Anda di halaman 1dari 5

Addition of Boric Acid or Borax to Food Supplements

Boron dikonsumsi oleh manusia melalui air minum atau air mineral dan makanan. Paparan boron dapat terjadi lewat obat, kosmetik, mainan, deterjen dan pengawet. Batas toleransi intake boron (Torelable upper intake level) yang diperoleh dari berbagai sumber dimana tidak mengakibatkan dampak negatif pada tubuh adalah sebesar 10 mg per hari untuk dewasa. Aplikasi boron dalam suplemen makanan adalah adanya asam borat atau borax yang digunkan di tablet, kapsule, tablet kunyah dan serbuk effervescent, dosis perhari berkisar antara 1-3 mg boron. Asam borat termasuk asam lemah dengan pKs sebesar 9,14, asam borat mengandung boron sebesar 17,48%. Kandungan boron dalam borax sebesar 11,34%. Asam borat dan borax dahulu digunakan dalam dunia farmasi sebagai antiseptik kulit dan mukosa, namun sekarang tidak lagi digunakan karena efikasi yang rendah dan sifat ketoksikan bahan yang cukup tinggi. Lethal dose untuk borax 0,8-3,0 gram untuk balita; 5-6 gram untuk anak dan 12-30 gram untuk dewasa Boron diabsorbsi melalui saluran pencernaan, melalui kulit ataupun mukosa yang rusak atau luka dan melalui saluran pernafasan. Tidak banyak data yang menyebutkan mengenai distribusi boron didalam organ tubuh manusia, namun diketahui bahwa boron dapat

terakumulasi dalam tulang. Kandungan boron pada asam borat dan borax dapat berpindah dari ibu ke janin melalui plasenta dan asi. Ekskresi asam borat dan borax terjadi melalui urin.

Boron

Karakteristik toksikologi dari asam borat dan borax equivalen dengan karakteristik toksisk dari boron saat terlarut di air ataupun cairan fisiologis pada pH yang sama dan konsentrasi yang rendah.

Borax

Borax merupakan bentuk garam dari unsur boron, borax dikenal dengan nama disodium tetraborate decahydrate. Borates banyak digunakan dalam proses industri pembuatan gelas, keramik dan pestisida. Borax digolongkan dalam senyawa yang tidak terlalu toksik karena LD50 yang besar, sampai saat ini belum didapatkan bukti mengenai efek karsinogen dari borax pada manusia ataupun penelitian pada hewan. Borax sangat beracun bagi serangga.

Addition of Boric Acid or Borax to Food Supplements Boron dikonsumsi oleh manusia melalui air minum

Borax dapat mengiritasi mata, apabila terjadi iritasi mata cucilah mata dengan air

mengalir. Untuk pekerja industri yang menggunakan borax diwajibkan menggunakan kacamata google. Iritasi kulit akibat borax dapat diminimalisir dengan mencuci kulit dengan air mengalir, borax atau asam borat dapat diabsorbsi melalui mukosa atau kulit yang luka. Borax tidak diperuntukan untuk dimakan, jauhkan borax dari jangkauan anak dan pisahkan dari penyimpanan makanan lainnya karena serbuk borax berwana putih dan tidak berbau. Serbuk borax yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, apabila terjadi iriasi segera bawa keluar untuk mendapatkan udara segar. Iritasi saluran pernafasan biasanya terjadi pada area dengan level debu borax yang tinggi, bentuk iritasi yang dapat terjadi antara lain adalah batuk dan penderita susah bernafas.

Acute Exposures in Infants and Children Kebanyakan keracunan pada infants terjadi di rumah sakit karena ketidaksengajaan pengkonsumsian larutan asam borat (kebanyakan terjadi karena kesalahan saturasi larutan asam borat) dan asam borat juga digunakan untuk mengatasi iritasi yang terjadi karena penggunaan popok. Gejala keracunan yang dialami antara lain berupa diare, mual, muntah dan kulit kemerahan. Di beberapa negara penggunaan asam borat sebagai pengawet pada makanan dilarang, kandungan boron dalam tubuh dapat dideteksi di jaringan dalam tubuh dalam konsentrasi rendah. Penyalahgunaan Borax Penyalahgunaan borax banyak terjadi sebagai pengawet makanan. Penambahan borax menyebabkan waktu simpan dari makanan menjadi lebih panjang dan mencegah proses fermentasi sehingga makanan akan lebih lama busuk. Borax yang dikonsumsi dapat tereliminasi sebesar 85% melalui urine dan sisanya terakumulasi dalam tubuh. Karena borax terakumulasi dalam tubuh maka sebagian besar negara di dunia melarang peggunaan borax sebagai pengawet makanan termasuk Indonesia (Khai, ). .. Acute Expsure in Adults Acute boric acid exposure ingestions tidak berefek signifikan ataupun toksik sehingga tidak diperlukan treatment yang serius untuk sebagian pasien. Pada catatan Rocky Mountain Poisoon Control Center tahun 1983-1984 terdapat 364 kasus tentang paparan asam borat dan dilaporkan hanya 1 kasus dengan manifestasi klinik yang fatal yang diduga ini termasuk toksisitas kronik. Tidak terdapat laporan tentang efek sistemik terhadap 4 pasien yang mengkonsumsi 10-297 gram asam borat. Dari 782 total kasus acute exposure tidak ditemukan

gejala perkembangan manifestasi ketoksikan dari asam borat, data diperoleh dari Poisons Center tahun 1981-1986. Gejala yang dialami pasien adalah mual, muntah, abdomial pain, diare, dan pusing. Waktu paruh asam borat dalam tubuh berkisar antara 13,4 jam, terapi hemodialisis memperpendek waktu paruh dari asam borat. Japanese Clinical Report melaporkan proses hemodialisis pada pasien yang mengkonsumsi 21 gram asam borat dapat menurunkan waktu

paruh dari 13,46 jam menjadi 3,76 jam dan clearance meningkat dari 0,99 liter/jam menjadi 3,53 liter/jam.

Chronic Exposures in Infants Kasus paparan kronik asam borat terjadi pada kasus balita sebagai soothing agents, dengan adanya borax dan madu. 9 balita sempat mengalami kejang setelah pemberian soothing agents selama 4 minggu. Kejang berhenti setelah pemberian madu dan borax dihentikan, diperkiran intake asam borat sebesar 98mg/kg/hari. Chronic Exposures in Adults

Gejala yang mungkin timbul antara lain kemerahan pada kulit, anorexia dan pengelupasan kulit pada penggunaan borates dengan dosis 1-2 gram/hari, saat penggonaan borates dihentikan gejala tersebut berhenti. Pada penelitian yang berbeda dengan melibatkan

pria dweasa yang diberikan 500mg asam borat perhari tidak ditemukan efek samping yang berarti.

Ekresi Asam Borat

Ekskresi asam borat sebagian besa melalui urine dengan waktu paruh berkisar anatara 13-21 jam.

Pada pH fisiologis tubuh, garam borates diubah menjadi asam borat. Borates dapat diabsorbsi secara oral maupun melalui kulit terutama melalui kulit yang terluka. Borates terdistribusi pada jaringan tubuh dan diekskresi lewat urine dalam bentuk asam borat dengan waktu paruh yang relatif lama kurang lebih 12 jam, hal in terjadi karena tingginya energi untuk memutus ikatan antara oksigen-boron, borates tidak dimetabolisme oleh hewan maupun manusia. Ketoksikan borates digolongkan dalam kelas moderate, dengan LD50 pada tikus jantan 4.5gram borax/kg Meknisme toksisitas borax melibatkan sel sertoli sebagai targetnya. Borax dan komponen borate lainnya tidak memiliki efek sebagai neurotoksin ataupun carcinogenics effect (USDA, 2006)

Case Report 1

Anak 4,5 bulan dibawa ke rumah sakit karena kejang. Anak ini merupakan anak pertama yang lahir dengan berat 3400 gram dan selama masa kehamilan semua keadaan normal. Pada saat anak berusia 2 bulan, dia mengalami kejang dengan gerakan mata keatas dengan durasi kejang berlangsung sampai 1 menit, kejang terjadi sebanyak 1-4 kali sehari. Saat berusia 3 bulan, anak tersebut didiagnosa epilepsi dan diberikan terapi phenobarbitone namun kejang masih tetap terjadi, namun tidak disertai muntah, diare ataupun oliguria. Pemeriksaan keadaan fisik anak saat itu meliputi kedaannya yang pucat, kulit kemerahan, dengan berat badan 4,59 kg dan tinggi 53,5 cm. Pemeriksaan syaraf kranial menunjukan hasil normal, anak berlaku hipertonik, reflek otot anak berjalan cepat namun kontrol akan kepala buruk. Hasil laboratorium menjunjukan keadaan normal untuk serum elektrolit, BUN, kreatinin, calcium, bilirubin, SGOT, hasil urinalisis dan screening metabolit normal, pH urine 8 dan tidak mengandung protein, gula maupun sel. Pemeriksaan hematologi menunjukan bahwa anak menderita anemia (normocytic and hypochromic red blood cell) Selama proses pemeriksaan anak mengalami iritasi dan mulai menangis. Ibu dari anak itu mengambil dot dan sebuah botol berwarna coklat dari dalam tasnya, lalu mencelupkan dot tersebut kedalam botol. Ujung dot tertutupi oleh cairan kental berwarna kuning-kecoklatan, setelah itu dot diberikan kepada anak untuk dihisap dan anak itu berhenti menangis. Cairan untuk dot itu sudah digunakan sejak anak berusia 1 bulan, cairan tersebut digunakan untuk

melembabkan mulut dan lidah bayi dan berlanjut digunakan untuk menghentikan tangisan anak. Hal yang sama dilakukan oleh nenek anak tersebut kepada ibunya. Pada label 1-oz botol tertera mengandung borax dan madu. Pengujian sampel urine dan darah diambil saat itu juga untuk menganalisis kadar asam borat. Dalam urine terdapat konsentrasi borax sebesar 12,3 mg/100 mL atau setara dengan 7,95 mg/100 mL asam borat. Penggunaan cairan borax-madu seketika itu dihentikan dan anak tidak lagi mengalami gejala kejang. Hasil EEG kembali normal setelah 1 minggu dan anak tidak lagi mendapatkan terapi antikonvulsan. Sediaan cairan borax-madu dijual bebas di pasaran tanpa resep dokter mengandung 10,5 gram borax dan 5,25 gram glisrin dalam 84,25 gram madu. Anak tersebut telah mengkonsumsi 1 ons tiap minggu sejak umur 1 bulan dengan perkiraan jumlah borax sebanyak 125 gram selama periode waktu 12 minggu.

Kasus keracunan asam borat pada 11 bayi. Kasus keracunan merupakan ketidaksengajaan dalam pembuatan 2,5% formula asam borat. Keracunan diawali dengan kesalahan pemberian sediaan jadi dalam botol berlabelkan “destilled water” kepada 11 bay baru lahir diaman terjadi error, dalam botol tersebut mengandung 2,5% larutan asam borat. Dalam kasus ini 5 bayi meninggal. Bayi (1). Berjenis kelamin perempuan dengan berat badan 7 lb. Menerima asupan susu formula selama 5 hari. Timbul gejala diare, muntah dan feses dan muntahan disertai lendir berwarna kehijauan. Keadaan bayi sagat aktif namun sering menangis. Selanjutnya bayi tersebut didiagnosa menderita alergi susu formula dan diganti dengan sobee. Diare dan muntah masih tetap terjadi dan bayi menjadi lesu selama 12 jam kemudian.