Anda di halaman 1dari 14

TUGAS PRAKTIKUM

INLAY DAN ONLAY

DISUSUN OLEH :
SELLA ROMIKA. J (J520120004)
JATININGRUM (J520120010)
ERNI ASMAWATI (J520120017)
ABDUL GHANI. L (J520120025)
YUTIKA DIFA (J520120033)
SHERLYTANIA (J520120039)
NENCY ADELA (J520120044)
M. FAUZIA NURSEHA (J520120050)
ARI NOVITA RIANTI(J520120059)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Kesadaran masyarakat mengenai gigi dan mulit hingga saat ini sudah
mengalami banyak kemajuan. Hal ini dapat dilihat dari kesadaran masyarakat untuk
mempertahankan gigi geligi dari kerusakan struktur gigi baik yang disebabkan oleh
karies, aus akibat pemakaian, trauma, maupun suatu kelainan pertumbuhan. Dari
keempat penyebab kerusakan struktur gigi diatas, karies merupakan penyebab
penyakit gigi dengan prevalensi tertinggi. Kedokteran gigi lebih mengarah pada
tindakan perawatan yang sebisa mungkin mempertahankan gigi tanpa pencabutan.
Salah satu cara penanggulangan karies adalah dengan membuang jaringan karies dan
menggantikannya dengan bahan restorasi. Restorasi merupakan perawatan untuk
mengembalikan struktur anatomi dan fungsi pada gigi, yang disebabkan karies,
fraktur, atrisi, abrasi dan erosi. Jenis restorasi terbagi menjadi dua yaitu restorasi
plastis dan non plastis.
Restorasi plastis adalah teknik restorasi dimana preparasi dan pengisian
tumpatan dikerjakan pada satu kali kunjungan, tidak memerlukan fasilitas
laboratorium dan murah. Tumpatan plastis cenderung digunakan ketika struktur gigi
cukup banyak untuk mempertahankan integritas dengan bahan tumpatan. Restorasi
non plastis/restorasi rigid merupakan restorasi yang dibuat di laboratorium dental

dengan menggunakan model cetakan gigi yang dipreparasi kemudian disemenkan


pada gigi. Umumnya restorasi ini membutuhkan kunjungan berulang dan penempatan
tumpatan sementara sehingga lebih mahal untuk pasien. Restorasi non plastis/rigid
terdiri diri inlay, onlay/overlay, dan crown.

PEMBAHASAN

2.1 Inlay
Restorasi Inlay adalah tumpatan rigid yang ditempatkan di kavitas diantara tonjol
gigi/cusp. Inlay disebut juga restorasi intrakorona, yaitu restorasi yang terdapat di
dalam kavitas oklusal. Restorasi ini dibentuk di luar mulut dari bahan rigid dan
kemudian disemen ke dalam gigi yang telah di preparasi tanpa adanya undercut. Inlay
adalah restorasi yang digunakan pada gigi yang dipreparasi pada bagian Oklusal
Distal (OD), Oklusal Mesial (OM) atau Mesio Oklusal Distal (MOD). Inlay sudah
jarang digunakan untuk kavitas sederhana dan umumnya hanya digunakan untuk gigigigi yang berkebutuhan khusus, seperti gigi yang sudah lemah karena karies
cenderung fraktur bila tidak dilindungi atau bila retensi sulit dibuat.
Inlay serupa dengan onlay, yaitu tambalan yang dibuat di dental lab, kemudian
dicekatkan ke gigi pasien dengan semen kedokteran gigi. Umumnya gigi yang
dibuatkan inlay atau onlay adalah gigi karies dan sudah berlubang besar atau gigi
dengan tambalan yang kondisinya sudah buruk dan harus diganti, yang bila ditambal
secara direct dengan amalgam ataupun resin komposit dkhawatirkan tambalan
tersebut tidak akan bertahan lama karena patah ataupun lepas.
Beberapa restorasi intrakoronal (inlay) yang sering digunakan adalah :
1. Inlay logam tuang dengan teknik direct.
2. Inlay dan onlay logam tuang dengan teknik indirect.

3. Inlay Porselen

2.1.1 Bahan yang digunakan dalam inlay :


a. Logam Tuang
Logam tradisional bagi inlay adalah emas. Emas murni jarang sekali
digunakan karena merupakan bahan yang sangat lunak. Logam lain lalu
ditambahkan untuk meningkatkan sifat fisik emas murni, sehingga bahan yang
digunakan dalam inlay emas tradisional adalah alloy emas. Alloy tersebut ada
yang terdiri dari 60 persen emas atau lebih dan ada pula yang mengandung 20
persen emas. Alloy lain sama sekali tidak mengandung emas, tetapi hanya
mengandung kombinasi logam-logam lain, sehingga disebut sebaga logam
cor.
b. Porselen
Inlay dan vinir porselen dibuat dengan salah satu dari dua teknik yang
berbeda. Pada teknik pertama, cetakan gigi di cor dalam bahan refraktori yang
dapat dipanaskan sampai suhu tinggi tanpa mengalami kerusakan. Bubuk
porselen dicampur dengan cairan sampai menjadi pasta, lalu dimasukkan ke
inlay atau ke dalam permukaan labial model refraktori, dan dibakar dalam
tungku pembakaran sampai partikel porselennya menyatu. Proses ini diulang
hingga restorasi berbentuk dan berwarna seperti yang diinginkan. Model
refraktori kemudian dibuka dengan sand blasting atau glass bead blasting.

Teknik kedua adalah mengecor suatu batangan kaca ke dalam mould


dengan lost wax technique. Restorasi ini kemudian dimasukkan ke tungku
pembakaran keramik yang mengubah bahan menjadi keramik, diwarnai, lalu
dibakar.
Kedua teknik ini menghasilkan keramik (biasa disebut porselen)
dengan sifat yang berbeda.

2.1.2
a.

Keuntungan dan Kerugian Logam Tuang dan Porselen


Kekuatan
Logam tuang lebih kuat dari amalgam, komposit, atau semen ionomer

kaca, dan bisa menahan kekuatan tensile yang lebih besar, sehingga dapat
melindungi cusp yang melemah. Dengan ketebalan logam tuang 1.0 mm,
kekuatannya setara dengan amalgam setebal 3.0 mm. Sifatnya yang kuat ini
membuat logam tuang lebih ideal untuk restorasi vinil ekstrakorona, seperti
onlay dan mahkota lengkap atau sebagian.
Porselen mempunyai kekuatan kompresif yang tinggi, tetapi rendah
dalam menahan kekuatan tensile, sehingga bahan ini relatif getas dalam
potongan tipis, sampai porselen disemenkan pada gigi dan mendapat
dukungan dari jaringan gigi.
b. Ketahanan terhadap Abrasi
Amalgam menyerupai email dalam ketahannnya terhadap abrasi,
sedangkan komposit maupun semen ionomer kaca cenderung mengalami aus

yang lebih cepat, terutama pada permukaan oklusal. Logam tuang dan
porselen memiliki ketahanan abrasi yang sama dengan email, akan tetapi
porselen lebih resisten dibandingkan email sehingga jika restorasi porselen
berantagonis dengan gigi, gigi tersebut akan aus lebih cepat, terutama jika
glazing porselen tidak sempurna atau tidak terkikis. Jika terdapat kavitas
abrasi di servikal gigi, komposit atau semen ionomer kaca sudah cukup untuk
menahan abrasi selanjutnya. Untuk menanggulangi hal ini biasanya dipakai
inlay porselen atau inlay logam cor.
c. Estetika
Emas sering digunakan untuk inlay karena estetika yang baik dan lebih
menarik daripada amalgam dan tidak mudah rusak seperti silikat. Selain itu,
di lingkungan masyarakat tertentu, emas dianggap sebagai simbol status jika
diletakkan di depan atau di pinggir mulut. Tetapi permintaan tambalan emas
srelatif menurun seiring dengan diperkenalkannya bahan restorasi yang
sewarna dengan gigi.
d. Versatilitas
Logam tuang merupakan bahan yang serbaguna. Dengan teknik
indirect, restorasi oklusal dan kontur aksial serta daerah kontaknya dapat
dibentuk dengan akurat di laboratorium. Jika restorasi tuang dibuat pada
pasien yang harus juga dibuatkan gigi tiruan sebagian lepas, bidang pemandu,
dudukan test, dan reciprocal ledge dapat sekaligus dibentuk pada restorasi di
laboratorium.

e. Biaya
Biaya merupakan kelemahan terbesar dari restorasi logam tuang dan
porselen. Penyebab tingginya biaya adalah jumlah waktu yang harus
dialokasikan. Selalu ada tahap laboratorium sehingga minimal harus ada dua
perjanjian klinis dengan pasien. Pertama untuk preparasi gigi dan pencetakan,
dan kedua untuk pengepadan restorasi setelah dibuat di laboratorium. Waktu
ekstra yang harus dikeluarkan oleh dokter gigi dan ahli gigi ini menyebabkan
biaya yang beberapa kali lebih mahal daripada restorasi plastis, yang memiliki
sifat yang setara dengan logam tuang dan porselen.
f. Penyemenan
Kelemahan pada setiap restorasi yang memerlukan perlekatan adalah
penyemenan. Tepi suatu restorasi yang tepat-rapat sekalipun masih
mempunyai celah 10-16 mikrometer dari dinding kavitas. Dengan demikian,
kerapatan tepi restorasi bergantung pada semen.

2.1.3

keuntungan dan kerugian inlay adalah :

- Inlay akan menambah kekuatan gigi lebih besar daripada tumpatan biasa.
- Inlay lebih kuat dan tahan lama daripada tumpatan biasa.
- Lebih sederhana dibanding crown karena lebih sedikit jaringan gigi yang
diambil .

- Karena melalui proses laboratorium, inlay lebih mahal dibandingkan


tumpatan biasa.

2.1.4

Indikasi dan Kontraindikasi

a. Indikasi
1. Kerusakan sudah meliputi setengah atau lebih permukaan gigi yang digunakan
untuk menggigit (pada gigi belakang).
2. Untuk menggantikan tambalan lama, terutama bila jaringan gigi yang tersisa
sedikit (pada gigi belakang).
b. Kontraindikasi :
1.

Permukaan oklusal yang berat


Restorasi keramik dapat patah saat kurangnya bagian yang besar untuk
menahan tekanan oklusal. Seperti pasien yang memiliki kebiasaan
bruxism atau clenching.

2.

Ketidakmampuan utuk memeliharanya


Meskipun beberapa penelitian memberitahukan bahwa dental adhesive
dapat menetralkan berbagai kontraindikasi, adesif teknik memerlukan
real-perfect moisture control, yang menjamin keberhasilan kliniknya.

3.

Preparasi subgingival yang tajam


Walaupun ini tidak menjadi kontraindikasi yang absolut, preparasi
dengan kedalaman tepi gingival harus dihindari, karena pada bagian

tepi akan sulit di restorasi, mempengaruhi cetakan sehingga sulit untuk


dilakukan finishing.
2.1.5 indikasi yang paling sering bagi setiap restorasi :
a. Inlay logam tuang direk
Teknik inlay logam tuang secara direk hanya dapat diterapkan pada
kavitas yang sangat kecil. Dengan demikian, sifat kuatnya suatu logam
tuang tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hanya sedikit inlay
logam tuang direk yang dibuat dan biasanya diindikasikan bersama-sama
dengan beberapa restorasi lain.
b. Inlay logam tuang indirek
Teknik indirek memungkinkan dibuatnya variasi desain preparasi
yang lebih banyak. Jenis yang paling sering dipakai adalah inlay yang
melindungi tonjol gigi dengan cara menutup permukaan oklusal, yang biasa
disebut onlay. Indikasi kedua yang paling sering untuk inlay indirek adalah
sebagai bagian dari suatu jembatan atau piranti lain yang menggantikan
gigi hilang.
c. Inlay Porselen
Inlay atau onlay porselen memiliki keuntungan dalam hal
penampilannya yang lebih alamiah dibandingkan dengan inlay logam tuang
dan lebih tahan abrasi daripada komposit. Oleh karena itu, porselen cocok
untuk permukaan oklusal gigi posterior yang restorasinya luas dan
memerlukan estetik. Selain itu, porselen dapat juga dipakai di permukaan

bukal yang terlihat, baik di gigi anterior maupun posterior. Porselen tidak
sekuat logam tuang tetapi jika sudah berikatan dengan permukaan email
melalui sistem etsa asam, dapat menguatkan gigi degan cara yang sama
seperti pada restorasi berlapis komposit atau semen ionomer resin
komposit.

2.2 Onlay
Restorasi Onlay merupakan rekonstruksi gigi yang lebih luas meliputi satu atau
lebih tonjol gigi/cusp. Apabila morfologi oklusal telah mengalami perubahan karena
restorasi sebelumnya, karies, atau penggunaan fisik, maka inlay dengan dua
permukaan tidak akan adekuat lagi. Hal ini memerlukan suatu restorasi yang meliputi
seluruh daerah oklusal dan dalam keadaan ini, onlay MOD merupakan jenis restorasi
yang tepat.
2.2.1

Indikasi dan Kontraindikasi

Indikasi
1. Pengganti restorasi amalgam yang rusak.
2. Kalau restorasi dibutuhkan sebagai penghubung tonjol bukal dan lingual.
3. Restorasi karies interproksimal gigi posterior.
4. Restorasi gigi posterior yang menerima tekanan oklusal yang kuat.
Indikasi

untuk

onlay yang

paling

sering

digunakan

adalah

menggantikan restorasi amalgam yang rusak. Selain itu, onlay juga berguna
untuk restorasi lesi karies yang mengenai kedua permukaan proksimal. Ciri-

ciri utama dari restorasi ini adalah mempertahankan sebagian besar jaringan
gigi yang berhubungan dengan gingival dan hal ini merupakan suatu
pertimbangan periodontal yang sangat membantu.
Kontraindikasi:
1. Dinding bukal dan lingual sudah rusak.
2. Mahkota klinis pendek.

2.2.2

Keuntungan dan Kerugian

Keuntungan :
-

Kekuatan terhadap fraktur tinggi


Biokompatibel
Low wear
Control terhadap kontur dan kontak baik
Kerugian :

Memerlukan lebih dari satu kunjungan


Menggunakan restorasi sementara
Memerlukan biaya yang cukup mahal
Teknik yang digunakan cukup sulit

BAB III
KESIMPULAN

Macam-macam restorasi non plastis adalah Inlay, Onlay dan Crown. Inlay
merupakan restorasi non plastis yang terbuat dari bahan kaku seperti emas, logam
atau porcelain dimasukkan ke dalam kavitas dan disimentasi. Onlay juga hampir
sama dengan inlay hanya restorasi ini dilakukan dengan melibatkan bagian cusp.
Crown merupakan onlay yang menggantikan keseluruhan permukaan gigi. Indikasi
dari restorasi ini tergantung dari luasnya karies, struktur jaringan gigi yang tinggal,
kebersihan rongga mulut.

DAFTAR PUSTAKA

Kidd, AM, Smith, BGN, dan Pickard, HM. 2000. Manual Konservasi Restoratif Edisi 6.
Jakarta: Widya Medika.
Anusavice, Kenneth J. 2003. Phillips : Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi Edisi 10.
Jakarta: EGC.
Baum, Lloyd dkk. 1997. Buku Ajar Ilmu konservasi Gigi Edisi 3. Jakarta: EGC.
Sturdevant, CM. 2006. The Art and Science of Operative Dentistry, ed 5. St. Louis Mosby.
Jack L. Ferracane, Ph.D., 2001. Materials in Dentistry : Principles and Application. USA:
Lippincott Williams & Willkins.
Walton, Richard E. dan Mahmoud Torabinejad. 2008. Prinsip dan Praktik Ilmu
Endodonsia Edisi 3. Jakarta: EGC.