Anda di halaman 1dari 27

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Akhlak Pribadi

Akhlak

Pribadi

  • A. PENDAHULUAN

B A B 11
B A B
11

Setelah mempelajari bab ini diharapkan anda akan dapat menjelaskan dan mengimplemetasikan hal-hal berikut:

1. Menjelaskan akhlak pribadi yang mulia dan manfaatnya serta bagaimana mengimplementasikan dalam kehidupan. 2. Menjelaskan akhlak pribadi yang tercela dan bahayanya serta bagaimana membersihkannya dari kehidupan.

  • B. PEMBAHASAN

1. Akhlak Terpuji (al-mahmudah) dan Akhlak Tercela (al-madzmumah)

Akhlak terpuji atau akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) merupakan sendi pertama perilaku berbudaya, karena itu seorang muslim harus berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari akhlak tercela. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai akhlak yang luhur dan membenci akhlak yang tercela”. 1 Bahkan tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw. adalah dalam rangka menyempurnakan akhlak. Ini menandakan betapa tinggi dan mulianya nilai akhlak itu dalam da’wah Rasulullah Saw.

Para ulama berpendapat bahwa akhlak mulia itu merupakan pangkal kebaikan hidup di dunia dan akhirat, sebagaimana tercermin dalam doa Nabi Saw:

،يرللمأ ةمللصع ولله يذلللا يللنيد يللل حلصأ مهللا يللل حلللصأو ،يللشاعم اعيف يتلا ايايند يل حلصأو

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

193

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

يل ةدايز ةايحلا لعجاو ،يداعم اهيف يتلا يترخآ رش لك نم يل ةحار توملا لعجاو ريخ لك يف

“Ya Allah perbaikilah agamaku yang menjadi pelindung urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat hidupku, perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tempatku untuk memperbanyak kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai tempatku beristirahan dari keburukan ” ..

2

Umat Islam sangat beruntung karena Allah Swt. telah memberi mereka sosok pribadi yang dapat diteladani. Pribadi yang mencerminkan keluhuran akhlak yang benar-benar sempurna, pewaris kepribadian seluruh Rasul sebelumnya, ditambah dengan segenap kemuliaan dan kesempurnaan yang prima. Dialah Muhammad yang dipuji Allah Swt. dalam firman-Nya:

    

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Aisyah ummul mukminin r.a. pernah ditanya mengenai akhlak Rasulullah Saw, beliau menjawab dengan sangat tepat, “akhlaknya adalah al-Qur’an” 3 . Maksudnya adalah bahwa seluruh perjalanan hidup Rasulullah adalah manifestasi nyata ajaran- ajaran al-Qur’an. Di samping dengan kata-katanya, Rasulullah juga menjelaskan al- Qur’an dengan perbuatan dan perjalanan hidupnya. Berikut ini beberapa akhlak terpuji yang mana seorang muslim sangat ditekankan untuk menghiasi dirinya dengan hal tersebut serta menjauhkan dirinya dari kebalikannya.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

194

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

a. Shidiq

Shidiq (ash-shidqu) artinya benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong (al- kazib). Seorang Muslim dituntut selalu berada dalam keadaan benar lahir batin; benar hati (shidq al-qalb), benar perkataan (shidq al-hadtis) dan benar perbuatan (shidq al- amal). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan. 4

Benar hati, apabila hati dihiasi dengan iman kepada Allah Swt. dan bersih dari segala penyakit hati. Benar perkataan, apabila semua yang diucapkan adalah kebenaran bukan kebatilan. Dan benar perbuatan, apabila semua yang dilakukan sesuai dengan syari’at Islam.

Rasulullah Saw. memerintahkan setiap Muslim untuk selalu shiddiq, karena sikap ini membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkannya ke surga. Sebaliknya beliau melarang umatnya berbohong, karena kebohongan akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan berakhir di neraka. Beliau bersabda:

ربلللاو ربلا ىلإ يدهي قدصلا نإف قدصلاب مكيلع ىرللحتيو قدصي لجرلا لازي امو ةنجلا ىلإ يدهي مكالليإو اقيدللص هللللا دللنع بللتكي ىتللح قدللصلا نإو روللجفلا ىلللإ يدللهي بذللكلا نإللف بذللكلاو بذللكي دللبعلا لازللي اللمو راللنلا ىلللإ يدهي روجفلا هاور) اباذللك هللللا دنع بتكي ىتح بذكلا ىرحتيو (يراخبلا

Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai seorang yang jujur (shiddiq). Dan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

195

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).” (HR. Bukhari)

Bentuk-bentuk Shiddiq:

1) Benar Perkataan (shidq al-hadist) Dalam keadaan apapun seorang Muslim akan selalu berkata yang benar; baik dalam menyampaikan informasi, menjawab pertanyaan, melarang dan memerintah ataupun yang lainnya. Orang yang selalu berkata benar akan dikasihi oleh Allah dan dipercaya oleh masyarakat. Sebaliknya orang yang berdusta apalagi suka berdusta, masyarakat tidak akan mempercayainya.

2) Benar Pergaulan (shidq al-mu’amalah) Seorang Muslim akan selalu bermu’amalah dengan benar; tidak menipu, tidak khianat dan tidak memalsu, sekalipun kepada non muslim. Orang yang shidiq dalam mu’amalah jauh dari sifat sombong dan riya’. Kalau melakukan sesuatu dia lakukan karena Allah Swt, kalau meninggalkan sesuatu juga dia tinggalkan karena Allah Swt. Dia tidak mengharapkan balas budi orang lain. Dia akan selalu bersikap benar dengan siapa pun, tanpa memandang kekayaan, kekuasaan atau status lainnya. 3) Benar Kemauan (shidq al-azam) Sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu, seorang Muslim harus mempertimbangkan dan menilai terlebih dahulu apakah yang dilakukannya itu benar dan bermanfaat. Apabila yakin benar dan bermanfaat, dia akan melakukannya tanpa ragu-ragu, tidak akan terpengaruh dengan suara kiri kanan yang mendukung atau mencelanya. Kalau ia menghiraukan semua komentar orang, dia tidak akan jadi melaksanakannya, tetapi bukan berarti dia mengabaikan kritik, asal kritik itu argumentatif dan konstruktif. 4) Benar Janji (shidq al-wa’ad)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

196

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Apabila berjanji, seorang Muslim akan selalu menepatinya, sekalipun dengan musuh atau anak kecil. Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang berkata kepada anak kecil, mari kemari, saya beri korma ini. Kemudian dia tidak memberinya, maka dia telah membohongi anak itu”. (HR. Ahmad)

Allah Swt. menyukai orang-orang yang menepati janji. Dalam al-Qur’an disebutkan pujian Allah Swt. kepada Nabi Isma’il as yang menepati janji:

            

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Isma’il (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi”. (QS. Maryam 19: 54)

‘Azam (keputusan hati) untuk melakukan suatu kebaikan dinilai sebagai janji, menepatinya disebut wafa’ (menepati janji) dan memungkirinya disebut kadzib (bohong).

3) Benar Kenyataan (shidq al-hal) Seorang Muslim akan menampilkan diri seperti keadaan yang sebenarnya. Dia tidak akan menipu kenyataan, tidak memakai baju kepalsuan, tidak mencari nama, dan tidak pula mengada-ada. Rasulullah Saw bersabda:

(ملسم هاور) روز يبوث سبلك طعي مل امب عبشتملا

“Orang yang merasa kenyang dengan apa yang tidak diterimanya sama seperti orang memakai dua pakaian palsu.” (HR. Muslim)

Artinya orang yang berhias dengan yang bukan miliknya supaya kelihatan kaya sama seperti orang yang memakai dua kepribadian.

Bentuk-bentuk Kebohongan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

197

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Sifat bohong adalah sifat yang tercela yang merupakan kebalikan dari shidiq. Rasulullah Saw. menyatakan, (mestinya) seorang mukmin tidak mungkin jadi pembohong. Rasulullah Saw. ditanya oleh para sahabat: “Apakah ada orang mukmin yang penakut? Nabi bersabda: “Ada”. Beliau ditanya lagi: “Apakah ada orang mukmin yang kikir?” Beliau bersabda “Ada”. Kemudian ditanya lagi: “Apakah ada orang mukmin yang pembohong?” Beliau menjawab: “Tidak ada”. (HR. Malik) Seorang Muslim harus menjauhi segala macam bentuk kebohongan, baik dalam bentuk pengkhianatan, mungkir janji, kesaksian palsu, fitnah, gunjing ataupun bentuk-bentuk lainnya. Berikut ini diuraikan beberapa bentuk kebohongan yang biasa terjadi di tengah masyarakat:

1)

Mungkir Janji Sifat mungkir janji menunjukkan pelakunya memiliki kepribadian yang lemah. Sifat itu mencabut kasih sayang dan mendatangkan kemudharatan. Mungkir janji menyebabkan waktu terbuang sia-sia dan melahirkan angan-angan kosong. Oleh sebab itu Rasulullah memasukkan mungkir janji sebagai salah satu sifat orang-orang munafik. (HR. Muslim)

2)

Kesaksian Palsu Kebohongan jenis ini mendatangkan kemudharatan besar bagi masyarakat. Orang yang tidak bersalah bisa dijatuhi hukuman berat, nyawa bisa melayang, harta benda bisa hilang, semuanya karena kesaksian palsu. Oleh karena itu kesaksian palsu termasuk salah satu dari dosa-dosa besar.

“Diriwayatkan oleh Aba Bakrah, Nufa’i ibn Harits RA, dia berkata: “Rasulullah Saw. bersabda: “Tidakkah akan aku beritahukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau mengulangi lagi pertanyaan tersebut tiga kali. Kemudian para sahabat mengiyakan. Lalu Rasulullah Saw. menyebutkan: “Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka kepada ibu bapak”. Kemudian beliau merubah posisi duduknya yang semula bersitelekan menjadi duduk biasa dan berkata lagi: “Begitu pula perkataan dan sumpah palsu”. Beliau mengulanginya

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

198

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

lagi hal yang demikian, hingga kami mengharapkan mudah-mudahan beliau tidak menambahnya lagi.” (H. Muttafaqun ‘alaih)

3)

Fitnah Biasanya seseorang memfitnah orang lain dengan maksud menjatuhkan nama baik atau menggagalkan usahanya. Fitnah akan mendatangkan mudharat yang besar bagi masyarakat. Oleh karena itu Allah Swt. memerintahkan kepada orang- orang yang beriman untuk tabayyun (menyelidiki kebenaran suatu berita) sebelum mempercayai berita yang disampaikan oleh orang fasik, supaya tidak mendatangkan malapetaka kepada orang yang tidak bersalah. Allah Swt. berfirman:

                 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]:6)

b. Amanah

Amanah artinya dipercaya, seakar dengan kata iman. Sifat amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Antara keduanya terdapat kaitan yang sangat erat sekali. Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad). Amanah dalam pengertian yang sempit adalah memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Sedangkan dalam pengertian yang luas amanah mencakup banyak hal: Menyimpan rahasia orang, menjaga kehormatan orang lain, menjaga dirinya sendiri, menunaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya dan lain-lain sebagainya. Tugas-tugas yang dipikulkan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

199

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Allah Swt. kepada umat manusia oleh al-Qur’an disebut sebagai amanah (amanah taklif). Amanah taklif inilah yang paling berat dan besar. Makhluk-makhluk Allah Swt. yang besar, seperti langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung- gunung, lautan dan pohon-pohon yang lainnya, tidak sanggup memikulnya. Lalu manusia karena kelebihan yang diberikan Allah Swt. kepadanya berupa akal fikiran, perasaan, kehendak dan sebagainya mau menanggungnya. Secara metaforis keadaan itu digambarkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

                   

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]:72)

Bentuk-bentuk Amanah

Dari pengertian amanah di atas dapatlah kita kemukakan beberapa bentuk amanah sebagai berikut:

1)

Memelihara Titipan dan Mengembalikannya Seperti Semula

Apabila seorang Muslim dititipi oleh orang lain, misalnya barang berharga, karena yang bersangkutan akan pergi jauh ke luar negeri, maka titipan itu harus dipelihara dengan baik dan pada saatnya dikembalikan kepada yang punya, utuh seperti semula. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman:

       

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. Al-Nisa’ [4]: 58)

Diantara sebab-sebab kenapa Nabi Muhammad Saw. sejak mudanya di Makkah sudah terkenal dengan gelar al-Amin adalah karena beliau sangat dipercaya

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

200

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

oleh penduduk Makkah untuk menyimpan dan memelihara barang titipan, kemudian mengembalikannya seperti semula. Penduduk-penduduk Makkah yang akan ke luar negeri merasa aman dan tenang menitipkan barang-barang berharganya kepada beliau. Bahkan sebelum hijrah pun Rasulullah Saw. menyuruh Ali ibn Abi Thalib berangkat hijrah belakangan supaya dapat mengembalikan beberapa barang titipan yang masih ada pada beliau. Sekali pun tidak ada bukti atau transaksi tertulis dalam penitipan itu, tetapi karena sifat amanah, seorang Muslim tetap akan mengembalikannya seperti apa adanya.

2) Menjaga Rahasia Apabila seseorang dipercaya untuk menjaga rahasia, apakah rahasia pribadi, keluarga, organisasi, atau lebih-lebih lagi rahasia negara, dia wajib menjaganya supaya tidak bocor kepada orang lain yang tidak berhak mengetahuinya. Apabila seseorang menyampaikan sesuatu yang penting dan rahasia kepada kita, itulah amanah yang harus dijaga. Rasulullah Saw. bersabda:

وبأ هاور) ةنامأ وهف تفتلا مث ثيدحب لجر لجر ثدح اذإ (دواد

“Apabila seseorang menyampaikan sesuatu kepada orang lain (sambil) menoleh kiri kanan (karena yang dibicarakan itu rahasia) maka itulah amanah (yang harus dijaga).” (HR. Abu Daud)

Begitu juga pembicaraan dalam sebuah pertemuan atau hasil keputusan yang dinyatakan rahasia, tidak boleh dibocorkan kepada orang lain yang tidak berhak. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda:

جرف وأ ،مارح مد كفس ،سلاجم ةثلث لإ ةناملاب سلاجملا (دواد وبأ هاور) قح ريغب لام عاطتقا وأ ،مارح

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

201

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

“Majelis pertemuan itu harus dengan amanah, kecuali pada tiga majelis: (1) Di tempat pertumpahan darah yang dilarang, (2) di tempat perzinaan, dan (3) di tempat perampokan.” (HR. Abu Daud)

Menurut hadis di atas, orang yang menyaksikan peristiwa pembunuhan, perampokan dan perzinaan, dibolehkan untuk melaporkannya kepada yang berwajib atau pengadilan untuk kepentingan penegakan hukum. Khusus untuk perzinahan, dia boleh melaporkannya kalau ada tiga orang saksi lagi selain dia. Kalau tidak, dia diperintahkan untuk diam.

3) Tidak Menyalahgunakan Jabatan Jabatan adalah amanah yang wajib dijaga. Segala bentuk penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi, keluarga, famili, atau kelompoknya termasuk perbuatan tercela yang melanggar amanah. Misalnya menerima hadiah, komisi atau apalah namanya yang tidak halal. Dalam hal ini Rasulullah Saw. menegaskan:

كلذ دعب ذخأ امف اقزر هانقزرف لمع ىلع هانلمعتسا نم (دواد وبأ هاور) لولغ وهف

“Barangsiapa yang kami angkat menjadi karyawan untuk mengerjakan sesuatu, dan kami upah menurut semestinya, maka apa yang ia ambil lebih dari upah yang semestinya, maka itu namanya korupsi.” (HR. Abu Daud)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw tidak membenarkan tindakan Ibnu Lutbiyah mengambil hadiah yang didapatnya waktu sedang menjalankan tugas mengumpulkan zakat. Tentang sikap Ibnu Lutbiyah tersebut Rasulullah Saw bersabda:

“…Dengan wewenang yang diberikan Allah kepadaku, aku mengangkat seseorang di antara kalian untuk melaksanakan suatu tugas, (tetapi) dia datang melapor: “Ini untuk engkau dan ini untukku sebagai hadiah. “Jika ia duduk saja di rumah bapak dan ibunya, apakah hadiah itu datang sendiri kepadanya, kalau barang itu memang sebagai hadiah? Demi Allah seseorang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya,

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

202

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

melainkan ia menghadap Allah nanti pada hari kiamat dengan membawa beban yang berat dari benda itu… (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Rasulullah Saw. menilai hadiah yang diterima oleh Ibnu Lutbiyah dalam melaksanakan tugas itu tidak murni sebagai hadiah, tetapi ada maksud lain dari yang memberinya. Bagi seorang petugas pengumpul zakat (‘Amil), paling kurang dampak negatifnya mengurangi, kalau tidak akan menghilangkan, sikap kritisnya dalam menghitung beberapa kewajiban zakat seeorang, karena lidahnya sudah terhimpit oleh hadiah yang diberikan. Bahkan pada saatnya nanti akan terjadi kolusi antara wajib zakat dengan petugas. Bentuk lain dari menyalahgunakan jabatan adalah mengangkat orang-orang yang tidak mampu untuk menduduki jabatan tertentu hanya karena dia sanak saudara atau kenalannya, padahal ada orang lain yang lebih mampu dan pantas menduduki jabatan tersebut. Rasulullah Saw. bersabda:

هللا ىضرأ وه نم مهيفو ةباصع ىلع لجر لمعتسا نم (مكاحلا هاور) نونمؤملاو هلوسرو هللا ناخ دقف هنم

“Barangsiapa mengangkat seseorang buat suatu jabatan karena kekeluargaan, padahal ada orang yang lebih disukai Allah daripadanya, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan kaum mukminin.” (HR. Hakim)

4) Menunaikan Kewajiban dengan Baik

Semua

tugas yang dipikulkan

wajib dilaksanakan

oleh manusia dengan

sebaik-baiknya karena nanti dia harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Swt. Semua, betapapun kecilnya, akan dihisab oleh Allah Swt.

      

  

   

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

203

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya dia kan melihatnya.” (QS. Zalzalah [99]:7-8)

Khianat

Lawan dari amanah adalah khianat, sebuah sifat yang sangat tercela. Sifat khianat adalah sifat kaum munafik yang sangat dibenci oleh Allah SWT, apalagi kalau yang dikhianatinya adalah Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu Allah melarang orang-orang yang beriman mengkhianati Allah, Rasul dan amanah mereka sendiri. Firman-Nya:

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal 8:27)

Bahkan pengkhianatan pun tidak boleh dibalas dengan pengkhianatan. Rasulullah Saw bersabda:

هاور) كناخ نم نخت لو كنمتئا نم ىلإ ةناملا دأ (دواد وبأو دمحأ

“Tunaikanlah amanah terhadap orang yang mengamanatimu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang mengkhianatimu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

c.

Tawadhu’

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

204

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Tawadhu’ artinya rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Orang yang rendah hati tidak memandang dirinya lebih dari orang lain, sementara orang yang sombong menghargai dirinya secara berlebihan. Rendah hati tidak sama dengan rendah diri, karena rendah diri berarti kehilangan kepercayaan diri. Sekalipun dalam praktiknya orang yang rendah hati cenderung merendahkan dirinya di hadapan orang lain, tetapi sikap tersebut bukan lahir dari rasa tidak percaya diri. Sikap tawadhu’ terhadap sesama manusia adalah sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan Kemahakuasaan Allah SWT atas segala hamba-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SWT. Manusia membutuhkan karunia, ampunan dan rahmat dari Allah. Tanpa rahmat, karunia dan nikmat dari Allah SWT, manusia tidak akan bisa bertahan hidup, bahkan tidak akan pernah ada di atas permukaan bumi ini.

Keutamaan Tawadhu’

Sikap tawadhu’ tidak akan membuat derajat seseorang menjadi rendah, malah dia akan dihormati dan dihargai. Masyarakat akan senang dan tidak ragu bergaul dengannya. Bahkan lebih dari itu derajatnya di hadapan Allah SWT semakin tinggi. Rasulullah Saw bersabda:

...

هللللا مللكعفري اوعللضاوتو ،ةللعفر لإ دبعلا ديزي ل عضاوتلا (يمليدلا هاور)

“Tawadhu’, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba kecuali ketinggian (derajat). Oleh sebab itu tawadhu’lah kamu, niscaya Allah akan meninggikan ”

(derajat)mu

...

(HR. Dailami)

Di samping mengangkat derajatnya, Allah SWT memasukkan orang-orang yang tawadhu’ kedalam kelompok hamba-hamba yang mendapatkan kasih sayang dari Allah Yang Maha Penyayang. Firman-Nya:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

205

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

ب ب ب ر م ب د ه ط اخب اذب إ و اننو به ض
ب
ب
ب
ر
م ب
د
ه ط اخب
اذب إ و اننو
به ض ر ح ل ح
ا ىل بع ن
د ب
ع ب
ح
ب
وشد م ي ن
ح ب
يذع ل
ا ن م ح ر
لا د اب ب عع و
ع
ب
ع
ب
ح
ر
د
ب
ب
د
د
ح
ام
ن
ل س اول
ب
اقب نب ول عهاجب ل
ا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan 25:63)

Bentuk-bentuk Tawadhu’

Sikap tawadhu’ dalam pergaulan bermasyarakat dapat terlihat antara lain dalam bentuk-bentuk berikut ini:

1) Tidak menonjolkan diri dari orang-orang yang level atau statusnya sama, kecuali apabila sikap tersebut menimbulkan kerugian bagi agama atau umat Islam.

2)

Berdiri dari tempat duduknya dalam satu majlis untuk menyambut kedatangan orang yang lebih mulia dan lebih berilmu daripada dirinya, dan mengantarkannya ke pintu keluar jika yang bersangkutan meninggalkan majlis.

3)

Bergaul dengan orang awam dengan ramah, dan tidak memandang dirinya lebih dari mereka.

4)

Mau mengunjungi orang lain sekalipun lebih rendah status sosialnya.

5)

Mau duduk-duduk bersama dengan fakir miskin, orang-orang cacat tubuh, dan kaum dhu’afa lainnya, serta bersedia mengabulkan undangan mereka.

6)

Tidak makan minum dengan berlebihan dan tidak memakai pakaian yang menunjukkan kemegahan dan kesombongan.

Takabur atau Sombong

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

206

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Lawan dari sikap tawadhu’ adalah takabur atau sombong, yaitu sikap menganggap diri lebih dan meremehkan orang lain. Karena sikapnya itu orang sombong akan menolak kebenaran, kalau kebenaran itu datang dari pihak yang statusnya dia anggap lebih rendah dari dirinya. Rasulullah Saw bersabda:

(ملسم هاور) سانلا طمغو قحلا رطب ربكلا

“Takabur itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain”. (HR. Muslim)

Karena orang yang sombong selalu menganggap dirinya benar, maka dia tidak mau menerima kritikan dan nasehat dari orang lain. Dia akan menutup mata terhadap kelemahan dirinya. Dia akan menutup telinganya kecuali untuk mendengar pujian-pujian terhadap dirinya. Oleh sebab itu sudah merupakan Sunnatullah kalau kemudian Allah SWT memalingkan orang-orang yang sombong dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah SWT berfirman:

                                     

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Jika melihat tiap- tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (QS. Al-A’raf 7:146)

Kenapa Harus Takabur?

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

207

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Sifat sombong adalah sifat warisan Iblis yang menolak Allah SWT untuk sujud kepada Adam AS. Iblis mengklaim dirinya lebih mulia dari Adam, karena Adam diciptakan dari tanah sedangkan dia diciptakan dari api, padahal-menurut Iblis-api lebih mulia dari tanah (baca QS. Al-Baqarah 2:34;

             

”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir”.

                                                                     

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:

"Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)- Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud, Maka bersujudlah Para Malaikat itu semuanya bersama-sama, Kecuali iblis. ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu, Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali- kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena Sesungguhnya kamu terkutuk, Dan

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

208

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

Sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat".Al-Hijr 15:28-

35).

Karena kesombongannya itu Iblis dikutuk oleh Allah SWT, dan karena kesombongannya itu pula dia tidak berniat untuk meminta ampun kepada Allah SWT. Oleh sebab itu para Ulama mengatakan sifat sombong adalah induk dosa- dosa. Sebenarnya apa yang dibanggakan oleh orang-orang yang sombong itu? Harta, ilmu, pangkat, keturunan? Bukankah semuanya itu hanya titipan dari Allah SWT? Lagi pula sekalipun dia memiliki harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, tapi bukankah masih ada orang lain yang memiliki harta yang lebih banyak daripadanya, dan menduduki jabatan yang lebih tinggi lagi darinya.

Bentuk-bentuk Takabur

Kesombongan dapat terlihat dari sikap dan kata-kata dengan alasan yang berbeda-beda. Para wanita misalnya, menyombongkan kecantikannya, orang- orang kaya menyombongkan harta kekayaannya, para pemimpin menyombongkan pengikutnya yang banyak, bahkan para penjahatpun menyombongkan kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukannya. Berikut ini adalah beberapa contoh bentuk-bentuk kesombongan dalam pergaulan bermasyarakat:

1)

Kalau mendatangi suatu majlis, dia ingin dan senang kalau para hadirin berdiri menyambutnya, padahal Rasulullah Saw menyatakan:

نم هدعقم أوبتيلف امايق لاجرلا هل لثمتي نأ بحأ نم

(يراخبلا هاور) رانلا

“Barangsiapa menyenangi orang-orang berdiri menghormatinya, maka bersiap- siaplah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

209

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

2)

Kalau berjalan, dia ingin ada orang yang berjalan di belakangnya, untuk menunjukkan bahwa dia lebih hebat dan lebih mulia dari yang lainnya.

3) Tidak mau mengunjungi orang yang statusnya dianggap lebih rendah dari dirinya. Dan dia tidak suka kalau orang yang dianggap rendah statusnya itu duduk berdampingan dengannya atau berjalan di sisinya.

4) Merasa malu dan hina mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan kalau berbelanja tidak mau membawa sendiri barang belanjaannya karena akan merendahkan derajatnya Demikianlah seyogyanya seorang Muslim selalu berusaha menjadi orang yang tawadhu’ dan menjauhi segala bentuk kesombongan atau takabur dalam seluruh aspek kehidupannya.

d.

Sabar

Secara etimologis, sabar (ash-shabr) berarti menahan dan mengekang (al- habs wa al-kuf). Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah SWT. Yang tidak disukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak disenangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tetapi bisa juga berupa hal- hal yang disenangi misalnya segala kenikmatan duniawi yang disukai oleh hawa nafsu. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu Menurut Imam al-Ghazali, sabar merupakan ciri khas manusia, binatang dan malaikat tidak memerlukan sifat sabar. Binatang tidak memerlukan sifat sabar karena binatang diciptakan tunduk sepenuhnya kepada hawa nafsu, bahkan hawa nafsu itulah satu-satunya yang mendorong binatang untuk bergerak atau diam. Binatang juga tidak memiliki kekuatan untuk menolak hawa nafsunya. Sedangkan malaikat, tidak memerlukan sifat sabar karena memang tidak ada hawa nafsu

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

210

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

yang harus dihadapinya. Malaikat selalu cenderung kepada kesucian, sehingga tidak diperlukan sifat sabar untuk memelihara dan mempertahankan kesuciannya itu.

Macam-macam Sabar

Menurut

Yusuf

al-Qardhawi

dalam

bukunya

Ash-shabr

fi

Al-Qur’an

sebagaimana dikutip Ilyas 5 , sabar dapat dibagi kepada enam macam:

1)

Sabar Menerima Cobaan Hidup Cobaan hidup, baik fisik maupun nonfisik, akan menimpa semua orang, baik berupa lapar, haus, sakit, rasa takut, kehilangan orang-orang yang dicintai, kerugian harta benda dan lain sebagainya. Cobaan seperti itu bersifat alami, manusiawi, oleh sebab itu tidak ada seorangpun yang dapat menghindar. Yang diperlukan adalah menerimanya dengan penuh kesabaran, seraya memulangkan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Allah berfirman:

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH yang harus dihadapinya. Malaikat selalu cenderung kepada kesucian, sehingga tidak diperlukan sifat sabar

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang- orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah 2:155-157)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

211

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

2)

Sabar dari Keinginan Hawa Nafsu Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan hidup, kesenangan dan kemegahan dunia. Untuk mengendalikan segala keinginan itu diperlukan kesabaran. Jangan sampai semua kesenangan hidup dunia itu membuat seseorang lupa diri, apalagi lupa Tuhan. Al-Qur’an mengingatkan, jangan sampai harta benda dan anak-anak (di antara yang diinginkan oleh hawa nafsu manusia) menyebabkan seseorang lalai dari mengingat Allah SWT.

2) Sabar dari Keinginan Hawa Nafsu Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan hidup, kesenangan dan kemegahan

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu

melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun

63:9)

3)

Sabar dalam Ta’at kepada Allah SWT

 
 

Dalam

mena’ati

perintah

Allah

SWT, terutama

dalam

beribadah

kepada-Nya diperlukan kesabaran.

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH 2) Sabar dari Keinginan Hawa Nafsu Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan hidup,

“Tuhan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

212

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam 19:65)

Penggunaan kata Ishthabir dalam ayat di atas-bentuk mubalaghah dari Ishbir-menunjukkan bahwa dalam beribadah diperlukan kesabaran yang berlipat ganda mengingat banyaknya rintangan baik dari dalam maupun luar diri.

4)

Sabar dalam Berdakwah Jalan dakwah adalah jalan panjang berliku-liku yang penuh dengan segala onak dan duri. Seseorang yang melalui jalan itu harus memiliki kesabaran. Luqman Hakim menasehati puteranya supaya bersabar menerima cobaan dalam berdakwah.

4) Sabar dalam Berdakwah Jalan dakwah adalah jalan panjang berliku-liku yang penuh dengan segala onak dan

“Hai anakku, dirikanlan shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari pekerjaan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikin itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman 31:17)

5)

Sabar dalam Perang Dalam peperangan sangat diperlukan kesabaran, apalagi menghadapi musuh yang lebih banyak atau lebih kuat. Dalam keadaan terdesak sekalipun, seorang prajurit Islam tidak boleh lari meninggalkan medan perang, kecuali sebagai bagian dari siasat perang (QS. Al-Anfal 8:15-16). Di antara sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa adalah sabar dalam peperangan:

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

213

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

 

د

ح

ر

ن يذع ل ا ك

ب

ب

عئلل ب وأ س أ ب ل

ب

ح

ع

ح

أ ب ل

ب

ح

ا ن

ب

يحع و ءار

ب

ر

ر

ض

لاو ءاس

ب

ح

ا

يفع ن ير ب اص

ب

د

ر

لاو ب

ن وقدرتم د ا م ده ك ب عئلل ب وأ و آوقد د ص

ب

ل

د

ع ع

ب

ب

ب

“…dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah 2:177)

6)

Sabar dalam Pergaulan Dalam pergaulan sesama manusia baik antara suami isteri, antara orang tua dengan anak, antara tetangga dengan tetangga, antara guru dan murid, atau dalam masyarakat yang lebih luas, akan ditemui hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Oleh karena itu dalam pergaulan sehari-hari diperlukan kesabaran, sehingga tidak cepat marah, atau memutuskan hubungan apabila menemui hal-hal yang tidak disukai. Kepada para suami diingatkan untuk bersabar terhadap hal-hal yang tidak dia sukai pada diri isterinya, karena boleh jadi yang dibenci itu ternyata mendatangkan banyak kebaikan.

                                     

“…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’ 4:19)

Keutamaan Sabar

Karena sabar merupakan sifat mulia yang istimewa, tentu dengan sendirinya orang-orang yang sabar juga menempati posisi yang istimewa. Misalnya dalam menyebutkan orang-orang beriman yang akan mendapat

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

214

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

surga dan keridhaan Allah SWT, orang-orang yang sabar ditempatkan dalam

urutan pertama sebelum yang lain-lainnya. Perhatikan firman Allah berikut ini:
urutan
pertama sebelum yang lain-lainnya. Perhatikan firman Allah berikut
ini:

“Katakanlah” “Inginkan aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertaqwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan ada pula pasangan-pasangan yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Yaitu orang-orang yang berdo’a: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. Yaitu orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imran 3:15-17)

Di samping segala keistimewaan itu, sifat sabar memang sangat dibutuhkan sekali untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Seorang mahasiswa tidak akan dapat berhasil mencapai gelar kesarjanaan tanpa sifat sabar dalam belajar. Seorang peneliti tidak akan dapat menemukan penemuan-

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

215

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

penemuan ilmiah tanpa ada sifat sabar dalam penelitiannya. Demikianlah seterusnya dalam seluruh aspek kehidupan.

Jaza’u

Lawan dari sifat sabar adalah al-jaza’u yang berarti gelisah, sedih, keluh kesah, cemas dan putus asa, sebagaimana dalam firman Allah SWT:

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH penemuan ilmiah tanpa ada sifat sabar dalam penelitiannya. Demikianlah seterusnya dalam seluruh aspek

”…Sama saja bagi kita, mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim 14:21)

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH penemuan ilmiah tanpa ada sifat sabar dalam penelitiannya. Demikianlah seterusnya dalam seluruh aspek

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij

70:19-22)

Ketidaksabaran dengan segala bentuknya adalah sifat yng tercela. Orang yang dihinggapi sifat ini, bila menghadapi hambatan dan mengalami kegagalan akan mudah goyah, berputus asa dan mundur dari medan perjuangan.

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

216

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

  • e. Bekerja keras dan tidak malas Seorang muslim tidak akan pernah lemah maupun malas, bahkan teguh dan rajin bekerja serta sangat giat, karena kelemahan dan kemalasan adalah dua akhlak tercela yang Rasulullah memehon perlindungan kepada Allah SWT dari kedua akhlak ini. Beliau sering berdoa :

لسكلاو زجعلا نم كبذوعأ ينإ مهللا ...

“Ya Allah

..

sungguh aku memohon perlindungan kepadamu dari sifat lemah

dan malas

..

HR Bukhori dan Muslim

Beliau juga mewasiatkan agar bekerja dengan giat :

اذإو زجعت لو هللاب نعتساو كعفني ام ىلع صرحا

نكلو ،اذك ناكل اذك تلعف ينأ ول لقت لف ءيش كباصأ

ناطيشلا لمع حتفت ول نإف ،لعف ءاش امو هللا ردق لق

“Bekerja giatlah atas apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, janganlah melemah, bila sesuatu menimpamu maka jangan kamu katakan, “andaikan saya kerjakan begini, niscaya begini, akan tetapi katakanlah, “Allah telah menentukan apa yang Dia kehendaki maka Dia laksanakan, sebab kata ‘andaikan’ akan membuka pekerjaan setan”. (HR Muslim).

Karena itu seoarng muslim tidak ditemukan sebagai yang lemah maupun malas, sebagaimana tidak ditemukan sebagai yang pengecut, kikir maupun bakhil. Maka mana mungkin ia hanya duduk berpangku tangan tanpa amal perbuatan, atau meninggalkan semangat bekerja untuk sesuatu yang sangat bermanfaat baginya.

Beberapa bentuk kelemahan dan kemalasan

1) Jika sesorang mendengan seruan adzan untuk shalat dia tidak menjawab, tidak memenuhi segera panggilan adzan, disibukkan oleh tidurnya, obrolan atau

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

217

DASAR-DASAR ISLAM, MUTHAWASSITHAH

pekerjaan yang tidak penting, sehingga waktu hampir habis dia baru melaksanakan shalat sendirian di akhir waktu. 2) Seseorang menghabiskan waktu satu atau beberapa jam dengan nongkrong di kedai-kedai kopi atau di kursi goyang, padahal ia memiliki tugas yang harus segera dikerjakan, namun dia menundanya. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukkan sikap lemah dan malasnya seseorang.

C. PERTANYAAN

  • 1. Apa tujuan diutusnya Rasulullah SAW ?

  • 2. Bagaimana firman AllahSWT tentang ketinggian akhlak Rasulullah

  • 3. Jelaskan beberapa bentuk shidiq !

  • 4. Kenapa manusia dilarang untuk bersikap sombong ?

  • 5. Dalam hal apa saja kita diperintahkan untuk bersabar ?

  • 6. Tulislah doa Rasulullah agar kita terlindung dari sifat lemah dan malas !

D. REFERENSI (END NOTE)

BUKU AJAR AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

218

  • 1 Diriwayatkan oleh Hakim dari Sahal bin Sa’ad, Shahih Jami’ ash-Shaghir, Hadis no. 1889

  • 2 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Jami’ ash-Shaghir, Hadis no. 1263

  • 3 Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Aisyah r.a., Shahih Jami’ ash-Shaghir, Hadis no. 4811

  • 4 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta : LPPI-UMY, 2001, hal. 81

  • 5 i b i d. h. 135-138