Anda di halaman 1dari 4

Seiring dengan perkembangan ilmu kenegaraan dan pemerintahan, konsep negara

klasik dalam bentuk negara hukum penjaga malam, khususnya setelah perang dunia kedua,
telah berkembang menjadi konsep negara kesejahteraan (welfare state). Ciri utama negara ini
ialah munculnya kewajiban pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi
warganya1. Pemerintah merupakan bentuk konkret negara dalam melaksanakan tugasnya
untuk menjamin dan mewujudkan kesejahteraan sosial.
pemerintahan yang dijalankan oleh seorang eksekutif tidak mungkin melayani semua
rakyat yang ada di wilayahnya, maka eksekutif tersebut membutuhkan bantuan badan atau
lembaga lain untuk melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini diperlukan sebuah legalitas bagi
setiap bidang eksekutif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, legalitas diperlukan
karena setiap penyelenggaraan pemerintahan harus berdasarkan hukum, agar tidak terjadi
kesewenang-wenangan terhadap masyarakat.2 Berdasarkan asas legalitas tersebut, maka
substansinya adalah terletak pada wewenang, yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan
hukum tertentu, tentunya kemampuan ini harus berdasarkan pada hukum yang berlaku dan
sesuai dengan legitimasi yang diberikan3.
Sumber kewenangan pemerintah ada pada Peraturan Perundang-undangan atau
disebut juga asas rechtmatigheid van bestuur. Menurut Indriharto, kewenangan yang
bersumber dari peraturan perundang-undangan diperoleh melalui tiga cara, yaitu melalui
atribusi, delegasi dan mandat4. Atribusi berarti adanya pemberian suatu wewenang oleh
rakyat melalui wakilnya di parlemen kepada pemerintah, dan tindakan pemerintah menjadi
sah secara yuridis5.
Delegasi diartikan sebagai penyerahan wewenang untuk membuat besluit oleh pejabat
pemerintahan (pejabat Tata Usaha Negara) kepada pihak lain tersebut. Dengan kata
1

Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, cet. VI (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2011),
hlm. 14.
2
Ibid, hal 94
3
Ibid
4
Ibid, hal 104
5
S. F. Marbun, Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administratif di Indonesia, cet.
III (Yogyakarta : FH UII Press, 2011), hlm. 138.

penyerahan, ini berarti adanya perpindahan tanggung jawab dan yang memberi delegasi
(delegans) kepada yang menerima delegasi (delegetaris). Suatu delegasi harus memenuhi
syarat-syarat tertentu, antara lain:
1.

Delegasi harus defenitif, artinya delegasi tidak dapat lagi menggunakan sendiri

2.

wewenang yang telah dilimpahkan itu;


Delegasi harus berdasarkan ketentutan peraturan perundang-undangan, artinya
delegasi hanya dimungkinkan kalau ada ketentuan untuk itu dalam peraturan

3.

perundang-undangan;
Kewajiban memberi keterangan (penjelasan), artinya delegasi berwenang untuk

4.

meminta penjelasan tentang pelaksanaan wewenang tersebut;


Kewajiban memberi keterangan (penejelasan), artnya delegasi berwenang untuk

5.

meminta penjelasan tentang pelaksanaan wewenang tersebut;


Peraturan kebijakan artinya delegasi memberikan instruksi (petunjuk) tentang
penggunaan wewenang tersebut6.
Mandat diartikan suatu pelimpahan wewenang kepada bawahan. Pelimpahan itu

bermaksud memberi wewenang kepada bawahan untuk membuat keputusan a/n pejabat Tata
Usaha Negara yang memberi mandat. Tanggungjawab tidak berpindah ke mandataris,
melainkan tanggungjawab tetap berada di tangan pemberi mandat, hal ini dapat dilihat dan
kata a.n (atas nama). Dengan demikian, semua akibat hukum yang ditimbulkan oleh adanya
keputusan yang dikeluarkan oleh mandataris adalah tanggung jawab si pemberi mandat.
Sebagai suatu konsep hukum publik, wewenang terdiri atas sekurang-kurangnya tiga
komponen, yaitu:
1. pengaruh;
2. dasar hukum; dan
3. konformitas hukum.7

Philipus M. Hadjon, Tentang Wewenang Pemerintahan (bestuurbevoegdheid) Pro


Justitia Tahun XVI Nomor I Januari 1998, hIm. 94
7
Ibid, hal.94

Komponen pengaruh ialah bahwa penggunaan wewenang dimaksudkan untuk


mengendalikan perilaku subjek hukum. Komponen dasar hukum ialah bahwa wewenang itu
selalu harus dapat ditunjuk dasar hukumnya dan komponen konformitas hukum mengandung
makna adanya standar wewenang, yaitu standar umum (semua jenis wewenang) dan standar
khusus (untuk jenis wewenang tertentu).
Berdasarkan konsep negara hukum kesejahteraan, fungsi utama pemerintah atau
eksekutif adalah untuk menjamin dan mewujudkan kesejahteraan bagi warga negara.
Pemerintah mulai dari presiden, menteri, gubernur, camat sampai tingkat desa melakukan
tugas negara untuk kesejahteraan. Dalam konteks ini camat sebagai kepala SKPD Kecamatan
adalah pelaksana teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kewenangan yang
diberikan oleh kepala daerah untuk melayani masyarakat, sehingga camat memiliki legitimasi
dalam bertindak untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya.
Camat merupakan pegawai pamong praja yang menjadi kepala/pimpinan di wilayah
kecamatan8. Kecamatan adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia di bawah
kabupaten atau kota. Kecamatan terdiri atas desa-desa atau kelurahan-kelurahan. Tugas camat
adalah menjalankan sebagian wewenang bupati atau walikota yang dilimpahkan kepada
camat untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah.
Camat sebagai Pajabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Sementara adalah camat yang
diangkat oleh instansi yang berwenang dengan tugas melayani pembuatan akta didaerah yang
belum cukup PPAT. Dasar hukum pengangkatan Camat sebagai PPAT dapat dilihat di Pasal 5
ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998, yang menyebutkan : Untuk melayani
masyarakat dalam pembuatan akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT atau
untuk melayani golongan masyarakat tertentu dalam pembuatan akta PPAT tertentu, Menteri
dapat menunjuk pejabat-pejabat dibawah ini sebagai PPAT Sementara atau PPAT Khusus :
Camat atau Kepala Desa untuk melayani pembuatan akta didaerah yang belum cukup
8

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka. Jakarta, 1999, halaman 19

terdapat PPAT, sebagai PPAT Sementara.9 Kemudian pada Pasal 19 ayat (1)Peraturan Kepala
Badan Pertanahan Nomot 1 Tahun 2006 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah,
disebutkan bahwa : Penunjukan Camat sebagai PPAT Sementara dilakukan dalam hal di
daerah Kabupaten/Kota sebagai wilayah kerjanya masih tersedia formasi PPAT.
Kewajiban dan kewenangan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) adalah
melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah
dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan
Rumah Susun, yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah
yang diakibatkan perbuatan hukum itu. Melalui pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa
dalam pembuatan akta di daerah kecamatan yang belum terpenuhinya formasi PPAT, maka
Menteri dapat mendelegasikan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional
Provinsi Kalimantan Barat untuk menunjuk Camat sebagai PPAT Sementara, apabila di
daerah tersebut masih kekurangan PPAT. Sebagai PPAT Sementara, camat mempunyai
Kewajiban dan kewenangan yang sama dengan PPAT.
Camat sebagai PPAT Sementara yang mempunyai kewajiban dan kewenangan yang
sama dengan PPAT. Menurut tata bahasa Indonesia, kewajiban berasal dari kata dasar wajib
yang artinya, harus; sudah semestinya. Kewajiban menurut KBBI adalah sesuatu yang
diwajibkan, sesuatu yang harus dilaksanakan, keharusan, sesuatu yang harus dilaksanakan,
atau juga tugas, dan hak tugas menurut hukum. Salah satu kewajiban camat sebagai PPAT
berupa laporan bulanan yang diberikan setiap bulannya.

A.A Mahendra, Tugas dan Wewenang Jabatan PPAT Sementara, (Jakarta:Pustaka


Ilmu,2001), hlm. 7.