Anda di halaman 1dari 25

PROPOSAL PENAMBANGAN TIMAH DI

DAERAH PULAU SINGKEP


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Geologi Eksplorasi

Nama : Roni Yunus


NIM : 072.12.195

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2015

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

1.1
1.2
1.3

2
2
2

Definisi Timah
Tahap Penambangan Timah
Aturan Yang Wajib Dipatuhi

BAB II DAERAH LOKASI PENAMBANGAN

2.1

Latar Belakang

2.2

Lokasi Tujuan (Untuk Penambangan)

2.3

Potensi Cadangan Timah dilokasi dan Sekitarnya

2.4

Sejarah Penambangan Timah Dilokasi dan Sekitar

BAB III PROSES TERBENTUKNYA TIMAH

BAB IV KONDISI GEOLOGI DAERAH PULAU SINGKEP

BAB V TEKNIK PENAMBANGAN

BAB VI PENGOLAHAN

10

BAB VII PEMASARAN DAN POTENSI TIMAH

12

BAB VIII ESTIMASI RINCIAN BIAYA

14

BAB VIII ESTIMASI KEUNTUNGAN

20

DAFTAR PUSTAKA

21

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut Nama Tuhan Yesus Kristus Allah Bapa , saya panjatkan puji syukur
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat dan penyertaanya kepada penulis sehingga
penulis dapat menyelesaikan Proposal Penambangan Timah Di Daerah Pulau Singkep.
Adapun proposal ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Geologi Eksplorasi
yang bertema pembuatan proposal tambang untuk mineral golongan A dan B. Proposal ini
telah saya usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan beberapa pihak,
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa
menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa dalam contoh
pembuatan proposal ini ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi
lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebarlebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki contoh proposal pembukaan usaha tambang ini dengan judul Proposal
penambangan Timah Di Daerah Pulau Singkep . Akhirnya penyusun mengharapkan semoga
dari contoh proposal ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan
inspirasi terhadap pembaca.

Jakarta, 9 Oktober 2015

Roni Yunus

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Definisi Timah
Timah merupakan logam dasar terkecil yang diproduksi yaitu kurang dari 300.000 ton

per tahun, dibandingkan dengan produksi aluminium sebesar 20 juta ton per tahun. Timah
digunakan dengan berbagai cara di pabrik timah, solder dan pabrik kimia; mulai dari baju anti
api, sampai dengan pembuatan stabiliser pvc, pestisida dan pengawet kayu. Di pabrik timah
digunakan untuk kemasan bersaing dengan aluminium, namun pasar kemasan cukup besar
bagi keduanya dengan masing-masing keunggulannya. Kaleng lapis timah lebih kuat dari
kaleng aluminium, sehingga menjadi keunggulan bagi produk makanan kaleng. Peningkatan
terbesar dalam permintaan timah baru-baru ini adalah karena tekanan lingkungan yang
meminta pabrik solder memangkas kandungan lead pada solder, sehingga membuat
kandungan timah dalam solder meingkat dari 30% menjadi hampir 97% hal ini merupakan
peningkatan konsumsi yang besar. Tingginya kebutuhan akan timah, maka potensi dalam
sektor penambangan timah sangat menjanjikan dan menguntungkan.

1.2

Tahap Penambangan Timah


Dalam Pertambangan Timah hingga sampai pada tahap akhir yaitu pemasaran ada

beberapa mekanisme atau langkah yang harus dilakukan. Sebelum menjelaskan tahapannya
kita harus mengetahui definisi pertambangan. Pertambangan ialah suatu rangkaian kegiatan
mulai dari kegiatan penyelidikan bahan galian sampai dengan pemasaran bahan galian.
Secara umum tahapan kegiatan pertambangan terdiri dari Penyelidikan Umum (Prospeksi),
Eksplorasi, Penambangan, Pengolahan, Pengangkutan, dan Pemasaran. Maka sebelum kita
memulai penambangan kita harus mengetahui urutan langkah agar dapat mencapai hasil yang
maksimal.

1.3

Aturan Yang Wajib Dipatuhi


Secara garis besar dalam pembukaan pertambangan ada aturan yang harus dipenuhi.

Aturan tersebut telah dirangkum dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan Peraturan
Menteri Perdagangan No. 29/M-DAG/PER/5/2012 tentang Ketentuan Ekspor Produk
Pertambangan (Permendag 29/2012) mengatur mengenai ekspor Produk Pertambangan.
2

BAB II DAERAH LOKASI PENAMBANGAN

2.1

Latar Belakang
Rare Earth Elements (REE) merupakan kumpulan unsur kimia yang pada sekitar abad

ke-19 diketahui terisolir dengan tingkat kelimpahan kecil. Perkembangan ilmu kebumian
kemudian menyimpulkan bahwa beberapa elemen REE memiliki kelimpahan lebih besar dari
pada perak (Ag), timbal (Pb), tembaga (Cu), maupun air raksa (Hg) dalam kerak Bumi
(Castor dan Hedrick, 2006). Selain unsur kimia yang tergabung dalam kelompok Lantanida
(nomor atom (Z) = 57-71), Scandium (Sc, Z=21) dan Yttrium (Y, Z=39) juga termasuk dalam
kelompok ini karena dianggap memiliki sifat kimia yang hampir sama. Di Indonesia,
keterdapatan REE belum menjadi fokus utama baik bagi negara maupun masyarakat walau
mineral ini merupakan bahan untuk teknologi canggih. Secara tektonik, Kepulauan Riau
merupakan bagian dari Paparan Sunda yang terletak di tepi barat lempeng Eurasia. Tatanan
tektnonik paparan ini terbentuk oleh amalgamasi dari lempeng mikro alokton, fragmen
kontinental, busur kepulauan dan komplek akresi yang tergabung sebelum Tersier. Kepulauan
yang termasuk dalam jalur timah di Indonesia ini sudah sejak lama terkenal sebagai daerah
penghasil Timah. Pulau Singkep sebagai salah satu pulau di Kepulauan Riau yang dilalui
jalur ini merupakan wilayah yang terbukti telah menjadi sumber Timah selama puluhan tahun
(Suprapto, 2008).
2.2

Lokasi Tujuan (Untuk Penambangan)


Pulau Singkep sangat berpotensi mengandung REE. Secara administratif, Pulau

Singkep merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki beragam potensi
bahan galian. Pulau Singkep, ini dibatasi oleh koordinat 0,3333 0,7083 Lintang Selatan
dan 104,2333 104,6083 Bujur Timur. Sebagai contoh, potensi bauksit dengan kadar
ekonomis tersebar cukup merata di Kabupaten Lingga. Hal ini didukung oleh kondisi geologi,
morfologi dan keadaan iklim di daerah Kabupaten Lingga. Pulau Singkep dan pulaupulau di
sekitarnya memiliki potensi yang relatif sama terhadap terbentuknya bahan galian bauksit.
Bahan galian lain yang terdapat di Kabupaten Lingga, khususnya Pulau Singkep adalah timah
(Sn). Bahan tambang ini dikenal masyarakat sebagai timah putih, selain istilah timah hitam
sebagai sebutan untuk timbal (Pb).

2.3

Potensi Cadangan Timah dilokasi dan Sekitarnya


Di Indonesia, potensi timah ada di Pulau Bangka, di Pulau Belitung, Pulau Singkep

dan Pulau Karimun. Selain itu, dua pertiga bagian jalur timah berada di bawah laut. Dari
sekian pulau tersebut, Pulau Bangka merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia.
Pulau Bangka yang luasnya 1.294.050 hektar seluas 25% daratan pulaunya merupakan
kawasan pertambangan timah.

Gambar 2. Jalur sebaran timah putih (http://timah.com)

2.4

Sejarah Penambangan Timah Dilokasi dan Sekitar


Penambangan di pulau bangka sudah ada sejak tahun 1711, di Singkep pada tahun

1812, dan di Belitung sejak 1852.Walaupun telah berlangsung ratusan tahun, tetap belum
mampu melahirkan kesejahteraan bagi rakyat. Pendapatan berlimpah dari aktivitas
penambangan pada akhirnya belum mampu mendukung terwujudnya kemakmuran bagi
seluruh rakyat Bangka Belitung. Belum lagi penyelundupan yang sulit terbatahkan, dari mana
Negara. Sehingga perlu dibuatnya Pertamabangan Legal,resmi dan dibawah izin pemerintah.
Dengan dibuatnya

pertambangan legal dan terkontrol diharapkan dapat mampu

memperkerjakan penduduk sekitar dan meningkatkan kualitas pendapatannya.

BAB III PROSES TERBENTUKNYA TIMAH


Genesa secara Umum
Sumber timah yang terbesar yaitu sebesar 80% berasal dari endapan timah sekunder
(alluvial) yang terdapat di alur-alur sungai, di darat (termasuk pulau-pulau timah), dan di
lepas pantai. Endapan timah sekunder berasal dari endapan timah primer yang mengalami
pelapukan yang kemudian terangkut oleh aliran air, dan akhirnya terkonsentrasi secara
selektif berdasarkan perbedaan berat jenis dengan bahan lainnya. Endapan alluvial yang
berasal dari batuan granit lapuk dan terangkut oleh air pada umumnya terbentuk lapisan pasir
atau kerikil.
Mineral utama yang terkandung pada bijih timah adalah cassiterite (Sn0 2). Batuan
pembawa mineral ini adalah batuan granit yang berhubungan dengan magma asam dan
menembus lapisan sedimen (intrusi granit). Pada tahap akhir kegiatan intrusi, terjadi
peningkatan konsentrasi elemen di bagian atas, baik dalam bentuk gas maupun cair, yang
akan bergerak melalui pori-pori atau retakan. Karena tekanan dan temperatur berubah, maka
terjadilah proses kristalisasi yang akan membentuk deposit dan batuan samping.
Pembentukan mineral kasiterit (Sn02) dan mineral berat lainnya, erat hubungannya
dengan batuan granitoid. Secara keseluruhan endapan bijih timah (Sn) yang membentang dari
Mynmar Tengah hingga Paparan Sunda merupakan kelurusan sejumlah intrusi batholit.
Batuan induk yang mengandung bijih timah (Sn) adalah granit, adamelit, dan granodiorit.
Batholit yang mengandung timah (Sn) pada daerah Barat ternyata lebih muda (Akhir
Kretasius) daripada daerah Timur (Trias).
Proses pembentukan bijih timah (Sn) berasal dari magma cair yang mengandung
mineral kasiterit (Sn02). Pada saat intrusi batuan granit naik ke permukaan bumi, maka akan
terjadi fase pneumatolitik, dimana terbentuk mineral-mineral bijih diantaranya bijih timah
(Sn). Mineral ini terakumulasi dan terasosiasi pada batuan granit maupun di dalam batuan
yang diterobosnya, yang akhirnya membentuk vein-vein (urat), yaitu : pada batuan granit dan
pada batuan samping yang diterobosnya.
Berdasarkan tempat atau lokasi pengendapannya endapan bijih timah sekunder dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1.

Endapan Elluvial adalah endapan bijih timah yang terjadi akibat pelapukan secara
intensif. Proses ini diikuti dengan disintegrasi batuan samping dan perpindahan mineral
kasiterit (Sn02) secara vertikal sehingga terjadi konsentrasi residual.
5

Ciri-ciri endapan elluvial adalah sebagai berikut :

Terdapat dekat sekali dengan sumbernya

Tersebar pada batuan sedimen atau batuan granit yang telah lapuk

Ukuran butir agak besar dan angular

2. Endapan Kollovial adalah Endapan bijih timah yang terjadi akibat peluncuran hasil
pelapukan endapan bijih timah primer pada suatu lereng dan terhenti pada suatu gradien yang
agak mendatar diikuiti dengan pemilahan
Ciri-cirinya :

Butiran agak besar dengan sudut runcing

Biasanya terletak pada lereng suatu lembah


3. Endapan Alluvial
Endapan bijih yang terjadi akibat proses transportasi sungai, dimana mineral berat dengan
ukuran butiran yang lebih besar diendapkan dekat dengan sumbernya. Sedangkan mineralmineral yang berukuran lebih kecil diendapkan jauh dari sumbernya.
Ciri-cirinya :

Terdapat di daerah lembah

Mempunyai bentuk butiran yang membundar


4. Endapan Miencan
Endapan bijih timah yang terjadi akibat pengendapan yang selektif secara berulang-ulang
pada lapisan tertentu.
Ciri-cirinya :

Endapan berbentuk lensa-lensa

Bentuk butiran halus dan bundar

5. Endapan Disseminated
Endapan bijih timah yang terjadi akibat transportasi oleh air hujan. Jarak transportasi sangat
jauh sehingga menyebabkan penyebaran yang luas tetapi tidak teratur.
Ciri-cirinya :

Tersebar luas, tetapi bentuk dan ukurannya tidak teratur

Ukuran butir halus karena jarak transportasi jauh


6

Terdapat pada lapisan pasir atau lempung


Endapan timah sekunder termasuk salah satu jenis endapan placer yang mempunyai
nilai ekonomis. Batchelor (1973) mengemukakan tentang evolusi Sunda land Tin Placer
yaitu pembentukan endapan timah placer terjadi dalam kurun waktu yang lama sejak kala
Miosen Tengah dengan ditandai mineralisasi primer tersingkap dengan skala yang besar.
Tubuh pluton granit ini mengalami pelapukan laterit dalam (deep laterite weathering) yang
mengakibatkan komposisi kandungan mineral yang tidak resisten lapuk meningalkan
mineral-mineral berat termasuk kasiterit dalam matriks kaolin kemudian mengalami erosi
membentuk endapan elluvial placer.
Proses erosi berjalan terus yang menyebabkan endapan ini tertranspor lebih jauh
membentuk endapan kolovial placer, kejadian ini terjadi pada Sunda Land Regolith selama
Miosen bawah Pliosen Awal, tipe tipe endapan ini di Indonesia lebih dikenal dengan
endapan timah kulit. Proses ini dilanjutkan dengan proses mass wasting yang
mengkibatkan terakumulasinya endapan kollovial pada dasar lereng kulit (base of hillslope),
selama proses ini terjadi zona zona sesar dan kekar sehingga alterasi / ubahan hydrothermal
tererosi. Akumulasi yang dibentuk dari hasil erosi ini mengandung bongkah bongkah
regolith, karena kandungan air yang ada terlalu tinggi menyebabkan terjadinya debris flow
membentuk endapan piedmont tin placer dengan ciri khas butiran timah yang kasar.
Endapan Piedmont Tin Placer mengalami reworking lagi dan membentuk timah
berukuran gravel yang tertransport pada lingkungan fluvial yang dikenal dengan Braided
Stream Placer. Endapan ini mengalami reworking lagi membentuk endapan Beach Placer
dengan karakteristik endapan lebih tipis dan lebih luas dari pada endapan Braided Stream
Placer. Variabel variable yang mempengaruhi konsentrasi (kekayaan) endapan timah
placer adalah :

Batuan sumber (source rock) : ukuran , kadar, distribusi butiran dari daerah
mineralisasi sebagai sumber.

Tektonik : membentuk morfostruktur permukaan bumi.

Iklim : mempengaruhi proses pada permukaan bumi yang meliputi pelapukan, erosi,
transportasi dan sedimentasi.
Aspek aspek mempengaruhi keberadaan dan terjadinya endapan placer, genesa endapan
timah placer tergantung pada beberapa aspek diantaranya : Sumber batuan yang mengandung
endapan primer kaya akan kasiterit, pelapukan yang kuat sehingga mampu membebaskan
mineral kasiterit dengan mineral lainnya, gerakan masa batuan yang lapuk sepanjang lereng,
7

konsentrasi mekanis material lepas yang terjadi secara selektif dan diendapkan kedalam suatu
cekungan.

BAB IV KONDISI GEOLOGI DAERAH PULAU SINGKEP

Daerah Tujuan Pertambangan terletak didaerah yang terliput Peta Geologi Lembar
Dabo dengan skala 1:250.000 (Sutisna drr., 1994). Berdasarkan peta tersebut, batuan tertua
yang tersingkap adalah Kompleks Malihan Persing [PCmpk] dan Kuarsit Bukit Duabelas
[PCmp]. Kompleks Malihan Persing terdiri atas perselingan batusabak dengan urat-urat
kuarsa terdapat di bagian selatan Pulau Singkep, sedangkan Kuarsit Bukit Duabelas
tersingkap di bagian utara yang tersusun oleh kuarsit sisipan filit dan batusabak. Kedua
satuan berumur Perm-Karbon ini telah mengalami perlipatan dan pensesaran. Pada zaman
Jura, Kompleks Malihan Persing [PCmpk] dan Kuarsit Bukit Duabelas [PCmp] diterobos
oleh Granit Tanjungbuku [Jgt] di daerah baratdaya Pulau Singkep. Pada bagian baratlaut
hingga tengah Pulau Singkep terdapat Satuan Granit Muncung [Trgm] yang berumur Trias.
Kedua satuan granitoid sama-sama terdiri atas granit dan diorit. Endapan Rawa [Qs] dan
Aluvium [Qa] terbentuk pada era Kuarter. Endapan Rawa terdiri atas lempung, lumpur dan
gambut; sedangkan Aluvium disusun oleh kerikil, pasir, lempung dan lumpur

Peta geologi Pulau Singkep


digambar ulang dari Sutisna drr., (1994))

BAB V TEKNIK PENAMBANGAN

Penambangan bahan galian dibagi atas tiga bagian yaitu tambang terbuka, tambang
bawah tanah dan tambang bawah air. Tambang terbuka dikelompokan atas quarry strip mine,
open cut, tambang alluvial, dan tambang semprot. Tambang bawah tanah dikelompokkan atas
room and pillar, longwall, caving, open stope, supported stope, dan shrinkage. System
penambangan dengan menggunakan kapal keruk dapat dikelompokkan menjadi tambang
bawah air, walaupun relative dangkal. Dimana berikut penjelasannya
a. Metoda tambang terbuka
Tambang terbuka secara umum didefinisikan sebagai kegiatan penambangan bahan
galian yag berhubungan langsung dengan udara luar. Terdapat tahapan umum dalam kegiatan
penambangan terbuka yaitu pembersihan lahan, pengupasan tanah pucuk dan menyimpannya
di tempat tertentu, pembongkaran dan overburden dengan ataupun tanpa bahan peledak dan
memindahkannya ke disposal area, penggalian bahan galian atau eksploitasi, dan
membawanya ke stockpile untuk diolah dan dipasarkan .
b. Tambang Bawah Tanah
Tambang bawah tanah secara umum didefinisikan sebagai tambang yang tidak
berhubungan langsung dengan udara luar. Terdapat beberapa tahapan dalam tambang bawah
tanah yaitu, pembuatan jalan utama (main road), pemasangan penyangga (supported),
pembuatan lubang maju untuk produksi, ventilasi, drainase, dan fasilitas tambang bawah
tanah lainnya. Setelah itu melakukan operasional penambangan bawah tanah dengan atau
tanpa bahan peledak dan kemudian membawa bahan galian ke stock pile untuk diolah dan
dipasarkan.
c.Tambang bawah air
Tambang bawah air ialah metode penambangan di bawah air yang dilakukan untuk
endapan bahan galian alluvial, marine dangkal dan marine dalam. Pralatan utama
penambangan bawah air ini ialah kapal keruk.
Penambangan timah putih pada lokasi diperkirakan akan dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu semprot, penggalian dengan menggunakan excavator, atau
9

menggunakan kapal keruk untuk penambangan endapan aluvial darat yang luas dan dalam
serta endapan timah lepas pantai.

BAB VI PENGOLAHAN

Untuk menghasilkan pasir timah kadar tinggi melalui beberapa tahapan proses
pengolahan. Pasir timah di alam masih tercampur dengan butiran mineral-mineral lain.
Timah dalam bentuk mineral kasiterit dipisahkan dari pengotor berupa mineral ringan
dengan pemisahan fisik secara gravitasi. Pemisahan dilakukan dengan menggunakan sluice
box, spiral, dan meja goyang. Pemisahan mineral bersifat magnetik dan bukan magnetik
menggunakan separator magnetik. Pemisahan mineral bersifat konduktor dan bukan
konduktor menggunakan separator tegangan tinggi.
Proses untuk meningkatkan kadar bijih timah atau konsentrat yang berkadar rendah,
dilakukan di Pusat Pencucian Bijih Timah (Washing Plant). Melalui proses tersebut bijih
timah dapat ditingkatkan kadar (grade) Sn-nya dari 20 - 30% Sn menjadi 72% Sn untuk
memenuhi persyaratan peleburan. Proses peningkatan kadar bijih timah yang berasal dari
penambangan di lepas pantai maupun di darat diperlukan untuk mendapatkan produk
akhir berupa logam timah berkualitas dengan kadar Sn yang tinggi dengan kandungan
pengotor (impurities) yang rendah.
Hasil pemisahan konsentrat, selain diperoleh kasiterit
diperoleh juga mineral-mineral ikutan.

untuk dilebur,

Mineral-mineral terutama zirkon, monasit, ilmenit

dan xenotim merupakan produk sampingan dari hasil pemisahan secara fisik yang
mempunyai prospek ekonomi untuk dimanfaatkan. Pemisahan kasiterit

dari

pengotor,

meningkatkan nilai ekonomi mineral ikutan tersebut, meskipun belum semua mineral
ikutan, ekonomis untuk dimanfaatkan.
Konsentrat hasil dari proses pemisahan mempunyai kadar Sn 72%, selanjutnya
dilebur pada smelter timah putih. Bijih timah setelah dipekatkan lalu dipanggang sehingga
arsen dan belerang dipisahkan dalam bentuk oksida-oksida yang mudah menguap.
Kemudian bijih timah yang sudah dimurnikan itu direduksi dengan karbon. Timah cair yang

10

terkumpul di dasar tanur kemudian dialirkan ke dalam cetakan untuk memperoleh timah
batanga

Bagan alir proses pencucian dan pemurnian pasir timah (modifikasi dari Herman dkk, 2005)

11

Bagan alir proses peleburan timah putih (modifikasi dari Herman dkk, 2005)

BAB VII PEMASARAN DAN POTENSI TIMAH

Pemasaran timah putih mencakup kegiatan penjualan dan pendistribusian


logam timah yang nanti akan dijual baik kedalaman ataupun keluar negeri. Negara Negara
tujuan ekspor logam timah putih antara lain adalah Jepang, Korea, Taiwan, Cina dan
Singapura, Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol, Italia, Amerika Serikat dan Kanada.

Grafik produksi dan konsumsi timah putih dunia (Adnan, 2006)

Kebutuhan dunia akan timah putih yang cenderung meningkat, disertai juga
peningkatan harga, sementara sumber daya atau cadangan dunia semakin berkurang
akan memberikan peluang yang besar dalam pemasaran produk timah. Bahkan
kecenderungan harga yang membaik, serta posisi Indonesia sebagai eksportir terbesar
dunia, mempunyai kapasitas untuk mengendalikan harga di pasar dunia.

12

Grafik peningkatan konsumsi timah putih (Bishop dan Kettle, 2006).

Grafik perkembangan harga timah putih di bursa London (London Metal Exchange, 2008)

Indonesia sebagai eksportir timah terbesar dunia mempunyai peluang untuk


menjaga atau mengendalikan harga timah putih di pasar dunia. Hal ini perlu dikelola
secara optimal untuk menjaga dan melindungi kegiatan usaha pertambangan agar dapat
menghasilkan konstribusi pada pembangunan yang lebih optimal. Pengusahaan timah
putih di Indonesia sangat prospektif. Usaha pertambangan timah masih memerlukan
kegiatan dari hulu sampai hilir. Kegiatan eksplorasi terutama untuk endapan lepas pantai
masih diperlukan

13

BAB VIII ESTIMASI RINCIAN BIAYA

A)Penyelidikan Umum (Prospeksi) dan Perizininan


-Perizinan:
Persyaratan Pemohon
KP Penyelidikan Umum/ Eksplorasi
Perpanjangan KP Penyelidikan Umum/ Eksplorasi
KP Eksploitasi
Perpanjangan KP Eksploitasi
KP Pengolahan dan Pemurnian
KP Pengangkutan dan Penjualan
Pengakhiran KP / Pengembalian KP
Pemindahan KP
Mekanisme Pengajuan
Lama Penyelesaian
Biaya Perizinan
Hasil Proses
14

Persyaratan Pemohon
KP Penyelidikan Umum/ Eksplorasi
1.

Surat Permohonan

2.

Peta Lokasi/Wilayah

3.

Akte Pendirian

4.

Bukti Penyetoran Jaminan Kesungguhan

5.

Bukti Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh lembaga / pejabat yang berwenang

6.

Pelunasan Iuran Tetap

Perpanjangan KP Penyelidikan Umum/ Eksplorasi


1.

Surat Permohonan

2.

Peta Wilayah Penyelidikan Umum/Eksplorasi

3.

Laporan Lengkap Penyelidikan Umum / Eksplorasi

4.

Rencana Kerja dan Wilayah

5.

Pelunasan Iuran pertambangan

KP Eksploitasi
1.

Surat Permohonan

2.

Peta Wilayah

3.

Laporan Eksplorasi Lengkap

4.

Laporan Studi Kelayakan

5.

Laporan AMDAL atau UKL dan UPL

6.

Pelunasan Iuran Pertambangan

Perpanjangan KP Eksploitasi
15

1.

Surat Permohonan

2.

Peta Wilayah

3.

Laporan Akhir Kegiatan EKsplorasi

4.

Pelunasan Iuran Pertambangan

5.

Laporan Pengelolaan Lingkungan

6.

Rencana Kerja dan Biaya

KP Pengolahan dan Pemurnian


1.

Surat Permohonan

2.

Rencana Kerja

3.

Laporan Amdal atau UKL dan UPL

4.

Kesepakatan Pemegang KP

5.

Laporan Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian (untuk Perpanjangan)

KP Pengangkutan dan Penjualan


1.

Surat Permohonan

2.

Persetujuan Pemegang KP Eksploitasi

3.

Laporan Kegiatan

4.

Rencana Kerja

Pengakhiran KP / Pengembalian KP
1.

Surat Permohonan

2.

Laporan Akhir Kegiatan

3.

Pelunasan Iuran Pertambangan

4.

Laporan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan

16

Pemindahan KP
1.

Surat Permohonan

2.

Surat Pernyataan Pemegang Kuasa Pertambangan

3.

Berita Acara Serah Terima

4.

Akte Pendirian Baru

Mekanisme Pengajuan
1.

Mengajukan berkas permohonan di loket pelayanan

2.

Pemeriksaan berkas (lengkap)

3.

Survey ke lapangan (apabila perlu)

4.

Penetapan SKRD

5.

Proses Izin

6.

Pembayaran di Kasir

7.

Penyerahan Izin

Lama Penyelesaian
Selama 14 hari

Biaya Perizinan
1.

KP Gol A dan B Penyelidikan Umum/Eksplorasi Rp. 500.000,-

2.

KP Gol A dan B Eksplorasi ( 0 - 50 Ha) Rp. 1.000.000,-

3.

KP Gol A dan B Eksplorasi ( 51 -500 Ha) Rp. 3.000.000,-

4.

KP Gol A dan B Eksplorasi ( diatas 500 Ha) Rp. 5.000.000,-

5.

KP Gol A dan B Eksploitasi ( 0 - 50 Ha) Rp. 1.000.000,-

6.

KP Gol A dan B Eksploitasi ( 51 - 500 Ha) Rp. 3.000.000,-

7.

KP Gol A dan B Eksploitasi ( diatas 500 Ha) Rp. 5.500.000,17

8.

KP Gol A dan B Pengolahan dan Pemurnian ( 0 - 50 Ha) Rp. 500.000,-

9.

KP Gol A dan B Pengolahan dan Pemurnian ( 51 - 500 Ha) Rp. 1.000.000,-

10.

KP Gol A dan B Pengolahan dan Pemurnian ( diatas 500 Ha) Rp. 1.500.000,-

11.

KP Gol A dan B Pengangkutan dan Penjualan ( 0 - 50 Ha) Rp. 500.000,-

12.

KP Gol A dan B Pengangkutan dan Penjualan ( 51 - 500 Ha) Rp. 1.000.000,-

13.

KP Gol A dan B Pengangkutan dan Penjualan ( diatas 500 Ha) Rp. 1.500.000,Memakai jasa konsultasan geologist untuk menentukan daerah lokasi yang diperkirakan akan
ada lokasi jebakan timah sebelum eksplorasi langsung kelapangan.
Total biyaya yang diperkirakana mulai dari perizinan dll pada tahap ini sekitar
Rp400.000.000,00

B)Eksplorasi,
1) Biyaya geologist untuk maping dengan perkiraan diperlukan 7-10 orang geologist selama
kurang lebih 2 mingggu.
2. Observasi Lapangan
Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan cara mengamati secara
langsung proses kegiatan di lapangan dan ikut serta dalam mengerjakan objek penelitian
tersebut. Diperkirakan memakai jasa 10 geologist selama 7 hari dengan biyaya 1
juta/orang/hari
total selama seminggu 70 juta
3. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tentang perusahaan secara
umum baik itu berhubungan dengan penelitian maupun tidak, ini dilakukan untuk
memperoleh informasi dari arsip-arsip perusahaan demi terlaksananya penelitian dengan
menggunakan data-data relevan.
4. Pengumpulan Data di Lapangan
Pengumpulan data di lapangan dilaksanakan dengan rangka mendukung data-data yang sudah
ada, guna mengetahui secara langsung keadaan di lapangan dan pengaruh lokasi kegiatan
lapangan yang akan di lakukan dalam penelitian.
18

5. Wawancara
Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan berinteraksi langsung
dengan karyawan dan membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan objek penelitian
dan dari ini diketahui berbagai hal tentang kegiatan yang tidak sesuai dengan prosedur.
6.Data geofisika
Pada hakl ini memakai data berupa geomagnetik dan geolistrik untuk mencari lokasilokasi keberadaan timah.
Pada tahap ini diperkirakan mulai dari melengkapi data,peta,biyaya transport, dan lain- lain
sekitar Rp1.000.000.000,00

C)Penambangan
Penambangan timah putih pada lokasi diperkirakan akan dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu semprot, penggalian dengan menggunakan excavator, atau
menggunakan kapal keruk untuk penambangan endapan aluvial darat yang luas dan dalam
serta endapan timah lepas pantai dan diperkirakan memakan biyaya kurang lebih
Rp3.100.000.000,00

D)Pengolahan,
Untuk Pengolahan diperkirakan hingga sampai pada tahap pemisahan
konsentrat memakan biyaya 2.000.000.000,00

E)Pengangkutan
Untuk pengangkutan disesuaikan dengan konsumen. Apabila konsumen merupakan
dari luar negeri tentu harga pengangkutan lebih mahal tetapi disesuaikan dengan harga jual
timah yang lebih mahal juga. Perkiraan 1.000.000.000

F)Pemasaran.

19

Pemasaran untuk penjualan timah memakai sistem mencari pembeli terlebih dahulu
sehingga dapat menekan biyaya pemasaran, namun untuk transportasi untuk mencari
kesepakatan dengan pembeli dll diperkirakan memakan biyaya 200.000.000
Total estimasi biyaya dari tahap awal hingga akhir adalah Rp7.700.000.000,00

BAB IX ESTIMASI KEUNTUNGAN

Diperkirakan dalam setahun apabila dilakukan upaya secara maksimal maka daerah
ini akan dapat menghasilkan 1.000 ton

dalam setahun , dengan saat ini harga timah

US$14.390 per metrik ton. Dalam rupiah sekitar 143.900.000 harga permetrik ton, apabila
kita asumsikan harga rupiah 10.000.
Bila diestimasikan dengan jumlah cadangan maka 1.000 x 143.900.000 adalah Rp
143.900.000.000. sedangkan perkiraan biyaya pengeluaran sekitar Rp7.700.000.000,00.
Total keuntungan yang diperkirakan bisa diperoleh dalam setahun Rp136.200.000.000
atau seratus tiga puluh enam milyard dua ratus juta rupiah. Ini adalah perhitungan perkiraan
estimasi keuntungannya. Maka dapat disimpulkan daerah ini sangat prospek sekali untuk
dilakukan usaha pertambangan walaupun biyaya modal awalnya terasa cukup besar dan
sedikit beresiko tinggi.

20

DAFTAR PUSTAKA

Carlin, F., 2008. Mineral Information, USGS, http://minerals.usgs.gov/minerals/


Herman, Z., Suhandi, Fujiyono, H., dan Putra, C., 2005. Pemantauan dan Evaluasi
Konservasi di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Direktorat
Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Bandung
Irzon, R., 2010. Pengujian Trace-Rare Earth Elements Terhadap SRM AGV2 dan GBW
07113 dengan ICP-MS. Kumpulan Makalah Sarana Teknik Pusat Survei Geologi 39: 51-64.
Jaenudin, J., Eko, R., dan Toreno, Y., 2009. Penelitian Potensi Bahan Galian Pada Bekas
Tambang di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau. Prosiding Hasil Kegiatan Lapangan
Pusat Sumber Daya Geologi Tahun 2009: 161 175
Mamengko, D.V., 2013. Potensi Bauksit di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau. , v.
5, no.2: 66-70.
http://www.hukumpertambangan.com/
http://www.academia.edu/10347768/Kandungan_Rare_Earth_Elements_dalam_Tailing_Tam
bang_Timah_di_Pulau_Singkep
http://karyatulisilmiah.com/makalah-sejarah-perusahaan-pt-timah-persero-tbk/
http://psdg.bgl.esdm.go.id/buletin_pdf_file/Bul%20Vol%203%20no.%202%20thn
%202008/1.%20MAKALAH%20timah%20putih.pdf
21

http://psdg.bgl.esdm.go.id/prosiding_2012/Buku%202%20Mineral/06.%20Prosiding
%20Lingga.pdf
http://eprints.uny.ac.id/8691/2/BAB%201%20-%2008405244038.pdf
http://kumpulaninfotambang.blogspot.co.id/2012/01/penggolongan-bahan-galian.html
http://budikopen.blogspot.co.id/2013/10/tahapan-pertambangan-timah-di-bangka.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Timah_(perusahaan)
http://kumpulaninfotambang.blogspot.co.id/2011/12/tahapan-tahapan-kegiatan-usaha.html
https://dediyulhendra.wordpress.com/2011/09/01/timah/
http://atmantokukuh.blogspot.co.id/2012/11/artikel-tahap-tahap-penambangan-bijih.html
http://kienaar.blogspot.co.id/2014/03/jurnal-proses-penambangan-timah.html
http://kienaar.blogspot.co.id/2014/03/jurnal-proses-penambangan-timah.html
http://www.timah.com/v3/css/img/uploaded/Oktober%202014.pdf
http://www.tambang.co.id/biaya-operasional-eksplorasi-timah-mencapai-rp-18-miliar-5349/
http://karyatulisilmiah.com/makalah-sejarah-perusahaan-pt-timah-persero-tbk/
http://abstrak.web.id/contoh-proposal-usaha

22

23