Anda di halaman 1dari 2

TEORI BELAJAR SOSIAL (SOCIAL LEARNING THEORY)

Beberapa psikolog yang beraliran behaviorisme menganggap perkembangan individu


sangat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga lingkunganlah yang membentuk individu (satu
arah). Lain halnya dengan Albert Bandura seorang psikolog asal Amerika yang mengembangkan
teori belajar social menyatakan perkembangan individu terjadi secara dua arah. Bandura
menyebutnya dengan resiprokal determinan dimana individu mempengaruhi lingkungan dan
lingkungan mempengaruhi individu. contohmya dapat kita liat pada pada presiden kita pada saat
ini pak Jokowi. lingkungan dia menuntut pak jokowi untuk menjadi bijaksana dan tegas dalam
mengambil keputusan dan dengan kebijaksanaan serta ketegasannya pak Jokowi dapat
mempengarui rakyatnya menjadi disiplin contohnya dalam membuang sampah.
Teori belajar social dimulai dengan Penelitian awal Bandura berfokus pada pembelajaran
dengan mengamati objek yang kemudian ditiru oleh individu (observational learning). Hal itu
juga biasanya disebut sebagai imitasi atau modelling karena kita melakukan pembelajaran
dengan mengobservasi atau mengamati dan meniru perilaku orang lain. Contohnya seorang anak
perempuan yang mengamati kelembutan tutur kata Ibunya ketika menghadapi orang lain. Ketika
bersama teman-teman sebayanya ia memperlihatkan karakter yang sama dengan Ibunya. Para
ahli berpendapat individu perlu melakukan observasi terhadap perilaku orang lain untuk
memiliki berbagai perilaku, gagasan dan perasaan yang menjadi hal penting dalam
perkembangan kehidupan kita.
Bandura memperbaruhi teori social belajar menjadi teori social koginitif. Dengan
perbaharuan ini proses kognitif menjadi berpengaruh dalam perkembangan. Proses kognitif yang
bekerja pada individu dimulai dengan tahapan mengamati model terlebih dahulu, kemudian
individu belajar dari bagian-bagian kecil dari perilaku model-nya. Setelah itu individu akan
mengkombinasikan bagian-bagian kecil tersebut dengan kognitif yang dimilikinya menjadi
perilaku baru yng lebih kompleks. Contohnya seorang anak yang ingin mengikuti lomba dance
dengan gerakan baru. Kemudian ia tak sengaja melihat gerakan penari balet. Ia lalu mengamati
dan berpikir gerakan kakinya cukup menarik. Kemudian ia mengamati pemain phantomim dan

mengamati gerakan tangannya yang lincah dan ia mengkombinasikan kedua gerakan tersebut
menjadi gerakan baru berdasarkan hasil pengamatannya.
Situasi-situasi lain yang diperlukan agar pengamatan berlangsung secara efektif
diantaranya yaitu kemampuan Atensi (mengamati), Retensi (mengingat), Reproduksi (meniru),
Motivasi. Sehingga dapat kita lihat bahwa dengan meihat model (lingkungan) tingkah laku kita
dapat berubah dipengaruhi tetapi tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa adanya peran kognitif yang
mempengaruhi tingkah laku kita juga. Dapat kita simpulkan bahwa teori belajar sosial ini
merupakan teori yang menjembatani antara teori behavior dan teori kognitif.
Teori sosial-belajar ini masuk dalam salah satu teori perkembangan karena dengan teori
ini kita dapat menjelaskan perkembangan tingkah laku seseorang dengan meniru tingkah laku di
lingkungannya. Tetapi mempertimbangkan dan mengolah prilaku yang ingin diadopsinya di
dalam kognitif individu tersebut terlebih dahulu.