Anda di halaman 1dari 8

Nama : Alif Yanur Abidin / 105070200111021

Hubungan Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Oleh Kader Kesehatan


Terhadap Tingkat Kualitas Hidup Lanjut Usia di Dusun Gambiran
Kabupaten Malang

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang :
Pertambahan jumlah Lanjut Usia (Lansia) di Indonesia dalam kurun waktu
1990 sampai 2025 diperkirakan sebagai pertumbuhan lansia yang tercepat di
dunia. Jumlah lansia di Indonesia mencapai 16 juta jiwa pada tahun 2002 dan
menunjukan peningkatan menjadi 18,96 juta jiwa pada tahun 2007 ( Statistik
Indonesia, 2010). Berarti jumlah lansia di Indonesia akan berada di peringkat
empat dunia di bawah Cina, India, dan Amerika Serikat (Darmojo, 2006).
Pertambahan lansia di Indonesia dipengaruhi oleh perbaikan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta kemajuan sosioekonomi, yang pada akhirnya
akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia
harapan hidup (Darmojo & Martono, 2006). Proyeksi angka harapan hidup pada
tahun 2025 diperkirakan mencapai 73,7 tahun ( Bappenas, 2009).
Data diatas menunjukan adanya peningkatan jumlah dan angka harapan
hidup pada lansia di Indonesia dan jika tidak adanya antisipasi untuk
meningkatkan kemandirian pada lansia maka diperkirakan akan menjadi
permasalahan besar bagi negara karena setiap usia muda harus menanggung
kebutuhan lebih dari satu lanjut usia. Maka perlu adanya suatu pelayanan untuk
mengatasi masalah kesehatan pada lansia dan meningkatkan kualitas hidup
lansia. Pelayanan lansia meliputi pelayanan yang berbasiskan pada keluarga,
masyarakat dan lembaga (Demartoto 2007).
Meningkatnya jumlah lansia tentu tidak lepas dari proses penuaan beserta
masalahnya. Proses penuaan merupakan proses fisiologis yang pasti dialami

individu dan proses ini akan diikuti oleh penurunan fungsi fisik, psikososial dan
spiritual. (Hurlock,1992). Selain itu terdapat perubahan di berbagai sistem tubuh.
Misalnya perubahan sistem imun yang cenderung menurun, perubahan sistem
integumen yang menyebabkan kulit mudah rusak, perubahan elastisitas ateri
pada sistem kardiovaskular yang dapat memperberat kerja jantung, penurunan
kemampuan metabolisme oleh hati dan ginjal, serta penurunan kemampuan
penglihatan dan pendengaran (Watson, 2003).
Penurunan fungsi fisik tersebut ditandai dengan ketidakmampuan lansia
untuk beraktivitas dan melakukan kegiatan yang tergolong berat. Perubahan fisik
yang cenderung mengalami penurunan akan menyebabkan berbagai gangguan
secara fisik sehingga mempengaruhi kesehatan, serta akan berdampak pada
kualitas hidup lansia. Perubahan psikososial yang terjadi pada lansia erat
kaitannya dengan perubahan fisik, lingkungan tempat tinggal dan hubungan
sosial dengan masayarakat ( Miller dalam Stanley & Beare, 2007).
Sebagian besar

lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan

psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman,


pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku
lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik yang menurun
meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang mengakibatkan lansia menjadi kurang cekatan. Teori
disengagement menyatakan bahwa lansia berangsur-angsur menarik diri dalam
berinteraksi dengan orang lain dan kehidupan sosialnya ( Darmojo & Martono,
2006)
Kegiatan yang dilakukan lansia di Panti tidak jauh berbeda dengan
kegiatan lansia di Komunitas, misalnya: pemeriksaan kesehatan, pengajian,
pelatihan ketrampilan, rekreasi bersama. Ketergantungan terhadap pertolongan
medis, kegiatan spiritual serta kesempatan berekreasi serta mendapat
ketrampilan baru, dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia (WHO, 1996). Salah
satu solusi yang dilakukan perawat untuk meningkatkan kualitas hidup lansia
yaitu dengan cara melakukan promosi kesehatan untuk mengorganisasi dan
memberikan asuhan keperawatan bagi lansia (Stanley & Beare, 2007).
Berdasarkan hasil survey 15 September 2013, promosi kesehatan pada
lansia di komunitas di dusun gambiran dilaksanakan secara rutin dalam salah

satu progam pemeriksaan kesehatan dengan komunikasi terapeutik melalui


peran kader. Komunikasi terapeutik ini merupakan media dalam mengambarkan
hubungan perawat dengan klien dalam masalah ini kader dengan klien dan
kualitas komunikasi mempengaruhi kualitas hubungan serta efektifitas dari
asuhan keperawatan yaitu proses yang digunakan oleh perawat memakai
penekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya
dipusatkan pada klien, dalam proses komunikasi sering adanya hambatan
seperti bahasa yang digunakan atau yang disampaikan kurang jelas atau bahasa
yang digunakan tidak mudah untuk dimengerti (Hermawati, 2008)
Maka dari itu peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan komunikasi
terapeutik yang diberikan oleh kader pada pasien lansia dalam peningkatan
kualitas hidupnya pada lansia komunitas yang berada di dusun gambiran.
1.2 Rumusan masalah :
Rumusan masalah yang dapat disimpulkan adalah Apakah ada hubungan
komunikasi terapeutik oleh kader terhadap peningkatan kualitas hidup pada
lansia ?
1.3 Tujuan :
1.3.1 Umum :
Mengetahui adanya hubungan komunikasi terapeutik oleh kader
dengan tingkat kualitas hidup lansia di Dusun Gambiran Kabupaten
1.3.2

Malang
Khusus
a. Mengidentifikasi pelaksanaan komunikasi terapeutik oleh kader di
Dusun Gambiran Kabupaten Malang
b. Mengidentifikasi kualitas hidup lansia di Dusun Gambiran
Kabupaten Malang
c. Mengidentifikasi hubungan pelaksanaan komunikasi terapeutik
oleh kader terhadap tingkat kualitas hidup lansia di Dusun
Gambiran Kabupaten Malang

1.4 Manfaat :
1.4.1 Manfaat Akademik
Menambahkan pengetahuan mengenai ilmu keperawatan terutama
gerentology tentenag konsep diri lansia, komunikasi terapeutik pada
1.4.2

lansia dan kualitas hidup lansia


Manfaat Praktis
a. Bagi pelayanan komunitas
Memberikan gambaran mengenai kualitas hidup lansia di
komunitas, sehingga timbul upaya untuk meningkatkan pelayanan

sebaikmungkin agar kualitas hidup lansia tetap pada keadaan


yang optimal
b. Bagi pemerintah sebagai pengatur kebijakan
Perlu adanya suatu kebijakan yang bertujuan meningkatkan
kualitas hidup lansia melalui peningkatan kualitas pelayanan
lansia dalam komunitas maupun panti

Daftar pustaka

Bappenas.2009. SDM dan Kebudayaan : Tahun 2025 Angka Harapan Hidup


Penduduk
Indonesia
73,7
Tahun.
(online)
http://www.bappenas.go.id/node/142/1277/tahun-2025-angka-harapanhidup-penduduk-indonesia-737-tahun/. Diakses pada tanggal 23 september
2013.

Darmojo & Martono. 2006. Buku Ajar Geriatri (Ilmu kesehatan usia lanjut).
Jakarta : Balai penerbit FKUI.
Demartoto & Martono. 2007. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Hermawati. 2008. Komunikasi Terapeutik. (Online) http://www.hama,s word.com.
Diakses pada tanggal 23 september 2013
Hurlock,E B.1992. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Statistik Indonesia.2010. Angka Harapan Hidup. (online) http://www.datastatistikindonesia.com/proyeksi/index.php?
option=com_content&task=view&id=910&Itemid=923.
Diakses
pada
tanggal 23 september 2013.
Stanley & Beare. 2007. Buku Ajar Gerontik Edisi 2. Jakarta: EGC
Watson, R. 2003. Perawatan Pada Lansia. Alih Bahasa : Musri, editor ed bhs
Indonesia : Egi Komara Yudha. Jakarta: EGC

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep komunikasi
2.1.1 Pengertian
Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin communicare yang berarti
berpartisipasi atau memberitahukan (mundakir, 2006). Komunikasi

merupakan proses interpersonal yang melibatkan ucapan dan perilaku


yang memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan
dunia sekitarnya (potter & perry 2005). Komunikasi merupakan alat untuk
membina hubungan antara perawat dengan klien, karena komunikasi
mencakup penyampaian informasi, pertukaran pikiran dan perasaan, selain
itu komunikasi juga merupakan alat yang efektif mempengaruhi orang lain
(stuart & sundeen,1998).
Komunikasi juga merupakan elemen dasar dari hubungan
interpersonal untuk membuat, memelihara, dan menampilkan kontak
dengan orang lain. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang
direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk
kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi
interpersonal dengan titik tolak salaing memberikan pengertian antara
perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dalam komunikasi ini adalah
adanya saling membutuhkan antara perawat dan pasien, sehingga dapat
dikategorikan kedalam komunikasi pribadi diantara perawat dan pasien:
perawat membantu dan pasien menerima bantuan (mary ann, 1998).
Komunikasi terapeutik bukan pekerjaaan yang bisa dikesampingkan,
namun harus direncanakan, disengaja dan merupakan tindakan
professional. Akan tetapi jangan sampai karena terlalu asik bekerja,
kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar
belakang dan masalahnya (arwani, 2003).
Komunikasi dalam bidang keperawatan merupakan proses untuk
menciptakan hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien untuk
mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta
kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu
komunikasi terapeutik memegang peran penting dalam memecahkan
masalah yang dihadapi. Pada dasarnya komunikasi terapeutik adalah
komunikasi professional yang mengarah pada tujuan yaitu menyembuhkan
pasien. Dalam komunikasi terapeutik terdapat dua komponen penting yaitu
proses komunikasinya dan efek komunikasinya. Komunikasi terapeutik
termasuk komunikasi untuk personal dengan titik tolak saling memberikan
pengertian antara petugas kesehatan dengan pasien. Komunikasi
terapeutik merupakan bentuk keterampilan dasar untuk melakukan
wawancara digunakan pada saaat petugas kesehatan melakukan
pengkajian, memberi penyuluhan kesehatan dan perncanaan perawatan
(christina l.i, 2003).
Komunikasi terapeutik oleh kader kesehatan ...................................
2.1.2 Fungsi Komunikasi terapeutik
Menurut Vancarolis dalam purwanto (1994) fungsi komunikasi terapeutik
adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerjasama anatara perawat dan
klien. Perawat berusaha mengungkapkan perasaan, mengidentifikasi dan

mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan selama


perawatan.
Tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien yang
menurut Stuart dan Sundeen (1995) melputi :
1. Meningkatkan kemandirian kklien melalui proses realisasi diri,
penerimaan diri, dan rasa hormat terhadap diri sendiri
2. Identitas diri yang jelas dan integrasi yang tinggi
3. Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan
saling tergantung dan mencintai
4. Meningkatkan kesejahteraan klien dengan peningkatan fungsi dan
kemampuan memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal
yang realistis
2.1.3 Karakteristik komunikasi terapeutik
Menurut Arwani (2002) ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri
komunikasi terapeutik antara lain :
1. Keikhlasan
Perawat harus menyadari tentang nilai, sikap dan perasaan ayang dimiliki
terhadap keadaan klien. Perawat yang mampu menunjukan rasa
ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai sikap yang dipunyai terhadap
klien sehingga mampu belajar untuk mengkomunikasikan secara tepat.
2. Empati
Empati merupakan perasaan pemahaman dan penerimaan perawat
terhadap perasaan ayang dialami klien dan kemampuan merasakan
dunia pribadi klien. Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif, dan
tidak dibuat-buat (obyektif) didasarkan atas apa yang dialami orang lain.
Empati cenderung bergantung pada kesamaan pengalaman dianatara
oarang ayanga terliabat dalam komunikasi.
3. Kehangatan
Dengan kehangatan , perawat akan mendorong klien untuk
mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan
tanpa ada rasa takut untuk dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang
hangat, permisif dan tanpa adanya ancaman menunjukan adanya rasa
penerimaan
perawat
terhadap
kien.
Sehingga
klien
akan
mengekspresikan perasaannya secara lebih mendalam.
2.1.4 Prinsip komunikasi terapeutik
Keliat (2002) menyatakan bahwa tujuan komunikasi terapeutik akan
tercapai bila perawat dalam helping relationship memiliki prinsip- prinsip/
karakteristik dalam menerapkan komunikasi terapeutik yang meliputi :
1. Perawat harus mengenal dirinya sendiri dengan sikap yang berarti,
menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut

2. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya


dan saling menghargai
3. Perawat harus memahami, menghayati niali yang dianut oleh klien
4. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan klien baik fisik maupun
mental
5. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan klien memiliki
motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya,
sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalahmasalah ayang dihadapi.
6. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara abertahap
untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah,
keberhasilan maupun frustasi.
7. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat
mempertahankan konsistensinya.
8. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan
sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.
9. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan
terapeutik
10. Mampu berperansebagai role model agar dapat menunjukan dan
meyakinkan oang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu
mempertahankan suatu keadaan sehat baik fisik, mental, spiritual dan
gaya hidup.
11. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan yang dianggap
menganggu.
12. Perawat harus menciptakan suasana ayang memungkinkan pasien bebas
berkembang tanpa ada rasa takut
13. Altruisme, mendapat kepuasan dengan menolong orang lain secara
manusiawi.
14. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mugkin keputusan
yang dibuat berdasarkan prinsip kesejahteraaan manusia.
15. Bertangung jawab dalam dua dimensi yitu tanggung jawab terhadap
dirinya atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang
lain.
Dengan prinsip-prinsip tersebut, diharapkan perawat akan mampu
mengunakan dirinya sendiri secara terapeutik. Selanjutnya upaya perawat
untuk meningkatkan kemampuan yang berhubuangan dengan
pengetahuan tentang dinamika komunikasi, penghayatan terhadap
kelebihan dan kekurangan diri dan kepekaan terhadap kebutuhan orang
lain sangat diperlukan dalam mengunakan dirinya sendiri secara
terapeutik. Menggunakan diri secara terapeutik memerlukan integrasi dari
ketiga kemampuan tersebut (Tasmuri.A, 2006).