Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (BI-2105)

KROMATOGRAFI PIGMEN MATA LALAT BUAH (Drosophila


melanogaster)
Tanggal Praktikum

: 2 Oktober 2015

Tanggal Pengumpulan

: 9 Oktober 2015

Disusun oleh:
Bunga Indraswari Sekaton
10614047
Kelompok 3

Asisten:
Isqim Oktaviani
10611030

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Mutasi pasti dapat dijumpai pada suatu organisme di dunia. Salah
satu contoh organisme dengan mutan yang cukup banyak yaitu Drosophila
melanogaster. Contoh mutasi yang terlihat

jelas pada Drosophila

melanogaster adalah perbedaan pigmen mata. Penemuan mutan bermata


putih oleh Morgan menandai munculnya Drosophila sebagai model
organisme genetik. Sejak itu, puluhan mata mutan pigmen telah diisolasi
pada Drosophila melanogaster. Keberadaan begitu banyak varian mudah
dikenali dalam warna mata menjadi pesatnya pengembangan genetika
biokimia dan secara signifikan pada analisis pigmen biokimia (Golic et al,
1998).
George Beadle dan Edward Tatum di tahun 1941 melakukan
serangkaian percobaan pada jamur roti Neurospora crassa dimana
hasilnya menunjukkan hubungan langsung antara gen dan enzim yang
dihasilkan sebagai katalis reaksi biokimia. Dari percobaan tersebut, Beadle
dan Tatum dapat menarik hipotesis bahwa gen berisi informasi untuk
memproduksi enzim (protein) tertentu, dan mereka menyimpulkan bahwa
satu gen menyintesis satu enzim (one gene - one enzyme theory). Beberapa
puluh tahun kemudian, ditemukan bahwa gen mengkode protein yang
tidak hanya berfungsi sebagai enzim saja, dan beberapa protein tersusun
dari dua atau lebih polipeptida. Dengan adanya penemuan-penemuan
tersebut, pendapat Beadle dan Tatum, one gene-one enzyme theory, telah
dimodifikasi menjadi teori satu gen-satu polipeptida (one gene-one
polypetide theory) (Campbell, 2010).

Sebagai hasil dari transkripsi dan translasi suatu gen, protein, dapat
berfungsi sebagai enzim yang mengkatalisis reaksi-reaksi yang terjadi
ataupun sebagai protein struktural yang membentuk sel. Apabila suatu
protein tidak berfungsi, maka akan terjadi mutasi. Melalui praktikum ini
praktikan

dapat

melihat

pengaruh

aktivitas

produk

gen

yang

mempengaruhi fenotip, yakni pigmen mata pada Drosophila melanogaster.


(Jones et al, 1991).
1.2

Tujuan
Praktikum kromatografi pigmen mata Drosophila melanogaster ini
bertujuan:
1. Menentukan nilai Rf dari hasil kromatografi pigmen mata
Drosophila melanogaster wildtype, mutan white, mutan claret,
dan mutan sepia.
2. Menentukan kelompok pigmen mata pada

Drosophila

melanogaster mutan white, sepia, dan claret berdasarkan hasil


pemberian sinar UV.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Hubungan Antara Gen, DNA, Protein, dan Enzim


Berdasarkan percobaan George Beadle dan Edward Tatum pada
tahun 1941, gen yang terkandung dalam rantai panjang nukleotida pada
DNA berisi informasi untuk memproduksi enzim (protein) tertentu, dan
mereka menyimpulkan bahwa satu gen mensintesis satu enzim (one geneone enzyme). Sehingga dapat dikatakan gen bertanggung jawab
memproduksi sebuah enzim tunggal yang mempengaruhi satu langkah
dalam jalur metabolisme. Salah satu fungsi protein di dalam sel yaitu
sebagai enzim yang mengkatalis reaksi-reaksi yang terjadi di dalam sel.
Namun setelah perkembangan teknologi, ditemukan bahwa tidak semua
protein yang disintesis suatu gen menjadi sebuah enzim. Sehingga teori ini
kemudian dikoreksi menjadi one gene-one polypetide theory. Ekspresi gen
terdiri dari dua tahap yakni transkripsi proses pembuatan RNA copy, dan
translasi, proses sintesis polipeptida yang spesifik di dalam ribosom.
(Snustad, 2011).

2.2

Hubungan Kerja Protein dan Pigmen Mata


Bentuk utama dari suatu gen adalah protein yang dihasilkan dari
sintesa polipeptida. Fenotip-fenotip yang teramati dari suatu mahluk hidup
terjadi akibat aktivitas dari protein. Jika suatu gen termutasi dimana urutan
nukleotida dari gen tersebut berubah, hal ini mengakibatkan terjadi
perubahan pada protein yang dihasilkan. Hal tersebut dapat mengakibatkan
perubahan dari aktivitas protein dan fenotip yang kita amati. Di dalam
pigmen mata terdapat bermacam-macam protein yang menghasilhan warna
mata yang berbeda-beda Warna mata dari Drosophila melanogaster
adalah hasil dari kombinasi dua famili molekul pigmen, yaitu pteridin dan
ommokrom. Pteridin yang memberi warna merah cerah, sedangkan

ommokrom memberi warna coklat. Kedua

pigmen ini digabumgkan

dalam ikatan membran yang mengandung pigmen protein bergranula


dengan sel pigmen pada mata dan sel fotoreseptor (Jones et al, 1991).
2.3

Alur Sintesis Pigmen Mata Drosopterin dan Ommokrom


Pteridin yang menyebabkan warna mata pada Drosophila
melanogaster berwarna merah meliputi drosopterin, isoxanthopterin, dan
sepiapterin (Yamamoto et al, 1976). Pada pteridin, pigmen- pigmen
tersebut disintesis dengan jalur sintesis berikut:

Gambar 2.1 Jalur biosintesis pteridin (Handler, 2000)

Pada ommokrom, pigmen xanthommatin coklat dihasilkan dari


asam amino triptofan dengan jalur biosintesis berikut:

Gambar 2.1 Jalur biosintesis ommokrom (Handler, 2000)

2.4

Prinsip Dasar Kromatografi dan Rf


Pengamatan
melanogaster

komponen

pigmen

mata

Drosophila

dapat digunakan dengan metode kromatografi.

Kromatografi adalah metode

pemisahan yang mengandalkan

perbedaan perilaku partisi antara fase gerak mengalir dan fase


diam untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran.
Thin-layer chromatography (TLC) atau biasa disebut kromatografi

lapisan tipis, adalah jenis kromatografi dengan prosedur yang lebih


sederhana, cepat, dan murah yang memberikan jawaban yang cepat
untuk berapa banyak komponen dalam suatu campuran. TLC juga
digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa dalam campuran
ketika Rf (Retention factor) suatu senyawa dibandingkan dengan
Rf dari senyawa yang diketahui.
Prinsip kerja dari TLC adalah komponen-komponen
senyawa yang diidentifikasi akan berbeda dalam kelarutan dan
pada kekuatan dari adsorpsinya untuk adsorben dan beberapa
komponen akan dibawa lebih jauh ke pelat daripada yang lainya.
Ketika pelarut telah mencapai puncak pelat, pelat dikeluarkan dari
wadah, lalu dikeringkan, dan komponen dipisahkan dari campuran
yang divisualisasikan. Jika senyawa berwarna, visualisasi dapat
dilakukan dengan sangat mudah. Biasanya senyawa tidak berwarna,
sehingga sinar UV digunakan untuk memvisualisasikan pelat
tersebut (Posto, 1992).
Retention factor (Rf) didefinisikan sebagai jarak yang
ditempuh oleh senyawa dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh
pelarut.

Rf untuk suatu senyawa adalah konstan dari satu percobaan ke


percobaan lainnya hanya jika kondisi kromatografi seperti sistem
pelarut, adsorben, ketebalan adsorben, jumlah material yang terlihat,
dan suhunya

juga konstan. Semakin bear nilai Rf dari suatu

senyawa, semakin besar jarak tempuhnya pada pelat (Posto, 1992).

BAB III
METODOLOGI

3.1

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini terdapat
dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Alat dan Bahan

Alat
1. Alat penjepret
2. Bejana kromatografi
3. Gunting
4. Jarum pentul

Bahan
1. Drosophila

melanogaster

wildtype
2. Drosophila melanogaster mutan
(white, claret, sepia)

5. Lampu sinar UV

3. Kertas saring Whatman no. 1

6. Penggaris

4. Larutan NBA

7. Pensil

5. Vaselin

8. Tutup kaca

3.2

Cara Kerja
Kertas saring Whatman no. 1 digunting dengan ukuran 16 x 20 cm.
Kemudian, dikedua bagian dari ujung kertas saring yang sejajar sisi
berukuran 16 cm digarisi lurus dengan pensil. Garis pertama 2cm dan
garis kedua 18cm dari ujung bawah kertas. Di garis lurus yang pertama,
diberi 4 tanda O dengan jarak masing-masing 4 cm. Diujung atas kertas
saring ditulisi nama kelompok menggunakan pensil. Empat ekor lalat buah
(Drosophila melanogaster) jenis wildtype ,white, claret, sepia dipotong
kepalanya menggunakan jarum pentul. Setiap kepala tersebut diiletakkan
di atas keempat tanda O pada kertas saring dan ditekan. Kertas saring

digulung sehingga letak sisi kiri dan kanan bersebelahan dan kertas saring
dijepret sebanyak dua kali disebeah atas dan dua kali disebelah bawah.
Bejana diisi dengan larutan NBA setinggi 1cm. Kertas saring yang telah
digulung, dimasukkan ke dalam bejana. Lalu, bejana ditutup dan diberi
vaselin disekitar penutup bejana. Kertas saring didalam bejana, didiamkan
selama beberapa puluh menit hingga eluen bergerak melewati garis kedua.
Setelah eleuen bergerak melewati garis kedua, kertas saring diambil dan
digarisi dengan pensil pada batas pergerakan eluen. Kemudian, kertas
saring dikeringkan dan diamati dibwaha sinar ultra violet. Di sekeliling
bercak yang terlihat saat penyinaran sinar ultra violet diberi tanda dengan
pensil dan dicatat warnanya dan warna yang berpendar atau fluorosensinya.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Pengamatan

4.1.1

Foto Hasil Pengamatan


Setelah melakukan pengamatan didapatkan hasil sebagai berikut:

Gambar 4.1 (a) Kertas kromatografi sampel sepia-claret sebelum dicelupkan ke eluen
(b) Kertas kromatografi sampel wildtype-white sebelum dicelupkan ke eluen
(Dokumentasi Pribadi, 2015)

Gambar 4.2 Kertas kromatografi sampel setelah dicelupkan ke eluen (Dokumentasi


Pribadi, 2015)

Gambar 4.3 Kertas kromatografi sampel saat diberi sinar UV (Dokumentasi Pribadi,
2015)

4.1.2

Perhitungan Rf

Tabel 4.1 Perhitungan Rf

Jenis
Drosophila
melanogaster

4.2

Fasa I

Fasa II

(cm)

(cm)

Warna

Warna

Jarak
Total

Rf Fasa I

(cm)

Rf Fasa
II

pendar

pendar

kuning

hijau

Wildtype

0.5

2.1

4.6

0.1086

0.4565

Sepia

1.7

2.9

4.3

0.3953

0.6744

Claret

0.7

2.1

4.6

0.1521

0.4565

Pembahasan
Saat kertas kromatografi diberi sinar UV, terjadi pemantulan warna
atau berpendarnya warna yang tersembunyi karena absorbsi cahaya dari

lampu sinar UV. Peristiwa ini bisa terjadi karena senyawa pada pigmen
warna mata mempunyai sifat memendarkan cahaya. Warna pendar cahaya
yang berbeda-beda dikarenakan Karena masing-masing mutan mempunyai
perbandingan pigmen mata yang berbeda-beda dimana komponen pigmen
mata tersebut akan mengabsorbsi cahaya ultraviolet dengan panjang
gelombang tertentu dan memendarkan warna yang lebih kontras sesuai
dengan warna asli masing-masing senyawa tersebut.
Hasil pengamatan ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan
bahwa Drosophila melanogaster mutan terlihat hasil pola pteridin pada
kromatogram yang berbeda dengan type wildtype. Itensitas sinar yang
berpendar saat kromatogram diletakkan dibawah sinar UV sebanding
dengan jumlah senyawa pada komposisi pigmen mata tiap mutan.
Beberapa jenis pteridin tidak ditemukan pada jenis mutan. Seperti tidak
adanya drosopterin (pigmen mata merah), namun terdapat kandungan
xanthopterin dan sepiapterin yang tinggi pada mutan sepia. Sedangkan
pada mutan claret terjadi mutasi baik pada pigmen pteridin maupun
ommokrom.

Gambar 4.4 Urutan pteridin hasil kromatografi tipe wildtype (Hadorn, 1962)

Pengamatan pada pigmen mata Drosophila melanogaster mutan


white tidak didapatkan hasil jarak noda pigmen matanya karena tidak
terdapat pigmen pada mutan tersebut. Pigmen mata Drosophila
melanogaster mutan white tidak memiliki pigmen karena tidak adanya
pigmen drosopterin (pigmen warna merah) yang diekspresikan pada jalur
pteridin dan pigmen xanthommatin pada jalur sintesis ommokrom (Hadorn,
1962).
Pada praktikum kali ini, nilai Rf pada masing-masing mata lalat
Drosophila melanogaster mata wildtype, mutan sepia, mutan claret
berturut-turut pada fasa I adalah 0.1086, 0.3953, 0.1521, sedangkan untuk
fasa II adalah 0.4565, 0.6744, 0.4565. Nilai Rf yang semakin besar dapat
diartikan semakin non-polar, karena semakin tinggi berarti zat tersebut
semakin terbawa dengan eluen yang bersifat non-polar. Sedangkan jika
nilai Rf semakin kecil, itu dapat diartikan semakin polar karena zat
tersebut tertahan oleh kertas yang juga bersifat polar. Pada hasil
pengamatan ditemukan bahwa nilai Rf pada mutan sepia paling besar. Hal
ini menunjukkan bahwa pigmen sepia paling nonpolar sedangkan pigmen
mutan white yang paling polar (Thiemann, 2001).
Larutan NBA dalam praktikum ini berfungsi sebagai eluen.
Larutan NBA merupakan campuran dari larutan yang memiliki tingkat
kepolaran. Karena larutan NBA merupakan campuran dari larutan yang
memiliki tingkat kepolaran berbeda-beda, larutan NBA dapat memisahkan
pigmen-pigmen pada mata lalat buah yang memiliki tingkat kepolaran
hampir sama. Sedangkan fungsi vaselin adalah agar udara yang berada di
dalam bejana tidak dapat keluar dan udara yang diluar tidak dapat masuk
melalui celah-celah antara bejana dengan penutup. Pemberian vaseline
pada tutup bejana berfungsi agar bejana tempat eluen kromatografi kedap
udara sehingga kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari
larutan NBA. Kondisi jenuh dalam gelas kimia dengan uap mencegah
penguapan eluen (Falk, 2009).

Fungsi pemakaian sinar UV pada praktikum ini adalah untuk


membantu pengamatan kromatogram,

karena pigmen mata pada

Drosophila melanogaster tidak bisa terlihat menggunakan cahaya putih


(lampu neon), maka dari itu digunakan sinar UV, dimana sinar UV bersifat
memendarkan cahaya pada senyawa yang terdapat pada pigmen mata.
Sehingga terlihat jelas kandungan pigmen mata pada tiap mutan, karena
hasil kromatografi tiap sampel dari mata mutan memendarkan warna yang
berbeda-beda (Hadorn, 1962).

BAB V
KESIMPULAN
5.1

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan yang sudah dilakukan,
dapat disimpulkan bahwa:
1. Nilai

Rf

pada

masing-masing

mata

lalat

Drosophila

melanogaster mata wildtype, mutan sepia, mutan claret


berturut-turut pada fasa I adalah 0.1086, 0.3953, 0.1521,
sedangkan untuk fasa II adalah 0.4565, 0.6744, 0.4565.
2. Drosophila melanogaster mutan

white tidak memiliki

kelompok pigmen mata drosopterin (warna merah) dan pigmen


xanthommatin pada jalur sintesis ommokrom. Drosophila
melanogaster mutan claret memiliki kelompok pigmen mata
drosopterin dan ommokrom namun mengalami mutasi.
Drosophila melanogaster mutan sepia memiliki kelompok
pigmen mata ommokrom, namun tidak memiliki kelompok
pigmen pteridin jenis drosopterin (pigmen mata merah) sama
sekali.

5.2

Saran
Saat melakukan praktikum hendaknya praktikan harus lebih sigap
dalam memotong kepala Drosophila melanogaster mutan yang telah mati,
karena jika terlalu lama, fenotip mutan tersebut bisa hilang atau tidak
terekspresikan sehingga hasil kromatografi tidak akurat. Dan adanya
penambahan lampu sinar UV, sehingga setidaknya tiap instruk terdapat 2
unit.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A., J.B. Reece , dan M.L. Cain, S.A. Wasserman, P.V. Minorsky,
R.B Jackson. 2010. Biology, 9th Edition. New Jersey : Pearson Inc
Falk, Raphael. 2009. Genetic Analysis: A History of Genetic Thinking. England:
Cambridge University Press
Hadorn, Ernst. 1962 . Fractionating the fruit fly. Scientific American. 206: 10110
Handler, A. M., James, A. A. 2000. Insect Transgenesis: Methods and
Applications. CRC Press.
Jones, R.N., Rickards, G.K. 1991. Practical Genetics. New York: John Wiley and
Sons Inc.
Posto, D., Johnson, C., Miller, M. 1992. Experiments and Techniques in
Organic Chemistry. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Rong, Y.S., K.G. Golic. 1998. Dominant defects in Drosophila eye pigmentation
from a euchromatin-heterochromatin fusion gene. Genetics. Volume
150(4):1551-66.
Snustad, D. P., Simmons, M. J. 2011. Principles of Genetics 6th Edition. New
York: Wiley
Thiemann. 2001. Genotype to Phenotype: Investigating Eye Color Mutations
Using Chromatography. Truman State University
Yamamoto, M., Howells, A. J., Ryall, R. L. 1976. The ommochrome
biosynthetic pathway in Drosophila melanogaster: the head particulate
phenoxazinone synthase and the developmental onset of xanthommatin
synthesis. Biochem Genet. 14: 10771090.