Anda di halaman 1dari 82

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengukuran Waktu Kerja (Motion Time Measurement)


Pengukuran waktu kerja adalah usaha untuk menentukan lama kerja yang

dibutuhkan seorang operator terlatih dan qualified dalam menyelesaikan suatu pekerjaan
yang spesifik pada tingkat kecepatan kerja yang normal dalam lingkungan kerja yang
terbaik pada saat itu. Peningkatan efisiensi suatu sistem kerja mutlak berhubungan
dengan waktu kerja yang digunakan da1am berproduksi.Dengan demikian pengukuran
waktu ini merupakan suatu proses kuatitatif, yang diarahkan untuk mendapatkan
suatukriteria yang obyektif. Study mengenai pengukuran waktu kerja dilakukan untuk
dapat melakukan perancangan atau perbaikan dari suatu sistem kerja. Untuk keperluan
tersebut, dilakukan penentuan waktu baku, yaitu waktu yang diperlukan dalam bekerja
dengan telah mempertimbangkan faktor-faktor diluar elemen pekerjaan yang dilakukan
(Wignjosoebroto, 2002).
1) Pengukuran Kerja Secara Langsung
Pengukuran kerja secara langsung harus dilakukan pada waktu kerja di tempat
berlangsungnya kerja dan ketika sedang terjadinya pekerjaan tersebut.Kelebihan
pengukuran langsung antara lain lebih praktis dalam mencatat waktu tanpa harus
penguraikan pekerjaan dalam elemen elemen pekerjaannya. Pengukuran kerja secara
langsung dapat berupa :
a. Pengukuran waktu dengan jam henti (Stop Watch Jam )
Pada pengukuran waktu yang menggunakan jam henti (stopwatch) sebagai alat
utamanya. Cara ini merupakan cara yang paling banyak digunakan karena
kesederhanaannya. Asumsi- asumsi dasar SWTS seperti :

Metode dan fasilitas kerja sudah baku

Operator yg diukur waktu kerjanya paham prosedur dan metode kerja baku &
punya kemampuan kerja rata-rata

Kondisi lingkungan fisik kerja- sama dgn saat pengukuran

Performance kerja terkendali.


Terdapat beberapa jenis pekerjaan yang sesuai diukur dengan SWTS,
misalnya pekerjaan yang Repetitive dan uniform, macam kerja yg dilakukan
homogen atau tidak variatif, Output dapat dihitung, dan banyak dilakukan
serta teratur sifatnya.

b. Sampling pekerjaan ( Work Sampling )


Dikembangkan berdasarkan hukum probabilitas (the law of probability)
sampling acak/random. Asumsi dari work sampling yaitu kejadian seorang
operator akan ditemukan sedang bekerja atau sedang menganggur terjadi secara
acak. Work Samplingmerupakan salah satu cara pengukuran dari bagianTime
Studyyang dilakukan secara langsung di tempat berjalannya pekerjaan
sepertihalnya pengukuran waktu jam henti. Work sampling efektif untuk mengukur
Ratio Delay dari sejumlah mesin, karyawan / operator, atau fasilitas kerja
lainnya. Performance Level dari seseorang selama waktu kerjanya. Waktu
baku untuk suatu proses / operasi kerja.
Work Sampling mempunyai beberapa kegunaan diantaranya:
1.Untuk mengetahui distribusi pemakaian waktu kerja oleh pekerja
ataukelompok kerja.
2.Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau peralatan kerja.
3.Untuk menentukan waktu baku bagi pekerja-pekerja tak langsung
4.Untuk memperkirakan kelonggaran bagi suatu pekerjaan.
5.Untuk mengetahui beban kerja dari pekerjaan tak langsung
2) Pengukuran Kerja SecaraTidak Langsung

Definis pengukuran kerja tidak langsungyang menjadi bahasan kita kali ini
adalah : melakukan perhitungan waktu kerja pengamat tanpa menggunakan alat
stopwact dan tidak perlu langsung mengamati ke lokasi kerja, hanya melakukan
perhitungan waktu kerja dengan membaca tabel waktu yang tersedia, asalkan
mengetahui jalanya pekerjaan melalui elemen-elemen pekerjaan atau elemen-elemen
gerakan. Cara ini bisa dilakukan dalam aktivitas data waktu baku (standart data) dan
data waktu gerakan (predetermined time system)

1. Tujuan
Penilitian kerja dan metode kerja pada dasarnya akan memusatjan perhatiannya pada
bagaimana (how) suatu macam pekerja, dengan mengaplikasikan prinsip teknik
pebgaturan cara kerja yang optimal dalam sistem tersebut.maka akan diperoleh
alternatif metode pelaksaan kerja yang diangap memberikan hasil yang paling
efektif dsn efesien.Suatu pekerjaan dikatakan efesien apabila suatu pekerjaan
dikerjakan paling singkat.
Maka perlu diterapkan prinsip-prinsip dan teknik pengukuran kerja Waktu baku
ini sangat diperlukan terutama sekali untuk:
a.

Man power planning (perencanaan kebutuhan tenaga kerja)

b.

Estimasi biaya-biaya untuk upahkaryawan

c.

Penjadwalan produksi danpenganggaran

d.

Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi karyawan

e.

Indikasi keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja


Beberapa aktivitas pengukuran kerja seringkali dilaksanakan hanya untuk satu
jenis operasi tertentu saja dan sama sekali tidak ada pemikiran bahwa data yang
diperoleh akan bisa dimanfaatkan untuk operasi kerja lainnya (Wignjosoebroto,
2002).

2.2

Gerakan Fundamental (Therbligs)


Bila kita mengamati suatu pekerjaan yang sedang berlangsung hal yang sudah

pasti terlihat adalah gerakan-gerakan yang membentuk kerja tersebut.Untuk


mempermudah penganalisaan terhadap gerakangerakan yang akan dipelajari perlu
dikenal terlebih dahulu gerakangerakan dasar yang membentuk kerja tersebut. Guna
melaksanakan maksud ini, maka Frank dan Lilian Gilberth telah berhasil menciptakan
symbol/kode dari gerakangerakan dasar kerja yang dikenal dengan nama THERBLIG
(dieja dari nama Frank dan Lilian Gilberth secara terbalik). Disini mereka menguraikan
gerakan-gerakan kerja kedalam 17 gerakan dasar Therbligs.Sebagian besar dari elemen
lemen dasar therblig merupakan gerakan tangan yang biasa terjadi apabila suatu
pekerjaan terjadi, terlebihlebih bila bersifat manual.Suatu pekerjaan dapat diuraikan
menjadi beberapa elemen gerakan untuk mana studi dilakukan guna mendapatkan
rangkaian gerakan yang lebih efisien. Suatu pekerjaan yang akan mempunyai uraian

yang berbeda beda bila dibandingkan dengan pekerjaan yang lain tergantung pada
jenis pekerjaan tersebut.
Istilah ini Therblig merupakan anagram dari "Gilbreth" dan diciptakan oleh
Frank dan Lillian Gilbreth untuk sistem mereka belajar, waktu dan menganalisis
gerakan pekerja. Therbligs biasanya bertujuan untuk tugas-tugas manual dan sering
digunakan dalam bidang studi waktu dan gerak .
Meskipun motion study dan Therbligs biasanya berhubungan dengan tempat
kerja mereka sama-sama dapat digunakan untuk mengoptimalkan proses lain, misalnya
di rumah. Teorinya adalah bahwa dengan menganalisis dan mengoptimalkan langkahlangkah yang terlibat dalam waktu tugas dapat diselamatkan. Dalam sebuah pabrik,
waktu disimpan berarti produktivitas yang lebih tinggi.. Di rumah menghemat waktu
pada tugas-tugas berarti lebih banyak waktu luang
Meskipun Frank dan Lilian Gilberth telah menyatakan bahwa gerakan-gerakan
kerja manusia dilaksanakan dengan mengikuti 17 elemen dasar Therblig dan/atau
kombinasi dari elemen-elemen Therblig tersebut, akan tetapi didalam membuat peta
operator akan lebih efektif kalau hanya 8 elemen gerakan Therblig berikut ini yang
digunakan yaitu:
Search (S)
Merupakan elemen dasar gerakan pekerja untuk menentukan lokasisuatu obyek,
dalam hal ini dilakukan oleh mata. Gerakan ini dimulaipada saat mata bergerak mencari
obyek dan berakhir bila obyektersebut sudah ditemukan.
Select (SE)
Merupakan gerakan kerja untuk menemukan atau memilih suatu obyekdiantara dua
atau lebih obyek yang sama lainnya.
Grasp (G)
Merupakan elemen gerakan tangan yang dilakukan dengan menutupjari-jari tangan
pada obyek yang dikehendaki dalam suatu operasikerja.
Reach (RE)
Merupakan gerakan yang menggambarkan gerakan tangan berpindahtempat tanpa
beban atau hambatan baik gerakan menuju atau menjauhiobyek.
Move (M)

Merupakan gerakan perpindahan tangan, hanya di sini tangan bergerakdalam


kondisi membawa beban.
Hold (H)
Elemen

gerakan

yang

terjadi

pada

saat

tangan

memegang

obyek

tanpamenggerakkan obyek tersebut.


Release (RL)
Elemen gerakan yang terjadi pada saat tangan operator melepaskankembali
terhadap obyek yang dipegang sebelumnya.
Position (P)
Elemen gerakan yang terdiri dari menempatkan obyek pada lokasiyang dituju
secara tepat.
Pre-Position (PP)
Elemen gerakan yang mengarahkan obyek pada suatu tempatsementara sehingga
pada saat kerja mengarahkan obyek benar-benardilakukan maka dengan mudah obyek
akan bisa dipegang dan dibawake arah tujuan yang dikehendaki.
Inspect (I)
Langkah kerja untuk menjamin bahwa obyek telah memenuhipersyaratan kualitas
yang ditetapkan.
Assembly (A)
Elemen gerakan yang menghubungkan dua obyek atau lebih menjadisatu kesatuan.
Dis-Assembly (DA)
Elemen gerakan yang memisahkan atau menguraikan dua obyek yangtergabung
menjadi satu menjadi obyek-obyek terpisah.
Use (U)
Elemen gerakan dimana salah satu atau kedua tangan digunakan unrukmemakai
atau mengontrol suatu alat atau obyek untuk tujuan tertentu.
Unavoidable Delay (UD)
Kondisi kerja ini merupakan kondisi yang diakibatkan oleh hal-halyang di luar
kontrol dari operator dan merupakan interupsi terhadapproses kerja yang sedang
berlangsung.
Avoidable Delay (AD)

Waktu menganggur yang terjadi selama siklus kerja yang dapatdihindarkan.


Plan (P)
Merencanakan merupakan proses mental dimana operator berhentisejenak bekerja
dan memikirkan untuk menentukan tindakanselanjutnya.
Rest to Overcome Fatiaue (R)
Waktu untuk memulihkan kondisi badan dari kelelahan fisik (Wignjosoebroto,
2002).
Gagasan mengefektifkan penerapan Therblig muncul dari seorang konsultan
Methods

Engineering

ternama

dari

Jepang,

yaitu

Mr.

Shigeo

Shingo.Ia

mengklasifikasikan Therblig yang telah dibuat oleh Gilbreth menjadi 4 kelompok yakni
sebagai berikut
a.

Kelompok gerakan utama


Elemen-elemen gerakan yang bersifat memberi nilai tambah termasuk di
dalamnya, yaitu assemble, disassemble dan use.

b.

Kelompok gerakan penunjang


Elemen-elemen gerakan yang kurang memberikan nilai tambah, namun
diperlukan. Terdiri dari elemen gerakan reach, grasp, move dan released
load.

c.

Kelompok gerakan pembantu


Elemen-elemen gerakan yang tidak memberikan nilai tambah dan
memungkinkan untuk dihilangkan. Elemen-elemen gerakan yang termasuk

di dalamnya, yaitu search, select, position, hold, inspection dan pre-position.


d.
Kelompok gerakan luar
Elemen-elemen gerakan yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah,
sehingga sedapat mungkin dihilangkan. Terdiri dari elemen gerakan rest to
overcome fatigue, plan, unavoidable delay dan avoidable delay.
2.3

Prinsip-Prinsip Ekonomi Gerakan


Prinsip-prinsip ekonomi gerakn terdiri atas beberapa tipe yakni dapat dijelaskan

sebagai berikut:

a. Gerakan yang berhubungan tubuh manusia dan gerakannya terdiri atas:


1 Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakhiri secara bersamaan.
2 Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur secara bersamaan kecuali sedang
3

istirahat.
Gerakan kedua tangan akan lebih mudah jika satu terhadap lainnya simetris

dan berlawanan arah gerakannya.


Gerakan tubuh atau tangan sebaiknya dihemat dan memperhatikan alam

atau natural dari gerakan tubuh atau tangan.


Sebaiknya para pekerja dapat memanfaatkan momentum untuk membantu
pekerjaannya, pemanfaatan ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam

bekerja.
Gerakan yang patah-patah bayak perubahan arah akan memperlambat

gerakan tersebut.
Gerakan balistik akan lebih cepat, menyenangkan dan teliti dari pada

gerakan yang dikendalikan.


Pekerjaan sebaiknya dirancang semudah-mudahnya dan jika memungkinkan

irama kerja harus mengikuti irama alamiah bagi si pekerjanya.


9 Usahakan sesedikit mungkin gerakan mata.
b. Gerakan berhubungan dengan pengaturan tata letak tempat kerja terdiri atas
hal-hal sebagai berikut:
1 Sebaiknya diusahakan agar peralatan dan bahan baku dapat diambil dari
2

tempat tertentu dan tetap.


Bahan dan peralatan diletakan pada tempat yang mudah, cepat dan enak

untuk dicapai atau dijangkau.


Tempat penyimpanan bahan yang dirancang dengan memanfaatkan prinsip
gaya berat akan memudahkan kerja karena bahan yang akan diproses selalu
siap di tempat yang mudah untuk diambil. Hal ini menghemat tenaga dan

biaya.
Objek yang sudah selesai penyalurannya dirancang menggunakan

mekanisme yang baik


Bahan-bahan dan peralatan sebaiknya ditempatkan sedemikian rupa

sehingga gerakangerakan dilakukan dengan urutan terbaik.


Tinggi tempat kerja dan kursi sebaiknya sedemikian rupa sehingga alternatif
berdiri dan duduk dalam menghadapi pekerjaan merupakan suatu hal yang

menyenangkan.
c. Gerakan dihubungkan dengan perancangan peralatan terdiri atas hal-hal
sebagai berikut:

1. Tangan sebaiknya dapat dibedakan dari semua pekerjaan bila penggunaan


dari perkakas pembantu atau alat yang dapat digerakkan dengan kaki dapat
ditingkatkan.
2. Peralatan sebaiknya dirancang sedemikian agar mempunyai lebih dari satu
kegunaan.
3. Peralatan sebaiknya sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam
pemegangan dan penyimpanannya.
4. Bila setiap jari tangan melakukan gerakan sendiri-sendiri, misalnya seperti
pekerjaan mengetik, beban yang didistribusikan pada jari harus sesuai
dengan kekuatan masing-masing jari.
5. Roda tangan, palang dan peralatan yang sejenis dengan itu sebaiknya diatur
sedemikian sehingga badan dapat melayaninya dengan posisi yang baik dan
dengan tenaga yang minimum (Kurniawan, 2006).
2.4

Peta Kerja
2.4.1
Pengertian Peta Kerja
Peta kerja meruapakan alat komunikasi yang sistematis dan logis guna

menganalisis proses kerja dari tahap awal sampai akhir, melalui peta proses ini kita
mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki sistem dan
metode kerja. Di dalam pembuatan peta kerja akan dipergunakan simbol-simbol
standard

dari. ASME

(American

Society

of

Mechanical

Engineers)

untuk

menggambarkan masing-masing aktivitas. Simbol - simbol ASME adalah sebagai


berikut (Suryadi, 2010):

Tabel 2.1 Macam-macam Simbol ASME

No Simbol
1
operasi

Keterangan
Contoh
Operasi, benda kerja mengalami perubahan Menyerut, menghaluskan,
sifat atau bentuk, baik fisik maupun dan mengukur.

kimiawi.
Pemeriksaan, terjadi apabila benda kerja Mengukur dimensi dan

inpeksi

atau peralatan mengalami pemeriksaan memeriksa kehalusan.


3

baik untuk segi kualitas maupun kuantitas.


Transportasi, terjadi bila benda kerja, Suatu obyek dipindahkan

transpotasi

pekerja

atau

perlengkapan

mengalami dari tempat perakitan ke

perpindahan tempat dan bukan bagian dari gudang penyimpanan dan


proses operasi.

pemindahan barang dari


mesin bubut ke mesin frais

delay

Menunggu, terjadi apabila benda kerja, Bahan menunggu untuk


pekerja atau perlengkapan tidak mengalami diangkut ke tempat lain,
kegiatan apa-apa selain menunggu.

menunggu diperiksa, dan

lain sebagainya.
Penyimpanan, terjadi apabila benda kerja Dokumen-dokumen

Sigitiga

disimpan untuk jangka waktu yang cukup bahan


lama.
6

aktivitas ganda

baku

disimpan

dalam gudang.

Aktivitas gabungan, terjadi apabila antara Perakitan benda kerja.


aktivitas dan pemeriksaan dilakukan secara
bersamaan atau dilakukan pada suatu
tempat kerja.

2.4.2

dan

Peta Kerja Menyeluruh

Menurut Sutalaksana (1979), peta aliran proses adalah diagram yang


menunjukkan urutan-urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu, dan
penyimpanan yang terjadi selama satu proses atau prosedur berlangsung. Secara

terperinci dapat dikatakan bahwa peta aliran proses pada umumnya terbagi dalam dua
tipe, yaitu:
1. Peta aliran proses tipe bahan, ialah suatu peta yang menggambarkan kejadian
yang dialami bahan dalam suatu proses atau prosedur operasi.
2. Peta aliran proses tipe orang, pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu:
-

Peta aliran proses pekerja yang menggambarkan aliran kerja seorang


operator.

Peta aliran proses pekerja yang menggambarkan aliran kerja sekelompok


manusia, sering disebut Peta proses kelompok kerja.

3. Peta aliran proses tipe kertas, ialah suatu peta yang menggambarkan tentang
aliran suatu kertas yang menjalani sekumpulan urutan proses mengikuti prosedur
tertentu (Diyan, UMM, 2010).
Berikut adalah manfaat dari peta proses operasi :
1) Mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya
2) Dapat

memperkirakan

kebutuhan

akan

bahan

baku

dengan

memperhitungkanefisiensi pada setiap elemen operasi/pemeriksaan


3) Dapat menentukan pola tata letak operasi dan aliran pemindahan bahannya
4) Untuk perbaikan prosedur dan tata kerja yang sedang dipakai
Peta kerja keseluruhan yaitu menganalisis kondisi kerja pada seluruh area lantai
produksi. Macam-macam peta kerja menyeluruh adalah :
1. Diagram aliran

Merupakan suatu gambaran menurut skala dari susunan lantai dan gedung yang
menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam Peta Aliran Proses.
Kegunaan dari Diagram Aliran adalah sebagai berikut :
a. Lebih memperjelas suatu Peta Aliran Proses, apalagi jika arah aliran
merupakan faktor yang penting.
b. Menolong dalam perbaikan tata letak tempat kerja
2. OPC Operation Process Chart (Peta Proses Operasi)
Diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami
bahan baku (urutan operasi dan pemeriksaan) sampai menjadi produk jadi ataupun
komponen. Kegunaannya adalah :
a.
Dapat mengetahui kebutuhan mesin dan penganggarannya.
b.
Dapat memperkirakan kebutuhan akan bahan baku
c.
Sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik.
d.
Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang sedang dipakai.
3. Peta Aliran Proses
Diagram yang menunjukkan urut-urutan operasi, pemeriksaan, transportasi,
menunggu dan penyimpanan yang terjadi selama suatu proses atau prosedur
berlangsung, serta memuat pula informasi-informasi yang diperlukan untuk analisa
seperti waktu yang dibutuhkan dan jarak pemindahan. Setelah kita mempunyai
gambaran tentang keadaan umum dari proses yang terjadi, seperti yang
diperlihatkan dalam Peta Proses Operasi, Peta Aliran Proses menggambarkan setiap
komponen dalam pembentukan produk secara rinci.
4. MPPC Multiple Product Process Chart (Peta Produk Proses Banyak).
Peta untuk menganalisis aliran process dari berbagai macam/banyak produk
yang menggunakan mesin proses yang sama tapi dengan urutan proses yang
berbeda beda. Tata letak fasilitas dikelompokkan menurut jenis proses.
5. Assembly Chart
Gambaran grafis yang menunjukkan aliran komponen dari perakitan sampai
menjadi finish produk. Lingkaran yang menunjukkan rakitan atau rakitan-bagian
tidak selalu harus menunjukkan lintasan stasiun kerja atau lintasan rakitan atau
bahkan lintasan orang, tapi hanya benar-benar menunjukkan urutan operasi yang
harus dikerjakan. Waktu yang diperlukan oleh tiap operasi akan menentukan akan
menetukan apa yang harus dilakukan operator. Tujuan utama dari peta rakitan

adalah untuk menunjukkan keterkaitan , yang dapat juga digambarkan oleh sebuah
gambar terurai. Teknik-teknik ini dapat juga digunakan untuk mengajar pekerja
yang tidak ahli untuk mengetahui urutan suatu rakitan yang rumit (Apple,1990).
2.4.3

Peta Kerja Setempat

Peta kerja setempat yaitu menganalisa kondisi kerja untuk satu area atau
sebagian area kerja. Macam-macam peta kerja setempat yaitu :

1. MMPC Man Machine Process Chart (Peta Pekerja & Mesin)


-

Untuk menganalisa keseimbangan waktu kerja antara kerja manusia


(operator) dan kerja mesin.

Disebut juga string diagram tujuan penggunaannya untuk menentukan beban


operator/menghitung jumlah mesin yang dapat dilayani tiap operator dan
menentukan strategi pengupahan.

2. GPC Gang Process Chart (Peta Kelompok Kerja) yaitu peta untuk pekerjaan yang
memerlukan kerja sama yang baik dari sekelompok pekerja: pergudangan,
pemeliharaan, atau pekerjaan-pekerjaan pengangkutan material. Tujuan dari peta
kerja ini adalah meminimumkan waktu menunggu sehingga bisa mengurangi
ongkos produksi atau proses dan mempercepat waktu penyelesaian produksi atau
proses.
3. Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan adalah Peta yang menggambarkan semua
gerakan-gerakan saat bekerja dan waktu menganggur yang dilakukan oleh tangan
kiri dan tangan kanan, juga menunjukkan perbandingan antara tugas yang
dibebankan tangan kiri dan tangan kanan ketika melakukan suatu pekerjaan. Peta
tangan kanan dan kiri menggambarkan sketsa gerakan-gerakan saat benkerja dan
menganggur, diantaranya:

1) Mengembangkan gerakan dan mengurangi kelelahan


2) menghilangkan atau mengurangi gerakan-gerakan yang tidak efisien dan
produktif
3) menganalisa letak-letak stasiun kerja
4) Alat melatih pekrja lain dengan cara yang ideal

2.5

Presendence Diagram
Presedence diagram digunakan sebelum melangkah pada penyelesaian

menggunakan metode keseimbangan lintasan. Precedence diagram sebenarnya


merupakan gambaran secara grafis dari urutan operasi kerja, serta ketergantungan pada
operasi kerja lainnya yang tujuannya untuk memudahkan pengontrolan dan perencanaan
kegiatan yang terkait di dalamnya (Baroto, 2002).
Presedence diagram memiliki jaringan kerja yang lebih sederhana karena
kegiatan atau tugas tugas digambarkan pada node. Metode menggambarkan kegiatan
pada node, yang dalam hal ini garis panah merupakan hubungan logis antar kegiatan,
disebut metode diagram Activity on Node (AON).Diagram AON akanmemfokuskan
pada kegiatan yang berlangsung.
Untuk menggambarkan kegiatan dalam presedence diagram, didasarkan pada
hubungan kegiatan yang mendahului (predecessor) atau hubungan kegiatan yang
mengikuti (successor). Berikut beberapa keterangan antar kegiatan:
Tabel 2.2 Contoh Presedence Diagram

AOA/CPM
AON/PDM
(a) Kegiatan B dimulai setelah kegiatan A selesai

Keterangan
A predecessor B,

B successor A
(b) Kegiatan B dan C dapat dimulai setelah kegiatan A selesai
A predecessor B dan C, B
dan C successor A

(c) Kegiatan C dan D dapat dimulai setelah kegiatan A dan B selesai


A dan B predecessor C
dan

D,

dan

Dsuccessor A dan B
(d) Hubungan ketergantungan dengan memakai dummy pada AOA
A

dan

menjadi predecessor C
karena

ada

kegiatan dummy dari B ke


C di AOA
Pada tabel diatas, termasuk terdapat konsep kegiatan dummy yang disimbolkan
dengan garis panah putus-putus (- - >). Kegiatan dummy merupakan kegiatan semu
yang durasinya nol (tidak membutuhkan sumber daya), yang diselipkan ke dalam
jaringan untuk menjaga logika pada jaringan. Menurut Herjanto (2008), terdapat dua
jenis kegiatan dummy, yaitu grammatical dummy dan logical dummy.
a

Gramatical dummy
Gramatical dummy adalah dummy yang

digunakan

untuk

menghindari

kerancuan penyebutan suatu kegiatan jika ditemukan dua atau lebih kegiatan
yang berasal dari peristiwa yang sama dan berakhir pada peristiwa yang sama
pula, contoh: tiga kegiatan A, B, dan C pada Gambar 2.a, yang mana A dan B
dimulai dan berakhir pada waktu yang sama, dan C tidak dapat dimulai setelah A
dan B selesai. Kondisi A dan B dimulai dan berakhir pada waktu yang sama ini
sulit dibedakan oleh algoritma penjadwalan pada komputer karena yang dibaca
oleh komputer adalah peristiwa/node.

(a) Gambaran Rancu

(b) Gambaran Jelas

(c) Gambaran Jelas

Gambar 2.1 Gramatical dummy

Logical Dummy
Logical Dummy dipergunakan untuk memperjelas hubungan antar kegiatan.
Perhatikan penggambaran diagram yang salah dalam kolom 3 pada Tabel 2,
diagram tersebut dapat dibaca C dan D dapat dimulai setelah A dan B selesai.
Padahal maksud sesungguhnya adalah D dapat dimulai setelah A dan B selesai,
sedangkan

hanya

membutuhkan

sebagai predecessor.

Untuk

menggambarkan logika ini, kita memerlukan dummy untuk memperjelas


maksud tersebut, seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini

Kegiata

Predecesso

n
A
B
C
D

A
A, B

Salah

Benar

Gambar 2.2 Logical dummy

2.6

Assembly Chart
Assembly Chart atau disebut juga Peta Rakitan, adalah gambaran grafis dari

urutan-urutan aliran komponen dan rakitan-bagian (sub assembly) ke rakitan suatu


produk. Akan terlihat bahwa peta rakitan menunjukkan cara yang mudah untuk
memahami (Sri Yuliati, 2010) :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Komponen-komponen yang membentuk produk


Bagaimana komponen-komponen ini bergabung bersama
Komponen yang menjadi bagian suatu rakitan-bagian
Aliran komponen ke dalam sebuah rakitan
Keterkaitan antara komponen dengan rakitan-bagian
Gambaran menyeluruh dari proses rakitan
Urutan waktu komponen bergabung bersama
Suatu gambaran awal dari pola aliran bahan

Standar Pengerjaan dari Assembly Chart adalah sebagai berikut (Apple,1990) :


1.

Operasi terakhir yang menunjukkan rakitan suatu produk


digambarkan dengan lingkaran berdiameter 12 mm dan harus dituliskan

operasi itu di sebelah kanan lingkaran tersebut.


2.
Gambarkan garis mendatar dari lingkaran kearah kiri,
tempatkan lingkaran berdiameter 6 mm pada bagian ujungnya, tunjukkan setiap
komponen (nama, nomor komponen, jumlah, dsb) yang dirakit pada proses
tersebut.
3.

Jika yang dihadapi adalah rakitan-bagian, maka buat garis


tadi sebagian dan akhiri dengan lingkaran berdiameter 9 mm, garis yang

menunjukkan komponen mandiri harus ditarik ke sebelah kiri dan diakhiri


4.

dengan diameter 6 mm.


Jika operasi rakitan terakhir dan komponen-komponennya
selesai dicatat, gambarkan garis tegak pendek dari garis lingkaran 9 mm ke
atas, memasuki lingkaran 12 mm yang menunjukkan operasi rakitan sebelum

5.

operasi rakitan yang telah digambarkan pada langkah 2 dan langlah 3.


Periksa kembali peta tersebut untuk meyakinkan bahwa
seluruh komponen telah tercantum, masukkan nomer-nomor operasi rakitan
bagian ke dalam lingkaran (jika perlu), komponen yang terdaftar di sebelah kiri
diberi nomor urut dari atas ke bawah bagian sub assembly.

Gambar 2.3 Assembly Chart

Lingkaran yang menunjukkan rakitan atau rakitan-bagian tidak selalu harus


menunjukkan lintasan stasiun kerja atau lintasan rakitan atau bahkan lintasan orang, tapi
hanya benar-benar menunjukkan urutan operasi yang harus dikerjakan. Waktu yang
diperlukan oleh tiap operasi akan menentukan akan menetukan apa yang harus
dilakukan operator.
Tujuan utama dari peta rakitan adalah untuk menunjukkan keterkaitan antara
komponen, yang dapat juga digambarkan oleh sebuah gambar-terurai.Teknik-teknik
ini dapat juga digunakan untuk mengajar pekerja yang tidak ahli untuk mengetahui
urutan suatu rakitan yang rumit (Sri Yuliati, 2010).
2.7

Bill Of Material
Bill of Material (BOM) merupakan inti dari sistem manufaktur yang

menunjukkan gambaran komponen produk pada tingkat tertentu. Ada beberapa definisi
dari BOM, yaitu:

1. Sebuah daftar jumlah komponen, campuran bahan, dan bahan baku yang
diperlukan untuk membuat suatu produk. BOM tidak hanya menspesifikasi
produk tapi juga berguna untuk pembebanan biaya dan dapat dipakai sebagai
daftar bahan yang harus dikeluarkan untuk karyawan produksi atau perakitan.
2. Sebuah daftar jumlah komponen, campuran bahan, dan bahan baku yang
diperlukan untuk membuat suatu produk.
3. Sebuah daftar hierarki dari material (component, subassembles, ingredent..)
yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah produk, menunjukkan jumlah
setiap item yang dibutuhkan. Informasi-informasi lain mungkin juga
dimasukkan dalam BOM untuk planning dan costing.
4. Sebuah daftar dari komponen-komponen yang menyusun sebuah sistem.
Contohnya, sebuah BOM dari sebuah RUMAH terdiri dari semen, balok, kayu,
atap, pintu, jendela, listrik, pemanas dkk. Setiap subassembly juga terdiri dari
sebuah BOM; sistem pemanas disusun dari perapian, salutan pipa, dll.
5. Dokumen yang digunakan oleh sebuah perusahaan manufaktur atau bisnis
lainnya untuk meminta material dari inventory yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan konsumen. BOM menunjukkan spesifikasi dari setiap item dan
wakil dari perusahaan kepada pelanggan.Penghasil industri barang dan bahan
mentah

dapat

mendapat

mengetahui

kebiasaan

membeli

pelanggan-

pelanggannya dari informasi-informasi dalam BOM. BOM juga digunakan


untuk keperluan accounting dengan tujuan untuk mengkalkulasi harga dari
produk yang dibuat.
6. Sebuah daftar dari raw materials, sub-assemblies, intermediate assemblies, subcomponent, parts dan jumlah dari kebutuhan untuk mengolah produk akhir.
Ada beberapa modul yang terdapat dalam Bill Of Material (BOM) yaitu:
1. Bahan langsung (direct material) adalah bahan yang menjadi bagian tak
terpisahkan dari produk jadi dan dapat ditelusuri secara fisik dan mudah ke
produk tersebut. Contoh ATAP untuk membuat sebuah rumah.
2. Tenaga kerja langsung (direct labour) / tenaga kerja manual (touch labour)
a. Digunakan untuk biaya tenaga kerja yang dapat ditelusuri dengan mudah
ke produk jadi.
b. Contoh biaya untuk tukang kaca dalam membuat sebuah rumah.
3. Biaya overhead pabrik (manufacturing overhead) adalah biaya overhead
mencakup semua biaya produksi yang TIDAK termasuk dalam bahan langsung

dan tenaga kerja langsung. Biaya overhead termasuk biaya bahan tidak
langsung, tenaga kerja tidak langsung, pemeliharaan dan perbaikan, dsb
Struktur BOM terbagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:
1

Struktur standar (tree structure/pyramid structure)


Sub-assemblies lebih banyak dibandingkan dengan produk akhir dan komponen
lebih banyak daripada subassemblies. Hanya sedikit jumlah produk akhir yang
dibuat dari komponen-komponen penyusunnya. Produk akhir ini disimpan dalam
stok untuk pengiriman. Berikut adalah gambar Struktur Standart :

Gambar 2.4 Struktur Standart

Struktur Modular (bourglas structure)


Subassemblies/modular lebih sedikit dibanding produk akhir dan komponen lebih
banyak daripada subassemblies. Dalam stuktur modular banyak produk akhir yang
dibuat dari subassemblies yang sama kemudian disimpan untuk assembly untuk
memenuhi pesanan pelanggan. Gambar struktur modular adalah sebagai berikut:

Gambar 2.5 Struktur BOM Modular

Struktur Inverted
Subassemblies lebih sedikit dibanding dengan produk akhir dan jumlah komponen
dan bahan baku lebih sedikit dibanding dengan subassemblies. Dalam struktur
inverted banyak produk akhir dibuat dari sejumlah raw material yang terbatas
berdasarkan pada pesanan pelanggan. Struktur produk adalah sebagai berikut :

Gambar 2.6 Struktur BOM Inverted

Format yang digunakan dalam penyusunan Bill Of Material (BOM) adalah sebagai
berikut:

Single-Level BOM
Menampilkan assembly atau sub-assembly dengan hanya satu level children.
Menampilkan komponen yang langsung dibutuhkan untuk membuat assembly
atau sub-assembly.

Indented BOM
Menampilkan level item tertinggi mendekati margin kiri dan komponen yang
digunakan pada item ini lebih menjorok ke margin sebelah kanan.
Modular BOM
Adalah tipe dari BOM dan elemen kritis dalam menentukan stuktur produk dari
produk akhir. Modular BOM menentukan komponen material, dokumen, bagianbagian dan gambar-gambar rekayasa yang dibutuhkan untuk melengkapi sebuah
sub-assembly. Selama modular BOM sebagian besar berhubungan dengan
produk fisik, konsep tersebut akan dapat digunakan dalam berbagai macam
industri (contoh software, medical records). Modular BOM digunakan oleh
sistem informasi modern untuk melayani berbagai macam tujuan seperti
menentukan komponen-komponen yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah
sub-assembly, dan menyediakan informasi biaya untuk setiap komponen dan
rolled

up

informasi

untuk

keseluruhan

sub-assembly.

Untuk produk-produk yang dapat dikonfigurasi/berbasis pilihan (contoh


automobile, PC), perusahaan harus merencanakan setiap kombinasi dan
permutasi untuk setiap option dan memastikan bahwa mereka dapat memenuhi
kebutuhan konsumen. Dengan struktur Modular BOM, perusahaan dapat
merencanakan permintaan untuk setiap modul independen dari setiap permintaan
produk akhir dengan mengestimasi tingkat popularitas modul sub-assembly.
Manfaat dari penyusunan dan pembuatab Bill Of Materil (BOM) adalah sebagai
berikut:
1

Sebagai alat pengendali produksi yang menspesifikasikan bahan-bahan


kandungan yang penting dari suatu produk (bahan-bahan mentah dan
komponen), pesanan yang harus digabungkan dan seberapa banyak yang

dibutuhkan untuk membuat satu batch


Untuk peramalan (forecasting) barang yang keluar masuk dan inventori
maupun transaksi produksi dan bisa menghasilkan pesanan-pesanan

produksi dari pesanan pelanggan


Menghitung berapa banyak yang dapat diproduksi berdasarkan segala
keterbatasan sumber daya yang ada pada saat kita ini. Apabila sumber daya

yang ada tidak mencukupi, sistem dapat menghitung lagi berapa sumber
daya yang diperlukan sekaligus membantu dalam proses pengadaan barang.
Ketika hendak mendistribusikan hasil produksi, sistem juga dapat
menentukan cara pembuatan dan pengangkutan yang optimal kepada tujuan
yang ditentukan pelanggan. Dalam proses ini segala aspek yang
berhubungan dengan keuangan akan tercatat dalam sistem tersebut termasuk
4

menghitung berapa biaya produksi.


Menjamin bahwa jumlah bahan yang tepat telah dikirim ke tempat yang
tepat pada waktu yang tepat.

Tujuan Planning dari pembuatan Bill Of Material (BOM) adalah sebagai berikut:
1) Mengijinkan perencana untuk memenuhi tujuan-tujuan operasional maupun
non operasional lainnya
2) Memudahkan penjadwalan produksi induk (MPS) atau perencanaan material
(MRP).
3) Pendekatan planning BOM akan efektif apabila terdapat perubahan proses
yang meningkat dan lingkungan yang kompetitif serta dinamik
2.8

Melakukan Pengukuran Waktu


2.8.1
Waktu Siklus
Waktu siklus atau cycle time adalah waktu yang diperlukan untuk membuat satu

unit produk pada satu stasiun kerja. Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan
elemen-elemen kerja pada umumnya akan sedikit berbeda dari siklus ke siklus lainnya,
sekalipun operator bekerja pada kecepatan normal atau uniform, tiap-tiap elemen dalam
siklus yang berbeda tidak selalu akan bisa diselesaikan dalam waktu yang persis sama
(Wignjosoebroto, 2000).
Waktu siklus dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

................................................................(1)

Dimana:
X = Waktu Siklus
x = Waktu pengamatan
n= Jumlah pengamatan yang dilakukan
Untuk Mengetahui apakah jumlah pengamatan yang dilakukan sudah memenuhi
syarat (mencukupi) atau masih kurang dapat ditentukan dengan rumus:

...........................................(2)
2.8.2

Performance Rating dengan Metode Westing House dan Waktu

Normal
Performance Rating adalah kegiatan evaluasi kecepatan atau tempo kerja
operator pada saat pengukuran kerja berlangsung. Kecepatan usaha, tempo maupun
performance kerja semuanya menunjukkan kecepatan gerakan operator pada saat
bekerja.Tujuan

diterapkannya

performace

rating

adalah

untuk

menunjukkan

kemampuan kerja operator pada saat bekerja agar bisa ditentukan waktu normal pada
suatu operasi kerja (Wignjosoebroto, 2000).
Westing House Company (1927) lebih lengkap dari Bedaux. Disini rating
didasarkan oleh empat faktor, yaitu :
1. Keterampilan (Skill)
Keterampilan didefenisikan sebagai kemampuan mengikuti cara kerja yang
ditetapkan. Keterampilan debagi dalam 6 kelas yaitu : super skill, excellent, good,
average, fair dan poor skill.
2. Usaha (Effort)
Usaha merupakan kesungguhan yang ditunjukkan oleh operator ketika melakukan
pekerjaan. Usaha juga terbagi dalam 6 kelasa, yaitu :Excessive, Excelent, Good,
Avarage, Fair dan Poor.
3. Kondisi kerja (Working condition)

Kondisi kerja adalah kondisi fisik lingkungan kerja, seperti pecahnya, temperatur
dan kebisingan ruangan. Kondisi ini juga terbagi atas enam kelas yaitu :Ideal,
Excellent, Good, Avarage, Fair dan Poor. Pada dasarnya kondisi ideal adalah
kondisi paling cocok untuk pekerjaan yang bersngkutan, yaitu yang memungkinkan
performance maksimal dari operator.
4. Keajegan (consistency)
Keajegan diperlukan karena pada kenyataannya pada setiap pengukuran waktu
angka - angka yang dicatat tidak pernah sama.
Untuk ini, westing house telah membuat suatu tabel performance rating yang
berisikan nilai nilai angka yang berdasarkan tingkatan yang ada untuk masing
masing faktor tersebut sesuai dengan yang tertera pada tabel berikut Sutalaksana
(1979):
Tabel 2.3 Tabel Performance Rating Sistem Westinghouse

Tabel 2.4 Tabel Performance Rating Sistem Westinghouse (2)

2.8.3
Allowance
Allowance adalah suatu Kelonggaran yang diberikan kepada pekerja dalam
menyelesaikan pekerjaannya dan biasanya diberikan untuk tiga hal yaitu untuk
kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan hambatan hambatan yang tidak
dapat dihindarkan. Ketiganya ini merupakan hal yang secara nyata dibutuhkan oleh
pekerja, dan yang selam pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat, ataupun dihitung.
Karenanya sesuai pengukuran dan setelah mendapatkan waktu normal, kelonggaran
perlu ditambahkan Sutalaksana (1981).
1 Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi.

Yang termasuk kedalam kebutuhan pribadi disini adalah, hal hal seperti minum
sekedarnya untuk menghilangkan rasa haus, kekamar kecil, bercakap cakap
dengan teman sekerja sekedar menghilangkan ketegangan ataupun kejenuhan dalam
bekerja. Kebutuhan kebutuhan ini jelas terlihat sebagai sesuatu yang mutlak; tidak
bisa misalnya, seseorang diharuskan terus bekerja dengan rasa dahaga, atau
melarang pekerja untuk sama sekali tidak bercakap cakap sepanjang jam jam
kerja. Larangan demikian tidak saja merugikan pekerja (karena merupakan tuntutan
psikologi dan fisiologi yang wajar) tetapi juga merugikan perusahaan karena
dengan kondisi demikian pekerja tidak akan dapat bekerja dengan baik bahkan
2

hampeir dapat dipastikan produktivitasnya menurun.


Kelonggaran untukMenghilangkan rasa Fatique.
Rasa fatique tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi baik jumlah
maupun kwalitas. Kerenanya salah satu cara untuk menentukan besarnya
kelonggaran ini adalah dengan melakukan pengamatan sepanjang hari kerja dan
mencatat pada saat saat dimana hasil produksi menurun. Tetapi masalahnya
adalah kesulitan dalam menentukan pada saat saat mana menurunnya hasil
produksi yang disebabkan oleh timbulnya rasa fatique karena masih banyak

kemungkinan lain yang dapat menyebabkannya.


Kelonggaran untuk Hambatan hambatan yang tidak terhindarkan.
Dalam melaksanakan pekerjaanya, pekerja tidak akan lepas dari berbagai
hambatan ada hambatan yang dapat dihindarkan seperti mengobrol yang
berlebihan dan mengaggur dengan sengaja ada pula hambatan yang tidak dapat
dihindarkan karena berada diluar kekuasaan pekerja untuk mengendalikannya. Bagi
hamabtan yang pertama jelas tidak ada pilihan selain menghilangkannya sedangkan
bagi yang terakhir walaupun harus diusahakan serendah mungkin, hambatan akan
tetap ada dan karenayan harus diperhitungkan dalam waktu baku.
Beberapa contoh yang termasuk kedalam hambatan ang tidak terhindarkan adalah:

Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas.


Melakukan penyesuaian penyesuaian mesin.
Memperbaiki kemacetan kemacetan singkat seperti mengganti alat potong

yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya.


Memasang peralatan potong.
Mengambil alat alat khusus atau bahan bahan khusus dari gudang.

2.8.4

Hambatan hambatan karena kesalahan pemakaian alat ataupun bahan.


Mesin mati karena aliran listrik.
Waktu Baku

Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja
normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam suatu sistem kerja
yang terbaik atau biasa didefinisikan, menghitung waktu yang diperlukan untuk merakit
1 produk dengan memperhatikan elemen-elemen gerakan operator. Dengan demikian
waktu baku tersebut dapat diperoleh dengan menagplikasikan rumus berikut
(Wignosubroto, 2002)

.......(3)
2.8.5

Output Standard

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 1.1 Gambar Metodologi Proaktikum

Prosedur praktikum modul 2 Perancangan Sistem Kerja adalah dimulai dengan


melakukan proses perakitan dengan input yang diketahui berupa Part List Tamiya
kemudian dilanjutkan dengan membuat Bill of Material untuk mengetahui materialmaterial penyusun yang diperlukan untuk memproduksi Tamiya mini 4WD, selanjutnya
dibuat Method Design yaitu mendesain metode yang akan dipakai. Proses selanutnnya
adalah membuat Assembly Chart yang berguna untuk mengetahui urutan proses
perakitan Tamiya Mini 4WD. Langkah selanjutnya adalah membuat Peta Tangan Kanan
dan Tangan Kiri dengan menggunakan input berupa waktu dari tiap operasi kerja.
Setelah membuat Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri dilanjutkan dengan menentukan
waktu standar (waktu baku) yang dibutuhkan oleh operator untuk menyelesaikan
pekerjaannya. Setelah itu membuat Precendence Diagram yang bertujuan untuk
mengetahui urutan operasi kerja dengan menggunakan input daftar operasi kerja yang
ditentukan.

BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1

Pengumpulan Data
4.1.1
Daftar Operasi Kerja
4.1.2
Part List Tamiya
4.2.1
Assembly Chart
4.2.2
Bill Of Material
4.2.3
Layout Meja Pearakitan
4.2.4
Peta Kerja Tangan Kanan dan Tangan Kiri
4.2.5
Presentase Keseimbangan Gerak Perakitan
4.2.6
Presentase Efektif dan Inefektif Perakitan
4.2.7
Penentuan Waktu Baku
4.2.7.1
Allowance
Tabel 4. Tabel Perhitungan Allowance

FAKTOR
A
.
B
.

Tenaga Yang
Dikeluarkan
Dapat
Diabaikan
Sikap Kerja
Duduk

C
.

Gerakan Kerja
Normal
Kelelahan
Mata
D
Pandangan
.
Yang TerputusPutus
Keadaan
E Temperatur
.
Tempat Kerja
Normal
Keadaan
F. Atmosfer
Baik
Keadaan
G
Lingkungan
.
Yang Baik
Sub Total
Kebutuhan

PEKERJAAN

KELONGGARAN
%

KELONGGARA
N%

Bekerja Dimeja,
Duduk (Tanpa
Beban)

0,0 6,0

Bekerja Duduk,
Ringan

0,0 1,0

Ayunan Bebas

Menggunakan
Alat (Pencahayaan
Baik)

0 6,0

Temperatur 22 0C
28 0C

05

2,5

Ruang
Berventilasi Baik,

Bersih,Cerah,
Bising Rendah

2 2,5

10
2,5

Pria

Pribadi
Total Allowance

12 %

4.2.7.2
Penentuan Waktu Normal dan Waktu Baku
1. Memasang Skrup 1 pada Bumper
Waktu Siklus = 5,11 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 1

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 1

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Cukup dekat
Dengan

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05
Jadi, performance rating : p = p1 x p2

= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
=5,11 x 1.1235
= 5.741085 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 5.741085 x

100
100 12

= 6.52396 detik
2. Memasang bumper pada chasis Assy
Waktu Siklus = 16,52 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 2

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 2

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

terpakai

2.

Pedal kaki

3.

Penggunaan tangan

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan H

Penyesuaian
(%)
1
0
0

saling bantu atau


bergantian
Kondisi mata dengan

4.

Cukup dekat

tangan

Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,07 = 1,07


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,07
= 1.1449
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 16,52 x 1.1449
= 18,913749 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 18,913749 x

100
100 12

= 21,492895 detik
3. Memasang sekrup 2 pada chasis assy
Waktu Siklus = 16,10 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 3

No
1.
2.
3.
4.

Faktor
Skill
Effort
Kondisi Kerja
Konsistensi

Kelas
Good
Good
Good
Average

Lambang
C2
C2
C
D

+0,03
+0,02
+0,02
0,00

Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 3

No
1.

Keadaan

Lambang

Anggota

badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,07 = 1,07


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,07
= 1.1449
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 16,10 x 1.1449
= 18,43289 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 18,43289 x

100
100 12

= 20,946466 detik
4. Memasang baut roller kiri depan pada roller kiri
Waktu Siklus = 7,35 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 4

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 4

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Cukup dekat
Dengan

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05

= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 7,35 x 1.1235
= 8,257725 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 8,257725 x

100
100 12

= 9,383778 detik
5. Memasang roller kiri depan assy pada chasis assy
Waktu Siklus = 10,71
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 5

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 5

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

terpakai

2.

Pedal kaki

3.

Penggunaan tangan

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan H
saling bantu atau

Penyesuaian
(%)
1
0
0

bergantian
Koordinasi

4.

mata

Cukup dekat

dengan tangan

Perlu kontrol dan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

penekanan
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,07 = 1,07


Jadi, performance rating :

= p1 x p2
= 1,07 x 1,07
= 1,1449

Waktu Normal
Waktu normal

= waktu siklus x performance rating


= 10,71 x 1,1449
= 12,261879 detik

Waktu Baku
Wb
=

Wn x

= 12,261879 x

100
100 12

= 13,933953 detik
6. Memasang baut roller kanan depan pada roller kanan
Waktu Siklus = 5,04 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 6

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Objektif
Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 6

No
1.

Keadaan

Lambang

Anggota

badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 5,04 x 1.1235
= 5,66244 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 5,66244 x

100
100 12

= 6,4345909 detik

7. Memasang roller kanan depan assy pada chasis assy


Waktu Siklus = 12,67
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 7

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 7

No
1.

Keadaan

Lambang

Anggota

badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi

mata

Cukup dekat

dengan tangan

Perlu kontrol dan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

penekanan
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,07 = 1,07


Jadi, performance rating :

= p1 x p2
= 1,07 x 1,07
= 1,1449

Waktu Normal

Waktu normal

= waktu siklus x performance rating


= 12,67 x 1,1449
= 14,505883 detik

Waktu Baku
Wb
=

Wn x

= 14,505883 x

100
100 12

= 16,48395 detik
8. Memasang baut roller kiri tengah pada roller kiri tengah
Waktu Siklus = 5,32 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 8

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 8

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

Cukup dekat

Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 5,32 x 1.1235
= 5,97702 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 5,97702 x

100
100 12

= 6,792068 detik
9. Memasang roller kiri tengah assy pada chasis assy
Waktu Siklus = 13,72
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 9

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 9

No

Keadaan
Anggota

1.

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
Koordinasi

4.

mata

Cukup dekat

dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Perlu kontrol dan


penekanan
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,07 = 1,07


Jadi, performance rating :

= p1 x p2
= 1,07 x 1,07
= 1,1449

Waktu Normal
Waktu normal

= waktu siklus x performance rating


= 13,72 x 1,1449
= 15,708028 detik

Waktu Baku
Wb
=

Wn x

= 15,708028 x

100
100 12

= 17,850032 detik
10. Memasang baut roller kanan tengah pada roller kanan tengah
Waktu Siklus = 5,74 detik

Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 10

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 10

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Cukup dekat
Dengan

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 5,74 x 1.1235

= 6,44889 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 6,44889 x

100
100 12

= 7,328284 detik
11. Memasang roller kanan tengah assy pada chasis assy
Waktu Siklus = 12,32
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 11

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 11

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.
5.

Koordinasi
dengan tangan
Peralatan

mata

Cukup dekat
Perlu kontrol dan
penekanan

J
P

2
2

6.

0,45 menggunakan

Berat beban

tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,07 = 1,07


Jadi, performance rating :

= p1 x p2
= 1,07 x 1,07
= 1,1449

Waktu Normal
Waktu normal

= waktu siklus x performance rating


= 12,32 x 1,1449
= 14,105168 detik

Waktu Baku
Wb
=

Wn x

= 14,105168 x

100
100 12

= 16,0286 detik
12. Memasang roda kiri belakang pada as roda belakang
Waktu Siklus = 8,05 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 12

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 12

No

Keadaan

Lambang

Penyesuaian
(%)

Anggota

1.

badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

bergantian
Kondisi mata dengan

4.

tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 8,05 x 1.1235
= 9,044175 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 9,044175 x

100
100 12

= 10,2774716 detik
13. Memasang gear besar pada chasis
Waktu Siklus = 5,74 detik
Performance Rating

Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 13

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 13

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Cukup dekat
Dengan

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 5,74 x 1.1235
= 6,44889 detik

Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 6,44889 x

100
100 12

= 7,3282841 detik
14. Memasang as roda belakang assy pada chasis assy
Waktu Siklus = 6,23
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 14

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 14

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi
dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

mata

Cukup dekat
Dengan

J
sedikit

O
kontrol
0,45 menggunakan B-1

2
1
2

tangan
Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06 = 1,06


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,06
= 1,1342
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 6,23 x 1,1342
= 7,06607detik
Wb

Waktu Baku
=
Wn x

= 7,06607

100
100 12

= 8,0296205 detik
15. Memasang roda kanan belakang pada chasis assy
Waktu Siklus = 3,43 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 15

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 15

No
1.

Keadaan
Anggota
terpakai

Lambang
badan Pergelangan tangan
dan jari

Penyesuaian
(%)
1

Tanpa pedal atau F


bawah kaki
Kedua
tangan

2.

Pedal kaki

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

bergantian
Kondisi mata dengan

4.

tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 3,43 x 1.1235
= 3,853605 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 3,853605 x

100
100 12

= 4,379097 detik
16. Memasang gardan pada chasis assy
Waktu Siklus = 6,72
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 16

No
1.
2.
3.
4.

Faktor
Skill
Effort
Kondisi Kerja
Konsistensi

Kelas
Good
Good
Good
Average

Lambang
C2
C2
C
D

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07


Objektif
Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 16

No
1.

Keadaan

Lambang

Anggota

badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi

mata

Konstan dan sedikit

dengan tangan

Dengan

5.

Peralatan

6.

Jumlah beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,07 = 1,07


Jadi, performance rating :

= p1 x p2
= 1,07x 1,07
= 1.1449

Waktu Normal
Waktu normal
= waktusiklus x performance rating
= 6,72 x 1.1449
= 7,69373 detik
Waktu Baku

Wb

Wn x

100
= 7,69373x 100 12
= 8,7428727 detik
17. Memasang gear dinamo pada dinamo
Waktu Siklus = 5,67 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 17

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 17

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Total

Cukup dekat
Dengan

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

2
5

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 5,67 x 1.1235
= 6,370245 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 6,370245 x

100
100 12

= 7,238915 detik
18. Memasang plat belakang kecil pada rumah dinamo
Waktu Siklus = 12,32
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 18

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C1
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,10 = 1,10
Objektif

+0,03
+0,05
+0,02
0,00
+0,10

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 18

No
1.

Keadaan
Anggota
terpakai

Lambang
badan Pergelangan tangan
dan jari

Penyesuaian
(%)
1

Tanpa pedal atau F


bawah kaki
Kedua
tangan

2.

Pedal kaki

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

bergantian
4.

Koordinasi

mata

dengan tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

J
sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total
6
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06 = 1,06
Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,10 x 1,06
= 1,166
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 12,32 x 1.166
= 14,36512 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 14,36512 x

100
100 12

= 16,324 detik
19. Memasang plat belakang besar pada rumah dinamo assy
Waktu Siklus = 4,83
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 19

No
1.
2.

Faktor
Skill
Effort

Kelas
Good
Good

Lambang
C2
C1

+0,03
+0,05

3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,10 = 1,10
Objektif

+0,02
0,00
+0,10

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 19

No
1.

Keadaan

Lambang

Anggota

badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi

mata

dengan tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

J
sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total
6
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06 = 1,06
Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,10 x 1,06
= 1,166
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 4,83 x 1.166
= 5,63178 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 5,63178 x
= 6,39975 detik

100
100 12

20. Memasang dinamo assy ke rumah dinamo assy


Waktu Siklus =6,96
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 20

No
1.
2.
3.
4.

Faktor
Skill
Effort
Kondisi Kerja
Konsistensi

Kelas
Good
Good
Good
Average

Lambang
C2
C1
C
D

+0,03
+0,05
+0,02
0,00
+0,1

Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,1 = 1,1


Objektif
Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 20

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi
dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

mata

Cukup dekat
Dapat

ditangani

dengan mudah
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06 = 1,06


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,06
= 1.1342
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating

= 6,96 x 1.1342
= 7,894032 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 7,894032 x

100
100 12

= 8,9704909 detik
21. Memasang rumah dinamo assy pada chasis assy
Waktu Siklus = 8,82
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 21

No
1.
2.
3.
4.

Faktor
Skill
Effort
Kondisi Kerja
Konsistensi

Kelas
Good
Good
Good
Average

Lambang
C2
C1
C
D

+0,03
+0,05
+0,02
0,00
+0,1

Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,1 = 1,1


Objektif
Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 21

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
2

bergantian
4.
5.

Koordinasi
dengan tangan
Peralatan

mata

Cukup dekat
Dapat

ditangani O

2
0

6.

dengan mudah
0,45 menggunakan

Berat beban

tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06 = 1,06


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,06
= 1.1342
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 8,82 x 1.1342
= 9,9542 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 9,9542 x

100
100 12

= 11,31159 detik
22. Memasang roda kiri depan pada as roda depan
Waktu Siklus = 4,90 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 22

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 22

No

Keadaan

1.

Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan B

Penyesuaian
(%)
1

terpakai
2.

Pedal kaki

dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

bergantian
Kondisi mata dengan

4.

tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 4,90 x 1.1235
= 5,50515 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 5,50515 x

100
100 12

= 6,2558523 detik
23. Memasang gear kecil pada chasis assy
Waktu Siklus = 4,83 detik
Performance Rating
Subjektif

Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 23

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 23

No
1.

Keadaan

Lambang

Anggota

badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Kondisi mata dengan


tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 4,83 x 1.1235
= 5,426505 detik
Waktu Baku

Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 5,426505 x

100
100 12

= 6,166483 detik
24. Memasang as roda depan assy pada chasis assy
Waktu Siklus = 8,26
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 24

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 24

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi
dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

mata

Cukup dekat
Dengan

J
sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06 = 1,06


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,06
= 1,1342
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 8,26 x 1,1342
= 9,368492 detik
Wb

Waktu Baku
=
Wn x

= 9,368492

100
100 12

= 10,646014 detik
25. Memasang roda kanan depan pada chasis assy
Waktu Siklus = 4,90 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 25

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 25

No
1.
2.

Keadaan
Anggota
terpakai
Pedal kaki

Lambang
badan Pergelangan tangan

B
dan jari
Tanpa pedal atau F

Penyesuaian
(%)
1
0

bawah kaki
Kedua
tangan
3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

bergantian
Kondisi mata dengan

4.

tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05


Jadi, performance rating : p = p1 x p2
= 1,07 x 1,05
= 1.1235
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 4,90 x 1.1235
= 5,50515 detik
Waktu Baku
Wb

= Wn x

100
100 Allowance

= 5,50515 x

100
100 12

= 6,255852 detik
26. Memasang plat depan pada chasis assy
Waktu Siklus = 4,69
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 26

No

Faktor

Kelas

Lambang

1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,10 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 26

No
1.

Keadaan

Lambang

Anggota

badan Pergelangan tangan

terpakai

dan jari
Tanpa pedal atau

2.

Pedal kaki

3.

Penggunaan tangan

Penyesuaian
(%)

saling bantu atau H

bawah kaki
Kedua
tangan
bergantian

4.

Koordinasi
dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Total

mata

Konstan dan sedikit


Dengan

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

2
8

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,08 = 1,08


Jadi, performance rating : p

= p1 x p2
= 1,07 x 1,08
= 1,156

Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 4,69 x 1,156
= 5,42164 detik
Waktu Baku
Wb
=
Wn x
=

5,42164 x

= 6,1609545 detik
27. Memasang turn on pada chasis assy
Waktu Siklus = 5,32
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 27

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C1
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,10 = 1,10
Objektif

+0,03
+0,05
+0,02
0,00
+0,10

Tabel 4. Performance Rating ObjektifOperasiKerja 27

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

bergantian

Penyesuaian
(%)
1

Koordinasi

4.

mata

dengan tangan

Konstandansedikit
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total
8
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,08 = 1,08
Jadi, performance rating : p
= p1 x p2
= 1,1 x 1,08
= 1,188
Waktu Normal
Waktu normal
= waktusiklus x performance rating
= 5,32x 1,188
= 6,32016 detik
Waktu Baku
Wb
= Wn x
= 6,32016 x
= 7,182 detik
28. Memasang penutup plat depan ke chasis assy
Waktu Siklus = 10,78
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 28

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C1
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,10 = 1,10
Objektif

+0,03
+0,05
+0,02
0,00
+0,10

Tabel 4. Performance Rating ObjektifOperasiKerja 28

No

Keadaan

1.

Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan B

Penyesuaian
(%)
1

terpakai
2.

Pedal kaki

dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

bergantian
4.

Koordinasi

mata

dengan tangan

Konstandansedikit
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total
8
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,08 = 1,08
Jadi, performance rating : p
= p1 x p2
= 1,1 x 1,08
= 1,188
Waktu Normal
Waktu normal
= waktusiklus x performance rating
= 10,78 x 1,188
= 12,80664 detik
Waktu Baku
Wb
= Wn x
= 12,80664 x
= 14,553 detik
29. Memasang pengunci dinamo pada chasis assy
Waktu Siklus = 9,38
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 29

No
1.
2.
3.
4.

Faktor
Skill
Effort
Kondisi Kerja
Konsistensi

Kelas
Good
Good
Good
Average

Lambang
C2
C1
C
D

+0,03
+0,05
+0,02
0,00

Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,10 = 1,10
Objektif

+0,10

Tabel 4. Performance Rating ObjektifOperasiKerja 29

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi

mata

dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Konstandansedikit
Dengan

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total
8
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,08 = 1,08
Jadi, performance rating : p
= p1 x p2
= 1,1 x 1,08
= 1,188
Waktu Normal
Waktu normal
= waktusiklus x performance rating
= 9,38 x 1,188
= 11,14344 detik
Waktu Baku
Wb
= Wn x
= 11,14344 x
= 12,663 detik
30. Memasang baterai pada chasis assy
Waktu Siklus = 8,82 detik

Performance Rating
Subjektif
Tabel 4.1 Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 30

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C2
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,07 = 1,07
Objektif

+0,03
+0,02
+0,02
0,00
+0,07

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 30

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi

mata

dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Konstan dan dekat


Perlu kontrol dan
penekanan
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06= 1,06


Jadi, performance rating : p

= p1 x p2
= 1,07x 1,06
= 1.1342

Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 8,82 x 1.1342

= 10.00364
Waktu Baku
Wb
= Wn x

= 10.00364 x

= 11,3677773 detik
31. Memasang penutup baterai pada chasis assy
WaktuSiklus = 7,35 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 31

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C1
2.
Effort
Good
C1
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,13 = 1,13
Objektif

+0,06
+0,05
+0,02
0,00
+0,13

Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 31

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi
dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

mata

Konstan dan dekat


Dengan

sedikit

P
kontrol
0,45 menggunakan B-1

2
2
2

tangan
Total
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,07= 1,07
Jadi, performance rating : p
= p1 x p2
= 1,13 x 1,07

= 1.2091
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 7,35 x 1.2091
= 8,886885 detik
Wb

Waktu Baku
= Wn x

= 8,886885 x

= 10,098733 detik
32. Inspeksi
WaktuSiklus = 5,18 detik
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 32

No Faktor
Kelas
Lambang
1.
Skill
Good
C1
2.
Effort
Good
C2
3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,10 = 1,10
Objektif

+0,06
+0,02
+0,02
0,00
+0,10

Tabel 4.2 Performance Rating Objektif Operasi Kerja 32

No
1.

Keadaan
Anggota
terpakai

Lambang
badan Pergelangan tangan
dan jari

Penyesuaian
(%)
1

Tanpa pedal atau F


bawah kaki
Kedua
tangan

2.

Pedal kaki

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

bergantian
4.

Koordinasi

mata

B-1

Total
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,05 = 1,05
Jadi, performance rating : p
= p1 x p2
= 1,10 x 1,05

dengan tangan

Cukup dekat
Dengan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

= 1.155
Waktu Normal
Waktu normal
= waktu siklus x performance rating
= 5,18x 1.155
= 5,9829 detik
Waktu Baku
= Wn x

Wb

= 5,9829 x

= 6,79875 detik
33. Memasang body pada chasis assy
WaktuSiklus = 5,88
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 33

No
1.
2.

Faktor
Skill
Effort

Kelas
Good
Good

Lambang
C2
C1

+0,03
+0,05

3.
Kondisi Kerja
Good
C
4.
Konsistensi
Average
D
Total
Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,10 = 1,10
Objektif

+0,02
0,00
+0,10

Tabel 4. Performance Rating ObjektifOperasiKerja 33

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi

mata

Cukup dekat

dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Berat beban

Dengan

J
sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total
6
Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06 = 1,06
Jadi, performance rating : p
= p1 x p2
= 1,10 x 1,06
= 1,166
Waktu Normal
Waktu normal
= waktusiklus x performance rating
= 5,88x 1,166
= 6,85608 detik
Waktu Baku
Wb
=

Wn x

6,85608x

7,791 detik

34. Mengunci body tamiya pada chasis assy

WaktuSiklus = 5,18
Performance Rating
Subjektif
Tabel 4. Performance Rating Subjektif Operasi Kerja 34

No
1.
2.
3.
4.

Faktor
Skill
Effort
Kondisi Kerja
Konsistensi

Kelas
Good
Good
Good
Average

Lambang
C2
C1
C
D

+0,03
+0,05
+0,02
0,00
+0,1

Sehingga performance rating subjektif p1 = 1 + 0,1 = 1,1


Objektif
Tabel 4. Performance Rating Objektif Operasi Kerja 34

No
1.

Keadaan
Anggota

Lambang
badan Pergelangan tangan

2.

Pedal kaki

B
dan jari
Tanpa pedal atau F
bawah kaki
Kedua
tangan

3.

Penggunaan tangan

saling bantu atau H

terpakai

Penyesuaian
(%)
1

bergantian
4.

Koordinasi

mata

dengan tangan

5.

Peralatan

6.

Jumlah beban

Cukup dekat
Dengan

J
sedikit

kontrol
0,45 menggunakan
tangan

B-1

Total

Sehingga performance rating objektif p2 = 1 + 0,06 = 1,06


Jadi, performance rating : p

= p1 x p2
= 1,1x 1,06
= 1,166

Waktu Normal
Waktu normal
= waktusiklus x performance rating
= 5,18 x 1,166
= 6,03988 detik

Waktu Baku
=
Wn x

Wb

= 6,03988 x
= 6,8635 detik

4.2.8

Rekapituasi Hasil Perhitungan Waktu Operasi Kerja Perakitan

Tamiya
Tabel 4. Rekap Waktu Siklus Operasi Kerja

No
.

Nama
Operasi

Memasang
bumper
belakang
pada chasis

Memasang
sekrup 1
pada chasis
assy

Memasang
sekrup 2
pada chasis
assy

PR
Subjekti
f

PR
Objekti
f

Waktu
Siklus

Waktu
Normal

Allowanc
e

Waktu
Baku

Memasang
baut roller
kiri depan
pada roller
kiri

Memasang
roller kiri
depan assy
pada chasis
assy

Memasang
baut roller
kanan depan
pada roller
kanan

Memasang
roller kanan
depan assy
pada chasis
assy

Memasang
baut roller
kiri tengah
pada roller
kiri tengah

Memasang
roller kiri
tengah assy
pada chasis
assy

10

Memasang
baut roller
kanan
tengah pada
roller kanan
tengah

11

Memasang
roller kanan
tengah assy
pada chasis
assy

12

Memasang
roda kiri
belakang
pada as roda
belakang

13

Memasang
gear besar
pada chasis

14

Memasang
as roda
belakang
assy pada
chasis assy

15

Memasang
roda kanan
belakang
pada chasis
assy

16

Memasang
gardan pada
chasis assy

17

Memasang
gear dinamo
pada
dinamo

18

19

Memasang
plat
belakang
kecil pada
rumah
dinamo
Memasang
plat
belakang
besar pada
rumah
dinamo assy

20

Memasang
dinamo assy
ke rumah
dinamo assy

21

Memasang
rumah
dinamo assy
pada chasis
assy

22

Memasang
roda kiri
depan pada
as roda
depan

23

Memasang
gear kecil
pada chasis
assy

24

25

Memasang
as roda
depan assy
pada chasis
assy
Memasang
roda kanan
depan pada
chasis assy

26

Memasang
plat depan
pada chasis
assy

27

Memasang
turn on
pada chasis
assy

28

Memasang
penutup plat
depan ke
chasis assy

29

Memasang
pengunci
dinamo
pada chasis
assy

30

Memasang
baterai
pada chasis
assy

31

Memasang
penutup
baterai pada
chasis assy

32

Inspeksi

Memasang
body pada
chasis assy
33

Mengunci
body tamiya
pada chasis
assy
34

4.2.9

Precedence Diagram

BAB V
ANALISIS DAN SARAN PERBAIKAN
5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
5.6

Analisis Proses Kerja


Analisis Assembly Chart
Analisis Bill of Material
Analisis Peta Tangan Kana dan Tangan Kiri
Analisis Layout Area Kerja/Meja Perakitan
Analisis Penentuan Performance Rating dan Allowance
5.6.1
Penentuan Performance Rating
5.6.2
Penentuan Allownace
5.7
Analisis Penentua Waktu Normal
5.8
Analisis Penentuan Waktu Baku

BAB VI
PENUTUP
6.1
6.2

Kesimpulan
Saran