Anda di halaman 1dari 84

MEKANIKA TEKNIK 5

ANALISA PERPINDAHAN PADA


STRUKTUR DENGAN EXCEL DAN
CALCULATOR
Pratikto, ST, MSi

Jurusan Teknik Sipil


Politeknik Negeri Jakarta
NOPEMBER 2010

BUKU AJAR

ANALISA PERPINDAHAN
PADA STRUKTUR DENGAN
EXCEL DAN CALCULATOR
(Untuk Program Studi Teknik Konstruksi Gedung)

PRATIKTO
NIP. 19610725 198903 1 002

JURUSAN TEKNIK SIPIL


Didanai dengan DIPA PNJ Tahun 2010

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA


NOPEMBER, 2010

LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul

: Metode Perpindahan dengan Excel dan Calculator

2. Penulis
a. Nama

: PRATIKTO .ST, MsI.

b. NIP

: 19610725 198903 1 002

c. Jenis kelamin

: Laki-Laki

d. Golongan/pangkat

: IV a

e. Jabatan Fungsional

: Lektor

f. Mata Kuliah yang diampu


Semester gasal

: Mekanika Teknik 5
: Kerja Proyek Perencanaan
Semester genap
: Kontruksi Beton 1
; Lab Uji Bahan
g. Jurusan/Program Studi : Teknik Sipil/Teknik Konstruksi Gedung
h. Alamat rumah

: Jl. Kakap3 , P15 ; RT3/8 ; Mampang Indah I


DEPOK 16433
: pratikto.tito@gmail.com

Alamat email

pratikto@ymail.com
3. Jumlah Anggota

:-

4. Lama kegiatan penulisan

: 5 (Iima) bulan

5. Biaya yang diperlukan

: Rp.3.500.000,- (Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)

6. Sumber dana

: DIPA PNJ 2010


Depok, 14 Juni, 2010

Menyetujui,

Pelaksana

Ketua Program Studi,

A.Rudi Hermawan, ST,MT

PRATIKTO., ST, MSi.

NIP.19660118 199011 1 001

NIP.19610725 198903 1 002


Mengetahui

Ketua Jurusan,

Sidiq Wacono, ST, MT.


NIP. 19640107 198803 1 001

PRAKATA

ALHAMDULILLAH, Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa, karena anugerah-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan diktat ini
yang berjudul
ANALISA PERPINDAHAN PADA STRUKTUR DENGAN EXCEL DAN
CALCULATOR .
Tulisan ini membahas mengenai analisa struktur dengan menggunakan dengan
alat bantu hitung seperti komputer dengan lembar kerja microsoft office excel
ataupun kalkulator. Dasar teori metode perpindahan akan dibahas pada bab 2
yang akan dilanjutkan aplikasinya pada : Struktur rangka batang bab 3 dan Balok
baik statis tertentu ataupun statis tak tentu pada bab 4. Pada bab5 pembaca akan
diajak untuk mengaplikasikan pada portal bentuk sederhana yang terdiri dari
elemen struktur seperti balok dan kolom. Pada tahap ini diberikan tugas untuk
menyelesaikan struktur Portal bertingkat dengan bantuaan lembar kerja excel yang
terdapat pada komputer. Untuk bentuk yang tidak beraturan sepeti portal dengan
kaki miring dibahas pada bab 6. Masalah ini biasanya digunakan untuk
menganalisa struktur tangga 2 dimensi
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalamdalamnya kepada semua pihak yang telah membantu penulisan ini terutama
kepada mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil PNJ, yang telah
membantu kami dalam penyelesaian penelitian ini.
Kami menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna,
maka kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dimasa yang akan
datang.
Akhir kata penulis berharap semoga tulisan kami ini bermanfaat bagi
masyarakat..

penulis

DAFTAR ISI
Halaman Sampul
Prakata
Daftar Isi
PENDAHULUAN
1.1

Gambaran Umum Mata Kuliah

I-1

1.2

Hubungan Mata Kuliah dengan yang lain

I-1

1.3

Tujuan Pembelajaran Umum

I-2

1.4

Petunjuk Buku Ajar

I-2

MODUL 1
DASAR METODE PERPINDAHAN
2.1

Pendahuluan

II-1

2.2.

Tujuan Pembelajaran Khusus

II-3

2.3

Kegiatan Belajar

II-3

2.3.1

Dasar Teori Perpindahan

II-3

2.3.1.1 Pembagian elemen

II-5

2.3.1.2 Beban Ekwivalen

II-5

2.3.1.3 Pembentukan Matrik Kekakuan

II-6

2.3.1.4 Solusi Persamaan Linear

II-7

2.4

Rangkuman

II-7

2.5

Daftar Pustaka

II-8

MODUL 2
RANGKA BATANG
3.1

Pendahuluan

III-1

3.2

Tujuan Pembelajaran Khusus

III-1

3.3

Kegiatan Belajar

III-2

3.3.1 Perpindahan Batang

III-2

3.3.1.1 Matrik Deformasi dan Statis

III-3

3.3.1.2 Beban Ekwivalen

III-4

3.3.1.3 Pembentukan Matrik Kekakuan

III-4

3.3.1.4 Solusi Persamaan Linear

III-5

3.3.2 Latihan

III-5

3.3.3

Tugas

III-6

3.3.4

Evaluasi

III-7

3.4

Rangkuman

III-10

3.5

Daftar Pustaka

III-11

MODUL 3
BALOK
4.1

Pendahuluan

IV-1

4.2.

Tujuan Pembelajaran Khusus

IV-1

4.3

Kegiatan Belajar

IV-1

4.3.1

Deformasi Balok

IV-1

4.3.1.1 Pembagian elemen

IV-3

4.3.1.2 Beban Ekwivalen

IV-3

4.3.1.3 Pembentukan Matrik Kekakuan

IV-5

4.3.1.4Momen Akhir

IV-5

4.3.2

Latihan

IV-6

4.3.3

Tugas

IV-8

4.3.4

Evaluasi

IV-8

4.4

Rangkuman

IV-10

4.5

Daftar Pustaka

IV-11

MODUL 4
PORTAL
5.1

Pendahuluan

V-1

5.2.

Tujuan Pembelajaran Khusus

V-1

5.3

Kegiatan Belajar

V-2

5.3.1

Portal Tak Bergoyang

V-3

5.3.1.1 Pembagian elemen

V-3

5.3.1.2 Beban Ekwivalen

V-4

5.3.1.3 Pembentukan Matrik Kekakuan

V-4

5.3.1.4 Persamaan Linear

V-5

5.3.2 Portal Bergoyang

V-6

5.3.3

5.3.2.1 Pembagian elemen

V-7

5.3.2.2 Beban Ekwivalen

V-7

5.3.2.3 Pembentukan Matrik Kekakuan

V-8

5.3.2.4 Persamaan Linear

V-8

Latihan

V - 10

5.3.4 Tugas

V 13

5.3.5

V - 15

Evaluasi

5.4

Rangkuman

V - 18

5.5

Daftar Pustaka

V - 18

MODUL 5
PORTAL MIRING
6.1

Pendahuluan

VI - 1

6.2.

Tujuan Pembelajaran Khusus

VI - 1

6.3

Kegiatan Belajar

VI - 2

6.3.1

Deformasi Lentur Portal Miring

VI - 3

6.3.1.1 Pembagian elemen

VI - 3

6.3.1.2 Beban Ekwivalen

VI - 4

6.3.1.3 Pembentukan Matrik Kekakuan

VI - 4

6.3.1.4 Solusi Persamaan Linear

VI - 4

6.3.2

Latihan

VI - 5

6.3.3

Tugas

VI - 13

6.3.4

Evaluasi

VI - 13

6.4

Rangkuman

VI - 18

6.5

Daftar Pustaka

VI - 18

LAMPIRAN 1. Istilah
LAMPIRAN 2.Kalkulator CFX 9850 GB
LAMPIRAN 3.GBPP Mekanika Teknik 5
LAMPIRAN 4. Daftar Tabel dan Daftar Gambar

V-1

MODUL 4

BAB V. PORTAL
5.1

Pendahuluan
Portal adalah bagian struktur dengan elemen yang berupa balok dan kolom

baik miring ataupun tegak. Portal yang akan dibahas pada bab ini adalah portal
dengan bentuk beraturan. Semakin banyak jumlah lantai tingkat pada portal , hal
ini akan mengakibatkan semakin besar ukuran matrik pada lembar kerja excel.
Sebagai pengontrol dari ukuran matrik yang besar disarankan melakukan dengan
hati hati perhatikan untuk tidak terdapat sel kosong, ukuran matrik dan sifat
matrik. Bila salah satu sel terdapat angka yang aneh atau salah akan berkibat pada
hasil matrik berikutnya. Berbeda denga rangka batang yaitu yang hanya
mempunyai deformasi aksial , pada portal ini umumnya deformasi aksial
diabaikan dengan catatan bahwa nilainya sangat kecil sekali. Sehingga yang
terjadi pada konstruksi portal adalah deformasi anguler-sudut dan pergoyangan
horizontal. Kolom portal merupakan bagian yang utama didalam menganalisa
gaya horizontal. Untuk analisa portal dengan kolom yang miring akan dibahas
pada bab berikutnya. Perilaku untuk balok portal ini sama dengan balok yang
yang sudah dibahas pada bab sebelumnya. Bila posisi sumbu balok searah dengan
gravitasi maka dinamakan kolom sehingga perilakunya sama dengan balok
disertai pergoyangan pada arah tegak lurus sumbu balok.
.
5.2

Tujuan Pembelajaran Khusus

Tujuan pada bab ini adalah menganalisa portal sampai mendapatkan besarnya
gaya dalam baik momen , lintang ataupun normal. Menganalisa pergoyangan
portal dengan mencari deformasi putaran sudut pada kolom akibat pergoyangan.
Mengatur dan mengoperasikan analisa perhitungan matrik dengan ukuran ataupun
sejumlah data yang besar. Mengontrol hasil perhitungan portal berdasarkan
Kesetimbangan dan Kekakuan. Untuk masalah Kekuatan dipersilahkan meninjau
pada bab kekuatan bahan elemen.

V-2

5.3

Kegiatan Belajar
Perilaku untuk portal bertingkat sangat berbeda dengan struktur Rangka

Batang. Pada portal terdiri dari balok dan kolom sehingga deformasi untuk portal
ini terdiri dari balok dan kolom. Untuk balok sudah dibahas pada bab II yang
akan direview pada bab ini disertai dengan pembahasan deformasi untuk kolom.
Untuk balok :
d1 H1
d2-H2

H3 d3
d4 -H4

d1 = 1 unit

H1=4EI/L ; H2=2EI/L

d1

d2 2EI/L

4EI/L
d2 = 1 unit

H1=2EI/L ; H2= 4EI/L

d1

d2

4EI/L

2EI/L
Gambar 5.1 kekakuan elemen balok
Untuk Kolom merupakan kombinasi balok dan perpindahan horizontal atau
pergoyangan. Akibat pergeseran = 1 unit akan mengakibatkan deformasi putaran
sudut d1 sebesar /L ( kenapa?) d2 =d1. Untuk balok tidak ada perubahan akibat
axial deformasi

d2

d4

L
d1

d3

Gambar 5.2 Pergoyangan Portal

Putaran sudut :
d1= d2 = /L
d3= d4 = /L

V-3

5.3.1

Portal Tak Bergoyang

Apakah yang dimaksud dengan struktur yang simetris? Struktur dikatakan


simetris bila seolah olah terdapat satu sumbu putar baik dari geometris struktur
ataupun beban yang bekerja. Pada portal yang simetris tidak akan terjadi
pergoyangan gambar 5.3 portal simetris.
Q=300 kg/m
B
600kg

2EI

given structure.
2m

EI

EI

Draw the internal forces.

600kg
3m

D
5m
Gambar 5.3 portal simetris.

5.3.1.1 Pembagian elemen


Q1- D1

Q2-D2

2 kinematis

3 elemen

a) Diagram Q-D
H3-d3
H2

d2

b) 3 elemen

H4- d4
H5 d5

d1-H1

H6-d6

c) Diagram Hd
Gambar 5.4 pembagian elemen.

V-4

5.3.1.2 Beban Ekwivalen


1/12 q l2 = 1/12 300 52 = 625
P ab2 / L2 = 600 3 22 / 52 = 288
Q2

Q1
625

625

432

-193

+193

432

288

288

Gambar 5.5 Beban ekwivalen

193
{Q} = 193

5.3.1.3 Pembentukan Matrik Kekakuan


Matrik Deformasi A dan Matrik Kekokohan S
D1

d3

D2

d4

d2

d5

Gambar 5.6 Matrik Deformasi

0
1

1
[A] =
0
0

0
0
0

1
1

4 / 5
2 / 5

0
[S ] =
0
0

8/5 4/5 0
0

4/5 8/5 0
0
0
0
4 / 5 2 / 5

0
0
2 / 5 4 / 5

2/5 0
4/5 0
0
0
0
0

0
0

0
0

0
0

V-5

5.3.1.4 Persamaan Linear

2EI 6 2
[K] = [A]t [S][A] =

5 2 6

6 2
5
[K]-1 =

2 EI (36 4) 2 6
193 D1 965 / 8EI
{D} = [K]-1 {Q} = [K]-1 193 = D2 = 965 / 8EI

{H} = [S][A]{D} =

H 1 48.25
H 2 96.5

H 3 96.5
=

H 4 96.5
H 5 96.5

H 6 48.25

H 1 288. 239.75
H 2 432 528.5



H 3 625 528.5
{M}={H} {FEM} =

=
H 4 625 528.5
H 5 432 528.5


H 6 288 239.75
Perhatikan tanda pada matrik {M} bukan tanda untuk bidang momen
528.5

528.5

239.75

239.75
Free Body(exercise)
Gambar 5.7 Hasil gaya dalam moment

V-6

528.5

720
239.75

Bidang Momen

Bidang Lintang
(exercise)

Gambar 5.8 Bidang MDN

5.3.2 Portal Bergoyang


Pada umumnya struktur yang simetris banyak dijumpai pada peninjauan
akibat beban gravitasi dan tidak demikian untuk beban arah mendatar. Dengan ber
asumsi bahwa tidak terjadi perubahan panjang pada balok maka yang
mengandung perpindahan sudut atau putaran sudut hanya pada elemen kolom.
Mengenai besarnya sudut yang kecil ini secara matematis dapat dianggap sama
dengan besarnya tangen sudut tersebut.

P=1000 kg
B

600kg

2EI

EI

400kg

given structure.
Draw the internal forces.

EI 4m
A

D
4m
Gambar 5.9 illustrasi portal bergoyang

V-7

5.3.2.1

Pembagian elemen

Q2-D2

Q3-D3

Q1- D1

3 kinematis

3 elemen

a) Diagram Q-D
H3-d3
H2

b) 3 elemen

H4- d4
H5 d5

d2

d1-H1

H6-d6

c) Diagram Hd
Gambar 5.10 pembagian elemen.

5.3.2.2 Beban Ekwivalen


D1

Q2=-500
D2

D3

Restrained
Structured

D2
d2

d3

500

500

Q1=1000

Fixed End
Forces

d4

Q3=+500

Equivalent
Forces

D3

D1=1

d5

d2

d1

d1
Gambar 5.11 Beban Ekwivalen

D1=1
d5
d6

V-8

5.3.2.3 Pembentukan Matrik Kekakuan


1 / 4
1 / 4

0
[A] =
0
1 / 4

1 / 4

0
0
0

1
0 1

0 0

0
1
1
0

4 / 4 2 / 4

2 / 4 4 / 4

8/ 4 4/ 4
[S ] =
EI
4/ 4 8/ 4

4 / 4 2 / 4

2 / 4 4 / 4

H3-d3
d2

H2

H4- d4
H5 d5

d1-H1

H6-d6

Gambar 5.12 H-d Diagram

3 / 4 3 / 4 3 / 4

2 EI / 2
[K] = [A] [S][A] = 3 / 4 6
3 / 4 2
6
t

5.3.2.4 Solusi Persamaan Linear


{D} = [K]-1 {Q} =

512 48 48
48 63 15 1

156EI
48 15 63

1000 3282.05

500 = 557.691 / EI
500 57.69

V-9

{H} = [S][A]{D} =

H 1 951.92
H 2 673.07

H 3 1173.07
=

H 4 673.07
H 5 1173.07

H 6 1201.92

H 1 0. 951.92
H 2 0 673.07



H 3 500 673.07
{M}={H} {FEM} =

=
H 4 + 500 1173.07
H 5 0 1173.07



H 6 0 1201.92

673.07

1173.07
406.25

1000

593.75

500

500

406.25

406.25
951.92

593.75

593.75

593.75 593.75

461.54

1201.92
93.75
38.46

1093.75

406.25

593.75961.54

Free Body
1173.07
673.07
1/4PL=

1000

951.92

1201.92

Bidang Momen

Bidang Lintang n Normal


(exercise)

Gambar 5.13 Diagram Gaya Dalam

V - 10

5.3.3

Latihan
GAMBAR kan DIAGRAM GAYA
DALAM

40 kN

3EI

C
7,5 m
1.2EI

2EI
D
2,5 m
A
10 m

Q3- D3

Q2- D2

H3-d3`

H4- d4
H5 d5

Q1- D1

H2 d2

Q5- D5

H6-d6
H1 d1
Q4- D4

Diagram H-d

Diagram Q-D

Gambar 5.14 Portal Beban Horizontal

V - 11

1. Hitung jumlah dari


Elemen =
KINEMATIS =
Ukuran {Q}, =
[A] , =
[S] =
Solusi Pers. Linear [D] dan Gaya Dalam [H]
Gambar Gaya Dalam
2. Perhitungan
Q =

A=
6*5

S=
6x6

K = At SA =

V - 12

3. Solusi
D =

4. Gaya Dalam Portal


{H}
= SA D - M Primer
H =

-163,72

-177,21
40

163,72
177,21

0,00

0,00

5. Gambar Gaya Dalam


-177,21

163,72

Gaya Dalam Momen

V - 13

5.3.4 Tugas
GAMBAR kan DIAGRAM GAYA DALAM
Fc' =
Fy =
kolom
tinggi
balok
bentang

25
400
400
4000
400
6000

Mpa
Mpa
400
mm
600
7000

Qdl
Qll

6000

16
10

Qdl 13,2
Qll 10

Qdl 16
Qll 10

16
10

Qdl 13,2
Qll 8

Qdl 16
Qll 10

40/60
4 40/40
Qdl
Qll
40/60
4 40/40

_portal.xls/sheet1
Persiapkan Data perhitungan , Beban , dimensi , mutu bahan dsbnya.
Fc (Mpa)

Fy (Mpa)

Beban Q (DL) ; Q(LL) ; Q(EQ)


Dari dimensi untuk Inersia ( EI )

1. Hitung jumlah dari


Elemen =
;
KINEMATIS =
Ukuran {Q}, =
[A] , =
[S] =
Solusi Pers. Linear [D] dan Gaya Dalam [H]
Gambar Gaya Dalam

V - 14

2. Perhitungan
Q =
14x1

A=
28x14

S=
28 x 28

K = At SA =
14x14

3. Solusi
D =
14x1

Gaya Dalam Portal


{H}
= SA D - M Primer
Gambar Gaya Dalam

V - 15

5.3.5 Evaluasi

Q1-D1

Q2-D2

Q3-D3

Q4-D4

Q5-D5

Q6-D6

Q7-D7

Q8-D8

Q13-D13

H1
13
14

Q14-D14
Q9-D9

Q10-D10

H7

Q11-D11 Q12-D12

DL

Q beban kerja
LL
HL

DEFORMASI
DL
LL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
75
50

H8

21
22

( D)
HL

DL

8,138
0,301
-0,301
-8,138
6,263
0,723
-0,723
-6,263
-3,131
-0,362
0,362
3,131
0,000
0,000

H = SA * D
LL
HL

F E M ( M Primer )
DL
LL
HL

DL

22
23

2E-15
0,542562

0
0

0,000
0,543

24
25

1,33E-15
-0,54256

0
0

0,000
-0,543

26
27

-1E-15
-4,69708

0
0

0,000
-4,697

28

2,22E-16

0,000

2
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

H6

27
28

M AKHIR
LL
HL
-11,269
39,876
-40,538
40,538
-39,876
11,269
-15,029
38,712
-40,128
40,128
-38,712
15,029
11,269
10,332
0,663
0,874
-0,663
-0,874
-11,269
-10,332
4,697

1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

H9

17
19
18
20
H10 H11 H12
25
26

H5

DIAGRAM H - d

30
-30
40,83
-40,83
30
-30
30
-30
40,83
-40,83
30
-30
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

H4

23
24

18,731
9,875524
0,291871
-0,29187
-9,87552
-18,731
14,97134
8,711859
0,701714
-0,70171
-8,71186
-14,9713
11,269
10,33158
0,662606
0,873865
-0,66261
-0,87387
-11,269
-10,3316
4,697083

30
10,83
-10,83
-30
30
10,83
-10,83
-30
0
0
0
0
0
0

H3
15
16

DIAGRAM Q - D

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

H2

3
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

4
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0

5
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

6
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0

7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0

8
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0

9
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0

10
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0

0,000

11
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0

12
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

13
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
0
0
0
0
0
0
0
0

14
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25
-0,25

V - 16

Matrik S

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

1
2,26
1,13
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

2
1,13
2,26
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

3
0
0
1,94
0,97
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

4
0
0
0,97
1,94
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

1
3,26
1,13
0
0
0,5
0
0
0
0
0
0
0
-0,375
0,375

5
0
0
0
0
2,26
1,13
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

6
0
0
0
0
1,13
2,26
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

7
0
0
0
0
0
0
2,26
1,13
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

8
0
0
0
0
0
0
1,13
2,26
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

9
0
0
0
0
0
0
0
0
1,94
0,97
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

10
0
0
0
0
0
0
0
0
0,97
1,94
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

11
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2,26
1,13
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

12
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1,13
2,26
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

13
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

14
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,5
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

15
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

16
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,5
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

17
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

18
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,5
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

19
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5
0
0
0
0
0
0
0
0

20
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,5
1
0
0
0
0
0
0
0
0

21
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5
0
0
0
0
0
0

22
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,5
1
0
0
0
0
0
0

23
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5
0
0
0
0

24
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,5
1
0
0
0
0

25
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5
0
0

26
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,5
1
0
0

27
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0,5

28
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,5
1

Matrik K

K=

2
1,13
5,2
0,97
0
0
0,5
0
0
0
0
0
0
-0,375
0,375

3
0
0,97
5,2
1,13
0
0
0,5
0
0
0
0
0
-0,375
0,375

Gaya Dalam Portal


{H}
= SA D - M Primer
Lihat tabel diatas
Gambar Gaya Dalam MDN

4
0
0
1,13
3,26
0
0
0
0,5
0
0
0
0
-0,375
0,375

5
0,5
0
0
0
4,26
1,13
0
0
0,5
0
0
0
-0,375
0

6
0
0,5
0
0
1,13
6,2
0,97
0
0
0,5
0
0
-0,375
0

7
0
0
0,5
0
0
0,97
6,2
1,13
0
0
0,5
0
-0,375
0

8
0
0
0
0,5
0
0
1,13
4,26
0
0
0
0,5
-0,375
0

9
0
0
0
0
0,5
0
0
0
1
0
0
0
0
-0,375

10
0
0
0
0
0
0,5
0
0
0
1
0
0
0
-0,375

11
0
0
0
0
0
0
0,5
0
0
0
1
0
0
-0,375

12
0
0
0
0
0
0
0
0,5
0
0
0
1
0
-0,375

13
-0,375
-0,375
-0,375
-0,375
-0,375
-0,375
-0,375
-0,375
0
0
0
0
0,75
-0,75

14
0,375
0,375
0,375
0,375
0
0
0
0
-0,375
-0,375
-0,375
-0,375
-0,75
1,5

V - 17

Bidang Momen

Bidang Lintang

Bidang Normal

V - 18

5.4

Rangkuman

Secara garis besarnya , langkah2 metode ini adalah :


1. Memilih elemen-elemen dan menentukan kinematis struktur D
Untuk pergoyangan portal mempunyai kinematis tersendiri.
2. Buat Diagram Q-D dan H-d dan tentukan arah positip
Gunakan penomoran yang mudah untuk di kontrol
3. Tentukan matrik A , S dan Q
4. Perhitungan matrik [K] , [K]-1 dan {D}
5. Matrik gaya dalam [H} = [SA] {D}.
6. Gaya Dalam = {H} - M Primer
7. Gambar gaya dalam M, D, N. Ingat tanda positip yang dipakai

5.5

Daftar Pustaka
1. Supartono F.X,

dan

Boen T ; Analisa Struktur dengan Metode

Matrix, Fakultas Teknik universitas Indonesia, UI Press, 1984


2. Wang , C.K : Matrix methods of Structural Analysisa Scrantons
International Text Book Co., 1986

VI - 1

MODUL 5

BAB VI. PORTAL MIRING


6.1

Pendahuluan
Portal adalah bagian struktur dengan elemen yang berupa balok dan kolom

baik miring ataupun tegak. Semakin banyak jumlah kinematis pada portal , hal ini
akan mengakibatkan semakin besar ukuran matrik pada lembar kerja excel.
Sebagai pengontrol dari ukuran matrik yang besar disarankan melakukan dengan
hati hati perhatikan untuk tidak terdapat sel kosong, ukuran matrik dan sifat
matrik. Bila salah satu sel terdapat angka yang aneh atau salah akan berkibat pada
hasil matrik berikutnya. Pada rangka batang yaitu yang hanya mempunyai
deformasi aksial dan portal biasa dengan deformasi lentur dimana deformasi
aksial diabaikan dengan catatan bahwa nilainya sangat kecil sekali. Pada Portal
miring akibat pergoyangan , geometris elemen mengakibatkan komponen
horizontal harus diperhatikan sehubungan dengan panjang elemen yang tidak
berubah. Sehingga yang terjadi pada konstruksi portal adalah deformasi angulersudut dan pergoyangan horizontal dan untuk portal miring pergoyangan translasi
yang terjadi diurai menjadi komponen yang horizontal dan vertikal.
Beberapa contoh aplikasi portal miring pada bangunan teknik sipil adalah :
rangka atap , tangga dansebagainya. Untuk rangka atap bangunan yang
menggunakan bentang panjang dengan profil baja umumnya disebut sebagai
Gable-frame . Pengaruh dari elemen struktur yang miring , baik kolom atao balok
akan mengakibatkan translasi yang mempunyai dua komponen yaitu : vertikal
dan mendatar.
.
6.2

Tujuan Pembelajaran Khusus

Tujuan pada bab ini adalah menganalisa portal miring sampai mendapatkan
besarnya gaya dalam baik momen , lintang ataupun normal dari portal miring.
Menganalisa pergoyangan portal miring dengan mencari deformasi putaran sudut
pada kolom akibat pergoyangan yang mempunyai dua komponen vertikal dan

VI - 2

horizontal . Mengatur dan mengoperasikan analisa perhitungan matrik dengan


ukuran ataupun sejumlah data yang besar. Mengontrol hasil perhitungan portal
miring berdasarkan Kesetimbangan dan Kekakuan.
6.3

Kegiatan Belajar
Perilaku untuk portal bertingkat sangat berbeda dengan struktur Rangka

Batang. Pada portal terdiri dari balok dan kolom sehingga deformasi untuk portal
ini terdiri dari balok dan kolom. Perbedaan dari portal miring dengan portal biasa
adalah komponen yang mendatar dan vertikal dari pergoyangan atau translasi
portal. Untuk balok sudah dibahas pada bab II yang akan direview pada bab ini
disertai dengan pembahasan deformasi untuk kolom.
Untuk balok :
d1 H1
d2-H2

H3 d3
d4 -H4

d1 = 1 unit
d1

H1=4EI/L ; H2=2EI/L
d2 2EI/L

4EI/L
d2 = 1 unit
d1

H1=2EI/L ; H2= 4EI/L


d2

4EI/L

2EI/L
gambar 6.1 kekakuan elemen balok
Untuk Kolom merupakan kombinasi balok dan perpindahan horizontal atau
pergoyangan. Akibat pergeseran = 1 unit akan mengakibatkan deformasi putaran
sudut d1 sebesar /L ( kenapa?) d2 =d1. Untuk balok tidak ada perubahan akibat
axial deformasi tetapi translasi arah vertikal. Bedakan antara deformasi axial (

VI - 3

perubahan) dengan translasi ( pergeseran) . Besarnya sudut adalah /L dengan


catatan bahwa adalah komponen yang tegak lurus dengan sumbu elemen ,balok.

d2

Putaran sudut :
d1= d2 = /L
d3= d4 = /L

d4

L
d1

d3

gambar 6.2 Pergoyangan Portal


6.3.1. Deformasi Lentur Portal Miring
perhatikan
1. Translasi
2. Tidak ada axial deformasi

gambar 6.3 Pergoyangan Portal Miring


6.3.1.1 Pembagian elemen
Q1- D1

Q2-D2

3 kinematis

3 elemen

a) Diagram Q-D
H3-d3
H2

d2

b) 3 elemen

H4- d4
H5 d5

d1-H1

H6-d6

c) Diagram Hd
Gambar 6.4 pembagian elemen.

VI - 4

6.3.1.2 Beban Ekwivalen


P ab2 / L2 = 1/8 PL = 500
Q2

Q1

600

600

Gambar 6.5 Beban ekwivalen


6.3.1.3 Pembentukan Matrik Kekakuan
Matrik Deformasi A dan Matrik Kekokohan S
D1

d3

d4

d2

D2

D3

d5

Gambar 6.6 Matrik Deformasi


Perhatikan untuk balok ataupun kolom miring tidak mengalami
perubahan panjang hanya pergeseran. Garis tegak lurus tidak merubah
panjang elemen.
6.3.1.4 Persamaan Linear
[K] = [A]t [S][A] =
{D} = [K]-1 {Q} =
{H} = [S][A]{D} =
{M}={H} {FEM} =

VI - 5

6.3.2

LATIHAN
(1) Portal dengan Kaki Miring

P=1000 kg
C

400kg

600kg

D
2EI

given structure.

400kg

EI

3m

Draw the internal forces.

EI

B 1m
A
1m

4m

4m

Gambar 6.7 soal latih

Q3- D3
Q2-D2

Q1- D1

3 kinematis

3 elemen

b) Diagram Q-D

b) 3 elemen

Gambar 6.8 Elemen dan Diagram Kinematis


H3-d3

H1-d1

H4- d4

H2 d2

Gambar 6.9

H5 d5
H6-d6

Diagram H-d

Asumsi arah positip

VI - 6

-100
400

500

500

333.33

500

500

500
666.66
500

833.33

600+400-666.66=333.33

Gambar 6.10 matrik gaya Q

4/4 2/4

2/4 4/4

8/4 4/4
[s] =
EI;
4/4 8/4

4/5 2/5

2/5 4/5

333.34
{Q} = 100
500

D1
D2

d3

d4

d2

D3
d5

D1=1
d2

d5
d6

d1

d1
3
4

5/3

4/3

D1
Gambar 6.11 pembentukan matrik A

VI - 7

1/ 4
1/ 4

4/3?
[A] = 44/3
4 ?
5/3
?
5
?
5/3
5

0 0
1 0
1 0

0 1
0 1

0 0

x x x
x x EI / 2
[K] = [A] [S][A] =

x
t

1,077 ,625 ,6
3
1 EI
[K] =

2,8

{D} = [K ]

427.83
{Q} = 38.21 1 ;
284.152 EI

H1 140.97
H2 121.5


H3 221.5
{H}=[S][A]{D}= =

H4 101.56
H5 398.45


H6 284.79

H1 0. 140.973
H 2 0 121.5



H 3 500 278.48
{M}={H} {FEM} =

=
H 4 + 500 398.44
H 5 0 398.44



H 6 0 284.79
Perhatikan tanda positif dan negatif

VI - 8

400

398.44

278.5

121.53

284.79
140.97
400 kg
600

1000 kg
600

400

470

534.38

534.38

530

400
934.38

470

530

65.62

934.38
530
65.62
870
Gambar 6.12 FREE BODY Portal Miring

VI - 9

(2) Gable frame

10m
80
B

2 x 15m

15m
A

Q5-D5

Q2-D2
Q1-D1
Q4-D4

Q3-D3

DIAGRAM Q-D KINEMATIS

H4-d4

H5-d5
H6-d6

H3-d3
H7-d7
H2-d2
DIAGRAM H-d
H8-d8
H1-d1

VI - 10

Menentukan matrik Q
BCD MD = 0
VB =
80*( 15+7.5)/30 = 60
VC =
80-60 = 20

80
20
30
60

30

BC MC = 0
HB =
( 80*7.5 - 60*15 ) / 10
HB =
30

20

80
-30
-30
60

Perhitungan gaya Q
30

Menentukan matrik A
2
1

2
1
2

VI - 11

Q=

S=

A=
d1
d2
d3
d4
d5
d6
d7
d8

150
-150
0
-30
30

D1

D2
0
1
1
0
0
0
0
0

D3
0
0
0
1
1
0
0
0

0
0
0
0
0
1
1
0

D4
-0,0667
-0,0667
0,0500
0,0500
-0,0500
-0,0500
0,00
0,00

D5
0
0
-0,0500
-0,0500
0,0500
0,0500
-0,0667
-0,0667

0,2667
0,1333
0,00

0,1333
0,2667
0,00

0,00
0,00
0,4444

0,00
0,00
0,2222

0,00
0,00
0,00

0,00
0,00
0,00

0,00
0,00
0,00

0,00
0,00
0,00

0,00

0,00

0,2222

0,4444

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,4444
0,2222

0,2222
0,4444

0,00
0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,00
0,00

0,2667
0,1333

0,1333
0,2667

K=

0,7111
0,2222
0,0000
0,0067
-0,0333

Kinv

D1
D2
D3
D4
D5

0,2222
0,8889
0,2222
0,0000
0,0000

0,0000
0,2222
0,7111
-0,0333
0,0067

0,0067
0,0000
-0,0333
0,0102
-0,0067

-0,0333
0,0000
0,0067
-0,0067
0,0102

2,06
-0,63
0,44
7,45

-0,63
1,44
-0,63
-4,69

0,44
-0,63
2,06
11,30

7,45
-4,69
11,30
245,09

11,30
-4,69
7,45
176,78

11,30

-4,69

7,45

176,78

245,09

5,182E+02
-3,094E+02
4,430E+01
-2,281E+02
4,447E+03

H1
H2
H3
H4
H5
H6
H7
H8

SA*D
75,18
144,27
5,73
-178,18
28,18
106,77
-106,77
-112,68

FEM
0
0
-150
150
0
0
0
0

M akhir
75,18
144,27
-144,27
-28,18
28,18
106,77
-106,77
-112,68

VI - 12

80,00

80

40,00
9,00
9,75
18,75

-28,18

61,25

-144,27
144,27

11,50
40,00
9,75

75,18

-106,77

-112,68
-14,63

61,25
14,63
FREE BODY

-28,18
Gambar Gaya Dalam :

Momen :
-144,27

180
-106,77
-144,27
-106,77

-75,18

Lintang :

-112,68

VI - 13

6.3.3

Tugas

0
C
10
0

2
D

B
10
15

1
E

A
15

6.3.4

15

Evaluasi

10
10
187,5

-187,5

187,5

-187,5

187,5

-112,5

{ Q }1
0
187, 5
0
-187, 5
0
-112, 5
112, 5

Beban (1)

112,5

-112,5
150

15

15

112,5
150

-112,5

-187,5

112,5

{ Q }2
0, 00
-197, 92
-83, 33
0
0
150
25, 00

Beban (2)

VI - 14

10Hc+15Vc-q*(10/2)=0
10Hc-15Vc = 0
Hc = q*(10/2)/20
-83,33

-25

25

100
83,33

-75
-75

-150

-25,00
150

25,00

-281,25
150

-75

75

100
10
-25
-16,67

K in

15

15

MENCARI MATRIK GAYA LUAR


{ Q } 7x1

16,67

-0,0667

0
0
0
0
0
0
0

1
1
0
0
0
0
0

0
0
1
1
0
0
0

0
0
0
0
1
1
0

0
0
0
0
0
0
1

-0,0667
0,0500
0,0500
-0,0500
-0,0500
0,00
0,00

0
-0,0500
-0,0500
0,0500
0,0500
-0,1000
-0,1000

0,2667
0,1333
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

0,1333
0,2667
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

0,00
0,00
0,4444
0,2222
0,00
0,00
0,00
0,00

0,00
0,00
0,2222
0,4444
0,00
0,00
0,00
0,00

0,00
0,00
0,00
0,00
0,4444
0,2222
0,00
0,00

0,00
0,00
0,00
0,00
0,2222
0,4444
0,00
0,00

0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,4000
0,2000

0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,2000
0,4000

0,267
0,133
0,000
0,000
0,000
0,027
0,000

0,133
0,711
0,222
0,000
0,000
0,007
0,033

0,000
0,222
0,889
0,222
0,000
0,000
0,000

0,000
0,000
0,222
0,844
0,200
0,033
0,027

0,000
0,000
0,000
0,200
0,400
0,000
0,060

0,027
0,007
0,000
0,033
0,000
0,010
0,007

0,000
0,033
0,000
0,027
0,060
0,007
0,019

10,242
0,396
0,605
2,815
4,753
62,942
41,071

0,396
2,197
0,664
0,458
1,610
7,020
12,258

0,605
0,664
1,498
0,829
0,855
9,364
8,460

2,815
0,458
0,829
2,857
1,809
30,437
21,583

4,753
1,610
0,855
1,809
10,412
55,582
58,778

62,942
7,020
9,364
30,437
55,582
664,523
472,002

41,071
12,258
8,460
21,583
58,778
472,002
463,795

VI - 15

Q3 - D3

Q4 - D4
Q7-D7

Q6-D6

Q2 - D2

Q1 - D1

Q5 - D5
KINEMATIS ( 7 )
2
1

2
1
2

D(Q1)
H=SAxD Mprimer
-3062,65
0,00
915,45
530,41
132,60
-342,91
-1445,87
-516,88
322,18
516,88
-26049,19
166,11
-2671,71
-353,61
0,00

M akh
0
0
187,50
-187,50
187,50
-187,50
0
0

0,00
530,41
-530,41
-329,38
329,38
353,61
-353,61
0,00

VI - 16

-329,38
329,38

-530,41
530,41

353,61
-353,61

-35,36088475
15

15

35,360885

57,32
23,57
75,00
155,89

45,53
23,57
75,00
144,11

35,36088475
300

-35,36088475
35,36

Beban (2)

D(Q2)
10596,97
979,95
-1609,63
5083,56

0,00
-1282,27
1084,35
508,89

0
-281,25
83,33
-83,33

0,00
-1001,02
1001,02
592,22

9559,33
110869,47
80674,11

-592,22
895,15
-895,15

0
0
0

-592,22
895,15
-895,15

VI - 17

592,22

-592,22

100
10
1001,02
-1001,02

895,15
-895,15

10,48
66,73
-75
18,75
15

250
15
150

10
15

-160,48

-89,52

-250,00
OK ?
59,68
20,20
79,87

-281,25
79,87
-106,22
33,33
-6,99
-79,87

-18,75
dari M Primer

-159,32

89,52

-89,52
-30,29

100
-10,48

30,29 -59,22

89,52

-10,48 159,32

-75

10,48

148,84

150
-89,52
-75
-160,48
30,72
57,83
-27,11

-40,67

352,46 -352,46
515,02
-515,02

10
406,65
-406,65
10

150
15

-150,00

-40,67

-109,33
15
30,72

15
-30,72

-30,72
-3,61
-27,11

-40,67

VI - 18

6.4

Rangkuman
Secara garis besarnya , langkah2 metode ini adalah :
1. Memilih elemen-elemen dan menentukan kinematis struktur D
2. Buat Diagram Q-D dan H-d dan tentukan arah positip
3. Tentukan matrik A , S dan Q
Ingat bahwa deformasi arah aksial tidak ada.
Gaya Q adalah Gaya Aksi bukan Reaksi
4. Perhitungan matrik [K] , [K]-1 dan {D}
5. Matrik gaya dalam [H} = [SA] {D}.
6. Gaya Dalam = {H} - M Primer
7. Gambar gaya dalam M, D, N. Ingat perjanjian tanda yang dipakai

6.5

Daftar Pustaka
1. Supartono F.X,

dan

Boen T ; Analisa Struktur dengan Metode

Matrix, Fakultas Teknik universitas Indonesia, UI Press, 1984


2. Wang , C.K : Matrix methods of Structural Analysisa Scrantons
International Text Book Co., 1986

LI-1

LAMPIRAN I.
BEBERAPA ISTILAH
I. 1. Deformasi
Bila suatu struktur diberi beban, maka struktur tersebut (batang) akan mengalami
deformasi yaitu perubahan bentuk yang kecil, sehingga setiap titik2 pada struktur
akan berpindah ke posisi yang baru perpindahan akan terjadi pada umunya untuk
struktur kecuali pada tumpuan yang tidak dapat bergerak. Perpindahan merupakan
hal penting dalam analisa struktur.
Sebagai
potongan

contoh

diambil

suatu

dari

batang

elemen

stryktur rangka berbentuk lingkaran


panjangnya dx
Gaya2 yang bekerja adalah
NX = gaya axsial
Vy & Vz = gaya geser
My & Mz = momen lentur
T adalah forsi
Deformasi

yang

terjadi

pada

penampung dx adalah deformasi


axial, geser lentur dan torsi seperti
diperlihatkan pada gambar (2).
Gambar L.1

Adapun

material

bahan

yang

digunakan mengikuti Hukum Hooke


yang elastis linier.
Perpindahan (displacement) suatu struktur ditimbulkan oleh gabungan
pengaruh deformasi seluruh elemen. Dalam menentukan perpindahan suatu struktur

LI-2

tidak semua jenis deformasi berpengaruh besar dan mungkin bias diabaikan.Pada
balok deformasi lentur biasanya merupakan satu-satunyayang terpentuing dai pada
deformasi axial yang biasanya diabaikan.
Untuk jenis struktur rangka batang, maka titik kumpul rangka dianggap
sebagai sendi dan semua beban bekerja pada titik kumpul, sehingga analisanya hanya
melibatkan deformasi axial batang. Jika terdapat beban di antara titik kumpul, maka
beban ini dipindahkan pada titik kumpul seperti analisa balok ber tumpuan
sederhana.
Pada portal bidang deformasi yangb berpengaruh adalah akibat lenturan dan
gaya axial. Pada balok silang deformasi lentur selalu penting dan deformasi punter
kadang kala turut diperhitungkan. Tergantung pada penampung yang digunakan, jika
penampung tersebut adalah berdendeng tipis seperti balok I, maka batang akan
sangat fleksibel terhadap punter dan tidak mengalami gaya punter yang besar.
Portal ruang merupakan jenis struktur rangka yang paling umum dlm
geometrid an pembebanannya. Oleh karena itu deformasi axial, lentur dan punter
mungkin seluruhnya perlu diperhitungkan tergantung jenis struktur dan bebannya.
Untuk deformasi geser pada struktur rangka biasanya sangat kecil, sehingga jarang
ditinjau dalam analisa.
I. 2. Aksi dan Perpindahan
Untuk menerangkan konsep dasar pada analisa struktur ada istilah yang akan
digunakan seperti AKSI dan PERPINDAHAN. AKSI atau gaya dapat berupa gaya
atau momen kopel ataupun gabungan keduanya. Selain Aksi luar pada struktur Aksi
dalam juga perlu ditinjau sebagai contoh adalah resultan distribusi tegangan akibat
momen lentur, gaya geser, gaya axial ataupun momen puntir.
Konsep dasar yang lain adalah perpindahan yang umunya berupa translasi atau rotasi
di titik struktur. Transaksi menun jukkan adanya pergerakan, sedangkan rotasi
menyatakan sudut perputaran antara garis singgung kurva elastis dengan posisi
semula.

LI-3

Dalam analisa struktur kita sering dijumpai aksi dan perpindahan yang paling sesuai
dengan momen kopel ialah rotasi putaran sudut.
Contoh:
L/2

L/2

Notasi A dipakai untuk aksi gaya dan D

A1
A

untuk perpindahan.
B

D11

D31 Pada gambar L2 terdapat aksi A1, A2 dan


D21

A2

A3
Perpindahan yang terjadi :
A1 D1 (translasi) D11 D21 D31

B D32
D12

D22

A2 D2 (translasi) D12 D22 D32


A3 D3 (rotasi)

D13 D23 D33

Perhatikan subscript yang dipakai


A

B
D13

D33
D23

Perpindahan balok atas seluruh beban


D1 = D11 + D12 + D13

gambar L.2

D2 = D 21 + D22 + D23
D3 = D 31 + D32 + D33
Penjumlahan ini adalah prinsip superposisi
yang dibahas lebih lanjut.

I. 3. Keseimbanan dan Kesesuaian


Tujuan analisa struktur di antaranya adalah menentukan berbagai aksi pada struktur
seperti reaksi tumpuan dari resultan tegangan, momen lentur, geser dan sebagainya.
Penyelesaian ini harus memenuhi syarat keseimbangan statis begitu juga pada bagian
struktur yang dianalisa sebagai benda bebas free body.

LI-4

Enam buah persamaan yang terdapat pada keseimbangan statis dalamnya dimensi
adalah:
Fx = 0

Fy = 0

Fz = 0 vektor gaya

Mx = 0 My = 0 Mz = 0 momen terhadap sumbu x, y, z


Persamaan ini dapat dideduksi, apabila digunakan pada permasalahan struktur dalam
1 bidang. Dengan menganggap gaya terletak pada bidang x y maka persamaan
menjadi

Fx = 0 Fy = 0

Mz = 0

Selain keseimbangan statis maka seluruh syarat kesesuaian harus terpenuhi dalam
analisa struktur. Syarat ini juga disebut syarat geometris karena harus menyatakan
kontinuitas perpindahan di seluruh bagian struktur.
Sebagai contoh adalah titik tumpuan jepit, harus dipenuhi kesesuaian perpindahan
dengan kondisi tumpuan yaitu tidak terjadi tranlasi dan rotasi terhadap sumbu
batang. Pada sambungan yang kaku antara dua batang maka perpindahan yang
terjadi (tranlasi dan rotasi) harus sama bila ditinjau per batang secara terpisah.
I. 4. Ketidaktentuan Statis dan Kinematis
Ketidaktentuan suatu struktur tergantung pada yang ditinjau aksi atau perpindahan.
Ketidaktentuan menunjukkan kelebihan aksi yang tidak diketahui terhadap jumlah
persamaan keseimbangan statis.
Jika persamaan keseimbangan cukup untuk menentukan aksi maka struktur bersifat
statis tertentu. Sebaliknya bila tidak dapat diselesaikan dengan persamaan
keseimbangan maka struktur mempunyai sifat statis tak tentu.

Ketidaktentuan statis berderajad 3 ada


6 reaksi yang harus dicari
Gambar L3

LI-5

Ketidaktentuan statis bisa dibedakan atas ketidaktentuan luar dan dalam. Bila
berhubungan dengan reaksi struktur maka termasuk pada ketidaktentuan statis luar.
Sebagai contoh adalah struktur ruang mempunyai 6 buah persamaan dan untuk
struktur bidang mempunyai 3 buah persamaan. Apabila lebih di jumlah persamaan
keseimbangan statis, maka disebut bersifat statis tak tentu luar.
Ketidaktentuan statis dalam berhubungan dengan perhitungan resultan tegangan
dalam struktur dengan anggapan semua reaksi telah ditentukan sebelumnya.
Ketidaktentuan
bersifat

statis

statis

luar

adalah

tertentu

untuk

ketidaktentuan statis dalam berdenyutdenyut karena 2j m = 3 yaitu 2 x 6


11 = 1. Ada dua batang yang
dipenggal artinya dengan melepas 2
gaya
Gambar L4

pada

rangka

batang,

maka

struktur menjadi statis tertentu.

Jenis ketidaktentuan yang lain adalah ketidaktentuan kenematis yaitu yang


bertentangan dengan perpindahan titik kempul yang tidak diketahui. Pada struktur
rangka titik kempul dapat berupa perteman dua batang atau lebih, titik tumpuan dan
ujung bebas. Titik kumpul dapat mengalami transaksi atau rotasi.
Titik A terjepit tidak mengalami
perpindahan,
A
Gambar L5

sedangkan

titik

memiliki 2 perpindahan ber rotasi dan


bergeser.

LI-6

Ketidaktentuan kenematis balok AB berderajat dua dan 2 perpindahan titik kempul


ini harus dihitung dalam analisa balok. Apabila deformasi axial balok diabaikan,
maka titik B hanya berrotasi, sehingga balok ini sebagai struktur dengan 1 derajat
ketidaktentuan kenematis.
Rangka
D

batang

statis

tak

tentu

berderajat 2 titik A, B, D dan E


mempunyai dua derajat kebebasan

masing-masing (translasi dalam 2 arah


tegak lurus). Titik c dan f masing-

masing adalah nol dan satu derajat


kebebasan.

Gambar L6

Jadi

rangka

batang

mempunyai 9 derajat kebebasan untuk


translasi

titik

ketidaktentuan

kempul

dan

kenematisnya

berderajat 9.
Untuk menentukan ketidaktentuan statis dan kenematis, maka ada aturan yang dapat
dipakai seperti.
I.

Tentukan jumlah kelebihan gaya. Hitung jumlah pelepasan yang


diperlukan agar struktur menjadi statis tertentu.

II.

Tentukan jumlah derajat kebebasan titik kempul. Hitung jumlah


pengembangan titik kempul yang diberikan agar struktur menjadi
kenematis tertentu tidak ada perpindahan titik kempul.

LI-7

I. 5

Stabilitas

Pada pembahasan derajat kebebasan terlihat bahwa, apabila jumlah reaksi melebihi
jumlah persamaan, maka struktur bersifat statis taktentu luar. Dan jika jumlah ini
sama, maka struktur statis tertentu luar. Hal ini berlaku, bahwa struktur tidak akan
bergerak, apabila beban diberikan pada struktur tersebut.
Pada contoh balok di atas 3 tumpuan
roller terdapat 3 reaksi yang sama
jumlahnya
Gambar L7

keseimbangan

dengan
statis

persamaan
untuk

gaya

perbidang.
Akan tetapi jelas bahwa balok akan bergerak ke kiri apabila beban dan yang mirin g
diberikan. Jenis struktur ini dikatakan bersifat tidak stabil.
Gambar L8

Struktur pada gambar L8 dikatakan


tidak stabil karena garis kerja gaya dan
tidak melalui 3 gaya reaksi yang
konkuren.

Jadi selain jumlah tumpuan struktur struktur yang cukup, maka tata letaknya harus
menjamin agar struktur tidak tidak dapat bergerak.
I. 6. Superposisi
Pada suatu struktur akan terdapat besaran aksi gaya dan perpindahan yang tertentu.
Aksi dan perpindahan ini menimbulkan aksi perpindahan lainnya pada struktur. Aksi
perpindahan semula merupakan penyebab, sedangkan yang terakhir adalah pengaruh.
Secara umum, nahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh sejumlah penyebab dapat
diperoleh dengan menggabungkan pengaruh setiap penyebabnya.

LI-8

Dari prinsip superposisi bahwa akibat


A2

Mb

A1

aksi dan perpibndahan A1 dan A2


dapat ditinjau secara terpisah.

Ra

Rb

RA = RA + RA
RB = RB + MB

A1

Mb

MD = MB + MB
D =

Ra

D + D

Rb

Mb
Ra

Rb

Gambar L9
Prinsip superposisi ini hanya berlaku, apabila hubungan antara aksi dan perpindahan
pada struktur b ersifat linear. Hal ini terjadi apabila syarat-syarat b erikut terpenuhi:
(struktur elstis linear).
1. Bahan struktur mengikuti hokum Hooke
2. Perpindahan struktur kecil (small deflection)
3. Tidak ada interaksi antara pengaruh axial dan lentur.
I. 7. Matrik Kekakuan
Hubungan antara aksi dan perpindahan berperan penting dalam analisa struktur dan
digunakan dalam metode kekakuan. Untuk menyatakan hubungan aksi dan
perpindahan ialah dengan persamaan aksi dan perpindahan.

LI-9

Sebagai contoh:
Aksi A yang b ekerja pada balok me
A

nimbulkan perpindahan D. Hubungan A


dan D ini dapat dengan beban sebagai:

A=SD

Gambar L10
Di mana S adalah kekakuan yang didefinisikan sebagai aksi yang dikukuhkan untuk
menimbulkan perpindahan satu unit. Satuannya adalah gaya persatuan panjang.
Untuk keadaan yang lebih umum :
A1

A2

A3

Dalam

perpindahan

a)

gambar
balok

diperlihatkan
yang

selaras

A1,A2 dan A3. Dari superposisi


b)

D1

D2

D3

D1 = D11 + D12 + D13

c)

S31
S11

e)

S32

D11 : perpindahan yang selaras A1


diakibatkan oleh A1
D12 : perpindahan yang selaras A1
diakibatkan oleh A2
D13 : perpindahan yang selaras A1
diakibatkan oleh A3
Analog untuk D2 dan D3

S33

D11 : perpindahan yang selaras A2

S21

d)

S12
S13

didapatkan :

S22
S23
1

Gambar L11
Persamaan aksi:
A1 : S11 D1 + S12 D2 + S13 D3
A2 : S2 D1 + S22 D2 + S23 D3
A3 : S31 D1 + S32 D2 + S23 D3

diakibatkan oleh A2 dst.

L I - 10

Di mana:
S adalah koefisien kekakuan yang menyatakan aksi akibat perpindahan satu
satuan.
S11 : aksi yang selaras dengan A1 bila satu satuan perpindfahan D1 diberikan
sementara perpindahan yang lain = 0 dan seterusnya.
Arah setiap koefisien kekakuan yang diperlihatkan dianggap positif, apabila searah
dengan aksi yang selaras. Persamaan aksi untuk struktur dengan n buah aksi adalah:
A1 : S11 D1 + S12 D2 + S13 D3
A2 : S21 D1 + S22 D2 + S23 D3
--An : Sn D1 + S31 D2 + S33 D3
Dalam balok matrik

A1 S11 S12 .. S1n D1


A2 S 21 S 22 .. S 2n D 2
=
= atau[A] = [S ][D]
.. ..
.. .. .. ..


An Sn1 Sn2 .. Snn Dn
Dimana A = Matrik aksi berukuran n x 1
D = Matrik perpindahan berukuran n x 1
S = Matrik kekakuan berukuran n x n
Koefisien kekakuan Sij didefibnisikan sebagai aksi ke i akibat satu satuan
perpindahan ke- j sementara petrpindahan lainnya adalah nol.
I. 8. Beban Ekivalent
Analisa struktur mengharuskan struktur hanya memikul beban yang bekerja pada
titik kempul. Sebenarnya beban yang bekerja pada struktur tidak memenuhi syarat
tersebut. Agar supaya syarat terpenuhi beban pada batang harus diganti dengan
beban ekivalen pada titik kem pul. Beban ekivalen ini sedemikian rupa, sehingga

L I - 11

perpindahan struktur yang ditimbulkan sama dengan perpindahan akibat beban


sebenarnya. Beban ekivalen dapat dihitung berdasarkan gaya jepit ujung.
W

M1

P1

P2

Titik kempul dikekang terhadap semua


perpindahan, sehingga menghasilkan 2
balok terjepit (gambar L12).

L/2

L/2
2

1/12 WL

wL/2

P1

PL/8
.5P1

Di sini gaya ujung ditunjukkan sebagai


reaksi

pengekangan

pada

struktur

PL/8

terhekang. Jika reaksi pengekang ini

.5P1

dibalik arahnya akan menjadi beban

WL/2

yang ekivalen dengan beban yang


bekerja pada batang.
WL/2+.5P1

.5P1+P2

1/12 WL

Beban titik kempul ini digabungkan,


2

M1+1/12WL -PL/8

Gambar L12

sehingga dapat digunakan dalam analisa


struktur.

I. 9. Teori Energi
Pembahasan konsep energi ini terbatas pada struktur yang regan gan dan
perpindahannya kecil serta energinya tidak hilang selama proses pembebanan statis.
Dengan kata kain, kerja luar (external) dari beban yang diberikan secara perlahanlahan sama dengan energi yang disimpan dalam struktur.
Dari teori elastis, apabila ditinjau pada elemen yang sangat kecil akan terdapat
beberapa tegangan seperti pada gambar 17.

L I - 12

Terdapat 3 tegangan normal (x, y, z)


dan 6 tegangan geser (xy,xz dst nya).

xy = yx

yx
yz
zy

xy

dx

(a.)

yz = zy
zx = xz
Jadi hanya 6 komponen tegangan yang

zx

perlu ditin jau untuk pegangan berlaku.

u,v,w adalah translasi dalam arah x,y,z.


x = du/ dx
y = dv/ dy

(b.)

z = dw/ dz

Gambar L13

Untuk regangan geser xy = yx = u/y + v/x


yz = zy = v/z + w/y

(c.)

zx = xz = w/x + u/z

1 x
2 y

3 z
= =
4 xy
5 yx

6 zx

1 x
2 y

3 z
= =
4 xy
5 yz

6 zx

(d.)

Tegangan dan regangan pada sembarang titik untuk benda 3 dimensi


Dari diagram tegangan

regangan

untuk bahan linear. Energi regangan

didefinisikan sebagai integrasi kerja dalam

dari tegangan selama pertambahan

regangan untuk pegangan total dan seluruh volume.


U=

1
2

n5

i.i. dV
i =1

= 1 / 2 . t .dV
V

L I - 13

t transpose matirk kolom

Dimana :

ns jumlah komponen regangan


U Energi regangan
i
d
d

gambar L14

Energi regangan komplementer didefinisikan sebagai integrasi kerja dalam dari


regangan pertambahan tegangan untuk tegangan total dan seluruh volume.
U* =

1
2

n5

i.i. dV
i =1

= 1 / 2 . t .dV
V

t transpose matirk kolom

Dimana :

Untuk kerja beban dapat dirumuskan sama seperti energi regangan.


Pj

W=

dP

1
2

W* =
d

n5

Pj.j. dV = 1/2 A

1
2

j =1

n5

Pj.j. dV = 1/2 D

j =1

Gambar L15

Dari prinsip kekuatan energi, bahwa kerja beban W = energi pegangan U yang
disimpan dalam struktur, sehingga:
U = W = DT S.D

L I - 14

Teori costigliano I

menyatakan bahwa jika energi regangan benda elastis

diunyatakan sebagai fungsi (himpunan) perpindahan, maka turunan parsial pertama


fungsi ini terhadap perpindahan sama dengan gaya aksi yang selaras.

U
=
Dj

Sjk

Dk = Aj

( j = 1, 2, ..n )

k 1

Persamaan ini menyatakan n (himpunan) syarat keseimbangan. Apab ila persamaan


ini diturunkan terhadap Dk , maka akan diperoleh suku kekakuan umum Sjk
sebagai:

U
U
=
Dj Dj Dk

Aj
= Sjk
Dk

j = 1, 2, n
k = 1, 2, . N

Hubungan timbal balik (teorema Maxwell), jika untuk differensial dibalik, maka
hasilnya harus sama, sehingga:

Sjk = Skj

Oleh karena itu semua pasangan kekakuan silang sama besar, sehingga matrik S
adalah simetris atau identik transposenya.

S = ST

1.10. Rangkuman

Bandungkan jenis2 struktur rangka seperti Rangka Batang , Balok


ataupun Portal. Perbedaan terletak pada gaya dalam dan deformasi

Dasar2 analisa struktur seperti deformasi, Aksi dan Perpindahan ,


derajat kebebasan , derajat ketidak tentuan statis atau kinematis ,
stabilitas, Superposisi , Kekakuan , beban ekivalent dan teori energi.

L II - 1

LAMPIRAN II
PERINTAH UNTUK CALCULATOR CFX 9850GB
Matrix calculations
26 matrix memories (Mat A Through Mat Z) plus a matrix answer memory
(MatAns), make it possible to perform the following matrix operations.
y

Addition, subtraction, multiplication

Scalar multiplication calculations

Determinant calculations

Matrix transposition

Matrix inversion

Matrix squaring

Raising a matrix to a specific power

Absolute value, integer part extraction, fractional part extraction, maximum


integer calculations

Matrix modification using matrix commands

LII-1 before performing matrix calculations


LII-2 matrix cell operations
LII-3 modifying matrices using matrix commands
LII-4 matrix calculations

L II - 2

LII-1 Before Performing Matrix Calaulations


In the Main Menu, select the MAT icon to enter the Matrix Mode and display its
initial screen.

{DEL}/{DEL.A} deletes {a specific matrix}/{all matrices}


The maximum number of rows that can be specifies for a matrix is 255, and the
maximum number of columns is 255.
About Matrix Answer Memory (MatAns)
The calculator automatically stores matrix Answer Memory. Note the
following points about Matrix Answer Memory. Whenever you perform
a matrix calculation, the current Matrix Answer Memory contents are
replaced by the new result. The previous contents are deleted and cannot
be recovered. Inputting values into a matrix does not affect Matrix
Answer Memory contents.
Creating a Matrix
To create a matrix, you must first define its dimensions (size) in the
MATRIX list. Then you can input values into the matrix to specify the
dimensions of a matrix

L II - 3

Example : To create a 2-row x 3-column matrix in the area named Mat B


Highlight Mat B.

All of the cells of a new matrix contain the value 0.


All Mem ERROR remains next to the matrix area name after you input the
dimensions, it means there is not enough free memory to create the matrix you
want.

L II - 4

Displayed cell values show positive integers up to six digits, and negative
integers up to tive digits (one digit used for the negative sign). Exponential
values are shown with up to two digits for the exponent. Fractional values are
not displayed.
You can see the entire value assigned to a cell by using the cursor keys to move
the highlighting to the cell whose value you want to view.
The amount of memory required for a matrix is ten bytes per cell. This means
that 3 x 3 matrix requires 90 bytes of memory ( 3 x 3 x 10 = 90 ).
Deleting Matrices
You can delete either a specific matrix or all matrices in memory.
To delete a specific matrix
While the matrix list on the display, use

and

to highlight the matrix

you want to delete.


Press
Press

{DEL}
{YES} to delete the matrix or

{NO} to abort the operation

without deleting anything.


The indicator None replaces the dimensions of the matrix you delete.
To delete all matrices
While the matrix list is on the display, press
Press

{DEL A}.

{YES} to delete all matrices in memory or

operation without deleting anything.


The indicator None is shown for all the matrices.

{NO} to abort the

L II - 5

LII 2

Matrix Cell Operations

Use the following procedure to prepare a matrix for a cell operations.


While the MATRIX list on the display, use

to highlight the name

of the matrix you want to use.


And the function menu with the following items appears.
{R.OP} {row calculation menu}
{ROW}/{COL} {row}/{column} operation menu
Row Calculations
The following menu appears whenever you

{R . OP} while a

recalled matrix is on the display.


{Swap} {Row Swap}
{xRw} {Product of specific row and scalar}
{xRw+} {Addition of one and the product of a specific row with a
scalar}
{Rw+} {Addition of specific row to another row}
To swap two rows
Example : To swap rows 2 and 3 of the following matrix :

L II - 6

To calculate the product of a row :

Example

: to calculate the product of row 2 of the following matrix


and the scalar 4 :

To calculate the product of a row and add the result to another row
Example : to calculate the product of row 2 of the following matrix and the
scalar 4, then add the result to row 3 :

L II - 7

To add two rows together


Example : to add row 2 to row 3 of the following matrix :

Row Operations
The following menu appears whenever you

{ROW} while a

recalled matrix is on the display.


{DEL} {delete row}
{INS} {insert row}
{ADD} {add row}

To delete a row
Example : to delete row 2 of the following matrix :

L II - 8

To insert a row
: To Insert a new row between rows 1 and 2 of the following matrix
Example
:

To add a row
Example

: to add a new below row 3 of the following matrix :

Column Operations
The following menu appears whenever you
is on the display.
{DEL} {delete column}

(COL) while a recalled matrix

{INS} {insert column}


{ADD} {add column}

To delete a column
Example
: to delete column 2 of the following matrix :

L II - 9

To Insert A Column
Example : to insert a new column between column 1 and 2 of the following
matrix :

To Add A Column
Example
matrix :

: to add a new column to the right of column 2 of the following

L II - 10

LIII 3

Modifying Matrices Using Matrix Commands

To Display The Matrix Commands


1. From the main menu, select the RUN icon and

The following describes only the matrix command menu items that are used for
creating matrices and inputing matrix data.
{Mat} {Mat command (matrix specification)}
{ML} {MatList command (assign contents of selected column
to list file)}
{Aug} {Augment command (link two matrices)}
{Iden} {identify command (identify matrix input)}
{Dim} {Dim command (dimension check)}
{Fill} {Fill command (identical cell value)}

L II - 11

Matrix Data Input Format


The following showns the format you should use when inputing data to create a
matrix using the matrix operation menus Mat command.

an error occurs if memory becomes full as you are inputing data.


You can also use the above format inside a program that inputs matrix data.

To Input An Identify Matrix


Use the matrix operation menus identify
matrix.

to create an identify

L II - 12

To Check The Dimensions Of A Matrix


Use the matrix operation menus Dim

to check the

dimensions of an existing matrix.

The display showns that matrix A consists of two rows and three columns.
You can also use {Dim} to specify the dimensions of the matrix.

Modifying Matrices Using Matrix Commands


You can also use matrix commands to assign values to and recall values from an
existing matrix, to fill in all cells of an existing matrix with the same value, to
combine two matrices into a single matrix, and to assign the contents of a matrix
column to a list file.

L II - 13

To Assign Values To And Recall Values From An Existing Matrix


Use the following format with the matrix operation menus Mat
to specify a cell for value assignment anf recall.
Mat X [m, n]
X matrix name (A through Z, or Ans)
m ... row number
n . Column number

To Fill A Matrix With Identical Values And To Combine Two Matrices Into A
Single Matrix
Use the matrix operation menus fill

to fill all the cells of an

existing matrix with an identical value, or the Augment


combine two existing matrices into a single matrix.

to

L II - 14

The two matrices you combine must have the same number of rows. An error
occurs if you try to combine two matrices that have different numbers of
rows.
To Assign The Contents Of A Matrix Column To A List File
Use the following format with the matrix operation menus MatList
command (F2) to specify a column and a list file.
Mat List (Mat X, m) List n
X = matrix name (A through Z , or Ans)
m = column number
n = list number

You can use matrix answer memory to assign the results of the above
matrix input and edit operations to a matrix variable. To do so, use the
following syntax.

L II - 15

Fill (n, Mat ) Mat


Augment (Mat , Mat ) Mat
In the above, , , and are any variable names A through Z, and n is
any value.
The above does not affect the contents of Matrix Answer Memory.

LIV - Matrix calculations


Use the matrix command menu to perform matrix calculation operations.

z To Display The Matrix Commands


1. Fro the main menu, select the RUN icon and press ( EXE )
2. Press ( OPTN ) to display the option menu
3. Press ( F2 ) ( MAT ) to display the matrix command menu.
The following describe only the matrix commands that are used for matrix
arithmetic operations.
y

{Mat} {Mat command (matrix specification)}

{Det} {Det command (determinant command)}

{Trn} {Trn comman (identity matrix input)}

{Iden} {Identity command (identity matrix input)}

All of the following examples assume that matrix data is already stored in memory.

L II - 16

L II - 17

The two matrices must have the same dimensions in order to be added or
subtracted. An error occurs if you try to add or subtract matrices of different
dimensions.

For multiplication, the number of columns in matrix 1 must match the


number of rows in matrix 2. Otherwise, an error occurs.

You can use an identity matrix in place of matrix 1 or matrix 2 in the matrix
arithmetic format. Use the matrix command menus identity command ( F1 )
to input the identity matrix.

L II - 18

L II - 19

LII 4

Matrix Calculations

L II - 20

L II - 21

L II - 22

Determinants and inverse matrices are calculated using the elimination


method, so errors (such as dropped digits) may be generated

Matrix operations are performed individually on each cell, so calculations


may require considerable time to complete.

The calculation precision of displayed results for matrix calculations is +/- 1


at the last siginificant digit.

If a matrix calculations result is too large to fit into matrix answer memory,
an error occurs.

You can use the following operatin to transfer matrix answer memory
contents to another matrix (or when matrix answer memory contains a
determinant to a variable)

MatAns Mat
In the above, is any variable name A through Z. the above does not
affect the contents of matrix answer memory.

L III - 2

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP)


Nama Mata Kuliah

: Mekanika Teknik 5

Pengembang

Kode Mata Kuliah

: TKG 5147

Tahun Dikembangkan : 2010

Sistem Kredit Semester

:5

Pendekatan Materi

No
1

2.

Kompetensi
Khusus
REVIEW

Mahasiswa
mampu
menggunakan
calculator untuk
operasi matrik

Pengalaman
Belajar

Pokok
Bahasan

Mahasiswa
mempersiapkan alat
bantu hitung dan
untuk mengingat
kembali pelajaran
mekanika teknik
semester lalu

Pendahuluan

Mahasiswa diajarkan
bagaimana
menggunakan
peralatan calculator
untuk operasi matrik.

Operasi pada
perhitungan
matrik
dengan
Calculator

Mahasiswa mampu
menggunakan
komputer untuk
operasi matrik
Seperti: EXCEL

Mahasiswa diajarkan
bagaimana
menggunakan
Komputer untuk
operasi matrik
.

Operasi pada
perhitungan
matrik
dengan
Lembar Kerja
EXCEL

1.
2.

Metode

: Teori dan praktek

Estimasi
Waktu

Kepustakaan

Analisa struktur bangunan


Kontrak Perkuliahan
Calculator dan Komputer
Review Rangka batang
Review bid M,D,N
Hubungan mata kuliah
dengan MK yang lain

Presentasi

90 menit

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Definisi matriks ; Sifat matrik


Penjumlahan ; Perkalian
Invers matrik
Input data calculator
Transpose
Perkalian
Invers
Solusi Persamaan Linear

Presentasi ,
praktek

90 menit

1.
2.
3.
4.
5.

Input data Lembar kerja


Transpose
Perkalian
Invers
Solusi Persamaan Linear

Presentasi ,
praktek

90 menit

3.
4.
5.

Seperti: Casio
FX9850GB
3.

Sub Pokok Bahasan

: Pratikto ,ST.MSi

L III - 3

No

Kompetensi
Khusus

Pengalaman
Belajar

Pokok
Bahasan

5.

Mahasiswa mampu
menjelaskan Dasar
teori metode
perpindahan dalam
bentuk matrik

Dosen memberikan
penjelasan dalam
bentuk soal.

Membentuk
matrik
kekakuan
struktur dan
menyelesaika
n persamaan
linear

Mahasiswa mampu
menghitung Rangka
Batang dengan
bentuk matrik

Dosen memberikan
penjelasan dalam
bentuk soal dan
pemakaian alat hitung

Mahasiswa mampu
menghitung Balok
statis tertentu dan
tak tentu dengan
bentuk matrik

Dosen memberikan
penjelasan dalam
bentuk soal dan
pemakaian alat hitung

Membentuk
matrik
kekakuan
struktur
Rangka
Batang dan
menyelesaika
n persamaan l
Membentuk
matrik
kekakuan
struktur
Balok dan
menyelesai
kan ersamaan
linear beserta
Gambar
MDN

1.
2.
3.
4.
5.

Sub Pokok Bahasan

Metode

Estimasi
Waktu

Matrik Statis
Matrik Deformasi
Matrik Kekokohan
Matrik Kekakuan
Solusi Persamaan Linear

Presentasi,
Conto soal,
Latihan
mandiri

2X
180 menit

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Matrik Statis
Matrik Deformasi
Matrik Kekokohan
Matrik Kekakuan
Solusi Persamaan Linear
Gaya Dalam Rangka Batang

Presentasi,
Conto soal,
Latihan
mandiri

180 menit

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Matrik Statis
Matrik Deformasi
Matrik Kekokohan
Matrik Kekakuan
Solusi Persamaan Linear
Gaya Dalam Balok MDN

Presentasi,
Conto soal,
Latihan
mandiri

180 menit

EVALUASI UTS- 90 MENIT

Kepustakaan

L III - 4

No

7.

8.

Kompetensi
Khusus

Pengalaman
Belajar

Pokok
Bahasan

Mahasiswa mampu
menghitung
PORTALdengan
bentuk matrik

Dosen memberikan
penjelasan dalam
bentuk soal dan
pemakaian alat hitung

Membentuk
matrik
kekakuan
struktur
PORTAL dan
menyelesai
kan
persamaan
linear beserta
Gambar
MDN
Membentuk
matrik
kekakuan
struktur
PORTAL
MIRING dan
menyelesai
kan
persamaan
linear beserta
Gambar
MDN

Mahasiswa mampu
menghitung
PORTAL dengan
kaki Miring dalam
bentuk matrik

Dosen memberikan
penjelasan dalam
bentuk soal dan
pemakaian alat hitung

Sub Pokok Bahasan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Metode

Estimasi
Waktu

Matrik Statis
Matrik Deformasi
Matrik Kekokohan
Matrik Kekakuan
Solusi Persamaan
Linear
Gaya Dalam Balok
MDN

Presentasi,
Conto soal,
Latihan
mandiri

2X
180 menit

1.
2.
3.
4.
5.

Presentasi,
Conto soal,
Latihan
mandiri

2X
180 menit

6.

Matrik Statis
Matrik Deformasi
Matrik Kekokohan
Matrik Kekakuan
Solusi Persamaan
Linear
Gaya Dalam Balok
MDN

EVALUASI UAS- 90 MENIT

Kepustakaan

L IV - 1

LAMPIRAN 4
DAFTAR TABEL dan DAFTAR GAMBAR
Tabel 2.1 Derajat Kinematis
Gambar 2.1 Diagram metode matrik
Gambar 2.2.a. Beban ekwivalent Rangka Batang
Gambar 2.2.b Beban ekwivalent Balok
Gambar 3.1 Rangka Batang
Gambar 3.2 Model Matematik Rangka
Gambar 3.3 Hukum Hooke
Gambar 3.4 contoh sederhana
Gambar 3.6 Matrik Statis B
Gambar 3.7 latihan Rangka Batang (1)
Gambar 3.9 Tugas Rangka Batang
Gambar 3.8 latihan Rangka Batang (2)
Gambar 4.1 kekakuan lentur elemen balok
Gambar 4.2 kekakuan lentur balok
Gambar 4.3 illustrasi balok
Gambar 4.4 3 elemen, Diagram Q-D dan H-d
Gambar 4.5 matrik A
Gambar 4.6 matrik Kekokohan [S]
Gambar 4.7 matrik B
Gambar 4.8 Contoh Balok Menerus
Gambar 4.9 Kinematis dan elemen
Gambar 4.10 matrik Q dan A
Gambar 4.11 Matrik S dan B
Gambar 4.12 Penyelesaia
Gambar 4.13 Latihan 1
Gambar 4.14 Latihan 2
Gambar 4.15 Conto untuk evaluasi
Gambar 5.1 kekakuan elemen balok
Gambar 5.2 Pergoyangan Portal

L IV - 2

Gambar 5.3 portal simetris.


Gambar 5.4 pembagian elemen
Gambar 5.5 Beban ekwivalen
Gambar 5.6 Matrik Deformasi
Gambar 5.7 Hasil gaya dalam moment
Gambar 5.8 Bidang MDN
Gambar 5.9 illustrasi portal bergoyang
Gambar 5.10 pembagian elemen
Gambar 5.11 Beban Ekwivalen
Gambar 5.12 H-d Diagram
Gambar 5.13 Diagram Gaya Dalam
Gambar 5.14 Portal Beban Horizontal
Gambar 6.1 kekakuan elemen balok
Gambar 6.2 Pergoyangan Portal
Gambar 6.3 Pergoyangan Portal Miring
Gambar 6.4 pembagian elemen
Gambar 6.5 Beban ekwivalen
Gambar 6.6 Matrik Deformasi
Gambar 6.7 soal latihan
Gambar 6.8 Elemen dan Diagram Kinematis
Gambar 6.9 Diagram H-d
Gambar 6.10 matrik gaya Q
Gambar 6.11 pembentukan matrik A
Gambar 6.12 FREE BODY Portal Miring