Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TIJAUAN PUSTAKA
1. Tanaman cengkeh
2. Klasifukasi cengkeh
Klasifikasi tanaman cengkeh adalah sebagai berikut :
Divisi
: Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Bangsa
: Myrtales
Suku
: Myrtaceae
Marga
: Syzygium
Jenis
: Syzygium aromaticum (L.) Merr.& Perry (Sholihah, 2010)
3. Sinonim cengkeh
Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr.& Perry), sinonimnya yaitu
Eugenia caryophyllus (Spreng) Bullock & Horris, Eugenia caryophyllata Thum. non.
illeg, Eugenia aromatic (L.) Bail.,non. Berg. (Sholihah, 2010).
4. Nama Daerah
Tanaman ini memiliki nama daerah antara lain; Batak: bunga lawang, bunga lasang;
Nias: sake; Melayu: cengkeh, bunga kawang, kembang lawang; Minang: cengkeh;
Madura: cengke; Flores: sinke; Timor: sengke; Seram:

bunga rawan, poirawane,

poilaane, peelaano, kupanahane, pulawane; Sulawesi Utara: burangaong, burangawang,


bulangang, cingke, since; Ambon: pakalaw, pualanwango (Sholihah, 2010).
5. Deskripsi cengkeh
makroskopik
Perawakan: pohon, bertajuk kerucut, tinggi 5-10 meter. Batang: pokok tampak
jelas, kulit batang coklat sampai coklat tua. Daun: tunggal, bertangkai, duduk
berhadapan, helaian, bulat telur terbalik sampai bulat memanjang, pangkal meruncingruncing, daging daun seperti kulit, 6-13,5 kali 2,5-5 cm, bagian atas menkilat, hijau
(Sholihah, 2010). Bunga panjangnya 10 mm sampai 17,5 mm; dasar bunga (hipatium)
bersisi 4, agak pipih, bagian atas meliputi bakal buahyang tenggelam, berongga 2 berisi
banyak bakal buah melekat pada sumbu plasenta. Daun kelopak 4 helai tebal betuk
bundar telur atau segitiga, runcing, lepas. Daun mahkota 4 helai warna lebih muda dari
warna kelopak, tidak mekar tipis seperti selaput, saling menutup seperti susunan genting.
Benang sari bayak beebentuk melengkung ke dalam; tangki agak silinder atau segi empat

panjangnya 2,5 mm sampai 4 mm. Putik: tangkai putik pendek. Buah: buni memanjang
sampai bentuk telur terbalik, merupakan perkembangan dasar bunga, panjang 2-2,25 cm
(Sholihah, 2010).
Mikroskopik bunga cengkeh
Pada penampang melintang bunga di bawah bakal buah tampak sel epidermis bentuk
empat persegi panjang terdiri dari 1 lapisan sel denga kutikula tebal; pada pengamatan
paradermal tampak sel epidermis betuk poligonal denga dinding sel rata; stomata bundar
tipe anomositik. Pada bagian korteks terdapat beberapa lapis sel parenkim betuk
poligonal atau hampir bundar, kelenjar minyak skizolisigen bentuk bundar atau bundar
telur terbalik. Pada bagian dalam terdapat berkas pembuluh tipe bikolateral, serabut
sklerenkim dan sel batu. Kristal kalsium oksalat bentuk roset terdapat di semua bagian.
Parenkim pusat terdiri dari beberapa lapisa sel kecil membetuk cincin dengan ruang antar
sel yag besar. Pada daun mahkota dan daun kelopak tampak sel epidermis atas dan bawah
bentuk empat persegi panjang bila tampak paradermal berbentuk poligonal, di antaranya
terdapat parenkim bentuk poligonal, kelenjar minyak skizolisigen, kristal kasium oksalat
bentuk roset dan berkas pembuluh.
Sebuk
Warna coklat. Fragmen pengenal adalah fragmen dasar bunga (hipatium), sel epidermis
dengan kutikula tebal, stomata tipe anomositik, kelenjar minyak skizolisigen lepas atau
dalam sel; fragmen epidermis daun mahkota dan epidermis daun kelopak tampak
tangensial; fragmen parenkim pusat dengan ruang antar sel besar; fragmen tangkai sari,
kepala sari dan serbuk sari berkelompok atau lepas bentuk segitiga dengan garis tengah
15 m sampai 20 m; fragmen berkas pembuluh dengan penebalan tangga dan spiral,
fragmen serabut sklerenkim dan kristal kalsium oksalat bentu roset; fragmen sel batu.
6. Kandungan kimia
a. Minyak astiri: komponen minyak astiri daun cengkeh terdiri atas eugenol (80,685,1%), asetil eugenol, kariofilen.
b. Kuncup bunga: 16-23% mengandung minyak astiri yang terdiri dari 64-85% eugenol,
10% terdiri dari zat samak tipe gallat; sianidin ramnoglukosida merupakan pigmen
utama bunga; kuersetin, kaemferol, mirisetin, dan isokuersitrin.
c. Daun: 0,11% terdiri dari asam gallat, metil gallat, turunan triterpen, asam oleanolat
(kariofilin), asam betulinat. Kulit batang: asam betulinat, friedelin, epifriedelinol,

sitosterim, eugenin (suatu senyawa ester dari epifriedelinol dengan suatu asam
lemak rantai panjang), C27H55C00H.
(Sholihah, 2010)
Tanaman cengkeh memiliki sifat khas karena semua bagian pohon mengandung minyak,
mulai dari akar, batang, daun sampai bunga. Kandungan minyak cengkeh pada bagianbagian tanaman tersebut bervariasi jumlahnya namun kadar minyak yang paling tinggi
terdapat pada bagian bunga (Ketaren, 1985).
Eugenol (C10H12O2), merupakan turunan guaiakol yang mendapat tambahan rantai alil,
dikenal dengan nama IUPAC

2-metoksi-4-(2-propenil)

fenol.

Eugenol

dapat

dikelompokkan dalam keluarga alilbenzena dari senyawa-6 senyawa fenol yang


mempunyai warna bening hingga kuning pucat, kental seperti minyak. Sumber alaminya
dari minyak cengkeh. Terdapat pula pada pala, kulit manis, dan salam. Eugenol sedikit
larut dalam air namun mudah larut pada pelarut organik. Aromanya menyegarkan dan
pedas seperti bunga cengkeh kering, sehingga sering menjadi komponen untuk
menyegarkan mulut (Laitupa dan Susane, Tt).
Kandungan senyawa-senyawa dalam minyak cengkeh digolongkan dalam senyawa
phenol (sebagai eugenol) dan senyawa non eugenol. senyawa eugenol dapat digunakan
sebagai antioksidan yaitu senyawa kimia yang dapat menghambat proses otoksidasi
lemak tidak jenuh. Berdasarkan aktivitas dan efisiensi dalam menghambat proses
oksidasi maka urutan efisiensi anti-oksidan golongan phenol adalah sebagai berikut :
Pirogallol > hidroquinon > catechol > eugenol > thymol, -naphtanol, phloroglusinol,
resorsinol, dan fenol (Laitupa dan Susane, Tt).
Gugus fenol memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas dari rantai
peroksida (ROO) dengan reaksi sebagai berikut:
Efektivitas radikal bebas ArO harus relatif lebih stabil, sehingga mampu menghambat
reaksi dengan substrat namun cepat bereaksi dengan ROO, atau yang dikenal
sebagai pemutusan rantai antioksidan. Antioksidan akan bereaksi lebih cepat dengan
radikal peroksida, sehingga mampu menghambat reaksi dengan substrat. Kemudahan
antioksidan untuk memberikan atom hidrogennya pada radikal bebas menunjukan
aktivitas dari antioksidan tersebut. Oleh karena itu, besaran entalpi disosiasi ikatan
(BDE) pada ArOH erat kaitannya dengan aktivitas antioksidan. Lemahnya energi
disosiasi ikatan O-H akan mempercepat reaksi dengan radikal bebas. Selain itu
aktivitas antioksidan juga dipengaruhi oleh kelarutan senyawa pada suatu pelarut.

Untuk mempelajari aktivitas antioksidan secara teoritis telah banyak dilakukan melalui
bantuan kimia komputasi (Laitupa dan Susane, Tt).
Harga entalpi disosiasi ikatan (BDE) dipengaruhi oleh gugus yang terikat pada
senyawa antioksidan. Substituen pendonor elektron mampu meningkatkan aktivitas
antioksidan sedangkan gugus penarik elektron akan menurunkan aktivitasnya sebagai
antioksidan (Laitupa dan Susane, Tt).
7. Kegunaan atau Khasiat Cengkeh
Minyak cengkeh dapat dipergunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri, seperti
industri pangan, minyak wangi, obatobatan, bahan untuk pembuatan vamilin sintesis
dan sebagai bahan peledak.
a. Kuncup bunga: pada umumnya digunakan sebagai pengurang rasa nyeri, peluruh
haid, peluruh angin perut, pencegah mual, penambah nafsu makan, penurun panas,
obat batuk, obat penyakit mata, obat masuk angin. Kuncup bunga cengkeh telah
dilaporkan berkhasiat sebagai afrodisiaka, antispasmodik, karminatif dan antivirus,
terutama herpes simplex. Kuncup bunga

cengkeh juga dimanfaatkan sebagai

kontrasepsi pada dosis rendah dan antikarsinogenik, menginhibisi agregasi platelet


dan pembentukan asam arakidonat pada metabolisme platelet.
b. Bunga: bunga cengkeh dapat digunakan sebagai bahan pembuat vanilin sintetik.
Vanilin diperoleh dengan mengoksidasi eugenol dengan kalium permanganat. Ikatan
rangkap pada gugus alil eugenol doiksidasi, sehingga membentuk gugus karboksil.
c. Daun: digunakan untuk mengobati beri-beri, nyeri perut, lemah syahwat, radang
membran mukosa mulut dan tenggorokan.
(Sholihah, 2010)
Minyak atsiri
Minyak atsiri dikenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatil
oil) dihasilkan oleh tanaman dan sering kai terdapat bersama-sama dengan resin dan gum.
Minyak atsiri pada suhu kamar mudah menguap tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa
getir, berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umunya larut dalam pelarut
organik da tidak larut dalam air (ketaren, 1985).
Dalam tanaman minyak atsiri memiliki 3 fungsi, yaitu:
1. Membantu proses penyerbukan dengan menarik beberapa jenis serangga atau hewan.
2. Mencegah kerusakan tanaman oleh serangga atau hewan.
3. Sebagai cadangan makanan dalam tanaman.

Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa proses metabolisme dalam tanaman, yang
terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan kimia dengan adanya air. Minyak atsisri
disintesis dalam sel kelenjar pada jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk dalam
pembuluh resin, misalnya minyak terpentin dari pohon pinus (ketaren, 1985).
Kegunaan minyak atsiri sangat luas dan spesifik, khususnya dalam berbagai bidang industri.
Banyak contoh kegunaan minyak atsiri, antara lain:
1. Bidang pengobatan
Minyak atsiri yag mengadung fenol dalam jumlah yang cukup tinggi seperti minyak
cengkeh dan timol digunakan sebagai antiseptik. Beberapa minyak atsiri juga digunakan
sebagai karminativum (minyak jahe, minyak adas, minyak eucalyptus), analgetik (minyak
cengkeh), counterirritant (minyak eucalyptus), sedatif (minyak biji pala) dan obat cacing
(minyak atsiri pada temu hitam). Minyak atsiri yag berasal dari spesies tanaman seperti
melati diketahui mempunyai efek farmakologis sebagai antispasmodik. Minyak lavender,
rosemary dan bergamot umumnya juga digunakan sebagai aromaterapi. Untuk
memberikan aksi terapetik, minyak atsiri digunakan degan cara dihirup (minyak
eucalyptus), untuk berkumur (timol) da diminum (minyak peppermint) (Anonim, 2008).
2. Bidang makanan, minuman dan kosmetik
Minyak atsiri dalam industri digunakan dalam pembuatan kosmetik, parfum misalnya
minyak mawar, flavoring agent dalam bidang pangan atau minuman misalnya minyak
lemon dan sebagai pencampur rokok kretek. Karena dapat menghambat respirasi dan
transport elektron pada beberapa varietas bakteri, minyak atsiri juga sering dimanfaatkan
sebagai pengawet makanan (Anonim, 2008).
SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Sifat fisika
Minyak atsiri dari tiap tanaman penghasilnya mempunyai bau yang khas. Minyak atsiri yang
baru diekstrak dan masih segar biasanya tidak berwarna atau berwarna kekuningan-kuningan,
kemerah-merahan, hujau atau biru. Jika minyak dibiarkan diudara dan terkenacahaya matahari
pada suhu kamar, maka minyak tersebut dapat mengabsorpsi oksigen udara sehingga warnanya
dapat menjadi lebih gelap, bau minyak berubah dari bau wangi alamiahnya serta minyak menjadi
lebih kental dan akhirnya membentuk sejenis resin (Ketaren, 1985). Minyak atsiri juga

cenderung mempunyai indeks bias tinggi, bersifat optis aktif, mempunyai rotasi spesifik dan
tidak dapat bercampur dengan air. Umunya minyak atsiri larut dalam alkohol dan pelarut organik
lainnya, kurang larut dalam alkohol encer (Anonim, 2008).
Sifat kimia
Sifat kimia minyak atsiri ditentukan oleh konstituen kimia yang dikandungnya terutama
konstituen hidrokarbon tidak jenuh (terpen), da senyawa yang tergolong senyawa oxygenated
hydrocarbon. Perubahan sifat kimia minyak atsiri merupakan ciri kerusakan minyak yang
mengakibatkan penurunan kualitas minyak atsiri. Ada beberapa proses yang dapat mengakibatka
perubahan sifat kimia minyak atsiri yaitu proses oksidasi, hidrolisa, polimerisasi dan penyabunan
(Ketaren, 1985).
1. Reaksi oksidasi
Reaksi oksidasi minyak atsiri terutama terjadi pada ikatan rangkap pada senyawa terpen.
Proses ini dapat dicegah dengan penambahan antioksidan, misalnya hidrokinon, mono
etil eter, dan etil galat. Disamping itu, ada beberapa minyak atsiri mengadung antioksidan
alamiah yang belum diketahui strukturnya. Antioksidan merupakan senyawa yang mudah
teroksidasi jika terkena oksigen udara tetapi sifatnya akan kembali seperti semula apabila
proses oksidasi telah selesai. Proses oksidasi dapat menyebabkan perubahan bau dan
penurunan jumlah konstituen kimia dalam minyak atsiri, misalnya pada minyak lemon
kadar citral berkurang karena adanya proses oksidasi yang mengubah citral menjadi asam
atau resin (Anonim, 2008).
2. Reaksi hidrolisi
Reaksi hidrolisa dalam minyak atsiri terutama terjadi pada minyak yang mengadung
ester, seperti minyak lavender dan minyak pisang atau banana oil. Hidrolisa ester terjadi
pada OR dari gugus asli sehingga terbentuk garam yang menyebabkan minyak atsiri
menjadi berwarna gelap. Ion logam ini dapat dipisahkan dengan chellating agent seperti
asam tartrat dan EDTA (Anonim, 2008).
3. Reaksi polimerisasi
Beberapa fraksi dalam minyak atsiri dapat membetuk resin, yang merupakan senyawa
polimer. Resin ini dapat terbentuk selama proses pengolahan minyak yag menggunakan
tekanan dan suhu tinggi, serta selama penyimpanan. Resin dapat terbentuk dari reaksi
polimerisasi aldehida atau persenyawaan tak jenuh (Ketaren, 1985) .

4. Reaksi penyabunan
Minyak atsiri yag mengadung fraksi monoester dan asam-asam organik dapat bereaksi
dengan basa sehingga membetuk sabun (Ketaren, 1985).

METODE ISOLASI MINYAK ATSIRI


Minyak atsiri umumnya diisolasi dengan empat metode yang lazim digunakan, yaitu:
1. Metode Destilasi
Diantara metode isolasi yang paling sering digunakan adalah metode destilasi, karena metode ini
merupakan cara paling praktis untuk menghasilkan minyak atsiri bermutu baik, dan biaya
produksinya lebih murah daripada metode lain. Metode ini dapat digunakan untuk bahan kering
maupun bahan segar dan digunakan untuk bahan yang tidak rusak oleh panas uap air, misalnya
minyak cempaka, cengkeh, jahe, nilam, kenanga dan selasih. Ada tiga macam metode destilasi,
yaitu:
a. Destilasi dengan air
Metode destilasi ini merupakan metode yang paling sederhana diantara metode destilasi lainnya.
Pada metode ini, bahan yang akan didestilasi dimasukkan dalam ketel suling berisi air mendidih
hingga terendam seluruhnya kedalam air. Uap yang keluar dialirkan melalui pipa menuju
kondensor. Namun, karena volume air terlalu banyak dan posisi bahan terendam air mendidih
membuat uap minyak sulit terangkat oleh uap air. Sehingga proses ini

memerlukan waktu lebih

lama, dan mutu minyak yang dihasilkan juga kurang baik.


b. Destilasi dengan uap
Metode destilasi dengan uap menggunakan dua ketel yang terpisah, yaitu konstruksi ketel
penampung bahan yang disuling dan ketel uap. Ketel uap menghasilkan uap air panas bertekanan
tinggi kemudian uap air panas mengalir keseluruh bagian bahan yang disuling. Kemudian unsur
minyak terbawa oleh uap air sebagai destilat menuju pipa kondensor. Oleh karena pengaruh suhu
ruang yang lebih rendah, uap minyak dan uap air didalam pipa kondensor kembali mencair
menjadi cairan minyak dan air. Prinsipnya air penghasil uap tidak satu ketel dengan bahan.
Karena kondisi bahan yang disuling tidak kontak langsung dengan air maka minyak yang
terdapat pada bahan lebih mudah terangkat oleh uap air destilat. Sehingga proses penyulingan ini

dapat menghasilkan minyak atsiri yang bermutu tinggi dan waktu prosesnya lebih singkat (4-5
jam). Namun, proses penyulingan ini memerlukan biaya yang lebih mahal, konstruksi ketel yang
lebih kuat, alat-alat pengaman yang lebih baik dan sempurna.
c. Destilasi dengan uap air
Metode penyulingan ini paling banyak dilakukan. Hal ini dikarenakan metode yang diterapkan
lebih praktis dan sederhana juga cukup ekonomis. Metode ini mirip dengan metode destilasi uap,
hanya saja konstruksi ketel sulingnya berbeda. Metode destilasi ini hanya menggunakan satu
konstruksi ketel. Dimana bahan yang disuling dan air penghasil uap berada dalam satu ketel yang
disekat. Bahan yang disuling tidak kontak langsung dengan air. Uap air dapat merata keseluruh
bagian bahan yang disuling karena berada dalam satu ketel. Bahan disekat dengan sarangan yang
diberi lubang-lubang agar uap air dapat menuju bahan yang disuling. Minyak atsiri yang
dihasilkan dengan metode ini berkualitas baik dan memenuhi standar. Proses penyulingannya
pun cukup singkat, hanya membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam.
2. Metode Penyarian atau Ekstraksi dengan Pelarut
Metode penyarian digunakan untuk minyak-minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan, seperti
cendana. Kebanyakan dipilih metode ini karena kadar minyak atsirinya didalam tanaman sangat
rendah/kecil. Pengambilan minyak atsiri menggunakan cara ini diyakini sangat efektif karena
sifat minyak atsiri yang larut sempurna didalam bahan pelarut organik nonpolar. Pada metode ini,
bahan pelarut dialirkan secara berkesinambungan melalui serangkaian penampang yang diisi
bahan tanaman penghasil minyak atsiri, dengan sistem teknik arus lawan (countercurent
technique) sampai proses ekstraksi selesai. Cairan ekstrak yang mengandung bahan pelarut dan
minyak atsiri disalurkan ketabung hampa udara yang dipanaskan pada suhu secukupnya untuk
menguapkan bahan pelarut. Uap

pelarut dialirkan kekondensor untuk dicairkan kembali,

sedangkan minyak atsiri tertinggal didalam tabung hampa tersebut. Meskipun metode ini
menghasilkan minyak atsiri yang lebih baik, tapi metode ini memerlukan proses yang panjang,
teknologi dan ketelitian. Cara ini tidak cocok untuk skala usaha kecil karena memerlukan biaya
yang cukup besar, alat yang canggih, dan tenaga kerja yang ahli.
3.

Metode Pengepresan atau Pemerasan

Metode pengepresan atau pemerasan dilakukan terutama untuk minyak-minyak atsiri yang tidak
stabil dan tidak tahan pemanasan seperti minyak jeruk. Juga terhadap minyak-minyak atsiri yang
bau dan warnanya berubah akibat pengaruh pelarut penyari. Metode ini juga cocok untuk minyak

atsiri yang rendemennya relatif besar. Bahan yang mengandung minyak atsiri dikempa dengan
mesin kempa hingga seluruh cairan minyak atsiri keluar. Setelah itu cairan diproses lebih lanjut
yaitu memisahkan unsur-unsur lain tanaman yang terdapat dalam cairan, misalnya air, residu
bahan atau kotoran. Kemudian proses selanjutnya adalah penguapan. Caranya, hasil kempaan
dipanaskan pada ketel /octar dengan suhu 80C agar kandungan air yang masih tersisa menguap
dan warna cairan minyak atsiri menjadi putih kekuning-kuningan. Suhu pemanasan harus dapat
dipertahankan hingga akhir proses (selama dua jam). Hal ini untuk menghindari hilangnya unsur
minyak karena terbawa uap air.
4.

Metode enfleurage

Metode enfleurage adalah metode penarikan bau minyak atsiri yang dilekatkan pada media
lilin. Metode ini digunakan karena diketahui ada beberapa jenis bunga yang setelah dipetik,
enzimnya masih menunjukkan kegiatan dalam menghasilkan minyak atsiri sampai beberapa
hari/minggu, misalnya bunga melati, jasminum sambac, sehingga perlu perlakuan yang tidak
merusak aktivitas enzim tersebut secara langsung. Caranya adalah dengan menaburkan bunga
dihamparan lapisan lilin dalam sebuah baki besar (1mx2m) dan ditumpuk-tumpuk menjadi
beberapa tumpukan baki yang saling menutup rapat. Baki-baki berlapis lilin

tersebut

dieramkan, dibiarkan menyerap bau bunga sampai beberapa hari/minggu. Setiap kali bunga yang
sudah habis masa kerja enzimnya diganti dengan bunga segar. Demikian seterusnya hingga
dihasilkan lilin yang berbau harum (dalam perdagangan disebut pomade). Selanjutnya pomade
dikerok dan diekstraksi menggunakan etanol.
5. Maserasi (macerate)
Pada proses ini absorbsi minyak atsiri oleh lemak dalam keadaan hangat. Alat yang digunakan
serta proses pencampuran bunga dengan lemak sama seperti pada cara enfluerasi. Kelebihan dari
metode ini adalah karena daya absorpsi lemak terhadap bau bertambah besar, dan kelemahannya
adalah karena kemungkinan sebagian komponen minyak mengalami kerusakan oleh panas,
sehingga cara maserasi jarang digunakan. Proses ini digunakan untuk mengekstraksi minyak
bunga, yang menghasilkan rendemen minyak yang rendah jikadiekstraksi dengan cara
penyulingan atau dengan cara enfleurasi (Ketaren, 1985).
Minyak bunga diekstraksi dengan cara mencelupkan bunga ke dalam lemak panas. Wadah yang
berisi lemak panas diisi dengan bunga segar sampai lemak tersebut jenuh dengan parfum bunga.
Bunga yang telah layu dipisahkan dan lemak yang telah jenuh oleh minyak bunga disebut

pomede. Proses maserasi sama dengan enfleurasi dan perbedaannya adalah karena pada proses
maserasi digunakan lemak panas, sehingga proses ekstraksi berlangsung lebih cepat (Ketaren,
1985).

Bab III
Metode pemisahan
1. Bahan Penelitian
Bahan Tanaman
Sampel adalah bunga cengkeh . Anredera scandens (L.) Moq. berumur kira-kira
satu sampai dua bulan yang diperoleh dari kawasan Satria, Klungkung
Bahan Untuk Ekstraksi
Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi daun binahong (Anredera scandens (L.)
Moq.) adalah etanol 95%.
Alat Untuk Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah rotavapor, alat-alat gelas, alatalat bedah, mikroskop cahaya dan timbangan analitik.
2. Prosedur Kerja
Preparasi Sampel
Sampel adalah daun tanaman Anredera scandens (L.) Moq. berumur kira-kira satu
sampai dua bulan dan dipanen pada saat pagi hari yang diperoleh dari kawasan Satria,
Klungkung. Sampel daun yang telah terkumpul

dicuci dan dikeringkan dengan cara

diangin-anginkan. Daun tanaman Anredera scandens

(L.) Moq. yang telah kering

kemudian digiling hingga didapatkan serbuk. Serbuk dibungkus dan disimpan pada tempat
kering.
Skrining fitokimia

Daftar pustaka
Anonim, 2008. Buku Ajar famakognosi. Badung. Jurusan farmasi F MIPA UNUD
Laitupa, F. dan H. Susane, Tt. Pemanfaatan Eugenol Dari Minyak Cengkeh Untuk
Mangatasi Ranciditas Pada Minyak Kelapa. Semarang: Jurusan Teknik Kimia, Fakultas
Teknik, Universitas Diponegoro
http://eprints.undip.ac.id/14147/1/makalah_penelitian.pdf
Ketaren, IR.S., 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Sholihah, H. M., 2010. Uji Afrodisiaka Fraksi Larut Air Ekstrak Etanol 70% Kuncup
Bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr.& Perry) Terhadap Libido Tikus Jantan
(skripsi). Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
http://etd.eprints.ums.ac.id/7705/1/K100050043.pdf
anonim, Tt. Uji aktivitas antibakteri sereh dapur (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf.
terhadap E. coli. surabaya: Universitas Surabya
http://digilib.ubaya.ac.id/skripsi/farmasi/F_2529_1040215/F_2529_Bab%20II.pdf

Anda mungkin juga menyukai