Anda di halaman 1dari 3

Metode Penelitian

Metode: Studi ini merupakan studi retrospektif dengan metode pemilihan subjek secara
random.
Tempat penelitian: The Ohio State University Wexner Medical Center
Subjek penelitian: Pasien yang mengalami pembedahan abdomen dan memerlukan anestesi
umum pada periode 1 Januari 2007-31 Desember 2007.
Metode pemilihan subjek: Nama pasien disusun secara alphabet. Lalu setiap 1 dari 3 pasien
yang disusun secara alfabetis dipilih secara acak sehingga didapatkan jumlah subjek
sebanyak 6964 pasien dari total 20,985 pasien yang mengalami pembedahan abdomen
dengan anestesi umum.
Kriteria eksklusi: pasien berusia <18 atau >85 tahun, pasien hamil, tahanan, pasien yang
memerlukan laryngeal mask airway, stoma trakea atau intubasi nasotrakeal
Variabel/Data penelitian: Diambil data sekunder dari rekam medis. Data yang diambil yakni
jenis kelamin, usia, tinggi, berat badan, BMI, lama rawat pasien di Post Anesthesia Care
Unit (PACU), riwayat sleep apnea, skor Mallampati, dan klasifikasi ASA.
Metode analisis univariat: uji Pearson chi-square test atau uji Fishers exact digunakan untuk
variabel kategorik misalnya kategori BMI, skor ASA, skor Mallampati, insidensi sleep
apnea, dan insidensi intubasi sulit.
Uji t-test atau regresi logistik sederhana digunakan untuk variabel numerik misalnya usia
pasien atau lama rawat di PACU.
Metode analisis multivariat: model regresi logistik. Pada variabel BMI, setiap kategori BMI
dibagi berdasarkan gender menjadi perempuan dan laki-laki. Nilai Odds ratio dan interval
kepercayaan 95% dihitung untuk variabel BMI dan skor Mallampati.

Hasil Penelitian

2.661 dari 6964 pasien diekslusikan dari studi karena memenuhi kriteria eksklusi, atau tidak
memiliki data yang diperlukan. Hasilnya 4303 pasien dewasa, yang terdiri dari 1970 pasien
pria dan 2333 pasien perempuan dilibatkan dalam studi.
Pasien obese sebanyak 812 orang (18,9%) dan pasien obese berat sebanyak 861 pasien
(20,0%). Rata-rata usia 51,4+15,5 tahun dan rata-rata BMI 29,7+8,2 kg/m2. Insidensi intubasi
sulit sebanyak 225 pasien (5,2%). Diantara pasien dengan intubasi sulit, 150 kasus (66,7%)
tidak memerlukan teknik/perlengkapan tambahan sedangkan sisanya 75 pasien (33%)
memerlukan peralatan/teknik tambahan.
Analisis regresi logistic menunjukkan bahwa BMI berhubungn dengan intubasi sulit
(p<0,0001). Kemudian setiap kategori BMI distratifikasikan berdasarkan gender untuk
menentukan hubungan BMI dengan intubasi sulit berdasarkan gender. Pada pasien pria,
proporsi pasien dengan intubasi sulit meningkat seiring dengan peningktan BMI dari normal
hingga obese (BMI >35kg/m2).

Oleh karena itu, variabel BMI dan jenis kelamin berinteraksi (p=0,0268) berdasarkan analisis
regresi logistic. Perbedaan gender terutama signifikan pada kelompok BMI obese II.
Sehingga, hasil ini menunjukkan bahwa BMI dapat menjadi perdiktor intubasi sulit terutama
pada populasi pria.
Mallampati skor juga merupakan predictor intubasi sulit (p<0,000, OR = 3,5; IK95%=2,874,28 untuk setiap paningkatan 1 skor). Korelasi untuk kelompok pasien pria dan wanita
hampir serupa tanpa perbedaan signifikan antar gender (p=0,1697).
Hanya BMI, skor mallampati dan usia yang berkorelasi signifikan terhadap insidensi intubasi
sulit (p,0,0001, p<0,0001, dan p<0,002, secara berturut-turut).
Kebanyakan intubasi sulit (70%) dialami oleh dokter atau penata anestesi yang terlatih (44%
penata anestesi dan 26% dokter anestesi), 14% oleh residen anestesi, dan 16% tidak diketahui
karena data tidak tersedia di rekam medis.

Diskusi

Hingga saat ini tidak ada alat pengukuran ideal untuk memperkirakan intubasi sulit pada
pasien. Skor mallampati bersifat subjektif. Skala Cormack-Lehane, panjang lingkar leher,
jarak tiromental tidak paraktis digunakan dan jarang diperiksa saat pra operasi.
Tidak seperti parameter lainnya, BMI merupakan data pasien yang rutin diperiksa dan
bersifat objektif.
Insidensi intubasi sulit pada kasus ini sebanyak 5,23% (2,95% untuk pria dan 2,28% untuk
pasien wanita). Insidensi intubasi sulit meningkat sejajar dengan peningkatan BMI dan skor
Mallampati.
BMI dan skor Mallampati berhubungan dengan intubasi suit pada pasien normal dan obes
sedangkan korelasinya menjadi negatif pada pasien underweight. Pasien underweight
memiliki proporsi kecil pada studi ini sehingga tidak mungkin menggambarkan hasil yang
konklusif.
Berdasarkan hasil studi ini, BMI merupakan prediktor kuat laringoskopi sulit pada paria
namun tidak pada wanita. Sebaliknya skor Mallampati II-IV adalah indicator intubasi sulit
baik pada pria maupun.
Terdapat studi lain yang menunjukkan hasil penelitian yang berbeda dari studi ini terkait
dengan hubungan BMI dengan intubasi sulit. Ezri, et al, mengatakan bahwa pergerakan
kepala dan leher, arkus palatum yang tinggi, jarak tiromental dan skor Mallampati
merupakan prediktor untuk intubasi sulit dibandingkan BMI. Weisenberger, et al dan Fox, et
al mengatakan bahwa tidak ada korelasi BMI dan intubasi sulit sedangkan Lundstrometal, et
al mengatakan korelasi antara kedua variabel tersebut lemah.
Perbedaan hasil studi ini dengan studi lainnya terjadi akibat perbedaan metodologi dan desain
penelitian. Ezri, et al mempelajari pasien perempuan yang manjalani pemebdahan penurunan
berat badan dengan laparoskopi dengan mayoritas pasien memiliki BMI>35 kg/m2 serta
jumla sampel pada studi, Ezri, et al lebih kecil (14.723 pasien). Intubasi dilakukan dengan
blade Macintosh 3 oleh empat dokter anestesi yang berpengalaman. Sebaliknya studi ini

terdiri dari pasien pria dan wanita yang menjalani berbagai jenis pembedahan sehingga
menggambarkan populasi yang lebih bervariasi. Intubasi juga dilakukan oleh personel
dengan berbagai tingkat pengalaman dan tidak ada standardisasi ukuran laringskop karena
meruapakan studi retrospektif. .
Fox, et al mempelajari 192 pasien (146 perempuan dan 46 pria) yang menjalani pembedahan
laparoskopi bariatrik dengan rentang BMI 35,8-82 kg/m2. Studi tersebut memiliki subjek
penelitian perempuan yang jauh lebih banyak dibandingkan pria. Studi tersebut sjuga
memiliko jenis pembedahan dan data demografis yang mirip dengan studi pada pasien yang
menjalani pembedahan penurunan berat badan. Sebaliknya studi ini memiliki populasi pasien
yang menggambarkan populasi umum.
Lundtorm, et al melakukan studi dengan jumlah subjek lebih besar dibandingkanstudi ini.
Meskipun studi tersebut menyimpulkan terdapat korelasi signifikan namun lemah antara BMI
dan risiko intubasi sulit namun studi ini tidak memisahkan antara pasien pria dan wanita.
Perbedaan dari studi ini juga subjek penelitian didapat dari 14 departemen anestesi dengan
kelompok pasien yang bervariasi.
Studi ini secara jelas menunjukkan bahwa BMI merupakan indicator kuat terjadinya intubasi
trakea pada pasien pria. Skor mallampati juga terbukti merupakan prediktor kuat intubasi
sulit pada pasien pria maupun wanita.
Sebagaimana dijelaskan oleh Whittle, et al bahwa pria memiliki lebih banyak lemak tubuh
yang terdistribusi di batang tubuh dan region palatum yang menunjukkan mengapa pasien
pria dapat mengalami sleep apnea dan intubasi sulit.
Kelemahan studi seperti halnya studi retrospektif lainnya antara lain 1) banyak pasien yang
dieksklusi akibat data rekam medis yang tidak lengkap, 2) terdapat bias diantara kemampuan
personel yang melakukan intubasi, dan 3) pasien yang obese mungkin dijadwalkan untuk
langsung dilakukan intubasi dengan metode fiberoptik.

Kesimpulan

Skor Mallampati merupakan prediktor kuat intubasi sulit baik pada pria maupun wanita.
BMI merupaka indikato untuk intubasi sulit pada pasien pria.
Menilai BMI dan skor Mallampati saat pra operasi dapat mencegah akibat yang dapat terjadi
pada intubasi sulit sehingga klinisi dapat mempertimbangkan teknik/pendekatan berbeda
pada pasien tersebut.
Sebaiknya dilakukan studi prospektif dengan menggunakan pemeriksaan/penilaian pra
operatif yang terkontrol dan konsep intubasi sulit sebaiknya harus didefinisikan secara tegas.