Anda di halaman 1dari 18

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014

Jominy

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam dunia industri kita membutuhkan material yang kuat untuk suatu
produk. Material yang keras sangat menentukan kualitas produk yang kita buat.
Kekerasan suatu logam bisa ditingkatkan dengan beberapa cara, salah satunya
dengan cara melakukan perlakuan termal pada logam tersebut.
Untuk mengetahui sifat mampu keras dari logam dapat kita lakukan
percobaan Jominy. Setelah logam dipanaskan, dilakukan pendinginan dengan
menyemprotkan air pada ujung spesimen dan dilakukan uji keras.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Mengetahui sifat mampu keras dari baja;
2. Membandingkan hasil pengujian dengan hasil teoritis.
1.3 Manfaat
Ada beberapa manfaat yang dapat kita dapatkan setelah melakukan
praktikum Jominy, yaitu :
1. Dapat mengetahui sifat mampu keras dari baja;
2. Dapat membandingkan hasil pengujian dengan hasil teoritis.

Kelompok 3

41

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Uji Jominy
Kekerasan adalah kemampuan material untuk menahan deformasi plastis
lokal akibat penetrasi dipermukaan. Peningkatan kekerasan bergantung pada sifat
mampu keras dari baja itu sendiri. Sifat mampu keras merupakan kemampuan
material untuk ditingkatkan kekerasannya dengan serangkaian perlakuan panas.
Sifat mampu keras dari baja tergantung pada komposisi kimia dan kecepatan
pendinginan.
Tidak semua baja dapat dinaikkan kekerasannya. Baja karbon menengah
dan baja karbon tinggi dapat dikeraskan, sedangkan baja karbon rendah tidak
dapat dikeraskan. Kandungan karbon yang tinggi mempercepat terbentuknya fasa
martensit yang menjadi sumber dari kekerasan dari baja. Kekerasan maksimum
hanya dapat dicapai bila terbentuknya martensit 100%. Baja dapat bertransformasi
dari austenit ke ferrit dan karbida. Transformasi terjadi pada suhu tinggi sehingga
kemampuan kekerasannya rendah.
Percobaan Jominy, bertujuan untuk mengetahui Hardenability suatu
logam. Cara untuk mengetahuinya adalah:
1. Bila laju pendinginan dapat diketahui, kekerasan dapat lansung dibaca dari
kurva kemampuan keras.
2. Bila kekerasan dapat diukur, laju pendinginan dari titik tersebut dapat
diperoleh.
Pada uji Jominy ini, material dipanaskan dalam tungku dipanaskan sampai
suhu transformasi ( austenit ) dan terbentuk sedemikian rupa sehingga dapat
dipasangkan pada aparatus Jominy kemudian air disemprotkan dari bawah,
sehingga menyentuh permukaan bawah spesimen. Dengan ini didapatkan
kecepatan pendinginan ditiap bagian spesimen berbeda-beda. Pada bagian yang
terkena air mengalami pendinginan yang lebih cepat dan semakin menurun
kebagian yang tidak terkena air. Dari hasil pengukuran kekerasan tiap-tiap bagian
dari spesimen akan didapatkan kurva Hardenability Band.
2.2 Kurva Hardenability dan Hardenability Band

Kelompok 3

42

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

Gambar 2.1 Kurva Hardenability

Dari kurva diatas dapat diketahui bahwa fasa pearlit didapatkan pada suhu
antara 5000 C dengan 7000 C jika dipanaskan pada suhu austenite.
Sifat mampu keras dapat digambarkan dalam bentuk kurva yaitu kurva
Hardenability Band. Kurva Hardenability Band menggambarkan range-range sifat
mampu keras suatu logam. Jadi, kekerasan suatu material akan berada dalam
range tersebut jika dilakukan proses pemanasan. Kurva diatas menyatakan fasa
yang terjadi pada specimen sampai temperature austenite yang diuji jominy.
Dimana pada bagian yang terkena semprotan air mengalami pendinginan cepat,
dapat dilihat pada grafik dengan nilai HRC paling tinggi dengan fasa martensit.
Kemudian dengan seiringnya peningkatan jarak dari ujung menuju pangkal
specimen memiliki penurunan angka kekerasan. Hal ini disebabkan pada bagian
tersebut tidak mengalami quenching / pendinginan nya lambat. Hal tersebut dapat
dilihat dari perubahan fasa pada grafik yang ditunjukkan, yaitu dari fasa martensit,
fasa martensit dan perlit, fine perlit dan perlit.

Kelompok 3

43

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

Gambar 2.2 Hardenability band

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sifat Mampu Keras


Hal-hal yang mempengaruhi sifat mampu keras suatu material adalah:
1. Kecepatan pendinginan
Setelah logam dipanaskan, lalu dilakukan pendinginan cepat, maka logam
akan menjadi semakin keras. Proses pendinginan material dapat dilakukan
dengan beberapa cara yaitu:
a. Annealing
Pemanasan material sampai suhu austenit ( 727 0 C ) lalu diholding
kemudian dibiarkan dingin didalam tungku. Proses ini menghasilkan
material yang lebih lunak dari semula.
b. Normalizing
Pemanasan material sampai suhu austenit ( 727 0 C ) lalu diholding
kemudian didinginkan di udara.
c. Quenching
Pemanasan material sampai suhu austenit ( 727 0 C ) lalu diholding
kemudian dilakukan pendinginan cepat, yaitu dicelupkan kedalam media.
Medianya adalah air, air garam dan oli. Proses ini yang menghasilkan
material yang lebih keras dari semula.
2. Komposisi kimia

Kelompok 3

44

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy
Komposisi kimia menentukan Hardenability Band. Karena komposisi
material menentukan struktur dan sifat material. Semakin banyak unsur kimia
yang menyusun suatu logam, maka makin keras logam tersebut
3. Kandungan karbon
Semakin banyak kandungan karbon dalam suatu material maka makin keras
material tersebut. Hal inilah yang menyebabkan baja karbon tinggi memiliki
kekerasan yang tinggi setelah proses pengerasan kerena akan membentuk
martensit yang memiliki kekerasan yang sangat tinggi.
Untuk meningkatkan kadar karbon dari beberapa material dapat dilakukan
dengan beberapa perlakuan, yaitu:
a. Carborizing
Yaitu proses penambahan karbon pada baja, dengan menyemprotkan
karbon pada permukaan baja.
b. Nitriding
Yaitu proses penambahan nitrogen untuk meningkatkan kekerasan
material.
c. Carbonitriding
Yaitu proses penambahan karbon dan nitrogen secara sekaligus untuk
meningkatkan kekerasan material.

2.4 Kurva CCT dan TTT

Kelompok 3

45

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

Gambar 2.3 Kurva CTT dan TTT

Dari kurva CCT di atas dapat kita lihat beberapa perbedaan. Pada baja
Hypoeutektoid ada dua fasa yang terbentuk matertensit dan perlit. Terbentuk fasa

Kelompok 3

46

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy
Martensite + perlit setelelah melewati garis perlit start dan martensite finish.
Perlite 100%
Terbentuk karena pada saat pendinginan spesimen tidak melewati fasa martensite
awal dan martensite finish.
Pada baja eutektoid tebentuk tiga fasa setelah dilakukan pendinginan. Fasa
pertama yang terbentuk yaitu martensite 100%, pendinginan dengan membiarkan
baja di udara mengasilkan fasa martensite + perlite. Sedangkan pendinginan
didalam tungku atau secara lambat menghasilkan perlite 100%.
Pada baja hyper eutektoid juga terbentuk tiga, sama seperti pada baja
eutektoid. Tetapi pada baja hyper eutektoid waktu yang dibutuhkan agak lama.
Kurva TTT (Time Temperature Transformation) adalah suatu diagram yang
menghubungkan transformasi austenit terhadap waktu dan temperatur. Kurva ini
menggambarkan proses pendinginan dengan melakukan holding. Setelah
spesimen mencapai suhu austenit (727 oC) dilakukan holding terlebih dahulu
gunanya agar semua bagian spesimen benar-benar mendapat panas yang sama.
Proses perlakuan panas bertujuan untuk memperoleh struktur baja yang
diinginkan agar cocok dengan penggunaan yang direncanakan. Struktur yang
diperoleh merupakan hasil dari proses transformasi dari kondisi awal. Proses
transformasi ini dapat dibaca dengan menggunakan diagram fasa namun untuk
kondisi tidak setimbang diagram fasa tidak dapat digunakan, untuk kondisi seperti
ini maka digunakan kurva TTT. Melalui kurva ini dapat dipelajari kelakuan baja
pada setiap tahap perlakuan panas, diagram ini juga dapat digunakan untuk
memperkirakan struktur dan sifat mekanik dari baja yang di-quench dari
temperatur austenite. Kurva ini menunjukan dekomposisi austenit dan berlaku
untuk macam baja tertentu. Baja yang mempunyai komposisi berlainan akan
mempunyai diagram yang berlainan, selain itu besar butir austenit, adanya inclusi
atau elemen lain yang terkandung juga mempunyai pengaruh yang sama.
Pada kurva TTT untuk baja hypoeutectoid terbentuk 2 fasa martensit
dan perlit, Fasa M + P terbentuk setelah melewati garis Pstart dan Mfinish. P
100% terbentuk setelah melewati Pfinish dan tidak melewati Mstart dan Mfinish.

Kelompok 3

47

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy
Pada baja eutectoid terbentuk fasa 100% M, M + B dan 100%P, 100%M
terbentuk setelah melewati Mstart dan Mfinish, M +B terbentuk setelah melewati
garis Mfinish dan Bfinish, 100%P terbentuk setelah melewati Pfinish.
Pada baja hypereutectoid terbentuk 3 fasa 100%M , M + B dan 100%P.
100%M terbentuk setelah melewati Mstart and Mfinish . M + B terbentuk setelah
melewati Bstart dan Mfinish. 100%P terbentuk setelah melewati Pfinish.
Keterangan : M = Martensite
P = Perlite
B = Bainite

BAB III
METODOLOGI
3.1

Peralatan
1. Aparatus Jominy
2. Tungku Pemanas

Kelompok 3

48

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy
3. Spesimen ( ASSAB 760 )
4. Air
5. Mesin Uji Rockwell
6.3.2

Skema Alat

Gambar 2.4 Skema Alat Uji Jominy

6.3.3

Prosedur Percobaan
1. Spesimen yang telah disediakan dibersihkan.
2. Spesimen didalam tungku dipanaskan sampai temperatur tertentu
dengan mengatur petunjuk temperatur tungku.
3.Setelah spesimen mencapai temperatur yang diperlukan,spesimen
terssebut dibirakan selama 30 menit dalam tungku.
4.Spesimen dipindaahkan kedudukan yang telah disediakan dan
disemprotkan air sampai spesimen menjadi dingin(temperatur kamar).
5. Spesimen dikikir dan dibersihkan untuk pengukuran kekerasan .
6. Kekerasan spesimen diukur pada setiap posisi dengan interval 4 inchi.
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Percobaan
Nama Spesimen : Assab 760
Table 2.1 Data Percobaan

Komposisi
Maximum
Minimum

%C
0.5
0.4

%Mn
0.6
0.45

%Si
0.3
0.25

Table 2.2 Hasil Percobaan

Titik Pengujian
1

Kelompok 3

Jarak
0.6

Kekerasan (HRC)
85.3

49

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy
2
3
4
5
6
7
8

1.2
1.8
2.4
3.0
3.6
4.0
4.8

87.3
87.8
89.8
76.3
69.3
72.8
64.8

4.2 Perhitungan
Pada Butir 7
1. Diameter Ideal (DI) berdasarkan tabel
% Maksimum = 0.5
% Minimum = 0.4

DI Maksimum = 0.3
DI Minimum = 0.27

2. Multiply Factor berdasarkan tabel 2


% Mn maksimum
% Mn minimum
% Si maksimum
% Si minimum

= 0.6
= 0.45
= 0.3
= 0.25

MF Mn maksimum
MF Mn minimum
MF Si maksimum
MF Mn minimum

=
=
=
=

3. Diameter Ideal Critical (DIC)


DIC maksimum =
=
=
DIC minimum =
=
=

(DI max) x (MF Mn max) x (MF Si max)


0.30 x
2.9
x 1.20
1.044
(DI min) x (MF Mn min) x (MF Si min)
0.27
x
2.5
x 1.15
0.776

4. Initial Hardness (IH) berdasarkan tabel 3


% C maksimum = 0.5 %
% C minimum = 0.4 %

Kelompok 3

IH maksimum = 62.5
IH maksimum = 57

50

2.9
2.5
1.20
1.15

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

5. Dividing Factor (DF)


Table 2.3 Dividing Factor

Posisi
1
2
3
4
5
6
7
8

DF max
2
3.05
3.65
4
4.15
4.4
4.55
4.8

Dfmin
2.35
3.4
3.9
4.25
4.4
4.65
4.8
5

6. HRC
HRC max =

IH max
DF max

HRC min =

IH min
DF min

1. Posisi 1
HRC max =

62,5
2

= 31,25

HRC min =

57
2,35

= 24,25

2. Posisi 2
HRC max =

62,5
3,05

= 20,49

HRC min =

57
3,4

= 16,76

Kelompok 3

51

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy
3. Posisi 3
HRC max =

62,5
3,65

HRC min =

57
3,9

4. Posisi 4

= 17,12
= 14,61

HRC max =

62,5
4

= 15,625

HRC min =

57
4,25

= 13,41

HRC max =

62,5
4,15

= 15,06

HRC min =

57
4,4

= 12,95

HRC max =

62,5
4,4

= 14,20

HRC min =

57
4,65

= 12,25

HRC max =

62,5
4,55

= 13,73

HRC min =

57
4,8

= 11,87

5.Posisi 5

6. Posisi 6

7. Posisi 7

8. Posisi 8
HRC max =

62,5
4,8

= 13,02

HRC min =

57
5

= 11,4

Kelompok 3

52

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

4.3 Tabel Hasil Perhitungan

Posisi

HRC max

HRC min

HRC prak

31,25

24,25

85,3

20,49

16,76

87,3

17,12

14,61

87,8

15,625

13,41

89,8

15,06

12,95

76,3

14,00

12.25

69,3

13,73

11,87

72,8

13,02

11,4

64,8

4.4 Grafik

Kelompok 3

53

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy
100
90
80
70
60
HRC max

50

HRC min
HRC percobaan

40
30
20
10
0
0

4.5 Analisa
Uji jominy merupakan pengujian untuk mengetahui sifat mampu keras
dari baja serta membandingkannya dengan hasil teoritis.Spesimen yang digunakan
dalam praktikum jominy iyalah baja.Kemudian spesimen tersebut dipanaskan
kedalam tungku sampai temperatur austenid kira-kira 912 derajat celcius.Setelah
dipanaskan sampai temperatur tersebut,spesimen dibiarkan didalam tungku
selama 30 menit.Langkah selanjutnya adalah spesimen disemprotkan air sampai

Kelompok 3

54

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy
mencapai temperatur kamar.Spesimen berikutnya dibersihkan dan dikikir hingga
rata supaya dapat diuji kekerasannya menguunakan mesin uji kekerasan
Rockwell.Standar yang digunakan ialah hrc.Hrc digunakan untuk material yang
keras seperti baja.
Pada pengujian keras diambil 8 titik dengan interval 4 inchi.Kemudian
diperoleh data kekerasan hrc dari 8 titik tersebut dengan kekerasan tertinggi
sebesar 89,8 hrc dan kekerasan terendah adalah 64,8 hrc.Bisa diketahui kekerasan
tertinggi terdapat pada ujung yang terkena water spray lebih dahulu yang
merupakan pendinginannya tercepat dibanding dengan pangkal spesimen yang
pendinginannya lambat sehingga kekerasan spesimennya rendah.
Komposisi kimia dari baja antara lain karbon,mangan dan silikon.Unsur
ini

memiliki

minimum).Data

kandunga/presentase
tersebut

yang

digunakan

berbeda-beda(maksimum
untuk

mencari

dan

diameter

ideal,MF,DIC,IH(initial hardness),DF,dan akhirnya didapatkan hrc teoritis dari 8


titik pengujian.Dari tiap-tiap yang dicari seperti DI,MF dan lain-lain diperoleh
dengan pengamatan grafik.Hal ini dapat terjadi kesalahan,seeperti salah melihat
kesalahan persentase unsur atau menentukan nilai-nilai yang dcari.Jika terjadi
kesalahan seperti itu akan menyebabkan nilai hrc teoritis menjadi salah.Nilai hrc
teoritis digunakan untuk pembanding dengan nilai hrc visualisasi dari
perbandingan nilai hrc teoritis max dan hrc min serta hrc percobaan akan
membentuk kurva hardenability band.Sesuai dengan teori nilai hrc percobaan
berada diantara hrc teoritis (hrc max dan hrc min).
Dari grafik yang diperoleh tampak pada kurva hardenability yang didapat
berbeda dengan yang ada pada teori.Hal ini terjadi karena range (jarak) antara hrc
teoritis dan hrc percobaan terlalu jauh,yaitu sekitar 40-50.Itu membuat hrc
percobaan tidak terletak diantara hrc max dan hrc min.Ini terjadi karena terjadi
kesalahan saat pengujian keras terhadap spesimen.Hasil pengujian keras yang
terbaca pada skala mesin terlalu besar.Kemungkinan terjadi karena alat uji keras
rusak,dan hasil yang didapat tidak valid.Seharusnya jika alat uji keras itu
bagus,maka akan diperoleh hasil yang berada pada hrc max dan hrc min.
Jika dibandingkan hasil teori dan praktikum sangatlah berbeda.Karena
pada praktikum kemungkinan dapat terjadi kesalahan seperti uji keras,salah
membaca grafik,kurang ratanya spesimen yang menyebabkan nilainya tidak sesuai
dengan nilai yang ada.
Kelompok 3

55

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan:
1. Kekerasan baja yang terbesar terdapat pada bagian ujung yang lebih
dulu didinginkan dengan water spray.Kekerasan menurun seiring
jauhnya jarak dari ujung baja.
2. Baja memiliki sifat mampu keras yang baik,karena memiliki kriteria
yang baik untuk ditingkatkan kekerasannya.
3. Hasil teoritis dan praktikum berbeda.Hal ini terjadi karena banyak
kesalahan yang terdapat pada praktikum.
5.2 Saran
Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pratikum uji
jominy ini diantaranya :
1. Teliti dalam membaca grafik agar didapat nilai yang akurat.
2. Bersihkan spesimen dengan bersih sebelum dipanaskan.
3. Perhatikan permukaan spesimen dalam pengujian keras.Permukaan
rata menghasilkan nilai yang valid

Kelompok 3

56

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

LAMPIRAN
TUGAS SEBELUM PRATIKUM
1. Perbedaan sifat mampu keras dengan kekerasan adalah sifat mampu keras
merupakan kemampuan logam untuk menerima peningkatan kekerasan
melalui serangkaian proses perlakuan panas, sedangkan kekerasan
merupakan kemampuan logam untuk menahan deformasi palstis likal
akibat adanya penetrasi dipermukaan.
2. Apa yang disebut dengan kurva hardenability dan hardenability band.
Kurva Hardenability adalah Suatu kurva yang diperoleh dari pengujian
yang memperoleh sifat mampu keras dari suatu logam, sedangkan
Hardenability Bands adalah Suatu kurva yang memperlihatkan rangerange mampu keras dari suatu logam yang didapat dari perhitungan.
.
3.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mampu keras,


Kecepatan pendinginan
Annealing , dilakukan dengan cara membiarkan spesimen dalam

tungku sehingaa material lebih lunak dari semula


Normalizing, dilakukan dengan cara membiarkan spesimen dingin
di udara sehingga sifat material kembali ke bentuk semula.

Kelompok 3

57

Laporan Akhir Metallurgy Fisik 2013/2014


Jominy

Quenching, dilakukan dengan cara mendinginkan spesimen secara


cepat dengan media air garam,

air , dan oli sehingga material

lebih keras dari sebelum di-quenching.


Kandungan karbon
Semakin banyak karbon dalam suatu material maka makin keras
material tersebut.
Ukuran butir
Semakin besar ukuran butir, maka tingkat mampu keras material
makin rendah.

TUGAS SETELAH PRATIKUM


1. Faktor faktor yang mempengaruhi hardenability :
a. Laju pendinginan
Semakin cepat pendinginan yang dilakukan, maka spesimen akan
makin keras
b. Kandungan karbon
Makin tinggi kandungan karbon, maka makin tinggi kekerasan suatu
material.
c. Ukuran butir
Makin kecil ukuran butir suatu material, maka makin keras material
2.

tersebut.
Penyebab secondary tempering baja yaitu material terlalu getas dan untuk
menguranginya dilakukan Heat Treatment

Kelompok 3

58