Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk

dunia, menurut WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian
3 juta orang per tahun (WHO, 1993). Di negara berkembang kematian ini
merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan
pencegahan. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara
berkembang Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita
TB akan meningkat. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian
karena kehamilan, persalinan serta nifas (WHO). WHO mencanangkan keadaan
darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan sepertiga
penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB.
Di Indonesia TB kembali muncul sebagai penyebab kematian utama
setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Penyakit TB paru, masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat. Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT)
tahun 1995 menunjukkan bahwa tuberkulosis merupakan penyebab kematian
nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada
semua golongan usia dan nomor I dari golongan infeksi. Antara tahun 1979 ?
1982 telah dilakukan survey prevalensi di 15 propinsi dengan hasil 200-400
penderita tiap 100.000 penduduk.

Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TB dimana sekitar 1/3 penderita
terdapat disekitar puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit/klinik
pemerintahd an swasta, praktek swasta dan sisanya belum terjangku unit
pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175.000 per
tahun.
Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif,
penderita TB kebanyakan dari kelompok sosio ekonomi rendah. Dari 1995-1998,
cakupan penderita TB Paru dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment
Shortcourse Chemotherapy) -atau pengawasan langsung menelan obat jangka
pendek/setiap hari- baru mencapai 36% dengan angka kesembuhan 87%. Sebelum
strategi DOTS (1969-1994) cakupannya sebesar 56% dengan angka kesembuhan
yang dapat dicapai hanya 40-60%. Karena pengobatan yang tidak teratur dan
kombinasi obat yang tidak cukup dimasa lalu kemungkinan telah timbul
kekebalan kuman TB terhadap OAT (obat anti tuberkulosis) secara meluas atau
multi drug resistance (MDR).

1.2.

Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami prosedur keperawatan Penyakit
TBC.
Untuk memperoleh pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien dengan gangguan system neurology. Di
ruangan ICU-ICCU Rumah Sakit .
b. Tujuan khusus
Mahasiswa dapat memahami prosedur Penyakit TBC.
Mahasiswa dapat menguraikan tanda gejala Penyakit TBC.
Mahasiswa dapat menguraikan patofisiologi Penyakit TBC.
Mahasiswa

dapat

menguraikan

asuhan

keperawatan

pada

pemutusan diagnostik/laboratorium.
Memperoleh pengalaman nyata dalam penilaian terhadap pasien
dengan Penyakit TBC.

1.3.

Manfaat Karya Tulis

Manfaat karya tulis adalah :


Mengidentifikasi masalah-masalah utama yang dihadapi masyarakat
mengenai penyakit TBC.
Dapat memberikan usulan perbaikan untuk mengatasi masalah yang di
hadapi masyarakat penderita penyakit TBC.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menahun/kronis (berlangsung
lama) dan menular. Penyakit ini dapat diderita oleh setiap orang, tetapi paling
sering menyerang orang-orang yang berusia antara 15 35 tahun, terutama
mereka yang bertubuh lemah, kurang gizi atau yang tinggal satu rumah berdesakdesakan bersama penderita TBC.
Kuman TBC
Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu taha terhadap
asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam
(BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan
tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.

2.2.

Etiologi
Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri

Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam
sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali
ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk
mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit

TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).


M.tuberculosis berbentuk batang, berukuran panjang 5 dan lebar 3, tidak
membentuk spora, dan termasuk bakteri aerob. Mycobacteria dapat diberi
pewarnaan seperti bakteri lainnya, misalnya dengan Pewarnaan Gram. Namun,
sekali mycobacteria diberi warna oleh pewarnaan gram, maka warna tersebut
tidak dapat dihilangkan dengan asam. Oleh karena itu, maka mycobacteria disebut
sebagai Basil Tahan Asam atau BTA. Beberapa mikroorganisme lain yang juga
memiliki sifat tahan asam, yaitu spesies Nocardia, Rhodococcus, Legionella
micdadei, dan protozoa Isospora dan Cryptosporidium. Pada dinding sel
mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di
bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga
mengurangi efektivitas dari antibiotik. Lipoarabinomannan, suatu molekul lain
dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan
patogen, menjadikan M. tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofaga.

2.3.

Anatomi dan Fisiologi


Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung,

farinx, larinx trachea, bronkus, dan bronkiolus. Hidung ; Nares anterior adalah
saluran-saluran di dalam. rongga hidung. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam
bagian yang dikenal sebagai vestibulum. (rongga) hidung. Rongga hidung dilapisi
sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung
dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang
masuk ke dalam. rongga hidung. Farinx (tekak) ; adalah pipa berotot yang

berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada


ketinggian tulang rawan krikoid.
Maka letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal).
Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang
mernisahkan dari columna vertebrata, berjalan dari farinx. sampai ketinggian
vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya. Larynx terdiri atas
kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran.
Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan
dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat
ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 20
lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama
oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea,
selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kirakira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan
dilapisi oleh.jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan
kesamping ke arah tampuk paru. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar
daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan
sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah.
Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di

bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan
kelobus atas dan bawah.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus
lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus
menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi
bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung
alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang
lebih I mm. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi
dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran
udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar
udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat
pertukaran gas paru-paru.
Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan
respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada
dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus
alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru, asinus atau.kadang disebut
lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali
percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan
oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.
Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan.
Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga
pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. Paru kanan dibagi

atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan paru kiri
dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh
jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial
venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa stiap
paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang
cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas.
Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam
jaringan-jaringan, dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi
tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas
ke dalam dan keluar paru-paru. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara
atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. Stadium kedua,
transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus
dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel.-sel
jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya
dengan distribusi udara dalam alveolus. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan
C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari
respirasi, yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk- mendapatkan energi, dan
C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paruparu (4) Transportasi, yaitu. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses
difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari
0,5 urn). Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan
parsial antara darah dan fase gas. (5) Perfusi, yaitu pemindahan gas secara efektif
antara. alveolus dan kapiler paru-paru membutuhkan distribusi merata dari udara

dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain
ventilasi dan perfusi. dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan
posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang
kecuali pada apeks paru-paru.
Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara
atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli
keudara atmosfer.
b. menyaring bahan beracun dari sirkulasi
c. reservoir darah
d. fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas

2.4.

Manifestasi Klinis

Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang
timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu
khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa
secara klinik.
Gejala sistemik/umum

Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan


malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifat hilang timbul.

Penurunan nafsu makan dan berat badan.

Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).

Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

Gejala khusus

Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi",
suara nafas melemah yang disertai sesak.

Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai


dengan keluhan sakit dada.

Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di
atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.

Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan


disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam
tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
10

Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau
diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang
kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin
positif. Pada anak usia 3 bulan 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita
TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan
pemeriksaan serologi/darah.

2.5.

Patogenesis
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan

bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC


batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC
dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan
berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh
yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah
bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ
tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah
bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena
yaitu paru-paru.
Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka
dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat).
Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha
dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru.
Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi
11

jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk
dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto
rontgen.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap
dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem
kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan
sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk
sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber
produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat
diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif
terinfeksi TBC.
Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak
dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial
ekonomi,

belum

optimalnya

fasilitas

pelayanan

kesehatan

masyarakat,

meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan


adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang
lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang
peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

2.6.

Komplikasi
a. Hemoptisis berat ==> sumbatan jalan napas bawah & syok hipovolemik
b. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial
c.
Bronkhiektasis (pelebaran bronchus) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru
d. Pneumothoraks ==> udara di dalam rongga pleura
12

e.
f.

2.7.

Penyebaran TB ke jaringan lain ==> otak, tulang, ginjal, dll


Insufisiensi Kardiopulmonal.

Klasifikasi

a. Tuberculosis Paru
Tuberculosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru,
tidak termasuk pleura (selaput paru)
Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :
Tuberkulosis Paru BTA positif
Tuberkulosis Paru BTA negative
b. Tuberculosis Ekstra Paru
Tuberculosis ekstra paru adalah tuberculosis yang menyerang organ tubuh
selain jaringan paru,, misalnya pleura (selaput paru), selaput otak, selaput
jantung, kelejar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran
kencing, alat kelamin dan lain-lain.
Berdasarkan tingkat keparahannya, TB Ekstra Paru dibagi menjadi 2
yaitu :
Tuberkulosis Ekstra Paru Ringan

Misal : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudatif unilateral, tulang


(kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal

13

Tuberkulosis Ekstra Paru Berat

Misal : meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudatif


dupleks, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat
kelamin.
Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik,
radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena
merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi.
Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai
berikut:
a. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:
Dengan atau tanpa gejala klinik

BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali


disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1
kali.
Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.

b. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:


Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif

14

BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif.

c. Bekas TB Paru dengan kriteria:


Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif

Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.

Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan


serial foto yang tidak berubah.
Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).

2.8.

Pengobatan
Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak,

tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak
menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan
bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 510
mg/kgbb/hari.
a. Pencegahan (profilaksis) primer
Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+).
INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-).
Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau
sumber penularan TB aktif sudah tidak ada.

15

b. Pencegahan (profilaksis) sekunder


Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala
sakit TBC.
Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.
Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :
a. Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin,
Pirazinamid.
Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat
ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.
b. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,
Kapreomisin dan Kanamisin.

16

Dosis obat antituberkulosis (OAT)

Obat

Dosis

harian

(mg/kgbb/hari)

Dosis

Dosis

(mg/kgbb/hari)
15-40

INH

2x/minggu

(maks.

3x/minggu

(mg/kgbb/hari)
900

5-15 (maks 300 mg)

15-40 (maks. 900 mg)


mg)
10-20

Rifampisin

(maks.

600

10-20 (maks. 600 mg)

15-20 (maks. 600 mg)


mg)

Pirazinamid

15-40 (maks. 2 g)

50-70 (maks. 4 g)

15-30 (maks. 3 g)

Etambutol

15-25 (maks. 2,5 g)

50 (maks. 2,5 g)

15-25 (maks. 2,5 g)

Streptomisin

15-40 (maks. 1 g)

25-40 (maks. 1,5 g)

25-40 (maks. 1,5 g)

Sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia


mengalami perubahan manajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global
yanng

direkomendasikan

oleh

WHO.

Langkah

ini

dilakukan

untuk

menindaklanjuti Indonesia WHO joint Evaluation dan National Tuberkulosis


Program in Indonesia pada April 1994. Dalam program ini, prioritas ditujukan
pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasional untuk
memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di

17

masyarakat. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan
obat setiap hari,terutama pada fase awal pengobatan.
Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam
sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari
populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini
diartikan sebagai "pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh
pengawas pengobatan" setiap hari.
Indonesia adalah negara high burden, dan sedang memperluas strategi
DOTS dengan cepat, karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan
menjadi alat pemantau dan indikator program yang amat penting. Berdasarkan
data dari beberapa wilayah, identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah
Sakit mencapai 20-50% dari kasus BTA positif, dan lebih banyak lagi untuk kasus
BTA negatif. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien
yang didiagnosis oleh RS memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan, dan
mungkin menimbulkan kekebalan obat.
Akibat kurang baiknya penanganan pengobatan penderita TBC dan
lemahnya implementasi strategi DOTS. Penderita yang mengidap BTA yang
resisten terhadap OAT akan menyebarkan infeksi TBC dengan kuman yang
bersifat MDR (Multi-drugs Resistant). Untuk kasus MDR-TB dibutuhkan obat
lain selain obat standard pengobatan TBC yaitu obat fluorokuinolon seperti

18

siprofloksasin, ofloxacin, levofloxacin (hanya sangat disayangkan bahwa obat ini


tidak dianjurkan pada anak dalam masa pertumbuhan).

Pengobatan TBC pada orang dewasa

a. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan
etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat
INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan).
Diberikan kepada:

Penderita baru TBC paru BTA positif.

Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.

b. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3
Diberikan kepada:

Penderita kambuh.

Penderita gagal terapi.

Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.

19

c. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3
Diberikan kepada:

Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.

Pengobatan TBC pada anak

Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9


bulan, yaitu:
a. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama,
kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7
bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap
INH).
b. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2
bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali
seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada
resistensi terhadap INH).
Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan
bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb.

20

Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus:

TB tidak berat
INH

: 5 mg/kgbb/hari

Rifampisin

: 10 mg/kgbb/hari

TB berat (milier dan meningitis TBC)


INH

: 10 mg/kgbb/hari

Rifampisin

: 15 mg/kgbb/hari

Dosis prednison : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)


Obat TBC
Tuberkulosis (TBC) dapat menyerang berbagai organ tubuh tetapi yang
akan dibahas adalah obat TBC untuk paru-paru. Tujuan pengobatan TBC ialah
memusnahkan basil tuberkulosis dengan cepat dan mencegah kambuh. Idealnya
pengobatan dengan obat TBC dapat menghasilkan pemeriksaan sputum negatif
baik pada uji dahak maupun biakan kuman dan hasil ini tetap negatif selamanya.
Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :
a. Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin,
Pirazinamid.
Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat

21

ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat


ini.
b. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,
Kapreomisin dan Kanamisin.
Meskipun demikian, pengobatan TBC paru-paru hampir selalu menggunakan
tiga obat yaitu INH, rifampisin dan pirazinamid pada bulan pertama selama tidak
ada resistensi terhadap satu atau lebih obat TBC primer ini.
Isoniazid
Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang disingkat dengan INH. Isoniazid
secara in vitro bersifat tuberkulostatik (menahan perkembangan bakteri) dan
tuberkulosid (membunuh bakteri).
Mekanisme kerja isoniazid memiliki efek pada lemak, biosintesis asam
nukleat,dan glikolisis. Efek utamanya ialah menghambat biosintesis asam mikolat
(mycolic acid) yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium.
Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan menurunkan jumlah lemak yang
terekstrasi oleh metanol dari mikobakterium.
Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun parenteral.
Kadar puncak diperoleh dalam waktu 12 jam setelah pemberian oral. Di hati,
isoniazid mengalami asetilasi dan pada manusia kecepatan metabolisme ini
dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna mempengaruhi kadar obat

22

dalam plasma. Namun, perbedaan ini tidak berpengaruh pada efektivitas dan atau
toksisitas isoniazidbila obat ini diberikan setiap hari.
Efek samping
Mual, muntah, anoreksia, letih, malaise, lemah, gangguan saluran
pencernaan lain, neuritis perifer, neuritis optikus, reaksi hipersensitivitas, demam,
ruam, ikterus, diskrasia darah, psikosis, kejang, sakit kepala,
mengantuk, pusing, mulut kering, gangguan BAK, kekurangan vitamin
B6, penyakit pellara, hiperglikemia, asidosis metabolik, ginekomastia, gejala
reumatik, gejala mirip Systemic Lupus Erythematosus.
Resistensi
Resistensi masih merupakan persoalan dan tantangan. Pengobatan TBC
dilakukan dengan beberapa kombinasi obat karena penggunaan obat tunggal akan
cepat dan mudah terjadi resistensi. Disamping itu, resistensi terjadi akibat
kurangnya kepatuhan pasien dalam meminum obat. Waktu terapi yang cukup lama
yaitu antara 69 bulan sehingga pasien banyak yang tidak patuh minum
obatselama menjalani terapi.
Isoniazid masih merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati
semua tipe TBC. Efek sampingnya dapat menimbulkan anemia sehingga
dianjurkan juga untuk mengkonsumsi vitamin penambah darah seperti piridoksin
(vitamin B6).

23

TB vit B6 sudah mengandung isoniazid dan vitamin B6 dalam satu


sediaan, sehingga praktis hanya minum sekali saja. TB vit B6 tersedia dalam
beberapa kemasan untuk memudahkan bila diberikan kepada pasien anak-anak
sesuai dengan dosis yang diperlukan. TB Vit B6 tersedia dalam bentuk:
1. Tablet
Mengandung INH 400 mg dan Vit B6 24 mg per tablet
2. Sirup
Mengandung INH 100 mg dan Vit B6 10 mg per 5 ml, yang tersedia dalam
2 kemasan :
o Sirup 125 ml
o Sirup 250 ml

Perhatian:
a. Obat TBC di minum berdasarkan resep dokter dan harus sesuai dengan
dosisnya.
b. Penghentian penggunaan obat TBC harus dilakukan atas seizin dokter.
24

2.9.

Pencegahan
TBC bisa diobati, asalkan benar-benar mempunyai keinginan dan

semangat yang besar untuk sembuh. Dorongan dari keluarga dan orang disekitar
anda sangatlah diperlukan. Pemeriksaan yang intensif dan teliti serta disiplin
minum obat yang diberikan dokter harus dilakukan penderita agar penyakit yang
dideritanya segera sembuh. Pengobatan yang dilakukan dapat bertujuan untuk
menyembuhkan, mencegah kematian, dan kekambuhan.
Adapun obat TBC yang utama adalah Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid,
Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan yang sering
digunakan

adalah

Kanamisin,

Kuinolon,

Makroloid,

dan

Amoksilin

dikombinasikan dengan Klavulanat. Pengobatan ini dilakukan selama 12 bulan


untuk keseluruhan. Faktor utama dari pada kesembuhan adalah prilaku dan
lingkungan dimana sipenderita itu tinggal, kedisiplinan dalam minum obat dan
dan dukungan orang-orang disekitar si penderita.
Dalam proses penyembuhan, sipenderita harus minum obat sesuai dengan
petunjuk dan waktu yang telah ditentukan (612 bulan) berturut-turut tanpa putus
serta mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi. Selain petugas kesehatan
yang memantau dan mengawasi, keluarga juga di ajak turut serta dalam
mengawasi dan memastikan si penderita TBC meminum obat yang telah
diberikan. Jika si penderita tidak disiplin dan teratur dalam meminum obat, dapat
mengakibatkan kuman-kuman yang ada didalam tubuh akan menjadi kebal
terhadap obat tersebut. Dan apabila si penderita berhenti minum obat sebelum

25

waktunya maka, batuk yang sudah hilang akan timbul kembali dan kemungkinan
kuman akan kebal dan TBC akan sulit untuk disembuhkan.
Dilakukannya pengobatan selama 69 bulan karena, bakteri-bakteri
tuberkulosis memiliki daya tahan yang sangat kuat hingga berbulan-bulan
walaupun sudah terkena antibiotik. Kombinasi beberapa obat sangat diperlukan
karena untuk menghadapi kuman TBC yang berada dalam berbagai stadium dan
fase pertumbuhan yang cepat. Walaupun gejala-gejala sudah hilang, namun
pengobatan tidak boleh berhenti sampai batas waktu yang telah ditentukan.
Selain obat rekomendasi dari dokter, ada juga obat tradisional yang bisa
digunakan yang sudah sejak dahulu digunakan yaitu :
a. Sambiloto (Andrographis paniculata) : Daun kering digiling ditambah
madu secukupnya kemudian dibuat pil dengan diameter 0,5 cm. Satu hari
dua kali minum, setiap kali minum 15 30 pil.
b. Tembelekan : Lantana camara : bunga kering 6 10 gram ditambah tiga
gelas air lalu direbus hingga setengahnya. Gunakan untuk tiga kali minum
setiap harinya.

26

BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1.

Asuhan Keperawatan

Pengkajian
Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis
paru (Doengoes, 2000) ialah sebagai berikut :
a. Riwayat PerjalananPenyakit
Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas
pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap,
lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40
-410C) hilang timbul.

27

Pola nutrisi

Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat


badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan
lemak sub kutan.
Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum
hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan
kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks
paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan
pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris
(effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan
pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
Rasa nyaman/nyeri

Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.


Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi,
gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura
sehingga timbul pleuritis.
Integritas ego
28

Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak


berdaya/tak ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan,
mudah tersinggung.
b. Riwayat Penyakit Sebelumnya:
Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh.

Pernah berobat tetapi tidak sembuh.

Pernah berobat tetapi tidak teratur.

Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru.

Daya tahan tubuh yang menurun.

Riwayat vaksinasi yang tidak teratur.

c. Riwayat Pengobatan Sebelumnya:


Kapan pasien

mendapatkan

pengobatan

sehubungan

dengan

sakitnya.
Jenis, warna, dosis obat yang diminum.

Berapa lama. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan


penyakitnya.
29

Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir.

d. Riwayat Sosial Ekonomi:


Riwayat pekerjaan. Jenis pekerjaan, waktu dan tempat bekerja,
jumlah penghasilan.
Aspek psikososial. Merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikisi
dengan bebas, menarik diri, biasanya pada keluarga yang kurang
marnpu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk
sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak, masalah
tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak bersemangat dan putus
harapan.
e. Faktor Pendukung:
Riwayat lingkungan.

Pola hidup.

Nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat dan tidur,


kebersihan diri.
Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang
penyakit, pencegahan, pengobatan dan perawatannya.

30

f. Pemeriksaan Diagnostik:
Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir
penyakit.

Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm


terjadi 48-72 jam).

Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas ; Pada tahap dini
tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak
jelas ; Pada kavitas bayangan, berupa cincin ; Pada kalsifikasi tampak
bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi.
Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru
karena TB paru.
Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED).

Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun.

3.2.

Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru
adalah sebagai berikut:
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau
sekret darah, Kelemahan, upaya batuk buruk. Edema trakeal/faringeal.

31

b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan


permukaan paru, atelektasis, Kerusakan membran alveolar kapiler, Sekret
yang kental, Edema bronchial.
c. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya
tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang inenetap,
Kerusakan

jaringan

akibat

infeksi

yang

menyebar,

Malnutrisi,

Terkontaminasi oleh lingkungan, Kurang pengetahuan tentang infeksi


kuman.
d. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan:
Kelelahan, Batuk yang sering, adanya produksi sputum, Dispnea,
Anoreksia, Penurunan kemampuan finansial.
e. Kurang

pengetahuan

tentang

kondisi,

pengobatan,

pencegahan

berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan, Interpretasi yang


salah, Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, Terbatasnya
pengetahuan/kognitif.

3.3.

Perencanaan

Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan


yang telah dirumuskan sebagai berikut:
a. Bersihan jalan napas tidak efektif

32

Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. Mengeluarkan sekret tanpa


bantuan. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas.
Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Mengidentifikasi
potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.
Intervensi:
Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, imma, kedalaman
dan

penggunaan

otot

aksesori.

Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis, ronki


indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan
napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan
meningkat.
Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif,
catat

karakter,

jumlah

sputum,

adanya

hemoptisis.

Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal, sputum berdarah


akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan
evaluasi/intervensi lanjut.
b. Gangguan pertukaran gas
Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Menunjukkan perbaikan
ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang
normal. Bebas dari gejala distress pernapasan.

33

Intervensi
Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan
upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.
Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya
jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia
yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural effusion dan
meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress.
Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis
dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.
Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ
vital dan jaringan.
c. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi
Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko
penyebaran infeksi. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk
meningkatkan lingkungan yang. aman.
Intervensi
Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi
melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau
sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk, bersin, meludah,

34

tertawa.,

ciuman

atau

menyanyi.

Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima


terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi.
Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti
anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.
Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat
untuk mencegah penyebaran infeksi.
d. Perubahan

kebutuhan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan


nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan
perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat
badan yang tepat.
Intervensi:
Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan,
integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus,
riwayat mual/rnuntah atau diare.
Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan
intervensi yang tepat.

35

Kaji

pola

Rasional:

diet

Membantu

pasien

yang

intervensi

disukai/tidak

kebutuhan

yang

disukai.
spesifik,

meningkatkan intake diet pasien.


e. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan.
Tujuan:

Menyatakan

pemahaman

proses

penyakit/prognosis

dan

kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup


unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan
ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan
evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat.
Intervensi
Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan,
perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat
pengetahuan,

media,

orang

dipercaya.

Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi


dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan
pasien.
Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter
misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas,
kehilangan pendengaran, vertigo.
Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat
yang membutuhkan evaluasi secepatnya.
36

3.4.
a.
b.
c.
d.

Evaluasi
Keefektifan bersihan jalan napas.
Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu.
Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.
Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi

malnutrisi.
e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan
dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.

BAB IV
HASIL PEMERIKSAAN DAN PEMBAHASAN
4.1.

Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium ,peningkatan Laju Endap Darah dapat

menunjukan proses yang sedang aktif ,tapi laju endap darah yang normal bukan
berarti menyingkirkan adanya proses Tuberculosis.
Penemuan adanya BTA pada Dahak , bilasan bronkus ,bilasan lambung
,cairan pleura atau jaringan paru adalah sangat penting untuk mendiagnosa TBC
Paru.

37

Sering dianjurkan untuk pemeriksaan dahak sebanyak 3 kali untuk dahak


yang diambil pada pagi hari.
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi kronik yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru dan dapat
menyebar ke organ-organ lain. Indonesia adalah negara dengan prevalensi TBC
ke-3 di dunia setelah China dan India, dan TBC sendiri termasuk dalam tiga besar
penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional TBC paru
diperkirakan

0,24%.

Penyakit

TBC

sering

menyerang

orang

dengan

gangguan/defisiensi imun, gizi buruk, debilitas, serta bertempat tinggal di


lingkungan yang padat dan tidak sehat.
Untuk menegakkan diagnosis penyakit TBC dapat dilakukan berbagai
modalitas. Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisis yang cermat, dilakukan
pemeriksaan penunjang. Seperti pemeriksaan radiologis (menemukan infiltrat,
kavitas di apex dsb), mikrobiologis (menemukan bakteri M. tuberculosis dengan
kultur sputum dan pewarnaan BTA), tes Tuberkulin dan pemeriksaan darah di
laboratorium patologi klinik. Dari kesemuanya itu, pemeriksaan darah kurang
mendapat perhatian karena hasilnya kadang-kadang meragukan, hasilnya tidak
sensitif dan juga tidak spesifik.
Pada saat TBC baru mulai aktif terdapat sedikit leukositosis dengan hitung
jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap
darah (LED) mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit
kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. LED mulai turun ke arah

38

normal lagi. Hasil pemeriksaan darah lain didapatkan juga anemia ringan dengan
gambaran normokrom dan normositer, gama globulin sedikit meningkat dan kadar
natrium darah menurun. Pemeriksaan tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik.

4.2.

Pemeriksaan Penunjang

a. Tuberculin skin testing


Dilakukan dengan menginjeksikan secara intracutaneous 0.1ml
Tween-stabilized liquid PPD pada bagian punggung atau dorsal dari lengan
bawah. Dalam wkatu 48 72 jama, area yang menonjol (indurasi), bukan
eritema, diukur. Ukuran tes Mantoux ini sebesar 5mm diinterpretasikan
positif pada kasus-kasus :
Individu yang memiliki atau dicurigai terinfeksi HIV
Memiliki kontak yang erat dengan penderita TBC yang infeksius
Individu dengan rontgen dada yang abnormal yang
mengindikasikan gambaran proses penyembuhan TBC yang lama,
yang sebelumnya tidak mendpatkan terapo OAT yang adekuat
Individu yang menggunakan Narkoba dan status HIV-ny tidak
diketahui
Sedangkan ukuran 10mm uji tuberculin, dianggap positif biasanya pada kasuskasus seperti :
Individu dengan kondisi kesehatan tertentu, kecuali penderita HIV
Individu yang menggunakan Narkoba (jika status HIV-ny negative)

39

Tidak

mendapatkan

pelayanan

kesehatan,

populasi

denganpendapatan yang rendah, termasuk kelompok ras dan etnik


yang beresiko tinggi
Penderita yang lama mondokdirumah sakit
Anak kecil yang berusi kurang dari 4 tahun

Uji ini sekarang sudah tidak dianjurkan dipakai,karena uji ini haya
menunjukkan ada tidaknya antibodi anti TBC pada seseorang, sedangkan
menurut penelitian, 80% penduduk indosia sudah pernah terpapar intigen
TBC, walaupun tidak bermanifestasi, sehingga akan banyak memberikan
false positif.
b. Pemeriksaan radiologis
Adanya infeksi primer digambarkan dengan nodul terkalsifikasi pada
bagian perifer paru dengan kalsifikasi dari limfe nodus hilus
Sedangkan proses reaktifasi TB akan memberikan gambaran:
Nekrosis
Cavitasi (terutama tampak pada foto posisi apical lordotik)
Fibrosis dan retraksi region hilus
Bronchopneumonia
Infiltrate interstitial
Pola milier
Gambaran diatas juga merupakan gambaran dari TB primer
lanjut
TB pleurisy, memberikan gambaran efusi pleura yang biasanya
terjadi secara massif
Aktivitas dari kuman TB tidak bisa hanya ditegakkan hanya dengan
1 kali pemeriksaan rontgen dada, tapi harus dilakukan serial rontgen
dada. Tidak hanya melihat apakah penyakit tersebut dalam proses
progesi atau regresi.

40

c. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian karena hasilnya
kadang-kadang meragukan, tidak sensitif, tidak juga spesifik. Pada saat TB
baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi
dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih dibwah
normal. Laju endap darah mulai meningkat. Jika penyakit mulai sembuh,
jumlah leukosit kembali normal, dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju
endap darah mulai turun ke arah normal lagi. Bisa juga didapatkan anemia
ringan dengan gambaran normokron dan normositer, gama globulin
meningkat dan kadar natrium darah menurun.
d. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan

sputum

adalah

penting,

karena

dengan

ditemukannnya kuman BA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan.


Kriteria BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang
kuman BTA pada satu sediaan.
Untuk menegakkan diagnosis penyakit TBC dapat dilakukan
berbagai modalitas. Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisis yang cermat,
dilakukan pemeriksaan penunjang. Seperti pemeriksaan radiologis
(menemukan infiltrat, kavitas di apex dsb), mikrobiologis (menemukan
bakteri M. tuberculosis dengan kultur sputum dan pewarnaan BTA), tes
Tuberkulin dan pemeriksaan darah di laboratorium patologi klinik. Dari

41

kesemuanya itu, pemeriksaan darah kurang mendapat perhatian karena


hasilnya kadang-kadang meragukan, hasilnya tidak sensitif dan juga tidak
spesifik.
Pada saat TBC baru mulai aktif terdapat sedikit leukositosis
dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah
normal. Laju endap darah (LED) mulai meningkat. Bila penyakit mulai
sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi.
LED mulai turun ke arah normal lagi. Hasil pemeriksaan darah lain
didapatkan juga anemia ringan dengan gambaran normokrom dan
normositer, gama globulin sedikit meningkat dan kadar natrium darah
menurun. Pemeriksaan tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik.
Berikut adalah pemeriksaan-pemeriksaan yang rutin dilakukan terutama
untuk mendiagnosis penyakit tuberculosis:
Hemoglobin
Hemoglobin adalah molekul yang terdiri dari 4 kandungan haem
(berisi zat besi) dan 4 rantai globin, berada di dalam eritrosit dan bertugas
utama untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah dan warna merah darah
ditentukan oleh kadar hemoglobin. Struktur Hb dinyatakan dengan
menyebut jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul
asam amino pada rantai alfa, dan 146 molekul asam amino pada ranta beta,
gamma dan delta

42

Nilai normal Hb
Wanita

: 12-16 gr/dl

Pria

: 14-18 gr/dl

Anak

: 10-16 gr/dl

Bayi baru lahir

: 12-24 gr/dl

Penurunan Hb terdapat pada penderita anemia, kanker, penyakit


ginjal, pemberian cairan IV yang berlebihan, penyakit Hodgkins dan
obat-obatan (antibiotika, aspirin dll). Sedangkan peningkatan Hb
terdapat pada pasien dehidrasi, polisitemia, PPOK, gagal jantung
kongestif dan luka bakar hebat.
Leukosit
Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan
hemopoetik untuk jenis bergranula (PMN) dan jaringan limpatik untuk
jenis tak bergranula (mononuklear), berfungsi dalam sistem pertahanan
tubuh terhadap infeksi.

Nilai normal
Dewasa

: 4.000-10.000/mm3

43

Bayi/anak

: 9.000-12.000/mm3

Bayi baru lahir

: 9.000-30.000/mm3

Peningkatan jumlah leukosit (leukositosis) menunjukkan adanya


proses infeksi atau radang akut, misalnya tuberkulosis, pneumonia,
meningitis, appendisitis, tonsilitis, dll. Dapat juga terjadi pada infark
miokard, sirosis, leukemia, stress, pasca bedah dll. Sedangkan penurunan
jumlah leukosit (leukopenia) dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu,
terutama virus, malaria, alkoholik, SLE, arthritis rheumatoid dan penyakit
hemopoetik.
Hitung jenis leukosit
Hitung jenis leukosit adalah perhitungan jenis leukosit yang ada
dalam darah berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh
jumlah leukosit. Hasil pemeriksaan ini dapat menggambarkan kejadian
dan proses penyakit dalam tubuh, terutama penyakit infeksi. Lima tipe sel
darah putih yang dihitung adalah netrofil, eosinofil, basofil, monosit dan
limfosit. Neutrofil dan limfosit merupakan 80-90% dari total leukosit.
Hasil pemeriksaan hitung jenis leukosit memberi informasi spesifik
berhubungan dengan infeksi dan proses penyakit.
Hematokrit
Hematokrit

adalah

perbandingan

bagian

dari

darah

yang

mengandung eritrosit terhadap volume seluruh darath atau volume sel

44

darah merah dalam 100 ml keseluruhan darah, atau eritrosit dalam seluruh
volume darah yang dihitung dalam persen. Semakin tinggi prosentase
hematokrit berarti konsentrasi darah makin kental, diperkirakan banyak
plasma darah yang keluar (ekstravasasi) dari pembuluh darah berlanjut ke
keadaan shock hipovolemik.
Nilai normal hematokrit:
Anak

: 33-38/vol%

Laki-laki dewasa

: 40-48/vol%

Wanita dewasa

: 37-43/vol%

Penurunan hematokrit terjadi pada pasien yang mengalami kehilangan


darah akut, anemia, leukimia, penyakit Hodgkin, sirosis, defisiensi vitamin
B dan C dll. Sedangkan peningkatan hematokrit terjadi pada hipovolemia,
dehidrasi, polisitemia vera, diare berat, dll.
Trombosit
Trombosit adalah komponen sel darah yang dihasilkan oleh
jaringan hemopoetik, dan berfungsi utama dalam proses pembekuan darah.
Penurunan sampai di bawah 100.000/mcl berpotensi untuk terjadinya
perdarahan dan hambatan pembekuan darah. Jumlah normalnya 200.000400.000 per mikroliter darah.

45

Laju Endap Darah (LED)


LED mengukur kecepatan endap eritrosit dan menggambarkan
komposisi plasma serta perbandingannya antara eritrosit dan plasma. LED
dipengaruhi oleh berat sel darah dan luas permukaan sel serta gravitasi
bumi. Makin berat sel darah makin cepat laju endapnya dan makin luas
permukaan sel makin lambat pengendapannya. LED darah normal relatif
kecil karena gravitasi bumi seimbang dengan perpindahan plasma ke atas.
Setiap peningkatan viskositas plasma (misal oleh kolesterol dan lemak
lain) akan menimbulkan daya tarik ke atas semaki besar sehingga laju
endap lambat, tetapi sebaliknya setiap keadaan yang membuat sel darah
lebih berat (misal: saling melekat/menggumpal), maka laju endap ke
bawah makin meningkat. Perlekatan sel darah (Rouleaux) dapat terjadi
karena peningkatan perbandingan globulin, albumin dan fibrinogen.
LED normal:
Pria

: 0-8 mm/jam

Wanita

: 0-15 mm/jam

LED dapat dipakai sebagai sarana pemantauan keberhasilan terapi,


perjalanan penyakit terutama penyakit kronis misalnya TBC dan arthritis
rheumatoid. Peninggian LED biasanya terjadi akibat peningkatan kadar
globulin dan fibrinogen karena infeksi akut lokal maupun sistemis atau
trauma, kehamilan, infeksi kronis,dan infeksi terselubung yang berubah

46

menjadi akut. Penurunan LED dapat terjadi pada polisitemia vera, gagal
jantung kongesti, anemia sel sabit, infeksi mononukleus, defisiensi faktor
V pembekuan, dll.

BAB V
PENUTUP
5.1.

Kesimpulan

Definisi :
Penyakit Tuberkulosis: adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang
Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
Penyebab
Penyebab

penyakit

ini

adalah

bakteri

kompleks

Mycobacterium

tuberculosis.kompleks Mycobacterium tuberculosis meliputi M. tuberculosis, M.


bovis, M. africanum, M. microti, dan M. canettii. Dari beberapa kompleks
tersebut, M. tuberculosis merupakan jenis yang terpenting dan paling sering
dijumpai.
Gejala - gejala Tuberkulosis
Gejala Umum :
Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih.
Gejala Lain Yang Sering Dijumpai :

47

Dahak bercampur darah.


Batuk darah.
Sesak napas dan rasa nyeri dada.
Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak
badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang
lebih dari sebulan.
5.2.

Saran
Untuk menangani atau mengetahui lebih jauh tentang penyakit

tuberkulosis (TBC) sebaiknya anda lebih banyak mencari sumber, karena pola
Karya Tulis Ilmiah ini, informasi yang tersedia juga didapatkan dari berbagai
sumber dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasehat, saran konsultan atau
kunjungan kepada dokter anda. Bila anda memiliki masalah atau keluhan lain
segeralah menghubungi dokter.
Dan jangan lupa pula agar tetap menjaga kesehatan dan lingkungan agar
kita senantiasa terhindar dari berbagai penyakit.

48

Daftar Pustaka
http://www.medicastore.com/tbc/
http://www.puankbayu.ymail.com.editordirect/htm.

http://www.medicastore.com/tbc/penyakit_tbc.htm

http://www.infopenyakit.com/2007/12/penyakit-tuberkulosis-tbc.html

http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/264-tuberculosis-paru-tbparu.html

http://jarumsuntik.com/asuhan-keperawatan-dengan-tb-paru/

http://irmanthea.blogspot.com/2008/05/asuhan-keperawatan-pada-pasiendengan.html

http://www.asuhan-keperawatan.blogspot.com/

49

http://medicastore.com/tbc/penyakit_tbc.htm

http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/pemeriksaanlaboratorium-patologi-klinik-infeksi-tuberkulosis/
Zulkifli Amin, Asril Bahar, 2006. Tuberkulosis Paru, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Jakarta: UI

Lampiran
Gambar I

50

Lampiran
Gambar II

51

52