Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH KOMPRES NORMAL SALIN TERHADAP DERAJAT

FLEBITIS PASIEN DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP


RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA
PERIODE JUNI-AGUSTUS 2014
Helma Rasyida1, Lia Yulia Budiarti2, Noor Diani3
1

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung


Mangkurat, Banjarbaru.
2
Bagian Mikrobiologi dan Parasitologi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
3
Bagian Keperawatan Medikal Bedah Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
(E-mail: Helmarasyida@yahoo.com)

ABSTRAK
Pasien yang dirawat di rumah sakit sering mengalami flebitis (peradangan pada vena) yang
menyebabkan rasa tidak nyaman pada pasien dan untuk perawatan flebitis salah satunya dengan
pemberian kompres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompres normal salin
terhadap derajat flebitis pasien dewasa di instalasi rawat inap RSUD Ratu Zalecha Martapura. Penelitian
ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan rancangan pretest-posttest non equivalent control
group design. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 orang yang dibagi atas
kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Responden tersebut dipilih secara Purposive sampling. Data
yang diperoleh diuji dengan menggunakan uji hipotesis Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann-Whitney.
Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh kompres normal salin terhadap derajat flebitis pasien
dewasa di instalasi rawat inap RSUD Ratu Zalecha Martapura (p < 0,05) yang artinya bahwa kompres
normal salin dapat digunakan dalam menurunkan derajat flebitis khususnya pada pasien dewasa.
Kata-kata kunci: flebitis, derajat flebitis, kompres normal salin
ABSTRAK
Hospitalized patients frequently experience phlebitis (inflammation of a vein) which causes
discomfort to the patients, and one of the treatments for phlebitis is to apply compress to the patient. The
purpose of this study was to find out the effect of normal saline compress on the degree of phlebitis in
adult patients at inpatient installation of Ratu Zalecha Public Hospital Martapura. The method employed
in this study was a quasi-experimental method with a pretest-posttest non-equivalent control group
design. Purposive sampling was used to select the 30 respondents that were divided into a control group
and an experimental group. Data were tested using hypothesis tests of the Wilcoxon Signed Rank test and
the Mann-Whitney test. The results of the study showed that there was an effect of normal saline compress
on the degree of phlebitis in adult patients at inpatient installation of Ratu Zalecha Public Hospital
Martapura (p < 0.05), which indicated that normal saline compress could be applied to reduce the degree
of phlebitis especially in adult patients.
Keywords: phlebitis, degree of phlebitis, normal saline compress

PENDAHULUAN
Infeksi nosokomial merupakan suatu
masalah yang nyata di seluruh dunia dan
terus meningkat. Insiden infeksi nosokomial
berbeda antara satu rumah sakit dengan
rumah sakit lainnya. Infeksi ini terus
meningkat dari 1% di beberapa Negara
Eropa dan Amerika, sampai lebih dari 40%
di Asia, Amerika Latin dan Afrika (1). Di
Indonesia,
infeksi
menyebabkan
perpanjangan masa rawat inap bagi penderita
(2). Salah satu infeksi nosokomial yang
terjadi adalah flebitis, jumlah kejadian
flebitis menurut distribusi penyakit sistem

sirkulasi darah pasien rawat inap di


Indonesia tahun 2010 berjumlah 744 orang
atau 17,11% (3). Angka kejadian infeksi
nosokomial di Indonesia khususnya flebitis
sangat beragam, menurut
Gayatri dan
Handayani
(2008)
yang
melakukan
penelitian di tiga rumah sakit Jakarta
mendapatkan data insiden kejadian flebitis
cukup tinggi, yaitu 35,8%, sedangkan
penelitian yang dilakukan oleh Deya, Sri dan
Afif di Rumah Sakit Majalaya Bandung
mendapatkan 2,0% kejadian flebitis di ruang
cempaka, 0,7% di ruang flamboyan dan
1,5% di ruang melati di tahun 2011 (4,5).
1

Flebitis adalah suatu komplikasi yang


diakibatkan oleh beberapa agen bakteri yaitu
daerah insersi jarum infus yang tidak
memperhatikan prinsip sterilitas serta
pemasangan menetap jarum infus selama 72
jam tidak dipindahkan. Kejadian flebitis
apabila tidak segera ditangani akan
menyebabkan terjadinya komplikasi yaitu
tromboflebitis. Tromboflebitis merupakan
adanya bekuan darah dalam vena dan emboli
paru yaitu penyumbatan arteri paru-paru
akibat dari bekuan darah vena (6). Gejala
klinis dari flebitis adalah nyeri, kemerahan,
bengkak, indurasi, dan teraba seperti kabel
di bagian vena yang terpasang kateter
intravena (7). Berdasarkan rekomendasi The
Infusion Nurses Soeciety tingkat keparahan
tanda dan gejala flebitis ini ditentukan
dengan skala derajat flebitis yaitu dimulai
dari skala 0-4. Faktor-faktor yang
mempengaruhi dari flebitis ini adalah faktor
kimia, faktor bakteri, dan faktor mekanik
(7,8).
Peran perawat dalam menangani
flebitis salah satunya adalah dengan metode
nonfarmakologis yaitu stimulasi kulit
dengan menggunakan kompres. Metode
nonfarmakologis seperti kompres merupakan
tindakan mandiri dari perawat, ekonomis,
dan tidak menimbulkan efek samping.
Kompres yang dapat digunakan sangat
beragam salah satunya adalah kompres
normal salin. Normal salin adalah cairan
isotonis yang bersifat fisiologis, non toksik,
juga
tidak
menimbulkan
reaksi
hipersensitifitas sehingga aman digunakan
untuk tubuh dalam kondisi apapun. Cairan
normal salin juga dapat digunakan dalam
perawatan luka. Menurut Nunung Nurjanah,
pemberian terapi kompres normal salin biasa
digunakan sebagai intervensi penanganan
flebitis pada pasien anak dan dapat
menurunkan derajat flebitis sampai 2 angka
(7,8).
Kejadian flebitis umum juga terjadi
pada pasien-pasien dewasa. Hasil studi
pendahuluan di RSUD Ratu Zalecha
Martapura pada bulan Maret 2014, terhadap
rekapitulasi laporan harian bahwa di ruang
rawat inap penyakit dalam terdapat 40 orang
pasien dewasa yang mengalami flebitis dan
di ruang bedah sebanyak 61 orang periode
Desember 2013 sampai pada Februari 2014.
Diketahui bahwa di RSUD Ratu Zalecha
Martapura juga belum didapatkan perawatan
mandiri dari perawat dalam menangani
pasien dengan flebitis.

Berdasarkan uraian di atas, belum


diketahui ada tidaknya pengaruh pemberian
kompres normal salin terhadap penurunan
derajat flebitis pada pasien dewasa di
instalasi rawat inap RSUD Ratu Zalecha
Martapura. Mengetahui hal tersebut, maka
peneliti tertarik melakukan penelitian ini.
Rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah apakah ada pengaruh pemberian
kompres normal salin terhadap derajat
flebitis pada pasien dewasa di instalasi rawat
inap RSUD Ratu Zalecha Martapura.
Tujuan
penelitian
ini
adalah
mengetahui pengaruh pemberian kompres
normal salin terhadap derajat flebitis pasien
dewasa di instalasi rawat inap RSUD Ratu
Zalecha Martapura.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian
yang bersifat Quasi Eksperimental dengan
rancangan penelitian Pretest-Posttest Non
Equivalent Control Group Design. Populasi
dalam penelitian ini adalah pasien dewasa di
instalasi rawat inap RSUD Ratu Zalecha
Martapura periode juni-agustus 2014. Teknik
penentuan sampel yang digunakan adalah
purposive Sampling, dengan kriteria inklusi
yaitu:
bersedia
menjadi
responden,
responden mengalami flebitis, responden
yang berusia 20-50 tahun, tidak ada
komplikasi penyakit lain. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini berupa bahan
kompres meliputi: kasa sesuai ukuran, kom
kecil, sarung tangan bersih, NaCl 0,9%, tali
kassa pengikat kompres dan lembar
observasi dengan gambar pengukuran
derajat flebitis. Lembar observasi digunakan
untuk menilai derajat flebitis sebelum dan
sesudah diberikan kompres normal salin
dengan menggunakan Phlebitis Grading
Scale. Variabel bebas penelitian ini adalah
kompres normal salin, Variabel terikat
penelitian ini adalah derajat flebitis, dan
Variabel pengganggu penelitian ini adalah
status nutrisi, status penyakit, medikasi,
radiasi, status oksigenasi, dan tingkat stress.
Kompres normal salin adalah prosedur
meletakkan alat kompres normal salin yaitu
kassa sesuai ukuran yang telah direndam
dengan cairan normal salin pada daerah yang
mengalami flebitis bekas insersi jarum
intravena yang telah dilepas maksimal 25
menit sebelum dilakukan kompres. Kompres
normal salin dilakukan dengan merendam
kassa dalam kom kecil yang sudah berisi
cairan normal salin dan sudah diperas
2

sebanyak satu kali. Kompres normal salin


diletakkan pada daerah flebitis selama 30
menit
terus-menerus
dan
dilakukan
pergantian kassa sebanyak 20 kali perhari
selama dua hari.
Flebitis merupakan komplikasi dari
terapi intravena yang telah di diagnosa oleh
perawat jaga dengan melihat tanda seperti
adanya nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi,
dan teraba seperti kabel di bagian vena yang
terpasang kateter intravena. Pengkajian
tanda yang disebutkan dilakukan dengan
inspeksi dan palpasi untuk menentukan
derajat flebitis pasien kemudian dimasukkan
kedalam lembar dokumentasi. Pengukuran
terhadap
derajat
flebitis
dilakukan
berdasarkan Infusion nurse society (INS)
dengan menggunakan alat ukur baku yaitu
plebitis grading scale.
Metode yang digunakan dalam
pengumpulan data pada penelitian ini adalah
melalui lembar observasi, yaitu peneliti
melakukan penilaian terhadap derajat flebitis
responden, melakukan kompres sampai pada
tahap akhir yaitu dihari ketiga menilai
kembali derajat flebitis pasien setelah
diberikan kompres. Hasil didokumentasikan
pada lembar observasi yang sudah

disediakan. Pengolahan data yang dilakukan


terdiri dari 4 tahap, yaitu: editing, coding,
entry data, dan tabulating.
Analisa data dilakukan dengan
menggunakan 2 uji yaitu Wilcoxon Sign
Rank Test dan Mann-Whitney dengan tingkat
signifikansi 5%. Wilcoxon Sign Rank Test
untuk menguji perbedaan derajat flebitis
sebelum dan sesudah pada 2 kelompok
sampel yang berpasangan baik kelompok
eksperimen maupun kelompok kontrol.
Mann-Whitney digunakan untuk menguji
perbedaan derajat flebitis antara 2 kelompok
sampel yang tidak berpasangan yaitu
kelompok eksperimen dengan kelompok
kontrol.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Derajat Flebitis Pasien Sebelum dan
Sesudah
Pengamatan
pada
Kelompok Kontrol
Hasil perhitungan terhadap data
penelitian ini, diperoleh derajat flebitis
pasien dewasa pada kelompok kontrol di
Instalasi rawat inap RSUD Ratu Zalecha
Martapura seperti pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Derajat Flebitis Pasien Sebelum dan Sesudah pada Kelompok Kontrol di Instalasi
Rawat Inap RSUD Ratu Zalecha Martapura Juni-Agustus 2014 (n=30)
Derajat Flebitis pasien
-

0
1
2
3
4

Sebelum
Frekuensi
Presentasi

Sesudah
Frekuensi
Presentasi

0 orang
0 orang
15 orang
0 orang
0 orang

0 orang
3 orang
12 orang
0 orang
0 orang

0,0%
0,0%
100%
0,0%
0,0%

Keterangan:
0 : tempat suntikan tampak sehat
1 : salah satu dari tanda ini yaitu nyeri dan
merah pada tempat suntikan
2 : dua dari berikut jelas yaitu nyeri, eritema
dan pembengkakan
3 : semua dari berikut jelas yaitu nyeri
sepanjang kanula, eritema, indurasi
4 : semua dari berikut jelas yaitu nyeri
sepanjang kanula, eritema, indurasi dan
vena seperti kabel teraba jelas
Berdasarkan Tabel 5.1 didapatkan hasil
derajat flebitis pasien sebelum pada
kelompok kontrol berada pada derajat 2

0,0%
20,0%
80,0%
0,0%
0,0%

sebanyak 15 orang dan sesudah berada pada


derajat 1 sebanyak 3 orang dan derajat 2
sebanyak 12 orang.
B. Derajat Flebitis Pasien Sebelum dan
Sesudah
Diberikan
Kompres
Normal Salin pada Kelompok
Eksperimen
Dari hasil perhitungan data diperoleh
derajat flebitis pasien dewasa di Instalasi
rawat inap RSUD Ratu Zalecha Martapura
kelompok eksperimen seperti pada Tabel
5.2.

Tabel 5.2 Derajat Flebitis Pasien Sebelum dan Sesudah Diberikan Kompres Normal Salin Pada
Kelompok Eksperimen di Instalasi Rawat Inap RSUD Ratu Zalecha Martapura JuniAgustus 2014 (n=30)
Derajat Flebitis pasien
-

0
1
2
3
4

Sebelum
Frekuensi
Presentasi

Sesudah
Frekuensi
Presentasi

0 orang
0 orang
15 orang
0 orang
0 orang

6 orang
9 orang
0 orang
0 orang
0 orang

0,0%
0,0%
100,0%
0,0%
0,0%

Keterangan:
0 : tempat suntikan tampak sehat
1 : salah satu dari tanda ini yaitu nyeri dan
merah pada tempat suntikan
2 : dua dari berikut jelas yaitu nyeri, eritema
dan pembengkakan
3 : semua dari berikut jelas yaitu nyeri
sepanjang kanula, eritema, indurasi
4 : semua dari berikut jelas yaitu nyeri
sepanjang kanula, eritema, indurasi dan
vena seperti kabel teraba jelas
Berdasarkan Tabel 5.2 didapatkan hasil
derajat flebitis pasien sebelum diberikan
kompres normal salin berada pada derajat 2
sebanyak 15 orang dan sesudah diberikan
kompres normal salin berada pada derajat 1
sebanyak 9 orang dan derajat 0 sebanyak 6
orang.
C. Pengaruh Pemberian Kompres
Normal Salin Terhadap Derajat
Flebitis Pasien Dewasa di Instalasi
Rawat Inap RSUD Ratu Zalecha
Martapura
Perbedaan derajat flebitis sebelum dan
sesudah pada 2 kelompok sampel yang
berpasangan baik kelompok kontrol maupun
eksperimen
pada
penelitian
ini
menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank Test.
Selanjutnya uji Mann-Whitney digunakan
untuk menguji perbedaan derajat flebitis
antara 2 kelompok sampel yang tidak
berpasangan yaitu kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen. Hasil perhitungan
lengkap uji Wilcoxon Sign Rank Test terdapat
pada lampiran 8.
Hasil
analisis
data
penelitian
menggunakan uji wilcoxon signed rank test
didapatkan bahwa pada kelompok kontrol
sebelum
dan
sesudah
pengamatan
didapatkan nilai signifikasi 0,083 yang
berarti p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan
bahwa tidak terdapat perbedaan derajat

40,0%
60,0%
0,0%
0,0%
0,0%

flebitis
responden.
Pada
kelompok
eksperimen sebelum dan sesudah diberikan
kompres normal salin didapatkan nilai
signifikasi 0.000 yang berarti p < 0,05
sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan derajat flebitis responden.
Faktor yang berpengaruh terhadap
penyembuhan flebitis adalah usia, status
penyakit, status nutrisi, obat-obatan yang
digunakan, dan tingkat stress. Hasil
penelitian di instalasi rawat inap RSUD Ratu
Zalecha Martapura diketahui responden
terbanyak berada pada usia 50 tahunan yang
mana proses penuaan akan berpengaruh
terhadap flebitis yaitu dapat memperlambat
penyembuhan inflamasi pada vena. Hal ini
diakibatkan oleh penurunan sirkulasi darah
ke area inflamasi, penurunan antibodi,
lambatnya proses inflamasi, gangguan
proses pembekuan, dan jaringan kolagen
yang kurang lunak (7). Pada usia lebih dari
30 tahun mulai terjadi penurunan yang
signifikan dalam beberapa fungsinya, seperti
penurunan efisiensi jantung, kapitas vital,
dan juga penurunan efisiensi sistem imun,
yang masing-masing masalah tersebut ikut
mendukung
terjadinya
perlambatan
penyembuhan inflamasi pada vena seiring
bertambahnya usia (9). Pada usia lebih dari
60 tahun proses penyembuhan akan semakin
lama dibandingkan anak-anak dan remaja
dikarenakan proses pembentukan kolagen
dan reepitelisasi yang terjadi lebih lambat
dan lama (7,8).
Hasil penelitian di instalasi rawat inap
RSUD Ratu Zalecha Martapura diketahui
responden berdasarkan jenis penyakit pada
kelompok kontrol diperoleh 4 orang
menderita tipoid dan kelompok eksperimen
diperoleh 3 orang menderita anemia. Hasil
penelitian ini menyebutkan bahwa sebagian
responden tersebut mengalami penyakit
infeksi. Penyakit infeksi dapat berpengaruh
terhadap inflamasi yang terjadi pada flebitis.
Penyakit infeksi dapat menyebabkan
4

terhambatnya fase inflamasi dan bakteri


yang masuk ke dalam tubuh juga dapat
mengakibatkan terhambatnya penyediaan
nutrisi dan oksigen yang digunakan untuk
proses penyembuhan flebitis (8,9).
Oksigen memiliki peranan penting
dalam
penyembuhan
flebitis
yaitu
pembentukan kolagen, kapiler-kapiler baru,
dan pengendalian infeksi. Penurunan suplai
oksigen merupakan pengaruh lokal yang
merugikan dan salah satu penyebab
terjadinya penurunan oksigen adalah anemia.
Anemia juga dapat menjadi penyebab
terhambatnya proses penyembuhan karena
penurunan
kapasitas
darah
untuk
mengangkut oksigen, sebagai akibat
buruknya suplai darah di area inflamasi.
Inflamasi pada vena dengan suplai darah
yang buruk sembuh dengan lambat (9).
Inflamasi pada vena yang sembuh
dengan lambat juga dapat diakibatkan oleh
status nutrisi yang kurang baik. Kekurangan
zat gizi dalam tubuh dapat memperpanjang
proses
inflamasi,
menunda
proses
reepitelisasi, dan menurunkan pembentukan
kolagen. Energi, karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, dan mineral merupakan sumber
energi dalam proses penyembuhan inflamasi
pada vena (7,8).
Faktor penyembuhan flebitis yaitu
obat-obatan seperti steroid dan anti
inflamasi, dapat mengganggu respon
inflamasi. Hasil penelitian, responden pada
saat dilepaskan infus tidak mendapat
pengobatan sampai infus dipasang kembali
sehari setelah pelepasan infus. Obat-obatan
yang digunakan responden juga bukan jenis
anti inflamasi non-steroid. Faktor lainnya
dalam penyembuhan flebitis adalah tingkat
stress.
Stress
dapat
menyebabkan
meningkatkan
sekresi
hormon
glukokortikoid dan menurunkan level proses
inflamasi.
Glukokortikoid
dapat
mempengaruhi imunitas sel dengan menekan
proses diferensiasi dan proliferasi sel (8).
Hasil perhitungan uji Mann-Whitney
untuk membedakan derajat flebitis pada
pasien dewasa di instalasi rawat inap RSUD
Ratu Zalecha Martapura dilakukan yaitu
membandingkan derajat flebitis pasien pada
kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Hasil perhitungan lengkap uji
Mann-Whitney terdapat pada lampiran 8.
Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney
sesudah pengamatan kelompok kontrol dan
sesudah perlakuan kelompok eksperimen
didapatkan nilai signifikansi 0,000 (p <

0,05), sehingga hasil ini menyebutkan bahwa


terdapat perbedaan derajat flebitis pada
kelompok
kontrol
dan
kelompok
eksperimen, yang artinya terdapat pengaruh
terapi kompres normal salin terhadap derajat
flebitis pasien dewasa di instalasi rawat inap
RSUD Ratu Zalecha Martapura. Flebitis
adalah suatu peradangan pada pembuluh
darah vena yang disebabkan oleh iritasi
kimia, faktor mekanik, dan agen bakteri
(10,11). Flebitis atau peradangan pada vena
ditandai oleh adanya nyeri, eritema,
bengkak, vena teraba seperti kabel, dan
hangat disepanjang area bekas pemasangan
infus (12, 13).
Upaya untuk mengurangi tanda
seperti eritema, nyeri, dan bengkak pada
daerah flebitis dapat dilakukan dengan
pemberian kompres yang benar, salah
satunya dengan kompres normal salin.
Normal salin adalah cairan yang non toksik
dan tidak memberikan efek hipersensetifitas
sehingga aman digunakan untuk tubuh.
Normal salin berfungsi untuk menjaga
kelembaban dari area flebitis dan juga
membantu memperlancar aliran darah
(hemostasis), dengan mengirim darah ke
area yang mengalami inflamasi. Pada saat
hemostasis area inflamasi mengalami
konstriksi dalam waktu 10-15 menit,
kemudian diikuti dengan vasodilatasi dan
peningkatan permeabilitas pembuluh darah.
Normal salin membantu vasodilatasi lebih
cepat sehigga dapat mempercepat proses
penyembuhan flebitis dan menurunkan
derajat flebitis (14,15).
Hal ini didukung oleh penelitian
Bashir dan Afzal (2010) disebutkan bahwa
cairan normal salin memiliki respon anti
inflamasi yang dapat menurunkan gejala
nyeri dan eritema yang timbul akibat
inflamasi
pada
vena,
juga
dapat
meningkatkan aliran darah menuju area
flebitis karena terjadi vasodilatasi lokal
sehingga dapat mempercepat proses
penyembuhan flebitis (16).
Saat dilakukan penelitian pemberian
kompres normal salin pada kelompok
eksperimen di istalasi rawat inap RSUD
Ratu Zalecha Martapura selama dua hari
tidak ditemukan adanya keluhan ataupun
efek samping yang merugikan pasien,
sehingga kompres normal salin bukan hanya
dapat menurunkan derajat febitis, tetapi juga
dapat melindungi area yang mengalami
inflamasi dari iritasi dan juga dapat
menyembuhkan flebitis tanpa menyebabkan
5

infeksi. Hal ini sesuai dengan penelitian


ONeill (2002) di dalam Nunung Nurjanah
(2011) pemberian normal salin dapat
menyembuhkan luka dan mencegah
terjadinya infeksi, tidak menimbulkan reaksi
hipersensitivitas sehingga aman untuk tubuh
dalam kondisi apapun termasuk salah
satunya dalam perawatan flebitis (8,17).
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Nunung Nurjanah tahun 2011
mengenai studi komparasi efektifitas
kompres normal salin, air hangat, dan
alkohol terhdap derajat flebitis pada anak
yang dilakukan pemasangan infus di RSUP
Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan hasil
bahwa kompres normal salin memberikan
pengaruh terhadap penurunan derajat flebitis
pada anak (8).
Penelitian
ini
mempunyai
keterbatasan, yaitu sulit dalam mencari
sampel yang homogen, peneliti tidak dapat
mengontrol tingkat stress dari responden,
dan perhatian responden yang disebabkan
oleh faktor-faktor lain, sehingga hal tersebut
dapat mempengaruhi proses penyembuhan
flebitis dan memperlambat penurunan
derajat flebitis responden. Selanjutnya
penelitian ini juga hanya membahas tentang
pengaruh kompres normal salin terhadap
derajat flebitis pasien dewasa, faktor lain
yang dapat mempengaruhi atau mengurangi
derajat flebitis adalah kompres hangat dan
kompres dingin khususnya pada pasien
dewasa.
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan terhadap 15 responden kelompok
eksperimen dan 15 responden kelompok
kontrol yang mengalami flebitis di instalasi
rawat inap RSUD Ratu Zalecha Martapura,
maka dapat diambil simpulan sebagai
berikut:
1. Derajat flebitis sebelum dan sesudah
pada pasien kelompok kontrol tidak
terdapat perbedaan.
2. Derajat flebitis sebelum dan sesudah
pada pasien kelompok eksperimen
terdapat perbedaan.
3. Pemberian kompres normal salin
berpengaruh
terhadap
penurunan
derajat flebitis pasien dengan data
hasil analisis adalah 0,000 yang berarti
p < 0,05.

B. Saran
Dapat dilakukan penelitian selanjutnya
dengan menggunakan subyek homogen, juga
memperhatikan faktor-faktor yang dapat
berpengaruh terhadap luka flebitis. Pada
penelitian selanjutnya dapat menambahkan
variabel yang lain seperti kompres dingin
maupun hangat pada derajat flebitis pada
pasien dewasa.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ducel G. et al. Prevention of hospitalacquired infections, A practical guide.
2nd edition. World Health Organization.
Department of Communicable disease,
Surveillance and Response, 2002.
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia: 129/MENKES/SK/II/2008
Tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit.
3. Departemen Kesehatan RI. Profil
kesehatan Indonesia 2008. Jakarta:
departemen kesehatan RI, 2009.
4. Gayatri D, Handayani H. Hubungan
jarak pemasangan terapi intravena dari
persendian terhadap waktu terjadinya
flebitis. Jurnal Keperawatan Universitas
Indonesia 2008; 11(1): 1-5.
5. Prastika FD, Susilaningsih S, Amir AA.
Kejadian flebitis di Rumah Sakit Umum
Daerah Majalaya. Jurnal Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Padjadjaran
2011.
6. Fitria, Effendy C, Suseani HP. Tindakan
pencegahan phlebitis terhadap pasien
yang terpasang infuse di RSU
Mokopido
Tolitoli.
Jurnal
Ilmu
Keperawatan 2008; 3(2): 166-122.
7. Potter PA, Perry AG. Buku ajar
fundamental
keperawatan
konsep,
proses, dan praktik edisi 4 volume 2.
Jakarta: EGC, 2005.
8. Nurjanah N. Studi komparasi efektifitas
kompres normal salin, air hangat, dan
alkohol terhadap derajat flebitis pada
anak yang dilakukan pemasangan infus
di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Tesis: 2011.
9. Morison MJ. Manajemen Luka. Jakarta:
EGC, 2003.
10. Webster J, Samantha C, Dana P, et al.
Routine care of peripheral intravenous
catheters versus clinically indicated
replacement: randomized controlled
trial. BMJ 2008; 1: 337-339.
6

11. Tietjen, Linda, et al. Panduan


pencegahan infeksi untuk fasilitas
pelayanan kesehatan dengan sumber
daya terbatas. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2004.
12. Aprillin H. Hubungan perawatan infus
dengan terjadinya flebitis pada pasien
yang terpasang infus di puskesmas krian
sidoarjo. Jurnal Keperawatan 2011;
1(1): 1-9.
13. Wild T, Rahbarnia A, Kellner M,
Sobotka L, Eberlein T. Basics in
nutrition and wound healing. Nutrition
2010; 26: 862866.
14. Khanna S, Biswas S, Shang Y, et al.
Macrophage
dysfunction
impairs

resolution of inflammation in the


wounds of diabetic mice. Plos One
2010; 5 (Issue 3): e9539.
15. Bryant RA, Nix DP. Acute and chronic
wound current management concept 4th
edition. USA: Elsevier, 2012.
16. Bashir MM, Afzal S. Comparison of
normal saline and honey dressing in
wound preparation for skin grafting.
Journal Annals 2010; 16(2): 120-123.
17. Mirshamsi MH, et al. A comparison
between traumatic wound infection after
irrigating them with tap water and
normal saline. World Journal of Medical
Science 2007; 2(1): 58-61.