Anda di halaman 1dari 3

JUDUL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1983


TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN
PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA
TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2009

Strukutur isi

Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah yang mengatur semua sistem, prosedur dan
mekanisme dan juga definisi dari subjek dan objek yang dikenakan PPn yang
bertujuan untuk memberikan arahan kepada Wajib pajak baik pribadi atau badan
dalam melakukan pembayaran PPn.

BAB 1

Berisi tentang ketentuan umum , pasal 1 - 2


Membahas definisi dari semua objek maupun subjek yang dikenakan PPn yang
digunakan dalam Undang-Undang ini.

BAB II

Berisi tentang prosedur Pengukuhan pengusaha kena pajak, pasal 3


Pasal 3 dihapus, dikarenakan ketentuan pasal 3 yang mengatur tentang
pengukuhan pengusaha kena pajak, dihapus dan dipindahkan ke dalam UU
tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan.

BAB IIA

Kewajiban melaporkan usaha dan kewajiban memungut, menyetor, dan


melaporkan pajak yang terutang, pasal 3A
Mengatur tentang pengusaha yang melakukan penyerahan, kecuali pengusaha
kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, harus wajib
melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
Namun ada juga jika pengusaha kecil yang ingin dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak maka ada ketentuan yang harus dilaksanakan.

BAB III

Objek Pajak, pasal 4 - 6


Dalam bab ini mengatur apa saja baik itu barang ataupun jasa dan juga kegiatan
yang dikenakan atas PPn, dan juga barang atau jasa yang tidak dikenai PPn,
selain itu mengatur tentang jasa yang tidak dikenai PPn. Dibahas juga didalam
bab ini tentang batasan kegiatan dan jenis BKP/JKP yang atas kegiatan
ekspornya dikenai PPn. Dalam bab ini juga mengatur tentang pengenaan pajak
penjualan atas Barang Mewah (pasal 5) dan PPn atas barang mewah yang
mengalami retur oleh pembeli serta ketentuan dari tata cara pengurangan PPn
dan pajak penjualan atas barang mewah.

BAB IV

Tarif Pajak dan cara Menghitung Pajak, pasal 7 s/d 10

Didalam bab ke empat ini berisi aturan yang mengatur besarnya tarif PPn,tarif
kegiatan ekspor BKP berwujud atau tidak dan juga ekspor atas JKP, serta tarif
pajak penjualan atas baang mewah dan juga tata cara penghitungan PPn. Selain
itu dalam bab ini juga mengatur tentang pajak masukan dan pajak keluaran yang
dapat dikreditkan. Di dalam pasal 10 membahas aturan dari cara menghitung
pajak penjualan atas barang mewah yang terutang dan juga mengatur hak
pengusaha kena pajak yang melakukan kegiatan ekspor BKP yang tergolong
mewah dapat meminta kembali pajak penjualan atas barang mewah yang telah
dibayar, sepanjang pajak penjualannya tersebut dibebankan sebagai biaya.
BAB V

Saat Dan Tempat Terutang Dan Laporan Perhitungan Pajak, pasal 11-16
Dalam pasal 11 diatur bahwa PPn dan pajak penjualan aas barang mewah
menganut prinsip akrual, yang artinya terutangnya pajak terjadi saat penyerahan
BKP/JKP, meskipun pembayaran atas penyerahan tersbut belum diterima atau
masih sebagian. Namun Dirjen pajak dapat menentukan saat lain sebagai saat
terutang untuk menghindari adanya ketidakadilan. Selain membahas waktu,
dalam bab ini juga mewajibkan pengusaha kena pajak untuk mebuat faktur
pajak untuk setiap penyerahan BKP/JKP dan juga transaksi ekspor, dan harus
menyetorkan jumlah pajak yang tercantum dalam faktur pajak ke Kas Negara.
untuk waktu penyetoran telah diatur harus dilakukan paling lama akhir bulan
berikutnya setealah berakhirnya masa pajak dan sebelum surat pemberitahuan
masa PPn disampaikan.

BAB VA

Ketentuan Khusus, Pasal 16a - 16f


Ketentuan khusus dari pemungut pajak adalah kewajiban untuk memungut,
menyetor dan melaporkan pajak yang telah dipungutnya, namun demikian ada
kewajiban tetap dari pengusaha kena pajak untuk melaporkan pajak yang telah
dipungut oleh pemungut. Dalam bab ini juga diatur tentang pajak terutang yang
tidak dipungut baik untuk sementara atau selamanya serta juga ketentuan dari
pembeli BKP atau penerima JKP mempunyai tanggung jawab secara renteng
atas pembayaran pajak sepanjang tidak dapat menunjukkan bukti bahwa telah
dibayar.

BAB VI

Ketentuan Lain-Lain, Pasal 17


Hal-hal yang menyangkut pengertian dan tata cara pemungutan berkenaan
dengan pelaksanaan Undang-undang ini, yang secara khusus belum diatur dalam
Undang-undang ini berlaku ketentuandaam Undang-undang tentang ketentuan
umum dan tata cara perpajakan serta peraturan perundang-undangan lainnya.

BAB VII
Ketentuan Peralihan, Pasal 18

Berisi tentang ketentuan lebih lanjut apabila undang-undang Pajak Penjualan


1951 tidak berlaku maka Menteri Keuangan diberi kewenangan untuk
menetapkan peraturan pelaksanaan yang lain dari ketentuan tersebut.
BAB VIII
Ketentuan Penutup, Pasal 19
Berisi tentang hal-hal yang belum diatur dalam Undang-undang ini diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Kesimpulan

Undang-undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 1983 tentang pajak


pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Republik Indonesia
nomor 42 tahun 2009 berisi tentang ketentuan umum, definisi dari subjek
maupun objek pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas
barang mewah, mengatur kewajiban melaporkan usahanya dan melaporkan
pajak terhutangnya, mekanisme penentuan tarif pajak dan perhitungan pajak,
mengatur saat tempat laporan terhutang dan laporan perhitungan pajak, serta
mengatur ketentuan khusus dan ketentuan lain-lain.