Anda di halaman 1dari 23

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

BAB

Iman Kepada KitabKitab Allah


A. PENDAHULUAN
Setelah mempelajari bab ini diharapkan anda akan dapat menjelaskan
beberapa hal berikut:
1. Menjelaskan pengertian kitab-kitab Allah
2. Memahami persamaan dan perbedaan al-Quran dan Kitab-Kitab Allah
sebelumnya
3. Menjelaskan perbedaan iman kepada al-Quran dengan iman kepada KitabKitab Allah sebelumnya
4. Memahami hakekat dan hikmah beriman kepada kitab-kitab Allah

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Kitab-Kitab Allah
Dalam pengertian bahasa (lughawy/etimologi) kata kitab berasal dari bahasa Arab
adalah bentuk mashdar dari kata yang berarti menulis. Setelah menjadi mashdar

( )berarti tulisan, atau yang ditulis. Bentuk jama dari kitab adalah kutub.
Dalam bahasa Indonesia kitab berarti buku.
Adapun pengertian ishthilahi (terminologis), yang dimaksud dengan kitab Allah
SWT adalah kitab suci yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya melalui
malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat manusia sebagai petunjuk bagi
mereka. Kata al-kitab atau alkutub di dalam al-Quran dipakai untuk beberapa
pengertian:1
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

88

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

1. Menunjukkan semua Kitab Suci yang pernah diturunkan kepada para Nabi
dan Rasul:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan,
akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari
kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi (QS. al-Baqarah 2: 177)
2. Menunjukkan semua Kitab suci yang diturunkan sebelum al-Quran:

Berkatalah orang-orang kafir: "Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul".


Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu dan antara orang
yang mempunyai ilmu Al Kitab" (QS. ar-Raad 13: 43)
3. Menunjukkan Kitab suci tertentu sebelum al-Quran, misalnya Taurat:

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa (QS.
al-Baqarah 2: 87)
4. Menunjukkan Kitab suci al-Quran secara khusus:

Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa (QS. al-Baqarah 2: 2)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

89

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Di samping al-kitab, untuk menunjukkan kitab suci yang diturunkan Allah SWT
kepada para Nabi dan Rasul-Nya, al-Quran memakai juga istilah lain yaitu:
1. Shuhuf, bentuk jama dari shahifah yang berarti lembaran. Dipakai untuk
menunjukkan

Kitab-Kitab suci sebelum al-Quran, khususnya

yang

diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa alaihima as-salam.

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu)


Kitab-kitab Ibrahim dan Musa (QS. al-Ala: 18-19)
2. Zubur, bentuk jama dari zabur yang berarti buku. Dipakai untuk
menunjukkan kitab-kitab suci yang diturunkan Allah sebelum al-Quran.

Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum


kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mu`jizat-mu`jizat yang
nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna (QS. aliImran: 184)
3. Zabur bentuk mufrad dari zubur, dipakai khusus untuk menunjukkan kitab
suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Daud.

Dan Kami berikan Zabur kepada Daud (QS. an-Nisaa: 163)


2. Kitab-Kitab Allah sebagai Wahyu
Kata wahyu ( )secara etimologis adalah bentuk mashdar dari kata auha (

). Dalam bentuk mashdar itu terdapat dua arti, pertama al-khofa (tersembunyi,
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

90

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

rahasia) dan kedua as-surah (cepat). Dinamai demikian karena wahyu itu adalah
semacam informasi yang rahasia, cepat, khusus diketahui oleh pihak-pihak yang
dituju saja. Secara terminologis, wahyu adalah kalam Allah yang diturunkan kepada
para Nabi dan Rasul-Nya.2 Di samping itu, al-Quran menggunakan kata wahyu
untuk beberapa pengertian lain, di antaranya3 :
1. Ilham Fitri yang diberikan kepada manusia, seperti ilham yang diberikan Allah
kepada ibu Musa untuk menyusukan bayinya:

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, (QS. al-Qoshosh 28: 7)
2. Instink yang diberikan kepa hewan-hewan, seperti instink yang diberikan Allah
kepada lebah:

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukitbukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (QS.
an-Nahl 16: 68)
3. Isyarat yang cepat dengan cara memberi tanda dan kode-kode tertentu, seperti
isyarat yang diberikan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih:

Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada
mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. (QS. Maryam 19:
11)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

91

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

4. Bisikan syaitan kepada manusia untuk menggoda dan menipunya:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitansyaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan
kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk
menipu (manusia). (QS. al-Anam 6: 112)
5. Perintah Allah kepada para malaikat-Nya:

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya


Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah
beriman". (QS. al-Anfaal 8: 12)
Wahyu dalam pengertian kalam Allah itu diturunkan oleh Allah kepada para Nabi
dan Rasul-Nya melalui tiga cara4:
1. Melalui mimpi yang benar (ar-Ruya al-Shodiqoh fi al-manam). Misalnya wahyu
yang diterima oleh Nabi Ibrahim as. Dalam mimpi untuk mengorbankan putranya
Ismail as.

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orangorang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

92

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha
bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar" (QS. Ash-Shaffat: 100-102)
2. Kalam ilahi dari balik tabir (min warai hijaab), seperti perintah shalat fardhu yang
diterima nabi Muhammad SAW waktu peristiwa Isra dan Miraj, atau wahyu
yang diterima oleh Nabi Musa as di bukit Tursina.

Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu
berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku
melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya
kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu". Maka ketika ia
datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah
Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada
di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah
apa yang akan diwahyukan (kepadamu) (QS. Thaha: 9-13)
3. Melalui malaikat Jibris as, seperti wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW,
sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Quran

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

93

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta


alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu
(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang
memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (as-Syuara 26: 192-195)
Penurunan wahyu melalui malaikat Jibril ini berlangsung dalam dua cara,
pertama Jibril datang membawa wahyu seperti bunyi gemerincing lonceng
(shalsholah al-jaros) yang amat keras, dan kedua Jibril datang membawa wahyu
dengan memperlihatkan dirinya sebagai seorang lelaki.
3. Kitab-Kitab Allah sebelum al-Quran
Sebelum kitab suci al-Quran, Allah telah menurunkan kitab suci kepada para
Nabi dan Rasul-Nya. Yang disebutkan dalam al-Quran ada 5 (lima); tiga dalam
bentuk kitab yaitu Taurat, Zabur dan Injil dan dua dalam bentuk shuhuf yaitu shuhuf
Ibrahim dan Musa. Kelima kitab suci tersebut antara lain disebutkan dalam ayat-ayat
berikut ini:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk


dan cahaya (yang menerangi). (al-Maidah 5: 44)

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan
Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir
(pembantu). (al-Furqoan 25: 35)

, dan kami berikan Zabur (kepada) Daud. (al-Isra 17: 55)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

94

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami


iringkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil (al-Hadid
57: 27)

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu)


Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (al-Ala 87:18-19)
Itulah 5 (lima) kitab suci yang disebutkan oleh Allah SWT nama dan kepada
siapa diturunkan. Sedangkan kitab-kitab suci lainnya yang diturunkan kepada Nabi
dan Rasul lainnya tidak disebutkan oleh Allah nama-namanya secara terperinci, tetapi
secara global dijelaskan bahwa Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul dan
menurunkan bersama mereka Kitab suci.

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah
mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan,
dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi
keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan (QS.
Al Baqarah: 213).
Untuk kitab-kitab suci yang tidak disebutkan namanya tersebut kita cukup
mengimaninya secara global (ijmal) bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

95

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

suci kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Atau dengan kata lain kita mengimani semua
Kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan rasul-Nya, baik yang
disebutkan namanya atau yang tidak disebutkan.
Kitab-kitab Allah SWT yang diturunkan sebelum Al-Quran tidaklah bersifat
universal seperti al-Quran, tapi hanya bersifat lokal untuk umat tertentu. Dan juga
tidak berlaku untuk sepanjang masa. Oleh karena itu Allah SWT tidak memberi
jaminan terpelihara keaslian atau keberadaan kitab-kitab tersebut sepanjang zaman
sebagaimana halnya Allah SWT memberi jaminan kepada al-Quran.
Dari segi isi, untuk hal-hal yang prinsip (masalah aqidah), sejarah dan fakta
tentang alam semesta, semua kitab suci tersebut memuat hal yang sama dengan alQuran. Tidak akan ada perbedaan apalagi pertentangan satu sama lain (kecuali
perbedaan redaksional), baik antara sesama kitab-kitab suci tersebut maupun dengan
kitab suci al-Quran. Misalnya tentanmg Tauhid, semua mengajarkan tentang keEsaan Allah SWT, bahwa Dialah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", (QS. an-Nahl
16: 36)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami
wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku,
maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. al-Anbiya 21: 25)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

96

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Ajaran tentang Uzair anak Allah SWT dalam Taurat, dan Isa putra Allah SWT
serta ajaran tentang trinitas dalam injil bukanlah berasal dari wahyu Allah SWT.
Semua itu adalah hasil pemalsuan dan penambahan orang-orang Yahudi dan
Nashrani. Tentang hal itu Allah menjelaskan :

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani
berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan
mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.
Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. atTaubah 9: 30)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah


satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan
itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang
pedih (QS. al-Maidah 5: 73)
Adapun mengenai syariat dan hukum serta hal-hal yang praktis lainnya, akan ada
perbedaan antara satu kitan dengan kitab yang lain sesuai dengan perkembangan
zaman dan keadaan umat tertentu. Tentang hal ini Allah SWT menjelaskan :

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang
(QS. al-Maidah 5: 48)
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

97

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Dari semua kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT sebelum al-Quran
sebagaimana yang sudah diterangkan di atas tidak satupun yang sampai kepada kita
secara utuh sebagaimana ketika diturunkan dahulu. Bahkan menurut DR Muhaman
Naim Yasin sebagaimana dikutip Ilyas 5, tidak ada satu Kitab Suci pun yang berhak
disebut kitab Allah SWT sekarang ini selain dari Kitab suci al-Quran. Yasin
mengemukakan beberapa alasan untuk mendukung pernyataannnya. Alasan Yasin
setelah penulis lengkapi dengan sumber lain adalah:
1. Tidak ada satupun naskah asli dari semua kitab suci yang turun sebelum alQuran terpelihara sampai sekarang. Semuanya telah hilang. Yang ada hanyalah
naskah terjemahan dalam berbagai bahasa. Bahkan terjemahan yang adapun
sudah merupakan terjemahan dari hasil terjemahan. Manuskrip perjanjian lama
(perjanjian lama terdiri dari Taurat Musa dan Zabur Daud serta ajaran RasulRasul lainnya yang kesemuanya itu meliputi lebih kurang tiga perempat al-Kitab
atau Bibel) yang tertua bukanlah tertulis dalam bahasa Ibriyah (bahasa nabi
Musa), akan tetapi dalam bahasa Aramiyah dan bahasa Greek serta bahasa latin
Kuno yang tidak lagi digunakan dewasa ini. Begitu juga manuskrip perjanjian
baru (perjanjian baru terdiri dari Injul Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan kisah
Rasul-Rasul serta kumpulan surat-surat) yang lengkap hanyalah dipakai dalam
bahasa Greek, bukan dalam bahasa Aramiyah, bahasa teks asli Injil. Antara
terjemahan ke terjemahan berikutnya terjadilah perubahan dan pergeseran makna
di sana-sini. Begitulah seterusnya sampai dewasa ini.
2. Kitab-kitab suci tersebut sudah bercampur dengan ucapan manusia baik berupa
tafsir, sejarah hidup para Nabi dan murid-murid mereka, kesimpulan para ahli
hukum maupun dengan yang lainnya. Tidak lagi bisa dibedakan mana yang kalam
Allah dan mana yang karya manusia.
3. Tidak ada satupun dari Kitab-Kitab suci tersebut yang secara sah dapat
dinisbahkan kepada Rasul yang membawa masing-masing kitab tersebut, dan
tidak juga mempunyai sanad yang dipercaya. Kitab perjanjian lama dibukukan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

98

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

beberapa abad setelah nabi Musa meninggal dunia. Begitu juga kitab perjanjian
baru ditulis lebih satu abad setelah nabi Isa diangkat oleh Allah SWT.
4. Terdapat pertentangan antara satu bagian dengan bagian yang lain, antara satu
kitab dengan kitab yang lain. Oleh sebab itu, dari lebih kurang 70 naskah Injil
yang ditulis oleh 70 puluh penulis pula, Gereja memilih 4 saja, yatitu yang ditulis
oleh, Matius, markus, Lukas dan Yohanes. Bahkan antara Injil yang 4 inipun
terjadi pertentangan satu sama lain dalam beberapa bagian, misalnya tentang asal
keturunan Al-Masih: Matius 1: 6 menyebutkan bahwa Yusuf An-Najjar adalah
anak Yaqub, sedang Lukas 3: 23 menyebut anak Hali. Matius 1: 7 menyebut
Yusuf An-Najjar adalah keturunan Sulaiman bin daud, sedang menurut Lukas 3:
31 adalah keturunan Nasan bin Daud.
5. Terdapat beberapa pelajaran yang batil tentang Allah SWT dan beberapa RasulNya. Selain keyakinan Uzair anak Allah SWT dan Trinitas, kita akan menemukan
beberapa kisah tentang Allah SWT dan Rasul-Nya yang tidak benar dan sama
sekali tidak bisa diterima oleh akal sehat. Misalnya tentang pergulatan yang
pernah terjadi antara Allah dan Nabi Yakub yang dimenangkan oleh Yakub
sehingga Allah SWT memberkatinya. (kejadian 32: 24-30) atau tentang Allah
SWT menyesal dan bertaubat setelah menetapkan suatu keputusan yang
menimbulkan akibat yang tidak diduga sebelumnya seperti halnya penyesalan
penetapan saul menjadi Raja atas Bani Israil.
4. Al-Quran sebagai Kitab Allah yang Terakhir
Kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT adalah Al-quran al-Karim
yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dalam rentang waktu lebih kurang
23 tahun meliputi periode Makkah dan Madinah. Secara etimologis Quran berarti
bacaan atau yang dibaca. Berasal dari kata qa-ra-a yang berarti membaca. Secara
terminologis al-Quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad Saw. Di samping al-Quran Kitab Suci terakhir ini juga dinamai dengan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

99

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

nama-nama lain seperti al-Kitab (al-Baqarah 2:2), al-Furqon (al-furqon 25:1), adzDzikru (al-Hijr 15:9), al-Mauizhah (Yunus 10:57), al-Huda (al-Jin 72:13), As-Syifa
(Yunus 10:57) dan lain-lain.
Keutuhan dan keaslian al-Quran
Berbeda dengan Kitab-Kitab suci sebelumnya, al-Quran terjamin keutuhan
dan keasliannya. Hal itu bisa terjadi pertama dan utama karena adanya jaminan dari
Allah:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami


benar-benar memeliharanya. (QS. al-Hijr 15: 9)
Kemudian karena adanya usaha-usaha yang manusiawi dilakukan sejak zaman
Rasulullah Saw oleh para sahabat di bawah bimbingan beliau dan oleh generasi
berikutnya dan oleh setiap generasi kemudian. Usaha-usaha itu dapat kita lihat antara
lain6:
1. Rasulullah SAW sebagai orang yang ummi berusaha menghafal ayat-ayat alQuran yang diturunkan Allah SWT lewat malaikat Jibril. Bahkan belum lagi
wahyu selesai disampaikan Jibril beliau segera menggerakkan kedua bibirnya
untuk menghafal. Hal ini ditegur oleh Allah SWT seraya memberikan jaminan
bahwa tanpa usaha, Allah akan membuat nabi Muhammad SAW bisa membaca,
hafal dan mengerti maksudnya. Allah berfirman:

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena


hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

100

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.


Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. (QS. alQiyamah 75: 16-19)
Rasulullah SAW selalu mempergunakan sebagian besar malamnya untuk
taqarrub mendekatkan diri ke hadirat Allah SWT. Melakukan shalat dan
membaca al-Quran dengan tartil. Kemudian seperti yang diceritakan oleh Siti
Aisyah ra. Bahwa Jibril as selalu mengunjungi Rasul pada setiap tahun untuk
menyaksikan Rasul dalam bertadarrus dan menghafal al-Quran. Berkat perhatian
dan upaya yang sungguh-sungguh, dan atas bimbingan Jibril serta terutama
jaminan Allah SWT, sehingga Rasulullah benar-benar menguasai al-Quran
dengan sempurna. Tiada seorangpun yang mengungguli Rasul dalam penguasaan
al-Quran, yang menjadi titik tumpuan umat Islam dalam masalah yang mereka
perlukan.
2. Setiap Rasulullah selesai menerima ayat-ayat yang diwahyukan, beliau
membacakan kepada para sahabat dan memerintahkan kepada mereka untuk
menghafal dan kepada sahabat-sahabat tertentu diperintahkan oleh Rasul untuk
menuliskannya di sarana-sarana yang memungkinkan waktu itu seperti pelepah
kurma, tulang-tulang binatang, batu, kulit binatang dan sarana lainnya. Begitulah
dengan sungguh-sungguh dan penuh kecintaan para sahabat berusaha menghafal
dan mencatat al-Quran. Tidak terhitung jumlahnya apara sahabat yang hafal dan
benar-benar menguasai al-Quran. Untuk menyebut beberapa orang saja
misalnya: Khalifah yang empat, Ibnu Masud, Abu Musa al-Asary, Zaid bin
Tsabit, Ibnu Umar, Amru bin Ash, Muawiyah dan lain-lain.
3. Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, atas anjuran Umar bin Khattab, al-Quran
dikumpulkan dalam satu mushhaf oleh panitia tunggal yaitu Zaid bin Tsabit
dengan berpedoman pada hafalan dan tulisan para sahabat. Ayat demi ayat
disusun sesuai dengan petunjuk Rasulullah sebelumnya, tapi surat demi surat
belum diurutkan sesuai dengan petunjuk Rasulullah.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

101

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

4. Pada masa Utsman bin Affan pembukuan al-Qur;an disempurnakan dengan


menyusun

surat

demi

surat

sesuai

dengan

ketentuan

Rasulullah

dan

menuliskannya dalam satu sistem penulisan yang bisa menampung semua qiraat
yang benar. Sistem penulisan itu dikenal dengan Ar-Rasmu al-Utsmani. Mushaf
yang dikenal dengan Mushaf Utsman itu disalin ke beberapa naskah dan
dikirimkan ke pusat-pusat pemerintahan umat Islam waktu itu untuk dijadikan
pedoman dan standar penulisan. Tugas pembukuan yang disempurnakan ini
dilaksanakan oleh satu tim yang diketuai oleh Zaid bib Tsabit, dengan anggota
Abdullah bin Zubair, Said bin Ash dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam.
5. Pada masa-masa berikutnya para ulama selalu berusaha untuk menyempurnakan
penulisan dan pemeliharaan al-Quran sehingga lahirlah beberapa ilmu
pengetahuan yang mendukung pemeliharaan keaslian dan keutuhan al-Quran,
seperti ilmu Tajwid untuk kaidah-kaidah qiraah, ilmu Nahwu Sharaf dari segi tata
bahasa, ilmu Khat dari segi penulisan, ulumul quran dan ilmu Tafsir dari segi
metodologi pemahaman dan ilmu-ilmu lainnya.
Al-Quran dijamin oleh Allah keutuhan dan keasliannya sampai akhir zaman
karena memang al-Quran bersifat universal (am lijamiil basyar fi kulli makan
wa zaman) berbeda dengan Kitab-Kitab sebelumnya yang bersifat lokal untuk
umat-umat tertentu (al-Furqon 25: 1, al-Anbiya 21: 107, Saba 34: 28).
Fungsi al-Quran terhadap Kitab-Kitab sebelumnya
Dalam hubungan dengan Kitab-Kitab suci yang diturunkan Allah sebelumnya,
maka al-Quram berfungsi sebagai:
1. Nasikh, baik lafazh maupun hukum. Artinya semua Kitab suci terdahulu
dinyatakan tidak lagi berlaku. Satu-satunya yang wajib diikuti dan dilaksanakan
petunjuknya hanyalah kitab suci al-Quran. Hal itu disebabkan dua hal: pertama,
karena kitab-kitab suci terdahulu tidak ada lagi yang utuh dan asli seperti waktu
diturunkan. Kedua, karena kitab-kitab suci tersebut berlaku khusus untuk umat
dan masa tertentu saja. Dalil yang paling kuat menunjukkan bahwa al-Quran
BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

102

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

adalah Nasikh terhadap kitab-kitab suci sebelumnya adalah perintah Allah SWT
terhadap nabi Muhammad Saw untuk memberlakukan al-Quran terhadap seluruh
umat manusia termasuk para ahli Kitab.

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran,


membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah
perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang
kepadamu.(QS. al-Maidah 5: 48)
2. Muhaimin atau batu ujian terhadap kebenaran Kitab-Kitab sebelumnya. Artinya
al-quranlah yang menjadi korektor terhadap perubahan-perubahan yang terjadi
pada kitab-kitab sebelumnya. Dengan demikian al-Quranlah satu-satunya yang
dijadikan pegangan. Apa yang dibenarkan dan ditetapkan oleh al-Quran itulah
yang benar dan harus diikuti, karena seperti dijelaskan oleh allah sendiri Kitabkitab suci sebelumnya tidak bebas dari pemalsuan dan penambahan atau
pengurangan dalam perjalanan sejarahnya (QS. al-Maidah: 48).
3. Mushaddiq (menguatkan kebenaran-kebenaran) pada Kitab-Kitab Allah SWT
sebelumnya, seperti taurat dan Injil yang membawakan petunjuk allah dan cahaya
kebenaran (ayat yang sama). Misalnya berita tentang kedatangan Nabi dan Rasul
yang terakhir yang terdapat dalam Kitab taurat dan Injil dibenarkan oleh alQuran dengan kedatangan nabi Muhammad SAW.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

103

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Keistimewaan al-Quran
Sebagai Kitab Allah yang terakhir al-Quran mempunyai beberapa keistimewaan,
antara lain sebagai berikut:
1. Berlaku umum untuk seluruh umat manusia di mana dan kapanpun mereka berada
sampai akhir zaman nanti. Hal itu sesuai dengan risalah Nabi Muhammad Saw
yang ditujukan untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman nanti.

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada
hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS.
al-Furqon 25: 1)

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi
kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba 34: 28)
2. Ajaran al-Quran mencakup seluruh aspek kehidupan seperti ekonimi, politik,
hukum, budaya seni, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Serta mencakup seluruh
ruang lingkup kehidupan, seperti kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat,
bernegara dan dunia internasional.

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, ..(QS. al-Anam 6:


38)
3. Mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah dari segala bentuk penambahan,
pengurangan dan pemalsuan sebagaimana firman-Nya:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

104

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya


Kami benar-benar memeliharanya. (QS. al-Hijr 15: 9)
4. Allah menjadikan al-Quran mudah untuk difahami, dihafal dan diamalkan.
Firman-Nya:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka


adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. al-Qomar 54: 17)
5. Al-Quran berfungsi sebagai Nasikh, Muhaimin dan Mushoddiq terhadap kitabkitab suci sebelumnya.
6. Al-Quran berfungsi sebagai mukjizat bagi Nabi Muhammad. Mukjizat berarti
melemahkan, maksudnya membuktikan kebenaran nubuwah dan risalah Nabi
Muhammad dengan menjanjikan orang-orang yang menantangnya tidak
berkutik menghadapi tantangan al-Quran. Manna al-Qaththan menjelaskan
bahwa tantangan al-Quran terhadap para penentangnya itu terdiri dari tiga
tahap :
a. Pertama, tantangan yang bersifat umum mencakup manusia dan jin untuk
membuat seperti al-quran. Allah SWT berfirman :

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk


membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat
membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. al-Isro 17: 88)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

105

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

b. Kedua, tantangan untuk membuat sepuluh surat saja seperti surat-surat alQuran. Allah SWT berfirman:

Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an


itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh suratsurat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang
yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang
orang-orang yang benar". (QS. Hud 11: 13)
c. Ketiga, tantangan untuk membuat satu surat saja seperti surat-surat yang ada
pada al-Quran. Allah SWT berfirman:

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami
wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang
semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika
kamu orang-orang yang benar (QS. al-Baqarah 2: 23)
Mukjizat al-Quran menurut Quraish Shihab dapat ditinjau dari 3 aspek7:
1. Keindahan dan ketelitian redaksinya.
2. Isyarat-isyarat ilmiah yang terdapat didalamnya.
3. Pemberitaan gaib.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

106

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

5. Perbedaan Iman kepada al-Quran dengan Iman kepada


Kitab Suci lainnya
Seorang muslim wajib mengimani semua Kitab suci yang telah diturunkan
oleh allah kepada para nabi dan rasul-Nya, baik yang disebutkan nama dan kepada
siapa diturunkan maupun yang tidak disebutkan. Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang
Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikatmalaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. an-Nisaa 4: 136)
Akan tetapi tentu ada perbedaan konsekuensi keimanan antara keimanan kepada
al-Quran dan iman kepada Kitab-Kitab suci sebelumnya. Kalau terhadap Kitab suci
sebelumnya, seorang muslim hanyalah menpunyai kewajiban mengimani keberadaan
dan kebenarannya tanpa kewajiban mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan
kandungannya, karena Kitab-kitab suci tersebut berlaku untuk umat dan masa tertentu
yang telah berakhir dengan kedatangan Kitab suci yang bterakhir yaitu al-Quran.
Jika ada hal-hal yang sama yang masih berlaku dan diamalkan, maka itu hanyalah
semata-mata karena diperintahkan oleh al-quran bukan karena ada pada kitab suci
sebelumnya. Sedangkan iman kepa al-Quran membawa konsekuensi yang lebih luas
seperti mempelajarinya, mengamalkan dan mendakwahkannya serta membelanya dari
serangan musuh-musuh Islam. Untuk lebih jelasnya kewajiaban seorang muslim
terhadap al-Quran adalah sebagai berikut:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

107

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

1. Mengimani bahwa al-Quran adalah Kitab Allah SWT yang terakhir yang
berfungsi sebagai Nasikh, Muhaimin dan Mushoddiq bagi Kitab-Kitab suci
sebelumnya, mukjizat bagi kenabian dan kerasulan Muhammad, hudan bagi
kehidupan umat manusia sampai akhir zaman dan fungsi-fungsi lainnya (QS. alMaidah 5: 48; al-Baqarah 2: 23, dan 185)
2. Mempelajari al-Quran baik cara membacanya (ilmu Tajwid dan Qiraah), makna
dan tafsirnya (tarjamah dan Tafsir al-quran) maupun ilmu-ilmu lain yang
berhubungan dengan al-Quran seperti ulumul quran, hadits, ushul fiqh, fiqh dan
lain-lain. (QS. Muhammad 47: 24, at-taubah 9: 122)
3. Membaca al-Quran sebanyak dan sebaik mungkin. (QS. al-Muzammil 73: 4,20)
4. Mengamalkan ajaran al-Quran dalam seluruh aspek kehidupan baik kehidupan
pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, bernegara maupun kehidupan internasional.
Baik aspek ekonomi, politik, hukumk, budaya, pendidikan maupun aspek hidup
lainnya. (QS. al-Araf 7: 3, al-Jatsiyah 45: 7-8, An-Nur 24: 51, al-Baqarah 2: 208)
5. Mengajkarkan al-Quran kepada orang lain sehingga mereka dapat membaca,
memahami dan mengamalkannya (QS. Ali Imran 3: 79, 110, 104, An-Nahl 16:
125).

C. PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan Kitab Allah?
2. Sebutkan beberapa Kitab Allah yang pernah diturunkan
kepada para Nabi dan Rasul!
3.

Bagaimana cara Allah SWT menurunkan wahyu kepada para Nabi dan
RasulNya?

4.

Apa kesamaan kandungan Kitab Suci al-Quran dengan Kitab-kitab suci


sebelumnya?

5.

Apa pula fungsi al-Quran terhadap Kitab Suci sebelumnya?

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

108

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

6.

Apa dalil Naqli tentang terjaminnya orisinalitas al-Quran?

7.

Apa saja upaya manusiawi dalam menjaga keaslian dan keutuhan al-Quran
sejak masa Nabi Muhammad?

8.

Bagaimana dengan orosinalitas Kitab-Kitab suci sebelum al-Quran yang ada


sekarang? Jelaskan!

9.

Apa perbedaan iman kepada al-Quran dengan Iman kepada kitab suci
sebelumnya yang diturnkan oleh Allah SWT?

D. REFERENSI (END NOTE)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

109

Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta : LPPI-UMY, 2000, h. 107-108


Manna al-Qoththon, Mabahits fi ulum al-Quran, Beirut : Muassasah ar-Risalah, 1976, h. 32
3
Op. Cit h. 110-111
4
lihat al-Quran Surat As-Syuro : 51
5
Op Cit, h. 116-118
6
Ibid h. 119-120
7
Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, Bandung : Mizan 1997 h. 29-32, atau lebih lengkap lihat Quraish Shihab,
Mukjizat al-Quran; ditinjau dari aspek kebahasaan, isyarat ilmiah dan pemberitaan gaib, Bandung : Mizan, 2000
2