Anda di halaman 1dari 5

B I O G A S

I.

Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir ini energi merupakan persoalan yang
krusial didunia. Peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh
pertumbuhan populasi penduduk dan menipisnya sumber cadangan
minyak dunia serta permasalahan emisi dari bahan bakar fosil
memberikan tekanan kepada setiap negara untuk segera memproduksi
dan menggunakan energi terbaharukan.
Adalah biogas salah satu sumber energi alternatif. Gas ini berasal
dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran
manusia, kotoran hewan dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui
proses bakteri bekerja dalam lingkungan yang tidak ada udara
(anaerob), sehingga proses ini juga disebut sebagai pencernaan
anaerobik

digestion. Proses ini merupakan peluang besar untuk

menghasilkan energi alternatif sehingga akan mengurangi dampak


penggunaan bakar fosil.
II.

Sejarah Biogas
Sejarah penemuan proses anaerobik digestion untuk menghasilkan
biogas tersebar di benua Eropa. Penemuan ilmuwan Volta terhadap gas
yang dikeluarkan di rawa-rawa terjadi pada tahun 1770, beberapa
dekade kemudian, Avogadro mengidentifikasikan tentang gas metana.
Setelah tahun 1875 dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari
proses anaerobik digestion.
Tahun

1884

Pasteour

melakukan

penelitian

tentang

biogas

menggunakan kotoran hewan. Era penelitian pasteour menjadi landasan


untuk

penelitian

perkembangannya

biogas

hingga

saat

ini.

Seiring

dengan

, negara-negara berkembang mulai berlomba

mencari terobosan baru dalam menghasilkan energi alternatif yang jauh


lebih murah ketimbang minyak dan gas termasuk indonesia. Energi
alternatif biogas ini punya masa depan cerah.

III.

Prinsip Teknologi Biogas


Teknologi biogas adalah teknologi yang memanfaatkan proses
fermentasi(pembusukan) dari sampah organik secara anaerobik (tanpa
udara) oleh bakteri methan sehingga menghasilkan gas methan. Gas
methan adalah gas yang mengandung atom C dan 4 atom H yang
memiliki sifat mudah terbakar . Gas Methan yang dihasilkan kemudian
dapat dibakar sehingga dihasilkan energi panas karena komponen dari
biogas memiliki persentase gas methan yang cukup tinggi. Komponen
biogas selengkapnya sebagai berikut :
Tabel 1. Komponen Penyusun Biogas.
Jenis Gas
Jumlah ( % )
Methan ( CH4 )
54 70
Karbon dioksida ( CO2 )
27 45
Nitrogen ( N )
0.5 3
Karbon Monoksida ( CO )
0.1
Oksigen ( O )
0.1
Hidrigen sulfida ( H2S )
Sedikit sekali
Sumber : Pusat Informasi Dokumentasi PTP ITB
Prinsip pembangkit biogas, yaitu menciptakan alat yang kedap
udara dengan bagian-bagian pokok terdiri atas pencerna (digester),
lubang pemasukkan bahan baku (Inlet) dan pengeluaran lumpur sisa
hasil pencernaan (slurry), dan pipa penyalur yang terbentuk. Didalam
digester ini terdapat bakteri methan yang mengolah limbah bio atau
biomassa dan menghasilkan biogas.
Konversi limbah kotoran ternak melalui proses fermentasi anaerobik
dengan menghasilkan biogas memiliki beberapa keuntungan :
Biogas

yang

dihasilkan

diharapkan

dapat

mengurangi

ketergantungan terhadap penggunaan minyak yang jumlahnya terbatas


dan harganya cukup mahal
Teknologi ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan karena
kotoran yang semula hanya mencemari lingkungan digunakan untuk
sesuatu yang bermanfaat. Dengan demikian kebersihan lingkungan
terjaga.

Selain menghasilkan energi, buangan (sludge) dari alat penghasil


biogas ini juga dapat digunakan sebagai pupuk yang baik.
Berbagai Negara telah mengaplikasikan teknologi ini sejak puluhan
tahun yang lalu seperti petani di Inggris, Rusia dan Amerika Serikat. Di
Benua Asia, India merupakan negara pelopor dan pengguna energi
biogas sejak masih dijajah Inggris. India sudahmembuat instalasi biogas
sejak tahun 1900. Data yang diperoeh menyebutkan bahwa pada tahun
1980

diseluruh

india

terdapat

36.000

instalasi

gas

bio

yang

menggunakan feses sapi sebagai bahan bakar.


Indonesia mulai mengadopsi teknologi pembuatan biogas pada awal
tahun 1970-an. Tujuannya untuk memanfaatkan limbah yang kurang
bermanfaat agar mempunyai nilai guna yang lebih tinggi. Tujuan lainnya
mencari sumber energi lain selain minyak tanah dan kayu bakar.
IV.

Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Biogas


Pada dasarnya faktor yang mempengaruhi produksi biogas adalah
kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan bakteri perombak.
Beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap produksi biogas sebagai
berikut :
1. Kondisi Anaerob atau Kedap Udara
Proses fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme anaerob inilah
yang menghasilkan biogas. Karena itu, instalasi pengolahan biogas
harus kedap udara (keadaan anaerob)
2. Isian Bahan Baku
Bahan-bahan organik saja yang menjadi bahan baku isian yang mengisi
instalasi biogas seperti kotoran ternak, limbah pertanian, sisa dapur dan
sampah organik. Bahan baku isian harus terhindar dari bahan anorganik
seperti plastik, beling, batu, pasir dll.

3. Imbangan C/N
Imbangan karbon (C) dan Nitrogen (N) yang terkandung dalam bahan
organik sangat menentukan kehidupan dari aktivitas mikroorganisme.
Imbangan C/N yang optimum bagi mikroorganisme perombak adalah 25
30.
4. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman yang optimum bagi kehidupsn mikroorganisme adalah
6,8 7,8. Derajat keasaman ini sangat mempengaruhi kehidupan
mikroorganisme.
5. Temperature
Produksi biogas akan menurun secara cepat akibat perubahan
temperatur yang mendadak dalam instalasi pengolahan bogas. Bakteri
perombak akan bekerja pada suhu optimum (25 -28 C). Karena itu.
Karena itu tataletak bangunan instalasi biogas harus benar-benar
menjadi perhatian. Untuk menjaga suhu tetap stabil, banyak instalasi
biogas

yang

dibangun

dengan

memberikan

naungan

atau

membenamkannya di dalam tanah.


6. Starter
Penggunaan starter diperlukan untuk mempercepat proses perombakan
bahan organik hingga menjadi biogas. Bisa juga menggunakan lumpur
aktif organik atau cairan isi rumen(perut sapi). Untuk membangkitkan
proses fermentasi bakteri anaerob pada pengisian pertama ini perlu
menambah starter sebanyak 1 liter dan isi rumen segar dari rumah
potong hewan (RPH)sebnayak 5 karung untuk kapasitas digester 3,5 5
m.

Reaktor Biogas Skala Menengah