Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


KONSEP DIRI

DISUSUN OLEH :
1.
2.
3.
4.
5.

ABILIO BARRETO
AFIF TRI ATMOKO
JOICE DELSRYANI T
SITI NUR AZIZAH
YARDI TKESNAY

(1211B0001)
(1211B0004)
(1211B0031)
(1211B0051)
(1211B0056)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA MITRA HUSADA
KEDIRI
2013
BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah konsep
diri. Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap
pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik
pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari
makhluk hidup lainnya.
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang
merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki
dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan
keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian
membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.
Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal
segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas
kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas
kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas
sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan, maka dari itu sangatlah penting
untuk seorang perawat memahami konsep diri. Memahami diri sendiri terlebih
dahulu baru bisa memahami klien.

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apakah definisi konsep diri ?


Bagaimana Tanda dan Gejala konsep diri ?
Apa saja faktor faktor konsep diri ?
Bagaimana karakteristik konsep diri positif dan negatif ?
Bagaimana Kepribadian yang sehat ?

Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

Mengetahui definisi konsep diri


Mengetahui tanda dan gejala konsep diri
Mengetahui faktor-faktor konsep diri
Mengetahui karakteristik konsep diri positif dan negatif
Mengetahui kepribadian yang sehat

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Konsep Diri


Pengertian konsep diri menurut para ahli :
Seifert dan Hoffnung (1994), misalnya, mendefinisikan konsep diri
sebagai suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang konsep
diri..
Santrock (1996) menggunakan istilah konsep diri mengacu pada
evaluasi bidang tertentu dari konsep diri.
Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan
gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang tentang
diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan
dirinya.
Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap
dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Sedangkan Pemily (dalam
Atwater, 1984), mendefisikan konsep diri sebagai sistem yang
dinamis dan kompleks diri keyakinan yang dimiliki seseorang
tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan
tingkah laku yang unik dari individu tersebut.
Cawagas (1983) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh
pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya,
motivasinya, kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya,
kegagalannya, dan sebagainya.
Stuart dan Sudeen (1998), konsep diri adalah semua ide, pikiran,
kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya
dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara
seseorang untuk melihat dirinya secara utuh dengan semua ide, pikiran,

kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu dalam berhubungan dengan


orang lain.

2.2 Tanda dan Gejala konsep diri


Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses
yang adaptif, jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka
respon klien dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu :

1. Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.

2. Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.

3. Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.

4. Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.

5. Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang.

6. Mengungkapkan keputusasaan.

7. Mengungkapkan ketakutan ditolak.

8. Depersonalisasi.

9. Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh.

2.3 Faktor-faktor konsep diri

1. Tingkat perkembangan dan kematangan


Perkembangan anak seperti dukungan mental, perlakuan dan
pertumbuhan anak akan mempengaruhi konsep diri.Contoh, bayi membutuhkan
lingkungan yang mendukung dan penuh kasih sayang, sedangkan anak
membutuhkan kebebasan untuk belajar dan menggali hal-hal baru.

2. Budaya
Pada usia anak-anak nilai akan diadopsi dari orang tuanya,
kelompoknya dan lingkungannya.Orang tua yang bekerja seharian akan membawa
anak lebih dekat pada lingkungannya.

3. Faktor Internal dan Eksternal


Kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh
terhadap konsep diri. Pada sumber internal misalnya, orang yang humoris koping
individunya lebih efektif. Sumber eksternal misalnya adanya dukungan dari
masyarakat dan ekonomi yang kuat.

4. Pengalaman sukses dan gagal


Ada kecenderungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan konsep diri
demikian pula sebaliknya.

5. Stesor

Stresor dalam kehidupan misalnya perkawinan, pekerjaan baru, ujian


dan ketakutan. Jika koping individu tidak adekuat maka akan menimbulkan
depresi, menarik diri dan kecemasan.
6. Usia, keadaan sakit, dan trauma
Usia tua, keadaan sakit akan mempengaruhi persepsi dirinya.
Menurut Burns (1993) menyebutkan bahwa secara garis besar ada
lima faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu :
citra fisik, merupakan evaluasi terhadap diri secara fisik,
bahasa, yaitu kemampuan melakukan konseptualisasi

dan

verbalisasi,
umpan balik dari lingkungan,
identifikasi dengan model dan peran jenis yang tepat,
pola asuh orang tua.
Menurut Hurlock (1973) yang mengungkapkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan konsep diri di antaranya adalah ;

fisik,
pakaian,
nama dan nama panggilan,
intelegensi,
tingkat aspirasi,
emosi,
budaya,
sekolah dan perguruan tinggi,
status sosial ekonomi, dan keluarga.

Menurut Lerner dan Spanier (dalam Nuryoto, 1993), perkembangan


seseorang selain ditentukan oleh kondisi dirinya, juga dikaitkan dengan kehidupan
kelompok dalam lingkungan masyarakatnya pada setiap tahap perkembangan
yang dilaluinya.
Garbarino (1992) mengemukakan bahwa pada prinsipnya dalam
proses perkembangan manusia bisa dilihat dalam perspektif ekologi. Dalam
perspektif ini individu berintraksi dengan lingkungan. Interaksi tersebut mebuat
kedua elemen saling memperngaruhi satu sama lain dan membentuk sistem dalam

beberapa tingkatan, yang terdiri dari microsystems, mesosystems, exosystems,


dan macrosystems.

2.4 Karakteristik konsep diri positif dan negatif


Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang memiliki konsep diri
positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

Merasa mampu mengatasi masalah. Pemahaman diri terhadap


kemampuan

subyektif

untuk

mengatasi

persoalan-persoalan

obyektif yang dihadapi.

Merasa setara dengan orang lain. Pemahaman bahwa manusia


dilahirkan tidak dengan membawa pengetahuan dan kekayaan.
Pengetahuan dan kekayaan didapatkan dari proses belajar dan
bekerja sepanjang hidup. Pemahaman tersebut menyebabkan
individu tidak merasa lebih atau kurang terhadap orang lain.

Menerima pujian tanpa rasa malu. Pemahaman terhadap pujian,


atau penghargaan layak diberikan terhadap individu berdasarkan
dari hasil apa yang telah dikerjakan sebelumnya.

Merasa mampu memperbaiki diri. Kemampuan untuk melakukan


proses refleksi diri untuk memperbaiki perilaku yang dianggap
kurang.

Sedangkan

orang

yang

memiliki

konsep

diri

yang

negatif

menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

Peka terhadap kritik. Kurangnya kemampuan untuk menerima


kritik dari orang lain sebagai proses refleksi diri.

Bersikap responsif terhadap pujian. Bersikap yang berlebihan


terhadap tindakan yang telah dilakukan, sehingga merasa segala
tindakannya perlu mendapat penghargaan.

Cenderung merasa tidak disukai orang lain. Perasaan subyektif


bahwa setiap orang lain disekitarnya memandang dirinya dengan
negatif.

Mempunyai sikap hiperkritik. Suka melakukan kritik negatif secara


berlebihan terhadap orang lain.

Mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya.


Merasa kurang mampu dalam berinteraksi dengan orang-orang lain.
2.5 Kepribadian yang sehat
Bagaiman individu berhubungan dengan orang lain merupakan inti
dari kepribadian Kepribadian tidak cukup di uarikan melalui teori perkembangan
dan dinamika diri sendiri. Berikut ini adalah pengalaman yang akan dialmi oleh
individu yang mempunyai kepribadian yang sehat (stuart dan Sudden, 1991 )
1. Gambaran diri yang positif dan akurat. Kesadaran akan diri
berdasarkan atas observasi mandiri dan perhatian yang sesuai
dengan kesehatan diri. Termasuk persepsi saat ini dan yang lalu,
akan diri sendiri, perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan
potensi.
2. Ideal diri realistis. Individu yang mempunyai ideal diri yang
realitas akan mempuynai tujuan hidup yang dapat dicapai.
3. Konsep diri positif. Konsep diri positif menunjukkan bahwa
individu akan sukses dalam hidupnya.

4. Harga diri tinggi. Seorang yang mempunyai harga diri yang tinggi
akan memandang dirinya sebagai seorang yangberarti dan
bermanfaat. Ia memanding dirinya sangat sama dengan apa yang ia
inginkan.
5. Kepuasan penampilan peran. Indiviu yang mempunyai kepribadian
sehat akan mendapat berhubungan dengan orang lain secara intim
dan mendapat kepuasan. Ia dapat mempercayai dan terbuka pada
orang lain dan membina hubungan interdependen.
6. Identitas jelas. Individu merasakan keunikan dirinya, yang
memberi arah kehidupan dan mecapai keadaan

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat dirinya secara utuh
dengan semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu
dalam berhubungan dengan orang lain. Sangatlah penting bagi seorang perawat
untuk memahami konsep diri terlebih dahulu harus menanamkan dalam dirinya
sendiri sebelum melayani klien, sebab keadaan yang dialami klien bisa saja
mempengaruhi konsep dirinya, disinilah peran penting perawat selain memenuhi
kebutuhan dasar fisiknya yaitu membantu klien untuk memulihkan kembali
konsep dirinya.
Ada beberapa komponen konsep diri yaitu identitas diri yang
merupakan intenal idividual, citra diri sebagai pandangan atau presepsi, harga diri
yang menjadi suatu tujuan, ideal diri menjadi suatu harapan, dan peran atau posisi
di dalam masyarakat.Untuk membangun konsep diri kita harus belajar menyukai
diri sendiri, mengembangkan pikiran positif, memperbaiki hubungan interpersonal
ke yang lebih baik, sikap aktif yang positif, dan menjaga keseimbangan hidup.
Semua yang kita lakukan pasti ada manfaatnya begitu juga dalam
memahami konsep diri, kita menjadi bangga dengan diri sendiri, percaya diri
penuh, dapat beradaptasi dengan lingkungan, dan mencapai sebuah kebahagiaan
dalam hidup.

B. SARAN
Untuk membangun konsep diri, kita harus belajar menyukai diri
sendiri, mengembangkan pikiran positif, memperbaiki hubungan interpersonal ke
yang lebih baik, sikap aktif yang positif, dan menjaga keseimbangan hidup.
Semua yang kita lakukan pasti ada manfaatnya begitu juga dalam
memahami konsep diri, kita menjadi bangga dengan diri sendiri, percaya diri
penuh, dapat beradaptasi dengan lingkungan, dan mencapai sebuah kebahagiaan
dalam hidup.

DAFTAR PUSTAKA

http://knowledgescafe.blogspot.com/2012/01/makalah-konsep-diri.html
http://danumanyut-putraraharja.blogspot.com/2012/01/askep-konsep-diri.html
http://www.masbow.com/2009/07/konsep-diri.html
http://janewinarni.wordpress.com/2011/04/17/konsep-diri/
Tarwoto,2004, Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan, Jakarta:
Salemba Medika
Mubarak Wahid Iqbal SKM, Cahyatin Nurul S. Kep,2008, Kebutuhan Dasar
Manusia, Jakarta: EGC
Potter, Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan . EGC : Jakarta.
Wong L. Donna, Hockenberry-Eaton Marilyn, dkk. 2008. Buku Ajar
Keperawatan Pediartik Vol.1. EGC : Jakarta
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. EGC : Jakarta

Anda mungkin juga menyukai