menggunakan kain pel basah atau pompa hampa (vacuum pump).
2. Pembersihan dinding dilakukan secara periodik 2 kali/tahun dan di cat ulang 1 kali
setahun.
3. Sistem ventilasi yang memenuhi syarat.

12

Agar pertukaran udara ruang perkantoran dapat berjalan dengan baik maka perlu
dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
1. Untuk ruangan kerja yang tidak ber AC harus memiliki lubang ventilasi silang.
2. Ruang yang menggunakan AC secara periodik harus dimatikan dan diupayakan
mendapatkan pergantian udara secara alamiah dengan cara membuka seluruh pintu dan
jendela atau dengan kipas angin.
3. Membersihkan saringan/filter udara AC secara periodik sesuai ketentuan pabrik.2
Prognosis
Prognosis dubia ad bonam.
Kesimpulan
Penyakit SBS merupakan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Pajanannya dapat
meliputi pajanan fisik, pajanan kimiawi, pajanan bilogi, pajanan ergonomis dan pajanan
psikososial yang keseluruhannya itu secara bersama-sama dapat menimbulkan gejala SBS.
Terapi yang diberikan tergantung dari pajanan apa yang diterima. Berdasarkan gejala yang
timbul, pajanan utamanya adalah pajanan biologi yaitu Legionella pneumophila sehingga
penatalaksanaannya dapat diberiksan juga medika mentosa berupa Azitromycin. Untuk non
medika mentosa ditekankan untuk istirahat yang cukup dan olahraga teratur untuk
meningkatkan kebugaran tubuhnya. Prognosis dari kesembuhan penyakit ini baik jika
mendapat penanganan yang cepat dan tepat.
Daftar Pustaka
1. Lange. Current occupational and environmental medicine. 4th ed. New York: The
McGraw Hill; 2007.p.718-29.
2. Harrianto R. Buku ajar kesehatan kerja. Jakarta: EGC; 2009.h.16-8.
3. Boyce PD, Christiani DC, and Wegman DH. Respiratory disorder. USA: Lippincott
Williams and Wilkins; 2006.p.543-60.
4. Jawetz, Melnick, Adelbergs. Medical microbiology. 24th ed. New York: The McGraw-Hill
Companies, Inc; 2007.p.313-15.
5. Hood J, Edward GFS. Medical microbiology. 17 th ed. Churchill Livingstone Elsevier;
2007.p.332-35.
6. Mandal, Wilkins, Dunbar, Mayon-White. Lecture notes: penyakit infeksi. Jakarta:
Erlangga; 2008.h.62-4.
7. Murray, PR. Medical microbiology. 4 th ed. Philadelhia: Mosby, Inc; 2002.p.328.

13

8. Levy BS, Wegman DH, Baron SL, etc. Occupational and environmental health. 5th 3d.
Philadephia: Lippincott Williams and Wilkins; 2006.p.415-22.
9. Current medical diagnosis and treatment. 49 th ed. New York: The McGraw Hill;
2010.p.1311.

14