Anda di halaman 1dari 4

Intisari

Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit Metabolik dengan karakteristik


hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya,
yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik. Diabetes melitus telah menjadi salah satu
penyakit yang paling banyak menyebabkan penyakit ginjal kronik. Pemeriksaan kadar
kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menilai fungsi
ginjal, karena konsentrasi dalam plasma dan ekskresinya di urin dalam 24 jam relatif konstan.
Kadar kreatinin serum yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan
fungsi ginjal.
Diabetes tidak terkontrol akan menyebabkan terjadinya komplikasi kronik
sehingga perlu dilakukan kontrol glikemik yaitu pemeriksaan Hemoglobin terglikasi
(HbA1c) dimana DM terkontrol dengan nilai cut off sebesar < 7% dan DM tidak terkontrol
7%. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbandingan kadar kreatinin pada
pasien DM tipe 2 terkontrol dan tidak terkontrol. Penelitian ini menggunakan kadar kreatin
yang terkontrol dan tidak terkontrol pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan jumlah subjek
penelitian sebesar 58 sampel. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan
crosssectional.
Hasil Penelitian dari 58 subjek penelitian didapatkan kadar kreatinin pada kontrol
glikemik yang terkontrol sebesar 1,22,3 dan rerata kreatinin pada glikemik yang tidak
terkontrol 1,051,3. Dari hasil uji independentT-test didapatkan probabilitas 0,064, karena
probabilitas >0,05 maka disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara kadar
kreatinin pada pasien DM tipe 2 terkontrol dan tidak terkontrol.

Pendahuluan
Diabetes melitus tipe 2 adalah suatu penyakit gangguan metabolisme yang ditandai
dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah dengan sebab multi faktorial, terutama
akibat gangguan pada pengeluaran (sekresi) insulin, kerja insulin, atau keduanya yaitu
dengan gejala klasik DM (poliuria, polidipsia dan polifagia, penurunan berat badan
yang tidak dapat dijelaskan sebabnya) ditambah pemeriksaan kadar glukosa darah
sewaktu 200mg/dl atau kadar GDP 126 mg/dl. Meningkatnya penderita DM tipe 2
disebabkan oleh peningkatan obesitas, kurang aktivitas fisik, kurang mengkonsumsi
makanan yang berserat, merokok, dan konsumsi makanan tinggi lemak. (Winarni,
2010).
Metode Penelitian

Pasien DM Tipe 2 Rawat jalan yang melakukan pemeriksaan


Laboratorium di Instalasi Patologi klinik RSUD Dr. Moewardi

Kriteria Inklusi

Kriteria Eksklusi

Subyek Penelitian

Pemeriksaan HbA1c

Kadar HbA1c <7%

Kadar HbA1c 7%

Pasien DM tipe 2 terkontrol

Pasien DM tipe 2 Tidak


terkontrol

Pemeriksaankadar kreatinin

Pemeriksaan kadar kreatinin

Hasil

Hasil

Analisa data

Kesimpulan

Hasil pembahasan
Karakteristik Subyek Penelitian
Variabel
Umur (tahun)

Jumlah (%)

Rerata

SD

Min

Max

57,24

2,05

30

8,5

Jenis kelamin
Pria

35(59%)

Wanita

23(41%)

Kreatinin mg/dl

2,09

HbA1c

7,94

1,98
2,44

0,6

8,3

15,5

Ket: SD= Standar deviasi, Max= Nilai tertinggi, Min= Nilai terendah
Hasil Perbandingan kadar kreatinin pada DM tipe 2 yang terkntrol dan tidak terkontrol
Variabel

DM
tipe
terkontrol
RerataSD

kreatinin

1,22,3

2 DM tipe 2 tidak
terkontrol
RerataSD
1,051,3

0,064

Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa penderita DM tipe 2 yang paling banyak terletak
pada umur diatas 40 tahun. Prevalensi DM maupun TGT meningkat seiring dengan
pertambahan usia (Rochmah, 2009). Banyak kasus DM tipe 2 memang terjadi pada
usia dewasa sehingga memungkinkan seseorang untuk mendapatkan komplikasi DM
bila pemantauan kadar glukosanya tidak diperhatikan.Untuk mengendalikan terjadinya
komplikasi DM adalah menggunakan pemeriksaan HbA1c. Hemoglobin terglikasi
merupakan kontrol glikemik jangka panjang pada orang DM. Hemoglobin terglikasi
digunakan

untuk melihat seberapa besar pemeriksaan dilakukan pada Hb yang

terglikasi, sesuai dengan umur eritrosit 3 sampai 4 bulan sekali. NIlai HbA1c untuk DM
yang terkontrol adalah <7% dan DM tidak terkontrol dengan nilai HbA1c 7%
(Anonim, 2012).
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
bermakna antara kadar kreatinin pada pasien DM tipe 2 terkontrol dan tidak terkontrol
(p=0,064).
Daftar Pustaka

Winarni, K. 2010. Perbandingan hasil Pemeriksaan Kreatinin Darah Metode Jaffe


Reaction Cara Deproteinasi dan Non Deproteinasi [Skripsi]. Semarang: Fakultas
Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Semarang.
Rochmah, W . 2009. Diabetes melitus pada usia lanjut. In:Sudoyo A. W., Setyohadi B., Alwi
I., Simadibrata M. K., Setia S. (eds), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jilid 3.
Jakarta: Interna Publishing.
Anonim. 2012. Wisconsin diabetes melitus essential care guidelines. Departement of Health
service, Bureau of Community Health Promotion.