Anda di halaman 1dari 7

ESSAY

PERAN ETIKA DALAM PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL


Disusun untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Etik Hukum Keperawatan

Disusun Oleh:
Reni Nurhidayah

156070300111028

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

PERAN ETIKA DALAM PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL


Oleh: Reni Nurhidayah
Paparan Masalah
Keperawatan merupakan suatu profesi yang menjadikan manusia sebagai
bidang garap. Perawat memberikan asuhan keperawatan pada individu baik
sehat maupun sakit. Perawat bekerja dengan berfokus pada respon yang
diberikan pasien. Singgungan yang tidak terelakkan dengan manusia, membuat
perawat membutuhkan suatu standart yang disusun untuk menjadi landasan
asuhan keperawatan yang diberikan. Singgungan antar perawat dengan pasien
dan antar perawat dengan tenaga kesehatan lain membutuhkan sebuat standart
perilaku dan moral untuk melindungi perawat, pasien dan tenaga kesehatan lain.
Sehingga muncullah sebuah aturan yang mengatur hubungan antara perawat,
pasien, tenaga kesehatan lain dan masyarakat (J. B Butts, 2013).
Salah satu aturan yang melandasi atau mengatur hubungan antara
perawat, pasien, tenaga kesehatan lain dan masyarakat adalah Etika. Etika
merupakan suatu proses penilaian terhadap sesuatu yang baik atau buruk,
sesuatu yang benar atau salah dalam hubungan sesama manusia. Etika
merupakan proses aktif tidak hanya sekedar aturan yang statis. Penilaian etik
terhadap suatu yang benar atau salah, bukan merupakan hal yang mutlak sama
atau sepaham antara individu satu dengan individu lain, organisasi dengan
organisasi lain. Terdapat perbedaan sudut pandang dalam etik. Banyak faktor
yang mempengaruhi penilaian etik antara lain lingkungan sosial, budaya,
ekonomi dan kepercayaan, faktor lain yang mempengaruhi etik adalah proses
pembelajaran maupun pengalaman hidup seseorang. Meskipun etik bias
dikatakan subjektif, namun ketika seseorang mengambil keputusan etik maka
orang tersebut memerlukan alasan yang mendasari keputusan tersebut. Alasan
yang logis, berdasarkan teori diperlukan untuk menjustifikasi keputusan yang
diambil (J.B. Butts, Butts, & Rich, 2015).
Etika keperawatan merupakan landasan bagi perawat dalam
melaksanakan tugasnya secara professional. Etika keperawatan memiliki sudut
pandang bahwa perawat dalam melaksanakan tugasnya harus memandang
manusia sebagai satu kesatuan yang utuh dan unik. Hal tersebut mendasari
perawat untuk mempunyai sebuah standart yang dapat memastika asuhan
keperawatan yang diberikan itu professional, efektif dan aman bagi pasien
maupun perawat. Standar praktik keperawatan merupakan komitmen profesi
keperawatan dalam melindungi masyarakat terhadap praktik yang dilakukan oleh
anggota profesi. Adanya standar praktik dalam keperawatan dapat menjadi suatu
pedoman nilai dan etik yang dapat diterima secara profesional maupun sosial.
Standar paktik keperawatan inilah yang pada akhirnya dikenal dengan istilah
kode etik keperawatan (Grace & Grace, 2013).
Kode etik merupakan panduan perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan. Kode etik merupakan aturan profesi yang dapat melindungi
perawat dari tindakan yang merugikan baik pasien maupun perawat sendiri.
Namun pada pelaksanaan praktek keperawatan setiap harinya, apakah perawat
menggunakan prinsip kode etik keperawatan dan apakah perawat telah paham
betul mengenai prinsip kode etik keperawatan?. Hal tersebutlah yang mendasari
penulis untuk memapaparkan prinsip-prinsip kode etik keperawatan sehingga
seluruh perawat mampu mengaplikasikan prinsip prinsip etik dalam praktik
keperawatan professional.

Pembahasan
Kode etik keperawatan merupakan aturan atau standart yang mengatur
tentang tanggung jawab perawat. Kode etik keperawatan mengatur tanggung
jawab perawat pada pasien, keluarga dan pada masyarakat. Selain itu kode etik
juga mengatur tangung jawab terhadap tugas, teman sejawat dan profesi
kesehatan lain. Kode etik dalam aspek yang lebih besar juga merupakan
tanggung jawab perawat terhadap profesi keperawatan dan pemerintah. Selain
memuat tanggung jawab, kode etik juga memuat tanggung gugat. Tanggung
gugat mempunyai arti bahwa perawat dapat memberikan alasan atas tindakan
atau asuhan keperawatan yang telah diberikannya. Untuk dapat memberikan
tanggung gugat maka perawat harus mematuhi kode etik keperawatan (Safitri,
2010). Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dengan mematuhi kode etik
perawat, maka perawat dapat menunjukkan performa yang professional. Dengan
meningkatnya profesionalitas perawat maka mutu pelayanan kesehatan juga
akan mengalami peningkatan.
Kode etik keperawatan pertama adalah tanggung jawab perawat pada
klien. Perawat bertanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan
terhadap klien yang membutuhkan dengan melihat klien sebagai individu yang
utuh dan unik. Perawat wajib memberikan lingkungan yang nyaman tanpa
menyebabkan gangguan pada nilai dan agama yang dianut klien. selain itu
perawat juga wajib untuk merahasiakan segala informasi tentang klien kepada
yang tidak berhak (PPNI, 2000). Penelitian yang dilakukan Safitri (2010) di RS
Bhakti Wira Tamtama menunjukkan bahwa perawat sering membicarakan segala
sesuatu yang terjadi pada pasien dan memberikan informasi berkenaan dengan
penyakit pasien. Hal tersebut tidak sesuai dengan kode etik keperawatan yaitu
perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengna
tugas yang dipercayakan kepadanya, kecuali jika diperlukan oleh pihak yang
berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sikap perawat
tersebut akan berdampak pada penurunan kepercayaan pasien terhadap
pelayanan keperawatan di rumah sakit. Hasil penelitian ini tentu melanggar
prinsip etika keperawatan Confidentiality atau kerahasiaan.
Prinsip Confidentiality adalah aturan untuk kerahasiaan informasi tentang
klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien
hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun
dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan
bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan
pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus
dihindari (Husted & Husted, 2008). Confidentiality dan privasi merupakan dua hal
yang berbeda. Kerahasiaan mengarah kepada keharusan atau kewajiban
perawat untuk melndungi seluruh informasi kesehatan klien. Privasi merangah
kepada pasien perlu dilayani dengan memperhatikan haknya. Pelanggaran
kerahasiaan pasien atau privasi dapat disengaja ataupun tidak disengaja dan
dapat terjadi dalam berbagai cara. Perawat mungkin melanggar kerahasiaan
atau privasi klien dengan memposting informasi mengenai klien menggunakan
media sosial. Contohnya termasuk membuat komentar tentang seorang pasien
yang digambarkan dengan jelas sehingga mudah diidentifikasi identitasnya,
ataupun dengan memposting video atau foto dari pasien tanpa persetujuan
pasien atau untuk tujuan yang tidak ada kaitannya dengan kesehatan (Cronquist
& Spector, 2011).
Prinsip etik kedua yang terintegrasi pada kode etik pertama adalah prinsip
equality atau kesamaan. Prinsip ini mengajarkan bahwa dalam praktek
keperawatan tidak diperkenankan perawat membeda-bedakan pasien dari segi

etnik, budaya, agama maupun kelas ekonomi untuk memberikan asuhan


keperawatan. Asuhan keperawatan diberikan atas dasar kebutuhan klien (Prof.
Dr. dr. Eryati Darwin & Dr. dr. Hardisman, 2015).
Prinsip etik selanjutnya yang terintegrasi pada kode etik pertama adalah
justice. Prinsip Justice menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan.
Nilai ini direfleksikan dalam praktek profesional kerika perawat bekerja untuk
terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar
untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan (Prof. Dr. dr. Eryati Darwin &
Dr. dr. Hardisman, 2015). Keadilan erat kaitannya dengan pemberian tindakan
yang sama tanpa membeda-bedakan. Tindakan yang sama tidak harus selalu
sama pada semua pasien. Arti dari prinsip keadilan disini adalah perawat
melakukan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Tidak ada tindakan
keperawatan yang diberikan kurang dari kebutuhan klien atau bahkan melebihi
kebutuhan yang seharusnya. Sehingga, seluruh tindakan yang dilakukan perawat
efisien dan efektif untuk mengatasi masalah klien.
Kode etik kedua adalah aturan yang mengatur hubungan antara perawat
dengan praktik keperawatan yang dilakukannya. Perawat harus memelihara dan
meningkatkan kompetensi yang dimiliki, sehingga perawat harus senantiasa
menjaga mutu pelayanan yang diberikan berdasar kejujuran yang professional
sesuai dengan kebutuhan klien. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan
pada informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi
seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan
delegasi kepada orang lain. Perawat dalam menjalankanasuhan keperawatannya
harus menjaga nama baik profesi dengan melakukan asuhan keperawatan yang
professional (PPNI, 2000). Hasil penelitian yang dilakukan Safitri (2010)
menunjukkan sikap tanggung jawab perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit
Bhakti Wira Tamtama Semarang terhadap tugasnya 71,2% atau 47 orang
dinyatakan mempunyai sikap sedang. Hal tersebut dinyatakan dengan sikap
setuju perawat terhadap penyataan bahwa perawat merasa skill yang dimilikinya
sekarang sudah cukup untuk merawat pasien di rumah sakit. Hal tersebut tidak
sesuai dengan kode etik keperawatan PPNI yaitu perawat senantiasa
memelihara mutu pelayanan perawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional
dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan perawatan sesuai dengan
kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat. Rendahnya kemauan perawat
untuk melakukan upgrade skill masih banyak terjadi. Berbagai aturan mulai
dikembangkan untuk evaluasi kompetensi perawat. Kompetensi tidak hanya
berpusat pada ketrampilan klinis, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis dan
penyelesaian masalah. Perawat juga harus mampu peka terhatap teknologi
terbaru, kecenderungan dan isu yang berkembang yang dapat menjadi dasar
evidence based nursing practice untuk meningkatkan kualitas atau mutu
pelayanan keperawatan (Allen et al., 2008).
Prinsip etik yang terimplementasi pada kode etik kedua adalah prinsip
Kejujuran. Prinsip veracity atau kejujuran berkaitan erat dengan nilai moral dan
nilai-nilai kebenaran. Nilai ini sangat penting dimiliki oleh para petugas kesehatan
untuk memberikan kebenaran pada setiap pasien. Prinsip ini berhubungan
dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan suatu kebenaran yang
berhubungan suatu informasi selama pasien mendapatkan perawatan. Selain itu
prinsip kejujuran juga teraplikasikan untuk pemberian asuhan keperawatan
sesuai dengan permasalahan yang dialami. Perawat tidak akan memberikan
tindakan keperawatan yang tidak dibutuhkan klien (Amelia, 2013). Prinsip
veracity atau kejujuran erat dapat diimplementasikan pada komunikasi terapeutik
perawat. Perawat dalam menyampaikan kondisi klien harus menjunjung tinggi
prinsip kejujuran, sehingga keluarga mengetahui bagaimana kondisio klien,

tindakan apa yang akan dilaksanakan pada klien dapat diketahui secara pasti.
Namun untuk menyampaikan informasi baik pada klien maupun keluarga harus
memperhatikan aspek pengetahuan, sehingga keluarga dank lien dapat
menerima informasi sesuai kondisi nyata.
Prinsip etik yang juga terimplikasi pada kode etik kedua adalah
benefisience dan nonmaleficience. Kedua prinsip tersebut diaplikasikan untuk
memberikan asuhan keperawatan yang bermutu pada klien. Beneficience berarti
melakukan yang baik. Perawat memilikki kewajiban untuk melakukan dengan
baik, yaitu melakukan proses keperawatan dengan baik dan semaksimal
mungkin. Prinsip ini menuntut perawat untuk melakukan tindakan yang
menguntungkan pasiennya atas dasar kebaikan. Seluruh tindakan yang
dilakukan perawat harus bermanfaat bagi pasien. tidak ada tindakan perawat
yang sia-sia hanya karena untuk memaksimalkan anggaran atau yang lainnya.
Sehingga, seluruh tindakan atau asuhan keperawatan yang diberikan pada klien
harus berdasar analisis yang tepat terhadap masalah klien, sehingga
perencanaan tindakan dapat efektif dan efisien (J. B Butts, 2013). Prinsip
Nonmaleficience adalah tidak merugikan pasien. prinsip ini mengandung arti
bahwa tidak melukai atau tidak membahayakan orang lain. Dalam hal ini perawat
dituntut untuk melakukan tindakan yang tidak membahayakan atau berisiko
menciderai pasiennya. Prinsip ini harus diperhatikan perawat agar tidak terjadi
malpraktik keperawatan. Aplikasi prinsip ini membutuhkan komitmen moral yang
kuat sehingga seluruh tindakan yang dilakukan perawat tidak membawa dampak
buruk bagi pasien (J.B. Butts et al., 2015). Prinsip nonmaleficience menekankan
bahwa pasien harus dilindungi dari tindakan yang merugikan mulai dari
melindungi pasien dari bahaya, kecacatan dan luka. Selain perlindungan
terhadap fisik pasien, perlindungan terhadap psikologis maupun sosial terhadap
tindakan yang dilakukan perawat juga harus diperhatikan. Tantangan yang besar
ada pada perawat psikiatrik. Perawat jiwa dekat sekali dengan tindakan restrain.
Restrain pasti akan menimbulkan luka pada pasien baik fisik, psikologis maupun
sosial. Namun, tindakan restrain tidak akan dapat dihindarkan apabila pasien
akan membahayakan dirinya sendiri, keluarga, lingkungan maupun perawat.
Sehingga dalam pelaksanaan restrain dibutuhkan Standart Operasional Prosedur
yang jelas untuk meminimalkan dampak yang tidak diinginkan atau merugikan
klien.
Kode etik keperawatan selanjutnya adalah tanggung jawab perawat
terhadap masyarakat. Perawat mengemban tanggung jawab bersama
masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam
memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat (PPNI, 2000). Aplikasi dari
kode etik ini lebih menekankan pada tindakan promotif dan preventif. Tujuan
utama perawat haruslah memandirikan masyarakat dalam mengelola kesehatan.
Prinsip etika yang dominan pada keperawatan komunitas adalah autonomy.
Pada prinsip otonomi diyakini bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu
membuat keputusan sendiri. Masyarakat dipandang sebagai orang dewasa yang
kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki
berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip ini
bentuk keperdulian seseorang atau dipandang sebagai persetujuan tidak
memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi adalah hak kemandirian dan
kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri (Husted & Husted, 2008).
Perawat harus melibatkan masyarakat dalam membuat asuhan keperawatan
komunitas. Perawat hanya sebagai fasilitator dan motivator dalam melakukan
tindakan kesehatan masyarakat. Masyarakat harus diberikan penjelasan terlebih
dahulu tentang tindakan yang akan dilakukan. Tanpa adanya paparan informasi

terlebih dahulu, masyarakat dapat mengalami kesalahan atau tidak seperti yang
diharapkan.
Kode etik keperawatan selanjutnya memuat tentang tanggung jawab
perawat terhadap teman sejawat. Perawat mempunyai tanggung jawab untuk
membina hubungan baik dengan perawat atau tenaga kesehatan lainnya.
Perawat juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi pasien dari tindakan
yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang tidak kompeten (PPNI, 2000).
Singgungan pada kode etik ini dapat terjadi pada pendidikan klinis keperawatan.
Pada pendidikan klinis keperawatan perawat harus membina hubungan yang
baik pada teman sejawat dalam hal ini mahasiswa dan harus membantu
mahasiswa tersebut untuk mencapai kompetensinya. Hal sebaliknya akan
dihadapi perawat, karena perawat harusnya melindungi klien dari tenaga
kesehatan yang tidak kompeten. Sehingga, untuk penerapan proses
pembelajaran klinik perawat harus dilakukan dengan tepat. Perawat harus
menerapkan metode bimbingan dengan tepat sehingga dapat meningkatkan
kompetensi mahasiswa namun juga harus mampu melindungi klien dari hal yang
membayakan atau merugikan (J. B Butts, 2013).
Kode etik keperawatan terakhir mengatur tentang tanggung jawab perawat
terhadap profesi. Perawat mempunyai tanggung jawab untuk menentukan
standart pendidikan dan pelayanan keperawatan bersama profesi. Perawat juga
mempunyai tanggung jawab berperan aktif dalam mengembangkan profesi
keperawatan dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk memberikan
asuhan keperawatan yang bermutu (PPNI, 2000).
Prinsip etika yang tercermin dalam kode etik keperawatan memiliki peran
yang penting bagi profesi keperawatan. Prinsip etika dank ode etik tersebut
dapat digunakan sebagai batasan perawat dalam melakukan praktek
keperawatan. Prinsip dank ode etik tersebut memberi keamanan bagi perawat
dalam praktek keperawatan dan melindungi merapat, pasien maupun lingkungan
dari bahaya ataupun kerugian.
Kesimpulan dan Saran
Perawat merupakan profesi yang berhubungan lansung dengan manusia.
Perawat harus mampu melihat manusia sebagai satu kesatuan yang utuh dan
unik. Perawat membutuhkan sebuah alat bantu yang dapat digunakan sebagai
landasan membangun interaksi dengan pasien, masyarakat maupun teman
sejawat. Landasan tersebutlah yang akan mengatur tanggung jawab perawat
terhadap pasien, keluarga pasien, masyarakat, profesi, dan teman
sejawat.landasan mengenai tanggung jawab perawat itulah yang pada akhirnya
disebut dengan kode etik keperawatan.
Kode etik keperawatan terdiri dari tanggung jawab perawat pada pasien,
keluarga dan masyarakat, tanggung jawab perawat terhadap profesi dan teman
sejawat. Kode etik berperan penting dalam melindungi praktek professional
perawat. Dengan adanya perlindungan ini, maka perawat tidak akan dengan
mudah dipidanakan karena asuhan yang diberikannya. Selagi asuhan yang
diberikannya sesuai dengan standart yang berlaku dan tidak melanggar kode
etik, maka perawat akan mendapat perlindungan dari praktek professional yang
dilakukannya.
Kode etik disusun dari prinsip etik. prinsip etik mulai dari otonomi,
beneficience, nonmalefecience, justice, equality, veracity dan confidentiality.
Aplikasi dari prinsip etik diatas akan menjadikan asuhan keperawatan yang
diberikan perawat bermutu dan terlindungi dari kesalahan atau malpraktik.
Prinsip etik diatas berperan dalam memanusiakan klien secara utuh dan unik

sehingga tindakan yang diberikan perawat tidak akan membahayakan pasien,


perawat, keluarga maupun lingkungan.
Penulis menyarankan sebagai seorang perawat, kita harus memahami
benar prinsip etik keperawatan. Karena dengan menjunjung tinggi prinsip
tersebut kita akan mampu memberikan asuhan keperawatan yang terbaik bdan
bermutu serta jauh dari kemungkinan mengancam atau membahayakan pasien.
sehingga asuhan keperawatan yang kita berikan akan terlindungi secara
professional oleh kode etik profesi keperawatan.

Daftar Pustaka
Allen, P, Launcher, K, Bridges, R. A, Francis-Johnson, P, McBride, S. G, &
Olivarez, Jr. A. (2008). Evaluating continuing competency: A
challenge for nursing. The Journal of Continuing Education in
Nursing, 39(2), 81-85.
Amelia, N. (2013). Prinsip etika keperawatan.
Butts, J. B. (2013). Nursing ethics: across the curriculum and into
practise. Burlington USA: Jones & Bartlett Learning.
Butts, J.B., Butts, P.U.S.M.C.N.H.M.J.B., & Rich, K.L. (2015). Nursing
Ethics: Jones & Bartlett Learning.
Cronquist, R, & Spector, N. (2011). Nurses And Social Media:
Regulatory Concerns And Guidelines. Journal for NUrsing
Regulation, 2(3), 37-40.
Grace, A.P.C.S.N.B.C.B.M.P., & Grace, P.J. (2013). Nursing Ethics and
Professional Responsibility in Advanced Practice: Jones & Bartlett
Learning, LLC.
Husted, J.H., & Husted, G.L. (2008). Ethical Decision Making in Nursing
and Health Care: The Symphonological Approach, Fourth Edition:
Springer Publishing Company.
Kode Etik Keperawatan Indonesia (2000).
Prof. Dr. dr. Eryati Darwin, P.A., & Dr. dr. Hardisman, M.H.I.D.D.P.H.
(2015). Etika Profesi Kesehatan: Deepublish.
Safitri, M. K. (2010). Penerapan kode etik keperawatan di rumah sakit
bhakti wira tamtama semarang. Jurnal Keperawatan, 14, 42-51.