Anda di halaman 1dari 10

OSMOREGULASI

Konponen utama penyusun tubuh hewan adalah air, yang jumlahnyamencapai


60-95% dari berat tubuh hewan. Air tersebar pada berbagai bagian tubuh, baik
di dalam sel (sebagai cairan intrasel:CIS), maupun diluar sel (sebagai cairan
ekstrasel:CES). CES sendiri tersebar pada berbagai bagian tubuh. Dalam CES
terlarut berbagai macam zat, meliputi berbagai macam ion, sisa metabolisme
sel, hormon. Konsentrasi setiap jenis zat dalam tubuh dapat berubah setiap saat,
tergantung pada berbagai faktor.
Sekalipun demikian hewan harus mampu mempertahankan keseimbangan
antara jumlah air dan zat terlarut pada tingkatan yang tepat. Mekanisme untuk
mengatur jumlah air dan konsentrasi zat terlarut disebut osmoregulasi. Jadi
osmoregulasi adalah proses untuk menjaga keseimbangan antara jumlah air dan
zat terlarut yang ada dalam tubuh hewan.

Pentingnya osmoregulasi bagi hewan


Proses inti dalam osmoregulasi adalah osmosis. Osmosis adalah pergerakan air
dari cairan yang mempunyai kandungan air lebih tinggi (yang lebih encer)
menuju ke cairan yang mempunyai kandungan air lebih rendah ( yang lebih
pekat). Osmosis baru akan berhenti apabila kedua larutan mencapai konsentrasi
yang sama.Apabila keadaan ini telah tercapai , berarti kedua larutan sudah
mencapai kondisi isotonis. Istilah isotonis sering digunakan untuk menyebut dua
macam larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama (isoosmotik). Istilah
tersebut sering digunakan pada saat membahas tekanan osmotik dua macam
cairan, misalnya tekanan osmotik pada cairan di dalam dan di luar sel atau
antara cairan tubuh dan air laut. (lingkungan hdup hewan}
Jika suatu larutan mempunyai konsentrasi osmotik lebih tinggi, tekanan
osmotiknya juga lebih tinggi. Larutan yang mempunyai konsentrasi osmotik lebih
tinggi daripada larutan yang lain disebut larutan hiperosmotik. Sebaliknya
larutan yang mempunyai konsentrasi omotik lebih rendah daripada larutan
lainnya dinamakan larutan hipoosmotik. Sedangkan istilah tonisitas mengacu
pada tanggapan suatu sel, jika sel tersebut diletakkan dalam larutan yang
berbeda. Jadi penentuan sifat suatu larutan/ cairan sebagai cairan hipotonis,
hipertonis, isotonis.
Mengapa hewan harus melakukan osmoregulasi? Alasan utamanya ialah karena
perubahan keseimbangan jumlah air dan zat terlarut di dalam tubuh
memungkinkan terjadinya perubahan arah aliran arah aliran air/zat terlarut
menuju ke arah yang tidak diharapkan. Misalnya, dalam keadaan tertentu air di
dalam sel epitel tubulus ginjal seharusnya bergerak dari sel tersebut ke
pembuluh darah. Akan tetapi karena tonisitas atau tekanan osmotik pada bagian
tersebut tidak dipertahankan dengan baik, kemungkinan air akan bergerak ke
arah yang tidak diharapkan, misalnya ke lumen tubulus ginjal dan selanjutnya
dikeluarkan dari ginjal. Hal ini dapat menyebabkan hewan kehilangan air secara

berlebihan, dan kondisi ini tidak diharapkan. Dari contoh tersebut, jelas bahwa
perubahan tekanan osmotik dapat menyebabkan perubahan arah aliran air/ zat
terlarut, yang mungkin berdampak tidak baik terhadap fungsi maupun struktur
sel. Dengan demikian hewan harus mengadakan osmoregulasi agar cairan di
dalam tubuhnya tetap dalam keadaan homeostasis osmotik. Akan tetapi
kenyataan menunjukkan tidak semua hewan dapat melakukan osmoregulasi
dengan baik. Hewan yang mampu melakukan osmoregulasi dengan baik disebut
hewan osmoregulator. Apabila tidak mampu mempertahankan tekanan osmotik
di dalam tubuhnya, hewan harus melakukan berbagai penyesuaian (adaptasi)
agar dapat bertahan di tempat hidupnya. Hewan yang memperlihatkan
kemampuan demikian dinamakan hewan osmokonformer. Adaptasi dapat
dilakukan oleh hewan osmokonformer, sepanjang perubahan yang terjadi
dilingkungannya tidak terlalu besar dan masih ada pada kisaran toleransi yang
dapat diterimanya. Jika perubahan keadaan lingkungan terlalu besar,
osmokonformer kemungkinan tidak dapat bertahan hidup di tempat tersebut,
dan kemungkinan akan mati. Atau dapat berpindah tempat/migrasi untuk
mencari lingkungan yang lebih sesuai.
Setiap jenis lingkungan memberikan berbagai faktor pendukung khas bagi
hewan yang hidup di dalamnya, sekaligus mengandung ancaman tertentu yang
dapat membahayakan kehidupan hewan. Demikian pula kemampuan dan jenis
organ tubuh yang dimiliki setiap hewanpun berbeda. Oleh karena itu mekanisme
osmoregulasi yang dilakukan hewan juga berbeda-beda, dan menunjukkan
adanya variasi yang sangat luas. Hal yang pasti bahwa cara yang dilakukan
hewan sepenuhnya tergantung pada kemampuan dan alat/ organ osmoregulasi
yang dimiliki, serta keadaan lingkungan masing-masing.

Osmoregulasi pada ikan yang hidup di lingkungan air laut


Elasmobranchii cairan tubuh ikan umumnya memiliki tekanan osmotik lebih
besar dari sekitarnya karena karena isi urea tinggi dan TMAO dalam tubuh
(bukan sebagai garam). Karena cairan tubuh yang hiperosmotik terhadap
lingkungannya, kelompok ikan ini cenderung menerima air melalui difusi,
terutama melalui insang. Untuk menjaga tekanan osmotiknya, kelebihan air
dikeluarkan sebagai urin. Reabsorpsi urea di ginjal tubuli juga merupakan upaya
dalam menjaga tekanan osmotik tubuhnya. Permukaan tubuh relatif impermiable
mencegah masuknya air dari lingkungan ke dalam tubuhnya.
Kebanyakan hewan laut osmokonformer, ditandai dengan adanya konsentrasi
osmotik cairan tubuhnya yang sama dengan air laut tempat hidup mereka. Hal
ini berarti bahwa mereka berada dalam keseimbangan osmotik dengan
lingkungannya ( tidak ada perolehan atau kehilangan air ). Akan tetapi ini bukan
berarti bahwa mereka berada pada keseimbangan ionik. Jadi antara air laut dan
cairan di dalam tubuh ikan terdapat perbedaan komposisi ion, yang akan
menghasilkan gradien konsentrasi. Dalam keadaan demikian, ikan memiliki
peluang untuk memperoleh masukan ion tertentu dari air laut, apabila
konsentrasi ion tersebut di laut lebih tinggi daripada yang terdapat di dalam

tubuh ikan. Pemasukan ion tersebut akan membuat cairan tubuh hewan menjadi
hiperosmotik di banding air laut, dan keadaan tersebut akan menyebabkan
terjadinya pemasukan air ke dalam tubuh ikan. Dengan cara demikian ikan
osmokonformer dapat memperoleh masukan berbagai macam zat yang
dibutuhkannya.Konsentrasi osmotik plasma ikan laut pada umumnya mendekati
sepertiga dari konsentrasi osmotik air laut. Dengan demikian mereka adalah
regulator hipoosmotik.
Teleostei laut, yang mempunyai cairan tubuh hipoosmotik terhadap air laut,
mempunyai mekanisme adaptasi tertentu yang bermanfaat untuk menghindari
kehilangan air dari tubuhnya. Pada hewan ini kehilangan air dari tubuhnya
terutama terjadi melalui insang. Sebagai penggantinya, hewan ini akan minum
air laut dalam jumlah banyak. Namun cara tersebut menyebabkan garam yang
ikut masuk ke dalam tubuh menjadi banyak pula. Kelebihan garam ini harus
dikeluarkan dari dalam tubuh. Pengeluaran kelebihan garam dalam jumlah besar
dilakukan melalui insang, karena insang ikan mengandung sel khusus yang
disebut sel klorit. Sel klorit adalah sel yang berfungsi untuk mengeluarkan NaCl
dari plasma ke air laut secara aktif
Pada Elasmobranchii memiliki masalah berupa pemasukan Na +yang terlalu
banyak ke dalam tubuhnya ( melalui insang ). Untuk mengatasi masalah
tersebut, elasmobrankhii menggunakan kelenjar khusus, yaitu kelenjar rektal,
yang sangat penting untuk mengeluarkan kelebihan Na + secara aktif. Kelenjar
rektal merupakan kelenjar khusus yang terbuka ke arah rektum dan
menyekresikan cairan yang kaya NaCl. Masalah lain yang dihadapi
elasmobrankhii ialah adanya perolehan air yang terlalu sedikit. Untuk
mengatasinya hewan menghasilkan sedikit urin. Sekalipun hanya sedikit, urin
tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mengeluarkan kelebihan NaCl.
Sejumlah mamalia laut contoh ikan lumba-lumba dan ikan paus, menghadapi
masalah pemasukan garam yang terlalu banyak ke dalam tubuhnya, yang masuk
bersamaan dengan makanan. Masalah tersebut diatasi dengan memiliki ginjal
yang efisien sehingga dapat menghasilkan urin yang sangat pekat. Dengan ginjal
semacam itu, dapat dipastikan bahwa kelebihan garam dapat dikeluarkan dari
tubuh. Urin yang dihasilkan mempunyai kepekatan 3-4 kali dari cairan
plasmanya.
Osmoregulasi pada ikan yang hidup di lingkungkungan air tawar
IKAN AIR TAWAR PADA OSEMOREGULASI
Ikan yang hidup di air tawar memiliki cairan tubuh yang hiperosmotik pada
lingkungan, sehingga air cenderung untuk masuk ketubuhnya oleh difusi melalui
permukaan tubuh semipermiable. Jika ini tidak dikendalikan atau offset, itu akan
menyebabkan hilangnya garam tubuh dan cairan tubuh mengencernya,
sehingga cairan tubuh tidak dapat mempertahankan fungsi fisiologis normal.

Ikan air tawar mempunyai cairan tubuh dengan tekanan osmotik yang lebih
tinggi dari lingkungannya (hiperosmotik/hipertonis). Berarti mereka terancam
oleh 2 hal utama, yaitu : kehilangan garam dan pemasukan air yang berlebihan.
Ikan air tawar membatasi pemasukan air (dan kehilangan ion) dengan cara
membentuk permukaan tubuh yang impermeable terhadap air. Meskipun
demikian air dan ion tetap dapat bergerak melewati insang yang relatif terbuka.
Air yang masuk ke dalam tubuh dikeluarkan dalam bentuk urin. Laju aliran urin
pada ikan air tawar jauh lebih tinggi daripada ikan laut.
Akan tetapi pengeluaran urin juga menyebabkan pengeluaran ion. Oleh karena
itu, ikan perlu melakukan transport aktif untuk memasukkan ion ke dalam
tubuhnya terutama melalui insang.
Teleostei air tawar memiliki konsentrasi osmotik yang lebih tinggi daripada air
tawar (mendekati 300 mOsm per liter).Oleh karena itu ikan ini mempunyai
peluang besar untuk memasukkan air ke dalam tubuhnya, terutama melalui
insang. Kelebihan air itu akan dikeluarkan lewat urin, namun dengan cara ini
sejumlah garampun akan hilang dari tubuh bersama urin. Sebagian garam
meninggalkan tubuh ikan melalui insang. Sebagai pengganti garam yang hilang,
ikan akan mengambil garam melalui insang dengan transport aktif. Dalam hal ini
ikan berfungsi sebagai alat untuk memasukkan garam ke dalam tubuh dengan
cara transport aktif, sekaligus untuk membuang kelebihan garam secara difusi.
Ikan air tawar berbeda secara fisiologis dengan ikan air laut dalam beberapa
aspek. Insang mereka harus mampu mendifusikan air sambil menjaga
kadar garam dalam cairan tubuh secara simultan. Adaptasi pada
bagian sisik ikan juga memainkan peran penting; ikan air tawar yang kehilangan
banyak sisik akan mendapatkan kelebihan air yang berdifusi ke dalam kulit, dan
dapat menyebabkan kematian pada ikan.
Karakteristik lainnya terkait ikan air tawar adalah ginjalnya yang berkembang
dengan baik. Ginjal ikan air tawar berukuran besar karena banyak air yang
melewatinya. Ginjal akan memompa keluar kelebihan air tersebut sebagai urine.
Ginjal mempunyai glomeruli dalam jumlah banyak dengan diameter besar. Ini
dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar
dan sekaligus memompa urine sebanyak-banyaknya. Ketika cairan dari badan
malphigi memasuki tubuli ginjal, glukosa akan diserap kembali pada tubuli
proksimalis dan garam-garam diserap kembali pada tubuli distalis. Dinding tubuli
ginjal bersifat impermeable (kedap air/ tidak dapat ditembus) terhadap air. Urine
yang dikeluarkan ikan sangat encer dan mengandung sejumlah kecil senyawa
nitrogen, sepert : Asam urat, creatin, creatinine, ammonia.
Meskipun urine mengandung sedikit garam, keluarnya air yang berlimpah
menyebabkan jumlah kehilangan garam yang cukup besar.Garam-garam juga
hilang karena difusi dari tubuh. Kehilangan garam ini diimbangi dengan garamgaram yang terdapat pada makanan dan penyerapan aktif melalui insang.

Pada golongan ikan teleostei terdapat gelembung urine (urinary bladder) untuk
menampung urine. Disini dilakukan penyerapan kembali terhadap ion-ion.
Dinding gelembung urine bersifat impermeable terhadap air
Solusi konsentrasi dalam> tubuh sebagai satu di lingkungan mencegah
masuknya air dan kehilangan garam tidak minum, kulit ditutupi dengan lendir,
osmosis melalui insang, produksi urin encer, pompa garam melalui sel-sel khusus
pada insang.

Osmoregulasi hewan pada lingkungan payau


Tidak semua hewan akuatik selamanya menetap di habitat yang tetap (air laut
dan air tawar). Sejumlah ikan laut atupun ikan air tawar pada saat-saat tertentu
masuk ke daerah payau. Lingkungan payau ialah lingkungan akuatik di daerah
pantai, yang merupakan tempat pertemuan antara sungai dan laut.
Pada beberapa jenis ikan lamprey, salmon dan belut, perpindahan antara air
tawar dan air laut merupakan bagian dari siklus hidup yang normal. Banyak
spesies bereproduksi di air tawar namun menghabiskan sebagian besar
kehidupannya di laut. misalnya salmon. Beberapa ikan, secara berlawanan, lahir
di laut dan hidup di air tawar, misalnya belut.
Ada juga hewan akuatik yang hidup menetap di daerah perairan payau. Hewan
yang demikian pasti memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap
perubahan kadar garam di habitatnya, mengingat bahwa kadar garam di daerah
payau selalu berubah
Spesies yang bemigrasi antara air laut dan air tawar membutuhkan adaptasi
pada kedua lingkungan. Ketika berada di dalam air laut, mereka harus menjaga
konsentrasi garam dalam tubuh mereka lebih rendah dari pada lingkungannya.
Sedangkan ketika berada di air tawar, mereka harus menjaga kadar garam
berada di atas konsentrasi lingkungan sekitarnya. Banyak spesies yang
menyelesaikan masalah ini dengan berasosiasi dengan habitat berbeda pada
berbagai tahapan hidup. Belut, bangsa salmon, dan lamprey memiliki toleransi
salinitas di berbagai tahap kehidupan mereka.
Belut meskipun dengan kemampuannya yang terbatas. Ketika berpindah dari air
tawar ke air laut, dalam waktu 10 hari belut akan kehilangan air secara osmotik,
yang besarnya mencapai 4% dari berat tubuhnya. Apabila hewan ini
diperlakukan sedemikian rupa sehingga tidak dapat minum air laut ( misalnya
dengan cara menempatkan balon pada esofagusnya), belut tersebut akan terus
menerus kehilangan air hingga akhirnya mengalami dehidrasi, dan segera mati
dalam beberapa hari. Namun apabila kemudian belut tersebut dibiarkan minum
kembali air laut, berat tubuh yang hilang akan segera digantikan dan mencapai
keadaan seimbang dalam waktu 1-2 hari. Pengambilan maupun pembuangan air
dan berbagai zat terlarut pada belut berlangsung melalui insang, dengan arah
aliran yang berlawanan. Akan tetapi mekanisme yang menyebabkan perubahan

arah transport zat melalui insang tersebut belum diketahui dengan jelas.
Diperkirakan mekanisme tersebut melibatkan peran hormon.
PENGARUH HORMONAL TERHADAP SEKRESI DAN OSOREGULASI
Ekskresi dan osmoregulasi di atur oleh kelenjar endokrin (hormon). Hormon
dapat mempengaruhi ginjal dengan menaikkan atau menurunkan tekanan darah
yang mengubah laju penyaringan ke dalam kapsula Bowman, yang berarti pula
mengubah jumlah cairan ekskresi. Hormon juga bisa mempengaruhi ekskresi
ginjal dengan cara tertentu pada sel tubuli ginjal untuk mengubah permeabilitas
dan laju penyerapan kembali terhadap substansi tertentu. Hormon juga
mempenyaruhi penyaringan maupun penyerapan pada insang.
osmoregulasi
Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan
menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau
organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan
konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel
menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika
terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga
berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan
oleh sel atau organisme hidup.
== Makna osmoregulasi adalah proses mengatur dan menyeimbangkan
konsentrasi asupan cairan dan pengeluaran oleh sel atau cairan tubuh organisme
hidup. Sementara pemahaman tentang osmoregulasi ikan Tekanan osmotik
cairan tubuh pengaturan sesuai untuk kehidupan ikan, sehingga proses-proses
fisiologis fungsi tubuh normal (Homeostasis). ka sel menerima terlalu banyak air
maka akan meletus, dan sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan
mengerut dan mati. Osmoregulasi juga ganda sebagai sarana untuk membuang
zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
Kebanyakan invertebrata berhabitat di laut tidak secara aktif mengelola sistem
osmosis mereka, dan dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki
osmolaritas internal yang sama dengan lingkungan sehingga tidak ada
kecenderungan untuk mendapatkan atau kehilangan air. Karena osmoconformer
paling hidup dalam lingkungan yang memiliki komposisi kimia yang sangat stabil
(di laut) maka osmoconformer yang cenderung memiliki osmolaritas konstan.
Sementara osmoregulator adalah organisme yang menjaga osmolaritas tanpa
tergantung pada lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu kemampuan untuk
mengatur ini osmoregulator kemudian dapat hidup dalam lingkungan air tawar,
darat, dan laut. Di lingkungan dengan konsentrasi rendah cairan, osmoregulator
akan merilis kelebihan cairan dan sebaliknya.
Untuk organisme akuatik, proses ini digunakan sebagai ukuran untuk
menyeimbangkan tekanan osmosa antara substansi dalam tubuh dengan
lingkungan melalui sel permeabel. Dengan demikian, semakin jauh perbedaan
tekanan osmotik antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi
metabolisme yang dibutuhkan untuk osmoregulasi mmelakukan sebagai
adaptasi, hingga batas toleransi yang mereka miliki. Oleh karena itu,

pengetahuan tentang osmoregulasi sangat penting dalam mengelola media air


pemeliharaan kualitas, terutama salinitas. Hal ini karena dalam osmoregulasi,
proses regulasi terjadi melalui konsentrasi ion dan air dalam tubuh dengan
kondisi di lingkungan.
Ion dan air pada ikan terjadi regulasi hipertonik, hipotonik atau isotonik
tergantung pada perbedaan (lebih tinggi, lebih rendah atau sama) konsentrasi
cairan tubuh dengan konsentrasi media1, 2. Perbedaannya dapat digunakan
sebagai strategi dalam berurusan dengan komposisi cairan ekstraselular dalam
tubuh ikan2. Untuk ikan yang hiperosmotik potadrom dengan lingkungannya
dalam proses osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion keluar ke
lingkungan dengan cara difusi. Keseimbangan cairan tubuh dapat terjadi dengan
meminum sedikit air atau tidak minum sama sekali. Kelebihan air dalam tubuh
dapat dikurangi dengan membuangnya dalam bentuk urin. Untuk ikan yang
hipoosmotik oseanodrom terhadap lingkungannya, air mengalir dari osmosa
tubuh melalui ginjal, insang dan kulit ke lingkungan, sedangkan ion ke tubuh
dengan difusi1, 2. Adapun eurihalin ikan, memiliki kemampuan untuk dengan
cepat menyeimbangkan tekanan osmotik dalam tubuh dengan media
(isoosmotik), namun karana kondisi lingkungan perairan tidak selalu tetap, maka
proses serta ikan ormoregulasi potadrom dan oseanodrom masih terjadi.
Salinitas atau garam konten adalah jumlah bahan padat dalam satu kilogram air
laut, dalam hal ini semua karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan
yodium yang telah disinkronkan dengan klorin dan bahan organik yang telah
teroksidasi. Langsung, media akan mempengaruhi salinitas tekanan osmotik
cairan tubuh ikan. Pengetahuan tentang metabolisme dapat juga dikaitkan
dengan beberapa disiplin lain, seperti genetika, toksikologi dan lainnya ilmiah
sehingga ikan yang dihasilkan dapat memiliki kualitas lebih unggul daripada
sebelumnya. Hal ini karena ikan untuk berinvestasi untuk 25-50% dari output
total dalam mengendalikan metabolisme komposisi cairan intra-dan
ekstraselularnya.
Perubahan dalam tingkat salinitas mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh
ikan, sehingga ikan untuk menyesuaikan pengaturan osmotik internal atau
bekerja sehingga proses fisiologis dalam tubuh dapat bekerja secara normal lagi.
Jika salinitas yang lebih tinggi, usaha ikan untuk menjaga ketertiban dalam
kondisi homeostasi nya tercapai, sampai batas toleransi yang mereka miliki.
Osmotik bekerja membutuhkan energi yang lebih tinggi juga. Hal ini juga
mempengaruhi waktu kepenuhan (waktu kekenyangan) ikan. Rainbow trout
seringkali digunakan sebagai sistem model untuk mempelajari rute dan
mekanisme ekskresi dan osmoregulasi. Proses osmoregulasi juga menghasilkan
produk-produk limbah seperti kotoran dan amonia, sehingga pemeliharaan yang
akan menjadi media berwarna keruh akibat jumlah kotoran ikan dirilis. Dampak
ekskresi nitrogen juga akan mempengaruhi kehidupan ikan di dalamnya. Pada
embrio rainbow trout, ekskresi nitrogen dalam bentuk urea juga dapat dikaitkan
dengan kandungan nitrogen dalam kuning telur, karena permeabilitas rendah
dari membran sel telur dari amonia.
Dampak dari produk limbah dari metabolisme pada kelangsungan hidup ikan
berdasarkan perubahan fisik dalam kualitas air, dapat diduga bahwa perubahan
tersebut juga mempengaruhi kondisi ambient ikan, yang pada gilirannya

mempengaruhi pertahanan tubuh. Setelah melewati batas toleransi, maka ikan


yang sekarat. Mengingat bahwa tidak semua ikan mati, maka dapat dipastikan
bahwa kekuatan toleransi pada populasi ikan di akuarium berbeda. Hal ini
mungkin karena perbedaan kondisi tubuh sebelum dimasukkan dalam intensitas
praktek media, termasuk parasit, tingkat stres dan lain-lain. Nitrat toksisitas di
air tawar tergolong sangat rendah (96 h LC50s> 1000 mg / L sebagai N). Hal ini
dapat dikaitkan dengan munculnya potensi masalah dalam proses osmoregulasi.
Dalam sistem dengan konsentrasi nitrat tinggi, reduksi nitrat terjadi pada
anaerobik. Nitrat di perairan laut konsentrasi kurang dari 500 mg / L untuk ikan
laut sebagian besar, tapi untuk ikan laut tropis seperti anemone (Amphiprion
ocellaris) lebih sensitif, yaitu hanya 20 mg / L.
Tingkat stres juga bervariasi tambakan dialami oleh benih di akuarium, sebagai
akibat dari perbedaan perlakuan. Lebih mendalam studi, dapat ditelusuri dengan
isi kortisol. Banyak hal berkenaan dengan kortisol selama proses metabolisme,
seperti starvasi (puasa), osmoregulasi, penyebaran penghematan energi untuk
migrasi, proses gonad, pemijahan pematangan dan selama stres yang dialami
oleh ikan itu sendiri.
Ormoregulasi mekanisme juga dapat dilacak pada tingkat sel. Sel-sel yang
pertama dihasilkan melalui mekanisme kultur sel. Penelitian tentang sel
epitelioma papulosum cyprinid (EPC), berasal dari sel epidermis ikan mas dapat
digunakan untuk menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan sel-sel di
hiper-media dan hipoosmotik. Dengan menggunakan sel kultur, ekspresi gen
dapat diamati juga bahwa bias yang terkait dengan kemampuan adaptasi dan
stres osmotik.
Aktivitas osmoregulasi juga dipengaruhi oleh stadia ikan atau Krustase dalam
kaitannya dengan salinitas. Penelitian tentang remaja dan dewasa Krustase
stadion, regulasi ionik dari Na / K-ATP menunjukkan bahwa berbeda ketika
diamati dengan aktivitas enzim Na / K-ATPase. Pada Artemia salina dan A.
franciscana aktivitas enzim meningkat sejalan dengan perkembangannya sejak
setelah menetas hingga tahap mulai berenang bebas. Dalam udang, juga
berlangsung begitu. Namun, pada orang dewasa stadion, aktivitas Na / K-ATPase
pada udang galah tidak berbeda nyata setelah diperlakukan pada salinitas
berbeda8. Studi pada osmoregulasi dalam tahap awal perkembangan ikan telah
diamati pada tingkat sel klorida extrabranchial. Sejumlah sel klorida yang
terkandung dalam membran kantung kuning telur embrio dan larva ikan nila
disesuaikan stadion dalam air tawar (FW) dan air asin (SW). Sel klorida dalam SW
seringkali dalam bentuk kompleks multiseluler bersama dengan sel aksesori
yang berdekatan. Sementara di FW, sel klorida yang terletak di kondisi individu.
Klorida tes dan X-ray Mikroanalisis menunjukkan bahwa sel-sel klorida dalam SW
dalam kompleks, fungsi definitif dari sekresi klorida. Namun, setelah sel tersebut
dipindahkan ke lingkungan SW, membentuk sel tunggal juga berubah sebagai
respons terhadap lingkungan baru yang kompleks yang SW. Umumnya, sel
klorida extrabranchial memainkan peran penting dalam mengontrol
osmoregulasi sampai tahap sel insang klorida bekerja fungsional.
Penemuan terakhir adalah tentang morfologi fungsional dari sel klorida pada ikan
membunuh, Fundulus heteroclitus, ikan euryhaline air laut (SW).
Immunocytochemical deteksi dilakukan pada sel klorida dengan anti-Na + / K +-

ATPase dalam distribusi klorida sel dari proses transisi selama tahap-tahap awal
kehidupan. Sel klorida muncul dalam membran kantung kuning fase awal embrio
dan kemudian di kulit selama tahap terakhir dari embrio. Perbedaan morfologi
antara SW-jenis sel klorida dan FW diidentifikasi dalam killifish dewasa
disesuaikan dengan SW dan FW. Kedua jenis sel klorida, aktif di kedua
lingkungan, tetapi berbeda dalam fungsi transpor ion. Transfer langsung dari SW
ke killifish FW, sel tipe klorida BD ditransformasikan ke dalam sel tipe FW, diikuti
dengan penggantian sel klorida dalam promosi respon.
Adaptasi ikan, juga dapat diketahui melalui penelitian pada Takifugu rubripes
fugu remaja dengan lingkungan salinitas rendah. Ikan dipindahkan dari air laut
(100% SW) ke media air tawar (FW), 25, 50, 75 dan 100 SW% dan mortalitas
kemudian direkam selama 3 hari. Tidak membunuh ikan dalam salinitas media
baru 25-100% SW dan semua ikan mati dalam media massa FW 100%. Rupanya,
ikan dipindahkan ke media 25-100% SW, osmolalitas darah dipertahankan pada
kisaran fisiologis yang normal. Studi terus bergerak ikan dari lingkungan 100%
SW ke media FW, 1, 5, 10, 15 dan SW 25%. Semua ikan hidup di sebuah BD 525% menengah, tetapi meninggal di FW media dan SW 1%. Ikan yang hidup di
SW media massa 25% dan kemudian ditransfer kembali ke media FW, 1 dan SW
5% dan menunjukkan bahwa osmolalitas darahnya menurun hingga mendekati
level sublethal, yaitu sekitar 300 mOsm / kg H2O . Tampaknya preacclimatisasi
dalam SW 25% selama 7 hari memiliki pengaruh sedikit pada kemampuan
bertahan hidup dari selang. Meskipun kelangsungan hidup dan osmolalitas darah
meningkat sedikit oleh preacclimatisasi dalam 25% SW, osmolalitas darah
menurun setelah ditransfer ke salinitas media BD kurang dari 10%. Temuan ini
menunjukkan bahwa fugu dapat beradaptasi dengan lingkungan karena
kemampuan hyperosmoregulatori hypoosmotik, namun sel-sel yang telah
mengurangi ion klorida mengabsorb hipoosmotik pada lingkungan.
Aktivitas osmoregulasi, juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain yang
diberikan untuk organisme air. Dengan memberikan kortisol, hormon
pertumbuhan yg berhubung dgn domba (OGH), rekombinan insulin-seperti faktor
pertumbuhan sapi I (rbIGF-I) dan 3,3 ',5-triiodo-L-thyronine (T3) dapat
meningkatkan kapasitas pada ikan hypoosmoregulasi euryhaline, Fundulus
heteroclitus. Diadaptasi ikan di lingkungan air payau (BW, salinitas 10 ppt)
kemudian disuntik dengan dosis hormon dan 10 hari kemudian dipindahkan ke
lingkungan air asin (SW, salinitas 35 ppt. Setelah ditransfer dari BW ke SW
menunjukkan peningkatan dalam plasma osmolitas nyata, tetapi tidak untuk Na
+ insang dan aktivitas K +-ATPase Pemberian kortisol (50 microg / g berat
badan) juga dapat meningkatkan ketersediaan mereka dalam mempertahankan
plasma osmolitas;. peningkatan Na + insang dan aktivitas K +-ATPase . OGH (5
microg / g berat badan) juga dapat meningkatkan kemampuan dan
hypoosmoregulatory Na + insang dan aktivitas K +-ATPase Kombinasi OGH dan
kortisol dapat meningkatkan kemampuan hypoosmoregulatori namun tidak
meningkatkan Na + insang, aktifitas K +. - ATPase. rbIGF-I (0,5 microg / g berat
badan) tidak berpengaruh dalam meningkatkan toleransi untuk salinitas atau Na
+ insang, aktifitas K +-ATPase. rbIGF-I dan OGH menunjukkan interaksi positif
dalam meningkatkan toleransi terhadap salinitas, tetapi tidak untuk Na + insang
dan aktivitas K +-ATPase Pengobatan dengan T3. (5 microg / g berat badan)

tidak berdampak terhadap toleransi salinitas meningkat, insang Na +, K +ATPase aktivitas dan pengaruhnya tidak nyata konsisten ketika digunakan
bersama dengan kortisol dan T3 atau antara GH dan T3. Untuk ikan air tawar,
organ yang terlibat dalam osmoregulasi termasuk insang, usus dan ginjal. Sel-sel
yang berperan dalam insang organ untuk proses tersebut adalah mitokondriakaya (MR) dan peran pavement2. Struktur insang memiliki hubungan dengan
kemampuan untuk mentolerir salinitas berkisar. Bhal ditunjukkan dengan
histologi dari struktur insang Caprella (Amphipoda: Caprellidea) (yaitu C.
danilevskii, C. subinermis, C. penantis R-type dan C. verrucosa) yang
dikumpulkan dari komunitas Sargassum di timur-daya Jepang dan diamati bawah
mikroskop elekron. Epitel seperti berang-berang danilevskii C, C subinermis, dan
C. verrucosa terdiri-dari pengembangan sistem infolding apikal (AIS) dan sistem
infolding basolateral (BIS) terkait dengan mitokondria. Percobaan tentang
toleransi salinitas dari empat spesies Caprella konsentrasi letalnya
mengindikasikanbahwa median (LC 50) pada 20 C berkisar antara 12,97 18,84 unit Salinitas praktis (PSU) dengan kelangsungan hidup lebih dari 80%
dengan salinitas di atas 25,37 PSU bahkan untuk 5 hari. Karakteristik insang dan
berbagai toleransi salinitas dalam Caprella spp. menunjukkan bahwa Caprella
spp. menghuni komunitas Sargassum merupakan organisme yang eurihalin.
Osmoregulasi IKAN DI AIR LAUT
Ikan laut hidup di lingkungan yang hipertonik ke jaringan dan cairan tubuh,
sehingga cenderung kehilangan air melalui kulit dan insang, dan kebobolan
garam. Untuk mengatasi hilangnya air, minum'air ikan laut 'sebanyak mungkin.
Dengan demikian berarti juga akan meningkatkan kandungan garam dalam
cairan tubuh. Fakta dehidrasi dapat dicegah oleh proses ini dan kelebihan garam
harus dihilangkan. Karena ikan dipaksa oleh kondisi untuk mempertahankan
osmotik air, volume urine kurang dari ikan air tawar. Tubuli ginjal dapat berfungsi
sebagai penghalang air. Jumlah glomeruli ikan laut cenderung lebih sedikit dan
bentuk yang lebih kecil daripada di ikan air tawar Sekitar 90% dari nitrogen
limbah yang dapat dihapus melalui insang, sebagian besar dalam bentuk amonia
dan sedikit urea. Namun, urine masih mengandung sedikit senyawa.
Osteichthyes urin mengandung: Creatine kreatinin Nitrogen senyawa
Trimetilaminoksida (TMAO)
TENTANG IKAN ELASMOBRANCHII osmoregula