Anda di halaman 1dari 13

Pertanyaan:

Assalamualaikum
Mohon penjelasan hukum seorang suami yang mencerai istrinya, kemudian dia menika
hinya lagi? Apakah harus menikah lagi? Lalu bagaimana dengan rujuk?
Dari: Arriqa
Jawaban:
Waalaikumussalam wa rahmatullah
Ketika seorang suami menceraikan istrinya, maka berlaku beberapa hukum berikut:
Pertama, Istri yang dicerai harus menjalani masa iddah
Masa iddah untuk wanita yang masih haid adalah selama 3 kali haid. Allah Taala be
rfirman,

Para wanita yang dicerai, menunggu status dirinya (tidak menikah) selama tiga qur
u. (QS. Al-Baqarah: 228)
Ulama berbeda pendapat tentang makna quru. Ada yang mengatakan quru adalah haid d
an ada yang mendefinisikan quru sebagai masa suci haid. Pendapat yang kuat Allahu
alam quru maknanya adalah haid.
Kedua, selama menjalani masa iddah untuk talak satu dan dua, wanita wajib tingga
l bersama suami yang mentalaknya. Allah berfirman,

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan m
ereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah w
aktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan
mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka
mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiap
a yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim te
rhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesuda
h itu sesuatu hal yang baru. (QS. Thalaq: 1)
Sayid Sabiq mengatakan, Wajib bagi wanita yang menjalani masa iddah untuk tetap t
inggal di rumah suaminya (atau di tempat yang sama dengan suaminya) sampai seles
ai masa iddah-nya. Dia tidak boleh keluar (tinggal di luar), demikian pula suami
nya tidak boleh mengusirnya dari rumahnya. Jika suami menjatuhkan talak ketika i
stri sedang tidak di rumah suaminya (misal: di rumah orang tuanya), maka sang is
tri wajib untuk kembali pulang ke rumah suami (meskipun kontrakan), persis setel
ah dia tahu bahwa suaminya menceraikannya. (Fiqih Sunnah, 2:334, tambahan dalam k
urung dari penerjemah)

Ketiga, sesungguhnya suami yang menceraikan istri sebelum tiga kali, selama menj
alani masa iddah, status mereka masih suami istri. Karena itu, suami boleh melih
at aurat istri dan sebaliknya, demikian pula, suami tetap wajib memberi nafkah i
strinya yang sedang menjalani masa iddah.
Allah berfirman,

Suaminya itu lebih berhak untuk rujuk dengan istrinya selama masa iddah itu, jika
mereka menginginkan kebaikan. (QS. Al-Baqarah: 228)
Syaikh Mustofa Al-Adawi mengatakan, Allah Taala menyebut suami yang menceraikan is
trinya yang sedang menjalani masa iddah dengan suaminya (suami bagi istrinya). (Jam
i Ahkam an-Nisa, 511)
Keempat, selama masa iddah, suami paling berhak untuk menentukan rujuk
Allah berfirman,

Suaminya itu lebih berhak untuk rujuk dengan istrinya selama masa iddah itu (QS. Al
-Baqarah: 228)
Berdasarkan ayat ini, para ulama menegaskan bahwa suami lebih berhak untuk menen
tukan rujuk dan tidaknya pernikahan. Jika suami ingin rujuk, maka hubungan kelua
rga dilangsungkan kembali, meskipun istri menolaknya. Sebaliknya, ketika istri m
enghendaki rujuk, sementara suami tidak menginginkan maka rujuk tidak bisa dilak
ukan. Si istri hanya bisa mengajukan permohonan kepada suami agar bersedia untuk
rujuk. Namun, ini hanya berlaku selama masa iddah. Demikian keterangan Al-Qurth
ubi, bahkan beliau menyatakan bahwa hal itu dengan sepakat ulama. (Tafsir Al-Qur
thubi, 3:120)
Kelima, Setelah selesai masa iddah
Setelah selesai masa iddah, status kedua pasangan ini tidak lagi suami istri. Si
laki-laki bukan lagi suaminya dan si wanita bukan lagi istrinya. Mereka wajib b
erpisah sebagaimana hukum yang berlaku pada lelaki maupun wanita yang bukan mahr
am.
Setelah selesai masa iddah inilah si istri kembali menjadi wanita yang sama seka
li tidak terikat dengan kewajiban rumah tangga. Dia berhak untuk menentukan kepu
tusannya sendiri. Sehingga jika si lelaki ingin kembali membangun rumah tangga m
aka wajib melalui fase-fase pernikahan pada umumnya; harus meminang, ada izin wa
li, akad nikah baru, ada mahar baru, dan wajib dengan saksi, sebagaimana layakny
a hukum pernikahan. Al-Qurthubi mengatakan bahwa hal ini dengan sepakat ulama. (
Tafsir Al-Qurthubi, 3:120)
Allahu alam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
Materi terkait cerai:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Hukum Talak Lewat SMS.


Talak Ketika Istri Hamil.
Selingkuh dengan Ipar.
Al-Muhallil.
Cerai Karena Mandul.
Cara Rujuk Setelah Talak Tiga.
Kalimat Cerai Bohong-Bohongan.
Menikah Untuk Cerai.
8 Prinsip tentang Cerai Karena Marah.

sumber : http://www.konsultasisyariah.com/rujuk-dengan-istri/
Pertanyaan:

Assalamu alaikum. Kepada para ulama, mohon tuntunan Ustadz. Nama saya Abdie. Saya
telah menceraikan istri saya dengan talak tiga; dan pertanyaan saya ialah: apak
ah boleh saya menyuruh orang tuk menikahi istriku dan menyuruh menceraikannya aga
r saya bisa rujuk kembali? Apakah rujukan itu sah dalam hukum Islam?
Abdie Negara (nedara**@yahoo.**)
Jawaban:
Waalaikumus salam warahmatullah wabarakatuh.
Jika seorang suami menceraikan istrinya dengan cerai satu atau dua maka sang sua
mi berhak untuk melakukan rujuk dengan istri, selama masih masa iddah, baik istr
i ridha maupun tidak ridha. Namun, jika talak tiga sudah jatuh maka suami tidak
memiliki hak untuk rujuk kepada istrinya, sampai sang istri dinikahi oleh lelaki
lain. Allah berfirman,

Jika dia mentalak istrinya (talak tiga) maka tidak halal baginya setelah itu, sam
pai dia menikah dengan lelaki yang lain . (Q.S. Al-Baqarah:230)
Pernikahan wanita ini dengan lelaki kedua bisa menjadi syarat agar bisa rujuk ke
pada suami pertama, dengan syarat:
Pertama: Dalam pernikahan yang dilakukan harus terjadi hubungan badan, antara sa
ng wanita dengan suami kedua. Berdasarkan hadis dari Aisyah, bahwa ada seorang s
ahabat yang bernama Rifaah, yang menikah dengan seorang wanita. Kemudian, dia men
ceraikan istrinya sampai ketiga kalinya. Wanita ini, kemudian menikah dengan lel
aki lain, namun lelaki itu impoten dan kurang semangat dalam melakukan hubungan
badan.
Dia pun melaporkan hal ini kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dengan harap
an bisa bercerai dan bisa kembali dengan Rifaah. Namun, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, Kamu ingin agar bisa kembali kepada Rifaah? Tidak boleh! Sampai
kamu merasakan madunya dan dia (suami kedua) merasakan madumu. (H.R. Bukhari, Mus
lim, An-Nasai, dan At-Turmudzi)
Yang dimaksud kamu merasakan madunya dan dia merasakan madumu adalah melakukan hub
ungan badan.
Kedua: Pernikahan ini dilakukan secara alami, tanpa ada rekayasa dari mantan sua
mi maupun suami kedua. Jika ada rekayasa maka pernikahan semacam ini disebut seb
agai nikah tahlil; lelaki kedua yang menikahi sang wanita, karena rekayasa, disebu
t muhallil; suami pertama disebut muhallal lahu. Hukum nikah tahlil adalah haram, da
n pernikahannya dianggap batal.
Ibnu Qudamah mengatakan, Nikah muhallil adalah haram, batal, menurut pendapat umu
mnya ulama. Di antaranya: Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakhai, Qatadah, Imam Malik
, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafii. (Al-Mughni, 7:574)
Bahkan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengancam orang yang menjadi muhallil d
an muhallal lahu. Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bers
abda, Allah melaknat muhallil dan muhallal lahu. (H.R. Abu Daud; dinilai sahih ole
h Al-Albani)
Bahkan, telah termasuk tindakan merekayasa ketika ada seorang lelaki yang menikahi
wanita yang dicerai dengan talak tiga, dengan niat untuk dicerai agar bisa kemb
ali kepada suami pertama, meskipun suami pertama tidak mengetahui.

Ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar, bahwa ada seseorang datang kepada beliau
dan bertanya tentang seseorang yang menikahi seorang wanita. Kemudian, lelaki t
ersebut menceraikan istrinya sebanyak tiga kali. Lalu, saudara lelaki tersebut m
enikahi sang wanita, tanpa diketahui suami pertama, agar sang wanita bisa kembal
i kepada saudaranya yang menjadi suami pertama. Apakah setelah dicerai maka wani
ta ini halal bagi suami pertama? Ibnu Umar memberi jawaban, Tidak halal. Kecuali
nikah karena cinta (bukan karena niat tahlil). Dahulu, kami menganggap perbuatan
semacam ini sebagai perbuatan zina di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (H
.R. Hakim dan Al-Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Allahu alam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
sumber : http://www.konsultasisyariah.com/cara-rujuk-setelah-talak-tiga/
8 Prinsip tentang Cerai ketika Marah
Menanggapi banyaknya pertanyaan tentang perceraian, berikut beberapa kaidah pent
ing terkait cerai ketika marah:
Pertama, Hindari Perceraian Semaksimal Mungkin
Mengapa perlu dihindari? Karena perceraian adalah bagian dari program besar ibli
s. Raja setan ini sangat bangga dan senang ketika ada cecunguknya yang mampu mem
isahkan antara suami-istri. Disebutkan dalam hadis dari Jabir, Nabi alaihis shala
tu was salam bersabda,

Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukanny
a. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di a
ntara mereka ada yang melapor, Saya telah melakukan godaan ini. Iblis berkomentar,
Kamu belum melakukan apa-apa. Datang yang lain melaporkan, Saya menggoda seseorang
, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istriny
a. Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, Sebaik-baik set
an adalah kamu. (HR. Muslim, no.2813).
Al-Amasy mengatakan, Aku menyangka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Iblis
merangkul setan itu.
Imam al-Munawi mengatakan, Sesungguhnya hadis ini merupakan peringatan keras, ten
tang buruknya perceraian. Karena perceraian merupakan cita-cita terbesar makhluk
terlaknat, yaitu Iblis. Dengan perceraian akan ada dampak buruk yang sangat ban
yak, seperti terputusnya keturunan, peluang besar bagi manusia untuk terjerumus
ke dalam zina, yang merupakan dosa yang sangat besar kerusakannya dan menjadi sk
andal terbanyak. (Faidhul Qadir, 2:408).
Memang pada dasarnya, talak adalah perbuatan yang dihalalkan. Akan tetapi, perbu
atan ini disenangi iblis karena perceraian memberikan dampak buruk yang besar ba
gi kehidupan manusia. Betapa banyak anak yang terlantar, tidak merasakan pendidi
kan yang layak, gara-gara broken home. Bisa jadi, anak-anak korban perceraian it
u akan disiapkan iblis untuk menjadi bala tentaranya.
Lebih dari itu, salah satu dampak negatif sihir yang disebutkan oleh Allah dalam
Alquran adalah memisahkan antara suami dan istri. Allah berfirman,

Mereka belajar dari keduanya (Harut dan Marut) ilmu sihir yang bisa digunakan unt
uk memisahkan seseorang dengan istrinya. (QS. Al-Baqarah:102)

Sekali lagi, jangan sampai kita mengabulkan keinginan dan harapan iblis. Pikirka
n ulang, dan ingat masa depan anak-anak dan nilai keluarga Anda di mata masyarak
at.
Kedua, Marah Ada Tiga Bentuk
Pembaca yang budiman, untuk menilai keabsahan perceraian ketika marah, terlebih
dahulu perlu kita pahami tentang macam-macam marah, sebagaimana yang dijelaskan
para ulama. Ibnul Qayim menulis buku khusus tentang cerai ketika marah, judulnya
: Ighatsatul Lahafan fi Hukmi Thalaq al-Ghadban. Beliau menjelaskan bahwa marah
ada tiga macam:
Seseorang masih bisa merasakan kesadaran akalnya, dan marahnya tidak sampai menu
tupi pikirannya. Dia sadar dengan apa yang dia ucapkan dan sadar dengan keingina
nnya. Marah dalam kondisi ini tidaklah mempengaruhi keabsahan ucapan seseorang.
Artinya, apapun yang dia ucapkan tetap dinilai dan teranggap. Baik dalam urusan
keluarga, jual beli, atau janji, dst.
Marah yang memuncak, sehingga menutupi pikiran seseorang dan kesadarannya. Dia t
idak sadar dengan apa yang dia ucapkan atau yang dia inginkan. Layaknya orang ya
ng gila, hilang akal, kemudian ngamuk-ngamuk. Marah pada level ini, ulama sepaka
t bahwa semua ucapannya tidak teranggap dan tidak diterima. Baik dalam urusan mu
amalah, nikah, sumpah, janji, dst.. Karena ucapan seseorang ternilai sah menurut
syariat, jika orang yang mengucapkannya sadar dengan apa yang dia ucapkan. Maka
ketika talak diucapkan dia tidak menyadari karena telah hilang akalnya maka tal
ak tidak jatuh namun ketika ia mengetahui ttg ucapannya tsb -dan Allah maha meng
etahui- maka talaknya telah jatuh maka berbohong atas ini hanya akan dinilai zin
a jika ia masih menggauli istrinya.
Marah yang tingkatannya pertangahan dari dua level di atas. Akal dan pikirannya
tertutupi, namun tidak sampai total. Layaknya orang stres yang teriak-teriak, lu
pa daratan. Tidak sebagaimana level sebelumnya. Untuk marah dalam kondisi ini, s
tatusnya diperselisihkan ulama. Ada yang mengatakan ucapannya diterima dan ada y
ang menilai tidak sah. Kemudian Ibnul Qayim menegaskan, Dalil-dalil syariat menun
jukkan (marah dalam kondisi ini)tidak sah talaknya, akadnya, ucapannya membebask
an budak, dan semua pernyataan yang membutuhkan kesadaran dan pilihan. Dan ini t
ermasuk salah satu bentuk ighlaq (tertutupnya akal), sebagaimana keterangan para
ulama.
(Ighatsatul Lahafan fi Hukmi Thalaq al-Ghadban, Hal. 39)

Ketiga, Kalimat cerai Ada Dua


Sebelum melanjutkan pembahasan lebih jauh, kita perlu memahami bahwa kalimat cer
ai dan turunanya ada dua: lafadz sharih (tegas) dan lafadz kinayah (tidak tegas)
. Sayid Sabiq dalam Fiqh Sunah menjelaskan:
Lafadz talak bisa dalam bentuk kalimat sharih (tegas) dan bisa dalam bentuk kina
yah (tidak tegas).
a. Lafadz talak sharih adalah lafadz talak yang sudah bisa dipahami maknanya dar
i ucapan yang disampaikan pelaku. Atau dengan kata lain, lafadz talak yang shari
h adalah lafadz talak yang tidak bisa dipahami maknanya kecuali perceraian. Misa
lnya: Kamu saya talak, kamu saya cerai, kamu saya pisah selamanya, kita bubar, si
lahkan nikah lagi, aku lepaskan kamu, dan semua kalimat turunannya yang tidak me
miliki makna lain selain cerai dan pisah selamanya.
Imam as-Syafii mengatakan, Lafadz talak yang sharih intinya ada tiga: talak (arab:
), pisah (arab:
), dan lepas (arab:
). Dan tiga lafadz ini yg disebutkan da
ah, 2:253).
b. Lafadz talak kinayah (tidak tegas) adalah lafadz yang mengandung kemungkinan
makna talak dan selain talak. Misalnya pulanglah ke orang tuamu, keluar sana..,
jangan pulang sekalian..,
Cerai dengan lafadz tegas hukumnya sah, meskipun pelakunya tidak meniatkannya. S
ayid Sabiq mengatakan, Kalimat talak yang tegas statusnya sah tanpa melihat niat

yang menjelaskan apa keinginan pelaku. Mengingat makna kalimat itu sangat terang
dan jelas. (Fiqh Sunah, 2:254)
Hal yang sama juga ditegaskan dalam Al-Mausuah al-Fiqhiyah (Ensiklopedi Fiqh),

Para ulama sepakat bahwa talak dengan lafadz sharih (tegas) statusnya sah, tanpa
melihat niat (pelaku) (Al-Mausuah al-Fiqhiyah, 29:26)
Sementara itu, cerai dengan lafadz tidak tegas (kinayah), dihukumi dengan meliha
t niat pelaku. Jika pelaku melontarkan kalimat itu untuk menceraikan istrinya, m
aka status perceraiannya sah. Bahkan sebagian ulama hanafiyah dan hambali menila
i bahwa cerai dengan lafadz tidak tegas bisa dihukumi sah dengan melihat salah s
atu dari dua hal; niat pelaku atau qarinah (indikator). Sehingga terkadang talak
dengan kalimat kinayah dihukumi sah dengan melihat indikatornya, tanpa harus me
lilhat niat pelaku.
Misalnya, seorang melontarkan kalimat talak kinayah dalam kondisi sangat marah k
epada istrinya. Keadaan benci istri kemudian mengucapkan kalimat tersebut, menunju
kkan bahwa dia ingin berpisah dengan istrinya. Sehingga dia dinilai telah mencer
aikan istrinya, tanpa harus dikembalikan ke niat pelaku.
Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat, semata qarinah (indikator) tidak bisa jad
i landasan. Sehingga harus dikembalikan kepada niat pelaku. Ini merupakan pendap
at Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin, sebagaimana keterangan beliau di AsySyarhu al-Mumthi 11:9.
Kemudian terkait masalah ini, ada satu ucapan yang sama sekali tidak mengandung
makna talak sedikit pun. Baik secara tegas maupun kiasan. Untuk kalimat semacam
ini sama sekali tidak dinilai sebagai talak, apapun niatnya. Misalnya mengumpat
istrinya, atau menjelekkannya, dst. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, Jika kalimat
yang dilontarkan sama sekali tidak mengandung kemungkinan makna talak, maka sta
tus talak tidak jatuh (baca: tidak sah), meskipun pelaku berniat untuk menceraik
annya ketika dia mengucapkan kalimat tersebut. Misalnya, seseorang mengatakan, Ka
mu pendek.., kamu ketinggian.., dan orang ini menyatakan, Saya berniat untuk mence
raikannya. Yang demikian hukumnya tidak jatuh talaknya. Karena kalimat semacam in
i sama sekali tidak mengandung makna talak. (Asy-Syarhu al-Mumthi, 13:66)
Keempat, Cerai Ketika Marah
Terdapat sebuah hadis, dari Aisyah radhiallahuanha, bahwa Nabi shallallahu alaihi w
a sallam bersabda,

Tidak ada talak dan tidak dianggap kalimat membebaskan budak, ketika ighlaq. (HR.
Ahmad, no.26403, Ibnu Majah, no.2046, Hakim, dan dihasankan Al-Albani)
Makna kata: ighlaq : terdesak. Karena orang yang terdesak kondisinya mughlaq (te
rtutup), sehingga gerakannya sangat terbatas. (An-Nihayah fi gharib al-atsar, 3:
716)
Ada juga sekelompok ulama yang memaknai ighlaq dengan marah. Dalam arti marah ya
ng sanngat hebat, sehingga kemarahannya menghalangi kedasarannya, sebagaimana pe
njelasan sebelumnya.
Berdasarkan hadis ini, ulama menjelaskan bahwa bahwa talak dalam kondisi marah b
esar, sampai menutupi akal, hukumnya tidak sah. Nah.., dari keterangan macam-mac
am marah, Imam Ibnul Qayim menjelaskan bahwa talak hukumnya jika marahnya baru p
ada level pertama, yaitu marah yang masih bisa merasakan kesadaran akalnya, dan
marahnya tidak sampai menutupi pikirannya. Dia sadar dengan apa yang dia ucapkan
dan sadar dengan keinginannya.

Sementara talak yang dijatuhkan pada saat marah di level kedua dan ketiga, talak
nya tidak jatuh. Untuk marah yang sudah memuncak, sebagaian ulama menegaskan bah
wa semua kaum muslimin sepakat talak yang dijatuhkan tidak sah. Syaikh Ibnu Utsa
imin mengatakan, Marah yang sampai pada batas, dimana dia tidak sadar dengan apa
yang dia ucapkan, bahkan sampai pingsan, dalam kondisi ini talak tidak sah denga
n kesepakatan ulama. Karena orang ini tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan. (A
sy-Syarhul Mumti, 13:28)
Karena itu, jangan Anda beralasan, Saya talak istri saya ketika marah, jadi gak s
ah. Alasan semacam ini bisa jadi tidak diterima. Karena selama Anda masih sadar k
etika mengucapkan kata-kata cerai pada istri, maka talak statusnya sah, meskipun
Anda lontarkan hal itu dalam keadaan marah.
Kelima, Cerai Tetap Sah Walaupun Anda Tidak Berniat Cerai
Bagian ini sebenarnya mengulang dari keterangan di atas. Namun mengingat banyak
orang bersih kukuh untuk menolak talak yang disampaikan dengan kalimat tegas ket
ika marah maka perlu untuk kami sendirikan dengan rinci. Hampir semua lelaki yan
g menyesali talaknya ketika marah, mereka beralasan, saya sama sekali tidak bern
iat mentalak istri saya, saya sama sekali tidak bermaksud demikian, saya cuma ng
ancam, saya cuma main-main, dan seabreg alasan lainnya. Apapun itu, jika Anda de
ngan tegas menyampaikan kalimat talak, maka status cerai Anda sah, meskipun Anda
sama sekali tidak berniat talak.
Dalilnya, hadis dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi w
a sallam bersabda,
:
Ada tiga hal, seriusnya dinilai serius, main-mainnya dinilai serius: Nikah, talak
, dan rujuk. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dihasankan Al-Albani)
Artinya, untuk tiga akad tersebut: nikah, talak, dan rujuk, walaupun dilakukan d
engan main-main, statusnya tetap sah, jika syaratnya terpenuhi.
Karena itu, hati-hati dengan kalimat talak yang sharih (tegas), yang tidak menga
ndung kemungkinan selain makna talak. Perhatikan kutipan penjelasan di atas:
Sayid Sabiq mengatakan, Kalimat talak yang tegas statusnya sah tanpa melihat niat
yang menjelaskan apa keinginan pelaku. Mengingat makna kalimat itu sangat teran
g dan jelas. (Fiqh Sunah, 2:254)
Meskipun Anda main-main, tidak serius, cuma ngancam, atau intinya tidak bermaksu
d setitik pun, ingat semua alasan ini tidak bisa diterima. Alasan semacam ini bi
sa diterima, jika kalimat talak yang disampaikan tidak tegas (kinayah).
Keenam, cerai adalah akad lazim yang tidak bisa dibatalkan
Bagian ini akan menjelaskan bahwa talak adalah akad yang mengikat (lazim) dan ti
dak bisa dicabut. Sebelumnya perlu kita pahami pembagian akad ditinjau dari kons
ekwensinya, ada dua:
Akad lazim, adalah akad yang mengikat semua pihak yang terlibat, sehingga masing
-masing pihak tidak punya hak untuk membatalkan akad. Artinya, begitu kalimat it
u diucapkan maka statusnya sah, dan tidak boleh dicabut
Contoh: akad jual-beli, sewa-menyewa, nikah, talak dan semacamnya.
Akad jaiz atau akad ghairu lazim, adalah akad yang tidak mengikat. Artinya salah
satu pihak boleh membatalkan akad tanpa persetujuan rekannya.
Contoh: akad pinjam-meminjam, wadi ah, mewakilkan, dll.
(Al-Mausuah al-Fiqhiyah, 30:230)
Ketujuh, hindari kalimat-kalimat bermakna cerai ketika marah
Kami sangat yakin, ketika Anda marah, Anda ingin mengungkapkan semua isi hati An
da. Apalagi ketika ditunggangi perasaan benci kepada istri. Bayangan sayang-sayan
g di waktu Anda berkenalan dengan calon istri Anda seolah pudar tanpa tersisa sed

ikit pun.
Islam tidak melarang Anda meluapkan perasaan Anda dan ledakan hati Anda. Tapi Is
lam mengatur dan mengarahkan kepada sikap yang benar. Namun sungguh sangat disay
angkan, betapa banyak orang yang kurang menyadari.
Tidak ada yang bisa kami nasihatkan, selain HINDARI semaksimal mungkin kalimat y
ang secara tegas menunjukkan makna talak. Dengan bahasa yang lebih tegas, hindar
i kalimat talak sharih sebisa mungkin. Ini jika Anda masih ingin bersama keluarg
a Anda.
Kedelapan, Jadilah Keluarga yang Tidak Gegabah
Dari Aisyah radhiallahuanha, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah kelembutan menyertai sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidakla


h kelembutan itu dicabut dari sesuatu, melainkan akan semakin memperburuk-nya. (H
R. Bukhari dan Muslim)
Jadilah keluarga yang tidak gegabah, mudah emosi, mudah meluapkan kemarahan, tid
ak perhitungan. Yang laki-laki punya penyakit suka ngomel: cerai, talak, kita pi
sah, nikah sama lelaki lain sana, bubar..bubar, aku lepaskan kamu, besok kuurus su
rat cerai.., aku ikhlaskan kamu karena itu pilihanmu, aku thalaq, aku thalaq..,
aku cerai tiga,
Tapi begitu redam, ingin merasakan dekapan istrinya, dia menyesal, dia ingkari da
n ingkari tidak, sama sekali saya tidak bermaksud menjatuhkan talak Allahu akbar!,
inilah potret suami yang kesadarannya kurang, jika tidak ingin dibilang akalnya
kurang.
Tidak kalah dengan itu, yang perempuan sukanya minta cerai.., dikit-dikit minta
cerai, ceraikan aku.., talak saja aku.., aku ingin cerai.!! ini tidak kalah parah
nya. Sungguh potret wanita kurang.
SabarSabarSabar tahan lidah
Allahu alam
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
Materi terkait cerai:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hukum Talak Lewat SMS.


Talak Ketika Istri Hamil.
Selingkuh dengan Ipar.
Al-Muhallil.
Cerai Karena Mandul.
Cara Rujuk Setelah Talak Tiga.
Kalimat Cerai Bohong-Bohongan.
Menikah Untuk Cerai.

sumber : http://www.konsultasisyariah.com/8-prinsip-tentang-cerai-ketika-marah/
Pertanyaan:
Assalamu alaikum. Sekarang, saya dalam posisi yang sangat galau, karena saya haru
s dihadapkan dengan yang namanya perceraian. Jujur, berat sekali untuk menerima in
i semua. Tapi, apa boleh buat saya harus menjalankan proses ini demi menyenangka
n hati orang tua saya.
Sebenarnya, selama 3 bulan terakhir ini, hubungan saya dengan suami dalam keadaa
n baik. Selama menikah, saya tinggal berjauhan bersama suami. Suami pulang sebul

an sekali, dan saya beserta anak saya tinggal di rumah orang tua saya. Memang, s
elama awal pernikahan kami selalu di warnai dengan ribut, yang diketahui oleh or
ang tua saya. Tapi, kami bisa menyelesaikan itu semua berdua.
Bulan lalu, karena orang tua saya merasa dibohongi oleh suami saya (adapun masal
ahnya yang tidak dapat saya ceritakan), akhirnya orang tua saya, terutama ibu sa
ya, menginginkan kami bercerai. Sebenarnya, kami tidak ingin bercerai karena mas
alah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi, ibu saya merasa telah dib
ohongi. Rencana itu pun tidak berhasil.
Ketika suami saya datang ke rumah ortu saya, akhirnya dia menjatuhkan talak 1, d
engan saksi keluarga saya. Dua hari kemudian, suami saya mengajak rujuk tapi say
a tidak menjawab apa-apa. Dalam hati kecil, saya ingin sekali kembali rujuk, tet
api teringan omongan ibu saya yang mengatakan jika saya tetap bersama dengan sua
mi saya maka ibu saya tidak akan menganggap saya sebagai anaknya lagi.
Sebenarnya, posisi saya berada dalam keadaan yang sulit. Satu sisi, suami; dan s
isi lain, ibu kandung saya. Karena saya takut di anggap anak durhaka, akhirnya,
saya mengikuti semua kemauan ibu saya.
Sebenarnya, suami saya tidah menginginkan cerai, tapi apa boleh buat, dengan des
akan ibu saya, suami saya beberapa hari kemudian menjatuhkan talak 3. Jujur, itu
membuat saya shock. Tapi, hati kecil saya sangat sayang sama suami saya, teruta
ma ada anak saya yang masih berusia 6 bulan.
Saya ingin sekali rujuk dengan suami saya, tapi bagaimana dengan status yang tel
ah dijatuhkan oleh suami saya, yaitu talak 3? Saya sangat ingin sekali tetap ber
sama suami saya, berkumpul lagi. Karena kami bercerai (atas, red.) desakan dari
orang tua.
Mohon bantuannya untuk di carikan solusi. Terima kasih. Mohon bantuannya.
NN (**@yahoo.com)
Jawaban:
Waalaikumussalam. Saudariku, sejatinya, rujuk itu adalah hak dan wewenang suami.
Dengan demikian, bila suami telah mengatakan rujuk maka status pernikahan Saudar
i telah kembali. Namun, karena akhirnya suami menjatuhkan talak tiga, maka jatuh
talak kembali.
Karena itu, saya sarankan agar masalah Saudari dibawa ke pengadilan agama, agar
jelas, apakah masih ada celah bagi Saudari untuk kembali ke suami atau tidak, se
bab talak 3 yang Saudari sebutkan perlu ditelusuri lebih jauh, apa maksudnya dan d
engan cara bagaimana.
Semoga Allah taala memberi jalan keluar bagi Saudari dan keluarga Saudari. Saya h
anya bisa turut mendoakan, semoga Allah memudahkan dan memberkahi setiap urusan
Saudari.
Wassalamu alaikum.
Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A. (Dewan Pembina Senior Konsu
ltasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
sumber : http://www.konsultasisyariah.com/ingin-kembali-setelah-jatuh-talak/
Pertanyaan:

Assalamu alaikum. Kepada para ulama, mohon tuntunan Ustadz. Nama saya Abdie. Saya
telah menceraikan istri saya dengan talak tiga; dan pertanyaan saya ialah: apak
ah boleh saya menyuruh orang tuk menikahi istriku dan menyuruh menceraikannya aga
r saya bisa rujuk kembali? Apakah rujukan itu sah dalam hukum Islam?
Abdie Negara (nedara**@yahoo.**)
Jawaban:
Waalaikumus salam warahmatullah wabarakatuh.
Jika seorang suami menceraikan istrinya dengan cerai satu atau dua maka sang sua
mi berhak untuk melakukan rujuk dengan istri, selama masih masa iddah, baik istr
i ridha maupun tidak ridha. Namun, jika talak tiga sudah jatuh maka suami tidak
memiliki hak untuk rujuk kepada istrinya, sampai sang istri dinikahi oleh lelaki
lain. Allah berfirman,

Jika dia mentalak istrinya (talak tiga) maka tidak halal baginya setelah itu, sam
pai dia menikah dengan lelaki yang lain . (Q.S. Al-Baqarah:230)
Pernikahan wanita ini dengan lelaki kedua bisa menjadi syarat agar bisa rujuk ke
pada suami pertama, dengan syarat:
Pertama: Dalam pernikahan yang dilakukan harus terjadi hubungan badan, antara sa
ng wanita dengan suami kedua. Berdasarkan hadis dari Aisyah, bahwa ada seorang s
ahabat yang bernama Rifaah, yang menikah dengan seorang wanita. Kemudian, dia men
ceraikan istrinya sampai ketiga kalinya. Wanita ini, kemudian menikah dengan lel
aki lain, namun lelaki itu impoten dan kurang semangat dalam melakukan hubungan
badan.
Dia pun melaporkan hal ini kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dengan harap
an bisa bercerai dan bisa kembali dengan Rifaah. Namun, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, Kamu ingin agar bisa kembali kepada Rifaah? Tidak boleh! Sampai
kamu merasakan madunya dan dia (suami kedua) merasakan madumu. (H.R. Bukhari, Mus
lim, An-Nasai, dan At-Turmudzi)
Yang dimaksud kamu merasakan madunya dan dia merasakan madumu adalah melakukan hub
ungan badan.
Kedua: Pernikahan ini dilakukan secara alami, tanpa ada rekayasa dari mantan sua
mi maupun suami kedua. Jika ada rekayasa maka pernikahan semacam ini disebut seb
agai nikah tahlil; lelaki kedua yang menikahi sang wanita, karena rekayasa, disebu
t muhallil; suami pertama disebut muhallal lahu. Hukum nikah tahlil adalah haram, da
n pernikahannya dianggap batal.
Ibnu Qudamah mengatakan, Nikah muhallil adalah haram, batal, menurut pendapat umu
mnya ulama. Di antaranya: Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakhai, Qatadah, Imam Malik
, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafii. (Al-Mughni, 7:574)
Bahkan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengancam orang yang menjadi muhallil d
an muhallal lahu. Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bers
abda, Allah melaknat muhallil dan muhallal lahu. (H.R. Abu Daud; dinilai sahih ole
h Al-Albani)
Bahkan, telah termasuk tindakan merekayasa ketika ada seorang lelaki yang menikahi
wanita yang dicerai dengan talak tiga, dengan niat untuk dicerai agar bisa kemb
ali kepada suami pertama, meskipun suami pertama tidak mengetahui.

Ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar, bahwa ada seseorang datang kepada beliau
dan bertanya tentang seseorang yang menikahi seorang wanita. Kemudian, lelaki t
ersebut menceraikan istrinya sebanyak tiga kali. Lalu, saudara lelaki tersebut m
enikahi sang wanita, tanpa diketahui suami pertama, agar sang wanita bisa kembal
i kepada saudaranya yang menjadi suami pertama. Apakah setelah dicerai maka wani
ta ini halal bagi suami pertama? Ibnu Umar memberi jawaban, Tidak halal. Kecuali
nikah karena cinta (bukan karena niat tahlil). Dahulu, kami menganggap perbuatan
semacam ini sebagai perbuatan zina di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (H
.R. Hakim dan Al-Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Allahu alam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
sumber : http://www.konsultasisyariah.com/cara-rujuk-setelah-talak-tiga/
Ingin Rujuk Tetapi Ibu Menghalangi
Pertanyaan:
Assalamu alaikum
Pak Ustadz, saya ingin menikah dengan istri yang dulu. Kami sudah bercerai kirakira 9 bulan yang lalu dan akta cerainya sudah ada. Karena kasihan dan sayang de
ngan anak, kami ingin menikah lagi.Tapi ibu saya saya tidak menyetujuinya karena
tidak cocok dan pernah bertengkar dengan istri saya. Sampai sekarang ibu saya m
asih sakit hati dan tidak menyetujui saya untuk menikahi lagi bekas istri. Saya
tidak ingin mengecewakan ibu tetapi saya juga ingin membahagiakan anak. Mohon sa
ran dari Pak Ustadz.
Wassalamu laikum
Dari: Furkan
Jawaban:
Waalaikumussalam
Dalam kasus semacam ini secara agama, Anda tidak wajib taat dengan ibu Anda. Kar
ena itu, jika Anda rujuk, tidak dinilai sebagai durhaka.
Jawaban Ustadz Aris Munandar, M.P.I
Syaikh Sulaiman bin Abdullah Al Majid

Wajib bagi setiap orang untuk berbuat baik dan menaati kedua orang tuanya. Apabi
la menaati mereka berkonsekuensi bermaksiat kepada Allah Taala, maka haram hukumn
ya untuk menaati keduanya. Demikian juga seandainya menaati mereka memberi mudha
rat pada dirinya, anaknya atau suatu kesulitan, maka tidak wajib menaati keduany
a.
Apabila ia mengalami mudharat dan terasa sempit untuk berbuat baik terhadapnya d
alam suatu perkara, maka ia diperbolehkan untuk tidak menurutinya dalam permasal
ahan tersebut. Akan tetapi ia tetap diwajibkan agar berlemah lembut dalam menola
knya sambil meminta maaf. Apabila ia mampu dan bisa bersabar. Allahu alam.
Sumber: http://www.salmajed.com/fatwa/findnum.php?arno=13171
sumber : http://www.konsultasisyariah.com/ingin-menikah-lagi-dengan-istri-pertam

a/
Pertanyaan:
Saya ingin bertanya beberapa hal tentang rumah tangga. Semoga Ustadz berkenan me
mberikan jawaban secara ilmiah/syari. Saya harap, hal ini akan bermanfaat bagi sa
ya dan siapa saja yang mungkin suatu saat akan mengalaminya.
Bagaimana perceraian yang dilakukan tanpa ada saksi? Hukumnya sah atau tidak? Ba
gaimana pula ketika akan rujuk? Apakah perlu adanya saksi agar sah atau tidak? K
emudian, ketika talak satu sudah habis masa iddah-nya dan tidak ada rujuk, bagai
mana status perkawinannya? Demikian Ustadz pertanyaan saya, semoga Ustadz berken
an untuk menjawabnya.
Jawaban:
Tidak ada seorang muslim pun yang ingin kehidupan rumah tangganya pecah. Segala
cara dan kiat dicari untuk mempertahankan bahtera rumah tangga. Apabila tidak mu
ngkin berbaikan kecuali dengan berpisah, maka apa boleh buat, langkah yang sulit
dan getir itu pun harus diambil. Islam memberikan aturan yang indah dalam kasus
ini dengan mensyariatkan talak (perceraian), rujuk (damai kembali bersatu), dan
masa iddah menjadi tiga: dua dengan rujuk, yaitu talak satu dan dua serta satu
tanpa rujuk, yaitu talak tiga atau talak bain, sebagaimana firman Allah,

Talak (yang dapat dirujuk) itu sebanyak dua kali. Setelah itu, boleh rujuk lagi d
engan cara yang maruf atau menceraikan dengan cara yang baik. (QS. Al-Baqarah:229)
Para ulama sepakat bahwa keberadaan saksi tidak disyariatkannya dalam perceraian
, sebagaimana dijelaskan Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nail Al-Authar, 6:267. Na
mun, para ulama masih berselisih tentang kewajiban adanya saksi dalam rujuk. Pen
dapat yang rajih dalam hal ini adalah yang berpendapat bahwa saksi tidak wajib a
da, namun bila ada saksi maka itu yang lebih baik.
Para ulama, yang tidak mewajibkan saksi dalam rujuk, berselisih pendapat dalam c
ara rujuk yang diakui syariat. Ada yang menyatakan bahwa cukup dengan berhubunga
n suami-istri, ada yang menyatakan bahwa harus dengan niat rujuk, dan ada yang m
enyatakan bahwa harus dengan ucapan. Pendapat yang rajih adalah bahwa rujuk dika
takan sah dengan adanya perbuatan atau perkataan yang menunjukan rujuknya kedua
pasutri tersebut, baik dengan hubungan suami-istri atau perkataan. Hal tersebut
menyelishi opini sebagian kaum muslimin bahwa rujuk memerlukan prosedur yang ber
belit-belit, sehingga orang yang berkeinginan rujuk malah tidak jadi melakukan r
ujuk hanya karena prosedur tersebut.
Islam mensyariatkan iddah (masa menunggu) agar sang suami dapat meralat kembali
talaknya, setelah hilang rasa marah dan tidak sukanya lalu muncul perasaan ingin
memperbaiki bahteranya. Oleh karena itu, sang suami dilarang mengusir istrinya
dari rumah, dan istri yang dicerai dengan talak satu atau dua tersebut juga tida
k boleh pergi untuk tinggal di luar rumahnya. Hal ini jelas ditegaskan Allah dal
am firman-Nya,

Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan m
ereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), hitunglah wakt
u iddah itu serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mer
eka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar, kecuali kalau mer
eka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah batasan-batasan dari Allah. B
arang siapa yang melanggar batasan-batasan Allah, sesungguhnya dia telah berbuat

zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui bahwa barangkali Allah me
ngadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru. (QS. Ath-Thalaq:1)
Apabila Allah berikan rasa ingin rujuk pada hati sang suami dalam masa iddah ter
sebut maka sang istri wajib menerimanya walaupun ia tidak suka. Namun, bila tida
k ada rujuk sampai habis masa iddah-nya maka sang wanita menjadi bebas dan tidak
ada keterikatan dengan suaminya terdahulu itu.
Jika keduanya sepakat untuk kembali bersatu setelah itu maka pernikahan yang bar
u wajib untuk dilakukan . Hal ini merupakan kesepakatan para ulama, sebagaimana
pernyataan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Para ulama telah bersepakat bahwa bila l
elaki yang merdeka mencerai wanita yang merdeka setelah berhubungan suami istri,
baik talak satu atau dua, maka suami tersebut lebih berhak untuk rujuk kepadany
a walaupun sang wanita tidak suka. Apabila tidak rujuk sampai selesai masa iddah
nya maka sang wanita menjadi orang asing (ajnabiyah), sehingga tidak halal bagin
ya, kecuali melalui pernikahan baru.
Demikian jawaban dari kami, mudah-mudahan bermanfaat.
Sumber: Majalah Nikah, Vol. 3, No. 12, Maret, 2005.
Dengan penyuntingan oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
sumber : http://www.konsultasisyariah.com/apakah-cerai-dan-rujuk-harus-ada-saksi
/