Anda di halaman 1dari 49

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

GAMBARAN RADIOLOGI
TRAUMA TUMPUL
ABDOMEN

Oleh:
1. Dewi Resmawati, S.Ked
2. Mira Ristaman Harahap,
S.Ked

PEMBIMBING:
dr. Paulina Watofa,
Sp.Rad

I. PENDAHULUAN
Trauma tumpul masalah serius & memerlukan

penanganan segera <khususnya di instalasi gawat darurat>


Keterlambatan suatu diagnosis angka morbiditas dan

mortalitas,
Banyak dokter menganggap, ruptur organ abdomen

peritonitis mudah dikenal,


Padahal penilaian terhadap penderita seringkali terganggu

karena intoksikasi alkohol, penggunaan obat-obatan terlarang,


cedera otak atau saraf tulang belakang, atau cedera pada
struktur yang berdekatan seperti tulang iga, tulang belakang,
atau tulang panggul merupakan penyebab utama
luputnya diagnosa trauma abdomen.

I. PENDAHULUAN
Untuk mengevaluasi trauma abdomen

menghindari kesalahan menentukan cedera


organ/ menghindari keterlambatan diagnosis
melakukan evaluasi diagnostik objektif,
Beberapa metode diagnostik penunjang:
Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL)
CT Scan abdomen
USG Focused Abdominal Sonography For

Trauma (FAST), atau


Laparaskopi diagnostik.

II. TINJAUAN PUSTAKA


1. Definisi

Pukulan / benturan langsung pada


rongga abdomen yang
mengakibatkan cedera
tekanan/tindasan pada isi rongga
abdomen, terutama organ padat
(hati, pancreas, ginjal, limpa) atau
berongga (lambung, usus halus,
usus besar, pembuluh pembuluh
darah abdominal) dan
mengakibatkan ruptur abdomen.

2. Etiologi

-Pukulan,
-benturan,
-ledakan,
-deselerasi,
-Kompresi, atau
-sabuk pengaman (setbelt).
Penyebab tersering dari
trauma tumpul abdomen
akibat kecelakaan
kendaraan bermotor

2. Etiologi

3. Prevalensi
National
RS
14.113
Dr. Center for Injury Prevention and Control

4. Anatomi

4. Anatomi

5. Patogenesis

1. Trauma

5. Patogenesis

1. Trauma
Kompresi
Gaya kompresi luar yang mengakibatkan kenaikan

tekanan intra-abdomen yang mendadak dan


dramatis,
Saat tekanan memuncak tinggi terjadilah ruptur

pada organ-organ berongga (Hukum Boyle),


Dapat menyebabkan ruptur diafragma dan

translokasi organ-organ abdomen ke dalam rongga


thorax.

1. Trauma
Kompresi

5. Patogenesis

2. Trauma
Himpitan

Sabuk pengaman jika digunakan dengan baik kematian

65%-70% dan trauma berat sampai 10x, tapi bila tidak


dipakai dengan benar, sabuk pengaman trauma.
Agar berfungsi dengan baik, sabuk pengamna harus dipakai di
bawah SIAS, dan di atas femur, tidak boleh mengendur
saat tabrakan dan harus mengikat penumpang dengan
baik.
Bila dipakai terlalu tinggi (di atas SIAS) maka hepar, lien,
pankreas, usus halus, diodenum, dan ginjal akan terjepit di
antara sabuk pengaman dan tulang belakang, dan timbul burst
injury atau laserasi.
Hiperfleksi vetebra lumbalis akibat sabuk yang terlalu tinggi
mengakibatkan fraktur kompresi anterior dan vertebra lumbal.

5. Patogenesis

2. Trauma
Himpitan

5. Patogenesis

3. Cedera
Akselerasi/Deselerasi

Menyebabkan gerakan berlawanan diantara struktur

yang berdekatan.
Terjadi gaya memotong pada penggantung alat-alat

dalam terutama di dekat titik fiksasinya.


Contoh pada ginjal dan limpa denga pedikelnya, pada

hati terjadi laserasi hati bagian sentral, terjadi jika


deselerasi lobus kanan dan kiri sekitar ligamentum teres.
Shear force terjadi bila pergerakan ini terus berlanjut,

3. Cedera
Akselerasi/Deselerasi

6. Diagnosis
1. Anamnesis:
- Mecanisme of trauma,
- AMPLE:
A llergies
M edications
P ast medical history
L ast meal or other intake
E vents leading to presentation.
2. Pem. Fisik:
PRIMARY SURVEY A B C D E
SECONDARY SURVEY HEAD TO TOE

6. Diagnosis
3. Study diagnostic khusus:

6. Diagnosis
Hemodinamika
tdk stabil

FAST
Jika hasil FAST jelek,
misalnya kualitas
gambar yang tidak bagus
hemoperiton
eum
DPL

Tdk ada
hemoperiton
eum

FAST dilakukan
secepatnya setelah
primary survey, atau
ketika kliknisi bekerja
secara paralel,
biasanya dilakukan
bersamaan dengan
primary survey,
sebagai bagian dari C
(Circulation) pada ABC
laparotomi
emergensi
Evaluasi lokasi
perdarahan

6. Diagnosis
Hemodinamika
stabil

FAST

Tidak
Terdeteksi
hemoperiton
eum

Terdeteksi
hemoperitoneu
m
CT scan untuk
memperoleh gamb. cedera
intraabdominal dan
menaksir jumlah
hemoperitoneum

lakukan
pem. fisik,
USG, dan CT
secara serial

Tapi tidak untuk pasien


dengan perubahan
sensoris dan status
mental karena cedera
kepala tertutup,
intoksikasi obat dan
alkohol, atau cedera
lain yang mengganggu

7. DPL
(Diagnostic Peritoneal
Lavage)
Indikasi:

Kontra Indikasi:

Perubahan sensorium
cedera kepala,intoksikasi
alkohol, penggunaan obat
terlarang.
2. Perubahan perasaan
cedera jaringan saraf tulang
belakang.
3. Cedera pada struktur
berdekatan tulang iga
bawah, panggul, tulang
belakang dari pinggang
bawah (lumbar spine).
4. Pemeriksaan fisik yang

1.

1.

Mutlak bila
ada indikasi
untuk
laparotomy.
2. Relative
operasi
abdomen
sebelumnya,
kegemukan
yang tidak
sehat, sirosis
yang lanjut, dan
koagulopati

7. DPL
(Diagnostic Peritoneal
Lavage)
Keuntungan DPL:
triase pasien trauma multisistem dengan

hemodinamik yang tidak stabil,


melalui pengeluaran perdarahan intapertoneal
dapat mendeteksi perdarahan minor pada pasien
dengan hemodinamik stabil.
Kelemahan dan komplikasi DPL:
infeksi lokal atau sistemik ( pada kurang dari

0,3% kasus)
cedera intaperitoneal
positif palsu karena insersi jarum melalui dinding
abdomen dengan hematoma atau pada

7. DPL
(Diagnostic Peritoneal
Lavage)
Tahapan DPL:
Tahap pertama adalah

aspirasi darah bebas


intraperitoneal. Jika darah
yang teraspirasi 10 ml
atau lebih, hentikan
prosedur karena hal ini
menandakan adanya
cedera intraperitoneal.

Index

Positive

Equivocal

Blood

>10 mL

Fluid

Enteric contents

Red blood
cells

>1.000.000 / mm3

>20.000 /
mm3

White
blood cells

>1.000.000 / mm3

>500 / mm3

Aspirate

Lavage

Enzyme

Amylase >20
Amilase >20
IU/L and alkaline
IU/L or alkaline
phosphatase >3 IU/L phosphatase
>3 IU/L

Jika dari DPT tidak

didapatkan darah, lakukan


peritoneal lavage dengan
normal saline dan kirim

Bile

Confirmed
biomechanically

7. DPL
(Diagnostic Peritoneal
Lavage)

7. DPL
(Diagnostic Peritoneal
Lavage)

7. DPL
(Diagnostic Peritoneal
Lavage)

8. Radiologi Sebagai
Sarana Diagnostik

1.

1. Radiograf
Rontgen untuk screening adalah Ro-foto cervical

lateral, thorax AP, dan pelvis AP dilakukan pada


pasien trauma tumpul dengan multitrauma.
Rontgen foto abdomen 3 posisi (telentang,

setengah tegak dan lateral dekubitus) berguna


untuk melihat adanya udara bebas di bawah
diafragma ataupun udara di luar lumen di
retroperitoneum, yang kalau ada pada
keduanya menjadi petunjuk untuk dilakukannya
laparotomi.
Foto polos abdomen memiliki kegunaan yang

1. Radiograf

1. Radiograf

2.
Ultrasonograf
Metode pemeriksaan ultrasound pada kasus

trauma tumpul abdomen adalah FAST (Focused


Abdominal Sonogram for Trauma),
Tujuan primer mengidentifikasi adanyan

hemoperitonium pada pasien dengan kecurigaan


cidera intra-abdomen.
Indikasi FAST pasien yang secara

hemodinamik unstable dengan kecurigaan


cedera abdomen dan pasien-pasien serupa yang
juga mengalami cedera ekstra-abdominal
signifikan (ortopedi, spinal, thorax, dll.) yang

2.
Ultrasonograf
Keuntungan USG:
Portabel
dapat dilaksanakan dengan
cepat
tingkat sesitifitas sebesar 6595% dalam mendeteksi
paling sedikit 100 ml cairan
intraperitoneal.
spesifik untuk
hemoperitoneum
tanpa radiasi atau kontras
mudah dilakuakn
pemeriksaan serial jika
diperlukan
tekniknya mudah dipelajari

Kelemahan USG:
-cedera parenkim padat,
retroperitoneum, atau
diafragma tidak bisa
dilihat dengan baik
-kualitas gambar akan
dipengaruhi pada
pasien yang tidak
kooperatif, obesitas,
adanya gas usus, dan
udara subkutan
-darah tidak bisa
dibedakan dari ascites
-tidak sensitif untuk
mendeteksi cedera

2.
Ultrasonograf
Scan dimulai dari sub-xiphoid region di sagittal
planeProbe kemudian digerakkan ke kanan untuk
memeriksa Morrisons pouch (hepato-renal) (sagittal
plane)probe digerakkan ke arah kiri untuk untuk
menilai kavum spleno-renal (sagittal plane). Pada
keadaan ini, direkomendasikan agar bladder diisikan
dengan 200-300 ml dengan larutan normal steril
melalui kateter urin yang kemudian diklem. Cara ini
akan memberikan excellent sonological window
untuk memvisualisasi pelvis (transverse plane).
Pada pasien yang dicurigai mengalami cedera
bladder, hindari prosedur pengisian di atas.
Gantikan dengan meletakkan kantong berisi saline
di atas hipogastrium, dengan demikian akan

2.
Ultrasonograf

2.
Ultrasonograf

Morison pouch normal


(tidak ada cairan
bebas)

2.
Ultrasonograf

2.
Ultrasonograf

3. Computed
Tomography ( CTscan )
Prosedur diagnostik yang memerlukan

transport penderita ke scanner, pemberian


kontras oral maupun intravena, dan
scanning dari abdomen atas bawah dan
juga panggul Proses ini makan waktu dan
hanya digunakan pada penderita dengan
hemodinamik normal.
Indikasi: mendiagnosis cedera retroperitoneum

dan organ panggul,


Kotraindikasi relatif :
penundaan karena menunggu scanner,

3. Computed
Tomography ( CTscan )
Keuntungan CT-scan:
non invasive
mendeteksi cedera organ

dan potensial untuk


penatalaksanaan non
operatif cedera hepar dan
lien
mendeteksi adanya
perdarahan dan
mengetahui dimana
sumber perdarahan
retroperitoneum dan
columna vetebra dapat

Kelemahan CT-scan:
-kurang sensitif untuk
cedera pankreas,
diafragma, usus, dan
mesenterium
-diperlukan kontras intra
vena
-Mahal
-tidak bisa dilakukan
pada pasien yang tidak
stabil

3. Computed
Tomography ( CTscan )

3. Computed
Tomography ( CTscan )

3. Computed
Tomography ( CTscan )

Gambar 1. Blunt abdominal trauma


with splenic injury and
hemoperitoneum

Gambar 2. Blunt abdominal trauma


with liver laceration

3. Computed
Tomography ( CTscan )

Perbandingan Pemeriksaan DPL, USG, dan CT Scan


Pada Trauma Tumpul
Indikasi

DPL

USG

CT Scan

Menentukan

Menentukan

Menentukan

adanya

cairan bila BP

organ cedera

perdarahan bila
Keuntungan

BP
- Diagnosis cepat

bila BP normal
- Diagnosis

- Paling spesifik

dan sensitive

cepat, tidak

untuk cedera

- Akurasi 98%

invasif, dan

- Akurasi 92-98%

dapat diulang
Kerugian

Invasive, gagal

- Akurasi 86-97%
Tergantung

Membutuhkan

untuk

operator distorsi

biaya dan waktu

mengetahui

gas usus dan

lebih lama

cedera

udara di bawah

Tidak

diafragma atau

kulit

mengetahui

III. KESIMPULAN
Trauma tumpul merupakan suatu masalah serius

dan memerlukan penanganan segera khususnya di


instalasi gawat darurat.
Morbiditas dan mortalitas cedera intraabdomen
karena trauma sering berhubungan dengan
keterlambatan atau kesalahan menegakkan
diagnosis.
Untuk mendiagnosis keadaan tersebut dapat
dilakukan dengan beberapa metode diagnostik
penunjang seperti: Diagnostic Peritoneal Lavage
(DPL), CT Scan abdomen, USG Focused Abdominal
Sonography For Trauma (FAST).
Semua pasien trauma tumpul dengan hemodinamik
yang tidak stabil harus segera dinilai kemungkinan

TERIMA KASIH