Anda di halaman 1dari 10

Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar

dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan bahwa Agama Islam
menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu'amalat
dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan
perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat
mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-'alamin dalam
kehidupan di muka bumi ini.
Muhammadiyah berpandangan bahwa berkiprah dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan
salah satu perwujudan dari misi dan fungsi melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar
sebagaimana telah menjadi panggilan sejarahnya sejak zaman pergerakan hingga masa awal dan
setelah kemerdekaan Indonesia. Peran dalam kehidupan bangsa dan negara tersebut diwujudkan
dalam langkah-langkah strategis dan taktis sesuai kepribadian, keyakinan dan cita-cita hidup,
serta khittah perjuangannya sebagai acuan gerakan sebagai wujud komitmen dan tanggungjawab
dalam mewujudkan "Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur".
Bahwa peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilakukan melalui dua strategi dan
lapangan perjuangan. Pertama, melalui kegiatan-kegiatan politik yang berorientasi pada
perjuangan kekuasaan/kenegaraan (real politics, politik praktis) sebagaimana dilakukan oleh
partai-partai politik atau kekuatan-kekuatan politik formal di tingkat kelembagaan negara.
Kedua, melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang bersifat pembinaan atau pemberdayaan
masyarakat maupun kegiatan-kegiatan politik tidak langsung (high politics) yang bersifat
mempengaruhi kebijakan negara dengan perjuangan moral (moral force) untuk mewujudkan
kehidupan yang lebih baik di tingkat masyarakat dan negara sebagaimana dilakukan oleh
kelompok-kelompok kepentingan (interest groups).
Muhammadiyah secara khusus mengambil peran dalam lapangan kemasyarakatan dengan
pandangan bahwa aspek kemasyarakatan yang mengarah kepada pemberdayaan masyarakat
tidak kalah penting dan strategis daripada aspek perjuangan politik kekuasaan. Perjuangan di
lapangan kemasyarakatan diarahkan untuk terbentuknya masyarakat utama atau masyarakat
madani (civil society) sebagai pilar utama terbentuknya negara yang berkedaulatan rakyat. Peran
kemasyarakatan tersebut dilakukan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti halnya
Muhammadiyah. Sedangkan perjuangan untuk meraih kekuasaaan (power struggle) ditujukan
untuk membentuk pemerintahan dalam mewujudkan tujuan negara, yang peranannya secara
formal dan langsung dilakukan oleh partai politik dan institusi-institusi politik negara melalui
sistem politik yang berlaku. Kedua peranan tersebut dapat dijalankan secara objektif dan saling
terkait melalui bekerjanya sistem politik yang sehat oleh seluruh kekuatan nasional menuju
terwujudnya tujuan negara.

Muhammadiyah sebagai organisasi sosial-keagamaan (organisasi kemasyarakatan) yang


mengemban misi da'wah amar ma'ruf nahi munkar senantiasa bersikap aktif dan konstruktif
dalam usaha-usaha pembangunan dan reformasi nasional sesuai dengan khittah (garis)
perjuangannya serta tidak akan tinggal diam dalam menghadapi kondisi-kondisi kritis yang
dialami oleh bangsa dan negara. Karena itu, Muhammadiyah senantiasa terpanggil untuk
berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan berdasarkan pada khittah
perjuangan sebagai berikut:
Muhammadiyah meyakini bahwa politik dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah
satu aspek dari ajaran Islam dalam urusan keduniawian (al-umur ad-dunyawiyat) yang harus
selalu dimotivasi, dijiwai, dan dibingkai oleh nilai-nilai luhur agama dan moral yang utama.
Karena itu diperlukan sikap dan moral yang positif dari seluruh warga Muhammadiyah dalam
menjalani kehidupan politik untuk tegaknya kehidupan berbangsa dan bernegara.
Muhammadiyah meyakini bahwa negara dan usaha-usaha membangun kehidupan berbangsa dan
bernegara, baik melalui perjuangan politik maupun melalui pengembangan masyarakat, pada
dasarnya merupakan wahana yang mutlak diperlukan untuk membangun kehidupan di mana
nilai-nilai Ilahiah melandasi dan tumbuh subur bersamaan dengan tegaknya nilai-nilai
kemanusiaan, keadilan, perdamaian, ketertiban, kebersamaan, dan keadaban untuk terwujudnya
"Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur".
Muhammadiyah memilih perjuangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui usahausaha pembinaan atau pemberdayaan masyarakat guna terwujudnya masyarakat madani (civil
society) yang kuat sebagaimana tujuan Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan
kenegaraan sebagai proses dan hasil dari fungsi politik pemerintahan akan ditempuh melalui
pendekatan-pendekatan secara tepat dan bijaksana sesuai prinsip-prinsip perjuangan kelompok
kepentingan yang efektif dalam kehidupan negara yang demokratis.
Muhammadiyah mendorong secara kritis atas perjuangan politik yang bersifat praktis atau
berorientasi pada kekuasaan (real politics) untuk dijalankan oleh partai-partai politik dan
lembaga-lembaga formal kenegaraan dengan sebaik-baiknya menuju terciptanya sistem politik
yang demokratis dan berkeadaban sesuai dengan cita-cita luhur bangsa dan negara. Dalam hal ini
perjuangan politik yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan politik hendaknya benar-benar
mengedepankan kepentingan rakyat dan tegaknya nilai-nilai utama sebagaimana yang menjadi
semangat dasar dan tujuan didirikannya negara Republik Indonesia yang diproklamasikan tahun
1945.
Muhammadiyah senantiasa memainkan peranan politiknya sebagai wujud dari dakwah amar
ma'ruf nahi munkar dengan jalan mempengaruhi proses dan kebijakan negara agar tetap berjalan
sesuai dengan konstitusi dan cita-cita luhur bangsa. Muhammadiyah secara aktif menjadi

kekuatan perekat bangsa dan berfungsi sebagai wahana pendidikan politik yang sehat menuju
kehidupan nasional yang damai dan berkeadaban.
Muhammadiyah tidak berafiliasi dan tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan kekuatankekuatan politik atau organisasi manapun. Muhammadiyah senantiasa mengembangkan sikap
positif dalam memandang perjuangan politik dan menjalankan fungsi kritik sesuai dengan
prinsip amar ma'ruf nahi munkar demi tegaknya sistem politik kenegaraan yang demokratis dan
berkeadaban.
Muhammadiyah memberikan kebebasan kepada setiap anggota Persyarikatan untuk
menggunakan hak pilihnya dalam kehidupan politik sesuai hati nurani masing-masing.
Penggunaan hak pilih tersebut harus merupakan tanggungjawab sebagai warga negara yang
dilaksanakan secara rasional dan kritis, sejalan dengan misi dan kepentingan Muhammadiyah,
demi kemaslahatan bangsa dan negara.
Muhammadiyah meminta kepada segenap anggotanya yang aktif dalam politik untuk benarbenar melaksanakan tugas dan kegiatan politik secara sungguh-sungguh dengan mengedepankan
tanggung jawab (amanah), akhlak mulia (akhlaq al-karimah), keteladanan (uswah hasanah), dan
perdamaian (ishlah). Aktifitas politik tersebut harus sejalan dengan upaya memperjuangkan misi
Persyarikatan dalam melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar.
Muhammadiyah senantiasa bekerjasama dengan pihak atau golongan mana pun berdasarkan
prinsip kebajikan dan kemaslahatan, menjauhi kemudharatan, dan bertujuan untuk membangun
kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah yang lebih baik, maju, demokratis dan berkeadaban.

http://muhammadiyahjawatengah.org/index.php?tj=hal&id=11 diakses tgl 24

KHITTAH PERJUANGAN PEMUDA MUHAMMADIYAH


I. Pendahuluan
Secara etimologis, kata khittah berasal dari derivasi bahasa Arab- - yang berarti
rencana, jalan, atau garis (Kamus Al-Munawwir). Dengan demikian, khittah perjuangan dapat
diartikan sebagai rencana, jalan, atau garis perjuangan Pemuda Muhammadiyah dalam
mewujudkan misi dan cita-cita gerakannya.
Khittah perjuangan Pemuda Muhammadiyah berisi pokok-pokok pikiran yang diharapkan dapat
menjadi garis perjuangan gerakan Pemuda Muhammadiyah ke depan. Di dalam rumusan Khittah
Perjuangan ini terkandung aspek pembaruan sekaligus kesinambungan. Aspek pembaruan
diarahkan pada upaya peneguhan eksistensi Pemuda Muhammadiyah sebagai gerakan Islam
yang mampu menyelesaikan problematika umat Islam, khususnya mereka yang bernaung di

bawah panji-panji persyarikatan Muhammadiyah. Sementara aspek kesinambungan merupakan


upaya mempertahankan capaian-capaian positif yang selama ini dilakukan oleh Pemuda
Muhammadiyah.
Khittah Perjuangan Pemuda Muhammadiyah diharapkan bukan hanya sekedar retorika yang
kaya wacana tetapi miskin kerja nyata. Melalui khittah, gerakan Pemuda Muhammadiyah
diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemulihan krisis yang telah lama menghimpit
sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara. Sudah saatnya Pemuda Muhammadiyah bangkit
sebagai kekuatan terdepan di dalam merespon dan menyikapi dinamika zaman. Pemuda
Muhammadiyah harus tekun, rajin, dan cerdas dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi hari
esok. Dalam konteks ini, firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 18 berikut ini perlu menjadi
pijakan dalam setiap gerak dan langkah Pemuda Muhammadiyah :
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Secara objektif, perumusan khittah perjuangan Pemuda Muhammadiyah didorong oleh faktor
internal dan eksternal organisasi. Faktor internal merujuk pada evaluasi dan otokritik terhadap
kiprah organisasi di dalam melayani umat Islam dan masyarakat lain pada umumnya.
Sedangkan faktor eksternal merujuk pada fenomena perubahan dunia yang menuntut setiap
orang untuk terlibat aktif dalam mewarnai perkembangan peradaban. Kompetisi dan persaingan
dalam seluruh aspek kehidupan harus dihadapi, bukan dihindari.
Sejalan dengan itu, motto perjuangan Pemuda Muhammadiyah FASTABIQUL KHAIRAT
harus kembali menjadi spirit dan landasan gerak bagi setiap aktivitas dan kreativitas yang
dilakukan oleh kader-kader Pemuda Muhammadiyah di semua level kepemimpinan. Dengan
semangat ini, Pemuda Muhammadiyah harus tampil sebagai pelopor dalam mewujudkan
pencerahan peradaban dan pembebasan umat dari keterkungkungan kemiskinan, kebodohan, dan
ketidakadilan. Semua itu harus menjadi cita-cita umat yang semestinya diperjuangkan secara
kolektif tanpa memandang perbedaan suku, ras, tingkat pendidikan, bahkan agama.
II. Doktrin Perjuangan
Pemuda Muhammadiyah melandasi kiprah perjuangannya pada cita-cita Muhammadiyah untuk
menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sehingga seluruh gerakan Pemuda
Muhammadiyah diarahkan pada upaya akselerasi pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian,
dimensi keagamaan, keilmuan, dan kemasyarakatan yang menjadi inspirasi perjuangan
Muhammadiyah selama ini harus dijadikan ruh pergerakan Pemuda Muhammadiyah.
Pada tataran praktis, Pemuda Muhammadiyah meneguhkan doktrin perjuangannya melalui
upaya:
Pertama, mempertegas komitmen dan jati dirinya pada pemberdayaan umat di seluruh sektor
kehidupan.

Kedua, melakukan rekruitmen kader-kader berkualitas secara proaktif di tengah-tengah


masyarakat dengan cara melibatkan mereka pada setiap pelaksanaan program-program kerja
Pemuda Muhammadiyah.
Ketiga, meningkatkan kapasitas dan kualitas para kader melalui jenjang pendidikan kader yang
terencana secara sistematis dan berkesinambungan.
III. Dimensi-dimensi Perjuangan
A. Dimensi Keagamaan
Pada dimensi keagamaan, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat berperan aktif dalam
menggiring umat ke posisi arus tengah Islam (ummatan wa syatha). Dengan posisi ini, umat
Islam tidak terjebak dalam skenario yang dimainkan oleh pihak lain yang kerapkali bertujuan
untuk memecah belah umat Islam. Sudah saatnya umat Islam dikembalikan pada satu cita-cita,
yaitu membebaskan manusia dari setiap patologi sosial dan penyakit peradaban yang selama ini
merasuki alam pikiran manusia modern. Untuk itu, seluruh kader Pemuda Muhammadiyah harus
menebar pesona Islam di setiap waktu dan tempat dengan cara melaksanakan ajaran Islam secara
total sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 208 yang berbunyi:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara total, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu.
Untuk melaksanakan ajaran Islam secara total, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat
mengaktifkan kembali gerakan dakwah jamaah dengan menjadikan masjid sebagai pusat
informasi dan komunikasi antar aktivis. Dakwah jamaah diperlukan bukan hanya untuk
meningkatkan ukhuwah Islamiyah di kalangan aktivis pemuda, tetapi lebih dari itu dawah
jamaah juga diharapkan mampu melindungi persyarikatan Muhammadiyah dari upaya
penyusupan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu di kalangan umat Islam yang
memiliki kiprah dan ideologi yang berbeda dengan Muhammadiyah.
Selain itu, Pemuda Muhammadiyah harus memperluas jaringan dakwahnya ke seluruh
masyarakat hingga menyentuh berbagai suku, ras, budaya dan adat istiadat yang berlaku di
tengah-tengah masyarakat. Jalan yang dapat ditempuh adalah dengan menghidupkan gerakan
dakwah kultural yang juga berfungsi sebagai sebagai salah satu sarana perekrutan kader-kader
persyarikatan.
Dalam tatanan kehidupan beragama di tengah komunitas umat Islam, Pemuda Muhammadiyah
harus mampu menampilkan dirinya sebagai teladan dalam menjembatani sekaligus memediasi
setiap perbedaan pandangan, penafsiran, dan praktek keagamaan yang terjadi di kalangan umat
Islam.
Pemuda Muhammadiyah harus mampu merajut dan merekatkan ukhuwah Islamiyah dengan cara
mengajak semua pihak untuk kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah secara bersama-sama.

Seiring dengan itu, Pemuda Muhammadiyah dituntut agar selalu menjadi inspirator dan
motivator dalam mengembangkan dakwah Islam yang humanis, terbuka, dan mencerahkan.
Pemuda Muhammadiyah menolak secara tegas segala tindak kekerasan atas nama agama dalam
memperjuangkan dan menegakkan agama Islam. Agama Islam harus disampaikan dengan cara
damai, santun, dan beradab agar Islam benar-benar tampil sebagai pembawa rahmat bagi seluruh
alam (rahmatan lil alamin).
Terkait dengan heterogenitas agama di Indonesia, Pemuda Muhammadiyah harus membuka diri
untuk selalu melakukan dialog antar umat beragama. Cara yang paling efektif untuk dilakukan
adalah menjalin kerjasama lintas agama dalam kerja-kerja kemanusiaan. Pemuda
Muhammadiyah dapat memulai gerakan ini dengan menciptakan musuh bersama (common
enemy) agama-agama berupa kebodohan, kemiskinan, krisis lingkungan, bencana alam, penyakit
menular, narkotika, dan lain-lain.
B. Dimensi sosial
Pada dimensi sosial, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam
merajut kohesivitas sosial dengan seluruh komponen bangsa. Dengan kohesivitas sosial yang
baik, seluruh anak bangsa akan dapat bekerja sama dalam membangun masa depan Indonesia
yang lebih menjanjikan. Kohesivitas sosial hanya dapat diwujudkan jika keadilan dapat
ditegakkan pada seluruh sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, Pemuda
Muhammadiyah harus berani melawan setiap ketidakadilan yang terjadi baik yang dilakukan
secara personal maupun yang diorganisir secara struktural. Pemuda Muhammadiyah
berpandangan bahwa bangsa ini hanya dapat berdiri dengan kokoh atas dasar prinsip-prinsip
keadilan sebagaimana telah diperintahkan Allah dalam surat Al-Nisaa ayat 58 yang berbunyi:
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.
Dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, Pemuda Muhammadiyah mendasarkan pokok
perjuangannya kepada empat macam persoalan mendasar. Pertama, rendahnya kualitas dan tidak
meratanya akses pendidikan bagi semua anak bangsa. Berkenaan dengan hal ini, Pemuda
Muhammadiyah dituntut untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam memperjuangkan
kualitas dan kuantitas lembaga-lembaga pendidikan. Di samping itu, Pemuda Muhammadiyah
juga dituntut untuk selalu mengikuti, mengkritisi, sekaligus memberikan masukan konstruktif
pada setiap produk regulasi pendidikan yang ditetapkan pemerintah.
Kedua, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Untuk menjawab masalah ini,
Pemuda Muhammadiyah dituntut agar selalu berperan aktif dalam memperjuangkan peningkatan
kuantitas dan kualitas sarana pelayanan kesehatan, peningkatan kuantitas anggaran pembiayaan
kesehatan, dan sosialisasi pola dan gaya hidup sehat.
Ketiga, tingginya angka pengangguran dan maraknya tindak kriminalitas. Menyikapi masalah
ini, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat berpartispasi aktif dalam menciptakan lapangan

kerja dan mendukung setiap usaha semua pihak yang diarahkan pada upaya perbaikan taraf
hidup rakyat.
Keempat, rendahnya moral dan akhlak anak bangsa. Terkait masalah ini, Pemuda
Muhammadiyah harus memprakarsai berbagai macam program yang berorientasi pada upaya
revitalisasi akhlak dan moral bangsa. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara menghidupkan
kembali ajaran agama sebagai basis utama pertahanan akhlak dan moral. Selain itu, kearifankearifan lokal yang dijadikan sebagai panutan di masa lalu dapat dijadikan tawaran alternatif
dalam mengimbangi moralitas sekuler, hedonis, dan materialis akibat perkembangan informasi
dan teknologi serta arus globalisasi yang tidak terkendali.
C. Dimensi Ekonomi
Dimensi eknomi merupakan elan vital yang harus menjadi fokus perhatian utama Pemuda
Muhammadiyah. Secara umum, tingkat ekonomi umat Islam masih berada di bawah tingkat
ekonomi umat beragama lain. Fakta empiris menunjukkan bahwa saat ini umat Islam cenderung
dijadikan sebagai sasaran market paling empuk dari negara-negara produsen. Umat Islam sama
sekali tidak mampu bersaing dalam pasar global yang semakin hari semakin kompetitif. Padahal,
ajaran Islam mengharuskan umat Islam untuk tidak hanya memperhatikan persoalan-persoalan
ukhrawi semata, tetapi juga harus memperhatikan persoalan-persoalan duniawi sebagaimana
firman Allah dalam surat Al-Qashas ayat 77 yang berbunyi:
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.
Melalui refleksi yang cukup dalam terhadap ayat tersebut, Pemuda Muhammadiyah merasa
terpanggil untuk segera mencari solusi dalam memberdayakan ekonomi umat Islam. Langkah
awal yang dapat dilakukan adalah mengembangkan sistem ekonomi syariah pada seluruh
dimensi ekonomi umat sebagai antitesis terhadap sistem ekonomi kapitalis yang selama ini
menjajah umat Islam. Pengembangan ekonomi syariah dapat dilakukan
dengan mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) melalui pemberdayaan lembaga
keuangan mikro syariah (LKMS) baik formal seperti bank, asuransi, zakat, infaq, shadaqah, dan
koperasi maupun informal seperti pendirian lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang
berorientasi pada pemberdayaan ekonomi umat pada sektor pertanian, perikanan, dan unit-unit
ekonomi kerakyatan lainnya.
Sejalan dengan itu, Pemuda Muhammadiyah juga dituntut untuk mendidik kader-kadernya agar
siap diterjunkan ke dunia usaha sebagai pejuang-pejuang ekonomi umat di tengah-tengah
masyarakat. Dalam konteks ini, potensi jaringan Pemuda Muhammadiyah secara nasional perlu
dikembangkan sehingga memiliki daya saing yang cukup tangguh dalam menggerakkan
perekenomian umat. Potensi lain yang dapat dikembangkan adalah pemberdayaan institusiinstitusi Islam seperti mesjid, sekolah-sekolah Islam, majlis talim, dan Islamic center sebagai
pusat perekonomian umat.

D. Dimensi Politik
Pemuda Muhammadiyah berpandangan bahwa agama Islam menyangkut seluruh aspek
kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan muamalat dunyawiyah yang merupakan satu
kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif.
Oleh karena itu, Pemuda Muhammadiyah menilai bahwa politik dan berpolitik bukanlah hal
yang dilarang oleh agama. Dan Pemuda Muhammadiyah bukanlah organisasi apolitik. Bahkan
sebaliknya, Pemuda Muhammadiyah menjadikan politik sebagai salah satu sarana dakwah yang
paling efektif dalam membumikan kehendak Tuhan di muka bumi. Namun demikian, Pemuda
Muhammadiyah meyakini bahwa kekuasaan politik merupakan ujian yang diberikan oleh Allah
kepada manusia sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Anam ayat 165 yang berbunyi:
Artinya : Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di muka bumi dan Dia
meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu
tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya
dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Oleh karena kekuasaan politik merupakan bagian dari ujian Allah, maka Pemuda
Muhammadiyah harus mengarahkan perjuangan politiknya bagi kepentingan Islam dan umat
Islam. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemuda Muhammadiyah dituntut melakukan langkahlangkah sistematis dan strategis melalui empat strategi dan lapangan perjuangan politik yaitu:
Pertama, melalui kegiatan-kegiatan politik yang berorientasi pada perjuangan
kekuasaan/kenegaraan (real politics, politik praktis) sebagaimana dilakukan oleh partai-partai
politik atau kekuatan-kekuatan politik formal di tingkat kelembagaan negara.
Kedua, melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang bersifat pembinaan atau pemberdayaan
masyarakat maupun kegiatan-kegiatan politik tidak langsung (high politics) yang bersifat
mempengaruhi kebijakan negara dengan perjuangan moral (moral force) untuk mewujudkan
kehidupan yang lebih baik di tingkat masyarakat dan negara.
Ketiga, mengelola fragmentasi potensi dan kekuatan politik secara baik dan benar agar seluruh
kepentingan umat Islam dapat terakomodasi secara maksimal. Bila usaha untuk mempersatukan
partai-partai politik Islam di bawah satu bendera sulit dilakukan, maka hal yang paling mungkin
dilakukan adalah mempersatukan politisi Islam di lembaga-lembaga legislatif mulai dari tingkat
pusat sampai ke daerah-daerah. Meskipun kenderaan politik berbeda, namun tujuan dan
orientasinya haruslah tetap sama.
Keempat, pembumian nilai-nilai keislaman di jalur kultural (cultural approach). Melalui lahan
ini, Pemuda Muhammadiyah memiliki peluang yang cukup besar untuk meningkatkan energi
sumber daya umat sebagai basis penguatan civil society. Target akhir yang ingin dicapai adalah
agar Pemuda Muhammadiyah dapat menyalurkan aspirasi politiknya secara maksimal dalam
menjaga kelangsungan agama sekaligus menata kehidupan dunia (hirasat al-din wa siyasat aldunya).
E. Dimensi Kebudayaan dan Peradaban

Melalui kalkulasi sederhana, Pemuda Muhammadiyah memandang bahwa peradaban Barat lebih
maju dari peradaban Islam, antara lain dibuktikan dengan perkembangan ekonomi, teknologi,
dan stabilitas kehidupan sosial-politik yang dicapai Barat. Dengan menggunakan ukuran-ukuran
yang bersifat fisik material, fenomena kebangkitan peradaban Barat merupakan keniscayaan.
Namun bila dikaji lebih dalam, kemajuan sains dan teknologi yang menjadi basis fundamental
bangunan peradaban Barat justru telah menelantarkan dunia di ambang pintu krisis global yang
semakin hari semakin mengkhawatirkan. Krisis global yang dihadapi umat manusia di planet ini
telah menyentuh hampir seluruh dimensi kehidupan seperti bidang kesehatan, teknologi,
ekonomi, politik, ekologi, dan hubungan sosial. Krisis juga melanda dimensi-dimensi intelektual,
moral, dan spiritual. Anehnya, peradaban Barat ini dijadikan sebagai cermin yang harus diikuti
oleh semua negara, termasuk negara-negara Islam. Inilah yang menyebabkan rapuhnya fondasi
peradaban dunia secara global.
Kerapuhan fondasi peradaban Barat itu merupakan peluang besar bagi Pemuda Muhammadiyah
untuk membangun peradaban alternatif yang berdimensi moral dan spiritual. Agenda utama yang
harus dikedepankan antara lain membangun kesadaran eksistensial manusia yang tidak
terpisahkan dari Tuhan. Keyakinan terhadap kehadiran
Tuhan dalam seluruh dimensi kehidupan akan memberikan kekuatan sekaligus kedamaian dalam
hati setiap manusia yang menjadi aktor pendukung setiap kebudayaan.
Bertolak dari realitas obyektif di atas, Pemuda Muhammadiyah dituntut untuk mewujudkan
peradaban Islam masa depan dengan melakukan upaya-upaya rekonstruktif melalui upaya
pembumian wahyu melalui kontekstualisasi ajaran Islam. Kontekstualisasi ajaran Islam tentu
saja harus dibarengi dengan upaya eksplorasi ilmu pengetahuan (scientific exploration). Di
samping itu, Pemuda Muhammadiyah juga harus mengambil peran dalam upaya mencari
penemuan-penemuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan (scientific discovery). Dengan ilmu
pengetahuan yang berorientasi ilahiyah-lah, tatanan kebudayaan dan peradaban dunia dapat
diwujudkan secara baik.
I. Penutup
Khittah perjuangan ini harus dapat mencerminkan kemandirian Pemuda Muhammadiyah dalam
menjalankan fungsinya sebagai organisasi modern yang berorientasi masa depan. Selain itu,
Khittah perjuangan ini harus menjadi variabel pengubah kultur atau budaya berorganisasi kaderkader Pemuda Muhammadiyah ke arah yang lebih baik. Agar kultur dan budaya hasanah
merekat dalam setiap nadi gerakan Pemuda Muhammadiyah, maka diperlukan upaya pembumian
semangat saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dan saling berlomba untuk menuju
cinta dan kasih sayang Allah.
Ya Ilahi anta Maqshudana, wa ridhaka mathlubana.
http://ammmerden.wordpress.com/pcpm/khittah-perjuangan-pemuda-muhammadiyah/