Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Budaya berkaitan erat dengan kesehatan jiwa dari berbagai aspek,


diantaranya, yaitu individu dan lingkungan sosiobudaya, posisi individu dalam
lingkungan sosiobudayanya, serta konsep budaya itu sendiri. Selain itu terdapat
beberapa aspek lainnya dari budaya, diantaranya karakteristik budaya; unsur, isi,
dan wujud budaya; sifat budaya; fungsi budaya; dan perubahan budaya1.
Psikiater di Amerika Serikat sangat menyadari kebutuhan tubuh akan
pengetahuan yang memungkinkan mereka untuk menyediakan layanan psikiatri di
seluruh negara yang memiliki hambatan bahasa dan perbedaan budaya2.
Psikiatri budaya terdiri atas 4 ranah yang penting, antara lain:
1. Gangguan jiwa dan lingkungan sosiobudaya.
2. Pengaruh budaya pada kejiwaan.
3. Pengaruh budaya pada psikiatri.
4. Sindrom terkait pada budaya1.
Dalam menghadapi stres budaya, maka diperlukan pertahanan mental dan
pertahanan budaya yang akan membentuk suatu sistem kepercayaan sehingga
mampu melakukan adaptasi. Sebagai contoh, adanya organisasi dari suku budaya
tertentu di kota besar atau adanya kelompok aliran agama atau kepercayaan baru.
Terdapat berbagai teknik budaya yang dapat membantu setiap individu yang
mengalami konflik atau stres budaya. Dalam berbagai budaya, terdapat reaksi
berbeda terhadap berbagai gangguan kejiwaan2.
Secara garis besar, fenomena dan sindrom yang berkaitan dengan faktor
sosial budaya di Indonesia terbagi atas 2, yaitu tergolong gangguan kejiwaan dan
bukan gangguan kejiwaan. Dikatakan tidak tergolong sebagai gangguan jiwa
karena tidak memenuhi definisi gangguan jiwa, misalnya kesurupan atau trance
yang merupakan fenomena dari upacara keagamaan dan tradisi setempat. Sebagai
contoh, kesurupan dalam upacara keagamaan di Bali yaitu Tari Barong, Tarian

Kuda Kepang atau Lumping, dan Debus di Banten, serta Gemblakan yang
merupakan aktivitas homoseksual di Ponorogo. Sedangkan yang tergolong
sebagai gangguan kejiwaan, yaitu fenomena atau sindrom yang merupakan gejala
atau nama lain gangguan jiwa spesifik, seperti kesurupan atau trance, Babairan,
Koro, kena guna-guna, dan cekik serta fenomena atau sindrom yang merupakan
suatu gangguan jiwa spesifik seperti latah5.
Kesurupan (Dissociative Trance Disorder /DTD) dalam tinjauan medis
merupakan penyakit dan bukan sesuatu yang berbau mistis seperti yang banyak
dipercayai oleh masyarakat. Dunia kedokteran, khususnya psikiatri, mengakui
fenomena kesurupan sebagai suatu kondisi yang ditandai oleh perubahan identitas
pribadi. Banyak orang mengatakan kesurupan disebabkan oleh suatu roh atau
kekuatan, namun dalam dunia medis hal-hal seperti itu tidaklah dikenal. Beberapa
pakar psikiater menyebutkan tekanan sosial dan mental yang masuk ke dalam
alam bawah sadar sebagai biang penyebab kesurupan. Banjir, tsunami, gizi buruk,
ketidakadilan, gaji kecil, kesenjangan yang sangat mencolok dan lainnya adalah
beberapa contoh tekanan tersebut6.
Kejadian trance tidak pernah dilaporkan secara lugas jelas di dunia, begitu
pula di Indonesia belum pernah dilaporkan angka kejadian yang pernah terjadi.
Namun, di India yang kultur dan budayanya mirip dengan Indonesia, kejadian
trance banyak ditemukan dimana lebih dari 1-4% dari populasi umum7.
Atas pertimbangan trance merupakan fenomena yang sudah ada sejak lama
pada berbagai suku bangsa dan dikaitkan dengan ritual-ritual agama tertentu serta
semakin lama fenomenanya semakin berkembang, maka pada referat ini
difokuskan pada fenomena psikologi budaya trance.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi dari Trance


Trance yang disebut juga twilight state adalah suatu keadaan yang
ditandai oleh perubahan kesadaran atau hilangnya rasa identitas pribadi yang
biasanya terjadi secara sementara dan jelas tanpa penggantian oleh identitas
pengganti2. Trance adalah suatu keadaan kehidupan separuh sadar (half-light)
antara realitas yang nyata dan fantasi yang gelap3.
Trance merupakan suatu keadaan perubahan kejadian pada seseorang yang
disertai tanda-tanda yang tergolong dalam gangguan disosiatif, yang dapat
dikategorikan sebagai kepribadian ganda, atau gangguan disosiatif tidak khas.
Sering juga merupakan serangan akut dari gangguan psikotik yang digolongan
gangguan skizofreniform dengan perubahan gejala kejadian atau dream like state4.
Gangguan disosiatif atau trance tidak merupakan bagian normal dari praktek
kultural atau religius kolektif yang diterima secara luas2.
Keadaan

trance

adalah

perubahan

status

kesadaran,

dan

pasien

menunjukkan penurunan responsivitas terhadap stimuli lingkungan. Keadaan


pemilikan (possession) dan trance adalah bentuk disosiatif yang aneh dan belum
dimengerti secara sempurna. Contoh umum dari keadaan trance adalah medium
yang memimpin pertemuan dengan roh. Biasanya, medium memasuki keadaan
disosiatif, selama orang dari dunia roh menguasai sebagian besar kesadaran
medium dan mempengaruhi pikiran dan pembicaraannya2.
B. Fenomena Trance yang Terjadi di Dunia
Trance sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno dan digunakan sebagai
suatu cara pengobatan penyakit fisik dan mental. Pada masyarakat Mesir Kuno
terdapat kuil lelap (temple sleep) tempat orang meminta kesembuhan dengan cara
memasuki keadaan trance yang dibimbing oleh para imam. Kuil ini juga terdapat
di Yunani yang terdapat di Delphi. Pada masyarakat modern identifikasikan

sebagai hipnosis pertama kali oleh Anton Mesmer (abad 18) dikenal dengan
sebutan magnetisme dan mesmerisme8.
Menurut kepercayaan masyarakat, fenomena trance terjadi bila roh orang
lain memasuki seseorang dan menguasainya. Orang itu menjadi lain dalam hal
bicara, perilaku, dan sifatnya. Perilakunya menjadi seperti kepribadian orang yang
rohnya memasukinya. Yang sebenarnya terjadi adalah disosiasi, suatu
mekanisme yang sudah lama dikenal dalam psikiatri dan yang dapat menimbulkan
kepribadian ganda8.
Di Cina, kondisi trance disebut sebagai sieh-ping yang disebut sebagai
penyakit rangkap (double sickness), dimana keadaan trance dengan individu yang
mengidentifikasi diri dengan orang-orang yang sudah mati terutama keluarga dan
teman. Sieh-ping berlangsung setengah sampai beberapa jam dengan gejala
tremor, disorientasi, kesadaran berkabut, delirium, halusinasi visual, halusinasi
auditorik dan glosolalia. Fenomena sieh-ping dianggap kurangnya sesajian yang
diberikan terhadap arwah keluarga atau teman tersebut. Biasanya timbul pada
wanita dengan kepribadian histrionik yang patuh pada agama dan sedang
mengalami konflik atau tekanan sosial. Sieh-ping biasanya dilakukan pengobatan
oleh seorang pendeta yang masuk pada keadaan hipnosis dan mengusir roh-roh
itu4.
Selain itu, beberapa gejala yang sama juga dialami dari berbagai negara
lainnya, di Indonesia sendiri ada yang dikenal sebagai Amok dan Babainan.
Babainan di Bali merupakan kondisi yang sering terjadi menjelang hari raya dan
dianggap merupakan peristiwa kemasukan roh. Fenomena ini ditandai dengan
gejala berupa perubahan kesadaran, tingkah laku agitatif yang terjadi mendadak,
disertai kebingungan, halusinasi, dan gejolak emosi. Episodik ini berlangsung
cepat, menghilang, dan disertai periode amnesia. Di Amerika Latin kondisi yang
sama dikenal sebagai Ataque de nervios4.
Fenomena ini tampaknya menjadi budaya manusia secara universal, dimana
ditemukan pada setiap benua setiap saat. Sebagai contoh, Bourguignon (1973,
1976) menemukan bahwa pada satu sampel dari 488 masyarakat, 437 orang atau
90% memiliki satu atau lebih yang dilembagakan sebagai budaya yang berpola

pada bentuk kesadaran yang berubah. Dalam masyarakat ditemukan 74% yang
memiliki keyakinan, dan trance kepemilikan sebesar 52% dari kelompok yang
sama9.
Terdapat dua macam keadaan yang dinamakan kesurupan oleh masyarakat,
yaitu:
a. Orang itu merasa bahwa di dalam dirinya ada kekuatan lain yang berdiri di
samping aku-nya dan yang dapat menguasainya. Jadi, stimultan terdapat dua
kekuatan yang bekerja sendiri-sendiri dan orang itu berganti-ganti menjadi
yang satu atau yang lain. Kesadarannya tidak menurun. Perasaan ini
berlangsung kontinu. Dalam hal ini, kita melihat suatu permulaan perpecahan
kepribadian yang merupakan gejala khas skizofrenia.
b. Orang itu telah menjadi lain, ia mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain,
binatang atau benda. Jadi, pada suatu waktu tertentu tidak terdapat dua atau
lebih kekuatan di dalam dirinya, tetapi terjadi suatu metamorfosis yang
lengkap. Ia telah menjadi orang lain, binatang atau barang, dan ia juga
bertingkah laku seperti orang, binatang, atau barang itu. Sesudahnya terdapat
amnesia total atau sebagian8.
Kejadian yang kedua ini adalah disosiasi. Bila disosiasi ini terjadi karena
konflik dan stres psikologis, maka keadaan itu dinamakan reaksi disosiasi (suatu
sub-jenis dalam neurosis psikotik). Bila disosiasi itu terjadi karena pengaruh
kepercayaan dan kebudayaan, maka dinamakan kesurupan atau trance menurut
kedokteran8.
Biasanya trance didahului episodik oleh periode (meditasi) sebagai upacara
sesuai dengan kepercayaan dan kebudayaan setempat dan atas kehendak orang itu
sendiri, yaitu pada reaksi disosiasi, karena neurosis tidak demikian8.
Orang dengan trance jarang sekali di bawa ke dokter. Biasanya trance
berhenti dengan sendirinya, sering dengan upacara kepercayaan oleh dukun atau
orang lain8.

Fenomena kesurupan massal sebenarnya merupakan fenomena trance


individual kemudian menjadi masal, dimana orang lain yang melihatnya menjadi
tersugesti. Tidak jarang menimbulkan kepanikan bagi lingkungan. Istilah dalam
masyarakat yang mengatakan tertular tidak menyatakan bahwa ada sesuatu yang
pindah dari satu orang ke orang lainnya, tetapi meniru perilaku orang kesurupan
lainnya. Fenomena ini merupakan fenomena psikologis sebagai cara mendapatkan
keuntungan untuk lepas dari tekanan mental yang tidak disadari4.
C. Etiologi Pencetus Fenomena Trance
Penyebab gangguan identitas disosiatif atau trance tidak diketahui,
walaupun riwayat pasien hampir selalu (mendekati 100 persen) melibatkan suatu
peristiwa traumatik, paling sering pada masa anak-anak. Pada umumnya, empat
tipe faktor yang dikenali: (1) peristiwa keadaan traumatik, (2) kecenderungan bagi
gangguan untuk berkembang, (3) faktor lingkungan formulatif, (4) tidak adanya
dukungan eksternal2.
Peristiwa traumatik biasanya berupa penyiksaan fisik dan seksual pada masa
anak-anak, yang sering terjadi adalah incest. Peristiwa traumatik lainnya berupa
kematian sanak saudara dekat atau teman dekat selama masa anak-anak dan
menyaksikan suatu trauma atau kematian2.
Kecenderungan bagi gangguan untuk berkembang mungkin didasarkan
secara biologis atau psikologis. Berbagai kemampuan seseorang untuk dihipnosis
mungkin merupakan suatu contoh faktor risiko untuk perkembangan gangguan
identitas disosiatif2.
Faktor lingkungan formulatif yang terlibat dalam patogenesis gangguan
identitas disosiatif tidak spesifik dan kemungkinan melibatkan faktor tertentu
seperti model peran dan adanya mekanisme lain yang digunakan untuk
menghadapi stres2.
Pada banyak kasus, gangguan identitas disosiatif atau trance suatu faktor
dalam perkembangan gangguan tampaknya tidak ada dukungan dari orang lain
yang penting. Sebagai contoh, orang tua, saudara kandung, sanak saudara, dan
orang yang tidak berhubungan contohnya guru2.

D. Gambaran Klinik dari Trance


Transisi dari satu kepribadian ke kepribadian lain sering sekali dan tiba-tiba
serta dramatik. Pasien biasanya memiliki amnesia selama masing-masing
kepribadian untuk keberadaan kepribadian lainnya dan untuk peristiwa yang
terjadi saat kepribadian lain yang dominan. Tetapi kadang, satu kepribadian tidak
diikuti amnesia tersebut dan tetap menyadari sepenuhnya 2.
Menulis otomatis dan menatap kristal adalah manifestasi pemilikan atau
keadaan trance yang lebih jarang. Pada menulis otomatis disosiatif hanya
mempengaruhi lengan dan tangan yang menuliskan pesan, yang sering kali
mengungkapkan isi mental yang tidak disadari oleh penulisnya. Melihat kristal
menyebabkan keadaan trance dimana halusinasi visual yang menonjol2.
Fenomena yang berhubungan dengan keadaan trance adalah hipnosis jalan
bebas hambatan (highway hypnosis) dan keadaan mental serupa yang dialami pilot
pesawat terbang yang bergerak monoton dalam kecepatan tinggi melalui
lingkungan yang memberikan sedikit cara untuk mengalihkan perhatian bagi
operator kendaraan menyebabkan fiksasi pada satu objek tunggal. Keadaan
kesadaran mirip trance terjadi dimana halusinasi visual yang dapat terjadi dan
bahaya kecelakaan serius selalu ada. Kemungkinan dalam urutan fenomena yang
sama, yaitu halusinasi dan keadaan mental disosiatif pada pasien yang telah terikat
dengan respirator untuk jangka waktu yang lama tanpa distraksi lingkungan yang
adekuat. Kepercayaan banyak kultural mengenali bahwa praktek konsentrasi dapat
menyebabkan berbagai fenomena disosiatif, seperti halusinasi, paralisis, atau
gangguan sensorik lainnya. Kadang-kadang, hipnosis dapat mencetuskan keadaan
trance yang berhenti sendiri agak lama2.
E. Kriteria Diagnosis dari Fenomena Trance
Kriteria diagnosis trance untuk gangguan disosiatif yang tidak ditentukan
atau trance menurut DSM-IV, yaitu kategori yang termasuk gangguan-gangguan
dimana ciri yang menonjol adalah suatu gangguan disosiatif, yaitu kekacauan
dalam fungsi kesadaran, daya ingat, identitas, atau persepsi tentang lingkungan
yang biasanya terintegrasi yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan

disosiatif spesifik. Contohnya adalah gangguan trance disosiatif dimana terjadi


gangguan tunggal atau episodik pada keadaan kesadaran, identitas, daya ingat
yang asli untuk tempat dan kultur tertentu. Trance disosiatif berupa penyempitan
kesadaran tentang sekeliling atau perilaku atau gerakan yang stereotipik yang
dialami sebagai diluar kendali orang tersebut. Trance pemilikan (possesion
trance) berupa penggantian indentitas personal yang biasanya dengan identitas
yang baru, atas pengaruh suatu roh, kekuatan, dewa, atau orang lain, dan disertai
dengan gerakan involunter yang stereotipik atau amnesia2.
Pedoman diagnostik trance menurut PPDGJ-III (2003) sebagai berikut.
a. Gangguan ini menunjukkan adanya kehilangan sementara aspek penghayatan
akan identitas diri dan kesadaran terhadap lingkungannya, dalam beberapa
kejadian, individu tersebut berperilaku seakan dikuasai oleh kepribadian lain,
kekuatan gaib, malaikat, atau kekuatan lain.
b. Hanya gangguan trance yang involunter (diluar kemampuan individu) dan
bukan merupakan kegiatan keagamaan ataupun budaya yang boleh dimasukkan
dalam pengertian ini.
c. Tidak adanya penyebab organik misalnya, epilepsi lobus temporalis, cedera
kepala, dan intoksikasi zat psikoakti, serta bukan bagian dari gangguan jiwa
tertentu, misalnya skizofrenia, dan gangguan kepribadian multipel10.
F. Penatalaksanaan dari Trance
Pendekatan yang paling manjur untuk fenomena trance adalah psikoterapi
berorientasi tilikan, sering kali berupa hipnoterapi atau teknik wawancara dengan
bantuan obat. Hipnoterapi dengan bantuan obat dapat berguna dalam
mendapatkan

riwayat

penyakit

tambahan,

mengidentifikasi

kepribadian

sebelumnya yang tidak dikenali, dan mempercepat abreaksi. Perawatan di rumah


sakit mungkin diperlukan untuk beberapa kasus2.

Pemakaian medikasi antipsikotik pada pasien hampir tidak pernah


diindikasikan. Beberapa data menyatakan bahwa medikasi antidepresan dan
antiansietas mungkin berguna sebagai pelengkap psikoterapi. Beberapa penelitian
melaporkan bahwa medikasi antikonvulsan sebagai contoh carbamazepin
(tegretol) dengan dosis 2 mg/kgBB untuk dewasa dapat membantu pasien
tertentu2,11.

BAB III
SIMPULAN

Gejala kesurupan atau trance mungkin merupakan gejala skizofrenia. Dalam


hal ini terdapat secara simultan dua kepribadian dan orang tersebut bertindak
sesuai dengan dua kepribadian tersebut secara berganti-ganti. Trance yang dikenal
dalam masyarakat memakai disosiasi sebagai mekanisme utama. Keadaan dengan
disosiasi karena stres dinamakan sebagai reaksi disosiasi. Keadaan dengan
disosiasi karena dipengaruhi oleh kepercayaan dan budaya dikenal dalam
masyarakat sebagai kesurupan. Dalam hal ini, terjadi metamorfose total, secara
konsisten orang tersebut menjadi kepribadian yang dianggap memasukinya.
Biasanya didahului oleh suatu upacara atau terjadi secara spontan dan dapat
berakhir secara spontan pula.

10

DAFTAR PUSTAKA

1.

Setyonegoro RK. 1995. Budaya dan Gangguan Jiwa. Jiwa, XXVIII (1): 1.

2.

Kaplan HI., Sadock BJ., Grebb JA.; Kusuma W (alih bahasa). 2010. Sinopsis
Psikiatri. Jilid 2. Binarupa Aksara Publisher, Tangerang, Indonesia, 125-132,
135-137.

3.

Cameron N. 1963. Personality Development and Psychopathology. Mifflin


Company, Boston, Massachusetts, United States, 338-372.

4.

Ingwantoro S. 2000. Penelaahan Trans dan Hubungannya dengan Hipnosis


serta Manfaalnya dalam Psikiatri. Jiwa, XXXIII (2): 185-193.

5.

Hukom AJ. 1997. Kuasa dan Pengetahuan dalam Kesadaran Transaksional.


Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.

6.

Joyanna Silberg. 2004. Guidelines for the Evaluation and Treatment of


Dissociative Symptoms in Children and Adolescents. Journal of Trauma &
Dissociation, Vol. 5 (3).

7.

Basu S., Subhash C., Gupta, Akthar S. 2002. Trance and Possession Like
Symptoms in A Case of CNS Lesion: A Case Report. Indian Journal of
Psychiatry, Vol. 44 (2): 65-67.

8.

Maramis WF., Maramis AA. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed. II.
Airlangga University Press, Surabaya, Indonesia, 412-414.

9.

Somer E. 2004. Trance Possession Disorder. Journal of Trauma &


Dissociation, V (2): 131-146.

10. Depkes RI. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia III. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan
RI, Jakarta, Indonesia, 196-208.
11. Shann F. 2008. Drug Doses. Intensive Care Unite, Royal Childrens Hospital,
Parkville, Victoria, Australia.
12. Razali, SM. 1999. Dissociative Trance Disorder: A Case Report. Department
of Psychiatry, School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia,
Malaysia. Eastern Journal of Medicine, IV (2): 83-84.

11