Anda di halaman 1dari 12

3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi Hidung dan Sinus Paranasal

2.1.1 Anatomi Hidung Bagian Luar


Hidung luar berbentuk pyramid dengan pangkal hidung dibagian atas dan
puncaknya berada dibawah. Hidung bagian luar dibentuk oleh kerangka
tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat. Kerangka
tulang terdiri dari sepasang Os Nasal, Prosesus Frontalis os Maksilla dan
prosesus nasalis Os frontal, sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari
sepasang kartilago nasalis lateralis superior,sepasang kartilago lateralis
inferior (kartilago ala mayor) dan tepi anterior kartilago septum nasi. Otot
otot ala nasi terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok dilator, terdiri dari
muskulus dilator nares (anterior dan posterior), muskulus proserus, kaput
angular muskulus kuadratus labil superior dan kelompok konstriktor yang
terdiri dari muskulus depressor septi (Dhingra, 2007).

Gambar 2.1

Anatomi Hidung (www.google.com)

Gambar 2.2 Hidung Bagian Luar (www.google.com)


2.1.2

Anatomi Hidung Bagian Dalam


Hidung bagian dalam dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya
menjadi cavum nasi kanan dan kavum nasi kiri yang tidak sama
ukurannya. Lubang hidung bagian depan disebut nares anterior dan lubang
hidung bagian belakang disebut nares posterior atau disebut choana.
Bagian dari rongga hidung yang letaknya sesuai dengan ala nasi disebut
Vestibulum yang dilapisi oleh kulit yang mempunyai kelenjar keringat,
kelenjar sebacea dan rambut rambut yang disebut Vibrisae . Rongga
Hidung dilapisi oleh membran mukosa yang melekat erat pada periostium
dan perikondrium, sebagian besar mukosa ini mengandung pembuluh
darah, kelenjar mukosa dan kelenjar serousa dan ditutupi oleh epitel torak
berlapis semu mempunyai silia (Dhingra, 2007).
Kavum nasi terdiri dari :
1. Dasar Hidung
Dibentuk Oleh Prosesus Palatina os Maksila dan Prosesus horizontal os
palatum.
2. Atap Hidung
Terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal prosesus
frontalis, os maksila, korpus os etmoid dan korpus os stefoid. Sebagian
besar atap hidung dipenuhi oleh lamina cribrosa.
3. Dinding Lateral

Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os


maksila, os lakrimalis, konka superior, konka media, konka inferior,
lamina perpendikularis os palatum, dan lamina pterigoideus medial.
Dinding lateral nasal mulai sebagai struktur rata yang belum
berdiferensiasi.

Pertumbuhan

maxilloturbinal

yang

pertama

kemudian

akan

yaitu

menjadi

pembentukan
kokha

inferior.

Selanjutnya, pembentukan ethmoturbinal, yang akan menjadi konka


media,

superior

ethmoturbinal

dan

pertama

supreme
dan

dengan

kedua.

cara

terbagi

Pertumbuhan

ini

menjadi
diikuti

pertumbuhan sel-sel ager nasi, prosesus uncinatus, dan infundibulum


etmoid. Sinus-sinus kemudian mulai berkembang. Rangkaian rongga,
depresi, ostium dan prosesus yang dihasilkan merupakan struktur yang
kompleks yang perlu dipahami secara detail dalam penanganan
sinusitis, terutama sebelum tindakan bedah (Quinn FB, 2009).
4. Konka nasi
Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka , yaitu konka inferior, konka
media, konka superior dan konka suprema. Konka suprema biasanya
rudimeter. Konka inferior merupakan konka yang terbesar dan
merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila. Sedangkan
konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari etmoid.
5. Meatus nasi
Di antara konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang
disebut meatus. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan
dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior
terdapat muara duktus nasolakrimalis. Meatus media terletak diantara
konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus superior
yang merupakan ruang antara konka superior dan konka media terdapat
muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
6. Dinding medial
Dinding medial hidung adalah septum nasi.
Pada tulang-tulang pembentuk dinding lateral hidung dijelaskan dalam
gambar 2.3 :

Gambar 2.3

Tulang Tulang Pembentuk Dinding Lateral Hidung


(Norman W, 1999)

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nasal
Frontal
Etmoid
Sfenoid
Maksila
Prosesus palatina horizontal

7.
8.
9.
10.
11.
12.

Konka superior (etmoid)


Konka media (etmoid)
Konka inferior
Foramene sfenopalatina
Lempeng pterigoid media
Hamulus pterigoid media

Dari struktur di atas, dapat dilihat atap kavum nasi dibentuk oleh
tulang-tulang nasal, frontal, etmoid, sfenoid dan dasar kavum nasi
dibentuk oleh maksila dan prosesus palatina, palatina dan prosesus
horizontal. Gambar 2.3 menunjukkan anatomi tulang-tulang pembentuk
dinding nasal bagian lateral. Tiga hingga empat konka menonjol dari
tulang etmoid, konka supreme, superior, dan media. Konka inferior
dipertimbangkan sebagai struktur independen (Norman W, 1999).
Masing-masing struktur ini melingkupi ruang yang terlihat pada gambar
2.4 :

Gambar 2.4
Meatus Pada Dinding Lateral Hidung (Norman W, 1999)
Sebuah lapisan tulang kecil menonjol dari tulang etmoid yang
menutupi sinus maksila di sebelah lateral dan membentuk sebuah jalur di
belakang media.

Bagian tulang kecil

ini dikenal sebagai prosesus

unsinatus (Quinn FB, 2009).


Jika konka media diangkat, maka akan tampak hiatus semilunaris dan
bulla etmoid seperti tampak pada gambar 2.5. Dinding lateral nasal bagian
superior terdiri dari sel-sel sinus etmoid yang ke arah lateral berbatasan
dengan epitel olfaktori dan lamina kribrosa yang halus. Superoanterior dari
sel-sel etmoid terdapat sinus frontal. Aspek postero-superior dari dinding
lateral nasal merupakan dinding anterior dari sinus sfenoid yang terletak di
bawah sela tursika dan sinus kavernosa (Norman W, 1999).

Gambar 2.5
2.2 Sinus Paranasal
2.2.1 Definisi

Struktur Dibalik Konka (Norman W, 1999)

Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal


(Hilgher PA, 1997 & Mangunkusumo E, 2007). Rhinitis dan sinusitis
biasanya terjadi bersamaan dan saling terkait pada kebanyakan individu,
sehingga terminologi yang digunakan saat ini adalah rinosinusitis.
Rinosinusitis (termasuk polip nasi) didefinisikan sebagai inflamasi hidung
dan sinus paranasal yang ditandai adanya dua atau lebih gejala, salah
satunya harus termasuk sumbatan hidung/ obstruksi nasi/ kongesti atau
pilek (sekret hidung anterior/ posterior) nyeri wajah/ rasa tertekan di
wajah penurunan/ hilangnya penghidu.
dan salah satu dari
Temuan nasoendoskopi:
Polip dan atau
Sekret mukopurulen dari meatus medius dan atau
Edema/ obstruksi mukosa di meatus medius
dan atau
Gambaran tomografi komputer:
Perubahan mukosa di kompleks osteomeatal dan atau sinus (Fokkens
W, 2007).
2.2.2 Anatomi Sinus Paranasal
Manusia mempunyai sekitar 12 rongga sepanjang atap dan bagian
lateral rongga udara hidung. Jumlah, bentuk, ukuran dan simetri bervariasi.
Sinus-sinus ini membentuk rongga di dalam beberapa tulang wajah dan
diberi nama yang sesuai. Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran
pernapasan yang mengalami modifikasi dan mampu menghasilkan mukus
dan bersilia, sekret disalurkan ke dalam rongga hidung. Pada orang sehat,
sinus terutama berisi udara (Quinn FB, 2009).

Gambar 2.6 Sinus Paranasal (www.google.com)


Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada
empat pasang sinus paranasal mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila,
sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus
paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga
terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara ke
rongga hidung.Sinus paranasal terdiri dari empat pasang, yaitu sinus
frontal, sinus etmoid, sinus maksila, dan sinus sfenoid. Sinus-sinus ini
pada dasarnya adalah rongga-rongga udara yang berlapis mukosa di dalam
tulang wajah dan tengkorak. Pembentukannya dimulai sejak dalam
kandungan, akan tetapi hanya ditemukan dua sinus ketika baru lahir yaitu
sinus maksila dan etmoid (Quinn FB, 2009).
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa
rongga hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan,
kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid
telah ada saat anak lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari dari
sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun.
Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari

10

bagian postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya


mencapai besar maksila 15-18 tahun (Mangunkusumo E, 2000).
Sinus paranasal dalam kondisi normal mengalirkan sekresi dari
mukosa ke daerah yang berbeda dalam kavum nasi seperti terlihat dalam
gambar 2.7. Aliran sekresi sinus sfenoid menuju resesus sfenoetmoid,
sinus frontal menuju infundibulum meatus media, sinus etmoid anterior
menuju meatus media, sinus etmoid media menuju bulla etmoid dan sinus
maksila menuju meatus media. Struktur lain yang mengalirkan sekresi ke
kavum nasi adalah duktus nasolakrimalis yang berada kavum nasi bagian
anterior (Norman W, 1999).

Gambar 2.7 Aliran Sekresi Sinus (Norman W, 1999)


2.2.3 Anatomi Sinus Maksilaris
Sinus maksilaris (antrum Highmori) adalah sinus yang pertama
berkembang. Struktur ini biasanyaterisi cairan saat lahir. Pertumbuhan
sinus ini terjadi dalam dua fase sela pertumbuhan tahun 0-3 dan 712.Selama fase terakhir, pneumatisasi menyebar lebih ke arah inferior
ketika gigi permanen erupsi.Pneumatisasi dapat sangat luas hingga akar
gigi terlihat dan selapis tipis jaringan lunak menutupi mereka. Sinus
maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus
maksilabervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan
akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml (34x33x23mm) saat
dewasa (Mangunkusumo E,2000) sinus maksila berbentuk segitiga.

11

Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut


fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal
maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung dinding
superiornya adalah dasar orbita dan dinding inferior ialah prosesus
alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada disebelah superior
dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui
infindibulum etmoid. Dari lahir hingga usia 9 tahun, lantai sinus berada di
atas cavitas nasalis. Pada usia 9tahun, lantai sinus biasanya berada sejajar
dengan lantai nasus. Lantai biasanya terus berkembang ke inferior seiring
dengan pneumatisasi sinus maxillaris. Karena hubungannya berdekatan
dengan gigi geligi, penyakit gigi dapat menyebabkan infeksi sinus
maxillaris dan ekstraksi gigi dapat mengakibatkan fistula oroantral.

Gambar 2.8

Sinus Maksilaris

2.2.4 Fisiologi Sinus Maksilaris


Banyak teori menyatakan tentang fungsi sinus. Fungsi sinus termasuk
untuk menghangatkan atau melembabkan udara yang dihirup, membantu
pengaturan tekanan intranasal dan tekanan gas serum (dan terkadang
ventilasi permenit), berperan dalam pertahanan tubuh, meningkatkan area
permukaan mukosa, meringankan tengkorak, memberikan resonansi suara,
penyerap shock dan berperan dalam pertumbuhan tulang muka (Jack B,
1996).

12

Hidung adalah pelembab dan penghangat udara yang menakjubkan.


Bahkan dengan aliran udara 7 liter permenit, hidung belum mencapai
kemampuan maksimalnya untuk melaksanakan fungsi ini. Proses
melembabkan nasus telah berkontribusi sebanyak 6,9 mm Hg serum pO 2.
Meskipun mukosa nasus paling baik untuk melaksanakan tugas ini, sinus
juga berkontribusi. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa individu yang
bernafas dengan mulut mempunyai penurunan volume tidal CO2 yang
dapat menaikkan serum CO2 dan sleep apnea (Watelet J, 1999).
Sinus memproduksi mukus dalam jumlah besar, maka sinus
berkontribusi besar terhadap sistem imun/ filtrasi udara melalui hidung.
Mukosa nasus dan sinus bersilia dan berfungsi untuk menggerakkan
mukus menuju choana dan gaster di inferior. Lapisan superfisial yang
menebal pada mukosa nasal bertindak sebagai perangkap bakteri dan
memecah substansi melalui sel sel imun, antibodi dan protein antibakteri,
lapisan sol yang mendasari lebih tipis dan menghasilkanmsubstrat yang
dapat menggerakkan silia; ujung silia melekat pada lapisan superfisial
danmmendorong substrat ke arah gerakan. Kecuali tersumbat oleh
penyakit ataupun variasi anatomi, sinus menggerakkan mukus keluar dari
ostium menuju choana. Penelitian paling mutakhir mengenai fungsi sinus
berfokus pada molekul Nitrous Oxide (NO). Penelitian menunjukkan
bahwa produksi NO intranasal terutama di dalam sinus. NO toksik
terhadap bakteri, jamur dan virus pada tingkat 100 ppb. Konsentrasi
substansi NO dalam nasus dapat mencapai 30.000 ppb sehingga beberapa
peneliti mengusulkan sebagai mekanisme sterilisasi sinus. NO juga dapat
meningkatkan motilitas silia (Watelet J, 1999).
2.2.5

Sinus Etmoidalis
Terdiri banyak sel di dalam tulang etmod, dibagi : etmoidalis anterior

dan etmoidalis posterior.


Etmoidalis anterior drainase ke meatus nasi medius di KOM,
sedangkan etmoidalis posterior ke meatus nasi superior.

13

Atap berbatasan dengan fosa kranii anterior, dinding lateral dengan


lamina papirasea (dinding medial orbita).

2.2.6

Sinus Frontalis
Pada os frontal (tulang dahi).
Sepasang, kanan dan kiri, tidak sama besar, kadang-kadang hanya

2.2.7

2.3

tumbuh sebelah.
Ke atas dan belakang berbatasan dengan fosa kranii anterior.
Ke bawah berbatasan dengan rongga orbita.
Ostium di meatus nasi medius (di KOM).

Sinus Sfenoidalis
Di tulang sfenoid, kanan dan kiri.
Ostium di resesus sfeno-etmoid.
Ke atas berbatasan dengan hipofise.
Ke lateral berbatasan dengan fosa kranii medius.
Ke bawah berbatasan dengan nsofaring.
Mukosa Rongga Hidung
Rongga Hidung dilapisi oleh selaput lendir. Epitel organ pernapasan yang

biasanya berupa epitel kolumnar bersilia, bertingkat palsu, berbeda beda pada
bagian hidung. Pada ujung anterior konka dan septum sedikit melampaui os
internum masih dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa silia, lanjutan epitel kulit
vestibbulum nasi. Sepanjang jalur utama arus inspirasi epitel menjadi kolumnar;
silia pendek agak irreguler. Sel sel meatus media dan inferior yang terutama
menangani arus ekspirasi memiliki silia yang panjang yang tersusun rapi
(Dhingra, 2007).
2.4

Suplai Darah
Sinus maksilaris disuplai oleh arteri maxillaris interna. Arteri ini termasuk

mempercabangkan arteri infraorbitalis (berjalan bersama nervus infraorbitalis),


sphenopalatina rami lateralis, palatina mayor dan arteri alveolaris. Drainase vena
berjalan di sebelah anterior menuju vena facialis dan di sebelah posterior menuju
vena maxillaris dan jugularis terhadap sistem sinus dural.
2.5

Inervasi

14

Sinus maksilaris diinervasi oleh rami maksilaris. Secara rinci, nervus


palatina mayor dan nervus infraorbital.

2.6

Struktur Terkait
Ductus nasolacrimalis
Ductus nasolacrimalis merupakan drainase saccus lacrimalis dan berjalan
dari fossa lacrimalis pada cavum orbita, dan bermuara pada bagian
anterior meatus nasalisinferior. Ductus terletak sangat berdekatan dengan
ostium maxillaris kira-kira 4-9 disebelah anterior ostium.
Ostium Natural
Ostium maxillaris terletak di bagian superior dinding medial sinus.
Ostium ini biasanya terletak setengah posterior infundibulum ethmoidalis
atau di sebelah posterior sepertiga inferior processus uncinatus. Tepi
posterior ostia bersambungan dengan lamina papyracea, sehingga
menjadi patokan batas lateral diseksi bedah. Ukuran ostium kira-kira 2,4
mm tetapi dapat bervariasi dari 1 17 mm. Delapan puluh delapan
persen ostium maxillaris tersembunyi di posterior processus uncinatus
dan dengan demikian tidak dapat terlihat dengan endoskopi.
Ostium accessoris/ Fontanella Anterior/ Posterior
Ostium ini non-fungsional dan berfungsi untuk drainase sinus jika ostium
natural tersumbat dan tekanan atau gravitasi intrasinus menggerakkan
material keluar dari ostium. Ostium accessoris biasanya ditemukan di
fontanela posterior.