Anda di halaman 1dari 5

TUGAS METODOLOGI PENELITIAN

STUDI PERENCANAAN KOORDINASI RELAY PROTEKSI PADA


JARINGAN LISTRIK INTERKONEKSI SULAWESI SELATAN

Adri Paundanan

D411 12 280

Akwila Tampubolon

D411 12 258

RANGKUMAN JURNAL

JURNAL 1

Analisis Studi Relay Pengaman (Over Current Relay Dan Ground Fault
Relay) pada Pemakaian Distribusi Daya Sendiri dari PLTU Rembang
Sistem proteksi kelistrikan yang baik pada suatu industri sangat diperlukan untuk mencegah
kerusakan yang parah pada komponen atau peralatan listrik pada industri tersebut. Sistem
proteksi akan mendeteksi jika ada gangguan dan segera mengisolasi titik gangguan tersebut
sehingga kerusakan pada peralatan lain dapat dicegah. Namun sistem proteksi hanya akan
berjalan dengan baik apabila settingan pada relay tepat. Settingan yang tepat akan membuat
koordinasi relay pengaman akan beroperasi dengan baik atau sesuai dengan yang diharapkan
sehingga kontinuitas dan keandalan pasokan daya listrik tetap terjaga dengan baik. Dalam
jurnal ini akan dibahas analisa terhadap koordinasi kerja dari relay pengaman pada PLTU
Rembang. Untuk membantu studi terhadap koordinasi relay-relay ini, digunakan software
pendukung yakni ETAP 7.0. Dari hasil analisa menggunakan ETAP, didapatkan adanya
kesalahan pada kesalahan pada pengaturan (setting) pick up dan time delay pada relay-relay
tersebut. Maka dari itu direkomendasikan penyetelan ulang relay dan diberikan setelan
dengan kurva normal inverse time sehingga kordinasi peralatan proteksi dapat kembali
bekerja dengan baik.

JURNAL 2

Koordinasi Proteksi Tegangan Kedip dan Arus Lebih pada Sistem Kelistrikan
Industri Nabati

Dalam perancangan sistem kelistrikan suatu industri, terdapat banyak parameter-parameter


yang harus diperhatikan. Dari sekian banyak parameter, sistem proteksi adalah salah satu
bagian yang sangat penting diperhatikan karena fungsinya yang vital yaitu untuk
mengamankan komponen atau peralatan listrik dari bahaya gangguan pada sistem kelistrikan.
Sistem proteksi yang tidak baik dapat menyebabkan kerusakan dan kerugian yang besar jika
tidak segera dievaluasi ulang. Hal inilah yang terjadi pada industri Nabati dimana sistem
proteksinya tidak berjalan dengan baik.gangguan yang terjadi pada pabrik adalah adanya
masalah tegangan kedip atau dip voltage serta arus lebih yang tidak direspon dengan baik
oleh relay pengaman. Hal tersebut sangat mengganggu proses produksi sehingga berdampak
pada kerugian yang besar pada industri.
Dari hasil analisa yang dilakukan, didapatkan bahwa penyebabnya adalah adanya kesalahan
pada setting relay arus lebih dan relay undervoltage seperti setting pick up dan time delay.
Hal ini yang menyebabkan koordinasi peralatan sistem proteksi menjadi kacau dan tidak
dapat beroperasi sebagaimana mestinya. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan
pengaturan atau setting ulang pada peralatan proteksi yakni relay arus lebih dan relay
undervoltage. Untuk koordinasi relay under voltage setting waktu berdasarkan time delay dari
relay arus lebih.

JURNAL 3

Studi Koordinasi Proteksi pada PT. Petrokimia Gresik Akibat Penambahan


Pabrik Baru (Phosporit Acid dan Amonia Urea) serta Pembangkit Baru (20 dan
30 MW)
Keandalan dan kontinuitas pasokan daya listrik untuk suatu industri sangat diperlukan untuk
menunjang keberlangsungan proses produksi. Salah satu syarat agar kontinuitas pasokan daya
listrik tetap andal adalah sistem proteksinya harus terkoordinasi dengan baik agar tidak
menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.
Untuk menunjang dan mengembangkan produksi pabriknya, PT. Petrokimia membangun
pabrik Phosporit Acid (PA) dan Amonia Urea yang masing-masing membutuhkan daya 15
MW dan 18 MW. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut akan dibangun pembangkit dengan
daya sebesar 20 dan 30 MW. Dengan penambahan pembangkit dan beban pada PT.
Petrokimia Gresik akan berpengaruh pada arus hubung singkat (Short Circuit Current) pada
setiap bus khususnya bus yang menjadi bus integrasi 20 kV.Dengan adanya integrasi tersebut
akan mengakibatkan perubahan level short circuit pada sistem semula. Hal ni akan
mengakibatkan perubahan setting pengaman pada sistem eksisting. Untuk itu perlu dilakukan
analisis ulang setting koordinasi relay yang ada seperti relay pengaman arus lebih (Over
Current Relay) dan relay pengaman gangguan tanah (Ground Fault Relay) dan menggambar
kurvanya.Setelah dilakukan evaluasi diharapkan dapat mencegah kerusakan jaringan beserta
peralatannya serta kontinuitas pasokan daya tetap terjaga.

JURNAL 4
ANALISA KOORDINASI PERALATAN PENGAMAN JARINGAN PENYULANG
KALIWUNGU 03 SECARA INDEPENDEN SERTA PELIMPAHAN BEBAN DARI
PENYULANG WELERI 06

Sistem kelistrikan di provinsi Jawa Tengah menganut system pentanahan langsung sepanjang
jaringan (solid grounded multi grounding system). Dampaknya adalah arus gangguan yang
terjadi menjadi sangat besar. Oleh karena itu perluasan atau pelimpahan beban dari
penyulang lain harus mempertimbangkan jangkauan pengindera peralatan pengaman dan
mengkoordinasikan antara pengaman yang satudengan yang lain. koordinasi system proteksi
berperan sangat penting untuk menjamin keandalan system penyaluran dayalistrik.Dengan
menganalisis besar arus gangguan yang dapat terjadi dan memperhatikan karakteristik serta
pola setting peralatan pengaman terpasang, diharapkan dapat diketahui tingkat keandalan
penyulang Kaliwungu 03 (KLU03) dalam kondisi normal atau saat menerima pelimpahan
beban dari penyulang Weleri 06 (WLI06).
Dari hasil analisa diketahui bahwa dengan besar arus gangguan yang terjadi, koordinasi antar
PMT penyulang dengan recloser atau recloser dengan sectionaliser dan dengan pengaman
lebur dapat dilakukan koordinasi proteksi secara baik, serta peralatan pengaman penyulang
Kaliwungu 03 dapat mengakomodir pelimpahan beban dari penyulang Weleri 06.

JURNAL 5
EVALUASI KOORDINASI RELAY PROTEKSI PADA FEEDER\ DISTRIBUSI TENAGA
LISTRIK (GH TANJUNG AMPALU SIJUNJUNG)
Pada setiap sistem kelistrikan pasti selalu ada sistem proteksi yang berfungsi untuk
mengamankan peralatan atau jaringan. Sistem proteksi dan pengaman ini digunakan untuk
memisahkan bagian yang mengalami gangguan dengan bagian yang sehat sehingga sistem
tetap dapat berjalan. Apabila peralatan proteksi atau pengaman memberikan respon yang
salah terhadap gangguan maka terjadi tripping ikutan/palsu yaitu peristiwa yang
menggambarkan kejadian ketika suatu peralatan proteksi merespon/menanggapi secara salah
atau tidak diharapkan pada suatu kondisi atau keadaan sistem tenaga listrik yang sedang
mengalami gangguan. Tripping ikutan ini dapat terjadi pada peralatan pengaman atau
proteksi yang dihubungkan seri pada penyulang yang sama, sehingga apabila terjadi
gangguan pada penyulang tersebut maka dua atau lebih peralatan pengaman pada penyulang
itu akan mengalami tripping. Tripping ikutan juga dapat terjadi pada penyulang penyulang
lainnya pada bus yang sama. Hasil Penelitian ini dapat meminimalkan trip yang terjadi pada
penylang yang disebabkan oleh gangguan Tripping ikutan dengan menggunakan relay
gangguan tanah inverse time pada gangguan satu saluran ke tanah dengan settingan relay
incoming Sijunjung dan GH Tanjung Ampalu.

JURNAL 6

Studi Perencanaan Penggunaan Proteksi Power Bus di Sistem Kelistrikan


Industri Gas
Pada sebuah industri , kontinuitas dan keandalan sistem penyaluran tenaga listrik memegang
peranan penting sebagai kebutuhan utama dalam produksi. Namun pada kenyataannya sistem
tenaga listrik tidak dapat lepas dari terjadinya ganguan. Ketika terjadi gangguan maka sistem
proteksi tenaga listrik harus dapat mengisolasi arus gangguan agar gangguan tidak berlanjut
dan menyebabkan kerusakan pada peralatan serta untuk menjaga kontinuitas pelayanan pada
bagian sistem tenaga listrik yang sehat.
Dalam rangka memperluas kegiatan operasional produksinya, sebuah indutri gas akan
mengoperasikan 4 unit kompresor baru dengan kapasitas sebesar 350 kW dan 240 kW. Untuk
melayani beban beban tersebut diperlukan ekspansi bus eksisting dengan cara
menambahkan bus baru. Pada pengoperasiannya, busbar mengalami gangguan dan sistem
proteksi gagal mengamankan. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan penggunaan proteksi
diferensial pada busbar. Pada Tugas Akhir ini dibahas desain proteksi diferensial bus high
impedance untuk kompresor baru. Dimana pada skema ini terdapat elemen rele tegangan
lebih, rele arus, metal oxide varistor, dan rele lockout serta elemen resistansi dengan nilai
yang tinggi. Untuk membantu analisa, maka digunakan software pendukung yaitu ETAP
12.5. Dari hasil analisa diketahui bahwa ternyata desain diferensial mampu membaca arus
gangguan kecil yang tidak terdeteksi oleh rele overcurrent.

JURNAL 7
STUDI KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA SISTEM KELISTRIKAN PT. BOC GASES
GRESIK JAWA TIMUR
Dewasa ini, semua industri mutlak memerlukan supply daya listrik yang andal, stabil serta
memiliki sistem proteksi yang baik. Namun adanya gangguan pada sistem kelistrikan tentu
saja tidak dapat kita hindari misalnya gangguan hubung singkat, arus beban lebih, kegagalan
sistem pentanahan dan lain-lain. Adanya gangguan pada sistem kelistrikan tersebut dapat
mengganggu atau bahkan merusak komponen atau peralatan-peralatan listrik lainnya jika titik
gangguan itu tidak segera di isolasi atau dipisahkan dari sistem yang sehat. Jika hal tersebut
terjadi, maka tentu akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah lagi. Masalah gangguan
pada sistem kelistrikan tersebut terjadi pula pada pabrik PT. BOC Gases Gresik Jawa Timur,
sehingga diperlukan evaluasi ulang termasuk koordinasi proteksi dan setting relay pengaman.

Dengan menganalisa, dapat kita ketahui bahwa diperlukan setting ulang untuk relay arus
lebih terutama pelindung motor dengan penambahan time delay. Hal ini bertujuan agar
pengamanan peralatan dapat efektif, cepat, dan tepat dalam mengatasi gangguan yang terjadi.
Relay arus lebih yang terletak pada feeder dan generator juga perlu dilakukan pengaturan
ulang sehingga keandalan sistem dapat terjaga dan bekerja lebih optimal.