Anda di halaman 1dari 17

MODUL I

SACRIFICIAL ANODE
Tujuan Pembelajaran Umum
1. Mahasiswa mengetahui proses pengendalian korosi pada pipa menggunakan
metode proteksi katodik
Tujuan Pembelajaran Khusus
1. Mahasiswa mengetahui pengaruh keberadaan backfill terhadap kinerja sistem
proteksi anoda korban dalam tanah.
2. Mahasiswa mengetahui pengaruh jarak pipa terhadap sistem proteksi anoda
korban.
3. Mahasiswa mengetahui pengaruh jarak penempatan Cupric Sulfate Electrode
(CSE) terhadap pengukuran potensial proteksi pada perpipaan.

I-1
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

BAB I
PENDAHULUAN
Sistem perpipaan merupakan salah satu aspek penting yang mendukung proses
produksi di dunia industri termasuk industri minyak dan gas bumi. Sistem perpipaan
terdiri dari beberapa jaringan pipa yang digunakan sebagai alat distribusi. Sesuai dengan
standar teknik perpipaan yang dipakai di Indonesia dan tertuang dalam Surat Keputusan
Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 300.K/38/M-PE/1997, pipa penyalur minyak
dan gas bumi harus ditimbun di dalam tanah. Hal ini juga mengacu pada standar
internasional tentang pemasangan pipa, contohnya ASME B31.8 yang berjudul Gas
Transmission and Distribution Piping System. Penempatan jaringan pipa dalam tanah
dapat menyebabkan korosi pada pipa, hal ini terjadi karena dalam tanah terdapat
mineral-mineral yang dapat menyebabkan atau bahkan memacu terjadinya korosi pada
pipa. Untuk mengendalikan atau memperlambat terjadinya korosi pada jaringan pipa
tersebut maka sistem pengendalian yang dapat dilakukan pada umumnya adalah
pemasangan coating dan dilengkapi dengan penerapan metode proteksi katodik.
Metode proteksi katodik terdiri dari dua jenis, yaitu metode proteksi anoda
korban (sacrificial anode) dan arus paksa (impressed current). Prinsip proteksi katodik
adalah membanjiri struktur yang dilindungi oleh arus eksternal. Sumber arus yang
digunakan pada metoda anoda korban berasal dari logam yang kurang mulia yang
dihubungkan dengan konduktor logam pada struktur yang dilindungi (untuk sacrificial
anode).
Sistem proteksi katodik anoda korban adalah salah satu metode penanggulangan
korosi yang dapat dilakukan dengan menghubungkan anoda korban terhadap material
yang akan diproteksi. Material yang akan diproteksi diatur agar berperan sebagai katoda
dalam suatu sel korosi dan logam lain yang memiliki potensial yang lebih negatif
berperan sebagai anoda.

I-2
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Korosi
Material logam yang biasa dijumpai sehari-hari berasal dari proses pembentukan
dari bijihnya. Bijih logam digabungkan satu sama lain sehingga membentuk material
logam yang memiliki energi yang tinggi. Bijih-bijih tersebut biasanya berupa oksida
logam seperti hematit (Fe2O3) untuk besi atau bauksit (Al2O3.H2O) untuk aluminium.
Menurut salah satu prinsip termodinamika, sebuah material selalu mengarah pada
keadaan energi yang paling rendah. Begitu juga pada material logam, kebanyakan
logam tidak stabil secara termodinamik dan cenderung akan mencari keadaan energi
yang lebih rendah, yang berupa oksida atau beberapa senyawa lainnya. Proses yang
melibatkan perubahan logam ke arah oksida dengan energi rendah disebut korosi.
Beberapa pendapat menjelaskan mengenai definisi korosi, namun pada
umumnya korosi dapat diartikan sebagai proses degradasi logam yang diakibatkan oleh
reaksi dengan lingkungannya.
Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling
lazim adalah perkaratan besi. Korosi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut.
1. Korosi basah, yaitu proses korosi yang terjadi pada lingkungan berair.
2. Korosi dalam larutan garam.
3. Korosi kering, biasanya terjadi pada suhu tinggi.
2.2 Elektrokimia Korosi
Elektrokimia merupakan reaksi kimia yang melibatkan adanya transfer elektron
antara elektroda positif (anoda) dan elektroda negatif (katoda).
Proses korosi merupakan reaksi elektrokimia yang terjadi pada material logam.
Reaksi korosi melibatkan proses pelepasan elektron (oksidasi) dari logam [persamaan
(1)] dan proses penerimaan elektron oleh beberapa reaksi reduksi, seperti reduksi
oksigen atau air [persamaan (2) dan (3), secara berurutan].
2Fe 2Fe2+ + 2eO2 + 2H2O + 4e- 4OH2H2O + 2e- H2 + 2OH-

(1)
(2)
(3)

Pada proses korosi, reaksi oksidasi sering disebut sebagai reaksi anodik dan
reaksi reduksi disebut sebagai reaksi katodik. Reaksi oksidasi menyebabkan hilangnya
struktur logam, dengan diikuti pelepasan electron yang selanjutnya diterima oleh reaksi
reduksi untuk mempertahankan kenetralan muatan. Apabila terdapat muatan negative
dalam jumlah besar diantara logam dan elektrolit, proses korosi dapat dicegah.
Reaksi elektrokimia (oksidasi dan reduksi) mengacu pada reaksi setengah sel.
Kedua reaksi tersebut dapat terjadi pada daerah yang sama atau terpisah. Reaksi
elektrokimia yang terjadi pada daerah terpisah disebut sebagai sel korosi diferensial.
I-3
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

Skema sel korosi diferensial dapat dilihat pada Gambar 2.1. Bagian logam yang
mengalami oksidasi disebut sebagai anoda atau bagian anodik. Pada bagian ini, arus
listrik searah (diartikan sebagai aliran muatan positif) mengalir dari permukaan logam
menuju elektrolit disertai dengan pelepasan ion logam. Arus ini mengalir dalam
elektrolit ke bagian oksigen, air, atau beberapa jenis lainnya mengalami reduksi. Bagian
ini biasa disebut sebagai katoda atau bagian katodik. Berikut adalah empat komponen
penting dari sel korosi diferensial.
a. Anoda
Anoda merupakan bagian yang melepaskan elektron (oksidasi).
b. Katoda
Katoda merupakan bagian yang menerima elektron (reduksi).
c. Penghantar listrik
Penghantar listrik dapat berupa konduktor yang dapat menghubungkan arus listrik
antara anoda dan katoda.
d. Elektrolit
Elektrolit merupakan media yang dapat menghantarkan arus listrik, misalnya air dan
tanah.

Gambar 2.1 Skema sel korosi diferensial.

Korosi dalam tanah yang dialami saluran pipa dan struktur lainnya sering
disebabkan oleh sel korosi diferensial. Sel korosi diferensial meliputi sel aerasi
diferensial yang melibatkan perbedaan jumlah konsentrasi oksigen dalam tanah. Sel
tersebut dihasilkan oleh perbedaan alami pada permukaan pipa atau zat kimia dalam
tanah. Korosi galvanic merupakan salah satu bentuk sel korosi diferensial yang terjadi
karena dua logam berbeda terhubungkan secara elektrik dan ditempatkan di lingkungan
korosif.
2.3 Metode Penanggulangan Korosi
Berikut adalah lima metoda penanggulangan korosi yang biasa dilakukan.
1) Pemilihan material yang tepat
Pemilihan material disesuaikan dengan biaya, ketersediaan, dan karakteristik
material.
2) Perancangan material yang tahan terhadap lingkungan tertentu

I-4
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

Perancangan material meliputi penambahan unsur paduan, pemurnian, perlakuan


panas, dan pendinginan
3) Pengubahan lingkungan yang korosif
Pengubahan lingkungan dapat dilakukan dengan penambahan inhibitor ke dalam
media korosi sehingga dapat menghambat reaksi anodik dan katodik.
4) Pemutusan interaksi antara material dengan lingkungan
Pemutusan interaksi antara material dengan lingkungan dapat dilakukan dengan
penambahan lapisan pada pipa sebagai isolator atau biasa disebut coating.
5) Pengubahan potensial logam dengan metode proteksi katodik dan anodik
Pemilihan metode penanggulangan korosi biasanya dipertimbangkan
berdasarkan beberapa aspek, yang meliputi aspek ekonomi, kualitas, lingkungan dan
keamanan proteksi. Dua atau lebih dari kelima metode tersebut biasanya digunakan
secara bersamaan. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh proteksi yang lebih baik.
2.4 Sistem Proteksi Katodik
Sistem proteksi katodik banyak digunakan untuk memproteksi struktur baja yang
berada di dalam tanah dan lingkungan air laut, dan sedikit digunakan (pada kondisi
tertentu) untuk penempatan baja dalam air tawar.
Dalam banyak kasus, penerapan proteksi katodik sering dikombinasikan dengan
coating. Tujuannya adalah untuk melindungi baja pada saat coating mengalami
kerusakan.
Pada saat ini, penerapan system proteksi katodik telah meningkat secara cepat
dengan banyaknya penerapan di area eksplorasi serta produksi minyak dan gas yang
berada di offshore. Metode proteksi ini merupakan metode yang paling banyak
digunakan untuk memproteksi bagian material yang terendam oleh air, terutama air laut.
Prinsip utama system proteksi katodik adalah menekan arus eksternal ke dalam
material sehingga potensial material turun ke daerah imun. Dengan kata lain, material
yang digunakan sebagai katoda dalam sel elektrokimia terpolarisasi secara katodik
seperti yang digambarkan pada kurva E log I dalam Gambar 2.2.
Berdasarkan Gambar 2.2 terlihat bahwa i0 katoda lebih rendah daripada iA yang
dimiliki oleh anoda korban begitu juga dengan nilai potensialnya. Dengan adanya arus
eksternal yang dialirkan dari anoda ke katoda, katoda menjadi terproteksi dan rapat arus
korosi katoda menjadi lebih rendah daripada i0, yaitu ikor. Arus eksternal dapat dihasilkan
dengan dua cara yang berbeda, yaitu:
a) menggunakan logam yang kurang mulia dalam bentuk anoda korban yang
dihubungkan dengan konduktor logam pada struktur yang dilindungi,
b) menggunakan sumber arus eksternal, biasanya sebuah rectifier. Sebuah elektroda
referensi dapat digunakan untuk mengontrol rectifier.

anoda
E0
Eko
r

I-5
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

katoda

ikor

i0

iA

log i

Gambar 2.2 Prinsip proteksi katodik anoda korban berdasarkan diagram Evans

2.5 Sistem Proteksi Katodik Metode Anoda Korban


Proteksi katodik metode anoda korban dapat dilakukan dengan menghubungkan
anoda korban terhadap material yang akan diproteksi. Material yang akan diproteksi
diatur agar berperan sebagai katoda dalam suatu sel korosi dan pasangan yang
dihubungkan adalah logam lain yang memiliki potensial yang lebih negatif sehingga
berperan sebagai anoda. Elektron akan mengalir dari anoda ke katoda melalui kabel
penghubung sehingga terjadi penerimaan elektron di katoda. Dengan adanya
penerimaan elektron tersebut, katoda mengalami reaksi reduksi dan terproteksi dari
proses korosi.

Gambar 2.3 Proteksi katodik metode anoda korban

Berikut adalah kelebihan penerapan sistem proteksi katodik metode anoda korban.
1. Pemasangan relatif mudah dan murah.
2. Tidak membutuhkan sumber energi listrik dari luar.
3. Distribusi arus merata.
4. Cocok untuk daerah berstruktur padat.
5. Tidak membutuhkan biaya operasional.
I-6
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

6. Perawatan mudah.
7. Resiko overprotection rendah.
Namun, metode ini juga mempunyai beberapa kekurangan sebagai berikut.
1. Keluaran arus terbatas.
2. Tidak efektif bila resistivitas elektrolit tinggi.
3. Tidak cocok untuk struktur besar yang perlu arus proteksi besar.
Sistem proteksi katodik anoda korban biasanya diterapkan pada perlindungan
tangki dalam tanah, jaringan pipa dalam tanah, jaringan kabel listrik dan komunikasi
dalam tanah, tangki air panas dan struktur kapal laut.
Dalam perancangan sistem proteksi katodik metode anoda korban, terdapat tiga
kriteria yang ditetapkan oleh NACE (National Association of Corrosion Engineers),
yaitu:
1. -850mV terhadap proteksi katodik yang diaplikasikan,
2. -850mV potensial polarisasi terhadap CSE,
3. polarisasi minimum 100mV.
2.6 Anoda Korban
2.6.1 Jenis Anoda Korban dan Karakteristiknya
Penentuan material yang digunakan sebagai anoda korban dilakukan berdasarkan
kemampuan material tersebut dalam menurunkan potensial logam yang diproteksi
mencapai daerah imun dengan cara membanjiri struktur dengan arus searah melalui
lingkungan. Faktor lainnya yaitu biayanya murah, mampu dibentuk sesuai ukuran, dan
dapat terkorosi secara merata. Anoda korban yang biasa digunakan adalah magnesium
(Mg), seng (Zn), dan aluminium (Al).
Pemakaian anoda Mg digunakan untuk lingkungan yang mempunyai resistivitas
tinggi. Hal ini disebabkan pada lingkungan ini diperlukan anoda yang tinggi keluaran
arus per satuan berat dan potensial elektrodanya sangat negatif. Anoda Mg banyak
digunakan untuk memproteksi pipa dalam tanah.
Pemakaian anoda Al banyak digunakan di lingkungan air laut dan harganya
relatif murah dibandingkan anoda lain.
Anoda Zn merupakan anoda korban yang paling banyak digunakan di
lingkungan air laut dan mempunyai efisiensi yang tinggi.
Tabel 2.1 Jenis anoda dengan resistivitas lingkungan

Anoda
Aluminium (Al)
Seng (Zn)
Magnesium (Mg)

Resistivitas Lingkungan (Ohm.cm)


< 150
150
- 500
> 500

Sumber : Teknik Pengendalian Korosi

Tabel 2.2 Karakteristik anoda korban

Jenis
Anoda
Al

Massa Jenis
(kg/dm3)
1,7

Potensial
(Volt/CSE)
1 1,7

Tegangan
Dorong (Volt)
0,6 0,8

Kapasitas
(AH/Kg)
2700

Efisiensi
(%)
50
I-7

Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

Zn
Mg

7,5
2,7

1,05
1,10

0,25
0,25

780
1230

95
95

Sumber : Teknik Pengendalian Korosi

2.6.2 Backfill Anoda Korban


Pemakaian anoda korban yang diterapkan untuk proteksi katodik di dalam tanah
perlu mengggunakan pembungkus yang disebut backfill. Backfill merupakan kantong
kecil yang berisi campuran material dengan komposisi 75% gypsum, 20% bentonit, dan
5% natrium sulfat. Campuran ini menghasilkan resistivitas 50 Ohm.cm apabila
campuran dijenuhkan dengan air. Backfill ini berfungsi untuk:
memberikan lingkungan yang merata, sehingga keluaran (output) arus anoda dapat
diperkirakan tetap,
menurunkan resistivitas dari fasa anoda dengan tanah,
mencegah kontak langsung antara anoda dengan tanah.
2.7 Metode Survey dan Teknik Evaluasi
Berbagai metode dan teknik pengujian dapat digunakan pada jaringan pipa
bawah tanah selama survey lapangan
.
2.7.1 Pengumpulan Data
Sebelum memulai survey lapangan, pengumpulan data mengenai pipa yang akan
diproteksi harus dilakukan. Hal ini dapat memberikan data penting mengenai kondisi
korosi dan perencanaan proteksi.
Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhitungkan sebelum merencanakan
dan memulai survei lapangan.
Bahan pipa: baja (termasuk tingkatan baja), besi cor, besi tempa, dan lain-lain.
Apakah permukaannya dilapisi coating atau tidak? Jika dilapisi, apa bahan pelapis
dan spesifikasi pelapisan yang digunakan?
Apakah terdapat kebocoran pada coating? Jika ya, informasi tentang lokasi dan
tanggal terjadinya kebocoran sangatlah penting.
Diameter pipa dan ketebalan dinding.
Penentuan lokasi pemasangan test box untuk tujuan uji korosi.
Apakah yang digunakan kawat yang dilas, atau skrup mekanis?
Rute peta jaringan pipa dalam tanah yang rinci sehingga dapat memberikan data
yang dibutuhkan sebanyak mungkin.
Lokasi yang memungkinkan terdapat sumber-sumber arus menyimpang buatan
manusia (seperti system transportasi listrik DC atau operasi pertambangan) yang
dapat mempengaruhi jaringan pipa yang diteliti.
2.7.2 Survey Resistivitas Tanah
Indikasi mengenai kecenderungan arus yang mengalir dapat diketahui dengan
penentuan resistivitas tanah. Tanah dengan resistivitas yang tinggi dapat memberikan
banyak aliran arus. Penentuan resistivitas tanah dengan sering sangatlah penting ketika
I-8
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

membuat sebuah survey yang detail mengenai perpipaan. Selain dalam menafsirkan
seberapa parahnya daerah korosif, profil resistivitas tanah juga sangat membantu
selanjutnya dalam pemilihan tempat untuk instalasi proteksi katodik.
Tabel 2.3 Hubungan resistivitas dengan tingkat korosivitas tanah

2.8 Perhitungan Proteksi Katodik Metode Anoda Korban


2.8.1 Perhitungan luas permukaan pipa
A= DL
Keterangan : A = luas permukaan pipa
D = diameter pipa
L = panjang pipa
2.8.2 Pemilihan kebutuhan arus proteksi
Kebutuhan arus proteksi : 0, 4 mA/m 2 (ISO : 15589-A1:2003) untuk 10 tahun
umur proteksi.
Tabel 2.4 Desain rapat arus untuk pipa besi dengan coating dalam tanah dengan suhu operasi kurang dari
30oC

Rapat Arus i (mA/m2)


Coating Pipa

Asphalt/coal-tar enamel,
Cold-applied tape
Fusion bonded epoxy,
Liquid epoxy
3-layer epoxy-PE,
3-layer epoxy-PE

10 tahun
Umur
Proteksi

20 tahun
Umur
Proteksi

30 tahun
Umur
Proteksi

0,4

0,6

0,8

0,4

0,6

0,9

0,08

0,1

0,4

2.8.3 Perhitungan keperluan arus proteksi total


I=i.A
Keterangan :

I = arus proteksi total

I-9
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

i = arus proteksi
A = luas permukaan pipa
2.8.4 Penentuan umur proteksi
Umumnya, umur proteksi dalam rancangan/design adalah 10-20 tahun
2.8.5 Perhitungan berat anoda total (Wt)
Wt = ( I. Umurproteksi. 8760)/.C)
Keterangan :

I = arus proteksi total


= faktor utilitas :80% = 0.8
C = kapasitas : 1230 AH/Kg

2.8.6 Pemilihan ukuran anoda lihat tabel di bawah ini.


Tabel 2.5 Ukuran anoda magnesium (Corrpo Companies Inc.)

2.8.7 Perhitungan tahanan anoda

I-10
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

Keterangan :

Rh = tahanan anoda horizontal


= resistivitas tanah
L = panjang anoda
D = diameter anoda

2.8.8 Perhitungan keluaran arus anoda


Ia = (E A E M) / RA
Keterangan :

E A = Potensial anoda
E M = Potensial struktur atau potensialproteksi)
RA = tahanan anoda

2.9

Perancangan Instalasi Anoda Korban


Instalasi system proteksi anoda korban lebih sederhana dibandingkan dengan
system proteksi arus terpasang. Proses instalasi anoda korban melibatkan penguburan
sebuah anoda paket tunggal di daerah saluran pipa, seperti yang terlihat pada Gambar
2.4

Gambar 2.4 Instalasi paket anoda tunggal

Paket anoda magnesium 17-lb, 20 lb, atau 32-lb dapat digunakan untuk jenis
aplikasi di dalam tanah dengan resistivitas tinggi, sedangkan anoda seng dapat
digunakan untuk resistivitas rendah. Untuk umur proteksi yang lebih lama, dibutuhkan
berat anoda yang lebih besar.
Ketika beberapa anoda magnesium atau seng harus dipasang pada satu lokasi,
biasanya pada pipa ter-coating, anoda dapat dihubungkan ke kawat header. Kawat
header harus dibawa ke test box untuk pemantauan dan pengukuran potensial proteksi
secara periodik. Hal ini diilustrasikan oleh Gambar 2.5.

I-11
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

Gambar 2.5 Instalasi paket anoda gabungan

Anoda-anoda yang dipasang harus ditempatkan dalam susuan garis lurus untuk
ketahanan pemasangan. Posisi anoda dapat tegak lurus terhadap pipa, seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar 2.5, atau sejajar dengan pipa. Jarak penempatan anoda
magnesium gabungan minimal harus 15 kaki dari pipa sedangkan untuk seng, jarak ini
dapat dikurangi sampai 5 kaki untuk kinerja optimal atau lebih dekat jika terdapat
sedikit ruang.
Jika area tempat pemasangan anoda sangat terbatas, anoda dapat ditempatkan
dalam lubang di samping pipa dengan lubang yang cukup dalam sehingga dapat
memberikan jarak yang sesuai antara pipa dan anoda. Hal ini diilustrasikan pada
Gambar 2.6.

I-12
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

Gambar 2.6 Instalasi paket anoda di bawah pipa

Untuk penempatan anoda gabungan dengan jenis instalasi ini diperlukan lubang
yang sangat dalam. Kedalaman yang disarankan adalah seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 2.6. Hal ini dibenarkan oleh fakta bahwa dengan anoda yang lebih dalam ke
bumi (dengan resistivitas tanah baik) efek gradien potensial pada pipa dapat menjadi
kurang kuat dibandingkan dengan anoda yang lebih dekat ke permukaan bumi dan pada
jarak lateral yang sebanding dari pipa. Keuntungan lain dari jenis instalasi ini adalah
bahwa anoda yang ditempatkan secara dalam dapat menghasilkan output arus yang
merata, terkait dengan kelembaban tanah. Selain itu, instalasi jenis ini dapat melindungi
anoda dari kerusakan akibat penggalian permukaan tanah untuk tujuan lain.
Tiga ilustrasi sebelumnya membahas mengenai penggunaan anoda paket dimana
setiap anoda dan material backfillnya dipasang sebagai satu kesatuan. Baik anoda seng
maupun magnesium sebagian tersedia dalam bentuk tanpa backfill. Untuk pemasangan
anoda dan backfill didalam sebuah lubang dapat ditunjukkan pada Gambar 2.7.
Anoda dan backfill yang dipasang secara terpisah lebih sering digunakan untuk
instalasi anoda ganda daripada untuk instalasi anoda tunggal. Keuntungan dari jenis
instalasi ini adalah bahwa backfill yang dipasang secara terpisah dan dipadatkan di
sekitar anoda, benar-benar mengisi semua rongga di lubang anoda. Hal ini
meminimalkan kemungkinan backfill menjauh dari anoda dan mengurangi efektivitas
jangka panjang dari anoda. Kemungkinan ini lebih besar jika anoda paket digunakan,
karena ketika wadah backfill memburuk, backfill akan masuk ke dalam rongga yang
tanpa sadar mungkin telah tertinggal di sekitar atau di bawah paket.
Pada resistivitas tanah tertentu, anoda korban perlu dipasang secara horizontal
untuk kinerja yang efektif. Baik anoda paket maupun anoda terpisah dan backfill dapat
diinstal. Ketika menempatkan anoda paket secara horizontal di sebuah parit, haruslah
hati-hati ketika melakukan backfilling untuk memastikan bahwa tanah benar-benar
mengelilingi anoda paket, sehingga tidak ada ruang kosong. Tanah yang ada kemudian
dapat digunakan untuk mengurug backfill pada lubang tersebut (setelah membuat semua
koneksi timah anoda dan mengisolasinya).

I-13
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

Gambar 2.7 Instalasi anoda dengan backfill terpisah

Test box untuk beberapa lokasi anoda dapat dipasang seperti ditunjukkan pada
Gambar 2.8. Beberapa terminal pada test box dibutuhkan untuk mengukur arus dari
anoda (menggunakan millivoltmeter seperti yang ditunjukkan) tanpa mengganggu
sirkuit. Terminal tes pipa dan anoda dapat dipasang terpisah, seperti yang ditunjukkan
dalam gambar, memungkinkan untuk mengukur potensial pipa secara akurat.

Gambar 2.8 Instalasi testbox

Pada instalasi anoda korban, semua kabel yang terhubung ke anoda harus
dilindungi. Ini berarti bahwa jika ada tembaga yang terbuka, tidak akan menimbulkan
korosi dan menyebabkan pemutusan kawat.

BAB III
I-14
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat.
Alat utama yang dipakai untuk praktikum adalah:
1. Simulator Sistem Proteksi Katodik Metode Anoda Korban Dalam Sistem
Perpipaan
2. Avometer
3. Elektroda CuSO4
3.2.2 Prosedur Pengukuran Potensial Natural Pipa
1. Lepaskan sambungan terminal merah (dari anoda korban) dengan terminal
hitam (dari pipa) pada testbox.
2. Hubungkan terminal hitam (dari pipa) dengan avometer (menggunakan
elektroda pembanding CSE yang ditancanpakan ke tanah).
3. Amati dan catat nilai potensial natural pipa yang tertera pada avometer.
4. Sambungkan kembali terminal merah dengan terminal hitam pada testbox
untuk keperluan proteksi
3.2.3 Prosedur Pengukuran Potensial Anoda Korban
1. Lepaskan sambungan terminal merah (dari anoda korban) dengan terminal
hitam (dari pipa) pada testbox.
2. Hubungkan terminal merah (dari anoda) dengan avometer (menggunakan
elektroda pembanding CSE yang ditancapkan ke tanah).
3. Amati dan catat nilai potensial anoda korban yang tertera pada avometer.
4. Sambungkan kembali terminal merah dengan terminal hitam pada testbox
untuk keperluan proteksi.
3.2.4 Prosedur Pengukuran Potensial Anoda Korban
1. Terminal merah (dari anoda korban) dengan terminal hitam (dari pipa) harus
dalam keadaan terhubung (proteksi sedang berjalan).
2. Hubungkan terminal hitam (pipa yang diproteksi) dengan avometer
(menggunakan elektroda pembanding CSE yang ditancapkan ke tanah).
3. Amati dan catat nilai potensial proteksi yang tertera pada avometer.
4. Bandingkan dengan nilai potensial standar proteksi katodik (-0,85 V/CSE)

BAB IV
LANGKAH PENGOLAHAN DATA
I-15
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

mV

DAFTAR PUSTAKA

I-16
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode

A.W. PEABODY. 2001. Peabodys Control Of Pipeline Corrosion, Second Edition.


Texas: NACE International The Corrosion Society.
Chess, Paul, Grnvold, Karnov. 2005. Cathodic Protection of Steel in Concrete.
Copenhagen: Cathodic Protection International.
Einar Bardal. 2004. Corrosion and Protection. Norway: Springer.
Fitzgerald, John. 2004. Cathodic Protection for On-Grade Storage Tanks and Buried
Piping. Texas: NACE International The Corrosion Society.
http://wikipedia.org/Korosi.html
http://wikipedia.org/Proteksi_Katodik.html
http://wikipedia.org/Sacrificial_Anode.html
Kelly, Robert G., dkk. 2003. Electrochemical Techniques in Corrosion Science and
Engineering. New York: Marcel Dekker, Inc.
Ngatin, Agustinus, dkk. 2002. Teknik Pengendalian Korosi. Bandung: Jurusan Teknik
Kimia Politeknik Negeri Bandung
Nurcahyo. tanpa tahun. Aplikasi Proteksi Katodik. Bandung: Jurusan Teknik Kimia
Politeknik Negeri Bandung.
Parker, Marshall E., Peattie, Edward G. 1999. Pipeline Corrosion and Cathodic
Protection, Third Edition. Houston: Gulf Publishing Company
Pierre, R. Roberge. 2000. Handbook of Corrosion Engineering. USA: McGraw-Hill.
Indarti, Retno, dkk. 2006. Petunjuk Praktikum Teknik Pencegahan Korosi. Bandung:
Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung.
Sulaiman, A. tanpa tahun. Desain Anoda Korban. tanpa tempat: tanpa penerbit.
Sulistijono. Sistem Proteksi Katodik Anoda Tumbal. Surabaya: ITS.
W. von Baeckmann, W. Schwenk, and W. Prinz.1997.Handbook Of Cathodic
Corrosion Protection, Third Edition. Texas: Gulf Professional Publishing.

I-17
Jobsheet Praktikum Sacrificial Anode