Anda di halaman 1dari 9

TUGAS TEKNOLOGI OTOMOTIF

NAMA

: SANDY PRAMIRTHA

NRP

: 2112105005

DOSEN

: Prof. Ir I Nyoman Sutantra, MSc, PhD

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA 2013

Tugas 1
Informasi Perkembangan Power Train Terkini :
1. Gambar
2. Cara Kerja
3. Keunggulan & Kelemahan
Power train adalah sistem pada mobil yang mengatur transfer tenaga dari mesin ke roda.
Tiap mobil memiliki desain yang berbeda dalam meletakkan mesin, ataupun menggerakkan
rodanya. Ada mobil yang meletakkan mesinnya di depan, ada juga yang meletakkan
mesinnya di tengah ataupun dibelakang dari mobil itu. Bukan hanya meletakkan mesinnya,
tapi roda mana yang diputar oleh mesin pun berbeda. Ada mobil yang memutar roda
belakangnya, dan ada yang memutar roda depannya, serta ada juga yang memutar roda
belakang dan roda depan. Yang dimaksud memutar roda di sini adalah tenaga mesin
ditransfer ke roda mana? Jadi bukan roda yang berputar. Pada saat jalan semua roda berputar,
tapi tak semua yang digerakkan oleh mesin. Roda depan atau roda belakang yang diputar
oleh mesin. Untuk itu saya akan menjelaskan sedikit mengenai pengelompokan dari tipe
power train:
1. FF singkatan dari Front engine Front drive. Maksudnya adalah mesin berada di bagian
depan mobil , dan roda depan yang digerakkan oleh mesin. Jadi roda belakang hanya
berputar saja, alias tidak mendapat tenaga dari mesin.
2. FR singkatan dari Front engine Rear drive. Maksudnya adalah mesin berada di bagian
depan mobil, dan roda belakang yang digerakkan oleh mesin. Ini berkebalikkan
dengan tipe FF, roda depan tidak mendapat tenaga dari mesin.
3. RR singkatan dari Rear engine Rear drive. Maksudnya adalah mesin berada di bagian
belakang mobil, dan roda belakang yang digerakkan oleh mesin. Jadi roda depan tidak
mendapat tenaga dari mesin. Tipe ini hampir sama dengan tipe FR , hanya letak
mesinnya yang dibelakang. Sedangkan roda yang digerakkansama seperti tipe FR.
4. 4WD singkatan dari 4 Wheel Drive. Artinya baik roda belakang atau roda depan sama
sama mendapat tenaga dari mesin. Roda depan ada 2 dan roda belakang ada 2 ,

maka disebut 4 roda. Mobil yang biasa menggunakan tipe ini adalah Jeep, yang
biasanya digunakan untuk medan berlumpur.
Dari keempat tipe power train yg saya ulas diatas memiliki keunggulan masing2. Dari data yg
saya kumpulkan biasanya untuk tipe FR banyak digunakan untuk mobil dengan daya angkut
besar, seperti truk, dan kontainer. Sedangkan untuk mobil beban ringan, biasanyanya
menggunakan tipe FF. sedangkan tipe RR banyak digunakan pada mobil seperti bus. Tapi ada
juga bus yang menggunakan tipe FR.
Tipe Power train yang ingin saya ulas lebih dalam adalah tipe four whell drive (4WD), seperti
yg saya jelaskan di point 4, Four Wheel Drive merupakan kendaraan yang menyalurkan
tenaga mesin ke seluruh roda. Penyaluran tenaga mesin juga dibagi rata 50:50 untuk roda
depan dan belakang. Dibawah ini Skematic dari power train jenis ini.

1. Cara Keja
Engine menghasilkan tenaga yang dibutuhkan untuk menjalankan mobil (indicated horse
power), kemudian tenaga dari mesin diteruskan ke transmisi untuk merubah torsi mesin,
sehingga dihasilkan gaya dorong sesuai dengan kebutuhan kendaraan. Torsi converter
berperan sebagai pelepas dan penghubung hubungan mesin dan transmisi dalam rangka
merubah ratio gigi transmisi. Transmisi dihubungkan dengan diferensial tengah (transfer

case) yang membagi tenaga ke roda belakang dan roda depan. Kemudian power diteruskan
dari transmisi ke difrential melalui propeller shaf. Sampai akhirnya didistribusikan merata
kesetiap roda.
2. Keunggulan dan kelemahan
A. Menggunakan transmisi otomatis
Transmisi otomatis adalah transmisi yang melakukan perpindahan gigi percepatan
secara otomatis. Untuk mengubah tingkat kecepatan, pada sistem transmisi otomatis ini
digunakan mekanisme gesek dan tekanan minyak transmisi otomatis. Pada transmisi otomatis
roda gigi planetari berfungsi untuk mengubah tingkat kecepatan dan torsi seperti halnya pada
roda gigi pada transmisi manual. Dengan ini transmisi otomatis dapat menjaga daerah operasi
yg optimum.

Gambar 3. Gigi planetari pada transmisi otomatis.


Gambar 2. Transmisi Otomatis

Transmisi otomatis dikendalikan dengan hanya menggerakkan tuas percepatan ke posisi


tertentu. Posisi tuas transmisi otomatis disusun mengikut format P-R-N-D-3-2-L, sama ada
dari kiri ke kanan ataupun dari atas ke bawah. Mesin hanya bisa dihidupkan pada posisi P
ataupun N saja.
Umumnya moda transmisi otomatis adalah seperti berikut:

P (Park) adalah posisi untuk kendaraan parkir, Transmisi terkunci pada posisi ini
sehingga kendaraan tidak bisa didorong.

R (Reverse) adalah posisi untuk memundurkan kendaraan.

N (Neutral) adalah posisi gir netral, hubungan mesin dengan roda dalam keadaan
bebas.

D (Drive) adalah posisi untuk berjalan maju pada kondisi normal.

2/S (Second) adalah posisi untuk berjalan maju di medan pegunungan .

1/L (Low) adalah posisi maju pada gir ke satu, hanya digunakan pada saat
mengendarai pada medan yang sangat curam.

Sedangkan opsionalnya adalah :

3 adalah posisi untuk berjalan maju dan transmisi tidak akan berpindah pada posisi gir
atas.

O/D (Over Drive) adalah posisi supaya perpindahan gir pada transmisi terjadi pada
putaran mesin yang lebih tinggi.

B. Torque Converter
1. Fungsi dari torque converter adalah :
a. Melipat gandakan momen yang dihasilkan oleh mesin
b. Menjadi kopling otomatis yang mengirimkan momen mesin menuju ke transmisi
c. Menyerap getaran mesin
d. Melembutkan putaran mesin
e. Sebagai pompa oli ke hidraulic control system
2. Cara kerja torque converters Torque converter
Prinsip dasar cara kerja torque converters diambil dari dua kipas angin yang
dipasang saling berhadapan, dimana kipas yang satu dialiri arus listrik (PLN) sementara
yang satunya dibiarkan tanpa dialiri arus listrik. Pada hal ini kipas yang tidak dialiri arus
listrik akan ikut berputar karena tertiup angin dari kipas yang berada dihadapanya dengan
arah yang sama, prinsip dasar inilah yang digunakan pada torque converters.
Lewat torque converter ini torsi disalurkan dengan mekanisme pompa dan turbin.
Didalam torque converter terdapat 3buah baling2. Yang pertama bekerja sebagai pompa
yang dikopel langsung dengan mesin. Yang kedua "turbin" dikopel langsung dengan
planetray gear. Dan yang terakhir adalah stator. Cara kerjanya, baling-baling yang terkopel
pada mesin berputar untuk memompakan Oli transmisi didalam sebuah ruang tertutup.
Lalu tekanan oli tersebut mendorong turbin layaknya air bertekanan yang menggerakkan
pembangkit listrik tenaga air. Konsep sederhananya, anda menyalakan sebuah kipas angin
lalu tepat didepannya anda letakkan kipas angin yang lain dalam keadaan mati. Maka
kipas angin yang mati tadi akan berputar seiring meningkatnya tekanan udara dari kipas

angin yang menyala. Dari sistem tersebut, didapatkan peningkatan torsi pada turbin saat
RPM pada mesin meningkat. Karena itulah perlengkapan ini disebut torque converter.
Karena dia merubah putaran tinggi pada mesin menjadi torsi saat dibutuhkan. Namun alat
ini jugalah yang menyebabkan konsumsi bahan bakar pada mobil matik meningkat.
Karena pompa dan turbin tidak akan pernah berputar 1:1 saat berbeban.

3. Lock up mechanism
Torque converter tidak selamanya menyalurkan tenaga putar ke transmisi dengan
perbandingan 1 : 1, tapi ada sebagian kecil tenaga yaitu sekitar 4 - 5 % yang hilang. Hal
ini tentunya sangat merugikan karena akan mengakibatkan pemborosan bahan bakar.
Untuk menghindari hal tersebut di buat mekanisme lock up mechanism yang akan
mengunci torquer converter ketika kendaraan berjalan pada kecepatan 37 mph atau 60
km/jam atau lebih tinggi. Ketika mekanisme ini bekerja maka tenaga putar dari mesin
akan di salurkan 100 % menuju ke transmisi.
C. Menggunakan Sistem Pemulihan Energi Kinetik
Sistem Pemulihan Energi Kinetik atau Kinetic Energy Recovery Systems (bisa juga
disebut Kinetic Energy Regenerative System) adalah sebuah sistem penyimpanan energi yang
mengambil lagi energi yang terbuang saat mobil direm. Dengan cara ini, konsumsi bahan
bakar menjadi lebih irit. Emisi gas buang, terutama CO2 dapat pula dikurangi.
Ketika mobil direm, mesin tetap bekerja. Tenaga yang dihasilkan mesin tidak terpakai
secara optimum karena mobil melambat atau malah berhenti total. Berarti tenaga mesin
terbuang percuma. Tenaga yang terbuang berupa gerakan atau putaran komponen mesin itu
disebut energi kinetik. Energi itulah yang diambil, disimpan dan nantinya digunakan lagi
untuk menjalankan kendaraan.

KERS elektrikal yang digunakan perusahaan mobil saat ini, energinya diambil dari
roda. Selanjutnya, energi tersebut disimpan dalam aki atau batere. Tenaga dari batere
digunakan untuk memutar motor listrik. Motor listrik dimanfaatkan untuk membantu mesin
utama untuk berakselerasi atau mengaktifkan perlengkapan mobil, seperti AC dan kelistrikan
lainnya. Cara lain yang cukup menarik adalah seperti ditempuh Volvo (perusahaan pembuat
sarana angkutan dari Swedia), yaitu dengan sistem ISG, (intergrated starter-generator). Starter
dan generator adalah unit yang sama. Saat mesin dihidupkan berfungsi sebagai motor starter
dan bila mesin sudah hidup menjadi generator untuk menghasilkan listrik.
Pada sistem yang dibuat oleh Flybrid, komponen utama terdiri dari roda gila dan CVT
(continuously variable transmission) yang dipasang antara transmisi dan as roda belakang.
Jika mobil direm, CVT mempercepat putaran roda gila dengan perbandingan 6 : 1. Roda gila
berputar lebih cepat dan menyimpan energi dari mesin yang tidak sepenuhnya digunakan
untuk menjalankan mobil. Begitu gas digeber, CVT memperkecil rasio. Kini giliran roda gila
yang menyalurkan energinya ke transmisi untuk memerkuat traksi atau mempercepat
akslerasi. Pada Flybrid, putaran roda gila untuk menyimpan energi mencapai 64.500 rpm.

Untuk transmisi CVT


kehadiran planetary gear digantikan dengan sabuk dan pulley yang diameter drivingnya dapat
berubah-ubah sehingga rasio putaran dari dua buah pulley tersebut juga berubah-ubah. Dari
sistem CVT yang diaplikasikan pada transmisi tersebut, didapatkan perpindahan percepatan
(rasio) yang sangat halus. Seperti yang anda rasakan pada motor matic dengan CVT. Namun
perubahan rasio CVT pada mobil tidaklah dilakukan secara mekanikal layaknya sepeda
motor. Namun hal itu dilakukan secara elektro hidrolis yang diatur oleh ECU mobil.
Sehingga perubahan rasio akan berubah sesuai dengan beban mobil, injakan pedal gas,

putaran mesin dan lain sebagainya untuk mendapatkan tenaga yang optimal dan efisiensi
bahan bakar yang tinggi.
Tugas.2
Contoh transmisi 5-kecepatan
pada rpm mesin 4.400
Gir nomor
Rasio gir

4,015
2,509
1,533
1,000

Final Reduction

5,125

Sebuah mesin kendaraan dengan putaran engine 2450 RPM menghasilkan torsi sebesar 393 N.m(290
lb.ft) mesin ini akan dihubungkan dgn torsi converter 4 tingkat, dan diketahui tyre rolling radius
adalah 270 mm.
Menghitung kecepatan kendaraan adalah:
Putaran roda = putaran engine / rasio transmisi / final reduction
Putaran roda = 2450 RPM / 1,000 / 5,125 = 478 RPM
Keliling ban = 270 mm x 2 x 22/7 = 1697 mm
Kecepatan = Putaran roda x Keliling ban x 60 / 1.000.000
Kec. Max4 = 478 x 1697 x 60 / 1.000.000 = 48 kmh
Putaran roda = 2450 RPM / 4,015 / 5,125 = 119 RPM
Kec. Max1 = 190 x 1697 x 60 / 1.000.000 = 12 kmh

Putaran roda = 2450 RPM / 2,509 / 5,125 = 190 RPM


Kec. Max2 = 190 x 1697 x 60 / 1.000.000 = 19 kmh

Putaran roda = 2450 RPM / 1,533 / 5,125 = 311 RPM


Kec. Max3 = 311 x 1697 x 60 / 1.000.000 = 31 kmh

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Transmisi_otomatis
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_Pemulihan_Energi_Kinetik
http://saputrabhayu.blogspot.com/2012/11/makalah-transmisi.html
Teknologi Mekanik Oleh Prof. Ir. I N Sutantra. MSc. PhD