Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENCUCIAN DAN DESULFURISASI


BATU BARA

Disusun oleh
Taufil Maula Iskak
121130009
Tania Gita Junifardilla 121130044
Dian Mustika Uwete
121130244

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepadaTuhan Yang Maha Esa atas segala ramat dan karuniaNya sehingga makalah berjudul Sumber Daya Batu Bara dapat diselesaikan dan makalah
ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Batu Bara.
Kami menyadari dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan,maka
dari itu kami berharap kritik serta saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan
makalah di masamendatang.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya mahasiswa
Teknik Kimia UPN VETERAN Yogyakarta.

Yogyakarta, September 2015

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang


Secara umum batubara digunakan untuk tujuan: pembakaran, memasak,
hydrogenation maupun pyrolisis. Batubara telah digunakan untuk jangka waktu yang lama
sebagai penghasil tenaga, meskipun usaha-usaha yang lebih besar telah dilakukan untuk
memperoleh produk-produk kimia maupun bahan bakar cair berbahan dasar batubara.
Mineral dan unsur kimia didalam batubara memainkan peranan penting didalam pemanfaatan
batubara. Dilaporkan adanya abrasi, abrasion, slagging and fouling selama rangkaian
pemindahan/transport batubara didalam sistem pembakaran. Akan tetapi keberadaan beberapa
mineral memberikan efek balik yang menguntungkan ke arah pembuatan minyak didalam
produksi cair dari proses coal liquefaction. Sebagai upaya menghilangkan dampak buruk
keberadaaan mineral maka unsur inorganik dan mineral didalam batubara perlu dihilangkan
menggunkan proses pencucian atau pembersihan (beneficiation process), yang merupakan
tahap awal sebelum proses pembakaran barubara. Dengan cara ini berarti menggunakan
sembarang proses untuk meningkatkan kualitas batubara atau memudahkan untuk
mengkontrol, memindahkan (transport) maupun menyimpan (store). Akan tetapi dalam
pengertian yang lebih tepat pengkayaan batubara (coal beneficiation) berarti membersihkan
batubara agar diperoleh bagian/fraksi yang hanya terkonsentrasi pada unsur organik saja serta
menurunkan kadar mineral maupun unsur inorganik.
Konsumsi energi global meningkatkan sejumlah masalah lingkungan hidup.Untuk
batubara, timbulnya polutan, seperti oksida sulfur dan nitrogen (SOx danNOx), serta partikel
dan unsur penelusuran, seperti merkuri, merupakan suatu masalah. Teknologi
telah dikembangkan dan dikerahkan untuk menekan emisi-emisitersebut.Dampak pada
lingkungan hidup dari konsumsi energy kita merupakan masalah bagi kita semua. Membatasi
dampak negatif dari produksi batubara dan penggunaanya merupakan prioritas bagi industry
batubara dan yang telah menjadifokus penelitian, pengembangan dan investasi. Banyak yang
telah dicapai teknologi telah berkembang dan banyak digunakan untuk membatasi emisi
partikel-partikel halus, NOx dan SOx serta unsur-unsur penelusuran. Peningkatan efisiensi
pembakaran batubara juga telah mencapai pengurangan yang signifikan dalam emisi karbon
dioksida. Penggunaan teknologi yang lebih untuk meningkatkan kinerjalingkungan batubara
akan merupakan hal yang penting, terutama di negara-negaraberkembang dimana
penggunaan batubara ditentukan untuk mengalami kenaikan yang tajam.Salah satu dampak
penggunaan batubara adalah terjadinya hujan asam. Hujan asam menjadi perhatian dunia
selama bagian akhir dari abad yang lalu, pada saat ditemukan pengasaman danau dan
kerusakan pohon di beberapa bagian di Eropa danAmerika Utara.Hujan asam disebabkan
oleh sejulmah faktor, termasuk drainase asam dariarea hutan yang telah dibuka dan emisi dari
pembakaran bahan bakar fosil dalam pengangkutan dan pembangkit listrik. Sulfur ada di
batubara sebagai campuran dan bereaksi dengan udara pada saat batubara dibakar untuk
menghasilkan SOx. Sebaliknya, NOx terbentuk pada saat bahan bakar fosil dibakar. Dalam
banyak hal, penggunaan batubara dengan kadar sulfur yang rendah adalah cara yang paling
ekonomis untuk mengendalikan dampak negatif penggunaan batubara.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pencucian Batu bara
II.1.1 Macam-Macam Alat Pencucian Batubara

1. Jig
Pencucian dengan alat ini didasarkan pada perbedaan spesific gravity. Proses
yang dilakukan Jig ini adalah adanya stratifikasidalam bed sewaktu adanya air
hembusan. Kotoran cenderung tenggelam dan batubara bersih akan timbul di atas.
Basic jig, Baum jig sesuai digunakan untuk pencucian batubara ukuran besar,
walaupun Baum Jig dapat melakukan pencucian pada batubara ukuran besar tetapi lebih
efektif melakukan pencucian pada ukuran 10 35 mm dengan spesifik gravity 1,5 1,6.
Modifikasi Baum jig adalah Batac jig yang biasa digunakan untuk batubara ukuran
halus. Untuk batubara ukuran sedang, prinsipnya sama yaitu pulsing (tekanan) air
hembusan berasal dari samping atau dari bawah bed. Untuk menambah bed atau
mineral keras yang digunakan untuk meningkatkan stratifikasi dan menghindari
percampuran kembali, mineral yang digunakan biasanya adalah felspar yang berupa
lump silica dengan ukuran 60 mm.
2. Dense Medium Separator (DMS)
Dense medium ini juga dioperasikan berdasarkan perbedaan spercific gravity.
Menggunakan medium pemisahan air, yaitu campuran magnetite dan air. Medium
campuran ini mempunyai spesific gravity antara batubara dan pengotornya. Slurry
magnetite halus dalam air dapat mencapai densitas relatif sekitar 1,8 ukuran batubara
yang efektif untuk dilakukan pencucian adalah 0,5 150 mm dengan Spesifik gravity
1,3 1,9 type dense-medium separator yang digunakan dapat berupa bath
cyclone dancylindrical centrifugal. Untuk cylinder centrifugal separator digunakan
untuk pencucian batubara ukuran besar dan sedang. Dense medium cyclone bekerja
karena adanya kecepatan dense medium, batubara dan pengotor oleh gayacentrifugal.
Batubara bersih ke luar menuju ke atas dan pengotornya menuju ke bawah. Gambar 2
menunjukkan contoh dense medium bath dan dense medium cyclone. Faktor penting
dalam operasi berbagai dense medium sistem didasarkan pada magnetite dan efisiensi
recovery magnetite yang digunakan lagi.
3. Hydrocyclone
Hydrocyclone adalah water based cyclone dimana partkel-partikel berat
mengumpul dekat dengan dindingcyclone dan kemudian akan ke luar lewat cone bagian
bawah. Partikel-partikel yang ringan (partikel bersih) mennuju pusat dan kemudian ke
luar lewat vortex finder. Diameter cyclone sangat berpengaruh terhadap efektifitas
pemisahan. Kesesuaian ukuran partikel batubara yang akan dicuci adalah 0,5 150 cm
dengan spesifik gravity 1,3 1,5

4. Concentration Tables
Proses konsentrasi table adalah konsentrasi dengan meja miring terdiri dari rib-rib
(tulang-tulang) bergerak ke belakang dan maju terus menerus dengan arah yang
horisontal. Partikel-partikel batubara bersih (light coal)bergerak ke bawah table,
sedangkan partikel-partikel kotor(heavy partical) merupakan partikel yang tidak
diinginkan terkumpul dalam rib dan bergerak ke bagian akhir table.Batubara ukuran
halus dapat dicuci dengan alat ini secara murah tetapi kapasitasnya kecil dan hanya
efektif untuk melakukan pencucian pada batubara dengan spesific gravity lebih besar
1,5 dengan ukuran partikel batubara yang dicuci 0,5 15 mm.
5. Froth Flotation
Froth Flotation merupakan metode pencucian batibara yang banyak digunakan
untuk ukuran batubara halus. Froth flotation cell digunakan untuk membedakan
karakteristik permukaan batubara. Campuran batubara dan air dikondisikan dengan
reagen kimia supaya gelembung udara melekat pada batubara dan mengapung sampai
ke permukan, sementara itu partikel-partikel yang tidak diinginkan akan tenggelam.
Gelembung udara naik ke atas melalui slurry di dalam cell dan batubara bersih
terkumpul dalam gelembung busa berada di atas. Kesesuaian ukuran butir batubara
yang dicuci < 0,5 mm dengan spesifik gravity 1,3.

II.1.2 Proses Pencucian Batubara


Proses pencucian batubara pada washing plant
1. Tahap preparasi
Kegiatan pengelompokan partikel ukuran yang berbeda-beda merupakan salah satu
kegiatan penting yang dilakukan didalam pabrik pencucian (Sudarsono,2003).Tahap
preparasi atau operasi pengecilan pada pabrik pencucian perlu dilakukan dengan tujuan :
a. Menyesuikan ukuran partikel batubara yang cocok dengan oprasi peralatan
pencucian
b. Kotoran mudah terliberasi dari tubuh batubara.
c. Agar ukuran partikel batubara sesui dengan permintaan pasar. Dalam pencucian
Batubara ukuran memegang peranan penting,ada keterkaitan antara ukuran dan
metode pencucian.
2. Tahap Pra pencucian/Pneumatic Cleaning
Tujuan dari tahap ini adalah menghilangkan material pengotor yang melekat pada
batubara dan mengurangi batubara yang berukuran -0,5 mm atau kurang 3/8 inchi.Pada
tahap ini akan memisahkan batubara (high -ash) dengan batubara (low- ash).batubara
kadar abu tinggi berada diatas sedangkan batubara kadar rendah berada dibawah.Skema
dapat dilihat pada (Gambar 1)

Sumber :Inspectors Guidance Manual Coal Preparation Plants,1998


Gambar 1. Coal Sizing Circuit

Sumber
:Inspectors
Guidance
Coal Prepar

Manual
ation Plants,1998
Gambar 2. Pneumatic Cleaning Circuit
3. Tahap pencucian

Tahap pencucian ini terjadi di dalam baum jig dan hydrocyclone a. Baum Jig
Batubara pretreatment yang berukuran -75 mm dialirkan ke baum jig melalui lubang
umpan (jig fedd sluice). Pada baum jig, umpan mengalami konsentrat gaya berat, sehingga
diperoleh tiga macam produk yaitu : 1. Batubara tercuci hasil konsentrasi gaya berat
berukuran -75 mm + 0,5 mm diteruskan ke dalam static screen dan double deck vibrating
screen untuk dikurangi kandungan airnya, serta dilakukan pemisahan ukuran
partikelnya.Double deck vibrating screen mempunyai lubang bukaan sebelah atas 5 mm
dan lubang bukaan sebelah bawah 0,5 mm, sehingga terjadi pemisahan ukuran batubra
tercuci setelah melewati double deck vibrating screen sebagai berikut : Batubara tercuci
hasil konsentrasi gaya berat berukuran -75 mm + 0,5 mm diteruskan ke dalam static screen
dan double deck vibrating screen untuk dikurangi kandungan airnya, serta dilakukan
pemisahan ukuran partikelnya.Double deck vibrating screen mempunyai lubang bukaan
sebelah atas 5 mm dan lubang bukaan sebelah bawah 0,5 mm, sehingga terjadi pemisahan
ukuran batubra tercuci setelah melewati double deck vibrating screen sebagai berikut : a)
Batubara tercuci ukuran -75 mm + 5 mm batubara tercuci ukuran -75 mm + 5 mm ini
diangkut oleh belt conveyor. b) Batubara tercuci ukuran -5 mm + 0,5 mm batubara tercuci
ukuran -5 mm + 0,5 mm ini dibawa oleh belt conveyor dan selanjutnya bersama produk
kasat di bawa ke storage. c). Batubara tercuci ukuran -0,5 mm batubara tercuci ukuran -0,5
mm ini ditampung pada dua macam sumuran (sump).
Untuk yang lolos dari descliming screen ditampung effluent sump, sedangkan yang
lolos dari sizing screen ditampung pada main sump. Batubara yang masuk ke effluent
sump, bersama-sama dengan air dipompakan ke effluent cyclone dan yang masuk ke main
sump dipompakan ke classifying cyclone untuk kemudian diproses lebih lanjut pada unit

pencucian berikutnya. 2. Produk menengah (middling) Produk menengah dari baum jig
diangkut dengan elevator A. dan ditumpahkan ke dalam bak penampung kotoran (discard
bin) 3.Batuan pengotor (Discard) Batuan pengotor dari pengotor produk baum jg diangkut
dengan elevator B yang kemudian ditumpahkan ke dalam discard bin. Selanjutnya produk
menengah dan produk pengotor ini dibuang ke tempat pembuangan dengan alat angkut
truck. Skema dari Jig-Table Cleaning Circuit ditunjukkan pada (Gambar 3).

S u m b e r : Inspectors Guidance Manual Coal Preparation Plants,1998


Gambar 3. Jig Table Cleaning Circuit
b. Hydrocyclone
Umpan (feed) dari hydrocyclone berasal dari effluent sump dan main sump. Material
yang masuk ke dalam hyrocylone tersebut akan mengalami konsentrasi gaya karena
adanya gaya sentrifugal yang terjadi di dalam cyclone, sehingga akan menghasilkan
produk limpahan atas (overflow) dan produk limpahan bawah (under flow). Limpahan
bawah tersebut selanjutnya akan menjadi umpanm pada slurry screen. Produk limpahan
atas dari hydrocyclone selanjutnya diproses pada peralatan sebagai berikut :
1. Head box
Pada head box produk limpahan atas dari cyclone tersebut terbagi lagi menjadi
dua macam produk, yaitu produk limpahan atas dari head box yang dipompakan lagi
pada lounder untuk dipakai pencucian kembali dan produk limpahan bawah yang
selanjutnya dialirkan ke thickener. Pengotor batubara yang berasal dari lumpur dan
juga batubara berbutir halus (fine coal) ikut bersama air pencucian yang dialirkan ke
tempat penampungan.(R.Hutamadi dan Edie Kurnia Djunaedi,2005).
2. Bak pengendap (thickener)
Over flow dari cyclone dialirkan ke bak penampungan (thickener). Material
yang masuk ke thickener merupakan material pengotor yang telah bercampur

membentuk lumpur, walau pada kenyataannya masih banyak produk batubara


umuran 0,5 mm yang terbawa bersama kotorannya. Didalam thickener dengan
bantuan flocculant terjadi proses pengendapan.Air yang digunakan akan diproses
untuk dapat digunakan kembali batubara akan di ditambahkan reagen sehingga
batubara akan mengapung diatas cairan.air akan dialirkan kembali kepencuian dan
batubara bersih akan masuk ke mesin pengering. Skema dari Water Clarification
Circuit ditunjukkan pada (Gambar 4).

Sumber:Inspectors
Guidance
Manual Coal Prepar
ation Plants,1998
Gambar 4. Water Clarification Circuit
3. Tahap pengurangan kandungan air batubara
Batubara yang sudah bersih dari berbagai proses pembersihan akan dikeringkan
dengan mengunakan fluid bed dyrer.Pengoperasian pengeringan ini dibawah tekanan
gas yang diambil dari sumber panas dari ruang fulidisasi.tungku pengndali suhu
bekerja disistem control untuk mencocokan perubahan penguapan.Skema dari Water
Clarification Circuit ditunjukkan pada (Gambar 5)

S u m b e r : Inspectors Guidance Manual Coal Preparation


Plants,1998

Gambar 5. Fluid-bed Dryer


II.2 Desulfurisasi
II.2.2 Teknologi Delsulfurisasi Batu bara
Desulfurisasi batubara merupakan suatu proses penurunan kadar sulfur dari batu bara.
Kandungan sulfur tersebut dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, menyebabkan
kerusakan (korosif) dan memperpendek umur alat. Agar batu bara tersebut dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar makan terlebih dahulu dilakukan proses
desulfurisasi. Desulfurisasi batubara dibutuhkan tidak hanya untuk meminimalkan
pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh emisi dari sulfur dioksida selama
pembakaran, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas batubara (Ehsani&M. Resa,
2006)
Dalam proses penangkapan unsur S atau desulfurisasi batubara dapat dilakukan
dengan berbagai macam cara yang berbeda yaitu secara :
1. Desulfurisasi Secara Fisika
Beberapa teknologi desulfurisasi secara fisika antara lain sebagai berikut:
a. Pemisahan Magnet
Dalam proses pemisahan magnet (magnetic separation) dilakukan atas
perbedaan muatan listrik (paramagnetik) bahan dalam campuran. Sulfur dalam
bentuk pirit (FeS2) memiliki sifat paramagnetik, dapat melekat pada magnet
sehingga dapat dipisahkan dari campuran batubara. Metode ini sangat
sederhana, sebab tidak memerlukan bahan-bahan aditif dan pereaksi kimia,
hanya membutuhkan power untuk menggerakan magnet dan mengalirkan bahan
batubara. Namun metode ini agak sulit mereduksi abu batuubara khususnya
jenis abu yang mengandung logam-logam diamagnetik sehingga fixed carbon
dan nilai kalor sulit dipertahankan.
b. Kolom flotasi
Metode ini sudah banyak digunakan secara komersial oleh industri batu
bara. Devisi riset empire coal company di Ohio Amerika telat merancang kolom
flotasi dengan skala pilot plant, diameter 8 inchi(o,2 m) dan tinggi 30ft (9m)
atau perbandingan L/D=45. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolom flotasi
mampu memisahkan sampai 70% sulfur pirit dan 80% abu batu bara.
c. Flokasi selektif
Metode ini dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pengurangan
kadar sulfur dari batubara dengan kolom flotasi konvesional. Prinsip pemisahan
adalah dengan penambahan reagent flokulan kedalam kolom flotasi yang secara
selektif mampu membentuk flok batubara sehingga meningkatkan efisiensi
pemisahan.
2. Desulfurisasi Secara Kimia
Beberapa metode desulfurisasi batubara secara kimia antara lain sebagai berikut:
a. Desulfurisasi menggunakan etanol
Metode ini efektif untuk mengurangi sulfur anorganik dan sulfur organik
dalam batubara, telah dikembangkan sampai tahap pilot plant dengan proses
alir. Jenis reaktor yang digunakan berupa fluidized bed dan moving bed.
b. Desulfurisasi dengan proses oksidasi selektif

Proses desulfurisasi dilakukan dalam reaktor fluidisasi pada suhu antara 650800 F dengan menggunakan uap dan udara. Proses yang dikembangkan oleh
Battle Colombus Devision mampu mengurangi kadar sulfur total sebesar 95%
dengan kehilangan panas rata-rata sebesar 15%. Gas SO2 yang dihasilkan
proses ini kemudian di proses lebih lanjut dalam unit DeSOx. Oleh Palmer et
al (1994) melakukan desulfurisasi batubara menggunakan oksidasi selektif
dengan campuran pereaksi hidrogen peroksida dan asam asetat yang akan
membentuk asam peroksi asetat secara in situ. Kelebihan pereaksi ini mampu
mereduksi semua kandungan sulfur anorganik dan sebagian sulfur organik
dalam batubara.
c. Desulfurisasi Menggunakan Asam Sulfonat Triflorometan (TFMS)
Metode ini menggunakan pelarut organik(toluena) dan asam sulfonat
triflorometan sebagai katalis. Metode ini dikembangkan hanya untuk
mengurangi kadar sulfur organik yang sulit dipisahkan dengan metode
konvensional. Proses desulfurisasi dilakukan dalam reaktor slurry pada suhu
sekitar 200 C. Pada konsentrasi TFMS 45,2 % mmol/g batubara diperoleh
tingkat desulfurisasi 48,7%.
d. Desulfurisasi menggunakan larutan barium klorida
Metode ini umumnya hanya efektif untuk menghilangkan sulfur anorganik
terutama pirit. Redeuksi sulfur organik tidak efektif dengan pereaksi ini karena
BaCl2 merupakan oksidator lemah. Disamping itu, sulitnya pemisahan
endapan BaSO4 yang terbentuk diproses ini menjadi problem lain sehingga
metode ini kurang dikembangkan (Aladin, A., 2002).
e. Desulfurisasi menggunakan oksidator besi sulfat atau besi klorida
Metode in cukup efektif untuk mengurangi kadar sulfur khususnya sulfur
anorganik (pirit) dalam batubara. Prinsip utama desulfurisasi ini adalah dengan
menggunakan reaksi oksidasi reduksi. Keuntungan proses ini adalah larutan
Fe2(SO4)3, memungkinkan direcovery untuk di re use sehingga bisa
menghemat biaya produksi, tetapi laju reaksinya relatif lambat pada suhu
kamar (Aladin, A., 2002).
Tahapan proses desulfurisasi secara kimia yaitu :
A. Oksidative ( temperatur penguraian batubara dibawah 400 C )
1.) Zat Pengoksidasi
Pada proses oksidasi untuk menghilangkan sulfur yang terkandung dalam
batubara menggunakan zat pengoksidasi sebagai berikut:
a) Metal ions (Fe+3, Hg+2, Ag+)
b) Strong acids (HNO3 + HClO4)
c) O2, Cl2, SO2, H2O2 dan udara.
2.) Meyers Proses
Metode yang digunakan dalam proses oksidasi ini yaitu Metode Meyer yang
telah dikembangkan. Proses tersebut berdasarkan oksidasi kandungan sulfur
bentuk pirit dalam batubara dengan menggunakan larutan Ferric sulfate panas,
tanpa menghilangkan asam organik.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Batu bara
: Berukuran 1,4 mm
Pereaksi
: Fe2(SO4)3
Temperatur
: 100-130 *C
Waktu
: 5-6 jam
Tekanan
: 3-6 atm
Pirit dioksidasikan menjadi ferrous sulfate, H2SO4 dan unsur S.
Penghilangan Pyritic-S : 83-99 %
As, Cd, Mn, Pb dan Zn juga dihilangkan.

3). Reaksi oksida desulfurisasi sebagai berikut:


5FeS2 + 23Fe2(SO4)3 + 24H2O51FeSO4+ 4S
O2 ditambahkan untuk mengoksidasi FeSO4 agar kembali menjadi
Fe2(SO4)3 4FeSO4 + 2H2SO4 + O2 2Fe2(SO4)3 + 2H2O .
Netralsasi batu kapur untuk menghilangkan kelebihan sulfat
Fe2(SO4)3 + CaO3CaSO4 + Fe2O3 FeSO4 + CaO CaSO4 + FeO .
4). Reaksi oksidade sulfurisasi secara umum :
2FeS2 + 7O2 + 2H2O 2FeSO4 + 2H2SO4
4FeSO4 + O2 + 2H2SO4 2Fe2(SO4)3 + 2H2O
Fe2(SO4)3 + 3H2O Fe2O3 + 3H2SO4
B. Caustic ( temperatur penguraian batubara dibawah 400 C )
1). Reaksi Desulfurisasi menggunakan caustic :
2FeS2 + 6NaOH2NaFeO2 + Na2S + 2H2O + O2
Coal-S + 2NaOH Coal-O + Na2S + H2O
2). Molten Caustic Leaching (MCL)
Proses MCL konvensional menggunakan campuran NaOH + KOH (1:1),
atau NaOH + KOH + Ca(OH)2 pada temperatur 370-390 C selama 2-3 jam.
C. Reduction (proses hidrosulfurisasi pada temperatur > 440 C). Reaksi yang terjadi
pada proses reduksi adalah sebagai berikut :
FeS2 + H2 FeS(s) + H2S (g) FeS + H2 Fe + H2S (g)

Kekurangan proses Desulfurisasi secara kimia :


1. Biyaya proses yang tinggi
2. Severe leaching conditions (100-400 C).
3. Energy intensive.
4. Penambahan material ke dalam batubara selain dapat mengurangi kandungan ash
dan sulfur dapat juga berpotensi menjadi polutan.
5. Banyak di temukan permasalahan pengendalian polusi, korosi dan
pembuangannya.

3. Desulfurisasi Secara Biologi


Penghilangan unsur S dalam batubara juga dapat di aplikasikan sebelum
pembakaran berlangsung, sesudah pembakaran ataupun ketika pembakaran batu
bara berlangsung.
Biodesulfurisasi
Batubara banyak mengandung unsur yang membahayakan bagi kesehatan
manusia dan lingkungan. Salah satu unsur yang paling berbahaya dalam
batubara adalah sulfur. Sulfur yang terkandung dalam batubara terdapat dalam
bentuk pirit, sulfat dan sulfur organik. Pirit (FeS2) merupakan komponen
sulfur utama yang terdapat pada batubara sedangkan sulfur dalam bentuk
sulfat hanya terkandung sangat sedikit yaitu kurang dari 1% (Chen, 1997).
Sulfur pada batu bara dapat dikurangi sebelum pembakaran berlangsung,
ketika pembakaran berlangsung, maupun setelah pembakaran berlangsung.
Hal ini diharapkan agar kadar SO2 hasil pembakaran batubara tidak melebihi
baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan pada Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No. 7 tahun 2007 mengenai emisi sumber tidak
bergerak yang menggunakan batubara sebagai sumber energi yaitu sebesar
750ppm. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pencemaran yang ditimbulkan
dari pembakaran batubara.
Hidupnya bakteri pada permukaan mineral memainkan peranan yang
sangat penting tidak hanya untuk hidupnya bakteri di alam. Namun juga dapat
dimanfaatkan dalam industri penambangan. Salah satu bakteri yang dapat
digunakan dalam industri pertambangan adalah bakteri pengoksidasi besi dan
sulfur T.ferroxidans (Ohmura, dkk,. 1993). Pengurangan kandungan sulfur
dengan metode biologi disebut biodesulfurisasi yaitu metode yang dalam
prosesnya memanfaatkan organisme, yaitu bakteri. Metode ini merupakan
metode yang memilki paling banyak keunggulan dibandingkan dengan metode
lainnya (Kargi, 2004), namun desulfurisasi dengan metode biologi memiliki
beberapa kekurangaanya yaitu bakteri hanya mampu mengoksidasi sulfur
dalam bentuk-bentuk tertentu (Bos, dkk,. 1985). Bakteri yang dapat digunakan
dalam proses desulfurisasi, antara lain:

T. ferroxidans (FeS2)
T. thiooxidans (FeS2)
L. ferooxidans (FeS2)
S. acidocalderius (FeS2)
R. spheriodes (S-organik)

Prinsip dari proses biodesulfurisasi batubara adalah dengan mengoksidasi


sulfur dalam bentuk organik dan atau anorganik yang terdapat pada batubara
dengan bakteri tertentu yang digunakan. Terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi biodesulfurisasi batubara, yaitu suhu, kemasaman, konsentrasi
sel, konsentrasi batubara, ukuran partikel,komposisi medium, penambahan
partikulat dan surfaktan dan interaksisuatu bakteri dengan bakteri lain.
Meningkatkan kecepatan aerasi desulfurisasi batubara juga dapat dilakukan
untuk mempercepat kinerja dari bakteri tersebut (Anwar, 2002).
T. ferroxidans merupakan bakteri yang paling penting dalam
biodesulfurisasi batubara karena dapat mengoksidasi pirit(FeS2) secara
langsung. Walaupun begitu, proses desulfurisasi batubara hanya dengan
memanfaatkan salah satu kinerja bakteri akan menghasilkan desulfuriasi yang
kurang optimal. Biodesulfurisasi secara kultur gabungan dengan menggunakan
berbagai bakteri dapat membuahkan hasil yang lebih baik (Rawling, 1994)
Salah satu alternatif yang paling aman dan ramah lingkungan untuk
desulfurisasi batubara adalah secara mikrobiologi menggunakan bakteri T.
Ferroxidans dan T. Thiooxidans. Penggunaan kombinasi kedua bakteri ini
ditujukan untuk lebih mengoptimalkan desulfurisasi sulfur. Desulfurisasi
menggunakan kombinasi dari kedua bakteri tersebut memiliki beberapa
kelebihan dibandingkan desulfurisasi kimiawi, yaitu lebih efisien, ekonomis
dan ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Dwi, Agus, 2013 Proses Pencucian Batubara diakses dari
https://www.academia.edu/5448002/Proses_Pencucian_batubara pada 17 September
2015 puku 20.00 WIB.
Ehsani, Mohammad Reza., 2006. Desulfurization of Tabas Coal Using
Chemicalreagents. Journal of Chemical Engineering Department, Isfahan
Universityof Technology, Isfahan, I.R. Iran
Matthews. F.L, Rawlings. F.D.,1994.Composite Materials: Engineering and
Science,Edisi 1, London: Chapman & Hall.
Mery, M,2014 Laporan Hasil Penelitian Tugas Akhir Desulfurisasi diakses
dari
https://www.academia.edu/6924127/Laporan_Hasil_PenelitianTugas_Akhir_DESULF
URISASI_BATUBARA_SECARA_KIMIA_DENGAN_SOLVENT_LEACHING_M
ETHOD_MENGGUNAKAN_H2O2_DALAM_LARUTAN_H2SO4
pada
20
September 2015 pukul 13.15 WIB.
Samit Mukherjee,et al 2001. Demineralization andDesulfurization of
Subbituminous Coal with Hydrogen Peroxide, Jorhat785006 (ASSAM), India.
Energy & Fuels 2001, 15, 1418 1424
Siti, Ismi, 2013 Biodesulfurisasi Batubara Bukit Asam Menggunakan T.
Ferrooxidans diakses
dari
http://www.scribd.com/doc/245188034/MakalahDesulfurisasi-Kel-3#scribd pada 20 September 2015 puku 18.30 WIB.
Sudarsono,Arif S,Pengantar Preparasi dan Pencucian Batubara,ITB,Bandung.2005
Situmorang, Susilo, 2012 Pencucian ialah Usaha yang Dilakukan untuk
memperbaiki
kualitas
batubara

diakses
dari
https://www.academia.edu/8339593/Pencucian_ialah_usaha_yang_dilkakukan_untuk_
memperbaiki_kualitas_batubara_2 pada 18 September 2015 pukul 14.10 WIB.