Anda di halaman 1dari 29

Case Report Session

DUH TUBUH

DISUSUN OLEH :
Rizka Desti Ayuni

1301-1214-0003

Gabriella Putri Elika

1301-1214-0571

Carmelia Cantika

1301-1214-0644

Preceptor:
Inne Arline Diana,dr.SpKK (K)

BAGIAN ILMI KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RUMAH SAKIT DR HASAN SADIKIN
BANDUNG
2015
Keterangan Umum

Nama

: Tn. A
1

Usia

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat

: Bandung

Pekerjaan

: Pegawai Swasta

Status Marital : Sudah Menikah

Pendidikan

: 38 tahun

: SMA

I.

Keluhan Utama
Keluar nanah dari saluran kencing yang terasa nyeri

II.

Anamnesis Khusus
Sejak 3 hari SMRS, dari saluran kencing pasien keluar nanah
berwarna putih kekuningan kental yang berjumlah banyak tidak
disertai rasa gatal atau terbakar. Cairan yang keluar tidak bercampur
darah dan tidak berbau. Cairan kental yang keluar terasa lebih banyak
ketika bangun tidur. Keluhan juga disertai adanya rasa nyeri saat BAK.
Cairan pertama kali keluar 4 hari SMRS. Cairan awalnya sedikit
namun semakin lama makin banyak. Keluhan ini baru pertama kali
dialami pasien.
Pasien merasa adanya benjolan pada lipatan paha. Tidak ada
riwayat demam. Keluhan rasa nyeri pada perut bagian bawah atau di
daerah sekitar pangkal kemaluan dan sekitar anus tidak ada.
Pembesaran buah zakar yang disertai rasa nyeri tidak ada. Ruam kulit
seperti lecet, borok, bintil-bintil pada kemaluan dan sekitarnya tidak
ada.
Keluhan keluarnya keputihan yang banyak dialami oleh istri pasien
pada 2 minggu SMRS. Keluhan istri sudah diobati sendiri dengan
antibiotik 2 kali sehari. Keluhan membaik setelah pengobatan. Tidak
ada ruam kulit seperti lecet, borok, bintil-bintil pada kelamin pada istri.
Pasien pertama kali berhubungan seksual pada usia 25 tahun
setelah menikah dengan istrinya. Hubungan seksual terakhir dengan
istri pada 5 hari SMRS. Pasien tidak melakukan hubungan seksual
selain dengan istri. Pasien tidak melakukan hubungan seksual dengan
cara oral atau anal. Pasien tidak menggunakan kondom saat

berhubungan

seksual.

Pasien

tidak

mengkonsumsi

minuman

beralkohol dan obat-obatan suntik.


Pasien belum pernah ke dokter atau minum obat setelah
keluhannya muncul. Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat.
III.

Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan Umum:
Kesadaran : kompos mentis, tampak sakit ringan
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
Respirasi
: 20 x/menit
Suhu
: Afebris
Kepala
:
Mata
: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung
: Sekret hidung (-)
Telinga
: Sekret (-)
Mulut
: tidak hiperemis, tonsil T1-T1
Leher
: JVP tidak meningkat
Thorax
: Bentuk dan gerak simetris
cor: BJ S1 S2 normal, pulmo: VBS ka=ki, Wh-/-,
Abdomen
Ekstremitas
KGB

Rh -/: Datar lembut, Hepar dan lien tidak teraba


membesar. Bising usus (+) normal
: edema -/-, NT sendi siku dan lutut (-/-)
: KGB inguinal teraba membesar
Lihat status venereologikus

Status Venerologikus
Pemeriksaan daerah inguinal dan pubis
Limfadenopati
- Inspeksi : Tidak tampak pembesaran KGB
- Palpasi : KGB Inguinal dekstra (+), soliter, berukuran 2x1 cm,
konsistensi kenyal, dapat digerakan dari dasar, nyeri tekan (-).
Pubis
Kulit : eritem (-)
Rambut : kutu (-), telur kutu (-)
Hernia (-)
Penis
Korpus
: papul (-), vesikel (-), erosi (-), ulkus (-)
Preputium
: Disirkumsisi
Glans Penis : eritem (+), edem (-), papul (-), erosi (-), ulkus (-).

Meatus Uretra: eritem (+),

edem (-), hipospadia (-), epispadia (-),

ektropion (-)
Duh tubuh : (+), mukopurulent, sedikit, tidak berbau.

Skrotum
asimetri (-), lesi (-)
Testis
: Letak normal, ukuran kanan=kiri, pembesaran (-),
konsistensi kenyal, permukaan rata, nyeri tekan (-)
Epididimis
: pembesaran (-), nyeri tekan (-).
Perianal
eritem (-), papul (-),vesikel (-), erosi (-), ulkus(-)
Duh tubuh (-)

IV.

Penunjang
a. Sediaan apus uretra yang diwarnai Gram
b. Sediaan basah dengan NaCl 0,9% dari duh uretra
c. Swab duh uretra untuk pemeriksaan PCR untuk Chlamidia
Trachomatis
d. Urinalisis
e. Usulan Pemeriksaan :
-Kultur dan tes sensitivitas untuk Neisseria gonorrhoeae
-Pemeriksaan serologis VDRL dan TPHA
- VCT

V.

Diagnosis Banding
Uretritis Gonore
Uretritis Gonore + Uretritis Non Gonore

VI.

Diagnosis Kerja
Uretritis Gonore

VII.

Pengobatan
Umum:
a. Menjelaskan penyakit ini merupakan penyakit menular melalui
hubungan seksual
b. Menjelaskan untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai
pengobatan selesai
c. Menyarankan untuk menggunakan kondom jika melakukan
hubungan seksual
d. Kontrol setelah 7 hari dan menyarankan agar istri juga dilakukan
pemeriksaan
Khusus:
Sistemik : Sefiksim 400 mg PO dosis tunggal

Azitromisin 1 gr PO dosis tungal


VIII. Prognosis
Ad Vitam
Ad Functionam
Ad Sanationam

: Ad Bonam
: Ad Bonam
: Dubia Ad Bonam

PENDAHULUAN
Penyakit kelamin adalah penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan
seksual
Cara hubungan kelamin :
-

Genito-genital
Oro-genital
Ano-genital

Beberapa dapat juga ditularkan melalui kontak langsung dengan alat-alat, handuk,
dan sebagainya. Selain secara seksual, penyakit ini juga dapat menular ke bayi
yang ada di dalam kandungan.

Duh Tubuh Uretra


Etiologi: Gonore
Non-Gonore

Chlamydia trachomatis

Ureplasma urelyticum

Trichomonas vaginalis

Lainnya

Uretritis adalah suatu peradangan dari uretra yang ditandai oleh keluarnya duh
tubuh uretra (urethral discharge), disuria, atau rasa gatal pada bagian ujung dari
uretra
GONORE
Gonore mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae.
Masa tunas antara 2-5 hari. Gonorea menyebabkan uretritis anterior akut
menjalar ke proksimal komplikasi
Neisseria gonorrhoeae

Diploccoci gram negative,berbentuk kopi

Tidak tahan lama di udara bebas

Ada 4 tipe tapi tipe 1&2 yang virulen

Paling senang di daerah yang :


Mukosa epitel kuboid
Lapis gepeng yang blm berkembang

Gejala Klinis :
Gatal & panas di bagian distal uretra (sekitar orifisium uretra
eksternum)
Disuria
Polakisuria
Keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai
darah
Nyeri pada waktu ereksi

Pemeriksaan Fisik :
Orifisium uretra eksternum kemerahan, edema, dan ektropion.
Tampak duh tubuh yang mukopurulen.

NON GONORE

Klamidosis

Disebabkan Chlamidia trachomatis

Penyebab infeksi genital non-spesifik (non- gonore) tersering

Dapat ditemukan dengan

Pembiakan

Pemeriksaan mikroskop langsung

Penentuan antigen

PCR

Ligase Chain Reaction

Riwayat :
Koitus suspektus (1-5 minggu sebelum timbul gejala)
Telah melakukan hubungan seksual dengan istri pada waktu
keluhan sedang berlangsung (fenomena pingpong)

Keluhan :

Keluarnya duh tubuh uretra jernih sampai keruh pagi hari


(morning drops), atau berupa bercak di celana dalam.

Nyeri kencing atau disuri

Gatal di saluran kencing

Nokturia

Kencing bercampur darah

Demam

Pembesaran KGB inguinal

Pemeriksaan klinis

Peradangan muara uretra (edema dan eritema)

Sekret serosa, seromukous, mukous dan kadang bercampur


nanah

Trikomoniasis

Disebabkan protozoa Trichomonas vaginalis

Ditularkan melalui hubungan seksual

Menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada pria

Masa inkubasi < 10 hari

Higiene buruk dapat terjadi penularan melalui handuk atau pakaian


yang terkontaminasi

Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya T.vaginalis pada


sediaan langsung (sediaan basah) atau pada biakan duh tubuh penderita

Gambaran klinis

Asimtomatik (hanya 10-50% yang menunjukkan gejala)

Simtomatik

uretritis ringan yang bersifat self limited

50-60% kasus simtomatik didapatkan duh tubuh uretra

Etiology

Gonore

Non gonore

N.gonnorhoea

C.Trachomatis(30-50l%)
U.Urealyticum(10-40%)
T.Vaginalis
N.simpleks

Masa

2-5 hari

1-5 minggu

Gejala

OUE Gatal panas

Lebih ringan

klinis

Disuri

Serous,seromukus,mukopurulent(38%)

inkubasi

Duh tubuh
mucopurulent(70%)
OUE
eritem,edema,ektropian
Lab

Gram:diplokokus

Lebih ringan

gram-,biji kopi

Lekosit > 5/lpb

Intra/ekstra sel

Ditemukan T.vaginalis

Kultur
Terapi

Siprofloksasin

Tetrasiklin

Ofloksasin

Doksisiklin

Norfloksasin

Eritromisin

Tiamfenikol

Azitromisin

Seftriakson
Spektinomisin
Kanamisin

Komplikasi:

Lokal :

Epididimitis, orkitis

Parauretritis

Littritis (radang kelnjar Littre)C

Cowperitis (radang kelenjar Cowper).

Prostatitis

Vesikulitis

Funikulitis

Epididimitis infertilitas

Infeksi uretra pars posterior, dapat mengenai trigonum kandung


kemih trigonitis (poliuria, disuria terminal, dan hematuria)

Pengobatan Duh tubuh uretra

Pengobatan untuk gonore tanpa komplikasi

DITAMBAH

Pengobatan untuk klamidiosis

Penderita dianjurkan untuk pengobatan kembali bila gejala tetap ada


sesudah 7 hari.
Pengobatan uretritis gonore

Siprofloksasin 500mg per oral, dosis tunggal

Seftriakson

250mg i.m. , dosis tunggal

Sefiksim

400mg per oral, dosis tunggal

Levofloksasin* 250 mg per oral, dosis tunggal

Pengobatan Lain

Tiamfenikol*

3,5 mg per oral, dosis tunggal atau

Ofloksasin*

400mg per oral, dosis tunggal, atau

Kanamisin

2 g i.m. dosis tunggal, atau

Spektinomisin 2 g i.m. dosis tunggal

* Tidak boleh diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, anak dibawah 12
tahun dan remaja.

10

Pengobatan uretritis non-gonore


Doksisiklin** 100mg peroral,2x1 selama 7hari, atau
Azitromisin 1 g per oral, dosis tunggal
Pengobatan Lain
Tetrasiklin**500mg peroral, 4x1 selama 7hari,
atau
Eritromisin 500mg peroral, 4x1 selama 7hari,
(bila ada kontraindikasi tetrasiklin

Pengobatan Trichomonas vaginalis


Pengobatan yang dianjurkan
Metronidazol 2 g per oral, dosis tunggal
atau
Tinidazol 2 g per oral, dosis tunggal
Pilihan pengobatan lain
Metronidazol 400 atau 500 mg per oral, 2x sehari, selama 7 hari, atau
Tinidazol500 mg per oral, 2x sehari, selama 5 hari

Duh Tubuh Vagina


Definisi
Duh Tubuh/Leukorrhea (fluor albus, vaginal discharge, duh tubuh vagina)
atau keputihan adalah cairan (bukan darah) yang keluar berlebihan dari vagina

(2)

Beberapa literatur memberikan batasan, yang dimaksud dengan leukorrhea adalah

11

keluarnya cairan berlebihan dari liang senggama (vagina), yang disertai oleh
perasaan gatal, nyeri, rasa terbakar di bibir kemaluan atau kerap juga disertai bau
busuk dan rasa nyeri sewaktu berkemih atau senggama.
Adapula literatur yang menyebutkan batasan bagi leukorrhea yaitu cairan
yang keluar dari vagina yang bukan darah dengan sifat yang berrnacam-macam
baik warna, bau, maupun jumlahnya yang terutama disertai dengan keluhan
berupa gatal, bau tidak biasa dan nyeri (3).
Leukorrhoe
Lekorrhea dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Leukorrhea Fisiologis
2. Leukorrhea Patologis
Leukorrhea Fisiologis
Yaitu sekret dari vagina normal yang berwama jemih atau putih, menjadi
kekuningan bila kontak dengan udara yang disebabkan oleh proses oksidasi.
Secara mikroskopik terdiri dari sel-sel epitel vagina yang terdeskuamasi, cairan
transudasi dari dinding vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus, sekresi
dari saluran yang lebih atas dalam jumlah bervariasi serta mengandung berbagai
mikroorganisme terutama lactobacillus doderlein. Memiliki ph < 4,5 yang terjadi
karena produksi asam laktat oleh lactobaciilus dari metabolisme glikogen pada sel
epitel vagina.
Leukorrhea fisiologis terdapat pada keadaan sebagai berikut :
1. Bayi baru lahir sampai dengan usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh
estrogen di plasenta terhadap uterus dan vagina bayi.
2. Premenarche, mulai timbul pengaruh estrogen
3. Saat sebelum dan sesudah haid
4. Saat atau sekitar ovuiasi, dimana keadaan sekret dari kelenjar serviks uteri
menjadi lebih encer
5. Adanya rangsangan seksual pada wanita dewasa karena pengeluaran
transudasi dinding vagina
6. Pada kehamilan, karena pengaruh peningkatan vaskularisasi dan
bendungan di vagina dan di daerah pelvis

12

7. Stress emosional
8. Penyakit kronis, penyakit saraf, karena pengeluaran sekret dari kelenjar
serviks uteri juga bertambah
9. Pakaian (celana dalam ketat, pemakaian ceiana yang jarang ganti,
pembalut)
10. Leukorrhea yang disebabkan oleh gangguan kondisi tubuh, seperti keadaan
anemia, kekurangan gizi, ke!elahan, kegemukan dan usia tua > 45 tahun
Leukorrhea Patologis
Leukorrhea dikatakan tidak normal jika terjadi peningkatan volume
(khususnya membasahi pakaian), bau yang khas dan perubahan konsistensi atau
warna. Penyebab terjadinya leukorrhea patologis bermacam-macam, dapat
disebabkan oleh adanya infeksi (bakteri, jamur, protozoa, virus) adanya benda
asing dalam vagina, gangguan hormonal akibat menopause dan adanya kanker
atau keganasan dari alat kelamin, terutama pada serviks.
Penyebab leukorrhea patologis :
a. Infeksi
Penyebab leukorrhea terbanyak adalah infeksi pada vagina (vaginitis) dan
serviks (servisitis). Ada atau tidaknya bau, gatal dan warna dapat membantu
menemukan etiologinya. Sekret yang disebabkan oleh infeksi biasanya
mukopurulen, warnanya bervariasi dari putih kekuningan hingga berwarna
kehijauan. Vaginitis paling sering disebabkan oleh Candida spp., Trichomonas
vaginalis, Vaginalis bakterialis. Sedangkan servisitis paling sering disebabkan
oleh Chlamidia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae. Selain itu penyebab
infeksi yang lain adalah infeksi sekunder pada luka, abrasi (termasuk yang
disebabkan oleh benda asing), ataupun terbakar.
b. Non infeksi
Dapat disebabkan oleh :
1. Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan
Kadang-kadang pada wanita ditemukan cairan dari vagina yang tercampur
dengan urine atau feses. Hal ini dapat terjadi akibat adanya fistel uterovagina,
fistel rektovagina yang disebabkan kelainan kongenital, cedera persalinan, radiasi

13

pada kanker alat kandungan atau akibat kanker itu sendiri.


2. Benda asing
Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak
ataupun tertinggalnya tampon maupun kondom pada wanita dewasa, adanya
cincin pesarium pada wanita yang menderita prolaps uteri serta pemakaian alat
kontrasepsi seperti IUD dapat merangsang pengeluaran sekret secara berlebihan.
3. Hormonal
Perubahan hormonal estrogen dan progesteron yang terjadi dapat
dikarenakan adanya perubahan konstitusi dalam tubuh wanita itu sendiri atau
karena pengaruh dari luar misalnya karena kontrasepsi, dapat juga karena
penderita sedang dalam pengobatan hormonal.
4. Kanker
Pada kanker terdapat gangguan dari pertumbuhan sel normal yang
berlebihan sehingga mengakibatkan sel bertambah sangat cepat secara abnormal
dan mudah rusak, akibatnya terjadi pembusukan dan perdarahan karena pecahnya
pembuluh darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada
sel kanker tersebut. Pada Ca cerviks terjadi pengeluaran cairan yang banyak
disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan tadi, dan acapkali disertai
adanya darah yang tidak segar.
5.Vaginitis atrofi
Usia pra pubertas, masa laktasi, pasca menopause dan beberapa keadaan
yang menyebabkan kurangnya estrogen, akan menyebabkan meningkatnya pH
vagina. Naiknya pH akan menyebabkan pertumbuhan bakteri normal dalam
vagina menjadi berkurang, tetapi sebaliknya pH yang meningkat akan memicu
pertumbuhan bakteri patogen di vagina. Kurangnya estrogen akan menyebabkan
penipisan mukosa vagina sehingga mudah terluka dan terinfeksi
Infeksi Pada Vagina
Pada pemeriksaan sekret vagina pada pasien normal, dapat ditemukan
batang gram positif, yaitu Lactobacillus acidophillus. Bakteri ini dapat
mempertahankan ekosistem vagina dengan 3 cara:
a. Memproduksi asam laktat yang mempertahankan pH vagina normal,

14

yaitu 4 (rata-rata 3,8-4,2) , sehingga dapat menghambat patogen


b. Memproduksi Hidrogen Peroksida yang toksis terhadap mikroflora
anaerob
c. Memiliki mikrovili yang menempel pada reseptor di sel-sel epitel
vagina, sehingga menghalangi penempelan patogen.
Infeksi Jamur
Kandidiosis vulvovaginal (KV)
Kandidiosis vulvovaginal merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh
Candida spp terutama Candida albicans. Diperkirakan sekitar 50% wanita pernah
mengalami kandidiosis vulvovaginitis paling sedikit dua kali dalam hidupnya.
Jamur ini hidup dalam suasana asam yang mengandung glikogen. Candida
albicans dapat dikultur dari sekitar 25% wanita yang mendekati kehamilan matur,
sehingga jika sifatnya asimtomatik, tidak diperlukan intervensi obat-obatan, tetapi
pada keadaan tertentu dimana hal ini menyebabkan keluhan, kita harus intervensi
dengan obat-obatan (1). Gejala yang dikeluhkan biasanya berupa keputihan disertai
rasa gatal dan berbau asam, pada pemeriksaan kita dapatkan gumpalan seperti
susu pecah dan lengket.
Mikonazole, clotrimazole, nystatin dikatakan efektif dalam mengobati
kandidiasis selama kehamilan. Infeksi ini bisa saja terjadi berulang, jika
didapatkan keadaan seperti ini, kita dapat mengulangi pengobatan setelah ibu
melahirkan

(1).

Keadaan-keadaan yang mendukung timbulnya infeksi adalah

kehamilan, pemakaian pil kontrasepsi, pemakaian kortikosteroid dan pada


penderita Diabetes Melitus.

15

Gambar 1. mikroskopik Candida albicans


Gejala klinis Kandidiosis Vulvovaginal (KV) adalah :
-

Duh tubuh vagina disertai gatal pada vuIva

Disuria eksternal dan dipareunia superfisiaI

Pada pemeriksaan tampak vulva eritem, edem dan Iecet

Pada pemeriksaan spekulum tampak duh tubuh vagina dengan jumlah


yang bervariasi, konsistensi dapat cair atau seperti susu pecah. Pada kasus yang
lebih berat pemeriksaan inspekulo menimbulkan rasa nyeri pada penderita.
Mukosa vagina dan ektoserviks tampak eritem, serta pada dinding vagina tampak
gumpaIan putih seperti keju. Pemeriksaan pH vagina berkisar 4-4,5.

16

Gambar 2. Vagina dengan Candidiasis


Infeksi Protozoa
Trichomoniasis (1,4)
Tricomoniasis adalah infeksi traktus urogenitalis yang disebabkan oleh
Trichomonas

vaginalis. Masa inkubasi berkisar antara 5-28 hari. Pada wanita,

Trichomonas vaginalis paling sering menyebabkan infeksi pada epitel vagina,


selain pada urethra, kelenjar bartholini dan kelenjar skene.

Gambar 3.
Gambaran

mikroskopis Trichomonas vaginalis


Trichomoniasis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual tanpa
menggunakan

pelindung

(kondom)

dengan

seseorang

yang

mengidap

trichomoniasis atau dapat juga ditularkan melalui perlengkapan mandi (handuk).


Pada keadaan ibu hamil, sekitar 20% dari kasus trichomoniasis dapat kita

17

identifikasi selama prenatal care. Gejala-gejala yang paling sering muncul adalah
keputihan yang berbusa, gatal dan mengiritasi mukosa vagina, serta berbau busuk.
T.vaginalis sebagai penyebab penyakit ini dapat kita identifikasi dengan
mengambil sekret dari fornix posterior kemudian kita oleskan diatas gelas objek
yang sudah diberi cairan NaCl 0,9% dan dilihat dibawah mikroskop cahaya akan
kita dapatkan makhluk ini berbentuk seperti buah pear, berflagel, dan
pergerakannya terlihat jelas.
Gejala klinis :
-

Asimtomatis pada sebagian wanita penderita trichomoniasis

Bila ada keluhan, biasanya berupa cairan vagina yang banyak, sekitar
50% penderita mengeluh bau yang tidak enak disertai gatal pada vulva
dan dispareunia.

Pada pemeriksaan, sekitar 75% penderita dapat ditemukan kelainan


pad a vulva dan vagina. Vulva tampak eritem, lecet dan sembab. Pada
pemasangan spekulum terasa nyeri, dan dinding vagina tampak eritem.

Sekitar 2-5% serviks penderita tampak gambaran khas untuk


trichomoniasis, yaitu berwama kuning, bergelembung, biasanya
banyak dan berbau tidak enak

Pemeriksaan pH vagina >4,5

Gambar 4. Gambaran fluor albus pada Trichomonas vaginalis

Infeksi Bakteri (1,4)

18

Vaginosis Bakterial (VB)


Keadaan ini tidaklah seperti infeksi biasa, melainkan terjadi karena adanya
gangguan keseimbangan flora normal vagina. Lactobacillus berkurang jumlahnya
dan bakteri anaerob seperti Gardnerella vaginalis, Mobiluncus, dan spesies
Bacteroides cenderung untuk bertambah jumlahnya.
Vaginosis bakterial merupakan penyebab vaginitis yang sering ditemukan
terutama pada wanita yang masih aktif berhubungan seksual.
Gejala klinis :
-

Adanya duh tubuh dari vagina yang ringan atau sedang yang berbau
tidak enak (amis).

Bau lebih menusuk setelah senggama dan mengakibatkan darah


menstruasi berbau abnormal.

Pada pemeriksaan didapatkan jumlah duh tubuh vagina tidak banyak,


berwama putih, keabu-abuan, homogen, cair, dan biasanya melekat
pada dinding vagina

Pada vulva atau vagina jarang atau tidak ditemukan inflamasi.

Pemeriksaan pH vagina >4,5

Infeksi pada Serviks (4)


Servisitis Gonore
Gonore merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh N. gonnorrheae
pada traktus genitalis dan organ tubuh lainnya seperti konjungtiva, faring, rektum,
kulit, persendian, serta organ dalam. Ditularkan melalui hubungan seksual. Pada
wanita, N gonnorrhoeae pertama kali mengenai kanalis servikalis. Selain itu dapat
mengenai uretra, kelenjar skene, dan kelenjar bartholini. Masa inkubasi
bervariasi, umumnya 10 hari.
Gejala klinis :
-

Gejala subyektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapatkan


kelainan objektif.

Jika sudah bergejala biasanya terdapat duh tubuh yang mukopurulen


dan mengandung gonokok mengalir ke luar dan menyerang uretra.

19

Gambar 5. Sediaan gram N. gonorhea


Servisitis yang disebabkan Clamidia trachomatis (4)
Penyakit yang disebabkan oleh Chlamidia trachomatis sebagian besar
serupa dengan gonore. Pada wanita, traktus genitalis yang paling sering terinfeksi
oleh C. trachomatis adalah endoserviks. Pada 60 % penderita biasanya
asimtomatik (silent sexualy transmitted disease).
Gejala klinis:
-

70%asimptomatis

Bila penderita mempunyai keluhan, biasanya tidak khas dan serupa


dengan keluhan servisitis gonorhoe, yaitu adanya duh tubuh vagina.

Ketepatan dalam mendiagnosis penyebab leukorrhea merupakan kunci


utama dalam keberhasilan pengobatan. sehingga sangat perIu mengidentifikasi
kuman penyebabnya secara pasti.
1. Anamnesis
Dalam anamnesis harus terungkap apakah lekore ini

fisiolgis atau

patologis. Selain disebabkan karena infeksi harus dipikirkan juga kemungkinan


adanya benda asing atau neoplasma.
2. Pemeriksaan klinis
Pada pemeriksaan spekulum harus diperhatikan sifat cairannya seperti
kekentalan, warna, bau serta kemungkinan adanya benda asing, ulkus dan
neoplasma

(kelompok

khusus).

Pemeriksaa.n

20

dalam

dilakukan

setelah

pengambilan sediaan untuk pemeriksaan laboratorium.


3. Laboratorium
Dibuat sediaan basah NaCI 0.9% fisiologis untuk trichomoniasis, KOH
10% untuk kandidias, pengecatan gram untuk bakteri penyebab gonore.
Pemeriksaan tambahan dilakukan bila ada kecurigaan keganasan. Kultur
dilakukan pada keadaan klinis ke arah gonore tetapi hasil pemeriksaan gram
negatif. Pemeriksaan serologis dilakukan bila kecurigaan ke arah klamidia.
4. Pengobatan
Terapi jangan semata-mata bertumpu pada hasil-hasil pemeriksaan
laboratorium. Pada pengalaman klinik, temyata kebanyakan lekore disebabkan
oleh infeksi campuran sehingga harus diberikan terapi kombinasi. Selain terapi
untuk pasien dan pasangannya, pada waktu bersamaan harus juga diberikan
penyuluhan konseling bahwa obat harus dimakan sesuai anjuran dan tidak
melakukan hubungan selama pengobatan serta harus melalukan pemeriksaan
ulang sesuai anjuran.
5. Pengawasan
Pada kunjungan ulang dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium
untuk menilai keberhasilan terapi dan menentukan langkah selanjutnya. Bila
lekore masih ada, sedangkan tanda klinis sudah hilang, perlu dipikirkan sebab lain
misalnya hormon. Bila keadaan memburuk dan timbul reinfeksi harus dicari
penyebabnya, bila perlu dilakukan pemeriksaan kultur dan resistensi serta diulangi
sesuai protokol.
Infeksi Pada Vagina
Infeksi Jamur (4,5)
Candidosis vulvovaginal
Kriteria diagnosis:
-

Leukorrhea yang bervariasi mulai dari cair sampai kental dan sangat gatal
(pruritus vulva)

Dapat ditemukan rasa nyeri pada vagina, dispareunia, rasa terbakar pada
vulva dan iritasi vulva

Tanda inflamasi : dapat ditemukan eritem (+), edem (+) pada vulva dan

21

labia, lesi diskret pustulopapular (+), dermatitis vulva


-

Laboratorium : pH vagina < 4,5, Whiff test (-). Pada sediaan gram: bentuk
ragi (+) dan pseudohifa (+)

Mikroskopik : leukosit, sel epitel


terlihat : ragi (yeast) mycelia atau pseudomycelia

Saran: kultur jamur untuk menegakkan diagnosis. (kultur merupakan jenis


pemeriksaan yang paling sensitif untuk mendeteksi adanya kandida)

Pengobatan (1,4)
Mikonazole, clotrimazole, nystatin dikatakan efektif dalam mengobati
kandidiasis selama kehamilan. Infeksi ini bisa saja terjadi berulang, jika
didapatkan keadaan seperti ini, kita dapat mengulangi pengobatan setelah ibu
melahirkan

Klotrimazol500mg intravagina dosis tunggal-atau

Klotrimazol 200 mg intravena selam 3 hari

Nistatin 100:000 unit intravagina selama 14 hari atau

Fluconazole 150 mg peroral dosis tunggal atau

Itraconazole 200 mg 2 x I tablet selama 1 hari atau

Imidazole vagina krem, 1 tablet setiap hari selama 3-7 hari

Wanita hamil sebaiknya hanya menggunakan penggunaan topikal dengan tablet


vagina.

Gambar 7. Vagina dengan Fluor albus

22

Infeksi Protozoa
Trichomoniasis (4,5)
Diagnosis
-

Jumlah leukorrhea banyak, sering disertai bau yang tidak enak (bau busuk),
pruritus vulva, external dysuria dan iritasi genital sering ada.

Warna sekret : putih, kuning atau purulen

Konsistensi : homogcn, basah, seringfrothyatau berbusa (foamy)

Tanda-tanda inflamasi: eritem pada mukosa vagina dan introitus vagina,


kadang-kadang petechie pada serviks, dermatitis vulva.

Sekitar 2-5% serviks penderita tampak strawberry cervix

Laboratorium : pH vagina > 5,0, whiff test biasanya (+)

Mikroskopik : dengan pembesaran 400 kali dapat terlihat pergerakan


trichomonas. Bentuknya ovoid, ukuran lebih besar dari sel PMN dan
mempunyai flagel. Pada 80-90% penderita symtomatic leucocyte (+), clue
cell bisa (+).

Pengobatan (1,4)
Metronidazole dikatakan sebagai terapi yang sangat efektif untuk
membunuh spesies ini. Dapat kita berikan per oral ataupun per vaginam.
Walaupun obat ini melewati plasenta, tidak didapatkan penelitian yang
mengatakan bahwa obat ini menyebabkan gangguan pada janin. Di Amerika, oleh
Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDO) obat ini masuk dalam kategori B,
penggunaan obat ini juga direkomendasikan oleh CDC.

Metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal atau

Metronidazole 2x500 mg peroral selama 7 hari

Pada wanita hamil trimester pertama dapat diberikan pengobatan topikal


klolrimazol 100 mg intra vagina selama 6 hari.

Penanganan pada pasangan seksual


Pasangan

tetap

atau

sumber

kontak:

pemeriksaan

rutin

traktus

genitoutinarius, pengobatan dengan tablet metronidazole peroral dosis tunggal.

23

Infeksi Bakteri
Vaginosis bacterial (4,5)
Kriteria diagnosis:
Diagnosis vaginosis bakterial dapat ditegakkan bila ditemukan tiga dari
empat gejala berikut (Kriteria Amsell) :
1. Cairan vagina homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding vagina
2. pH vagina >4,5
3. Whiff test (+)
4. Ditemukan clue cell pada pemeriksaan mikroskopik
Atau:
-

Keputihan yang berbau tidak enak/bau seperti ikan, terutama setelah


berhubungan seksual

Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai banyak, warna sekret : putih


atau abu-abu dan melekat pada dinding vagina terutama forniks posterior

Tanda-tanda inflamasi tidak ada

Laboratorium : whiff test (+), pH;> 4,5 (biasanya 4,7-5,7)

Mikroskopik : clue cell (+), jarang lekukosit, banyaknya lactobacilli


berlebihan karena bercampur dcngan flora, meliputi kokus gram (+) dan
coccobacilli

Pengobatan (1,4)
Pengobatan diberikan pada ibu hamil yang menunjukkan gejala, biasanya
mereka mengeluh keputihan yang banyak dan berbau amis. Metronidazole dengan
dosis 2 kali 500 mg per hari selama seminggu akan menyembuhkan lebih dari
90% kasus.

Metronidazole 2 gram, peroral dosis tunggal atau

Meronidazole 500 mg peroral, 2x1 hari selama 7 hari atau

Ampisilin 500 mg peroral 4xl hari se1ama 7 hari

Penanganan pada partner seksual


-

Partner tetap atau sumber kontak : pemeriksaan rutin penyakit menular

24

seksual (sexual transmitted disease)


-

Biasanya tidak diindikasikan untuk pengobatan

Gambar 8. Gambaran Fluor albus akibat Vaginosis bakterial


Tabel 1. Penyebab, Gejala klinis, dan diagnosis pada VAGINITIS

Etiologi
Keluhan

Normal

Kandida

Trikomonas

Vaginosis

Lactobacillus

C. albicans
Vulva gatal,

T.vaginalis
Vulva gatal,

bakterial
G.vaginalis
Sekret

iritasi, secret>

secret>>,

meningkat,

purulen

putih keabuabuan

Sekret
-Jumlah

Sedikit

Sedikit-sedang

Banyak

Sedang

-warna

Bening/putih

Putih

Kuning

Putih/Abu-abu

-konsistensi

Homogen(-)

Gumpalan susu

Homogen

Homogen,

pecah, lengket

encer, melekat
pd dinding
vagina

Inflamasi
pH Vagina
KOH 10%

4,5
-

+
4,5
-

4,5
+

asam

busuk

amis

Bau

+
4,5
-

Infeksi pada Serviks

25

Gonore (4)
Diagnosis:
Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan
langsung sediaan apus endoserviks dengan pengecatan gram akan ditemukan
diplokokus gram negatif yang tampak di dalam sel PMN dan di !uar sel PMN
Pengobatan:

Siprofloksasin 500 mg peroral, dosis tunggal atau

Ofloksasin 400 mg peroral, dosis tunggal atau

Tiamfenikol 3,5 gr peroral, dosis tunggal atau

Seftriakson 250 mg, intramuskuler, dosis tunggal atau

Spektinomisin 2 gr, intramuskuler, dosis tunggal

Siprofloksasin, Ofloksasin dan Tiamfenikol tidak boleh diberikan pada wanita


hamil atau yang sedang menyusui dan anak-anak.
Servisitis akibat Chlamidia trachomatis (4)
Kriteria Diagnosis:
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium, yaitu
pemeriksaan sitologi, identifikasi antigen. C.trachomatis, PCR dan isolasi
C.trachomatis pada biakan sel
Pengobatan:

Doksisiklin 2x200 mg peroral, selama 7 hari atau

Azitromisisn 1 gr peroral, dosis tunggal atau

Eritromisin 4x500 mg peroral, selama 7 hari atau

Tetrasiklin 4x500 mg peroral, selama 7 hari

Doksisiklin, Tetrasiklin dan Aztromisin tidak boleh diberikan pada wanita hamil
atau sedang menyusui dan anak-anak.

26

Lekore
ANAMNESIS
Pemeriksaan Spekulum
Pemeriksaan Dalam

Encer, berbusa, berbau, Kuning , Kehijauan


Putih kental
Susu basi/ yogurt

SUSPEK:
- Trikomoniasis
-. Vaginosis
Baktrialis

SUSPEK:
- Kandidiasis

Protokol

Bernanah
Serviks
purulen

Kelompok khusus,
Putih-abu

SUSPEK:
Gonore
Klamidiasis
Penanganan Lekore

di Bagian OB-GYN
FKUP- RSHS

Error: Reference source not found

Laboratorium: Mikroskopis Preparat Basah


NaCl 0,9% --KOH---Pewarnaan gram
Pemeriksaan tambahan: Tes PAP, Biakan, Serologis

Pengobatan: - Pasien dan Pasangannya


- Penyuluhan dan konseling

Kunjungn Ulang 7-14 hari kemudian

Lokore masih ada


Pikirkan : Cara Pengobatan
Reinfeksi, sebab lain

Lokore tidak ada

27

28

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham, et al. Obstetrical Hemorrhage.Williams Obstetrics 22nd. 2005.
MacGraw-Hill Companies, Inc.
2. Hidayat Wijayanegara, Achmad Suardi, Wiryawan Permadi, Tina Dewi
Judistiani. 1997. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi
RSUP Dr.Hasan Sadikin Edisi kedua. Bandung: Bagian/SMF Obstetri dan
Ginekologi FKUP/RSUP Dr.Hasan Sadikin.
3. Curry, stephen; Barclay, david. Benign Disorders of the vulva & vagina,
Current Obstetric & gynecologic Diagnosis & treatment, 8th ed, LANGE
1997.
4. Daili, Sjaiful Fahmi. Wresti Indriatmi 2003. Penyakit Menular Seksual
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
5. Djajakusumah, Tony S; Rachmatdinata; Rowawi rosmia. Penyakit Menular
Seksual. Slide Kuliah 2003 FKUP
6

http://www.kbc-zagreb.hr/pic/molekularna_mikrobiologija/Candida-albicansprep.jpg (diakses tanggal 10 September 2015)

http://www.uff.br/dst/foto43.jpg (diakses tanggal 10 September 2015 )

http://www.poliklinika-harni.hr/teme/ginteme/trichomonas.jpg t.vaginalis
(diakses tanggal10 September 2015)

http://www.zambon.es/areasterapeuticas/03mujer/atlas/img_large/h4e042.jpg
(diakses tanggal 10 September 2015)