Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan dimana jumlah sel

darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah
merah berada dibawah normal.
Anemia berarti kekurangan sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh
hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel darah
merah. Pada anemia berat, viskositas darah dapat turun hingga 1,5 kali air, normalnya
sekitar tiga kali air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi sel darah merah
mempengaruhi viskositas darah. Hal ini mengurangi tahanan terhadap aliran darah
dalam pembuluh perifer, sehingga jumlah darah yang mengalir melalui jaringan dan
kemudian kembali lagi menuju ke jantung menjadi jauh lebih normal.
Bila penderita anemia mulai berkuat, jantung tidak mampu memompa jumlah
darah lebih banyak daripada jumlah yang dipompa sebelumnya. Akibatnya selama
keadaan anemia ini berkuat, dimana terjadi peningkatan kebutuhan jaringan akan
oksigen, dapat timbul hipoksia jaringan yang serius dan sering terjadi gagal jantung
yang akut.
Seseorang dikatakan anemia jika hematokritnya (persen eritrosit dalam darah)
kurang dari 40. Adapun hematokrit normal adalah sekitar 40-60. Penderita anemia
1

berat bisa tanpa gejala, tetapi penderita anemia ringan bisa sangat lemah. Hal ini
dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu cepat timbulnya anemia, derajat anemia,
umur penderita dan kurva disosiasi oksigen hemoglobin. Gejalanya antara lain sesak
napas, lemah, mengantuk, palpitasi dan sakit kepala. Pada orang tua dapat ditemukan
gejala penyakit jantung dan kebingungan.
Melihat seriusnya akibat yang ditimbulkan oleh anemia, maka perlu diketahui
berbagai hal tentang anemia. Salah satunya adalah klasifikasi anemia. Anemia dapat
dibedakan berdasarkan morfologi dan sebab atau etiologinya. Klasifikasi morfologi
berdasarkan bentuk dari eritrosit yang mengalami kelainan, sedangkan berdasarkan
etiologi ditinjau penyebab terjadinya anemia, seperti pematagan abnormal dan
destruksi atau kehilangan secara berlebihan pada eritrosit.

1.2.

Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum
1) Siswa dapat memahami Prosedur keperawatan Anemia.
2) Untuk memperoleh pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien.
b. Tujuan khusus
1) siswa dapat memahami etiologi Anemia.
2) siswa dapat menguraikan tanda gejala Anemia.
3) .siswa dapat menguraikan patofisiologi Anemia.
4) siswa dapat menguraikan asuhan keperawatan pada pemutusan
diagnostik/laboratorium.
5) Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan proses pengkajian
dan analisis data pada pasien dengan Anemia.Merumuskan diagnosa
keperawatan pada pasien dengan Anemia.
6) Memperoleh pengalaman nyata dalam penilaian terhadap pasien dengan
Anemia.

1.3.

Manfaat Karya Tulis


3

a. Penulis
Sebagai Popularitas agi Penulis dimana dari hasil karya tulis ini akan
dinikamati para pembaca yang punya niat daya baca yang tinggi. Karya tulis
ini bias dijadikan bahan pertimbangan dari hasil karya tulis lainnya. Dan pada
saat penulis ingin mengerjakan karya tulis lain maka disitulah penulis bisa
mendapatkan Inspirasi yang lebih luas dan motivasi yang lebih tinggi.
1) Salah satu persyaratan sebagai siswa-siswi keperawatan di Sekolah.
2) Memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang lebih mendalam
tentang pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Anemia.
b. Pembaca
Sebagai bahan perbandingan dalam kehidupan sehari-hari dimana pembaca
karya tulis memaklumi isi karya tulis tersebut. Dan pada saat itulah pembaca
akan memetik kesimpulan dari karya tulis dan akan dijadikan sebagai takaran
hidup baik individu maupun dalam masyarakat.
c. Instansi Rumah Sakit
Dapat menjadi referensi bagi semua tenaga kesehatan atau perawat rumah
sakit untuk mengambil langkah-langkah atau kebijakan dalam upaya
meningkatkan mutu pelayanan pada pasien khususnya dengan Anemia.
d. Pendidikan
Sebagai sumber bagi siswa-siswi untuk meningkatkan mutu pendidikan dan
pelatihan di masa yang akan datang.
e. Pasien
Agar dapat merasakan pelayanan yang bermutu serta meningkatkan
pengetahuan dan pengalaman untuk menjaga dan memelihara kesehatannya.

1.4.

Metode Penulisan

Adapun metode yang digunakan dalam menghimpun data atau informasi yaitu:
a. Studi Kepustakaan
Membaca dan mempelajari literatur-literatur tentang Anemia.
b. Internet
Mencari dan mengumpulkan data terbaru, hal-hal yang berhubungan
dengan Trauma Anemia.
c. Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah ini ditulis secara sistematika yang terdiri dari 5 BAB.
BAB I berisi pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah,
tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika
penulisan.
Bab 2 berisi tinjauan teoritis yang menguraikan konsep dasar medis
(pengertian, klasifikasi, anatomi dan fisiologi, etiologi, patofisiologi,
manifestasi klinik, tes diagnostik, penatalaksanaan dan komplikasi)
sedangkan konsep dasar keperawatan memuat tentang pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan keperawatan, dan perencanaan pulang/ discharge
planning, dan patoflowdiagram.
Bab 3 berisi tentang tinjauan kasus yang menguraikan pengkajian
keperawatan, pengumpulan data, analisa data, diagnosa keperawatan sesuai
prioritas

masalah,

perencanaan

keperawatan,

rencana

tindakan,

implementasi dan evaluasi.

Bab 4 berisi tentang pembahasan kesenjangan antara teori dengan


praktek atau kenyataan yang ditemukan dalam proses keperawatan dan
akan dibahas secara sistematis mulai dari pengkajian sampai evaluasi.
Bab 5 memuat tentang Prosedur yang disimpulkan dari hasil
pelaksanaan studi kasus.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA
2.1.

Definisi
Anemia adalah jumlah sel darah merah yang rendah. Sel darah merah, juga

disebut eritrosit, dibentuk di sumsum tulang, dengan tugas untuk membawa oksigen
dari paru ke jaringan. Pembentukan sel darah merah baru tergantung pada hormon
6

alami yang disebut eritropoitin (EPO, yang dibentuk dan dikeluarkan dari ginjal).
Orang yang menderita anemia kurang mampu membawa oksigen di dalam darahnya
dan hal ini dapat mengakibatkan rasa lelah, kesulitan bernapas, peningkatan denyut
jantung dan pucat. Darah kita (sel darah merah) dapat langsung dihitung atau
diperkirakan dengan menggunakan hematokrit atau hemoglobin (Hb). Pemeriksaan ini
umumnya disarankan oleh dokter kita setiap satu sampai tiga bulan, tergantung apakah
memakai obat-obatan. Penyakit dan pengobatan tertentu dapat menyebabkan Hb kita
menurun di bawah batas normal.
Anemia adalah kekurangan hemoglobin (Hb). Hb adalah protein dalam sel
darah merah, yang mengantar oksigen dari paru ke bagian tubuh yang lain. Anemia
menyebabkan kelelahan, sesak napas dan kepusingan. Orang dengan anemia merasa
badannya kurang enak dibandingkan orang dengan tingkat Hb yang wajar. Mereka
merasa lebih sulit untuk bekerja. Artinya mutu hidupnya lebih rendah. Tingkat Hb
diukur sebagai bagian dari tes darah lengkap (complete blood count/ CBC). Anemia
didefinisikan oleh tingkat Hb. Sebagian besar dokter sepakat bahwa tingkat Hb di
bawah 6,5 menunjukkan anemia yang gawat. Tingkat Hb yang normal adalah
sedikitnya 12 untuk perempuan dan 14 untuk laki-laki. Secara keseluruhan, perempuan
mempunyai tingkat Hb yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Begitu juga dengan
orang yang sangat tua atau sangat muda.

2.2.

Klasifikasi

Terdapat beragam jenis pengklasifikasian anemia, pada klasifikasi anemia


menurut morfologi, mikro dan makro menunjukkan ukuran pada sel darah merah
sedangkan kromik menunjukkan warnanya. Secara morfologi, pengklasifikasian
anemia terdiri atas:
a. Anemia normositik normokrom
Patofisiologi anemia ini terjadi karena pengeluaran darah atau destruksi
darah yang berlebih sehingga menyebabkan Sumsum tulang harus bekerja lebih
keras lagi dalam eritropoiesis. Sehingga banyak eritrosit muda (retikulosit) yang
terlihat pada gambaran darah tepi. Pada kelas ini, ukuran dan bentuk sel-sel darah
merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal tetapi
individu menderita anemia. Anemia ini dapat terjadi karena hemolitik, pasca
pendarahan akut, anemia aplastik, sindrom mielodisplasia, alkoholism, dan anemia
pada penyakit hati kronik.

b. Anemia makrositik normokrom


Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal
tetapi normokrom karena konsentrasi hemoglobinnya normal. Hal ini diakibatkan
oleh gangguan atau terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang ditemukan
pada defisiensi B12 dan atau asam folat. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi
kanker, sebab terjadi gangguan pada metabolisme sel
c. Anemia mikrositik hipokrom

Mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam


jumlah yang kurang dari normal. Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi
sintesis hem (besi), seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan sideroblastik dan
kehilangan darah kronik, atau gangguan sintesis globin, seperti pada talasemia
(penyakit hemoglobin abnormal kongenital).
Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh
perdarahan atau oleh penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma
atau tukak, atau akibat pardarahan kronik karena polip pada kolon, penyakitpenyakit keganasan, hemoriod atau menstruasi. Penghancuran sel darah merah
dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel
darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan
lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana
sel darah merah itu sendiri terganggu atau macam gangguan herediter adalah:
a. Hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan, misal nya
anemia sel sabit.
b. Gangguan sintetis globin misalnya talasemia.
c. Gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter.
d. Defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat
dehidrogenase).
Namun, hemolisis dapat juga disebabkan oleh gangguan lingkungan sel
darah merah yang seringkali memerlukan respon imun. Respon isoimun mengenai
berbagai individu dalam spesies yang sama dan diakibatkan oleh tranfusi darah yang

tidak cocok. Respon otoimun terdiri dari pembentukan antibodi terhadap sel-sel darah
merah itu sendiri. Keadaan yang di namakan anemia hemolitik otoimun dapat timbul
tanpa sebab yang diketahui setelah pemberian suatu obat tertentu seperti alfametildopa, kinin, sulfonamida, L-dopa atau pada penyakit-penyakit seperti limfoma,
leukemia limfositik kronik, lupus eritematosus, artritis reumatorid dan infeksi virus.
Anemia hemolitik otoimun selanjutnya diklasifikasikan menurut suhu dimana antibodi
bereaksi dengan sel-sel darah merah antibodi tipe panas atau antibodi tipe dingin.
Hipersplenisme (pembesaran limpa, pansitopenia, dan sumsum tulang
hiperselular atau normal) dapat juga menyebabkan hemolisis akibat penjeratan dan
penghancuran sel darah merah. Luka bakar yang berat khususnya jika kapiler pecah
dapat juga mengakibatkan hemolisis.
Klasifikasi etiologi utama yang kedua adalah pembentukan sel darah
merah yang berkurang atau terganggu (diseritropoiesis). Setiap keadaan yang
mempengaruhi fungsi sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini. Yang termasuk
dalam kelompok ini adalah:
a. Keganasan yang tersebar seperti kanker payudara, leukimia dan multipel mieloma,
obat dan zat kimia toksik, dan penyinaran dengan radiasi
b. Penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dan hati, penyakit-penyakit infeksi
dan defiensi endokrin.
Kekurangan vitamin penting seperti vitamin B12, asam folat, vitamin C
dan besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif sehingga
10

menimbulkan anemia. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan


pertimbangan morfologis dan etiologi. Berikut adalah pengklasifikasian anemia
menurut etiologinya:
1. Anemia aplastik
Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di sumsum
tulang yang dapat menimbulkan kematian, pada keadaan ini jumlah sel-sel
darah yang dihasilkan tidak memadai. Penderita mengalami pansitopenia yaitu
kekurangan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Secara morfologis
sel-sel darah merah terlihat normositik dan normokrom, hitung retikulosit
rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang menunjukkan suatu keadaan yang
disebut pungsi kering dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi pergantian
dengan

jaringan

lemak.

Langkah-langkah

pengobatan

terdiri

dari

mengidentifikasi dan menghilangkan agen penyebab. Namun pada beberapa


keadaan tidak dapat ditemukan agen penyebabnya dan keadaan ini disebut
idiopatik. Beberapa keadaan seperti ini diduga merupakan keadaan imunologis.
Gejala-gejala anemia aplastik
Kompleks gejala anemia aplastik berkaitan dengan pansitopenia.
Gejala-gejala lain yang berkaitan dengan anemia adalah defisiensi trombosit
dan sel darah putih.
Defisiensi trombosit dapat mengakibatkan:
1) ekimosis dan ptekie (perdarahan dalam kulit)
2) epistaksis (perdarahan hidung)
11

3) perdarahan saluran cerna


4) perdarahan saluran kemih
5) perdarahan susunan saraf pusat.
Defisiensi sel darah putih mengakibatkan lebih mudahnya terkena
infeksi. Aplasia berat disertai pengurangan atau tidak adanya retikulosit jumlah
granulosit yang kurang dari 500/mm3 dan jumlah trombosit yang kurang dari
20.000 dapat mengakibatkan kematian dan infeksi dan/atau perdarahan dalam
beberapa minggu atau beberapa bulan. Namun penderita yang lebih ringan
dapat hidup bertahun- tahun. Pengobatan terutama dipusatkan pada perawatan
suportif sampai terjadi penyembuhan sumsum tulang. Karena infeksi dan
perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi sel lain merupakan penyebab
utama kematian maka penting untuk mencegah perdarahan dan infeksi.
Pencegahan

anemia

aplastik

dan

terapi

yang

di

lakukan

Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi (ruangan


dengan aliran udara yang mendatar atau tempat yang nyaman) dan higiene
yang baik. Pada pendarahan dan/atau infeksi perlu dilakukan terapi komponen
darah yang bijaksana, yaitu sel darah merah, granulosit dan trombosit dan
antibiotik. Agen-agen perangsang sumsum tulang seperti androgen diduga
menimbulkan eritropoiesis, tetapi efisiensinya tidak menentu. Penderita anemia
aplastik kronik dipertahankan pada hemoglobin (Hb) antara 8 dan 9 g dengan
tranfusi darah yang periodik.

12

Penderita anemia aplastik berusia muda yang terjadi secara sekunder


akibat kerusakan sel induk memberi respon yang baik terhadap tranplantasi
sumsum tulang dari donor yang cocok (saudara kandung dengan antigen
leukosit manusia [HLA] yang cocok). Pada kasus-kasus yang dianggap terjadi
reaksi imunologis maka digunakan globulin antitimosit (ATG) yang
mengandung antibodi untuk melawan sel T manusia untuk mendapatkan remisi
sebagian. Terapi semacam ini dianjurkan untuk penderita yang agak tua atau
untuk penderita yang tidak mempunyai saudara kandung yang cocok.

2. Anemia defisiensi besi


Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan sebagai
anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintetis
hemoglobin. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia.
Khususnya terjadi pada wanita usia subur, sekunder karena kehilangan darah
sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil.
Penyebab lain defisiensi besi adalah:
a. Asupan besi yang tidak cukup misalnya pada bayi yang diberi makan
susu belaka sampai usia antara 12-24 bulan dan pada individu
tertentu yang hanya memakan sayur- sayuran saja.
b. Gangguan absorpsi seperti setelah gastrektomi dan

13

c. Kehilangan darah yang menetap seperti pada perdarahan saluran


cerna yang lambat karena polip, neoplasma, gastritis varises
esophagus, makan aspirin dan hemoroid.
Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata mengandung 3
sampai 5 g besi, bergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya. Hampir
dua pertiga besi terdapat dalam hemoglobin yang dilepas pada proses penuaan
serta kematian sel dan diangkut melalui transferin plasma ke sumsum tulang
untuk eritropoiesis. Dengan kekecualian dalam jumlah yang kecil dalam
mioglobin (otot) dan dalam enzim-enzim hem, sepertiga sisanya disimpan
dalam hati, limpa dan dalam sumsum tulang sebagai feritin dan sebagai
hemosiderin untuk kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut.
Patofisiologi anemia defisiensi besi
Walaupun dalam diet rata-rata terdapat 10 - 20 mg besi, hanya sampai
5% - 10% (1 - 2 mg) yang sebenarnya sampai diabsorpsi. Pada persediaan besi
berkurang maka besi dari diet tersebut diserap lebih banyak. Besi yang
dimakan diubah menjadi besi fero dalam lambung dan duodenum; penyerapan
besi terjadi pada duodenum dan jejunum proksimal. Kemudian besi diangkut
oleh transferin plasma ke sumsum tulang untuk sintesis hemoglobin atau ke
tempat penyimpanan di jaringan.
Tanda dan gejala anemia pada penderita defisiensi besi

14

Setiap milliliter darah mengandung 0,5 mg besi. Kehilangan besi


umumnya sedikit sekali, dari 0,5 sampai 1 mg/hari. Namun wanita yang
mengalami menstruasi kehilangan tambahan 15 sampai 28 mg/bulan. Walaupun
kehilangan darah karena menstruasi berhenti selama hamil, kebutuhan besi
harian tetap meningkat, hal ini terjadi oleh karena volume darah ibu selama
hamil meningkat, pembentukan plasenta, tali pusat dan fetus, serta
mengimbangi darah yang hilang pada waktu melahirkan.
Selain tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh anemia, penderita
defisiensi besi yang berat (besi plasma lebih kecil dari 40 mg/ 100 ml;Hb 6
sampai 7g/100ml) mempunyai rambut yang rapuh dan halus serta kuku tipis,
rata, mudah patah dan sebenarnya berbentuk seperti sendok (koilonikia). Selain
itu atropi papilla lidah mengakibatkan lidah tampak pucat, licin, mengkilat,
merah daging, dan meradang dan sakit. Dapat juga timbul stomatitis angularis,
pecah-pecah dengan kemerahan dan rasa sakit di sudut-sudut mulut.
Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah merah normal atau
hampir normal dan kadar hemoglobin berkurang. Pada sediaan hapus darah
perifer, eritrosit mikrositik dan hipokrom disertain poikilositosis dan
aniositosis. Jumlah retikulosit mungkin normal atau berkurang. Kadar besi
berkurang walaupun kapasitas meningkat besi serum meningkat.
Pengobatan anemia pada penderita defisiensi besi

15

Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan


penyebab dasar anemia. Pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat
perdarahan aktif yang diakibatkan oleh polip, tukak, keganasan dan hemoroid;
perubahan diet mungkin diperlukan untuk bayi yang hanya diberi makan susu
atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin
dalam dosis besar. Walaupun modifikasi diet dapat menambah besi yang
tersedia (misalnya hati, masih dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan
hemoglobin dan mengembalikan persediaan besi. Besi tersedia dalam bentuk
parenteral dan oral. Sebagian penderita memberi respon yang baik terhadap
senyawa-senyawa oral seperti ferosulfat. Preparat besi parenteral digunakan
secara sangat selektif, sebab harganya mahal dan mempunyai insidens besar
terjadi reaksi yang merugikan.
3. Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik diklasifikasikan menurut morfologinya sebagai
anemia makrositik normokrom.
Sebab-sebab atau gejala anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12
dan asam folat yang mengakibatkan sintesis DNA terganggu. Defisiensi ini
mungkin sekunder karena malnutrisi, malabsorpsi, kekurangan faktor intrinsik
(seperti terlihat pada anemia pernisiosa dan postgastrekomi) infestasi parasit,
penyakit usus dan keganasan, serta agen kemoterapeutik. Individu dengan

16

infeksi cacing pita (dengan Diphyllobothrium latum) akibat makan ikan segar
yang terinfeksi, cacing pita berkompetisi dengan hospes dalam mendapatkan
vitamin B12 dari makanan, yang mengakibatkan anemia megaloblastik.
Walaupun anemia pernisiosa merupakan prototip dari anemia
megaloblastik defisiensi folat lebih sering ditemukan dalam praktek klinik.
Anemia megaloblastik sering kali terlihat pada orang tua dengan malnutrisi,
pecandu alkoholatau pada remaja dan pada kehamilan dimana terjadi
peningkatan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fetus dan laktasi.
Kebutuhan ini juga meningkat pada anemia hemolitik, keganasan dan
hipertiroidisme. Penyakit celiac dan sariawan tropik juga menyebabkan
malabsorpsi dan penggunaan obat-obat yang bekerja sebagai antagonis asam
folat juga mempengaruhi.
Pencegahan anemia pada penderita anemia megaloblastik
Kebutuhan minimal folat setiap hari kira-kira 50 mg mudah diperoleh
dari diet rata-rata. Sumber yang paling melimpah adalah daging merah
(misalnya hati dan ginjal) dan sayuran berdaun hijau yang segar. Tetapi cara
menyiapkan makanan yang benar juga diperlukan untuk menjamin jumlah gizi
yang adekuat. Misalnya 50% sampai 90% folat dapat hilang pada cara
memasak yang memakai banyak air. Folat diabsorpsi dari duodenum dan
jejunum bagian atas, terikat pada protein plasma secara lemah dan disimpan
dalam hati. Tanpa adanya asupan folat persediaan folat biasanya akan habis

17

kira-kira dalam waktu 4 bulan. Selain gejala-gejala anemia yang sudah


dijelaskan penderita anemia megaloblastik sekunder karena defisiensi folat
dapat tampak seperti malnutrisi dan mengalami glositis berat (radang lidah
disertai rasa sakit), diare dan kehilangan nafsu makan. Kadar folat serum juga
menurun (<4 mg/ml).
Pengobatan anemia pada penderita anemia megaloblastik.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya pengobatan bergantung
pada identifikasi dan menghilangkan penyebab dasarnya. Tindakan ini adalah
memperbaiki defisiensi diet dan terapi pengganti dengan asam folat atau
dengan vitamin B12. penderita kecanduan alkohol yang dirawat di rumah sakit
sering memberi respon spontan bila di berikan diet seimbang.

2.3.

Etiologi
Anemia menyebabkan jumlah oksigen yang diikat dan dibawa hemoglobin

berkurang, sehingga tidak dapat memenuhi keperluan jaringan. Beberapa organ dan
proses memerlukan oksigen dalam jumlah besar. Bila jumlah oksigen yang dipasok
berkurang maka kinerja organ yang bersangkutan akan menurun, sedangkan
kelancaran proses tertentu akan terganggu.
Otak adalah jaringan yang memerlukan energi dalam jumlah besar setiap
saat. Keperluan akan energi dalam jumlah yang besar ini hanya dapat dipenuhi oleh
metabolisme yang berlangsung dalam keadaan aerob. Ini berarti, jaringan otak mutlak
memerlukan oksigen supaya tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Memang
18

keadaan anoksida (ketiadaan oksigen) yang berlangsung beberapa menit saja akan
mengakibatkan kerusakan menetap yang tidak dapat diperbaiki lagi pada jaringan dan
sel-sel otak. Salah satu yang ditakuti dari peredaran darah besar yang terjadi dalam
waktu singkat dan tidak segera diatasi dengan homeostasis (pengentian pendarahan)
dan transfuse ialah kerusakan fungsi susunan saraf pusat, dengan bentuk terberat koma
(kehilangan kesadaran) yang menetap. Dalam keadaan anemia, yang biasanya terjadi
dan berkembang dalam jangka waktu yang panjang, berbagai organ tubuh
menyesuaikan diri dengan menyesuaikan fungsi dengan keadaan yang tidak optimum
tersebut, termasuk otak. Akibatnya, kinerja otak akan berkurang dengan jumlah
oksigen yang diperolehnya.
Akibat anemia bisa berbeda-beda pada setiap tahap kehidupan. Pada anak,
anemia bisa menghambat pertumbuhan fisik dan mentalnya. Pada masa remaja atau
dewasa, anemia bisa menurunkan kemampuan dan konsentrasi serta gairah untuk
beraktivitas. Sementara pada wanita hamil, anemia menyebabkan risiko pendarahan
sebelum atau saat melahirkan, risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau
prematur, cacat bawaan, dan cadangan zat besi bayi yang rendah.
Anemia yang terjadi pada anak-anak dapat menggangu proses tumbuh
kembangnya. Bahkan perkembangan berpikir juga bisa terganggu dan mudah terserang
penyakit. Anemia yang terjadi pada seseorang bisa muncul karena bawaan
(kongenital), akut atau kronik, tidak berbahaya atau berbahaya menyangkut kehidupan,
dan berat atau ganas. Menurunnya jumlah sel darah merah dalam tubuh juga bisa

19

terjadi karena zat gizi besi digunakan untuk kepentingan lain (di luar untuk pembuatan
sel darah merah). Hal ini terjadi, misalnya, akibat kekurangan asam lambung, penyakit
pada sumsum tulang, kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan atau
memproduksi sel-sel darah merah seperti asam folat, vitamin B12, dan lainnya.
Anemia bisa berakibat pada gangguan tumbuh kembang, gangguan
kognitif (belajar) serta penurunan fungsi otot, aktivitas fisik dan daya tahan tubuh. Jika
daya tahan tubuh menurun, maka risiko infeksi pun akan meningkat. Anemia bisa
terjadi saat masih bayi. Bila ini terjadi, tentunya bisa berdampak pada prestasi mereka
saat usia prasekolah dan sekolah. Akibatnya, bisa terjadi gangguan konsentrasi, daya
ingat rendah, kapasitas pemecahan masalah dan kecerdasan intelektual (IQ) yang
rendah, serta gangguan perilaku. Anemia membuat transfer oksigen yang
memperlancar metabolisme sel-sel otak terhambat, metabolisme lemak mielin yang
mempercepat hantar impuls saraf, perilaku, serta konsentrasi terganggu. Jika terkena
anemia defisiensi gizi saat bayi, maka ketika memasuki prasekolah dan usia sekolah
akan terganggu konsentrasi, daya ingat rendah, kapasitas pemecahan masalah rendah,
tingkat kecerdasan lebih rendah dan gangguan perilaku.
Anemia dapat menyebabkan pertumbuhan tinggi dan berat badan dibawah
normal, penurunan tingkat kecerdasan, dan gangguan pada system saraf serta otak.
Anemia sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Anak perempuan lebih tinggi
risikonya karena mengalami menstruasi. Ketika anak perempuan duduk di bangku

20

SMA, mereka masih terancam anemia karena pada usia itu mulai sadar penampilan
sehingga mulai menjalankan diet ketat.
Ada beberapa penyebab timbulnya anemia, yaitu:
a. Karena cacat sel darah merah
Sel darah merah mempunyai komponen penyusun yang banyak sekali.
Tiap-tiap komponen ini bila mengalami cacat atau kelainan, akan menimbulkan
masalah bagi sel darah merah sendiri, sehingga sel ini tidak berfungsi sebagai
mana mestinya dan dengan cepat mengalami penuaan dan segera dihancurkan.
Pada umumnya cacat yang dialami sel darah merah menyangkut senyawasenyawa protein yang menyusunnya. Oleh karena kelainan ini menyangkut
protein, sedangkan sintesis protein dikendalikan oleh gen di DNA.
b. Karena kekurangan zat gizi
Anemia jenis ini merupakan salah satu anemia yang disebabkan oleh
faktor luar tubuh, yaitu kekurangan salah satu zat gizi. Anemia karena kelainan
dalam sel darah merah disebabkan oleh faktor konstitutif yang menyusun sel
tersebut. Anemia jenis ini tidak dapat diobati, yang dapat dilakukan adalah hanya
memperpanjang usia sel darah merah sehingga mendekati umur yang seharusnya,
mengurangi beratnya gejala atau bahkan hanya mengurangi penyulit yang terjadi.
c. Karena perdarahan
Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan
kurangnya jumlah sel darah merah dalam darah, sehingga terjadi anemia. Anemia

21

karena perdarahan besar dan dalam waktu singkat ini secara nisbi jarang terjadi.
Keadaan ini biasanya terjadi karena kecelakaan dan bahaya yang diakibatkannya
langsung disadari. Akibatnya, segala usaha akan dilakukan untuk mencegah
perdarahan dan kalau mungkin mengembalikan jumlah darah ke keadaan semula,
misalnya dengan tranfusi.
d. Karena otoimun
Dalam keadaan tertentu, sistem imun tubuh dapat mengenali dan
menghancurkan bagian-bagian tubuh yang biasanya tidak dihancurkan. Keadaan
ini sebanarnya tidak seharusnya terjadi dalam jumlah besar. Bila hal tersebut
terjadi terhadap sel darah merah, umur sel darah merah akan memendek karena
dengan cepat dihancurkan oleh sistem imun.

2.4.

Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai

sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf)
yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng),
pica, serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi
abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi epitel, dan berkurangnya keasaman
lambung. Cara mudah mengenal anemia dengan 5L, yakni lemah, letih, lesu, lelah,
lalai. Kalau muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan seseorang terkena anemia. Gejala lain
adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah).

22

Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan


kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau
serangan jantung.

2.5.

Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau

kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapt
terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat
penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau
hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel
darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat
beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik
atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil
samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam
aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera
direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl
atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera.
Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar
hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa
makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan
oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting,

23

Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya
kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap.
Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki

2.6.

Komplikasi
Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya,

penderita anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu,
atau gampang terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi gampang lelah,
karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika
lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian, dan berisiko bagi
janin. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia bisa juga mengganggu
perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak

2.7.

Pencegahan
Untuk mencegah kekurangan zat besi, sebaiknya mengonsumsi makanan

bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang mencukupi. Sementara itu, mengatasi

24

anemia yang penting adalah mencari dulu penyebabnya, Bila penyebabnya telah
diobati, penyakit anemia akan sembuh dengan sendirinya. Selain zat besi, konsumsi
makanan yang mengandung asam folat dan vitamin B-12. Perhatikan asupan kalsium,
kopi dan teh yang berlebihan. Zat-zat ini menghalangi penyerapan zat besi.
Tipsnya antara Lain :
a. Berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui perlu tidaknya mendapatkan
pengobatan terhadap anemia yang terjadi, atau hanya perlu mengubah gaya
hidup.2. Menjalani saran yang dianjurkan oleh dokter dan melakukan evaluasi
apakah sudah terjadi perbaikan.
b. Pada anemia defisiensi zat besi, folat, atau vitamin B12, maka cara yang dapat
dilakukan adalah mengonsumsi makanan yang mengandung zat tersebut. Untuk
diperhatikan.
c. Sumber zat besi adalah daging berwarna merah (sapi, kambing, domba),
buncis, sayuran hijau, telur, kacang-kacangan, sea food. Sumber folat adalah
buah segar, sayuran hijau, kembang kol, hati, ginjal, produk olahan susu.
Sebaiknya sayuran dikonsumsi mentah atau setengah matang. Sumber vitamin
B12 adalah daging dan produk olahan susu, daging, hati, ginjal, tiram, keju,
dan telur.
d. Mengonsumsi suplemen zat besi mungkin diperlukan dalam beberapa tahun
dengan mewaspadai efek sampingnya. Kelebihan zat besi mengakibatkan
kelelahan, muntah, diare, sakit kepala, mudah tersinggung, dan muncul
masalah pada persendian.

25

e. Vitamin C diperlukan untuk membantu penyerapan besu di dalam saluran


pencernaan, kecuali penderita gangguan pencernaan. Sebab vitamin C bisa
memperparah penderita gangguan pencernaan.
f. Hindari kafein, misalnya kopi atau teh dalam jumlah banyak, karena kafein
dapat mengganggu penyerapan besi di saluran pencernaan.
g. Hindari alkohol dan obat-obatan tertentu yang dapat mengakibatkan defisiensi
asam folat.
h. Jika Anda seorang vegetarian, konsultasikan kepada dokter atau ahli nutrisi
tentang diet untuk mencukupi kebutuhan vitamin B12. Mungkin diperlukan
suplemen untuk mencukupi kebutuhan tersebut.
i. Kekurangan vitamin B12 juga dapat disebabkan oleh infeksi parasit,
konsultasikan ke dokter untuk mengatasi infeksi tersebut.
Hubungi dokter bila:
1) Penderita merasakan kelelahan menetap, kesulitan bernapas, denyut nadi
cepat (di atas 100 kali/menit), kulit menjadi pucat atau terdapat tanda lain
terjadinya anemia.
2) Periode menstruasi sangat mengganggu, atau terdapat penyakit perlukaan
saluran cerna (ulkus), hemoroid (wasir), atau kanker kolon (usus besar).
3) Lingkungan Anda mengalami paparan timah hitam.
4) Jika memiliki riwayat keluarga penderita anemia, perlu mendapatkan
konseling genetik sebelum memiliki anak.

2.8.

Pengobatan
26

Mengobati anemia tergantung pada penyebabnya.


a. Pertama, mengobati perdarahan kronis. Ini mungkin perdarahan dalam, wasir,
atau bahkan sering mimisan.
b. Kemudian, memperbaiki kelangkaan zat besi, vitamin B12 atau asam folat,
jika ada.
c. Berhenti memakai, atau mengurangi takaran obat penyebab anemia.
d. Pendekatan ini mungkin tidak berhasil. Mungkin mustahil berhenti memakai
semua obat yang menyebabkan anemia. Dua pengobatan lain adalah transfusi
darah dan suntikan EPO.
Transfusi darah dahulu satu-satunya pengobatan untuk anemia berat.
Namun, transfusi darah dapat menyebabkan infeksi dan menekan sistem kekebalan
tubuh. Transfusi darah tampaknya mengakibatkan kelanjutan penyakit HIV yang lebih
cepat dan meningkatkan risiko kematian pada Odha.
EPO (eritropoietin) merangsang pembuatan sel darah merah. Pada 1985,
ilmuwan berhasil membuat EPO sintetis (buatan manusia). EPO ini disuntik di bawah
kulit, biasanya sekali seminggu. Namun EPO sangat mahal dan sulit terjangkau di
Indonesia. Sebuah penelitian besar terhadap Odha menemukan bahwa suntikan EPO
mengurangi risiko kematian. Sebaliknya, transfusi darah tampaknya meningkatkan
risiko kematian. Karena risiko transfusi darah, sebaiknya kita berusaha hindari
transfusi untuk mengobati anemia.
Garis Dasar Anemia menyebabkan kelelahan dan rasa kurang enak.
Anemia juga meningkatkan risiko kelanjutan penyakit dan kematian. Anemia dapat

27

disebabkan oleh infeksi HIV atau penyakit lain. Beberapa obat yang dipakai untuk
mengobati HIV dan infeksi terkait juga dapat menyebabkan anemia. Anemia sejak
awal adalah masalah untuk Odha. Angka anemia berat menurun secara bermakna di
negara maju sejak orang mulai memakai ART. Namun hampir separuh Odha masih
mengalami anemia ringan atau sedang. Mengobati anemia meningkatkan kesehatan
dan daya tahan hidup Odha. Memperbaiki perdarahan, atau kekurangan zat besi atau
vitamin adalah langkah pertama. Jika memungkinkan, sebaiknya berhenti memakai
obat penyebab anemia. Jika perlu, pasien sebaiknya diobati dengan eritropoietin
(EPO), atau jika tidak ada pilihan lain, dengan transfusi darah.

2.9.

Penatalaksanaan
Penderita baru dengan anemia tidak perlu dirawat inap bilamana tidak ada
indikasi antara lain :
a. Keadaan umum jelek, gagal jantung (mengancam), dan ada perdarahan.
b. Anemia berat : Hb < 7 gr %.
c. Ada tanda-tanda keganasan atau penyakit lain dengan indikasi perlu
perawatan.
d. Diagnosis belum jelas dan perlu pemeriksaan intensif, khususnya untuk
menemukan etiologi atau penyakit primer.
e. Perlu pemeriksaan dengan persiapan khusus
Tatalaksana penderita rawat inap tergantung pada jenis anemia dan etiologinya.
Pasien dengan anemia harus ditransfusi yaitu pada keadaan :
a. Sebelum operasi segera, jika Hb < 10 gr%
b. Pendarahan aktif
28

c. Tampaknya tidak ada terapi spesifik yang efektif


d. Selama terapi supresif sumsum tulang (missal kemoterapi)
e. Jika ada defek yang berkaitan dalam transfer oksigen (missal
dekompensasi jantung atau dekompensasi pernafasan)
f. Jika ada peningkatan kebutuhan oksigen
Pasien dengan anemia tidak boleh ditransfusi pada keadaan :
a. Anemia ringan pada pasien muda
b. Jika anemia dapat pulih kembali dalam waktu singkat
c. Sebagai persiapan utama preoperatif untuk operasi efektif, jika
tersedia terapi definitive (misalnya defisiensi besi)
d. Jika efek hemodilusi dari anemia mungkin menguntungkan (misalnya
kehamilan anemia pada penyakit kronis, penyakit vaskular).

Tatalaksana penderita rawat jalan pada prinsipnya serupa dengan penderita


rawat inap, yaitu :
a. Medikamentosa tergantung dari jenis anemianya
b. Pengawasan keadaan klinis dan laboratories, dengan kemungkinan
perlu dirawat inap atas berbagai indikasi.

29

BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1.

Asuhan Keperawatan
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan

secara menyeluru.
Pengkajian pasien dengan anemia meliputi :
a. Aktivitas / istirahatGejala :
keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ;
penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah. Kebutuhan
untuk tidur dan istirahat lebih banyak.

30

Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat.


Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan
otot, dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur
lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan.
b. Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis,
menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat
endokarditis

infektif

kronis.

Palpitasi

(takikardia

kompensasi).

Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar,
hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan
pendataran atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur sistolik
(DB). Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva,
mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat
tampak sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau
kuning lemon terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB). Pengisian
kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi)
kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB). Rambut : kering,
mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature (AP).
c. Integritas ego
Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan,
misalnya penolakan transfusi darah.

31

Tanda : depresi.
d. Eleminasi
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB).
Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi.
Penurunan haluaran urine.
Tanda : distensi abdomen.
e. Makanan/cairan
Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani
rendah/masukan produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan
menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya
penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es,
kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB).
Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan
vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering,
tampak kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir
: selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).
f. Neurosensori
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak
mampuan berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada
mata. Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;
klaudikasi.

Sensasi

manjadi

dingin.

Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu

32

berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP).


Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia,
penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP).
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB)
h. Pernapasan
Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.
i. Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan
pada radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi
kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya.
Gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi.
Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum.
Ptekie dan ekimosis (aplastik).
j. Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore (DB).
Hilang

libido

(pria

dan

wanita).

Imppoten.

Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

33

2.1.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang

nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan.


Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan anemia meliputi :
a. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons
inflamasi tertekan)).
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan
untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient
yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
d. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler
yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.

34

e. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan


sirkulasi dan neurologist.
f. Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan
proses pencernaan; efek samping terapi obat.
g. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah
interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.

2.2.

Implementasi

a. Berikan informasi tentang anemia spesifik. Diskusikan kenyataan bahwa terapi


tergantung

pada

tipe

dan

beratnya

anemia.

Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat


pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama
dalam program terapi.
b. Tinjau
tujuan
dan

persiapan

untuk

pemeriksaan

diagnostic.

Rasional : ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress,


selanjutnya meningkatkan beban jantung. Pengetahuan menurunkan ansietas.
c. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan
keluarga tentang penyakitnya.
d. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan
keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
e. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.
Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.
f. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah
diberikan.

35

Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta


menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

2.3.

Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang

kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.
Evaluasi pada pasien dengan anemia adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Infeksi tidak terjadi.


Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Pasien dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.
Peningkatan perfusi jaringan.
Dapat mempertahankan integritas kulit.
Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus.
Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit, prosedur diagnostic dan
rencana pengobatan.

36

BAB IV
HASIL PEMERIKSAAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Pemeriksaan Penunjang


Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hemalokrit menurun.
Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik); MCV (molume korpuskular
rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan
eritrosit hipokronik (DB), peningkatan (AP). Pansitopenia (aplastik). Jumlah
retikulosit : bervariasi, misal : menurun (AP), meningkat (respons sumsum tulang
terhadap kehilangan darah/hemolisis).
Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat
mengindikasikan tipe khusus anemia).
LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan
kerusakan sel darah merah : atau penyakit malignasi.
Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misal :
pada tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih pendek.
Tes kerapuhan eritrosit : menurun (DB).
SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin meningkat
(hemolitik) atau menurun (aplastik).
Jumlah trombosit : menurun caplastik; meningkat (DB); normal atau tinggi (hemolitik)

37

Hemoglobin

elektroforesis

mengidentifikasi

tipe

struktur

hemoglobin.

Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (AP, hemolitik).


Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan
defisiensi masukan/absorpsi
Besi serum : tak ada (DB); tinggi (hemolitik)
TBC serum : meningkat (DB)
Feritin serum : meningkat (DB)
Masa perdarahan : memanjang (aplastik)
LDH serum : menurun (DB)
Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine (AP)
Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi gaster,
menunjukkan perdarahan akut / kronis (DB).
Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam
hidroklorik bebas (AP).
Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam
jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia, misal:
peningkatan megaloblas (AP), lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik).
Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan : perdarahan GI.

38

4.2. Pemeriksaan Laboratorium


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Kadar Hb, jumlah eritrosit, leukosit, hitung jenis, hematokrit (nilai mutlak
MCV, MCHC, MCH), gambaran apusan darah tepi.
Retikulosit, jumlah trombosit.
Bone Marrow Punction (BMP).
Kadar besi serum .
Resistensi eritrosit.
Hb patologis, Hb elektroforesis, tes koagulasi darah.
Bilirubin direk/indirek, tes Coomb.

BAB V
PENUTUP

39

5.1.

Kesimpulan
Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan dimana

jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel
darah merah berada dibawah normal.
Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Gejala Anemia antara lain : Lesu, lemah, letih, lelah, lalai, Nafsu makan
berkurang, Pucat (mata, bibir, telapak tangan), Produktivitas kerja berkurang,
Kemampuan belajar berkurang, Pertumbuhan terhambat, Mudah terkena penyakit
infeksi, Menganggu pengaturan suhu tubuh, Lebih mudah keracunan timbal, Refleks
berkurang.Cara penanggulangan Anemia salah satunya dengan memperbaiki pola
hidup.
Dampak Anemia tidak hanya terjadi pada ibu hamil saja juga, anemisa
bisa juga menyerang remaja putri.

5.2.

Saran
Kami penyusun makalah yang membahas anemia ini menyarankan

khususnya
bagi penderit Anemia untuk, antara lain :

40

a. Istirahat dan batasi aktivitas


b. Meningkatkan asupan nutrisi terutama yang mengandung zat besi/Fe, protein, dan
asam folat
c. Tranfusi
d. Nutrisi adalah makanan yang mengandung cukup nilai gizi dan tenaga untuk
perkembangan dan pemeliharaan kesehatan secara optimal
e. Makanan yang dianjurkan bagi penderita anemia adalah yang mengandung :
1) Zat Besi ( Fe ) :
Ati, daging sapi, kuning telur, buah-buahan yang dikeringkan ( misal :
kismis ), sayur-sayuran yang berwarna hijau (kangkung, daun katuk, daun
ubi jalar, bayam, daun singkong, kacang buncis, kacang panjang, dll. )
2) Asam Folat
Ati, jamur, pisang, apel
3) Protein
Telur, susu, tahu, tempe, kacang-kacangan.

Daftar Pustaka
Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.
Burton, J.L. 1990. Segi Praktis Ilmu Penyakit Dalam. Binarupa Aksara :
Jakarta
Carpenito, L. J. 1999. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi
Keperawatan
Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 2. EGC : Jakarta

41

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk


perencanaan dan pendokumentasian pasien. ed.3. EGC : Jakarta
Effendi , Nasrul. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.
Hassa. 1985. Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. FKUI : Jakarta
http://www.puankbayugly.yahoo.com.editordirect/htm.
http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/30/104458.htm
Noer, Sjaifoellah. 1998. Standar Perawatan Pasien. Monica Ester
Jakarta.Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7.
EGC : Jakarta.

LAMPIRAN
GAMBAR I

42

Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka mengangkut


oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.

LAMPIRAN
GAMBAR II

43

Anemia terjadi ketika darah kita kekurangan hemoglobin (Hb) yang bertugas
membantu sel darah merah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

44