Anda di halaman 1dari 2

Muhammad Anwar Ibrahim

H0213024

Pengendalian Penyakit Karat Daun Kopi (Hemileia vastatrix)

Penyakit Karat Daun :


Penyakit karat daun yang disebabkan oleh patogen Hemileia vastatrix.
Merupakan penyakit utama pada tanaman kopi Arabika. Penyakit Karat pada Kopi di
temukan oleh Ward pada tahun 1882 di Srilangka, Lokasi Asia selatan, Asia
Tenggara, Afrika. Penyakit ini Menghancurkan semua tanaman kopi se-Asia Selatan
(1870an-1880an). Sejak tahun 1970 ditemukan di Brazil. Penyebab cepatnya
penyebaran

adalah

karena

system

tanam

yang

monokultur.

Karat

kopi

menghancurkan semua pohon kopi di Srilangka karena semua pohon-pohon seragam


yang berasal dari stock Coffea arabica yang rentan. Pada tahun 1876 penyakit ini
mulai dikenal di Jawa dan Sumatra.
Strategi Pengendalian Penyakit Karat Daun :
Pengendalian penyakit karat daun pada tanaman kopi terbagi menjadi empat
cara yaitu pengendalian secara fisik, mekanis, kultur teknis, biologis dan kimia.
Pengendalian penyakit tanaman kopi secara mekanis dengan memperkuat kebugaran
tanaman melalui pemupukan berimbang, pemangkasan cabang negatif, dan
pengaturan naungan untuk mengurangi kelembaban kebun dan memberikan sinar
matahari yang cukup pada tanaman. Selain itu, menurut Balit Karet Sembawa (1996)
pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah dan
penebasan yang dapat mengurangi persaingan alang-alang dengan tanaman pokok.
Hal ini hanya bersifat sementara dan harus sering diulangi minimum sebulan sekali.
Pengendalian secara kultur teknis melaui pengaturan naungan melalui
pemangkasan yang dilaksanakan sesuai musim. Pada saat musim kemarau tidak
dilakukan pemangkasan, dan menjelang musim hujan dilakukan pemangkasan, hal ini

secara tidak langsung akan mengurangi sumber inokulum penyebab penyakit.


Pemupukan berimbang yang sesuai dengan kebutuhan tanaman akan mengurangi
intensitas serangan. Selain itu pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan
penggunaan tanaman penutup tanah leguminosa (PTL). Jenis-jenis PTL yang sesuai
meliputi Centrosema pubescens, Pueraria javanica, P. triloba, C. mucunoides, Mucuna
spp. dan Stylosanthes guyanensis.
Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan cara menanam jenisjenis kopi Arabica tahan penyakit. Di Indonesia ada beberapa jenis kopi yang tahan
penyakit misalnya varietas Lini S yaitu S 795 dan jenis USDA yaitu USDA 230762
dan Karika (Mawardi,et al 1985). Namun jenis-jenis kopi ini terutama Kartika
dilaporkan ketahannya sudah turun sehingga sehingga perkebunan lebih tertarik
mengendalikan penyakit ini dengan fungisida. Fungisida yang banyak digunakan
adalah senyawa tembaga (Copper sandoz, Cupravit, Cobox atau Vitigran blue) atau
fungisida sistemik seperti trademefon (Bayleton 250 EC).
Pengendalian secara kimia sebaiknya hanya dilakukan setelah serangan karat
daun mencapai ambang toleransi 20% dari daun kopi yang terserang. Aplikasi
dilakukan dengan penggunaan fungisida kontak atau sistemik. Pemakaian fungisida
sistemik disarankan tidak lebih dari dua kali setahun. Sedangkan fungisida kontak
dapat digunakan dengan interval 2-3 minggu. Sampai sekarang fungisida kontak yang
berbahan aktif tembaga masih cukup efektif dibandingkan dengan fungisida sistemik
dengan bahan aktif Triademefon.
Pencegahan penyakit karat daun dapat dilakukan dengan tidak menanam kopi
Arabika di bawah ketinggian 750 m dpl dan penggunaan varietas resisten. Varietas
yang dianjurkan untuk kopi Arabika adalah Lini S (S 795 dan 1934), USDA (230762
dan 230731), dan BP 453A (CIFC 519-3).