Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ABORTUS
A. Pengertian
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum kehamilan berusia 20
minggu atau janin belum mampu untuk hidup di luar kandungan.
Pengeluaran atau ekstraksi janin atau embrio yang berbobot 500 gram atau kurang
dari ibunya yang kira-kira berumur 20 sampai 22 minggu kehamilan (Hacker and
Moore, 2001).
B. Etiologi
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu:
1. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin
dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan, gangguan
pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena:
a). Faktor kromosom.
Gangguan terjadi sejak sernula pertemuan kromosom, termasuk kromosorn
seks.
b). Faktor lingkungan endometritum
-

Endometrium belurn siap untuk menerima implasi hasil konsepsi.


Gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan.

c). Pengaruh luar


-

Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi.


Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan

pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.


2. Kelainan Pada Plasenta
- Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak dapat
-

berfungsi.
Gangguan pembuluh darah palsenta, diantaranya pada diabetes melitus.
Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga
menimbulkan keguguran.

3. Penyakit Ibu
Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam
kandungan melalui plasenta:

Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifilis.


Anemia ibu melalui gangguan nutrisi dan peredaran O 2 menuju sirkulasi

retroplasenter.
Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati,

penyakit diabetes melitus.


4. Kelainan Yang Terdapat Dalam Rahim
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan
abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkatus, uterus septus, retrofleksi uteri,
serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks (konisasi, amputasi serviks),
robekan serviks postpartum.
a. Penyebab Dari Segi Maternal
Penyebab secara umum:
1). Infeksi Akut
-

Virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis.


Infeksi bakteri, misalnya streptokokus.
Parasit, misalnya malaria.

2) Infeksi Kronis
-

Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.


Tuberkulosis paru aktif.

3) Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll.


4) Penyakit kronis, misalnya:
-

hipertensi
nephritis
diabetes
anemia berat
penyakit jantung
toxemia gravidarum

5) Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dll.


6) Trauma fisik.
b. Penyebab Yang Bersifat Lokal
- Fibroid, inkompetensia serviks.
- Radang pelvis kronis, endometrtis.
- Retroversikronis.
5. Hubungan seksual yang berlebihan

sewaktu

hamil,

sehingga

menyebabkan hiperemia dan abortus


6. Penyebab Dari Segi Janin
- Kematian janin akibat kelainan bawaan.
- Mola hidatidosa.
- Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi.
C. Jenis Abortus

1. Spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran) merupakan 20% dari semua


abortus. Abortus spontan terdiri dari 7 macam, diantaranya:
a. Abortus imminens (keguguran mengancam) adalah Abortus ini baru
mengancam dan ada harapan untuk mempertahankan.
- Tanda dan Gejala
Perdarahan per-vaginam sebelum minggu ke 20.
Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah menyertai
perdarahan.
Nyeri terasa memilin karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali.
Tidak ditemukan kelainan pada serviks.
Serviks tertutup.
b. Abortus incipiens (keguguran berlangsung) adalah Abortus sudah
berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi.
- Tanda dan Gejala
Perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar gumpalan
darah.
Nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim kuat.
Serviks sering melebar sebagian akibat kontraksi.
c. Abortus incomplete (keguguran tidak lengkap) adalah Sebagian dari buah
kehamilan telah dilahirkan tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta)
masih tertinggal di rahim.
- Tanda dan Gejala
Perdarahan per vaginam berlangsung terus walaupun jaringan telah

keluar.
Nyeri perut bawah mirip kejang.
Dilatasi serviks akibat masih adanya hasil konsepsi di dalam uterus

yang dianggap sebagai corpus allienum.


Keluarnya hasil konsepsi (seperti potongan kulit dan hati).
d. Abortus completus (keguguran lengkap) adalah Seluruh buah kehamilan
telah dilahirkan lengkap. Kontraksi rahim dan perdarahan mereda setelah
hasil konsepsi keluar.
- Tanda dan Gejala
Serviks menutup.
Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea.
Gejala kehamilan tidak ada.
Uji kehamilan negatif.
e. Missed abortion (keguguran tertunda) adalah Missed abortion ialah keadaan
dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan di dalam
rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati.
- Tanda dan Gejala

Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorpsi air ketuban

dan macerasi janin.


Buah dada mengecil kembali.
Gejala kehamilan tidak ada, hanya amenorea terus berlangsung.
f. Abortus habitualis (keguguran berulang ulang) adalah abortus yang telah
berulang dan berturut turut terjadi sekurang kurangnya 3 kali berturut
turut.
g. Abortus febrilis adalah Abortus incompletus atau abortus incipiens yang
disertai infeksi.
-

Tanda dan Gejala


Demam kadang-kadang menggigil.
Lochea berbau busuk.
2. Abortus provocatus (disengaja, digugurkan) merupakan 80% dari semua
abortus. Abortus provocatus terdiri dari 2 macam, diantaranya:
- Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeutics adalah
Pengguguran kehamilan dengan alat alat dengan alasan bahwa
kehamilan membahayakan membawa maut bagi ibu, misal ibu
berpenyakit berat. Indikasi pada ibu dengan penyakit jantung
-

(rheuma), hypertensi essensialis, carcinoma cerviks.


Abortus provocatus criminalis Adalah pengguguran kehamilan tanpa
alasan medis yang syah dan dilarang oleh hukum.

D. Tanda dan Gejala


- Tanda dan gejala pada abortus Imminen:
a. Terdapat keterlambatan datang bulan
b. Terdapat perdarahan, disertai sakit perut atau mules
c. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur
kehamilan dan terjadi kontraksi otot rahim
d. Hasil periksa dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, dan
e.
-

kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim.


Hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif

Tanda dan gejala pada abortus Insipien:


a. Perdarahan lebih banyak
b. Perut mules atau sakit lebih hebat
c. Pada pemariksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis
servikalis terbuka dan jaringan atau hasil konsepsi dapat diraba

Tanda dan gejala abortus Inkomplit:

a.
b.
c.
d.
-

Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis.


Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat
Terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi
Dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma)

Tanda dan gejala abortus Kompletus:


a. Uterus telah mengecil
b. pendarahan sedikit
c. Canalis servikalis telah tertutup

Tanda dan gejala Missed Abortion:


a. Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorbsi air ketuban
dan maserasi janin
b. Payudara mengecil kembali

E. Pemeriksaan Penunjang
- Test HCG Urine Indikator kehamilan Positif. Positif bila janin masih
-

hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus


Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih

hidup
Kadar Hemoglobin Status Hemodinamika Penurunan (< 10 mg%) dan

Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.


Kadar Sdp Resiko Infeksi Meningkat(>10.000 U/dl)
Kultur Kuman spesifik ditemukan kuman.

F. Komplikasi
a. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi denga pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlInfeksiu pemberian transfusi darah, Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

b. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini pendrita perlu diamati dengan
teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan tergantung
dari luas dan bentuk perforasi.

c. Infeksi
Keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya
ke dalam peredaran darah atau peritonium.

d. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok Hemoragik) dan
karena infeksi berat (syok endoseptik).
G. Web Of Caution (WOC)
Etiologi:
Faktor kelainan telur.
Faktor penyakit pada ibu
Faktor suami
Faktor lingkungan /eksogen

Buah kehamilan pada usia 20 minggu dan berat < 500 gram

Janin dapat beradaptasi

Janin tidak dapat beradaptasi

Usia kehamilan dapat dipertahankan > 37 minggu atau BB janin > 2500 gram
Janin gugur

Lepasnya buah kehamilan dari implantasinya


Terganggunya psikologis ibu
Rangsangan pada uterus

Kontraksi uterus

Terputusnya pembuluh darah ibu

Kecemasan

Ansietas

Defisit knowledge

Defisiensi Pengetahuan
Prostaglandin

Perdarahan dan nekrose desidua

Dilatasi serviks
Resiko defisit volume cairan
Nyeri

Nyeri Akut

Kelemahan

Fatigue

Resiko gawat janin

Resiko Infeksi

Resiko terjadi infeksi

H.
1.

Penatalaksanaan Abortus
Abortus imminens
Karena ada harapan bahwa kehamilan dapat dipertahankan, maka pasien:
a. Istirahat rebah (tidak usah melebihi 48 jam).
b. Diberi sedativa misal luminal, codein, morphin.
c. Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan mengurangi

2.

kerentanan otot-otot rahim (misal gestanon).


d. Dilarang coitus sampai 2 minggu.
Abortus incipiens
Kemungkinan terjadi abortus sangat besar sehingga pasien:
a. Mempercepat pengosongan rahim dengan oxytocin 2 satuan tiap jam
sebanyak 6 kali.
b. Mengurangi nyeri dengan sedativa.
c. Jika ptocin tidak berhasil dilakukan curetage asal pembukaan cukup besar.
3. Abortus incompletus
Harus segera curetage atau secara digital untuk mengehntikan perdarahan.
4. Abortus febrilis
a. Pelaksanaan curetage ditunda untuk mencegah sepsis, keculai perdarahan
banyak sekali.
b. Diberi atobiotika.
c. Curetage dilakukan setelah suhu tubuh turun selama 3 hari.
5. Missed abortion
a. Diutamakan penyelesaian missed abortion secara lebih aktif untuk mencegah
perdarahan dan sepsis dengan oxytocin dan antibiotika. Segera setelah
kematian janin dipastikan, segera beri pitocin 10 satuan dalam 500 cc
glucose.
b. Untuk merangsang dilatasis erviks diberi laminaria stift.
I. Penyulit Abortus
a. Perdarahan hebat.
b. Infeksi kadang-kadang sampai terjadi sepsis, infeksi dari tuba dapat
menimbulkan kemandulan.
c. Renal failure disebabkan karena infeksi dan shock.
d. Shock bakteri karen atoxin.
e. Perforasi saat curetage
J. Konsep Asuhan Keperawatan Ibu dengan Abortus
1. Pengkajian Data Fokus

Pada Ibu hamil dengan kasus abortus pada umumnya mengalami keluhan
sebagai berikut:
a. Tidak enak badan.
b. Badan panas, kadang- kadang panas disertai menggigil dan panas
tinggi.
c. Sakit kepala dan penglihatan terasa kabur.
d. Keluar perdarahan dari alat kemaluan, kadang-kadang keluar flek-flek
darah atau perdarahan terus-menerus.
e. Keluhan nyeri pada perut bagian bawah, nyeri drasakan melilit menyebar
sampai ke punggung dan pinggang.
f. Keluhan perut dirasa tegang, keras seperti papan, dan kaku.
g. Keluhan keluar gumpalan darah segar seperti kulit mati dan jarinagn hati
dalam jumlah banyak.
h. Perasaan takut dan khawatir terhadap kondisi kehamilan.
i. Ibu merasa cemas dan gelisah sebelum mendapat kepastian penyakitnya.
j. Nadi cenderung meningkat, tekanan darah meningkat, respirasi
meningkat dan suhu meningkat.
Pemeriksaan Penunjang:
a. Pada pemeriksaan dalam ditemukan terdapat pembukaan serviks atau
pada kasus abortus imminens sering ditemukan serviks tertutup dan
keluhan nyeri hebat pada pasien.
b. Porsio sering teraba melunak pada pemeriksaan dalam, terdapat jaringan
ikut keluar pada pemeriksaan.
c. Pemeriksaan kadar hemoglobin cenderung menurun akibat perdarahan.
d. Pemeriksaan kadar HCG dalam urine untuk memastikan kehamilan
masih berlangsung.
e. Pemeriksaan

auskultasi

dengan

funduskop

dan

doppler

untuk

memastikan kondisi janin.


f. Pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi janin.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b/d adanya kontraksi uterus, skunder terhadap pelepasan
separasi plasenta.

b. Resiko defisit volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui rute


normal dan atau abnormal (perdarahan).
c. Fatigue b/d penurunan produksi energi metabolic, peningkatan kebutuhan
energi

(status

hipermetabolik);

kebutuhan

psikologis/

emosional

berlebihan; perubahan kimia tubuh; perdarahan.


d. Ansietas b/d krisis situasi (perdarahan); ancaman/perubahan pada status
kesehatan, fungsi peran, pola interaksi; ancaman kematian; perpisahan
dari keluarga (hospitalisasi, pengobatan), transmisi/penularan perasaan
interpersonal.
e. Defisiensi Pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan
pengobatan b/d kurang pemajanan/mengingat; kesalahan interpretasi
informasi, mitos; tidak mengenal sumber informasi; keterbatasan
kognitif.
f. Resiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan sekunder akibat
perdarahan; prosedur invasif.

Intervensi Keperawatan
Diagnosa

Rencana keperawatan

Keperawatan/
Masalah
Kolaborasi
Nyeri akut
berhubungan
dengan:
Agen injuri
(biologi, kimia,
fisik, psikologis),
kerusakan
jaringan

Diagnosa
Keperawatan/
Masalah
Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria


Hasil
NOC :
Pain Level
Pain Control
Comfort Level
Setelah dilakukan
tinfakan keperawatan
selama . Pasien tidak
mengalami nyeri, dengan
kriteria hasil:
Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab
nyeri, mampu
menggunakan tehnik
nonfarmakologi
untuk mengurangi
nyeri, mencari
bantuan)
Melaporkan bahwa
nyeri berkurang
dengan menggunakan
manajemen nyeri
Mampu mengenali
nyeri (skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
TTV dalam rentang
normal
Tidak mengalami
gangguan tidur

Intervensi
NIC :
Pain Management

Lakukan pengkajian nyeri secara


komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi

Observasi reaksi nonverbal dari


ketidaknyamanan

Bantu pasien dan keluarga untuk


mencari dan menemukan dukungan

Kontrol lingkungan yang dapat


mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan

Kurangi faktor presipitasi nyeri

Kaji tipe dan sumber nyeri untuk


menentukan intervensi

Ajarkan tentang teknik non


farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi,
kompres hangat/ dingin

Berikan analgetik untuk mengurangi


nyeri

Tingkatkan istirahat

Berikan informasi tentang nyeri seperti


penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan
dari prosedur

Monitor vital sign sebelum dan sesudah


pemberian analgesik pertama kali

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria

Intervensi

Hasil
Risiko Defisit
NOC:
Volume Cairan Fluid Balance
Berhubungan
Hydration
dengan:
Nutritional Status:

Kehilan
Food and Fluid
gan volume
Intake
cairan
Setelah dilakukan
secara aktif
tindakan keperawatan

Kegagal selama.. defisit


an
volume cairan teratasi
mekanisme
dengan kriteria hasil:
pengaturan
Mempertahanka
n urine output sesuai
dengan usia dan BB,
BJ urine normal,

Tekanan darah,
nadi, suhu tubuh
dalam batas normal

Tidak ada tanda


tanda dehidrasi,
Elastisitas turgor
kulit baik, membran
mukosa lembab,
tidak ada rasa haus
yang berlebihan

Orientasi
terhadap waktu dan
tempat baik

Jumlah dan
irama pernapasan
dalam batas normal

Elektrolit, Hb,
Hmt dalam batas
normal

pH urin dalam
batas normal

Intake oral dan


intravena adekuat

Diagnosa Keperawatan/

NIC :

Fluid Management

Pertahankan catatan intake dan output


yang akurat
Monitor status hidrasi (kelembaban
membran mukosa, nadi adekuat, tekanan
darah ortostatik), jika diperlukan
Monitor hasil lab yang sesuai dengan
retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin,
albumin, total protein )
Monitor vital sign setiap 15menit 1 jam
Kolaborasi pemberian cairan IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan oral
Berikan penggantian nasogatrik sesuai
output (50 100cc/jam)
Dorong keluarga untuk membantu pasien
makan
Kolaborasi dokter jika tanda cairan
berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Pasang kateter jika perlu
Monitor intake dan urin output setiap 8
jam

Rencana keperawatan

Masalah Kolaborasi
Fatigue berhubungan
dengan
psikologis: kecemasan,
gaya hidup yang
membosankan, depresi,
stress
Lingkungan:
kelembaban, cahaya,
kebisingan, suhu
Situasi: Kejadian hidup
yang negatif,
Psikologis: Anemia,
status penyakit,
malnutrisi, kondisi fisik
yang buruk, gangguan
tidur.

Diagnosa Keperawatan/

Tujuan dan Kriteria


Hasil
NOC:
Activity Tollerance
Energy
Conservation

Nutritional
Status: Energy
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama . kelelahan
pasien teratasi dengan
kriteria hasil:

Kemampuan
aktivitas adekuat

Mempertahanka
n nutrisi adekuat

Keseimbangan
aktivitas dan
istirahat

Menggunakan
tehnik energi
konservasi

Mempertahanka
n interaksi sosial

Mengidentifikas
i faktor-faktor fisik
dan psikologis yang
menyebabkan
kelelahan

Mempertahanka
n kemampuan untuk
konsentrasi

Intervensi
NIC :
Energy Management

Monitor respon kardiorespirasi


terhadap aktivitas (takikardi,
disritmia, dispneu, diaphoresis,
pucat, tekanan hemodinamik dan
jumlah respirasi)

Monitor dan catat pola dan


jumlah tidur pasien

Monitor lokasi ketidaknyamanan


atau nyeri selama bergerak dan
aktivitas

Monitor intake nutrisi

Monitor pemberian dan efek


samping obat depresi

Instruksikan pada pasien untuk


mencatat tanda-tanda dan gejala
kelelahan

Ajarkan tehnik dan manajemen


aktivitas untuk mencegah kelelahan

Jelaskan pada pasien hubungan


kelelahan dengan proses penyakit

Kolaborasi dengan ahli gizi


tentang cara meningkatkan intake
makanan tinggi energi

Dorong pasien dan keluarga


mengekspresikan perasaannya

Catat aktivitas yang dapat


meningkatkan kelelahan

Anjurkan pasien melakukan yang


meningkatkan relaksasi (membaca,
mendengarkan musik)

Tingkatkan pembatasan bedrest


dan aktivitas

Batasi stimulasi lingkungan


untuk memfasilitasi relaksasi

Rencana keperawatan

Masalah Kolaborasi
Ansietas berhubungan dengan
Faktor keturunan, Krisis
situasional, Stress, perubahan
status kesehatan, ancaman
kematian, perubahan konsep
diri, kurang pengetahuan dan
hospitalisasi

Diagnosa Keperawatan/

Tujuan dan Kriteria Hasil


NOC :
Kontrol kecemasan
Koping
Setelah dilakukan asuhan
selama klien
kecemasan teratasi dgn
kriteria hasil:
Klien mampu
mengidentifikasi dan
mengungkapkan gejala
cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan
menunjukkan tehnik untuk
mengontol cemas
Vital sign dalam batas
normal
Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya kecemasan

Intervensi
NIC :
Anxiety Reduction

Gunakan pendekatan
yang menenangkan

Nyatakan dengan jelas


harapan terhadap pelaku
pasien

Jelaskan semua prosedur


dan apa yang dirasakan
selama prosedur

Temani pasien untuk


memberikan keamanan dan
mengurangi takut

Berikan informasi faktual


mengenai diagnosis,
tindakan prognosis

Libatkan keluarga untuk


mendampingi klien

Instruksikan pada pasien


untuk menggunakan tehnik
relaksasi

Dengarkan dengan penuh


perhatian

Identifikasi tingkat
kecemasan

Bantu pasien mengenal


situasi yang menimbulkan
kecemasan

Dorong pasien untuk


mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi

Kelola pemberian obat


anti cemas:........

Rencana keperawatan

Masalah Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria


Hasil

Defisiensi Pengetahuan
NOC:
Berhubungan dengan :

Knowledge :
keterbatasan kognitif,
disease process
interpretasi terhadap informasi
Kowledge :
yang salah, kurangnya
health Behavior
keinginan untuk mencari
Setelah dilakukan
informasi, tidak mengetahui
tindakan keperawatan
sumber-sumber informasi.
selama . pasien
menunjukkan
pengetahuan tentang
proses penyakit dengan
kriteria hasil:
Pasien dan keluarga
menyatakan
pemahaman tentang
penyakit, kondisi,
prognosis dan program
pengobatan
Pasien dan keluarga
mampu melaksanakan
prosedur yang
dijelaskan secara benar
Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim
kesehatan lainnya

Intervensi
NIC :
Teaching: Disease Process

Kaji tingkat pengetahuan


pasien dan keluarga

Jelaskan patofisiologi dari


penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan
fisiologi, dengan cara yang tepat.

Gambarkan tanda dan gejala


yang biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat

Gambarkan proses penyakit,


dengan cara yang tepat

Identifikasi kemungkinan
penyebab, dengan cara yang tepat

Sediakan informasi pada


pasien tentang kondisi, dengan
cara yang tepat

Sediakan bagi keluarga


informasi tentang kemajuan
pasien dengan cara yang tepat

Diskusikan pilihan terapi


atau penanganan

Dukung pasien untuk


mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan

Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan, dengan
cara yang tepat

Rencana keperawatan

Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Risiko infeksi
Faktor-faktor risiko :

Prosedur
Infasif

Kerusakan
jaringan dan
peningkatan
paparan
lingkungan

Malnutrisi

Peningkatan
paparan
lingkungan
patogen

Imonusupresi

Tidak adekuat
pertahanan
sekunder
(penurunan Hb,
Leukopenia,
penekanan respon
inflamasi)

Penyakit
kronik

Imunosupresi

Malnutrisi

Pertahan
primer tidak
adekuat (kerusakan
kulit, trauma
jaringan, gangguan
peristaltik)

Tujuan dan Kriteria


Hasil

NOC :
Immune
Status Knowledge :
Infection control
Risk control
Setelah
dilakukan
tindakan keperawatan
selama
pasien
tidak
mengalami
infeksi dengan kriteria
hasil:
Klien bebas
dari tanda dan gejala
infeksi
Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah timbulnya
infeksi
Jumlah
leukosit dalam batas
normal
Menunjukkan
perilaku hidup sehat
Status imun,
gastrointestinal,
genitourinaria dalam
batas normal

Intervensi
NIC :
Infection Control

Pertahankan
teknik
aseptif

Batasi pengunjung bila


perlu

Cuci
tangan
setiap
sebelum
dan
sesudah
tindakan keperawatan

Gunakan baju, sarung


tangan sebagai alat pelindung

Ganti letak IV perifer dan


dressing
sesuai
dengan
petunjuk umum

Gunakan
kateter
intermiten
untuk
menurunkan infeksi kandung
kencing

Tingkatkan intake nutrisi

Berikan
terapi
antibiotik:...............................
..

Monitor tanda dan gejala


infeksi sistemik dan lokal

Pertahankan
teknik
isolasi k/p

Inspeksi
kulit
dan
membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase

Monitor adanya luka

Dorong masukan cairan

Dorong istirahat

Ajarkan
pasien
dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi

Kaji suhu badan pada


pasien neutropenia setiap 4
jam

DAFTAR PUSTAKA

1. Barbara C. Long. 1996. Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan


Proses Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA.
2. Barbara Engram .1998. Rencana Asuhan Keperawatan MedikalBedah Jilid
II. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
3. Donna D. Ignatavicius. 1991. Medical Surgical Nursing: A Nursing
Process Approach, WB. Sauders Company, Philadelphia.
4. Guyton & Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit
Buku Kedoketran. Jakarta: EGC.
5. Marylin E. Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman
Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3,
Penerbit Buku Kedoketran. Jakarta: EGC.
6. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad (1994), Obstetri Patologi,
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad, Bandung.
7. Hacker Moore (1999), Esensial Obstetri dan Ginekologi Edisi 2, Penerbit
Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
8. Hanifa Wikyasastro (1997), Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo.
9. Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler. 2000.
Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran.
Jakarta: EGC.
10. Hanifa Wikyasastro. 1997. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo.