Anda di halaman 1dari 26

1

SPESIFIKASI TEKNIS DAN BAHAN


Pasal 1
URAIAN UMUM
1.1 Nama Pekerjaan
KEGIATAN

SENTRA KULINER HASIL LAUT YANG DIBANGUN /


DIKEMBANGKAN DI KOTA PESISIR

PEKERJAAN

SENTRA KULINER HASIL LAUT YANG DIBANGUN /


DIKEMBANGKAN DI KOTA PESISIR

LOKASI

KAB. PANGANDARAN

1.2 Lingkup pekerjaan pelaksanaan meliputi :

A. PEKERJAAN PERSIAPAN
B. BANGUNAN KULINER.
C.

PEKERJAAN PENATAAN AREA PARKIR.

D. PEKERJAAN PENATAAN PEDESTRIAN.


1.3 Untuk menjamin mutu dan kelancaran pekerjaan, calon Pemborong harus menyediakan :
-

Tenaga Pelaksana sepeti SITE MANAGER, PELAKSANA/ PENGAWAS LAPANGAN dan


LOGISTIK, harus yang terampil pekerjaannya serta berlatar belakang pendidikan Teknik
Sipil/ Arsitektur.

Tenaga-tenaga yang dipekerjakan harus tenaga yang mempunyai keahlian yang cukup
memadai dalam setiap jenis pekerjaannya.

Mesin-mesin pengaduk spesi dan beton, pompa air, mesin pemadat tanah, alat-alat
pengukur (Waterpas/ Penyiku/ Theodolith) dan alat bantu lainnya yang diperlukan
untuk ketelitian, kerapihan dan ketepatan pekerjaan.

Bahan-bahan/ material harus sudah ada di tempat pekerjaan menjelang waktu


pengerjaan sehingga tidak akan terjadi kelambatan pelaksanaan dari jadwal waktu
yang ditargetkan.

Direksi keet dan Los bahan dengan ukuran yang memadai, dilengkapi dengan peralatan
Direksi keet seperti meja kerja, meja/ kursi tamu, tampilan gambar-gambar kerja,
grafik kemajuan pelaksanaan pekerjaan fisik lengkap dengan grafik tenaga kerja dan
grafik cuaca, photo-photo pelaksanaan pekerjaan mulai dari 0% berlanjut ke kemajuan
fisik setiap minggu sampai selesai pekerjaan pada fisik yang sama.

Menyediakan Buku Direksi untuk mencacat setiap petunjuk/ keputusan/ saran dari
Direksi dan atau setiap ada perubahan yang dianggap perlu, menyediakan Buku Tamu
untuk mencatat/ sebagai bukti adanya kunjungan tamu-tamu yang komponen
terhadap pekerjaan dan menyusun laporan harian, mingguan dan bulanan sesuai
dengan kemajuan fisik di lapangan.

Pasal 2
SITUASI
2.1 Calon Pemborong wajib meneliti situasi medan, terutama kondisi lokasi pekerjaan dan luas
pekerjaan serta batasan pekerjaan yang akan dilaksanakan, juga hal-hal yang berpengaruh
terhadap penawarannya disamping ketentuan dalam bestek.
2.2 Kelalaian atau kekurangan-telitian dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk
mengajukan claim dikemudian hari.
2.3 Dalam rapat penjelasan akan ditunjukkan letak dimana pembangunan akan dilaksanakan
seperti tertera dalam gambar Site Plan.

Pasal 3
PERSIAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN
3.1 Sebelum memulai pekerjaan, Pemborong wajib melaksanakan pengukuran Lokasi di bawah
pengawasan Direksi Pengawas dengan patok yang dipancang kuat-kuat dari papan-papan
kayu (bouwplank yang diketam rata pada sisi atasnya). Pemborong harus menyediakan
secukupnya pembantu yang ahli dalam cara pengukuran yang baik dan alat-alat bantu
lainnya yang diperlukan untuk pengukuran/ penentuan patok - patok bouwplank.
Ukuran Pokok : Ukuran pokok, pengukuran atas lantai ubin dinyatakan 0,00 cm dan
akan ditentukan kemudian dilapangan selanjutnya semua ukuran tinggi didalam gambar
diambil dari tinggi ubin 0,00 cm.
Satuan Ukuran : Semua ukuran dalam rencana dinyatakan dalam ukuran metrik, kecuali
untuk baut baut dan sejenisnya dalam inchi.

3.2 Penyediaan Bahan/ Logistik dan Peralatan.


Pemborong harus menyediakan segala yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan
secara sempurna dan efisien dengan urutan yang teratur, termasuk semua tenaga, bahan,
dan alat-alat bantu yang diperlukan.Dalam Penyediaan Bahan/Logistik Pemborong Wajib
meminta persetujuan Direksi terhadap bahan/logistik yang didatangkan.
3.3 Jalan masuk ke tempat pekerjaan.
Jalan masuk sementara ke tempat pekerjaan harus disiapkan Pemborong dengan tidak
mengganggu lalu lintas. Jalan ini disesuaikan dengan lay-out Kantor Direksi, Kantor
Pelaksana dan Los Kerja, Lokasi penimbunan bahan dan tempat merakit komponen struktur
dan acuan/ bekisting.
3.4 Air
Air untuk keperluan pekerjaan harus yang bersih /steril, pengadaannya harus diusahakan
oleh Pemborong sendiri. Dalam hal Pemborong memakai air yang ada di lingkungan Lokasi,
maka Pemborong harus membayar segala ongkos pengadaan dan penyambungan air yang
dipakai dan pembongkarannya kembali.
3.5 Iklan
Pemborong tidak diperkenankan membuat papan iklan dalam bentuk apapun di dalam
wilayah proyek, atau di tanah yang berdekatan tanpa seijin Pemimpin Kegiatan/Direksi.
3.6 Stoot Werk Bambu
Pekerjaan ini menggunakan bambu dia 6-8 / 400cm, pembuatan balok 5/10, sebagai
pengikatnya memakai tali ijuk, karena tali ijuk ini tahan terhadap air, panas dsb.
3.7 Perlindungan.
- Keselamatan kerja dan pertolongan pertama, Pemborong harus mengadakan
pengamanan yang layak untuk melindungi para pekerja dan tamu yang berkunjung ke
tempat pekerjaan. Fasilitas dan tindakan pengamanan seperti ini adalah sesuai dengan
ketentuan Undang-Undang dan Peraturan mengenai Keselamatan Kerja yang berlaku. Di
lapangan Pemborong wajib mengadakan perlengkapan yang cukup untuk PPPK yang
mudah dicapai.
- Hari Khusus.
Pemborong diharapkan sudah mempertimbangkan hal-hal seperti hari upacara
keagamaan dan sebagainya, sehingga hal tersebut tidak terlalu berpengaruh pada
pelaksanaan pekerjaan.
- Pelaksanaan Pekerjaan di luar jam kerja biasa.
Pemborong harus mendapatkan ijin tertulis dari Pengawas Lapangan untuk melaksanakan
pekerjaan yang tertera dalam kontrak ini di luar jam-jam biasa, seperti hari Minggu atau
libur resmi, atau jam lembur malam.
- Kebersihan dan Kerapihan.
Pemborong harus mengangkut semua sampah secara teratur jika sudah bertumpuk dan
pada waktu penyelesaian pekerjaan, keadaan lapangan harus sudah bersih dan rapi.

- Gambar Pelaksanaan di Lapangan.


Gambar-gambar pelaksanaan untuk seluruh pekerjaan harus selalu ada di lapangan.
Demikian pula dengan buku spesifikasi teknis atau RKS. Gambar-gambar tersebut harus
dalam keadaan jelas dan dapat dibaca serta menunjukkan perubahan-perubahan terakhir
bila ada perubahan.
- Ketidak-sesuaian antara gambar dan RKS bilamana ada ketidak-sesuaian antara gambar
kontrak dengan Syarat-syarat Umum atau Uraian dan Syarat-syarat, maka hal ini harus
selekasnya ditunjukkan kepada Pemberi Tugas untuk mendapatkan keputusan sebagai
pedoman bila terjadi perbedaan antara gambar berskala besar dan yang berskala kecil,
maka yang diambil adalah gambar yang berskala besar. Antara gambar dan RKS, maka
diutamakan adalah RKS, atau menurut petunjuk Direksi.
- Gambar Revisi dan Gambar As-Built untuk semua penyimpangan pekerjaan yang belum
terdapat dalam Gambar, baik penyimpangan itu atas perintah Pemberi Tugas atau tidak
Pemborong harus membuat gambar-gambar kerja yang sesuai dengan yang telah
dilaksanakan di lapangan (gambar revisi) yang memperlihatkan dengan jelas perbedaan
antara gambar-gambar kontrak dengan pekerjaan yang dilaksanakan. Gambar-gambar
tersebut harus diserahkan pada waktu penyerahan pertama dalam rangkap 3 (tiga) dan
semua biaya pembuatannya ditanggung oleh Pemborong.

Pasal 4
PEKERJAAN TANAH, GALIAN, DAN URUGAN
4.1 Lingkup pekerjaan
a.
b.
c.
d.

Penggalian, Pekerjaan ini meliputi penggalian tanah untuk Pondasi.


Pengurugan kembali tanah.
Pekerjaan peninggian lantai.
Pekerjaan pasir urug.

4.2 Pekerjaan Tanah :


- Sebelum galian tanah dilaksanakan, harus diratakan dahulu menurut ketinggian yang
ditentukan.
- Daerah daerah yang telah ditentukan akan dikupas atau diurug dalam pelaksanaannya
harus dilakukan dengan seksama.
- Galian bekas bongkaran bangunan harus diperhitungkan oleh pihak Kontraktor.
- Tanah humus dan akar-akar tanaman harus disingkirkan dahulu dari daerah bangunan
sebelum dilakukan pengurugan. Semua urugan harus dilakukan lapis demi lapis @ 20 cm
dan dipadatkan dengan menggunakan mesin compactor ( Pemadat ).
4.3 Penggalian :
Semua penggalian harus dilaksanakan menurut apa yang diisyaratkan mengenai panjang,
dalam, kemiringan yang diperlukan untuk melaksanakan konstruksi pekerjaan. Sisanya harus
disingkirkan dari lapangan. Tidak boleh ada genangan air di dalam lubang pondasi, bila hal ini
terjadi air harus segera dipompa keluar agar tidak memperlemah dasar pondasi.

4.4 Urugan dan Urugan kembali (Fill & Back Fill)


Urugan kembali lubang bekas galian pondasi hanya boleh dilaksanakan setelah ada ijin
Direksi setelah dilakukan pemeriksaan pondasi.Setiap tanah urugan harus dibersihkan dari
tunas tumbuhan dan segala macam sampah.Tanah urug harus dari jenis tanah yang berbutir
atau berpasir dan tidak terlalu basah.Urugan tanah harus dipadatkan dengan mesin pemadat
(compactor) dan tidak dibenarkan hanya memakai timbres. Dalam hal pengurugan untuk
peninggian lantai, jika bagian-bagian yang dipadatkan sudah siap, Pemberi Tugas/Direksi
harus segera diberitahu agar ia dapat segera mengatur untuk mengadakan pengujian
kepadatan.

4.5 Urugan Pasir


- Dilaksanakan dari tanah asal sampai dengan bawah lantai
- Urugan pasir harus dilaksanakan di bawah lantai bawah, Lantai Tingkat, lubang pondasi
serta di bawah rabat beton sesuai dengan gambar rencana. Sebelum ubin dipasang,
lapisan pasir urug lebih dahulu dipadatkan dengan diairi dan diratakan. Pasir urug harus
dibersihkan dari akar-akar dan kotoran.
- Timbunan pasir dibawah lantai harus padat, sehingga lantai tidak akan menurun, untuk
timbunan dipakai pasir urug.

Pasal 5
Pekerjaan Pondasi
5.1

Yang dimaksud dengan pekerjaan pondasi adalah seluruh pekerjaan yang menyangkut
pekerjaan struktur di bawah tanah yang berfungsi menyalurkan beban bangunan dan
memberikan kestabilan pada konstruksi.
Jenis pekerjaan pondasi yang dilaksanakan adalah :

5.2

Pondasi Batu Belah


a. B a h a n.
Bahan yang digunakan dari batu belah 15 20 cm berkualitas baik.

5.3

Pasangan Pondasi batu belah


a. Alas pondasi dari pasir urug yang dipadatkan setebal 5 cm, ditimbris dan disiram air
sampai kepadatan maksimal.
b. Material batu kali/belah yang keras, bermutu baik tidak cacat dan tidak retak. Batu kapur,
batu berpenampang bulat atau berpori besar dan terbungkus lumpur tidak diperkenankan
untuk dipakai.
c. Adukan yang dipakai untuk pasangan adalah 1PC : 5 PP.
d. Air yang digunakan harus bersih, tawar dan bebas dari bahan kimia yang dapat merusak
pondasi; asam alkali atau bahan organik.

e. Pasir pasang harus bersih, tajam dan bebas lumpur, tanah liat, kotoran organik dan bahan
yang dapat merusak pondasi, untuk itu pasir yang akan dipakai terlebih dahulu diayak
lewat lubang sebesar 2 mm.
f.

Penggalian pondasi lajur dilakukan dengan terlebih dahulu menetapkan lay out, titik as
pondasi tersebut dan ditentukan dengan teliti sesuai dengan gambar dan disetujui
Konsultan Perencana.

g. Pemeriksaan tiap galian pondasi dilaksanakan terhadap betulnya penempatan, kedalaman


besaran; lebar, letak dan kondisi dasar galian. Sebelum pemasangan pondasi dimulai izin
dari Konsultan Perencana mengenai hal tersebut harus didapat secara tertulis.
h. Pemborong harus memperhatikan adanya stek tulangan kolom, stek tulangan ke sloof
dan sparing pipa plumbing yang menembus pondasi.
i.

Karena adanya cut dan fill, pemborong harus memperhatikan kedalaman pondasi
terhadap tanah dasar / keras.

Pasal 6
PEKERJAAN STRUKTUR BETON

6.1 U m u m.
Menyediakan seluruh keperluan bahan/ material, peralatan berikut alat-alat bantu dan
pengangkutannya serta tenaga yang cukup jumlah dan ketrampilannya untuk melaksanakan
seluruh pekerjaan struktur pondasi dan struktur beton baik beton bertulang maupun tidak
bertulang sesuai dengan gambar-gambar pelaksanaan yang termasuk di dalam pekerjaan ini.
6.2 Pekerjaan Struktur Beton
6.2.1

Lingkup Pekerjaan
Yang dimaksud Pekerjaan Struktur Beton adalah seluruh pekerjaan beton, baik
beton bertulang, maupun tidak bertulang, seperti tercantum dalam gambargambar pelaksanaan, termasuk didalamnya, tetapi tidak terbatas pada :
a.

6.2.2

Pekerjaan struktur di atas tanah terdiri dari :


- Pekerjaan struktur utama beton terdiri pelat lantai, dan pekerjaanpekerjaan lain sesuai dengan gambar rencana.
- Pekerjaan struktur sekunder beton terdiri dari pekerjaan pembuatan
pekerjaan beton lainnya yang tidak termasuk di dalam pekerjaan struktur
utama sesuai dengan gambar pelaksanaan.

Persyaratan Umum Beton


Seluruh pekerjaan beton harus mengikuti peraturan-peraturan/ pedomanpedoman seperti tercantum dalam :
-

Pedoman Beton Indonesia 1991.


Peraturan Bangunan Baja Indonesia, 1981.

6.2.3

Persyaratan bahan
a.
b.

c.

6.2.4

SNI 8, Peraturan Semen Portland tahun 1974.


Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung, 1983.
Peraturan dan Pedoman lainnya.
Untuk Beton bertulang yang di gunakan dalam pekerjaan ini adalah K 175,
dimana beton harus mempunyai kekuatan Tekan karakteristik sebesar 175
kg/cm ( Minimal ).
Untuk mendapatkan mutu beton seperti yang disyaratkan (K-175),maka
pemborong harus membuat MIX DESIGN di Laboratorium Beton milik
Pemerintah atau yang tunjuk oleh Direksi,untuk mendapatkan komposisi
campuran dari bahan-bahan yang digunakan.
Pekerjaan beton tidak boleh di kerjakan Sebelum Ada Mix Design yang di
keluarkan oleh Laboratorium secara resmi.
Untuk Beton tidak Bertulang ( Lantai Kerja,Rabat,Beton Tumbuk, Neut
Kusen ) adukan dibuat dengan campuran beton K-125.

Beton yang dipergunakan untuk seluruh struktrur bangunan ini harus


mempunyai mutu karakteristik minimal K-125, K 175.
Besi beton yang dipergunakan untuk keseluruhan pekerjaan struktur adalah
besi 12 menggunakan besi U-24, sedangkan besi > 12 menggunakan
besi U-32/U-39.
Bekisting harus terbuat dari papan tebal 30 mm diperkuat dengan rangka
kayu Albasiah ukuran 5/7, 5/10 dan sebagainya, sehingga didapatkan
kekuatan dan kekakuan yang sempurna.

Bahan Beton
1.

Semen
- Pesyaratan Umum
a. Semua semen harus semen Portland yang disuaikan dengan
persyaratan dalam Peraturan Semen Portland Indonesia NI 8 atau
ASTM C 150 type I, atau S1 10013 81 atau ekivalen.
b.

c.

d.

Mutu semen yang memenuhi syarat dan dapat dipakai adalah Semen
Tiga Roda atau yang setaraf serta memenuhi persyaratan
NI 8.
Pemilihan salah satu merk semen adalah mengikat dan dipakai untuk
seluruh pekerjaan.
Penyimpanan semen sebelum digunakan harus terlindung dari
pengaruh cuaca sepanjang waktu dan perletakannya harus terangkat
dari lantai untuk menghindarkan kelembaban.
Semen harus dipakai menurut urut-urutan, kronologis sesuai dengan
jadwal kedatangannya dan semen yang menghindarkan tidak boleh
dipakai.

- Tempat Penyimpanan
a. Kontraktor harus menyediakan tempat penyimpanan yang sesuai
untuk semen, setiap saat harus terlindung dari kelembaban udara
dan harus dengan mudah bisa diambil pada waktu pelaksanaan
pekerjaan.
b. Gudang penyimpanan harus berlantai kuat, dibuat dengan jarak
minimal 30 cm dari tanah. Ukuran gudang harus cukup besar
sehingga dapat memuat semen dalam jumlah yang banyak dan
dengan demikian dapat mencegah kemacetan pekerjaan dan
kelembaban udara yang tinggi.
c. Gudang harus mempunyai ruang lantai yang cukup untuk menyimpan
tiap muatan truk semen secara terpisah-pisah dan memberi jalan
yang mudah untuk pengambilan contoh, penghitungan zak-zak dan
pemindahannya. Hendaknya semen dalam zak jangan ditumpuk
lebih tinggi dari 2 meter.
2.

Pasir dan Kerikil


Persentase satuan Timbangan tertingi
di saringan
4
0 15
8
6 15
16
10 25
30
10 30
50
15 35
100
12 20
Pan
37
Pengangkutan dan Penyimpanan
Saringan No.

a.

b.

Kontraktor harus mengangkut, membongkar, mengerjakan dan


menimbun semua pasir. Segala cara yang dilaksanakan oleh
Kontraktor untuk membongkar, membuat dan mengerjakan serta
menimbun pasir dan kerikil harus mendapat persetujuan dari Direksi.
Kontraktor diminta untuk menanggung sendiri biaya untuk
pengolahan kembali pasir dan kerikil yang kotor karena timbunan
yang tidak sempurna.

- Timbunan pasir harus dibersihkan oleh Kontraktor dari semua tumbuhantumbuhan dan dari bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki. Apabila
pasir atau kerikil mengandung bahan-bahan yang bisa merusak beton,
maka pasir atau kerikil tersebut harus disingkirkan dari lapangan (tida
boleh dipakai).

- Pasir harus bersih dan bebas dari gumpalan tanah liat, gumpalangumpalan kecil dan lunak dari tanah liat, mika dan hal hal yang
merugikan dari subsatnsi yang merusak. Jumlah prosentase dari segala
macam substansi yang merugikan, beratnya tidak boleh lebh dari 5 %
berta semen.

- Pasir harus mempunyai modulus kehalusan butir antara 2 32 atau jika


diselidiki dengan standard Indonesia untuk beton (PBI 1971), adalah
sebagai berikut :
Jika persentase satuan tertinggi dalam saringan No. 16 adalah 20 % atau
kurang, maka batas maksimum untuk persentase satuan dalam saringan
dalam saringan No. 8 dapat naik sampai 20 %.
- Agregat kasar (kerikil) harus didapat dari sumber yang telah disetujui.
Berupa batu pecah ang diperoleh dari pemecahan batu (batu split),
dengan bentuk kasar dan padat.
- Kebersihan dan Mutu
Agregat kasar harus bersih dan bebas dari bagian-bagian yang halus,
mudah pecah, tipis atau yang panjang-panjang, bersih dari alkali, bahanbahan organis atau dari substansi yang merusak dalam jumlah yang
merugikan pula. Besarnya persentase dari semua substansi yang merusak
dalam jumlah berapa pun tidak beloh lebih dari 3 % dalam beratnya.
Agregat kasar harus berbentuk persegi, tidak tipis, keras, padat dan kekal
serta tidak tidak berpori. Apabila kadar Lumpur melampaui 1 %, maka
agregat kasar harus dicuci.
- Gradasi
Agregat kasar harus bergradasi baik, dengan ukuran butir berada antara 5
mm sampai 25 mm dan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Sisa diatas ayakan 31,5 mm harus 0 % berat.
b. Sisa diatas ayakan 4 mm harus berkisar antara 90 98 % berat.
c. Selisih antara sisa-sisa kumulatif diatas dua ayakan yang berurutan,
adalah maksimum 60 % dari minimum 10 % berat.
Selain hal-hal yang tersebut diatas, ketentuan yang terdapat dalam NI 2
(PBI 1971) juga mengikat. Agregat kasar harus sesuai dengan spesifikasi
ini dan jika diperiksa oleh Direksi, ternyata tidak sesuai, maka Kontraktor
harus menyaring atau mengolah kembali bahannya atas beban Kontraktor
sendiri sampai disetujui oleh Direksi.
3.

Air
Air yang dipakai untuk semua pekerjaan beton, spesimortel dan spesi injeksi
harus bebas dari Lumpur, minyak asam, bahan organic, garam dan kotoran
lainnya dalam jumlah yang dapat merusak. Air tersebut harus diuji di
Laboratorium pengujian yang ditetapkan oleh Direksi untuk menetapkan
sesuai tidaknya dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam PBI
1971.

10

4.

Baja Tulangan
-

6.2.5

Bahan /material dan ukuran batang.


Semua baja tulangan beton harus baru dan dari mutu dan ukuran yang
sesuai dengan standard Indonesia untuk Beton NI 2, PBI 1971 atau
standard lain seperti JIS, ASTM atau BS.
Baja tulangan beton sebelum dipasang, harus bersih dari serpih-serpih,
karat, minyak, gemuk dan lapisan yang dapat merusak atau mengurangi
daya lekat di dalam beton. Baja tulangan beton harus dibengkok/
dibentuk dengan teliti sesuai dengan bentuk dan ukuran yang tertera
pada gambar-gambar konstruksi. Baja tulangan beton tidak boleh
diluruskan atau dibengkokkan kembali lebih dari sekali dan tidak boleh
dilakukan dengan cara yang dapat merusak bahannya. Batang dengan
bengkokkan yang tidak ditunjukkan dalam gambar tidak boleh dipakai.
Semua pembengkokkan batang harus dilaksanakan dalam keadaan
dingin.

Persyaratan Pelaksanaan
1.

Umum
- Kontraktor harus membuat mix design dengan trial mix untuk bahan yang
akan digunakan dalam campuran beton, dan kemudian dipakai sebagai
pedoman pelaksanaan.
- Pekerjaan beton bertulang yang dimaksud harus dilaksanakan sesuai
dengan gambar pelaksanaan baik mengenai ukuran, penulangan maupun
bentuknya.
- Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor harus mempelajari dengan
seksama gambar-gambar pelaksanaan berikut detail-detail untuk itu serta
Lokasi/ penempatannya didalam tapak maupun bangunan.
- Pembuatan cetakan beton (bekisting) yang menyangkut detail prinsip
harus dibuat shopdrawing untuk dimintakan persetujuan Direksi.
- Bagian konstruksi yang dikehendaki kedap air antara lain pada plat selasar
/balkon dan pada daerah basah, minimal harus memakai adukan/
campuran beton K100 tanpa mengurangi persyaratan mutu beton K
175. Bagian-bagian ini harus dilaksanakan secara terus menerus tanpa
putus sampai meliputi satu bagian penuh. Kalau terpaksa harus diadakan
penghentian pengecoran oleh suatu sebab teknis pelaksanaan yang tidak
memungkinkan hal tersebut, maka Kontraktor harus merencanakan
penghentian tersebut dengan memasang waterstop PVC.
- Besi beton harus dipasang dengan teliti sesuai dengan gambar rencana.
Dalam segala hal, besi beton yang horizontal harus ditunjang dengan
tepat memakai beton decking sehingga tidak akan ada batang yang turun.
Beton decking tersebut diatas harus dengan mutu lebih dari beton yang
dipakai untuk pengecoran.

11

- Selimut beton yang dipakai adalah :


a. Untuk kolom = 30 mm
b. Untuk balok = 25 mm
c. Untuk Pelat = 15 mm
2.

Pengujian dari Konstruksi Beton dan Benda-benda Uji Beton


- Banyak air yang dipakai untuk beton harus diatur menurut keperluan
untuk menjamin beton dengan konsistensi yang baik dan untuk
menyesuaikan kandungan lembab atau gradasi agregat waktu dimasukkan
ke dalam mesin pengaduk (mixer). Penambahan air untuk mencairkan
kembali beton padat hasil pengadukan yang terlalu lama atau yang
menjadi kering sebelum dipasang tidak diperkenankan sama sekali.
Keseragaman konsistensi beton untuk setiap kali pengadukan sanga perlu.
Nilai slump dari beton (pengujian kerucut slump) tidak boleh kurang dari
8 cm dan tidak boleh lebih dari 12 cm untuk segala pengerjaan beton.
Semua pengujian harus sesuai dengan NI 2, PBI 1991. Direksi berhak
untuk menuntut nilai menghasilkan beton berkualitas lebih tinggi atau
alas dan alasan penghematan.

- Kekuatan tekan beton harus ditetapkan oleh Direksi melalui pengujian


beton dengan silinder berukuran 15 x 15 x 15 cm atau kubus 20 x 20 x 20
cm. Cara pembuatan, pengujian dan jumlah sample harus sesuai dengan
NI - 2, PBI 1971. Pengujian slump akan diadakan oleh Direksi sesuai
dengan PBI 1991 dan Kontraktor harus menyediakan fasilitas untuk
pelaksanaan pengetasan tersebut. Frekwensi pengetesan ditetapkan oleh
Direksi berdasarkan tingkat pengecoran dan struktur, tetapi lebih sering
daripada yang diperlukan untuk mendapatkan kepastian bahwa beton
yang dipasang adalah sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan-ketentuan
perencanaan.
3.

Pengadukan Spesi Beton.


Pengadukan beton pada mixer dimulai dari pengadukan semen dan air (air
semen) sampai homogin dengan perbandingan jumlah air dan jumlah semen
sesuai jenis spesi yang diisyaratkan. Setelah homogin, baru dapat dicampuri
pasir dan kerikil, aduk selama minimal 2 menit atau sampai homogin baru
dapat digelar.
Waktu pengadukan ditambah bila mesin pengaduk
berkapasitas lebih besar dari 1,5 m3.

4.

Suhu
Suhu beton sewaktu dicor/ dituang tidak boleh lebih dari 32 derajat dan tidak
boleh kurang dari 4,5 derajat Celcius. Bila suhu dari beton yan ditaruh
berada antara 27 derajat dan 32 derajat Celcius, beton harus diaduk
ditempat pekerjaan untuk kemudian langsung dicor. Bila beton dicor pada
waktu iklim sedemikian rupa sehingga dari beton melebihi 32 derajat Celcius
sebagai yang ditetapkan oleh Direksi, Kontraktor harus mengambil langkah-

12

langkah ang efektif, umpamanya mendinginkan agregat, mencampur air dan


mengecor pada malam hari, bila perlu, mempertahankan pengecoran beton
pada suhu dibawah 32 derajat Celcius.
5.

Konstruksi Cetakan
Cetakan untuk balok, pelat, kolom dan bagian konstruksi lain dibuat dari
papan terentang t = 30 mm dan diperkuat dengan kaso secukupnya
sehingga menghasilkan beton yang lurus, rata sesuai dengan gambar
dan tidak menggelembung. Untuk stud-stud balok dan plat harus dibuat
dari Bambu yang terbaik di pasaran, atau bahan lain yang memenuhi
syarat.
Semua cetakan harus betul-betul teliti dan aman pada kedudukannya
sehingga dapat dicegah pengembangan atau gerakan lain selama
penuangan beton. Penyangga cetakan (steiger) harus bertumpu pada
pondasi ( Telapak ) yang baik, sehingga tidak memungkinkan terjadinya
penurunan cetakan selama masa pelaksanaan.

6.

Pengangkutan Beton
Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus
sedemikian rupa sehingga beton dengan komposisi dan kekentalan yang
diinginkan dapat dibawa ke tempat pekerjaan, tanpa adanya pemisahan dan
kehilangan bahan yang menyebabkan perubahan nilai slump.

7.

Pengecoran
- Beton tidak boleh dicor sebelum semua pekerjaan cetakan, ukuran dan
letak baja tulangan sesuai dengan gambar pelaksanaan, pemasangan
instalasi-instalasi yang harus ditanam, besi penggantung plafond sesuai
pola kerangka langit-langit, penyokong dan pengikatan serta hal-hal lain
yang perlu selesai dikerjakan. Pengecoran baru boleh dimulai setelah
permukaan-permukaan yang berhubungan dengan pengcoran tersebut
telah dilihat dan disetujui oleh Direksi. Semua permukaan cetakan yang
dilekati spesi (mortel), adukan beton dan kotoran-kotoran lain harus
dibersihkan sebelum pengecoran dimulai /dilanjutkan.
-

Segera sebelum pengecoran beton, semua permukaan pada tempat


pengecoran beton (cetakan) harus bersih dari air ang tergenang,
reruntuhan atau bahan lepas lainnya. Permukaan-permukaan bekisting
dengan bahan-bahan yang menyerap pada tempat-tempat yang akan
dicor, harus dibasahi dengan merata sehingga kelembaban/ air dari
beton yang baru dicor tidak akan diserap.
Permukaan-permukaan beton yang telah dicor lebih dahulu, dimana
akan dicor beton baru, permukaan tersebut harus bersih dan lembab
ketika dicor dengan beton baru. Pada sambungan pengecoran ini harus
dipakai perekat beton yang disetujui oleh Direksi.
Perlu diperhatikan letak/jarak/sudut untuk setiap penghentian
pengecoran yang masih akan berlanjut, terhadap system struktur/
penulangan yang ada.

13

Beton boleh dicor hanya bila Direksi atau wakilnya yang ditunjuk serta
Pengawas Kontraktor yang ahli ada di tempat kerja, dan persiapan betulbetul telah memadai.

Pengecoran beton tidak boleh dijatuhkan lebih tinggi dari 2 meter.

Pengecoran beton tidak diperkenankan selama hujan deras atau lama,


sedemikian rupa sehingga spesi/ mortel terpisah kemudian terhampar
harus dibuang dan diganti sebelum pekerjaan dilanjutkan. Suatu
pengecoran yang telah dimulai pada suatu bagian bangunan tidak boleh
terputus sebelum bagian tersebut selesai.

Ember-ember/bucket beton yang dipakai harus sanggup menuang


dengan tepat pada slump yang rendah dan memenuhi syarat-syarat
campuran. Ember beton harus mudah untuk diangkut/ diletakkan
dengan alat-alat Bantu lainnya, terutama pada lokasi-lokasi yang sulit.

Setiap lapisan beton harus dipadatkan sampai sepadat mungkin,


sehingga ia bebas dari kantong-kantong kerikil, dan menutup rapatrapat pada semua permukaan cetakan. Pada pemadatan setiap lapisan
beton, kepala alat penggentar (vibrator) harus dapat menembus dan
menggetarkan kembali beton bagian atas lapisan yang terletak di bawah
lapisan beton yang baru dicor. Lamanya penggetaran tidak boleh
menyebabkan terpisahnya bahan beton dengan airnya.

8.

Waktu dan Cara-cara Pembukaan Cetakan


- Waktu dan cara pembukaan serta pemindahan cetakan harus mengikuti
petunjuk Direksi dan pekerjaan ini harus dikerjakan dengan hati-hati
untuk menghindarkan kerusakan beton. Beton yang masih muda tidak
diijinkan untuk dibebani. Segera setelah cetakan-cetakan dibuang,
permukaan beton harus diperiksa dengan hati-hati dan permukaanpermukaan yang tidak beraturan harus segera diperbaiki sampai disetujui
Direksi.
- Umumnya diperlukan waktu minimum 21 hari sebelum cetakan-cetakan
dibuka untuk balok-balok, pelat lantai, tangga bordes, kolom dan
sebagainya.

9.

Perawatan (Curing )
- Semua beton harus dirawat (cured) denga air seperti yang ditentukan di
bawah ini. Direksi berhak menentukan cara perawatan bagaimana yang
harus digunakan pada bagian-bagian pekerjaan.
- Beton yang dirawat (cured) dengan air harus tetap basah paling sedikit 14
hari terus menerus dengan cara menutupnya memakai bahan-bahan yang
dibasahi. Air yang digunakan dalam perawatan (curing) harus memenuhi
spesifikasi air untuk campuran beton, perawatan dilakukan terutama pada
pekerjaan lantai/ dak beton, lebih khusus lagi pada bagian yang terkena
sinar matahari langsung.

14

10. Perlindungan (Protection)


Jika pada pembukaan cetakan terdapat beton yang tidak tercetak menurut
gambar atau diluar garis permukaan atau ternyata ada permukaan yang
rusak, hal ini dianggap tidak sesuai dengan spesifikasi ini dan harus dibuang
serta diganti oleh Kotraktor atas bebannya sendiri kecuali bila Direksi
memberikan ijin untuk menambal tempat yang rusak.
6.2.6

Persyaratan Pelaksanaan Beton Tumbuk/ Rabat Beton


1.
2.

3.
4.

Pelaksanaan beton tumbuk seperti tercantum dalam gambar harus


memenuhi syarat campuran beton K-125.
Di bawah beton tumbuk ini harus diberi pasir urug yang dipadatkan,
dihamparkan di atas tanah yang telah dipadatkan sesuai dengan persyaratan
pemadatan.
Pola dan Lokasi sesuai dengan gambar pelaksanaan dan detail-detail yang
ada.
Sebelum pengecoran dimulai, tempat-tempat yang akan dicor harus
dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran-kotoran dan material-material yang
dapat mengakibatkan berkurangnya kekuatan beton.

Pasal 7
PEKERJAAN PASANGAN BATU BATA

7.1 Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang dimaksud meliputi dan tidak terbatas pada :
a. Pasangan Pondasi dinding bata 1: 5 camp 1PC : 5PP
b. Pasangan dinding bata 1 bata exposed 1PC:5PP
c. Pasangan dinding bata bata exposed 1PC:5PP
b. Dan/atau seperti tercantum dalam gambar kerja
7.2 Persyaratan pelaksanaan
a. Sebelum pemasangan, batu bata harus direndam dalam air bersih sehingga jenuh.
Pada saat diletakan tidak boleh ada genangan air diatas permukaan batu bata
tersebut. Pemasangan harus rapi sehingga terdapat sisi sisi (veog) yang dikeruk
sedalam 1 cm kemudian diplester, setelah pasangan mengering kira 2-3 hari
kemudian.
b. Adukan perekat/spesi
c. Adukan perekat pasangan batu bata adalah 1 Pc : 5 Pp untuk :
1. Pondasi pasangan batu bata
2. Dinding pasangan batu bata 1PC : 5 pasir exposed dan peil 0,00 sehingga ke
permukaan sloof. Dari peil setempat hingga setinggi 150 cm pada ruang-ruang
daerah basah dan semua dinding pasangan batu bata yang disyaratkan kedap air
seperti tercantum dalam gambar kerja.
3. Dinding pasangan batu bata yang langsung berhubungan dengan luar.

15

d.
e.

f.
g.

h.
i.

j.

Dinding bata lainnya setebal 1/2 bata dengan adukan campuran 1Pc : 5 Pasir
exposed. dengan ukuran sesuai gambar (PBI 71) dan petunjuk Pengawas.
Untuk semua pasangan batu bata, dipakai perekat/spesi campuran 1Pc : 5 pasir
exposed terkecuali yang disyaratkan kedap air seperti tercantum dalam gambar
kerja.
Adukan perekat/spesi harus diusahakan agar selalu segar atau belum mengeras pada
waktu pemakaian.
Pemasangan harus sedemikian rupa sehingga ketebalan adukan perekat/spesi harus
sama 1 cm kemudian disiram air dan siap menerima plesteran, semua pertemuan
horizontal dan vertikal harus terisi dengan baik dan penuh.
Pelaksanaan pemasangan batu bata harus rapi, sama tebal, lurus, tegak dan pola
ikatan harus terjaga baik diseluruh pekerjaan.
Pengukuran dengan tiang lot, harus diukur tepat untuk permukaan yang datar, batas
toleransi pelengkungan atau pencembungan bidang tidak boleh melebihi 5 mm untuk
setiap jarak 2 m vertikal dan horizontal. Jika melebihi, Kontraktor harus
membongkar/memperbaiki. Biaya untuk pekerjaan ini ditanggung oleh Kontraktor
tidak dapat diklaim sebagai pekerjaan tambah.
Pelaksanaan pasangan batu bata yang dipakai harus berkualitas baik masak
pembakarannya dan sama ukuran tebal, lebar dan panjangnya.

Pasal 8
PEKERJAAN PLESTERAN DAN ACIAN
8.1 Pekerjaan yang dimaksud meliputi :
a. Pasangan bata
b. Pasangan Acian
c. Plesteran halus/aci halus
d. Plesteran skoneng
Dan/atau seperti ketentuan dalam gambar kerja.
Pekerjaan plesteran ini untuk semua permukaan pasangan batu bata serta
permukaan beton yang terlihat, dinyatakan tampak ataupun yang diperlukan untuk
difinis.
8.2 Persyaratan Pelaksanaan
a. Campuran plesteran yang dimaksud adalah campuran dalam volume cara
pembuatannya menggunakan Mixer selama 3 menit.
b. Plesteran adalah campuran 1Pc : 5Ps .
c. Adukan plesteran ini untuk menutup semua permukaan dinding pasangan batu bata
pada bagian dalam bangunan terkecuali yang dinyatakan kedap air (trasraam) seperti
tercantum dalam gambar kerja.
e. Adukan plesteran ini untuk menutup semua permukaan dinding pasangan batu bata
bagian luar/tepi luar bangunan serta untuk pasangan batu belah drainase, semua
bagian dan keseluruhan permukaan dinding pasangan batu bata seperti tercantum
dalam gambar kerja.
f. Plesteran acian halus adalah campuran PC dengan air yang dibuat sedemikian rupa
sehingga mendapatkan campuran yang homogen.

16

g.
h
i.

j.

Plesteran halus ini adalah pekerjaan finishing yang dilaksanakan setelah adukan
plesteran sebagai lapisan dasar berumur 7 (tujuh) hari (sudah kering benar).
Semua jenis adukan plesteran tersebut diatas harus disiapkan sedemikian rupa
sehingga selalu segar, belum mengering pada waktu pelaksanaan pemasangan.
Permukaan semua plesteran harus diratakan. Permukaan plesteran tersebut
khususnya plesteran halus harus rata tidak bergelombang penuh dan padat, tidak
berongga serta berlubang tidak mengandung kerikil ataupun benda-benda lain yang
membuat cacat.
Pengawas/Pelaksana harus memberikan perhatian penuh terhadap pengendalian
pengawasan dan ketelitian terhadap kesempurnaan pekerjaan ini. Bidang-bidang
plesteran yang tidak rata, tidak melekat pada tembok, miring, retak atau cacat harus
diulangi. Demikian juga dengan sudut pertemuan, alur-alur atau tali air dan
penyelesaian lain yang tidak siku atau tidak lurus sebagaimana seharusnya menurut
gambar harus diulangi/ diperbaiki hingga memuaskan Direksi dan seluruh biaya
pengulangan/perbaikan tetap menjadi beban Pemborong. Bidang-bidang beton yang
harus diselesaikan dengan plesteran harus dipahat kasar dahulu sebelum disiram air
semen dan diplester. Semua plesteran diratakan dengan acian, diplamur dan digosok
hingga halus sebelum diberi cat dasar. Pasir yang dipakai untuk plesteran harus
disaring/ diayak hingga cukup halus.

Pasal 9
PEKERJAAN PENGECATAN
9.1 LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini mencakup pengadaan semua peralatan, tenaga kerja dan bahanbahan yang berhubungan dengan pekerjaan plafond dan pengecatan selengkapnya,
pekerjaan yang harus di laksanakan :
-

Pekerjaan Pengecatan Genteng


Pekerjaan Pengecatan Kayu
sesuai dengan Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.

9.2 UMUM
9.2.1

Cat harus dalam kaleng/kemasan yang masih tertutup patri/segel, dan masih
jelas menunjukan nama/merek dagang, nomor formula atau spesifikasi cat,
nomor takaran pabrik, warna, tanggal pembuatan pabrik, petunjuk dari pabrik
dan nama pabrik pembuat yang kesemuanya harus masih absah pada saat
pemakaiannya. Semua bahan harus sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan
pada daftar cat.

9.2.2

Cat dasar yang dipakai dalam pekerjaan ini harus berasal dari satu pabrik/merek
dagang dengan cat akhir yang akan digunakan.

17

9.2.3

Untuk menetapkan suatu standar kualitas, disyaratkan bahwa semua cat yang
dipakai harus berdasarkan/mengambil acuan pada cat-cat hasil produksi
ICI/Danapaint, atau yang setara.

9.3 PENGECATAN GENTENG


9.3.1

Pengecatan dilaksanakan pada semua genteng baru dan lama yang tidak
dilindungi bahan lain.

9.3.2

Cat yang digunakan terlebih dahulu diperlihatkan kepada Direksi untuk


mendapat persetujuan baik merk maupun warnanya.

9.3.3

Semua genteng yang akan di cat harus dari jenis yang sama dari cat tembok.
Pekerjaan cat dapat dilaksanakan setelah mendapat ijin dari Direksi/ konsultan
Pengawas.

9.3.4

Pengecatan dilakukan minimal 3 kali dengan kuas hingga rata.

9.3.5

Semua pekerjaan cat yang tidak rata, belang, pecah pecah serta masih tipis
harus diulang/ di perbaiki atas biaya penyedia jasa.

9.5 PENGECATAN KAYU


9.5.1

Cat kayu dilakukan pada pekerjaan kayu dan bilik bambu yang akan dicat dan
juga bagian-bagian yang akan menempel pada dinding pasangan dan
sambungan.

9.5.2

Khusus untuk pekerjaan kayu cat yg digunakan adalah cat plitur water base,
untuk pekerjaan bilik bambu menggunakan cat vernis dan harus seijin Direksi
setelah Direksi memeriksa kualitas/keadaan pekerjaan kayu tersebut.

9.5.3

Pengecatan terakhir baru dilakukan setelah semua pekerjaan sebelumnya benarbenar kering dan mendapat persetujuan Direksi.

9.5.4

Pengecatan harus dilakukan lapis demi lapis dengan cat yang tidak terlalu kental
pada waktu udara kering setiap lapisan sebelumnya benar-benar kering sehingga
tidak akan terjadi pecah-pecah dikemudian hari.

18

Pasal 10
Pekerjaan Kayu
10.1

Lingkup pekerjaan

Lingkup pekerjaan ini meliputi :


o Pekerjaan rangka kuda kuda dan rangka atap.
Pekerjaan konstruksi kuda kuda dan rangka atap, terdiri dari : gording, Rangka atap
(kaso & reng), papan lisplank, dan segala sesuatu yang termasuk pekerjaan ini .
o

Pekerjaan rangka plafond.

Pekerjaan kusen, daun pintu panel, dan rangka daun jendela kaca, dan segala sesuatu
yang termasuk pekerjaan ini .

10.2
Persyaratan bahan
o Semua kayu yang dipakai harus kering, berumur tua, lurus dan tidak retak, tidak bengkok,
serta mempunyai derajat kelembaban kurang dari 15% dan memenuhi persyaratan yang
tercantum dalam PKKI - 1961 - NI. 5.
o

Semua kayu yang dipakai untuk gording, Rangka atap harus terlebih dahulu diresidu/
solignum/ meni, diawetkan sesuai dengan kebutuhan

Sebelum kayu dipesan untuk dikerjakan, terlebih dahulu Penyedia Jasa harus mengajukan
contoh kepada Direksi/ Konsultan Pengawas untuk mendapat persetujuan.

10.3

Pekerjaan konstruksi atap

Kayu yang digunakan untuk konstruksi kuda-kuda, gording, meggunakan Kayu Lokal Kelas
II exposed ( Sesuai RAB )

Kayu yang digunakan untuk Rangka atap ( kaso, reng ) menggunakan Kayu Lokal Kelas II
exposed (sesuai RAB)

Kayu yang di gunakan untuk lisplang menggunakan Kayu Lokal Kelas II.

dengan ukuran sesuai dengan yang tercantum dalam gambar kerja, Semua ukuran kayu
tersebut adalah ukuran jadi.
Pelaksanaan pekerjaan
o

Semua pekerjaan kayu yang tampak harus diserut rata dan licin hingga
memberikan penyelesaian yang baik, dan sedikit penghalusan .

Pemasangan sambungan gording harus diletakan pada jarak x bentang dari


tumpuan dan tiap sambungan harus diperkuat dengan plat besi/ diklem. Besi plat
# 40. 40. 4 harus dipasang pada kaki kuda-kuda antara balok tarik dan tekan.

19

Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar kerja. Tumpuan kuda-kuda harus
diikatkan pada besi kolom dengan menekuk besi tersebut pada balok tarik .
Kaso-kaso dan reng dipasang dengan jarak sesuai gambar kerja, harus waterpass
menurut kemiringan atap. Khusus pekerjaan skoor overstek, baut pengikat kayu
harus dicor/ ditanamkan pada kolom atau pada dinding sesuai dengan letak
skoor overstek tersebut. Penanaman dilakukan pada waktu pengecoran.

Semua permukaan kayu yang tampak harus diserut rata dan licin. Setiap
sambungan konstruksi atap agar diperhatikan adanya pen/ joint yang berfungsi
sebagai pengunci .

Pekerjaan kayu yang tidak rata, melentur, bengkok, harus dibongkar dan
diperbaiki atas biaya Penyedia Jasa.

10.4

Pekerjaan kusen pintu, dan jendela


-

Kayu yang dipakai untuk seluruh pekerjaan kusen pintu, kusen jendela, daun pintu
panel, rangka daun jendela kaca adalah kayu Lokal Kelas II (sesuai RAB) dengan
ukuran yang tercantum dalam gambar adalah ukuran jadi. Untuk kayu kusen
ukuran 5/14 cm.

Penyambungan pada sudut kusen, daun pintu/ jendela, list kaca dengan tiang
kusen harus betul-betul rapih, tegak lurus, dan tidak terdapat celah .

Pekerjaan kusen yang berhubungan dengan dinding bata, kolom, setiap sisinya
harus dipasang besi angker diameter 6 mm sesuai gambar. Alur-alur air harus
diberikan pada permukaan kusen yang berhubungan dengan dinding/ kolom lebar
alur 0.5 cm bagian luar dan bagian dalam.

10.5
Daun pintu dan jendela
Papan harus diserut rata. Kayu yang dipakai untuk seluruh pekerjaan rangka daun pintu
dan rangka daun jendela adalah kayu lokal kelas II, harus betul-betul kaku, lurus, kokoh,
dan rata agar dapat dengan mudah ditutup/ dibuka.
Penyambungan panel pintu dan jendela harus menggunakan pasak sesuai kebutuhan.
Pekerjaan kayu yang tidak rapih, kasar, bengkok, retak dan tidak menggunakan bahan
yang telah ditentukan harus dibongkar dan diganti atas biaya Penyedia Jasa.

20

Pasal 11
PEKERJAAN ATAP
11.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan-bahan, tenaga ahli / terampil dan alat-alat kerja
dalam hubungannya dengan gambar dan spesifikasi. Termasuk dalam pekerjaan ini
adalah pekerjaan fabrikasi, menyetel atau memasang, menyambung dan lain-lain.
Pekerjaan yang diperlukan untuk membuat dan memasang penutup atap.
11.2 Konstruksi atap
Dilaksanakan untuk konstruksi atap. Persyaratan bahan maupun persyaratan pelaksanaan
seperti diuraikan dalam pasal Pekerjaan Kayu. Ukuran dan cara pemasangan pada
pekerjaan kuda-kuda dinyatakan dalam gambar rencana dan detail sesuai perhitungan
yang di keluarkan pihak produsen.
11.3 Penutup Atap
Penutup atap yang dipakai : Adalah Genteng Palentong dan Bubung Palentong.
Penutup Atap yang cacat, retak atau tidak sesuai bentuk harus segera dipisahkan dan
disingkirkan. Direksi berhak menolak pasangan atap yang tidak rapi/ memuaskan.
Pemasangan penutup atap harus saling menutup dan pemasangan harus dilakukan rapi.
Bubungan yang di gunakan adalah nok genting biasa, Bubungan harus dipasang dengan
rapih dan benar. Pemasangan, jarak antara penutup atap dan lain-lain harus sesuai
dengan spesifikasi teknis. Sebelum pelaksanaan Kontraktor harus menyerahkan contoh
genteng dan nok untuk mendapatkan persetujuan Direksi Pengawas.

Syarat bahan dan pelaksanaan :


Kontraktor wajib mengacu kepada gambar kerja dan aturan-aturan pemasangan yang
tedapat dalam brosur yang dikeluarkan oleh pabrik. Kontraktor wajib menyediakan
bahan-bahan yang sama dengan yang dipasang untuk persediaan. Adapun jumlahnya
sebanyak 2% (dua persen) dari jumlah yang terpasang dan diserahkan kepada Pemberi
Tugas atau Pengelola Proyek yang bersangkutan.

21

Pasal 12
PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG
12.1 LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan dan pemasangan semua alat penggantung dan bahan
stenlist, sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.

I.

Alat Penggantung
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kunci Tanam Tanpa Handel


Kunci Tanam 2 Slagg + Handel
Handel Pintu
Engsel Pintu, Jendela
Kunci Slot Jendela
Hak Angin

12.2 PELAKSANAAN PEKERJAAN


12.2.1 Umum
a.
Pemasangan semua alat penggantung dan pengunci harus sesuai dengan
persyaratan serta sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuat. Semua peralatan
tersebut harus terpasang dengan kokoh dan rapih pada tempatnya, untuk
menjamin kekuatan serta kesempurnaan fungsinya.
b.
Setiap daun jendela dipasangkan ke kusen dengan menggunakan dua buah engsel
dan setiap daun jendela harus dilengkapi dengan Sloot dan hak angin kait.
c.
Semua pintu dipasangkan ke kusen dengan menggunakan tiga buah engsel. Kecuali
kamar mandi.
12.2.2 Pemasangan kunci Pintu
a. Kunci pintu dipasang pada ketinggian 100 cm dari lantai.
b. Pemasangan engsel atas berjarak maksimal 28 cm dari tepi atas daun pintu dan
engsel bawah berjarak maksimal 33 cm dari tepi bawah daun pintu, sedang engsel
tengah dipasang diantara kedua engsel tersebut.
12.2.3 Pemasangan Jendela
Daun jendela dipasang ke kusen dengan menggunakan engsel casement, dengan
cara pemasangan sesuai petunjuk dari pabrik pembuatnya.
Penempatan engsel harus sesuai dengan arah bukaan jendela yang diinginkan
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

22

Pasal 13
Pekerjaan Kaca
o

Kecuali ditentukan lain semua kaca yang digunakan harus berkualitas baik, bening, tidak
cacat, tidak bergelembung, serta dapat menahan angin.

Penggunaan kaca adalah kaca polos bening 5 mm atau sesuai gambar.

Pemasangan kaca harus tepat masuk ke dalam rangkanya. Setiap pemasangan kaca harus
diberi list, dempul, dan difinish rapih dan tidak menimbulkan bunyi bila tertiup angin.

Kaca dipasang sedemikian rupa sehingga tidak bocor, tertanam rapih dan kokoh. Kaca
telah terpasang harus dibersihkan dari cat dan kotoran lainnya, kaca yang retak, pecah
dan ada goresan harus diganti atas biaya Penyedia Jasa.

Pasal 14
PEKERJAAN ELEKTRIKAL
14.1

LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini meliputi :


-

14.2

Pengadaan peralatan dan bahan serta,


Pemasangan instalasi berikut penyerahan sistem elektrikal dalam keadaan baik dan siap
untuk dipergunakan.
PERSYARATAN UMUM

a. Pemasangan Instalasi Listrik harus dilakukan oleh Instalatur yang ahli dan mendapat
pengesahan dari PLN daerah setempat secara tertulis dan disetujui Direksi. Meskipun
demikian pemborong tetap bertanggung jawab penuh atas penyempurnaan pekerjaan.
b. Semua alat-alat dilengkapi instalasi memakai merk setara broco buatan atau yang
sekualitas.
c. Semua titik lampu dikerjakan sampai dengan armature berikut lampu-lampu sesuai
dengan besarnya watt tertera pada gambar rencana/ petunjuk Direksi.
d. Semua saluran tarikan kabel ke bawah memakai pipa ditanam kedalam tembok
sedangkan jika terpaksa kelihatan harus dicat sesuai dengan warna bidang pipa itu
berada.
e. Semua bongkaran/ pengulangan akibat ditolaknya pekerjaan oleh PLN atau Direksi
sepenuhnya tanggung jawab Pemborong.
f. Pada saat penyerahan pertama pemborong wajib memperlihatkan bahwa instalasi yang
telah dipasang dalam keadaan memuaskan.

23

14.3

KABEL DAN LAMPU

a. Ukuran kabel daya, penerangan dan harus kontrol yang dipasang dalam konduit dalam
pengoperasiannya dengan tegangan 600 V harus digunakan kabel NYY atau NYM
sekualitas SNI. Penampang kabel minimal 2,5 mm2, kecuali bila ditentukan lain dalam
Gambar Kerja.
b. Kecuali ditentukan lain, standar warna kabel yang digunakan adalah sebagai gerikut :
- Netral
- Ground
- Fasa

: Biru
: Hijau-Kuning
: Merah, Hitam, Kuning

c. Alat penyambung dan/atau terminasi kabel harus dari merek yang dikenal seperti 3M
atau Raychem dan dari jenis yang sesuai dengan tipe kabel yang akan disambung atau
diterminasi.
d. Lampu
Lampu yang di gunakan adalah :
RMI 36 Watt, SL 8 Watt, Lampu Baret
e.
f.
g.
h.

Stop kontak
Saklar Tunggal
Saklar Ganda
BP Listrik 1300 VA

Pasal 15
Pekerjaan Lantai
15.1

Lingkup pekerjaan
Yang termasuk dalam pekerjaan ini, adalah :
- Keramik lantai uk. 30 x 30 cm polos
- Keramik lantai uk. 30 x 30 cm anti slip
- Keramik lantai uk. 20 x 20 cm anti slip
- Keramik lantai uk. 30 x 30 cm border warna
- Rabat beton tumbuk.
- Pasangan Kanstenn.
- Pasangan Glass Block
- Pasangan Paving Block
Dan yang termasuk pada pekerjaan ini.

15.2

Bahan/ material
-

Bahan keramik dari KW 1 tidak retak, rata, siku dan mempunyai warna, serta nomor seri
yang sama untuk pekerjaan yang sejenis. Pemakaian satu produk adalah mengikat,
kecuali bila dinyatakan lain oleh pengawas/perencana.

24

15.3

15.4

Sebelum dilaksanakan pemasangan bahan Penyedia Jasa harus mengajukan contoh


terlebih dahulu untuk mendapat persetujuan dari Direksi/ Konsultan Pengawas.
Adukan

Adukan dengan perbandingan 1pc : 5ps dipakai untuk pemasangan lantai keramik
dengan tebal adukan minimal 3 cm.

Adukan untuk rabat beton tumbuk adalah campuran beton K125.

Nut lantai keramik, maksimal 3 ( tiga ) mm, dan untuk penutupnya harus digunakan
penutup nut sekualitas AM.
Pelaksanaan pekerjaan

Pemasangan lantai keramik dilaksanakan dengan adukan full seluas bidang keramik. Pasir
bawah keramik harus dihampar rata dan dipadatkan, dengan ketebalan sesuai gambar.
Peil lantai harus sesuai dengan gambar dengan tarikan nut yang lurus dan siku.
Semua Keramik yang akan dipasang harus direndam dahulu, pengisian siar-siar harus
cukup merata/padat. Setelah dibersihkan dari kotoran pemolesan lantai dapat dilakukan
dengan air semen. Khusus siar/ nut lantai keramik 2 (dua) mm, dan untuk penutupnya
harus digunakan penutup nut sekualitas AM
Pekerjaan lantai yang tidak lurus/ waterpass, siarnya tidak lurus, berombak, turun naik
dan retak harus dibongkar dan diperbaiki atas biaya Penyedia Jasa. Lantai yang sudah
terpasang di pel dan dibersihkan dengan hati-hati sehingga tidak cacat/ tergores.

Pasal 16
PEKERJAAN PLUMBING DAN SANITARY

16.1

Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan Sanitary dan Plumbing meliputi :
o Pekerjaan Instalasi Air Bersih
o Pekerjaan Instalasi Air Kotor
o Pekerjaan Kloset.
o Floor Drain.
o Kran Air.
o Pas. Penampung Limbah.
o Pas. Sumur Gali.
o Pas. Pompa 100watt.
o Wastafel
o Bak Fibreglass
Pemasangan/ Penempatan harus sesuai dengan gambar.

25

16.2

Peralatan Plumbing yang dipakai adalah :


1. Pipa PVC AW dia 1/2
2. Pipa PVC AW dia 3/4
3. Pipa PVC AW dia 3
4. Pipa PVC AW dia 4
5. Pipa PVC AW dia 1
6. Kloset Jongkok kualitas baik setara ex INA.
7. Floor Drain Stenlist.
8. Kran air dia 0,5 biasa kualitas baik.
9. Kitchen Zink.
10. Pompa 100watt.

16.3

Persyaratan Pelaksanaan :
Sebelum dipasang, alat-alat plumbing tersebut harus diperiksa dan disetujui Direksi
terlebih dahulu.
1. Instalasi Air Bersih.
Pemasangan instalasi air bersih harus dilaksanakan oleh ahli yang ditunjuk
Kontraktor. Pemasangan pipa kecuali ditentukan lain dalam gambar tidak boleh
terlihat dari luar (tertanam). menggunakan jenis pipa PVC AW.
2. Pembuangan air kotor dan air limbah.
a. Pipa air kotor dan air limbah/buangan menggunakan jenis PVC AW kemiringan
pemasangan 2 %.
b. Untuk penampungan air kotor dari kloset di salurkan langsung ke septictank,
sedangkan untuk air buangan dari floor drain disalurkan ke resapan.
c. Saluran pembuangan air hujan dari dak beton menggunakan pipa PVC 3 di
pasang arah vertical.

Pasal 17
SEPTIKTANK DAN RESAPAN
17.1 LINGKUP PEKERJAAN
a. Tangki Septik
Tangki Septik dibuat dari pasangan batu bata atau (sesuai petunjuk dalam Gambar
Kerja), dalam kapasitas, ukuran dan bentuk sesuai dengan Gambar Kerja.
b. Resapan
Tangki septik harus dilengkapi dengan sumur resapan dalam ukuran sesuai petunjuk
Gambar Kerja.
Bahan-bahan untuk sumur resapan sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja atau sesuai
petunjuk Pengawas Lapangan.
17.2 PELAKSANAAN PEKERJAAN
17.2.1
Konstruksi dan Pemasangan
Tangki septik harus mempunyai ruang udara tidak kurang dari 0,20 meter dari
langit-langit tangki di bawah tutup tangki.
Tangki harus terbuat dari pasangan batu bata atau pasangan beton bertulang yang
kedap air.

26

Dinding bagian dalam tangki diberi pelesteran dengan adukan 1 : 3.


Dinding bagian luar tangki yang berhubungan langsung dengan tanah tidak perlu
diplester. Resapan harus dibuat dan dipasang sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja
serta petunjuk Pengawas Lapangan.

Pasal 18
PENUTUP

18.1

Dalam melaksanakan pekerjaan Penyedia Jasa harus mengikuti gambar rencana umum,
detail-detail, RAB, Spesifikasi teknis dan bahan beserta risalahnya sebagaimana tercantum
dalam Kontrak Perjanjian Pelaksanaan.

18.2

Penyedia Jasa disamping menyelesaikan pekerjaan secara teknis, juga harus dibarengi
dengan penyelesaian administrasi yang menyangkut kelancaran kegiatan.

18.3

Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan terdapat perbedaan antara gambar, RAB, dan
Spesifikasi teknis dan bahan, Penyedia Jasa sebelum melaksanakan pekerjaan tersebut
harus konsultasi terlebih dahulu dengan Direksi/ Konsultan Pengawas, untuk
mendapatkan petunjuk dan persetujuan.

18.4

Jika Direksi/ Konsultan Pengawas minta melaksanakan pekerjaan yang tidak termasuk
dalam kontrak, maka Penyedia Jasa disarankan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut,
yang kemudian akan di buat pekerjaan tambah kurang atau mengalihkan pekerjaan yang
ada dalam kontrak dengan nilai dan waktu pelaksanaan tetap.

18.5

Selain persyaratan teknis yang tercantum di atas Penyedia Jasa diwajibkan pula
mengadakan pengurusan, administrasi antara lain : Pembuatan laporan harus sudah
diserahkan kepada Pemimpin Pelaksana Kegiatan sebelum Serah Terima Pekerjaan
Pertama, serta laporan - laporan kemajuan pekerjaan.

18.6

Sebelum penyerahan Pertama Penyedia Jasa wajib meneliti semua bagian pekerjaan yang
belum sempurna dan harus diperbaiki, semua ruangan harus bersih dan dipel, halaman
harus ditata rapih dan semua barang yang tidak berguna harus disingkirkan dari lokasi
kegiatan.

18.7

Meskipun telah ada Direksi/ Konsultan Pengawas dan unsur-unsur teknis lainnya, semua
penyimpangan dari ketentuan bestek dan gambar menjadi tanggungjawab pelaksana,
untuk itu pelaksana harus mnyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin.

18.8

Hal-hal lain yang belum tercantum dalam Spesifikasi teknis dan bahan ini akan dimuat
pada Risalah Aanwidzing.

Segala sesuatu yang belum tercantum di dalam Spesifikasi teknis dan bahan ini akan
ditentukan kemudian dalam Rapat Penjelasan (Aanwijzing).dan akan dibuat dalam berita acara
rapat penjelasan pekerjaan Penjelasan (Aanwijzing).