Anda di halaman 1dari 11

Arrofath Munawar

Inilah Blog Pribadi saya yang berisi dokumen-dokumen yang pernah saya buat. Semoga dapat
membantu anda sekalian. Jangan Lupa Like and Comment Okey...
Jumat, 03 Oktober 2014
Laporan Praktikum Kimia.Titrasi Asam Basa
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

Nama
NPM
Prodi
Kelompok
Hari/jam
Tanggal
Ko-ass
Dosen
Objek Praktikum

: Arrofath Munawar
: E1G013044
: Teknologi Industri Pertanian
: 2 (Dua)
: Kamis jam 14.00-16.00
: 24 oktober 2013
: 1. Reski Pratama
2. Tatik Sulasmi
: 1. Dra. Devi Silsia, M.Si
2. Drs. Syafnil.M.Si
: Titrasi Asam Basa

LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan
cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat lain yang diketahui konsentrasinya. Prinsip dasar
titrasi asam basa didasarkan pada reaksi nertalisasi asam basa.
Titik ekivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam tepat di netralkan
oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen
ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa. Indikator yang
digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada.

Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir
yaang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada
saat titik akhir titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi
tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat
memperkecil kesalahan titrasi.
Titrasi asam basa merupakan contoh analisis glumetri, yaitu suatu cara atau metode yang
menggunakan larutan yang disebut titran dan dilepaskan dari perangkat gelas yang disebut buret.
Titik dalam titrasi dimana titran yang telah ditambahkan cukup untuk bereaksi secara tepat dengan
senyawa yang ditentukan disebut titik ekivalen atau titik stoikhiometri, titik ini sering ditandai
dengan perubahan warna senyawa yang disebut indikator.
Berikut ini syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil :
1.
Konsentrasi titrasi harus diketahui. Larutan seperrti ini disebut larutan standar.
2.
Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui.
3. Titik stoikhiometri atau titik ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan
warna, atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. Titik pada saat indikator
berubah warna disebut titik akhir.
4.
Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat
mungkin.
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa mampu menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang
mengandung asam.
2. Mahasiswa mampu menstandarisasi larutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Titrasi asam basa sering disebut asidi-alkalimetri, sedang untuk titrasi pengukuran lain-lain sering
dipakai akhiran-ometri mengggantikan imertri. Kata metri berasal dari bahasa yunani yang
berarti ilmu proses seni mengukur. I dan O dalam hubungan mengukur sama saja, yaitu dengan
atau dari (with or off). Akhiran I berasal dari kata latin dan O berasal dari kata Yunani. Jadi
asidimetri dapat diartikan pengukuran jumlah asam ataupun pngukuran dengan asam (yang diukur
dalam jumlah basa atau garam). (Harjadi, W. 1990)
Reaksi penetralan asam basa dapat digunakan untuk menentukan kadar larutan asam atau larutan
basa. Dalam hal ini sejumlah tertentu larutan asam ditetesi dengan larutan basa, atau sebaliknya
sampai mencapai titik ekuivalen (asam dan basa tepat habis bereaksi). Jika molaritas salah satu
larutan (asam atau basa) diketahui, maka molaritas larutan yang satu lagi dapat ditentukan.
(Michael. 1997)
Jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa maka pH larutan akan naik, sebaliknya jika larutan
basa ditetesi dengan larutan asam maka pH larutan akan turun. Grafik yang menyatakan
perubahan pH pada penetesan asam dengan basa atau sebaliknya disebut kurva titrasi. Kurva
titrasi berbetuk S, yang pada ttik tengahnya merupakan titik ekuivalen. (Michael. 1997)
Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan

pengamatan dengan indikator bil pH pada titik ekuivalen 4-10. Demikian juga titik akhir titrasi
akan tajam pada titirasi asam atau basa lemah, jika penitrasian adalah basa atau asam kuat dengan
perbandingan tetapan disosiasi asam lebih besar dari 104 .pH berubah secara drastis bila volume
titrannya. Pada reaksi asam basa, proton ditransfer dari satu molekul ke molekul lain. Dalam air
proton biasanya tersolvasi sebagai H30. Reaksi asam basa bersifat reversibel. Temperatur
mempengaruhi titrasi asam basa, pH dan perubahan warna indikator tergantung secara tidak
langsung pada temperatur. (Khopkar, S.M. 1990)
Pada kedua jenis titrasi diatas, dipergunakan indikator yang sejenis yaitu fenoftalen (PP) dan metil
orange (MO). Hal tersebut dilakukan karena jika menggunakan indikator yang lain, misalnya TB,
MG atau yang lain, maka trayek pHnya sangat jauh dari ekuivalen. (Harjadi, W. 1990)
Pada titrasi asidi-alkalimetri dibagi menjadi dua bagian besar yaitu : (Susanti,1995)
1. Asidimetri. Titrasi ini menggunakan larutan standar asam yang digunakan untuk menentukan
basa. Asam yang biasa digunakan adalah HCl, asam cuka, asam oksalat, asam borat.
2. Alkalimeri. Pada titrasi ini merupakan kebalikan dari asidi-alkalimetri karena larutan yang
digunakan untuk menentukan asam disini adalah basa.
Titirasi asam-basa merupakan cara yang tepat dan mudah untuk menentukan jumlah senyawasenyawa yang bersifat asam dan basa. Kebanyakan asam dan basa organik dan organik dapat
dititrasi dalam larutan berair, tetapi sebagian senyawa itu terutama senyawa organik tidak larut
dalam air. Namun demikian umumnya senyawa organik dapat larut dalam pelarut organik, karena
itu senyawa organik itu dapat ditentukan dengan titrasi asam basa dalam pelarut inert. Untuk
menentukan asam digunakan larutan baku asam kaut misalnya HCl, sedangkan untuk menentuan
basa digunakan larutan basa kuat misalnya NaOH. Titik akhir titrasi biasanya ditetapkan dengan
bantuan perubahan indikator asam basa yang sesuai atau dengan bantuan peralatan seperti
potensiometri, spektrofotometer, konduktometer. (Rivai, H, 1990)
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Kadar larutan asam
ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titrant ditambahkan titer tetes demi
tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis
bereaksi) yang biasanya ditandai dengan berubahnya warna indikator. Keadaan ini disebut sebagai
titik ekuivalen, yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa atau titik
dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan : [H+] =
[OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna
indikator disebut sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi ini mendekati titik ekuivalen,
tapi biasanya titik akhir titrasi melewati titik ekuivalen. Oleh karena itu, titik akhir titrasi sering
disebut juga sebagai titik ekuivalen. (Esdi, 2011)

Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama dengan mol-ekuivalen basa, maka
hal ini dapat ditulis sebagai berikut (Esdi, 2011)
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara normalitas (N) dengan volume, maka rumus
diatas dapat ditulis sebagai berikut:
N asam x V asam = N asam x V basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam

atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH- (pada basa).

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan bahan
- NaOH 0,1 M
- Buret 50 mL
- HCl 0,1 M
- Statif dab klem
- H2C2O4
- Gelas ukur 25 mL atau 10 mL
- Erlenmeyer
-- Indikator penolphetalein
- Corong kaca
3.2 Cara kerja
3.2.1 Standarisasi larutan NaOH 0,1 M
Mencuci bersih buret yang akan digunakan untuk standarisasi dan membilas dengan 5 mL
larutan NaOH. Memutar kran buret untuk mengeluarkan cairan yang tersisa dalam buret,
selanjutnya mengisi buret dengan 5 mL NaOH untuk membasahi dinding buret. Kemudian larutan
dikeluarkan lagi dari buret. Larutan NaOH dimasukkan lagi ke dalam buret sampai skala tertentu.
Mencatat kedudukan volume awal NaOH dalam buret.
Proses standarisasi :
Mencuci 3 erlenmeyer, pipet 10 Ml, larutan asam oksalat 0,1 M dan memasukkan ke dalam
setiap Erlenmeyer dan menambahkan ke dalam masing-masing Erlenmeyer 3 tetes indicator
penophtalein (PP).
Mengalirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai terbentuk
warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas Erlenmeyer digoyang.
Mencatat volume NaOH terpakai
Mengulangi dengan cara yang sama untuk Erlenmeyer ke II dan III.
Menghitung molaritas (M) NaOH.
3.2.1 Penentuan konsentrasi HCl
- Mencuci 3 Erlenmeyer, pipet 10 mL larutan HCl 0,1 M dan memasukkan ke dalam setiap
Erlenmeyer
- Menambahkan kedalam masing-masing Erlenmeyer 3 tetes indicator penolphtalein (PP)
- Mengalirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai terbentuk warna
merah muda yang tidak hilang apabila gelas erlenmeyer digoyang.
- Mencatat volume NaOH terpakai
- Mengulangi dengan cara yang sama untuk Erlenmeyer ke II dan III.

- Menghitung molaritas (M) HCl.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
4.1 Hasil pengamatan
Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat
No
Prosedur
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
Volume larutan asam oksalat 0,1 M
10 mL
10 mL
10 mL
10 mL
2
Volume NaOH terpakai
19,8 mL
21 mL
18,6 mL
19,8 mL
3
Molaritas (M) NaOH
0,050 M
0,047 M
0,053 M
0,050 M
Standarisasi HCl dengan larutan HCl
No
Prosedur
Ulangan
Rata-rata
I
II

III
1
Volume larutan HCl
10 mL
10 mL
10 mL
10 mL
2
Volume NaOH terpakai
25,4 mL
27 mL
23,5 mL
25,3 mL
3
Molaritas (M) NaOH
Berdasarkan hasil percobaan diatas
0.050 M
4
Molaritas (M) larutan HCl
0,039 M
4.2 Perhitungan
Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat
Ulangan I
V1.M1 = V2.M2
10 . 0,1
= 19,8 . M2
1
= 19,8 . M2
M2
=1
= 0,050 M
19,8
Ulangan II
V1 . M1 = V2 . M2
10 . 0,1 = 21 . M2
1
= 21 . M2
M2
=
1
= 0,047 M
21
Ulangan III
V1 . M1
= V2 . M2
10 . 0,1 = 18,6 . M2
1
= 18,6 . M2
M2
=
1
= 0,053 M
18,6
Rata-rata :
V1 . M1 = V2 . M2
10 . 0,1 = 19,8 . M2
1
= 19,8 . M2
M2
=
1
= 0,050 M
19,8

Standarisasi HCl dengan larutan HCl


Rata-rata :
V1 . M1 = V2 . M2
10 . 0,1
= 25,3 . M2
M2
= 1
= 0,039
25,3

BAB V
PEMBAHASAN
Pada percobaan standarisasi NaOH 0,1 M dengan larutan asam oksalat dilakukan dalam
tiga kali ulangan dengan proses :
Ulangan pertama, mengukur volume asam oksalat sebanyak 10 mL dengan menggunakan
gelas ukur 10 mL. Kemudian larutan asam oksalat yang sudah diukur dalam gelas ukur sebanyak
10 mL tersebut dituangkan ke dalam Erlenmeyer dan ditetesi dengan indikator penolphetalein
sebanyak 3 tetes. Setelah itu larutan asam oksalat diletakkan dibawah buret dan ditetesi dengan
larutan NaOH yang ada didalam buret setetes demi setetes, erlemeyer sambil di goyang-goyang
hingga larutan asam oksalat yang semula bening berubah menjadi pink atau ungu. Apabila larutan
asam oksalat sudah berubah warna menjadi pink atau ungu, maka cepat tutup kran pada buret
supaya larutan dalam buret tidak keluar lagi. Langkah selanjutnya menghitung banyaknya volume
NaOH yang terpakai. Pada ulangan I didapatkan volume NaOH terpakai sebanyak 19,8 mL, catat
pada tabel laporan sementara dibagian Ulangan I. Kemudian hitung Molaritas NaOH sebagai
berikut :
V1 . M1 = V2 . M2
10 . 0,1
= 19,8 . M2
1
= 19,8 . M2
M2
=
1
= 0,050 M
19,8
Berikutnya ialah mengulangi langkah-langkah diatas sebanyak dua kali, hingga didapatkan pada
ulangan II volume NaOH terpakai sebanyak 21 mL
V1 . M1 = V2 . M2
10 . 0,1
= 21 . M2
1
= 21 . M2
M2
= 1/21 = 0,047 M
pada ulangan III didapatkan volume NaOH terpakai sebanyak 18,6 mL
V1 . M1 = V2 . M2
10 . 0,1
= 18,6 . M2
1
= 18,6 . M2
M2
= 1
= 0,053 M
18,6
Sehingga dapat kita cari rata-rata volume NaOH terpakai dengan cara :

19,8 mL + 21 mL + 18,6 mL = 19,8 mL


3
Rata-rata Molaritas (M) NaOH adalah :
V1 . M1 = V2 . M2
10 . 0,1
= 19,8 . M2
1
= 19,8 . M2
M2
= 1
= 0,050 M
19,8
Percobaan yang kedua ialah standarisasi HCl dengan larutan HCl yang juga dilakukan
dengan tiga kali pengulangan, yang akan dibahas sebagai berikut :
Mula-mula kita cuci gelas ukur yang telah kita pakai untuk mengukur volume asam oksalat
tadi dengan air bersih. Kemudian ukur volume larutan HCl dengan menggunakan gelas ukur 10
mL sebanyak 10 mL dan tuangkan ke Erlenmeyer. Kemudian tetesi larutan HCl dengan indikator
penolphetalein sebanyak 3 tetes menggunakan pipet tetes. Lalu letakkan erlenmeyer tadi dibawah
buret yang berisi larutan NaOH dan tetesi sedikit demi sedikit sambil erlenmeyer digoyanggoyang. Lakukan hingga larutan HCl yang mulanya benih hingga berubah menjadi pink/ungu.
Apabila larutan HCl sudah berubah warna menjadi pink/ungu, maka cepat-cepat tutup kran pada
buret untuk menghindari larutan NaOH menetes kembali, lalu didapatkan volume NaOH terpakai
sebanyak 25,4 mL. Kemudian mengulangi pada percobaan tadi sebanyak dua kali hingga
didapatkan hasil pada ulangan II volume NaOH terpakai sebanyak 27 mL dan pada ulangan III
didapatkan volume NaOH terpakai sebanyak 23,5 mL. Kemudian menghitung rata-rata volume
NaOH terpakai yaitu :
25,4 mL + 27 mL + 23,5 mL = 25,3 mL
3
Langkah selanjutnya ialah menghitung Molaritas (M) larutan HCl dengan rumus :
V1 . M1 = V2 . M2
10 . 0,1
= 25,3 . M2
1
= 25,3 . M2
M2
= 1
= 0,039 M
25,3
Jadi, nilai rata-rata Molaritas (M) larutan HCl ialah 0,039 M

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Perhitungan pH dalam melakukan praktikum dapat ditentukan dengan mencari volume
rata-rata dari larutan NaOH yang digunakan untuk menaikkan kadar atau konsentrasi HCL.
Titrasi harus dihentikan bila larutan HCl yang dicampurkan dengan 3 tetes indikator berubah

warna dari bening hingga menjadi pink. Volume NaOH yang digunakan akan mempengaruhi hasil
konsentrasi dari HCl tersebut, sehingga harus sangat berhati-hati melakukan praktikum ini.
Setelah volume NaOH (basa) diketahui, barulah Konsentrasi HCl (asam) bisa dihitung.
6.2 Saran
Dalam melakukan praktikum, sebaiknya harus berhati-hati dalam menggunakan larutanlarutan yang ada di laboratorium dan dalam melakukan praktikum kali ini kita juga harus
memperhatikan ketelitian dalam mengukur volume larutan basa (NaOH), karena volume larutan
NaOH sangat mempengaruhi hasil konsentrasi HCl.

BAB VII
JAWABAN PERTANYAAN

1.
Bagaimana caranya agar titik akhir titrasi mendekati titik ekivalen
Answer :
Caranya adalah ketika sudah mendekati titik ekivalen usahakan agar penambahan titernya secara
perlahan, apabila perlu setengah tetes, biar tidak melewati titik ekivalen terlalu jauh.
2.
Jelaskan dengan singkat fungsi indikator
Standarisasi Larutan NaOH 0,1 N
Fungsi penambahan indikator penolphtalein untuk mengetahui terjadinya suatu titik ekivalen
dalam proses penitrasian dengan terjadinya perubahan warna pada larutan.Indikator PP dengan
range pH 8,0 9,6 merupakan indikator yang baik untuk larutan basa dimana indikator ini akan
merubah warna larutan dari bening menjadi merah muda akibat dari perubahan pH larutan pada
saat penitrasian.
Standarisasi Larutan HCl 0,1 N
Penambahan indikator metil orange menyebabkan perubahan warna larutan menjadi kuning.
Dalam proses titrasi digunakan indikator metil orange yang jangkauannya pada pH 3,1 sampai pH
4,4 yang akan memberikan warna kuning. Penambahan indikator ini bertujuan untuk menandai
titik ekivalen titrasi yang ditandai dengan perubahan warna larutan dari yang awalnya berwarna
kuning menjadi berwarna orange. Warna ini dikarenakan adanya pengaruh ion H+ dari HCl yang
bereaksi dengan indikator metil oranye dengan reaksi :HInH+ + In.
3. Jelaskan apakah reaksi dapat berlangsung jika tidak ditambah dengan indikator
Indikator adalah senyawa organik yang dapat berubah warna jika pH larutannya berubah. Jadi,
dalam reaksi indikator phenolptalein menjadi bahan yang sangat penting. Jika dalam percobaan
tidak ditambahkan dengan indikator, maka reaksi tidak akan berjalan.
4. Tuliskan dengan lengkap reaksi yang terjadi pada reaksi diatas
Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat
(COOH)
+
2NaOH
>>> Na2C2O4
+
2H2O

Untuk menstandarisasi larutan NaOh maka dalam percobaan ini menggunkan larutan asam
oksalat H2C2O2 sebagai larutan standarnya. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan
dapat diketahui ini merupakan reaksi asidi-alkalimetri asam basa antara asam oksalat dan basa
NaOH. Volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi adalah 10 mL. Asam oksalat sebagai
sebagai titrant yang diketahui berwarna bening dan NaoH sebagai titer yang berwarna bening pula,
sebelum dilakukan titrasi kita masukkan 3 tetes indikator PP yang diketahui berwarna bening
kedalam larutan oksalat agar pada saat titrasi dapat terjadi perubahan warna ketika mencapai titik
ekuivalen yaitu titik dimana jumlah larutan asam oksalat sama denagn jumlah larutan pada NaOH
yang diperlukan untuk bereaksi sempurna. Dalam titrasi ini kita menggunakan indikator PP karena
fenol phenolptalein itu tergolong asam yang sangat lemah dalam keadaan terionisasi lebih banyak
dan dia akan memberikan warna yang terang dan perubahan warnanya lebih mudah untuk diamati.
Standarisai HCl dengan larutan HCl
NaOH
+ HCl >>> NaCl
+
H2O
Jika HCl dicampurkan dengan NaOH, maka ion H+ dari HCl akan bereaksi dengan ion OHdari NaOH membentuk air (H2O). Reaksi ini disebut reaksi penetralan. Sementara, Cl- dari HCl
akan bereaksi dengan ion Na+ dari NaCl membentuk garam NaCl.
HCl (aq)
+
NaOH (aq)
>>> NaCl (aq)
+
H2O (I)
Di dalam larutannya, HCl dan NaOH akan terurai menjadi ion-ionnya, sehingga reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut.
H+ (aq) + Cl- (aq) + Na+ (aq) + OH- (aq) >>> Na+ (aq) + Cl- (aq) + H2O (aq)
Dari reaksi diatas dapat disederhanakan menjadi reaksi ion bersih adalah
H+ (aq)
+
OH-(aq)
>>> H2O (aq)

5. Jelaskan pengertian larutan standar primer dan larutan standar sekunder


Larutan primer adalah larutan standar yang konsentrasinya diperoleh dengan cara
menimbang. Larutan standar sekumder adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh dengan cara
mentitrasi dengan larutan standar primer.
6. Tuliskan sayarat-syarat suatu indikator dapat dipakai dalam suatu titrasi.
Tidak semua reaksi dapat diperguankan sebagai reaksi titrasi. Untuk itu harus dipenuhi
syarat-syarat sebagai berikut ;
1. Reaksi harus berlangsung sempurna, tunggal dan menurut persamaan yang jelas.
2. Reaksi harus cepat dan reversible. Bila tidak cepat, titrasi akan memakan waktu terlalu banyak
apalagi menjelang titik akhir reaksi. Bila reaksi tidak reversible, penentuan akhir titrasi tidak
tegas.
3. Harus ada penunjuk akhir reaksi (indikator).
4. Larutan baku yang dieraksikan denan analit harus mudah dibuat dan sederhana penanganannya
serta harus stabil sehingga konsentrainya tidak mudah berubah.

DAFTAR PUSTAKA

Esdi pangganti. 2011. Titrasi Asam Basa. http://esdikimia.wordpress.com/2011/06/17/titrasi-asambasa/ diakses pada 20 nov 13, pada pukul 19.23
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia: Jakarta
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press: Jakarta
Purba, Michael. 1997. Buku Pelajaran Ilmu Kimia Untuk SMU kelas 2. Erlangga: Jakarta
Rivai, H. 1990. Asas Pemeriksaan Kimia. UI Press: Jakarta
Susanti, S. 1995. Analisis Kimia Farmasi Kualitatif. LEPHAS: Makassar
Arrofath Munawar di 01.19.00
Berbagi

Beranda
Lihat versi web
Mengenai Saya
Foto Saya
Arrofath Munawar
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.