Anda di halaman 1dari 17

Upaya Penanggulangan dan Pemberantasan

Tuberculosis Paru
Ajeng Aryuningtyas Dewanti
102012259 C5
e-mail: ajengaryuningtyas@ymail.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 2012
Jl. Arjuna Utara No. 6, Kebon Jeruk-Jakarta Barat 11510
No. Telp (021) 5694-2061

Pendahuluan
Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah.
Tuberkulosis paru (TBC) adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberkulosa. Penularan kuman terjadi melalui udara ketika seseorang yang
menderita TBC sedang batuk, bersin, atau membuang dahak sembarangan. Seseorang
penderita TBC akan mengalami tanda dan gejala seperti kelelahan, lesu, mual, batuk,
produksi sputum mukopurulen atau disertai darah, Wheezing (mengi), keringat banyak malam
hari dan kedinginan.1
Program pemberantasan dan penanggulangan masalah Tuberkulosis telah dilakukan,
pemerintah telah berupaya keras memenuhi sarana dan prasarana, seperti sarana diagnosa,
sarana pengobatan, dan sarana pengawasan serta pengendalian pengobatan. Sejak tahun 1994
Indonesia mulai melaksanakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, shortcourse).

Skenario
Bapak M (45 tahun) memiliki seorang istri (43 tahun) dan 5 orang anak. Istri bapak M
mendapatkan pengobatan TBC paru dan sudah berjalan 3 bulan. Anak perempuannya (R, 9
tahun) saat ini sedang batuk-batuk sudah 3 minggu tidak kunjung reda, sudah diperiksa oleh
dokter Puskesmas dan diberi obat batuk namun belum ada perbaikan. Keluarga Bapak M
tinggal disebuah rumah semi permanen 4x11 meter di pemukiman yang padat penduduk.

Riwayat Penyakit
Etiologi
Penyakit TB (Tuberculosis) adalah penyakit infeksius yang menular dimana
disebabkan oleh Mycrobacterium tuberculocis. Mycrobacterium tuberculocis berbentuk
1

batang, berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal 0,3-0,6 mikron, tahan terhadap pewarnaan
yang asam sehingga disebut dengan Bakteri Tahan Asam (BTA). Sebagian besar kuman
terdiri dari asam lemak dan lipid yang membuat lebih tahan asam sehingga dapat hidup
bertahun-tahun.1
Penyebaran Bakteri TBC
Penderita Tuberculosis dengan BTA positif merupakan sumber terjadinya penularan.
Ketika batuk, bersin dan buang dahak sembarangan, penderita menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman bertahan di udara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Jika droplet tersebut terhirup kedalam saluran
pernafasan, maka orang tersebut akan terinfeksi. Selama kuman tersebut masuk dalam tubuh
melalui saluran pernafasan, kuman dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya.1

Gambar 1. Penyebaran Bakteri TBC

Penegakan Diagnosis
Anamnesis
Penemuan pasien TBC adalah melalui cara passive case finding, penemuan ini adalah
di mana penderita TB datang ke Puskesmas dan menunjukkan gejala-gejala yang mendukung
seperti:

Gejala utama: Batuk terus menerus selama 2 hingga 3 minggu

Gejala tambahan: sesak napas, limfadenopati, kelainan rontgen toraks atau gangguan
GIT

Efek sistemik yang timbul pula meliputi demam subfebris selama 1 bulan atau lebih,
keringat malam, anoreksia atau penurunan berat badan.

Setelah mengetahui pasien menderita TBC, dapat dilakukan case finding aktif dengan
kunjungan rumah untuk dilihat apakah adanya penyebaran TBC dirumahnya atau tidak.
2

Selain itu case finding aktif juga dapat dilakukan dengan cara mengadakan pertemuan dengan
masyarakat untuk menjelaskan tanda-tanda penyakit dan cara-cara pengobatannya
(penyuluhan).2
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu tubuh yang subfebris, badan
kurus atau berat badan menurun. Pemeriksaan fisik sering tidak diperoleh hasil yang
memuaskan terutama apabila sarang penyakit terletak di dalam akan sulit dinilai secara
palpasi, perkusi dan auskultasi.
Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila
dicurigai adanya infiltrat agak luas mungkin ditemukan perkusi yang redup dan auskultasi
suara bronkhial dan suara tambahan ronkhi basah kasar yang nyaring. Dalam penampilan
klinis, TB paru sering asimptomatik dan penyakit baru dicurigai dengan didapatkan adanya
kelainan radiologis thorax pada pemeriksaan rutin atau uji tuberkulin positif.
Pemeriksaan Penunjang
Radiologis
Pemeriksaan radiologis merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi
tuberkulosis. Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru. Pada awal penyakit
saat lesi masih menyerupai sarang pneumonia, gambaran radiologis berupa bercak seperti
awan dan dengan batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan
terlihat berupa bulatan dengan batas tegas.

Gambar 2. Hasil Rontgen Thorax


Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada darah, sputum dan tes tuberkulin.

Darah

Pemeriksaan tidak sensitif dan tidak spesifik. Pada TB paru akan didapatkan leukosit
meninggi, jumlah limfosit masih normal dan LED mulai meningkat.

Sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting untuk menemukan kuman BTA dan menegakkan
diagnosis. Pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan
yang telah diberikan. Cara menegakkan diagnosis pada semua suspek TB dilakukan
pengumpulan spesimen dahak dalam 2 hari kunjungan yang berturutan yaitu dahak
sewaktu-pagi-sewaktu (SPS) yaitu seperti berikut:
S (sewaktu): dahak yang dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung
pertama kali. Suspek akan membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan
dahak pada hari kedua pada saat dia pulang.
P (pagi): pada pagi hari kedua dahak dikumpulkan segera setelah bangun tidur.
Pot dibawa dan diserahkan kepada petugas di UPK.
S (sewaktu): pada hari kedua di UPK, dahak dikumpulkan saat menyerahkan
dahak pagi.
Kriteria sputum BTA positif adalah bila paling tidak ditemukan 3 batang kuman BTA
pada satu sediaan. Penderita TB BTA (batang tahan asam) positif adalah apabila
minimal pada sputum SPS hasilnya 2 dari tiga sedian adalah BTA positif.

Tes tuberkulin
Pemeriksaan ini dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis
terutama pada anak-anak (balita). Tes ini dilakukan dengan menyuntikan 0,1 cc
tuberkulin secara intrakutan. Tes ini hanya menyatakan apakah seseorang sedang atau
pernah terinfeksi kuman TB atau mendapat vaksinasi BCG. Tes tuberkulin
(mantaoux) dinyatakan posotif apabila diperoleh indurasi 10 mm setelah 48-72 jam
tuberkulin disuntikkan.2

Manifestasi Klinis
Keluhan yang dirasakan oleh pasien TB dapat bervariasi atau terkadang ditemukan
banyak pasien dengan TB paru tanpa keluhan sama sekali. Keluhan yang biasa ditemukan
pada pasien dengan TB paru adalah diantaranya demam, batuk dengan atau tanpa darah,
sesak napas, nyeri dada, malaise.
Penyakit TB merupakan penyakit radang yang menahun sehingga gejala malaise
sering ditemukan yang dapat berupa anorexia (tidak nafsu makan), berat badan yang

menurun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam. Gejala malaise semakin lama
semakin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.2
Epidemiologi
Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 583.000 penderita TB paru baru yang
muncul setiap tahunnya dan 140.000 diantaranya meninggal dunia karena penyakit ini setiap
tahunnya. Di propinsi DKI Jakarta pada tahun 2003 angka kesembuhan TB masih di bawah
target nasional (<85%). Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat sekitar 4.021 kasus TB paru
(BTA Positif) pada tahun 2002. Para penderita ini sebenarnya pernah menerima pengobatan
dari puskesmas, rumah sakit, dan pusat pengobatan lain di Jakarta, akan tetapi baru sekitar
71% yang berhasil disembuhkan.
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan
RI tahun 1972 TB menempati urutan ke 3 penyebab kematian, menurut SKRT tahun 1980 TB
menempati urutan ke 4, dan menurut SKRT tahun 1992 TB menempati urutan nomor 2
sesudah penyakit sistem sirkulasi. Hasil SKRT tahun 1995 TB merupakan penyebab kematian
nomor 3 dari seluruh kelompok usia dan nomor 1 antara penyakit infeksi yang merupakan
masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Dari hasil survey prevalensi TB yang dilakukan di
15 propinsi tahun 1979-1982 menunjukkan berbagai variasi prevalensi tiap-tiap propinsi.2
Cara Penularan
Penularan TB dikenal melalui udara, terutama pada udara tertutup seperti udara dalam
rumah yang pengap dan lembab. Prosesnya tentu tidak secara langsung, menghirup udara
bercampur bakteri TB lalu terinfeksi, lalu menderita TB. Masih banyak variabel yang
berperan dalam timbulnya kejadian TB pada seseorang, meski orang tersebut menghirup
udara yang mengandung kuman.
Sumber penularan adalah penderita TB dengan BTA (+). Apabila penderita TB batuk,
berbicara atau bersin, maka ribuan bakteri TB akan berhamburan bersama droplet nafas
penderita yang bersangkutan, khususnya pada penderita TB aktif dan luka terbuka pada
parunya. Daya penularan dari seseorang ke orang lain ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan serta patogenesitas kuman yang bersangkutan, serta lamanya seseorang
menghirup udara yang mengandung kuman tersebut. Kuman TB sangat sensitif terhadap
cahaya ultra violet. Cahaya matahari sangat berperan dalam membunuh kuman di
lingkungan. Oleh sebab itu, ventilasi rumah sangat penting dalam manajemen TB berbasis
keluarga atau lingkungan.
5

Aspek Penularan
-

Periode Prepatogenesis
a. Faktor Agent (Mycobacterium Tuberculosis)
Karakteristik alami dari agen TBC hampir bersifat resisten terhadap
disifektan kimia atau antibiotika dan mampu bertahan hidup pada dahak
yang kering untuk jangka waktu yang lama. Pada Host, daya infeksi dan
kemampuan tinggal sementara Mycobacterium Tuberculosis sangat tinggi.
Patogenesis hampir rendah dan daya virulensinya tergantung dosis infeksi
dan kondisi Host. Umumnya sumber infeksinya berasal dari manusia yang
terinfeksi. Untuk transmisinya bisa melalui kontak langsung dan tidak
langsung.
b. Faktor Lingkungan
Distribusi geografis TBC mencakup seluruh dunia dengan variasi
kejadian yang besar dan prevalensi menurut tingkat perkembangannya.
Penularannya pun berpola tanpa dipengaruhi musim dan letak geografis.
Keadaan sosial-ekonomi merupakan hal penting pada kasus TBC.
Pembelajaran sosiobiologis menyebutkan adanya korelasi positif antara
TBC dengan kelas sosial yang mencakup pendapatan, perumahan,
pelayanan kesehatan, lapangan pekerjaan dan tekanan ekonomi serta tidak
adanya pengalaman sebelumnya tentang TBC dapat juga menjadi
pertimbangan pencetus peningkatan epidemiologi penyakit ini.
c. Faktor Host
Umur merupakan faktor terpenting dari Host pada TBC. Terdapat 3
puncak kejadian dan kematian :
-

Paling rendah pada awal anak (bayi) dengan orang tua penderita

Paling luas pada masa remaja dan dewasa muda sesuai dengan
pertumbuhan, perkembangan fisik-mental dan momen kehamilan
pada wanita

Puncak sedang pada usia lanjut.


Kebiasaan sosial dan pribadi turut memainkan peranan dalam

infeksi TBC, sejak timbulnya ketidakpedulian dan kelalaian. Status


gizi, kondisi kesehatan secara umum, tekanan fisik-mental dan tingkah
laku sebagai mekanisme pertahanan umum juga penting. Imunitas
spesifik dengan pengobatan infeksi primer memberikan beberapa
resistensi, namun sulit untuk dievaluasi.
-

Periode Patogenesis (Interaksi Host-Agent)


Interaksi terutama terjadi akibat masuknya Agent ke dalam saluran respirasi
dan pencernaan Host. Basil TB yang masuk ke dalam paru melalui bronkhus secara
langsung dan pada manusia yang pertama kali dimasuki disebut primary infection.
Infeksi pertama (primer) terjadi ketika seseorang pertama kali dimasuki basil atau
kuman TB umumnya tidak terlihat gejalanya. Dan sebagian besar orang, berhasil
menahan serangan kuman tersebut dengan cara melakukan isolasi dengan cara
dimakan macrophages, dan dikumpulkan pada kelenjar regional disekitar hilus paru.
Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara membelah diri
di paru yang menyebabkan peradangan di dalam paru. Oleh sebab itu, kemudian
disebut sebagai kompleks primer. Pada saat terjadi infeksi, kuman masuk hingga
pembentukan kompleks primer sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat diketahui
dengan reaksi positif pada tes tuberkulin.
Biasanya hal tersebut terjadi pada masa kanak-kanak dibawah umur 1 tahun.
Apabila gagal melakukan containment kuman, maka kuman TB masuk melalui aliran
darah dan berkembang, maka timbulah peristiwa klinik yang disebut TB milier.
Bahkan kuman bisa dibawa aliran darah ke selaput otak yang disebut meningitis
radang selaput otak. Sebagian besar dari kuman TB yang beredar dan masuk ke
dalam paru orang-orang yang tertular mengalami fase atau menjadi dormant dan
muncul bila kondisi tubuh mengalami penurunan kekebalan, gizi buruk, atau
7

menderita HIV/AIDS. TB secara teoritis menyerang berbagai organ, namun terutama


menyerang organ paru. Sedangkan pada paru-paru tempat yang paling disukai atau
tempat yang sering terkena adalah apical pasterior. Hal ini disebabkan karena
Mycrobacterium tubercolocis bersifat aerobik, sedangkan pada daerah tersebut
adalah bagian paru-paru yang banyak memiliki oksigen.3

Gambar 3. Penularan Kuman TBC


Program Pemberantasan TB
Visi
Tuberculosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat
Misi

Menetapkan kebijaksanaan, beri panduan serta mengevaluasi secara tepat,


benar dan lengkap

Menciptakan iklim kemitraan dan transparansi pada upaya


penanggulangan penyakit TBC

Bagi mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan standar mutu


dipermudahkan akses pelayanan penderita TBC.

Tujuan

Jangka panjang: menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit TBC


dengan cara memutuskan rantai penularan sehingga tidak menjadi masalah
kesehatan masyarakat Indonesia.

Jangka pendek: mencapai angka kesembuhan minimal 85% dari semua


penderita baru BTA positif yang ditemukan dan mencapai cakupan
penemuan penderita secara bertahap.

Directly Observed Treatment Short Course (WHO)


o Komitmen pemerintah
o Pemeriksaan BTA mikroskopsis
o Pemberian obat jangka pendek yg diawasi secara langsung
o Pengadaan OAT secara berkseinambungan
o Monitoring
Strategi nasional program pengendalian TB :
o Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yg bermutu
o Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan kebutuhan
masyarakat miskin serta rentan lainnya
o Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, sukarela,
perusahaan dan swasta melalui pendekatan Public-private mix dan
menjamin kepatuhan terhadap standard TB for TB Care
o Memberdayakan masyarakat TB
o Memberikan konstribusi dalam penguatan sistem kesehatan dan
manajemen progmosis pengendalian TB
o Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah
o Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi
strategis.4

Pendekatan Kedokteran Keluarga


Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan primer
yang komprehensif, kontinu, integrative, holistic, koordinatif, dengan mengutamakan
9

pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungan serta pekerjaannya. Pelayanan


diberikan kepada semua pasien tanpa memandang jenis kelamin, usia ataupun jenis
penyakitnya. Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada
seorang lulusan fakultas kedokteran pada umumnya.
Tujuan Dokter keluarga
Tujuan umum :
-

Terwujudnya keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga

Tujuan khusus :
-

Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih


efektif dan efisien.

Prinsip Dokter Keluarga


a) Dokter sebagai kontak pertama (fist contact / primary care)
Dokter keluarga adalah pemberi layanan kesehatan (provider) yang pertama
kali ditemui pasien atau klien dalam masalah kesehatannya
b) Layanan bersifat pribadi (personal care)
Dokter keluarga memberikan layanan yang bersifat pribadi dengan
mempertimbangkan pasien sebagai bagian dari keluarga
c) Pelayanan paripurna (comprehensive)
Dokter keluarga memberikan pelayanan menyeluruh yang memadukan
promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi dengan aspek
fisik, psikologis dan social budaya (memberikan promotif dan pencegahan terhadap
penularan kasus TB, juga mengobati/memperbaiki keadaaan klinis pasien dan
mempertimbangkan kepatuhan pasien dalam meminum obat (OAT) karena
pengobatan OAT membutuhkan waktu yang lama, yaitu 6 bulan)
d) Pelayanan berkesinambungan (continuous care)
Pelayanan dokter keluarga berpusat pada orangnya (patient centered) bukan
pada penyakitnya (disease centered)
e) Mengutamakan pencegahan (prevention first)

10

Karena berangkat dari paradigma sehat, maka upaya pencegahan dokter


keluarga dilakukan sedini mungkin
f) Koordinasi
Dalam upaya mengenai masalah pasien, dokter keluarga perlu berkonsultasi
dengan disiplin ilmu lainnya
g) Kolaborasi
Bila pasien membutuhkan pelayanan yang berada diluar kompetensinya,
dokter keluarga bekerja sama dan mendelegasikan pengolaan pasiennya pada pihak
yang berkompeten
h) Family oriented
Dalam mengatasi masalah, dokter keluarga harus mempertimbangkan konteks
keluarga dampak kondisi pasien terhadap keluarga dan sebaliknya (menggali lebih
dalam tentang keluarga pasien, karena TB dapat menular dengan mudah. Dengan
demikian, anggota keluarga yang lain dapat terhindar dari TB. Selain itu, juga
menggali lebih dalam mengenai masalah kesehatan lainnya seperti status gizi atau
penyakit lainnya)
i) Community oriented
Dokter

keluarga

dalam

mengatasi

masalah

pasien

haruslah

tetap

memperhatikan dampak pasien terhadap komunitas dan sebaliknya (memperhatikan


dampak penyakit pasien (TB), karena TB dapat menular dengan mudah, dengan
demikian anggota masyarakat lainnya dapat terhindar dari TB. Hal ini dapat
dilakukan melalui usaha promotif dan preventive, serta diagnosis dini jika ada
warga yang terkena tanda tanda TB).4
Faktor Resiko

Faktor Umur: Kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat secara


bermakna sesuai dengan umur. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai
usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah
kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun.
11

Faktor Jenis Kelamin: Di benua Afrika banyak tuberkulosis terutama menyerang lakilaki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat
dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan
28,9 % pada wanita. TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan
wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga
memudahkan terjangkitnya TB paru.

Tingkat Pendidikan: Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap


pengetahuan seseorang mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan
pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka
seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu
tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya.

Pekerjaan: Pekerjaan di lingkungan yang berdebu dengan paparan partikel debu di


daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan.
Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama
terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru.

Kebiasaan Merokok: Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan


resiko untuk mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, bronchitis
kronik dan kanker kandung kemih. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk
terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. Pada tahun 1973 konsumsi rokok di Indonesia per
orang per tahun adalah 230 batang. Dengan adanya kebiasaan merokok akan
mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru.

Kepadatan hunian kamar tidur: Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk
penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan
dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Hal ini tidak sehat,
sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu
anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota
keluarga yang lain.

Pencahayaan: Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri


patogen di dalam rumah, misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus
mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Semua jenis cahaya dapat mematikan
12

kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses mematikan kuman untuk setiap
jenisnya. Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat
membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada yang melalui kaca
berwama Penularan kuman TB Paru relatif tidak tahan pada sinar matahari. Bila sinar
matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka resiko penularan
antar penghuni akan sangat berkurang.

Ventilasi: Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah
tersebut tetap segar. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di
dalam rumah, dan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena
terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen misalnya
kuman TB.

Kondisi rumah : Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor resiko penularan
penyakit TBC. Atap, dinding dan lantai dapat menjadi tempat perkembang biakan
kuman. Lantai dan dinding yang sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan
debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya
kuman Mycrobacterium tuberculosis.

Status Gizi: Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang
mempunyai resiko 3,7 kali untuk menderita TB Paru berat dibandingkan dengan
orang yang status gizinya cukup atau lebih. Kekurangan gizi pada seseorang akan
berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap
penyakit.

Keadaan Sosial Ekonomi: Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan,
keadaan sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan.5

Pengobatan
Dalam kegiatan pokok Program Pemberantasan TB Paru dikenal 2 komponen, yaitu
komponen diagnosis dan komponen pengobatan. Pada komponen diagnosis meliputi deteksi
penderita di poliklinik dan penegakkan diagnosis secara laboratorium, sedangkan komponen
pengobatan meliputi pengobatan yang cukup dan tepat serta pengawasan menelan obat setiap
hari terutama pada fase awal.
13

Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,


mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi
kuman terhadap OAT. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan
OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat agar
dicapai kesembuhan dan mencegah resistensi serta mencegah drop out/lalai, dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO). Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia menggunakan
panduan OAT :
- Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
- Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
- Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3
Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan
pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih
baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan.
Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena
tidak spesifik untuk TB. Penilaian hasil pengobatan seorang penderita dapat dikategorikan
kepada: sembuh, pengobatan lengkap, gagal, defaulted (lalai berobat), meninggal, dan pindah
(transfer out).

Sembuh : Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan


pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan
follow-up sebelumnya

Pengobatan Lengkap : Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya


secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.

Gagal : Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

Default (Putus berobat) : Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut
atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.

Meninggal : Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab
apapun.

Pindah: Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain
dan hasil pengobatannya tidak diketahui.5
14

Pencegahan
Berkaitan dengan perjalanan alamiah dan peranan Agent, Host dan Lingkungan dari
TBC, maka tahapan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
1. Pencegahan Primer
Dengan promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif,
walaupun hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan standar
kesehatan sebelumnya yang sudah tinggi. Promosi kesehatan menghindari
kemunculan dari/ adanya faktor resiko (masa Pra-Kesakitan). Dimana upaya promosi
kesehatan diantaranya adalah:
Penyuluhan penduduk
Untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan lingkungan.
Penyuluhan kesehatan yang merupakan bagian dari promosi kesehatan adalah
rangkaian kegiatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai
suatu keadaan dimana individu, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan
dapat hidup sehat dengan cara memelihara, melindungi dan meningkatkan
kesehatannya. Penyuluhan TB perlu dilakukan karena masalah TB banyak
berkaitan dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat. Tujuan
penyuluhan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, peran serta
masyarakat dalam penanggulangan TB. Penyuluhan TB dapat dilaksanakan
dengan menyampaikan pesan penting secara langsung ataupun menggunakan
media.
o Penyuluhan Langsung Perorangan
Cara penyuluhan langsung perorangan lebih besar kemungkinan untuk
berhasil dibanding dengan cara penyuluhan melalui media. Dalam
penyuluhan langsung perorangan, unsur yang terpenting yang harus
diperhatikan adalah membina hubungan yang baik antara petugas
kesehatan dengan penderita. Supaya komunikasi dengan penderita bisa
berhasil, petugas harus menggunakan bahasa yang sederhana yang
dapat dimengerti oleh penderita. Supaya komunikasi berjalan lancar,
petugas kesehatan harus melayani penderita secara ramah dan
bersahabat, penuh hormat dan simpati, mendengar keluhan-keluhan
mereka, serta tunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan dan
kesembuhan mereka. Dengan demikian, penderita mau bertanya
tentang hal-hal yang masih belum dimengerti.
15

o Penyuluhan Kelompok
Penyuluhan kelompok adalah penyuluhan TB yang ditujukan kepada
sekelompok orang (sekitar 15 orang), bisa terdiri dari penderita TB dan
keluarganya. Dengan alat peraga (gambar atau symbol) maka isi pesan
akan lebih mudah dan lebih cepat dimengerti dgunakan alat bantu
penyuluhan dengan tulisan dan atau gambar yang singkat dan jelas.
o Penyuluhan Massa
Penyakit menular termasuk TB bukan hanya merupakan masalah bagi
penderita, tetapi juga masalah bagi masyarakat, oleh karena itu
keberhasilan penanggulangan TB sangat tergantung tingkat kesadaran
dan partisipasi masyarakat. Pesan-pesan penyuluhan TB melalui media
massa (surat kabar, radio, dan TV) akan menjangkau masyarakat
umum. Penyampaian pesan TB perlu memperhitungkan kesiapan unit
pelayanan, misalnya tenaga sudah dilatih, obat tersedia dan sarana
laboratorium berfungsi. Hal ini perlu dipertimbangkan agar tidak
mengecewakan

masyarakat

yang

datang

untuk

mendapatkan

pelayanan.
2. Pencegahan Sekunder
Dengan diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus TBC
yang timbul dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan Lingkungan.
3. Pencegahan Tersier
Rehabilitasi merupakan suatu usaha mengurangi komplikasi penyakit. Rehabilitasi
merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan diagnosis kasus
berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis, rehabilitasi
penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien, kemudian rehabilitasi
pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya, pelayanan kesehatan kembali
dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial dari TBC, serta
penegasan perlunya rehabilitasi.6

Daftar Pustaka
1. Achmadi, Umar Fahmi. Manajemen penyakit berbasis wilayah. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas; 2005.P.33-2.
2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Ilmu penyakit dalam.
Edisi 5. Jilid 3. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI;
2009.P.2230-9.

16

3. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis paru. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI;
2006.P.234-8.
4. Soetono, Sadikin, & Zanilda. Membangun praktek dokter keluarga mandiri. Jakarta:
Pengurus Besar IDI; 2006.P.87-92.
5. Tjandra A. Pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis. Edisi 2. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2008.P.30-7.
6. Departemen Kesehatan RI. Pedoman penanggulangan tuberkulosis. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI; 2002.

17