Anda di halaman 1dari 8

SIMULASI PENEBANGAN POHON DAN PENYARADAN

Oleh :
Aris Dewantoro
Ira Afelani
Britty Datin Hasna A.
Christian A Silalahi
Lidwina Ambarwati

E24130019
E24130035
E24130052
E24130084
E24130095

Asisten :
Razi Aulia Rahman E24110038
Annisa Murthafiah, S.Hut.

BAGIAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Penebangan adalah proses awal kegiatan pemanenan hutan yang


mengubah pohon berdiri menjadi kayu bulat yang dapat diangkut keluar hutan
untuk dimanfaatkan. Proses penenbangan ini terdiri dari kegiatan merebahkan
pohon dan membagi batang rebah menjadi sortimen kayu bulat. Untuk
menghasilkan sortimen yang diinginkan ada beberapa langkah yang perlu
dilakukan dalam tahap penebangan (elemen kerja), yakni :
Persiapan
Pembuatan takik untuk merebahkan pohon
Pemotongan ujung pangkal
Pencabangan
Pengupasan kulit
Pengukuran batang
Pemotongan batang
Atas dasar potensi hutan dan keadaan lingkungannya, maka dapat di
tetapkan tujuan penebangan dan pembagian batang sebagaimana yang
disebabkan Conway (1974) adalah :
Menghasilkan kayu bulat yang mengoptimalkan nilai hutan
Membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan sebelum dan
sesudah penebangan
Prinsip-prinsip penebangan adalah melaksanakan penebangan dengan
cara kerja yang aman untuk mencegah terjadinya kecelakaan terhadap diri sendiri
maupun orang lain yang ada di sekitar petak tebang; melakukan penebangan
dengan meminimakan kerusakan terhadap tegakan sisa, badan air dan tanah;
melakukan penebangan yang akan memaksimalkan kwantita produk kayu bulat
dari tiap pohon serta memaksimalkan kwalita (mutu) kayu yang
dihasilkan;membuat hasil pekerjaan penenbangan tidak menyulitkan kegiatan
pembagian batang dan penyaradan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penebangan antara lain yaitu faktor
kondisi pohon (besarnya pohon, kemiringan pohon dan mutu serta cacat pohon
yang ada), faktor kondisi lapangan tempat pohon tumbuh (topografi, kelerengan
atau kemiringan lapangan, keadaan tanah tempat pohon rebah), kondisi
lingkungan (kerapatan tumbuhan bawah, kerapatan pohon, cuaca), kemmapuan
tenaga kerja (keterampilan pekerja dan motivasi pekerja), dan kondisi dan macam
alat (kesiapan alat dan kelengkapan alat).
BAB II
METODE

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Penyaradan dan Simulasi Penebangan dilakukan pada hari
Senin, 05 Oktober 2015 pada pukul 13.00 WIB s.d 16.00 WIB di ruang
Laboratorium Pemanenan Hutan
dan dilanjutkan di Arboretum Fakultas
Kehutanan Instititut Pertanian Bogor.
2.2 Alat dan Bahan
1.
2.
3.
4.

Alat keamanan (Helm)


Kapur tulis
Alat tulis
Kamera

Adapun bahan yang digunakan adalah tegakan di arboretum Fakultas


Kehutanan Institut Pertanian bogor sebagai obyek praktikum.
2.3 Prosedur
1. Ditentukan areal atau tempat pohon yang akan ditebang.
2. Ditentukan pohon yang akan ditebang.
3. Ditentukan jalan saradnya dimana.
4. Ditentukan arah rebah.
5. Dibuat takik rebah dan takik balasnya.
6. Tandai takik rebah dan takik balas pada pohon dengan menggunakan
kapur.
7. Dokumentasikan arah takik rebah dan takik balas yang telah dibuat.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil

No

Koordin
at
x
y

Jenis
Pohon

Tinggi
TT

Tb
c

Tajuk
Diamete
r (cm)

Terpanjang
Xa
Xb
Xa

Xb

terpendek
Xa
Xb Xa Xb

Merbau

64,
5
Kayu Afrika 68

Kayu Afrika 45

Shorea

Pinus

39,
5
45,
5
48

13

7,5

89,17

4 cm 3 cm 40

26

11

79,62

2 cm 5 cm 150

16

9,5

57,96

43,
5
0

25

57,01

31

10

66,56

3 cm 2,7
cm
3 cm 2,1
cm
4 cm 3,5
cm

100
150
105

22
0
33
0
28
0
33
0
28
5

2 cm 1,5
cm
2,5
4
cm
cm
1 cm 1,8
cm
2,5
1,6
cm
cm
2 cm 1,5
cm

Perhitungan

Takik rebah

Takik balas

= 1/3*D
= 1/3* 57,01
= 19,003
= Diameter total Takik rebah
= 57,01 19,003
= 38,007

3.2 Pembahasan
Penentuan pohon
Pohon yang akan ditebang adalah pohon meranti dengan diameter 57 cm,
tinggi total 25 m dan tinggi bebas cabang 8 m. Kondisi pohon yang akan
ditebang sehat dengan mata kayu yang sedikit. Diameter yang cukup besar juga
menunjukan volume rendemen yang banyak. Pohon ini pun tidak memiliki rongga
didalamnya, hal ini dibuktikan dengan cara memukul batang pohon dan suara
yang dihasilkan menunjukan batang yang padat.
Arah rebah
Arah rebah dari pohon yang akan ditebang mengarah ke tenggara, arah ini
dipilih karena posisi pohon lain dan banyak pancang yang berada di sebelah barat

13
0
55
20
85
15

31
0
23
5
20
0
26
5
19
5

laut. Hal ini dilakukan karena untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan
yang disebabkan oleh perebahan pohon. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
arah rebah yaitu arah penyaradan, kemiringan lapangan, kemiringan pohon,
kesimetrisan tajuk, posisi pohon lain, posisi benda keras dan ketersediaan alat
bantu.
Arah penyaradan dari pohon ada di sebelah utara, posisi pohon yang
direbahkan ke arah tenggara sesuai dengan arah winching dari pohon yang
membentuk sirip ikan sebesar 450. Kondisi tanah di areal penebangan cukup datar
dengan jenis tanah kering, lalu pohon yang akan ditebangpun berbentuk silindris
dengan bentuk tajuk yang cukup simetris. Arah barat laut dari pohon banyak
ditemui pancang dan beberapa pohon lain, dengan ketinggian pohon yang
mencapai 25 meter jika direbahkan ke arah barat laut maka dampak kerusakan
yang akan ditimbulkan akan lebih banyak. Ke arah tenggara, ada benda yang
menghalangi yaitu batang pohon yang lapuk namun dapat dibersihkan. Kondisi
areal tebang yang mendukung proses perebahan pohon dan kondisi pohon yang
simetris dan silindris dapat direbahkan tanpa alat bantu apapun.
Arah sarad
Penyaradan kayu adalah kegiatan memindahkan kayu dari tempat
tebangan ke tempat pengumpulan kayu (TPn) atau ke pinggir jalan angkutan
(Conway 1975). Kegiatan ini merupakan kegiatan pengangkutan jarak pendek.
Untuk mengurangi kerusakan lingkungan (tanah maupun tegakan tinggal) yang
ditimbun oleh kegiatan penyaradan kayu, penyaradan seharusnya dilakukan sesuai
dengan rute penyaradan yang sudah direncanakan di atas peta kerja, selain itu juga
dimaksudkan agar prestasi kerja yang dihasilkan cukup tinggi (Mujetahid 2012).
Kondisi areal yang ada mendukung jalur sarad yang akan dibuat sehingga posisi
pohon sudah dapat ditarik langsung ke jalur sarad yang sudah dibuat tepat didepan
TPn. Posisi ini akan mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat kegiatan
memutar atau menumpuk pohon. Hal ini didukung oleh arah winching yang sudah
baik.
Cara membuat takik rebah dan takik balas
Pembuatan takik ada 2 yakni takik rebah dan takik balas. Takik rebah
dibuat serendah mungkin sehingga tunggak pohon hampir rata tanah. Kemudian
membuat takik balas agar pohon rebah pada arah rebah yang benar. Pembuatan
bertujuan untuk membuat pohon berdiri menjadi rebah agar mudah untuk
melakukan proses pemanenan hutan yang lainnya (Rizqiyah 2009). Teknik
penebangan yang dilakukan untuk merebahkan pohon ini adalah dengan
pembuatan takik rebah dan takik balas. Pohon meranti yang akan ditebang
merupakan pohon komersil kelas menengah sehingga penebangannya tidak perlu
digali. Tinggi takik rebah yang dibuat adalah 50 cm, dengan diameter pohon 57
cm maka panjang irisan horizontal yang dibuat adalah 22.8 cm yaitu 2/5 dari

diameter pohon sedangkan irisan atap yang dibuat harus membentuk sudut 45 0.
Jarak antara takik rebah dan takik balas adalah 1/6 dari diameter yaitu 9.5 cm.
Tinggi takik balas yang dibuat tidak boleh sejajar dengan takik rebah, tinggi yang
biasa digunakan adalah 5-10 cm. Takik rebah yang dibuat adalah 1/3 dari diameter
yaitu 19 cm.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Pohon yang akan ditebang adalah pohon meranti dengan diameter 57 cm,
tinggi total 25 m dan tinggi bebas cabang 8 m. Kondisi pohon yang akan
ditebang sehat dengan mata kayu yang sedikit. Arah penyaradan berada disebelah
utara sedangkan arah rebah pohon yang akan ditebang menghadap ke tenggara.
4.2 Saran
Sebelum melakukan penebangan sebaiknya harus diperhatikan terlebih
dahulu wilayah tebangan dan kondisi tegakannya sehingga dalam melakukan
penebangan tegakan yang didapat maksimal tanpa ada kerusakan terhadap tegakan
maupun ekologi lahan penebangan.

DAFTAR PUSTAKA
Conway S. 1975. Timber Cutting Practice. San Francisco , California (USA):
Miller Freeman Publication, Inc.
Mujetahid A. 2012. Produktivitas penebangan pada hutan jati (Tectona grandis)
rakyat di Kabupaten Bone. Jurnal Perennial, 5(1) : 53-58
Rizqiyah. 2009. Analisis kebijakan rata tanah untuk pohon jati (Tectona grandis
Linn f) di KPH Nganjuk Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Bogor
(ID) : Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian
Bogor.