Anda di halaman 1dari 5

SEJARAH PERPAJAKAN DI INDONESIA

Secara umum pemungutan pajak yang teratur dan permanen telah dikenakan pada masa kolonial.
Tetapi pada masa kerajaan dahulu juga telah ada pungutan seperti pajak, pungutan seperti itu
dipersembahkan kepada raja sebagai wujud rasa hormat dan upeti kepada raja, yang disampaikan
rakyat di wilayah kerajaan maupun di wilayah jajahan, figur raja dalam hal ini dapat dipandang
sebagi manifestasi dari kekuasaan tunggal kerajaan (negara).
Pada awal kemerdekaan pernah dikeluarkan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1950 yang
menjadi dasar bagi pajak peredaran (barang), yang dalam tahun 1951 diganti dengan pajak
penjualan(PPn) 1951 Pengenaan pajak secara sitematis dan permanen, dimulai dengan pengenaan
pajak terhadap tanah, hal ini telah ada pada zaman kolonial. Pajak ini disebut Landrent (sewa
tanah) oleh Gubernur Jenderal Raffles dari Inggris. Pada masa penjajahan Belanda disebut
Landrente. Peraturan tentang Landrente dikeluarkan tahun 1907 yang kemudian diubah dan
ditambah dengan Ordonansi Landrente. Pada tahun 1932, dikeluarkan Ordonansi Pajak Kekayaan
(PKk) yang beberapa kali diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun1964.

Pada tahun 1960 dikeluarkan UU Nomor 5 Tahun 1960 yang mengemukakan bahwa hukum atas
tanah berlaku atas semua tanah di Indonesia, ditegaskan lagi dengan Keputusan Presidium Kabinet
Tanggal 10 Februari Tahun 1967 Nomor 87/Kep/U/4/1967. dengan pemberian otonomi dan
desentralisasi kepada pemerintah Daerah, Pajak Hasil Bumi kemudian namanya diubah menjadi
IPEDA (Iuran Pembangunan Daerah) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Iuran Negara
No.PM.PPU 1-1-3 Tanggal 29 November 1965 yang berlaku mulai 1 November 1965.
DASAR HUKUM PAJAK
Dalam hal pemungutan pajak, Undang-Undang Dasar 1945 menentukan pada pasal 23 A yang
,menyebutkan bahwa:pajak & pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara
diatur dengan undang-undang. Ketentuan undang-undang dibidang pajak diantaranya:
1. Undang-Undang nomor 16 Tahun 2000 Tentang ketentuan umum & Tata cara perpajakan.
2. Undang Undang nomor 17 Tahun 2000 Tentang Pajak Penghasilan.
3. Undang-Undang nomor 18 Tahun 2000 Tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Barang & Jasa
serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
4. Undang-Undang nomor 12 Tahun 2000 Tentang Pajak Bumi & Bangunan.
5. Undang-Undang nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Materai.
6. Undang-Undang nomor 17 Tahun 1997 Tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak
7. Undang-Undang nomor 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah & Retribusi Daerah.
8. Undang-Undang nomor 19 Tahun 2000 Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
9. Undang-Undang nomor 20 Tahun 2000 Tentang Bea Perolehan Hak atas dan/ Bangunan.

a. Retribusi : Iuran kepada pemerintah yang dapat dipaksakan dan mendapati jasa balik secara
langsung yang dapat ditunjukkan. Paksaan disini bersifat ekonomis, karena siapa saja yang tidak

merasakan jasa balik dari pemerintah dan tidak dikenakan iuran itu. Misalnya retribusi pasar,
parkir, dll.
b. Sumbangan: Iuran kepada pemerintah yang dapat dipaksakan, yaitu ditunjukkan kepada
golongan tertentu, yang dimaksudkan untuk golongan tertentu pula. Paksaan di sini sifatnya
YURIDIS dan EKONOMIS. Misalkan SWP3D (SUMBANGAN/ SETORAN WAJIB
PEMBANGUNAN PEMELIHARAAN PRASARANA DAERAH) bagi pemilik kendaraan
bermotor.
Fungsi Pajak Dalam dunia perpajakan, sering disebutkan bahwa fungsi pajak ada dua yaitu fungsi
budgeter dan regulerend. Namun dalam perkembangannya fungsi pajak tersebut dapat
dikembangkan dan ditambah dua fungsi lagi yaitu fungsi demokrasi dan fungsi
redistribusi. Fungsi budgeter adalah fungsi yang letaknya di sektor publik, yaitu fungsi untuk
mengumpulkan uang pajak sebanyak-banyaknya sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku,
yang pada waktunya akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran Negara.
suatu fungsi bahwa pajak-pajak tersebut akan digunakan sebagai suatu alat untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu yang letaknya di luar bidang keuangan. Dalam hal ini, pajak berfungsi
sebagai alat pengatur keadaan sosial dan ekonomi. Salah satu contohnya yaitu adanya pengenaan
pajak dengan tarif yang tinggi untuk PPnBM.
suatu fungsi yang merupakan salah satu penjelmaan atau wujud sistem gotong royong dalam
kegiatan pemerintahan dan pembangunan demi kemaslahatan manusia. Fungsi demokrasi pada
masa sekarang ini sering dikaitkan dengan hak seseorang dalam memperoleh pelayanan dari
pemerintah. Apabila seseorang telah melakukan kewajiban membayar pajak kepada Negara sesuai
ketentuan yang berlaku, maka ia mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik dari
pemerintah. Bila pemerintah tidak memberikan pelayanan yang baik, pembayar pajak bisa
melakukan protes (complaint) terhadap pemerintah.
fungsi yang lebih menekankan pada unsur pemerataan dan keadilan dalam masyrakat. Hal ini
dapat terlihat misalnya dengan adanya tarif progresif pada undang-undang pajak yang
mengenakan pajak lebih besar kepada masyarakat yang mempunyai penghasilan besar dan pajak
yang lebih kecil kepada masyarakat yang mempunyai penghasilan lebih sedikit (kecil).
Pembangunan di suatu daerah dimaksudkan untuk membangun masyarakat seutuhnya, untuk itu
diharapkan pembangunan tersebut tidak hanya mengejar kemajuan daerah saja, akan tetapi
mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakat yang dapat berjalan serasi dan seimbang di
segala bidang dalam rangka menciptakan masyarakat adil dan makmur yang merata materil dan
spiritual. Pembangunan Nasional dan Pembangunan Daerah sesungguhnya menjadi tanggung
jawab warga negara dan masyarakatnya. Kaitannya dengan pembangunan daerah dalam rangka
otonomi daerah, pendapatan daerah menjadi sangat penting karena dapat meningkatkan taraf
hidup dan kesejahteraan masyarakat. Dengan pembangunan daerah yang serasi dan terpadu
disertai perencanaan pembangunan yang baik, efisien dan efektif maka akan tercipta kemandirian
daerah dan kemajuan yang merata diseluruh wilayah Indonesia.
Pelaksanaan pembangunan di daerah sangat tergantung dari pendapatan asli daerah serta
pengelolaan daerah itu sendiri. Hadirnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang

perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
membawa perubahan yang begitu besar bagi pelaksanaan pembangunan daerah. Secara tegas
undang-undang ini memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat atau
dengan kata lain daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 telah diberikan
Otonomi. Upaya pemerintah untuk membangun harus ditingkatkan dengan melakukan pembinaan
dan pengarahan kepada segenap masyarakat sehingga dapat terwujud tujuan dari pembangunan itu
sendiri, disamping peran serta masyarakat untuk mendukung kelancaran proses pembangunan.
Untuk melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan maka daerah / kota lebih dituntut
untuk dapat menggali seoptimal mungkin sumber-sumber keuangannya, seperti; pajak, retribusi
atau pungutan yang merupakan sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah, sebagaimana yang
dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004. Pajak yang sudah dipungut oleh negara
akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai
pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat.
Salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pajak daerah yang memiliki kontribusi
yang sangat penting dalam membiayai pemerintahan dan pembangunan daerah karena pajak
daerah bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan penerimaan PAD dan juga mendorong laju
pertumbuhan ekonomi daerah (Rina Rahmawati Ruswadi, 2009:18).
Pajak daerah merupakan jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk
membiayai rumah tangga daerahnya. Menurut Undang-undang No.28 tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Restribusi Daerah, Pajak Daerah yang selanjutnya disebut adalah kontribusi wajib
kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam hal ini ciri-ciri dari pajak
daerah meliputi (Kaho, 1995) dalam (Imam Mukhlis, 2010: 2); pajak daerah berasal dari pajak
negara yang diserahkan kepada daerah sebagai pajak daerah, penyerahan dilakukan berdasarkan
undang-undang, pajak daerah dipungut oleh daerah berdasarkan kekuatan undang-undang dan atau
peraturan hukum lainnya, hasil pungutan pajak daerah dipergunakan untuk membiayai
penyelenggaraan urusan-urusan rumah tangga daerah atau untuk membiayai pengeluaran daerah
sebagai badan hukum politik. Dalam hal ini terdapat tolak ukur untuk menilai pajak daerah, seperti
(Davey, 1988) dalam (Imam Mukhlis, 2010: 2); hasil, keadilan, daya guna ekonomi, kemampuan
melaksanakan kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah.
Pajak merupakan sumber utama penerimaan negara. Tanpa pajak, sebagian besar kegiatan negara
sulit untuk dapat dilaksanakan. Begitupun dengan daerah, seiring dengan diberlakukannya
otonomi daerah, maka daerah juga memiliki tanggung jawab sendiri untuk mengelola
perpajakannya. Penggunaan uang pajak meliputi mulai dari belanja pegawai sampai dengan
pembiayaan berbagai proyek pembangunan. Pembangunan sarana umum seperti jalan-jalan,
jembatan, sekolah, rumah sakit/puskesmas, kantor polisi dibiayai dengan menggunakan uang yang
berasal dari pajak. Uang pajak juga digunakan untuk pembiayaan dalam rangka memberikan rasa
aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap warga negara mulai saat dilahirkan sampai dengan

meninggal dunia, menikmati fasilitas atau pelayanan dari pemerintah yang semuanya dibiayai
dengan uang yang berasal dari pajak. Dengan demikian jelas bahwa peranan penerimaan pajak
bagi suatu daerah menjadi sangat dominan dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan
pembiayaan pembangunan.
Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, Sh., Hukum Pajak mempunyai keudukan di antara hukumhukum sebagai berikut:
Hukum Perdata, mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya.Hukum Publik,
mengatur hubungan antara pemerintah dengan dengan rakyatnya. Hukum ini dapat dirinci lagi
sebagai berikut:Hukum Tata Negara (Hukum Administratif)Hukum PajakHukum Pidana
Dengan demikian kedudukan pajak merupakan bagain dari hukum publik. Dalam mempelajari
bidang hukum, berlaku apa yang disebutLex Specialis derogat Lex Generalis, yang artinya
peraturan khusus lebih diutamakan dari pada peraturan umum atau jika sesuatu ketentuan belum
atau tidak diatur dalam peraturan khusus, maka akan berlaku ketentuan yang diatur dalam
peraturan umum. Dalam hal ini peraturan khusus adalah hukum pajak itu sendiri, sedangkan
peraturan umum adalah hukum publik atau hukum lain yang sudah ada sebelumnya.
Hukum pajak menganut paham imperatif, yakni pelaksanaan tidak dapat ditunda Misalnya dalam
hal pengujian keberatan, sebelum ada keputusan dari Direktur Jendral Pajak bahwa keberatan
tersebut diterima, maka Wajib Pajak yang mengajukan keberatan terlebih dahulu membayar pajak,
sesuai dengan yang telah ditetapkan. Berbeda dengan hukum pidana yang menganut paham
oportunitas, yakni pelaksanaannya dapat ditunda setelah keputusan lain.
Karena pajak merupakan peralihan kekayaan dari sector swasta ke sector negara, maka
pemungutannya agar tidak menimbulkan berbagai hambatan atau perlawanan dari pihak yang
dipungut, maka harus memenuhi beberapa syarat, antara lain yaitu :
Pemungutan Pajak Harus Adil ( Syarat Keadilan )Sesuai dengan tujuan hukum, yakni mencapai
keadilan, Undang Undang dan pelaksanaan pemungutan harus adil. Adil dalam perundangundangan diantaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan dengan
kemampuan dari masing-masing wajib pajak. Sedang adil dalam pelaksanaannya, yakni dengan
memberikan hak bagi wajib pajak untuk mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran
dan mengajukan banding kepada Majelis Pertimbangan Pajak atas utan pajak yang telah
ditetapkan.
Pemungutan Pajak Harus Berdasarkan Undang Undang ( Syarat Yuridis )Di Indonesia, pajak
diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini memberikan jaminan hokum untuk menyatakan
keadilan, baik bagi negara maupun bagi warganya.
Pemungutan Pajak Tidak Mengganggu Perekonomian ( Syarat Ekonomis ).Pemungutan pajak
tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan, sehingga tidak
menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.
Pemungutan Pajak Harus Efisien ( Syarat Finansiil )Syarat finansiil ini sejalan dengan fungsi
budgetair, yaitu bahwa pajak merupakan sumber utama penerimaan negara yang akan digunakan

untuk menutup sebagian pengeluaran negara. Dengan demikian maka pemungutan pajak harus
diusahakan seefektif dan seefisien mungkin sehingga bisa memasukkan uang ke kas negara
sebanyak-banyaknya dan meminimalkan biaya pemungutan sekecil-kecilnya.
Sistem Pemungutan Pajak Harus Sederhana ( Syarat Sederhana )Sistem pemungutan pajak yang
sederhana akan memudahkan dan mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban
perpajakannya. Syarat ini telah dipenuhi oleh Undang Undang perpajakan yang baru.Related
Post...
1. Asas Equality
Asas equality berarti asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas keadilan dan didefinisikan
bahwa pemungutan pajak yang dilakukan harus adil, sesuai dengan kemampuan dan penghasilan
wajib pajak, tanpa memihak- mihak dan diskriminatif.
2. Asas Certainty
Yang dimaksud dengan asas certainty adalah asas kepastian hokum dimana setiap pungutan pajak
yang dilakukan harus berdasarkan Undang Undang dan tidak boleh ada penyimpangan.
3. Asas Convinience of Payment ( Asas Kesenangan )
Asas ini disebut juga dengan asas pemungutan pajak tepat wakti, yaitu pajak dipungut saat wajib
pajak berada di saat yang baik dan sedang bahagia, misalnya saat baru menerima penghasilan
( pajak penghasilan ) atau memperoleh hadiah ( pajak hadiah ).
4. Asas Eficiency
Asas efficiency yaitu biaya pemungutan pajak dilakukan seefisien mungkin sehingga tidak terjadi
biaya administrative pemungutan pajak lebih besar daripada penerimaan pajak itu sendiri.