Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH FARMAKOGNOSI

SIMPLISIA

OLEH :

ADELYA
ANCU SUGIANTO
ANITA ULANDARI
ATIRAH OKTARINA
AYU RAHMANI RAHIM
FITRIANI HASMIN
HARIYANI
HASRINA HASYIM
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN FARMASI
2015

A. Pengertian
Pengertian simplisia menurut Farmakope Indonesia Edisi III, adalah bahan
alam yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan
apapaun juga kecuali dinyataka lain berupa bahan yang telah dikeringkan.

Menurut Buku Materia Medika Indonesia, SIMPLISIA adlh bhn alamiah


yg digunakan sbg obat yg blm mengalami pengolahan apapun juga, dan
kecuali dikatakan lain, berupa bhn yg telah dikeringkan.

B. Sumber sumber simplisia


Berikut adalaha beberapa contoh jenis simplisia yang berasal dari nabati,
hewani, dan mineral (pelikan) beserta asal dan kegunaannya.
Simplisia yang Berasal dari Bahan Nabati

Nama Simplisia

Asal

Kegunaan

Agerati folium

Daun
Bandotan(Ageratum Perawatan rambut, sakit perut, obat
conyzoides L.)
luka

Basilici folium

Daun
basilicum L.)

Carambolae flos

Bunga
belimbing
manis Peluruh dahak/obat batuk (ekspektoran)
(Averrhoa carambola L.)

Eurycomae Radix

Akar pasak bumi (Eurycoma Diuretik,antipiretik


longifolia Jack)

Granati Cortex

Kulit batang
granatum L.)

Hibisci similidis Folium

Daun waru gunung(Hibiscus Peluruh


dahak
similis L.)
perawatan rambut

Jasmini radix

Akar
melati
(Jasminum Obat luka,obat pereda rasa sakit
sambac (L.) W.Ait)

selasih(Ocimum Peluruh dahak (ekspektoran), peluruh


haid
(emenagoga),
karminatif,
pencegah mual, penambah nafsu
makan, pengelat (adstringen), penurun
panas (antipiretik), pereda kejang
(antispasmodik), pengobatan pasca
persalinan

delima(Punica Pengelat (astringen)

(ekspektoran),

Kalanchois Folium

Daun sosor bebek (Kalanchoe Peluruh dahak(ekspektoran), penurun


pinnata (Lmk.) Pers)
panas(antipiretik)

Lansii Semen

Biji duku(Lansium domesticum Peluruh


kencing(diuretik),
Corr.)
panas(antipiretik)

Lagenarieae Fructus

penurun

Buah labu panjang, buah labu Peluruh air seni (diuretik), peluruh
air(Lagenaria siceraria (Molina) dahak, obat batuk (ekspektoran),
Standley)
penurun panas (antipiretik).

Simplisia yang Berasal dari Bahan Hewani

Nama Simplisia

Asal

Kegunaan

Ikan

Sebagai sumber vitamin D

lebah

Sumber energi dan penambah stamina


tubuh

Domba (Ovis aries)

Bahan
tambahan
pada
sediaan
farmasetik umumnya sebagai dasar
pembuatan salep, bahan pembuatan
sabun, pasta, dsb.

Babi hutan (Ovis aries)

Digunakan
dalam
makanan
dan
sebagai bahan pembuatan salep, dsb.

Lebah(Apis mellifera)

Bahan salep, dsb.

Lebah(Apis mellifera)

Bahan salep, dsb.

Oleum iecoris asselli


(minyak ikan)

Mel depuratum
(madu lebah)

Adeps lanae
(lemak bulu domba)

Adeps suillus
(lemak perut babi)

Cera Alba
(malam putih)

Cera Flava

Gelatinum

Ikan, sapi, dan babi(protein Sebagai salah satu bahan baku dari
yang dihasilkan dari tulang permen lunak, jeli, dan es krim, dan
dan kulit binatang)
sebagai bahan pembuatan salep, dsb.
Minyak ikan hiu

Sumber
kalori
dan
avitaminosis A dan B

Oleum charcharidis

Cetaceum

Thyroidum

Kepala lemak dan


Physeter catodon L

pengobatan

badan Bahan salep, suppo, dsb.

(serbuk kering dari kelenjar Pengobatan terhadap hipotiroidisme


tiroid binatang menyusui, telah (kerdil) dan myzoedema
dibersihkan
dari
jaringan
pengikat dan lemak

Simplisia yang Berasal dari Bahan Mineral

Nama Simplisia

Asal

Kegunaan

Serbuk seng (Zn)

bisa diperoleh dari makanan


seperti
bunci,
kacangkacangan, keju, daging sapi,
ayam, dan aneka ikan laut.

Mempertahankan
kesuburan,
memperkuat
daya
tahan
tubuh,
membantu dalam proses penyembuhan
dan
mampu
membantu
agar
menghasilkan sekitar 100 enzim yang
diperlukan. Seng juga berguna untuk
kecantikan kulit yaitu dapat mencegah
timbulnya jerawat, mecegah kulit kering,
dan membantu regerasi kulit

Serbuk tembaga (Cu)

Bisa diperoleh dari makanan Membantu hemoglobin, kolagen, dan


seafood, gandum, jagung, dan menjaga kesehatan saraf
polong-polongan.

Mangan (Mn)

Zat besi (Fe)

Kromium (Cr)

Bisa diperoleh dari makanan


telur,
kacang-kacangan,
sayuran berdaun hijau, daging
merah. Pada buah-buahan
terdapat pada buah strawberi,
nanas, anggur.

Menjaga kesehatan otak, tulang,


berperan dalam pertumbuhan rambut
dan kuku, membantu menghasilkan
enzim untuk mengubah karbohidrat dan
protein membentuk energi yang akan
digunakan

Bisa diperoleh dari hati ayam, Mengangkut oksigen dari paru-paru ke


daging ayam, daging merah, seluruh tubuhn dan menghilangkan
ikan, dan kacang polong
racun dari tubuh
Bisa diperoleh dari roti, Dibantu dengan vitamin B3, kromium
gandum, jagung, daging, ikan, berfungsi
mengatur
penempatan

dan keju

Magnesium (Mg)

glukosa dalam darah menuju ke sel-sel


tubuh untuk kemudian diubah menjadi
energi

Bisa diperoleh dari makanan Berperan dalam menjaga kesehatan


kacang-kacangan,
sayuran jantung, ginjal, dan otot
berdaun
hijau,
gandum,
dagung, dan tahu
Dari minyak mineral

Bahan salep, pencahar lemak.

Vaselin flavum

Vaselin album

Vaselin flavum yang telah Bahan salep (tidak untuk salep mata),
diputihkan
dengan pencahar lemak.
menggunakan asam sulfat
Destilasi minyak mineral

Bahan salep dan pencahar

Dari minyak mineral

Bahan bahan tambahan seperti sebagai


pengeras salep, dsb.

Parafin liquidum

Parafin solidum

C. Penggolongan simplisia
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
a. Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian
tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya
Datura Folium dan Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel
yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja
dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahanbahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari
tanamannya.
b. Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zatzat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia

murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel
depuratum).
c. Simplisia Pelikan atau Mineral
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan
belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga
( Dep.Kes RI,1989).

Selain ketiga jenis simplisia diatas juga terdapat hal lain, yaitu benda
organic asing yang disingkat benda asing, adalah satu atau keseluruhan
dari apa-apa yang disebut dibawah ini :
1. Fragmen, merupakan bagian tanaman asal simplisia selain bagian
tanaman yang disebut dalam paparan makroskopik, atau bagian
sedemikian nilai batasnya disebut monografi.
2. Hewan hewan asing, merupakan zat yang dikeluarkan oleh
hewan, kotoran hewan, batu tanah atau pengotor lainnya.
D. Contoh simplisia
Klasifikasi Sampel
CORTEX adalah kulit batang, merupakan bagian kulit yang digunakan
sebagai ramuan obat. Simplisia kulit batang umumnya diambil dari bagian
kulit terluar tanaman tingkat tinggi yang berkayu. Bagian yang sering

digunakan sebagai bahan ramuan meliputi kulit batang, cabang atau kulit
akar sampai ke lapisan epidermis.

CINNAMOMI CORTEX (FI)


Nama lain

: Kulit Kayumanis, Ceylon Cinnamon

Nama tanaman asal

: Cinnamomum zeylanicum (BI)

Keluarga

: Lauraceae

Zat

berkhasiat

utama/isi

Minyak

atsiri

yang

mengandung

egenol

sinamilaldehida, zat penyamak, pati, lendir


Penggunaan

: Karminativa, menghangatkan lambung, dicampur

dengan adstringensia lainnya untuk obat mencret


Pemerian

: Bau aromatik, rasa pedas dan manis.

Bagian yang digunakan

: Kulit bagian dalam yang diperoleh dari anak batang

yang telah dipangkas.


Cara panen

: Tanaman yang berumur 2-3 tahun dipotong beberapa

cm diatas tanah. Tunas-tunas baru dipilih 5-6 buah dan dibiarkan tumbuh untuk
dipotong lagi setelah mencapai tinggi 2-3 meter.

Panen dilakukan pada musim hujan, batang-batang dikulit arah memanjang


menjadi 2 bagian atau lebih. Diberkas dan didiamkan beberapa lama supaya
terjadi fermentasi yang nanti mempermudah pengikisan epidermis dan jaringan
hijau dibawah epidermis.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Akar merupakan salah satu organ tumbuhan yang paling penting disamping
batang dan daun, bagi tumbuhan yang tumbuhnya telah merupakan kormus.
Daftar radix yang akan dibahas

PANACIS RADIX (MMI)


Nama lain

: Ginseng

Nama tanaman asal

: Panax schinseng

Keluarga

: Araliaceae

Zat berkhasiat utama / isi


sapoginol

: Glukosida panakuilon, minyak atsiri, damar, panaks,

Penggunaan

: Amara dan stimulansia

Pemerian

: Bau lemah, rasa manis. pedas dan agak pahit

Bagian yang digunakan

: Akar

Sediaan

: Serbuk dan Vinum

Waktu panen
berumur 5 6 tahun

: Dikumpulkan pada musim gugur dari tanaman yang

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Rhizoma adalah modifikasi batang tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah


permukaan tanah dan dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas-ruasnya.

CURCUMAE RHIZOMA ( FI )
Nama lain

: Temu lawak, Koneng gede

Nama tanaman asal

: Curcuma xanthorrhiza (Roxb)

Keluarga

: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi


: Minyak atsiri yang mengandung felandren dan
tumerol, zat warna kurkumin, pati. Kadar minyak atsiri tidak kurang dari
8,2
% b/v

Penggunaan

: Kolagoga, antispasmodika

Pemerian

: Bau khas aromatik, rasa tajam dan pahit

Bagian yang digunakan

: Kepingan akar tinggal

Waktu panen
: Panenan dilakukan apabila daun dan bagian diatas
yang sudah mengering. Untuk daerah yang musim kemaraunya jelas
penanamannya dilakukan pada musim kemarau berikutnya.
Di daerah yang banyak dan merata curah hujannya dan tidak jelas musim
kemaraunya tanaman dapat dipanen pada umur 9 bulan atau lebih. Cara panen
dilakukan dengan membongkar rimpang menggunakan garpu
Syarat Temulawak kering untuk ekspor sebagai berikut:
Warna

: Kuning jingga sampai coklat

Aroma

: Khas wangi aromatik

Rasa

: Pahit, agak pedas

Kelembaban

: Maksimum 12 %

Abu

:37%

Pasir

:1%

Kadar minyak atsiri : minimal 5 %


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Daun

Klasifikasi ilmiah tanaman sirih

Kingdom : Plantae.

Division : Magnoliophyta.

Class : Magnoliopsida.

Ordo : Piperales.

Family : Piperaceae.

Genus : Piper.

Species : P. Betle

Kandungan Daun sirih

Tanaman sirih, terutama pada bagian daunnya, mengandung sejumlah zat


yang dapat memberikan beberapa manfaat bagi manusia.
Secara umum, daun sirih mengandung minyak asitri yang berisikan senyawa
kimia seperti fenol serta senyawa turunannya antara lain kavikol, kavibetol,
eugenol, karvacol
Kandungan daun sirih lainnya yaitu karoren, asam nikotinat, riboflavin,
tiamin, vitamin C, gula, tannin, patin dan asam amino. Semua zat dan
senyawa yang terkandung didalamnya. menjadikan banyak sekali manfaat
daun sirih yang bisa anda dapatkan untuk kesehatan tubuh.

Bunga

Klasifikasi Tanaman

Nama Simplisia

: Jasmini flos

Tanaman Asal

: Jasminum sambac L

Divisi

: Magnoliophyta

Sub Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Scrophularies

Famili

: Oleaceae

Genus

: Jasminum

Spesies

: Jasminum sambac

Kandungan

: Minyak atsiri, asam format, asam benzoat, dan

asam asetat ester

E. Cara pembuatan
1. PENGUMPULAN BAHAN BAKU
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung
pada :
1. Bagian tanaman yang digunakan.
2. Umur tanaman yang digunakan.
3. Waktu panen.
4. Lingkungan tempat tumbuh.

Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di


dalam bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat
bagian tanaman tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar.
2. SORTASI BASAH
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan
asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar
suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang,
daun, akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah
mengandung bermacam-macam mikroba dalam jurnlah yang tinggi, oleh karena
itu pembersihan simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah
mikroba awal.
3. PENCUCIAN
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang
melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya
air dari mata air, air sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat
yang mudah larut di dalam air yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam
waktu yang sesingkat mungkin. Menurut Frazier (1978), pencucian sayur-sayuran
satu kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah mikroba awal, jika dilakukan
pencucian sebanyak tiga kali, jumlah mikroba yang tertinggal hanya 42% dari
jumlah mikroba awal. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua
mikroba karena air pencucian yang digunakan biasanya mengandung juga

sejumlah mikroba. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan
jumlah rnikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk
pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat
bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat
menipercepat pertumbuhan mikroba.
4. PERAJANGAN
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan
bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan
dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi
dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan
pisau, dengan alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau
potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan, semakin cepat penguapan air,
sehingga mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis
juga dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah
menguap. Sehingga mempengaruhi komposisi bau dan rasa yang diinginkan. Oleh
karena itu bahan simplisia seperti temulawak, temu giring, jahe, kencur dan bahan
sejenis lainnya dihindari perajangan yang terlalu tipis untuk mencegah
berkurangnya kadar minyak atsiri. Selama perajangan seharusnya jumlah mikroba
tidak bertambah. Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk mengurangi
pewarnaan akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Pengeringan dilakukan
dengan sinar matahari selama satu hari.

5. PENGERINGAN
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak,
sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar
air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau
perusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu
dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya.Enzim
tertentu dalam sel, masih dapat bekerja, menguraikan senyawa aktif sesaat setelah
sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air
tertentu. Pada tumbuhan yang masih hidup pertumbuhan kapang dan reaksi
enzimatik yang merusak itu tidak terjadi karena adanya keseimbangan antara
proses-proses metabolisme, yakni proses sintesis, transformasi dan penggunaan isi
sel. Keseimbangan ini hilang segera setelah sel tumbuhan mati. Sebelum tahun
1950, sebelum bahan dikeringkan, terhadap bahan simplisia tersebut lebih dahulu
dilakukan proses stabilisasi yaitu proses untuk menghentikan reaksi enzimatik.
Cara yang lazim dilakukan pada saat itu, merendam bahan simplisia dengan etanol
70% atau dengan mengaliri uap panas. Dari hasil penelitian selanjutnya diketahui
bahwa reaksi enzimatik tidak berlangsung bila kadar air dalam simplisia kurang
dari 10%.

1. Pengeringan Alamiah.

Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang
dikeringkan, dapat dilakukan dua cara pengeringan :
1. Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan untuk
mengeringkan bagian tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu,
biji dan sebagainya, dan rnengandung senyawa aktif yang relatif stabil.
Pengeringan dengan sinar matahari yang banyak dipraktekkan di Indonesia
merupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang dilakukan dengan cara
membiarkan bagian yang telah dipotong-potong di udara terbuka di atas
tampah-tampah tanpa kondisi yang terkontrol sepertl suhu, kelembaban
dan aliran udara. Dengan cara ini kecepatan pengeringan sangat tergantung
kepada keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik dilakukan di daerah
yang udaranya panas atau kelembabannya rendah, serta tidak turun hujan.
Hujan atau cuaca yang mendung dapat memperpanjang waktu pengeringan
sehingga memberi kesempatan pada kapang atau mikroba lainnya untuk
tumbuh sebelum simplisia tersebut kering.
2. Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari
langsung. Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian
tanaman yang lunak seperti bunga, daun, dan sebagainya dan mengandung
senyawa aktif mudah menguap.

2. Pengeringan Buatan

Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan sinar


matahari dapat diatasi jika melakukan pengeringan buatan, yaitu dengan
menggunakan suatu alat atau mesin pengering yang suhu kelembaban, tekanan
dan aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan buatan adalah sebagai
berikut: udara dipanaskan oleh suatu sumber panas seperti lampu, kompor, mesin
disel atau listrik, udara panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau lemari
yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan di atas rak-rak
pengering. Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat pengering yang
sederhana, praktis dan murah dengan hasil yang cukup baik.
Dengan menggunakan pengeringan buatan dapat diperoleh simplisia dengan
mutu yang lebih baik karena pengeringan akan lebih merata dan waktu
pengeringan akan lebih cepat, tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Sebagai
contoh misalnya jika kita membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari untuk penjemuran
dengan sinar matahari sehingga diperoleh simplisia kering dengan kadar air 10%
sampai 12%, dengan menggunakan suatu alat pengering dapat diperoleh simplisia
dengan kadar air yang sama dalam waktu 6 sampai 8 jam.
6. SORTASI KERING
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan
simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagianbagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang
masill ada dan tertinggal pada sirnplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum
sirnplisia dibungkus untuk kernudian disimpan. Seperti halnya pada sortasi awal,

sortasi disini dapat dilakukan dengan atau secara mekanik. Pada simplisia bentuk
rimpang sering jurnlah akar yang melekat pada rimpang terlampau besar dan
harus dibuang. Demikian pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan bendabenda tanah lain yang tertinggal harus dibuang sebelum simplisia dibungkus.
Pengawetan
Simplisia nabati atau simplisia hewani harus dihindarkan dari serangga atau
cemaran atau mikroba dengan penambahan kloroform, CCl4, eter atau pemberian
bahan atau penggunaan cara yang sesuai, sehingga tidak meninggalkan sisa yang
membahayakan kesehatan.
Wadah
Wadah adalah tempat penyimpanan artikel dan dapat berhubungan langsung atau
tidak langsung dengan artikel. Wadah langsung (wadah primer) adalah wadah
yang langsung berhubungan dengan artikel sepanjang waktu. Sedangkan wadah
yang tidak bersentuhan langsung dengan artikel disebut wadah sekunder.
Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan
didalamnya baik secara fisika maupun kimia, yang dapat mengakibatkan
perubahan kekuatan, mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan
resmi.

Wadah tertutup baik: harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan
mencegah kehilangan bahan selama penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan
distribusi.
Suhu Penyimpanan
Dingin

: suhu tidak lebih dari 80C, Lemari pendingin mempunyai suhu antara

20C 80C, sedangkan lemari pembeku mempunyai suhu antara -200C dan -100C.
Sejuk

: suhu antara 80C dan 150C. Kecuali dinyatakan lain, bahan yang harus

di simpan pada suhu sejuk dapat disimpan pada lemari pendingin.


Suhu kamar : suhu pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang di
atur antara 150C dan 300C.
Hangat

: hangat adalah suhu antara 300C dan 400C.

Panas berlebih : panas berlebih adalah suhu di atas 400C.

F. Penamaan simplisia
Tata Nama Latin Tanaman
1. Nama Latin tanaman terdiri dari 2 kata, kata pertama disebut nama genus
dan perkataan kedua disebut petunjuk species , misalnya nama latin dari
padi adalah Oryza sativa, jadi Oryza adalah genusnya sedangkan sativa

adalah petunjuk speciesnya. Huruf pertama dari genus ditulis dengan huruf
besar dan

huruf pertama dari petunjuk species ditulis dengan huruf

kecil .Nama ilmiah lengkap dari suatu tanaman terdiri dari nama latin
diikuti dengan singkatan nama ahli botani yang memberikan nama latin
tersebut.
Beberapa contoh adalah sebagai berikut :
Nama ahli botani
Linnaeus
De Candolle
Miller
Houttuyn

Disingkat sbg
L
DC
Mill
Houtt

Nama tanaman lengkap


Oryza sativa L
Strophanthus hispidus DC
Foeniculum vulgare Mill
Myristica fragrans Houtt

2. Nama latin tanaman tidak boleh lebih dari 2 perkataan, jika lebih dari 2
kata (3 kata), 2 dari 3 kata tersebut harus digabungkan dengan tanda (-) .
Contoh : Dryopteris filix mas
Strychnos nux vomica
Hibiscus rosa sinensis
3. Kadang- kadang terjadi penggunaan 1 nama latin terhadap 2 tanaman yang
berbeda, hal ini disebut homonim dan keadaan seperti ini terjadi sehingga
ahli botani lain keliru menggunakan nama latin yang bersangkutan
terhadap tanaman lain yang juga cocok dengan uraian morfologis tersebut.
Tata Nama Simplisia

Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia disebutkan bahwa nama


simplisia nabati ditulis dengan menyebutkan nama genus atau species nama
tanaman, diikuti nama bagian tanaman yang digunakan. Ketentuan ini tidak
berlaku untuk simplisia nabati yang

diperoleh dari beberapa macam

tanaman dan untuk eksudat nabati.


Contoh :
Cinchonae Cortex, Digitalis Folium, Thymi Herba,
1.

Genus + nama bagian tanaman :


Petunjuk species + nama bagian

Zingiberis Rhizoma
Belladonnae Herba, Serpylli Herba, Ipecacuanhae

2.
tanaman :
Radix, Stramonii Herba
Genus + petunjuk species + nama Curcuma aeruginosae Rhizoma, Capsici frutescentis
3.
bagian tanaman :

Fructus

Keterangan : Nama species terdiri dari genus + petunjuk spesies


Contoh :
Nama spesies : Cinchona succirubra
Nama genus : Cinchona
Petunjuk species : succirubra

Cara memanen
Buah. Buah harus dipanen setelah masak fisiologis dengan cara me-metik.
Pemanenan sebelum masak fisiologis akan menghasilkan buah dengan kualitas
yang rendah dan kuantitasnya berkurang. Buah yang dipanen pada saat masih
muda, seperti buah mengkudu, jeruk nipis, jambu biji dan buah ceplukan akan
memiliki rasa yang tidak enak dan aromanya kurang sedap. Begitu pula halnya
dengan pemanenan yang terlambat akan menyebabkan pe-nurunan kualitas karena
akan terjadi perombakan bahan aktif yang ter-dapat di dalamnya menjadi zat lain.
Selain itu tekstur buah menjadi lembek dan buah menjadi lebih cepat busuk.
Daun. Pemanenan daun dilakukan pada saat tanaman telah tumbuh maksimal dan
sudah memasuki periode matang fisiologis dan dilakukan dengan memangkas
tanaman. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau yang bersih atau
gunting stek. Pemanenan yang terlalu cepat menyebabkan hasil produksi yang

diperoleh rendah dan kandungan bahan bahan aktifnya juga rendah, seperti
tanaman jati belanda dapat dipanen pada umur 1 - 1,5 tahun, jambu biji pada umur
6 - 7 bulan, cincau 3 - 4 bulan dan lidah buaya pada umur 12 - 18 bulan setelah
tanam. Demikian juga dengan pe-manenan yang terlambat menyebab-kan daun
mengalami penuaan (se-nescence) sehingga mutunya rendah karena bahan
aktifnya sudah ter-degradasi. Pada beberapa tanaman pemanenan yang terlambat
akan mempersulit proses panen.
Rimpang. Untuk jenis rimpang waktu pe-manenan bervariasi tergantung penggunaan. Tetapi pada umumnya pe-manenan dilakukan pada saat tanam-an
berumur 8 - 10 bulan. Seperti rimpang jahe, untuk kebutuhan eks-por dalam
bentuk segar jahe dipanen pada umur 8 - 9 bulan setelah tanam, sedangkan untuk
bibit 10 - 12 bulan. Selanjutnya untuk keperluan pem-buatan jahe asinan, jahe
awetan dan permen dipanen pada umur 4 - 6 bulan karena pada umur tersebut
serat dan pati belum terlalu tinggi. Sebagai bahan obat, rimpang di-panen setelah
tua yaitu umur 9 - 12 bulan setelah tanam. Untuk temu-lawak pemanenan rimpang
dilaku-kan setelah tanaman berumur 10 - 12 bulan. Temulawak yang dipanen pada
umur tersebut menghasilkan kadar minyak atsiri dan kurkumin yang tinggi.
Penanaman rimpang dilakukan pada saat awal musim hujan dan dipanen pada
pertengahan musim kemarau. Saat panen yang tepat ditandai dengan mulai
menge-ringnya bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah (daun dan
batang semu), misalnya kunyit, temulawak, jahe, dan kencur.
Bunga. Bunga digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik dalam bentuk
segar maupun kering. Bunga yang digunakan dalam bentuk segar, pemanenan

dilakukan pada saat bunga kuncup atau setelah per-tumbuhannya maksimal.


Berbeda dengan bunga yang digunakan dalam bentuk kering, pemanenan
dilakukan pada saat bunga sedang mekar. Seperti bunga piretrum, bunga yang
dipanen dalam keadaan masih kuncup menghasilkan kadar piretrin yang lebih
tinggi dibandingkan dengan bunga yang sudah mekar.
Kayu. Pemanenan kayu dilakukan setelah pada kayu terbentuk senyawa metabolit
sekunder secara maksimal. Umur panen tanaman berbeda-beda tergantung jenis
tanaman dan ke-cepatan pembentukan metabolit sekundernya. Tanaman secang
baru dapat dipanen setelah berumur 4 sampai 5 tahun, karena apabila dipanen
terlalu muda kandungan zat aktifnya seperti tanin dan sappan masih relatif sedikit.
Herba. Pada beberapa tanaman semusim, waktu panen yang tepat adalah pada
saat pertumbuhan vegetatif tanaman sudah maksimal dan akan memasuki fase
generatif atau dengan kata lain pemanenan dilakukan sebelum ta-naman berbunga.
Pemanenan yang dilakukan terlalu awal mengakibat-kan produksi tanaman yang
kita dapatkan rendah dan kandungan bahan aktifnya juga rendah. Sedang-kan jika
pemanenan terlambat akan menghasilkan mutu rendah karena jumlah daun
berkurang, dan batang tanaman sudah berkayu. Contohnya tanaman sambiloto
sebaiknya di-panen pada umur 3 - 4 bulan, pegagan pada umur 2 - 3 bulan setelah
tanam, meniran pada umur kurang lebih 3,5 bulan atau sebelum berbunga dan
tanaman ceplukan dipanen setelah umur 1 - 1,5 bulan atau segera setelah timbul
kuncup bunga, terbentuk.

Cara petik daun :


Teknik memanen Sirih Merah
- CARA PEMANENAN DAUN SIRIH MERAH
Tanaman siap panen minimal berumur 4 bulan. Saat itu sirih merah terdiri atas 16
sampai 20 daun. Pada saat itu daun sudah relatif lebar, dengan panjang 15 sampai
20 cm. Daun siap petik harus berumur 1 bulan, bersih, dan warna mengkilap.
Daun yang dipetik berumur sedang, tidak terlalu tua atau muda, karena kadar zat
aktifnyatinggi.
Daun yang subur berukuran 10 cm dan 5 cm. Bila dipegang, daun terasa tebal dan
kaku (tidak lemas). Semakin tua warna daun, semakin tebal. Semakin tebal daun,
semakin kaku, . Aroma daun tajam dan rasanya pahit. Dalam sepekan panen
sekali, tapi bila tanaman rimbun panen setiap hari juga memungkinkan. Hindari
memetik daun yang terkena cipratan tanah, terutama pada waktu musim hujan.

Pemetikan dimulai dari tanaman bagian bawah menuju atas. Daun dipetik sekitar
60 cm dari permukaan tanah , dengan tujuan meminimalkan bila ada kotoran atau
debu yang menempel, . Bila daun dipetik sekitar 10 cm dari permukaan tanah,
kotoran terlalu banyak sehingga kurang layak panen. Semakin sering daun
dipanen, semakin cepat tunas tumbuh, lanjutnya. Pemetikan sebaiknya pada pagi
hingga pukul 11.00. Bila dipetik pada sore hari, menghambat proses pengeringan.
Pemetikan dengan pisau tajam dan steril.

- PASCA PANEN :
Selesai dipetik, daun disortir dengan standar mutu : daun bersih, segar, tebal, dan
mengkilap. Daun kotor, cacat, dan kusam dibuang. Daun direndam dalam air
selama 1530 menit untuk membersihkan kotoran dan debu yang menempel.
Kemudian

dibilas

hingga

bersih,

dan

ditiriskan.

Langkah berikutnya daun dirajang dengan alat yang bersih, steril, dan tajam.
Lebar irisan sekitar 1 cm, langsung dikeringanginkan di atas tampah beralas kertas
selama 1 jam. Rajangan yang telah kering 60% ditutup dengan kain hitam
transparan untuk menghindari debu, serangga, atau kemungkinan terbang karena
tertiup

angin.

Setelah kering, daun dimasukkan ke kantong plastik tebal transparan. Bila perlu
berikan silica gel untuk menyerap kadar air. Tutup rapat kantong, beri label, dan
tanggal kering. Kemudian simpan di tempat bersih, tidak lembap, dan mudah
dijangkau, misalnya stoples kaca. Dengan cara ini kualitas sirih merah tetap

terjaga hingga setahun. Ketika hendak mengkonsumsi, ambil rajangan kering sirih
merah 34 lembar, dan rebus hingga mendidih. Minumlah setelah rebusan dingin
dan melalui penyaringan.

Daun Sirsak Urutan Ke 4,5,6?


Saya sering kali mendapat pertanyaan, apakah daun sirsak yang saya jual adalah
daun urutan ke 4,5, dan 6 dari pucuk. Banyak yang beranggapan bahwa daun
sirsak yang berkhasiat hanyalah daun urutan tersebut.
Saya perlu meluruskan anggapan tersebut. Daun yang khasiatnya optimal adalah
daun yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Urutan daun ke-5 dari pucuk
adalah panduan dalam memetik supaya daun yang dipetik tidak terlalu muda. Jadi
bukan hanya daun nomor 4,5,6 saja yang berkhasiat. Secara logika, tidak masuk
akal jika daun urutan ke-7 dan seterusnya tiba-tiba kehilangan khasiatnya,
sementara fisiknya tidak berbeda dengan daun nomor 6.
Daun yang masih muda terlihat dari warnanya yang hijau muda dan lembaran
daunnya tidak terlalu kaku (lemas). Daun yang terlalu tua terlihat dari bintikbintik dipermukaan atas dan bawah daun, dan warnanya hijau tua gelap, atau
mulai kecoklatan.
Sering kali daun urutan ke-3 pun sudah cukup tua, sehingga bisa dipetik. Juga
daun sampai urutan ke 10-12 masih baik dan bisa dipetik. Semua tergantung dari
kondisi pohon. Bagi yang sudah sering memetik daun sirsak akan dapat dengan
mudah membedakan daun yang baik dan daun yang kurang baik.

Daun sirsak yang saya jual, baik yang segar maupun yang sudah dikeringkan
adalah daun yang sudah dipilih. Daun yang kurang baik tidak digunakan.

DEFENISI HERBARIUM
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700)
untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550)
seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama
yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas
serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Ramadhanil, 2003).
Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang hama,
penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan semak
disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan berbentuk
herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering digunakan untuk spesimen
yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar, sedangkan
herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek, misalnya
buah (Setyawan dkk, 2005).

Bagian tanaman, cara pengumpulan dan kadar air simplisia.

No.
1

Bagian
Tanaman
Kulit Batang

Batang

Kayu

Cara Pengumpulan
Dari batang utama dan
cabang, dikelupas dengan
ukuran panjang dan lebar
tertentu
;untuk
kulit
batang
mengandung
minyak atsiri/ golongan
senyawa fenol digunakan
alat pengelupas bukan
logam.
Dari cabang dipotongpotong dengan panjang
tertentu dan diameter
cabang tertentu.
Dari batang atau cabang,
dipotong
kecil
atau
diserut(disugu)
setelah
dikelupas kulitnya.

Kadar Air
Simplisia

10%

10%

10%

Daun

Bunga

Pucuk

Akar

Rimpang

Buah

10

Biji

11

Kulit Buah

12

Bulbus

Tua dan muda (daerah


pucuk), dipetik dengan
tangan satu persatu.
Kuncup atau bunga mekar
atau mahkota bunga,
dipetik dengan tangan.
Pucuk berbunga; dipetik
dengan
tangan
(mengandung daun muda
dan bunga).
Dari bawah permukaan
tanah, dipotong dengan
ukuran tertentu.
Dicabut, dibersihkan dari
akar; dipotong melintang
dengan
ketebalan
tertentu.
Masak, hampir masak,
dipetik dengan tangan.
Buah dipetik:dikupas kulit
buahnya dengan pisau
atau menggilas, kemudian
biji
dikumpulkan
dan
dicuci.
Seperti biji, kulit buah
dikumpulkan dan dicuci.
Tanaman dicabut, bulbus
dipisah dari daun dan akar
dengan cara dipotong
kemudian dicuci.

5%

5%

8%

10%

8%

8%

10%

8%

PENTINGNYA TATA NAMA DALAM MEMAHAMI SIMPLISIA


Kebanyakan simplisia berasal dari tumbuhan. Penamaan dari simplisia
menggunakan bahasa Latin. Penamaan Latin secara umum menandai adanya
simplisia dari bagian tanaman yang diperoleh. Nama simplisia terdiri dari dua
patah kata, misalnya Digitalis folium (daun digitalis) berasal dari tanaman jenis
Digitalis purpurea. Beberapa simplisia hanya dinamai dengan satu kata, misalnya
Opium, Gallae, Aloe dan sebagainya. Terminologi yang digunakan untuk
menandai adanya bagian dari tumbuhan terlihat pada tabel 1.

Tabel 1. Terminologi Penamaan Simplisia

No.

Nama Latin
Radix

Keterangan
akar (root), sering tidak sama dengan konsep botani. Namanya

Rhizoma

radix ternyata merupakan rhizomes (akar tinggal).


Merupakan batang yang berada di bawah tanah, tumbuh

Tuber

mendatar, secara umum membawa akar lateral/cabang samping.


Suatu bagian di dalam tanah yang mengandung nutrisi, secara
botani merupakan akar/rhizoma. Tuber adalah bagian tumbuhan
yang menebal, utamanya terdiri dari parenkim tempat
menyimpan makanan (biasanya pati/amilum) dan dengan sedikit

Bulbus

bagian yang berkayu.


onion, umbi Iapis. Secara botani umbi Iapis adalah batang, yang

diselimuti dengan daun bernutrisi yang biasanya hanya sedikit


Lignum

mengandung klorofil.
wood, kayu. Secara botani adalah bagian xilem yang berkayu.
Namun

sering

keliru,

misalnya

Quassiae

Iignum

juga

mengandung kulit batang yang tebal, walaupun hanya sebagian


Cortex

kecil.
bark, kulit kayu. Berupa seluruh jaringan di luar kambium.

Folium
Flos

Dapat berasal dan akar, batang, dan cabang.


leaf, daun terdiri dari daun tengah pada tumbuhan.
flower, bunga yang terdiri dari bunga tunggal atau seluruh

Fructus

karangan bunga.
fruit, buah yang berupa buah yang belum masak, sudah tua

10.
11.
12.

Pericarpium
Semen
Herba

belum masak, sudah masak.


fruit peel, kulit buah.
seed, biji terdiri dan seluruh biji atau biji tanpa kulit.
herb, Bagian tumbuhan di atas tanah (aerial parts) terdiri dari

13.

Aetheroleum

batang, daun, bunga, dan buah.


essential oil, volatile oil. Minyak atsiri (minyak menguap,
minyak terbang) adalah produk yang berasal dari tumbuhan atau
bagiannya yang berbau khas yang terdiri banyak komponen

14.
15.
16.
17.

Oleum

yang komplek dan bersifat menguap.


oil, minyak lemak (fixed oil) yang berasal dari tumbuhan yang

Pyroleum
Resina

dipisahkan dengan pengepresan.


tar, dibuat dengan destilasi kering bahan tumbuhan.
resin, yaitu produk dan sekret tumbuhan tertentu atau hasil

Balsamum

destilasi balsam, yaitu residu penyulingan balsam.


balsam, Ianutan resin dalam minyak atsiri yang dihasilkan oleh
tumbuhan tertentu.

Tata nama dalam simplisia sangat menentukan dalam segala aspek


khususnya di industri. Mulai dari penyiapan bibit, budidaya, panen hingga
pengolahan pasca panen dan produksi dalam obat tradisional. Oleh karena itu
penamaan khususnya yang menyebut bagian-bagian dari tanaman ini tidak boleh
salah.

Tata Nama Simplisia

Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia disebutkan bahwa nama


simplisia nabati ditulis dengan menyebutkan nama genus atau spesies nama
tananman, diikuti nama bagian tanaman yang digunakan. Ketentuan ini tidak
berlaku untuk simplisisa nabati yang diperoleh dari beberapa macam tanaman
dan untuk eksudat nabati.

Contoh

1. Genus + nama bagian tanaman : Cinchonae Cortex, Digitalis Folium,


Thymi Herba, Zingiberis Rhizoma.
2. Petunjuk spesies + nama bagian tanaman : Belladonnae Herba,
Serpylli Herba.
3. Genus+petunjuk spesies+nama bagian tanaman : Capsici frutescentis
Fructus.

Tata Nama Latin Tanaman

1. Nama latin tananman terdidri dari 2 kata, kata pertama mennnjukkan


genus dan kata kedua menunjukkan spesies, misalnya nama latin
pada Oryza sativa, jadi Oryza adalah genusnya sedangkan sativa
adalah spesiesnya. Huruf pertama dari genus ditulis dengan huruf
besar dan huruf pertama dari petunjuk spesies ditulis dengan huruf
kecil.

2. Nama latin tanaman tidak boleh lebih dari 2 perkataan, jika lebih dari
2 kata (3 kata), 2 dari 3 kata tersebut harus digabungkan dengan tanda
(-). Contoh : Hibiscus rosa-sinensis
3. Kadang-kadang terjadi penggunaan 1 nama latin terhadap 2 tanaman
yang berbeda, hal ini disebut homonim dan keadaan ini terjadi
sehingga ahli botani lain keliru menggunakan nama latin yang
bersangkutan terhadap tanaman lain yang juga cocok dengan uraian
morfologis tersebut.

Tatanama (Nomenclature)

Tata nama atau nomenklatur (bahasa Inggris: nomenclature) berasal dari


bahasa Latin : nomen untuk penamaan atau calare bagi sebuah penyebutan
dalam bahasa Yunani: yang berasal dari kata atau
onoma yang sama berarti dengan bahasa Inggris kuno :nama dan bahasa
Jerman kuno : namo adalah merujuk pada persyaratan, sistem prinsip-prinsip
dasar, prosedur dan persyaratan yang berkaitan dengan penamaan yang dapat
merupakan pembakuan kata atau frase penugasan untuk objek tertentu.

[1]

http://id.wikipedia.org/wiki/Tata_nama

Kebanyakan obat gubal berasal dari tumbuhan. Nama tumbuhan obat sering
dalam bahasa Latin Famasi. Di negara yang menggunakan bahasa Inggris,
biasanya sering digunakan nama Inggris. Nama Latin biasanya kata pertama
menunjukkan marga (genus) dan kata kedua menunjukkan jenis (species)
tumbuhan, demikian pula bagian tumbuhan yang digunakan. Kata ini yang
digunakan

untuk

menunjukkan

bagian

tanaman:

* Radix : akar (root), sering tidak sama dengan konsep botani. Namanya radix
ternyata merupakan rhizomes (akar tinggal).

* Rhizoma : akar tinggal (rhizome), batang di dalam tanah, biasanya


mempunyai akar lateral.

* Tuber : bagian di dalam tanah yang mengandung nutrisi, yang secara botani
merupakan akar/rhizoma. Tuber adalah bagian tumbuhan yang menebal,
utamanya terdiri dari parenkim tempat menyimpan makanan (biasanya
pati/amilum) dan dengan sedikit bagian yang berkayu.

* Bulbus : onion, umbi Iapis. Secara botani umbi Iapis adalah batang, yang
diselimuti dengan daun bernutrisi yang biasanya hanya sedikit mengandung
klorofil.

* Lignum : wood, kayu. Secara botani adalah bagian xilem yang berkayu.
Namun sering keliru, misalnya Quassiae Iignum juga mengandung kulit
batang yang tebal, walaupun hanya sebagian kecil.

* Cortex : bark, kulit kayu. Berupa seluruh jaringan di luar kambium. Dapat
berasal dan akar, batang, dan cabang.

* Folium : leaf, daun terdiri dari daun tengah pada tumbuhan.

* Flos : flower, bunga yang terdiri dari bunga tunggal atau seluruh karangan
bunga.

* Fructus : fruit, buah yang berupa buah yang belum masak, sudah tua belum
masak, sudah masak.

* Pericarpium : fruit peel, kulit buah.

* Semen : seed, biji terdiri dan seluruh biji atau biji tanpa kulit.

* Herba : herb, Bagian tumbuhan di atas tanah (aerial parts) terdiri dari
batang, daun, bunga, dan buah.

* Aetheroleum : essential oil, volatile oil. Minyak atsiri (minyak menguap,


minyak terbang) adalah produk yang berasal dari tumbuhan atau bagiannya
yang berbau khas yang terdiri banyak komponen yang komplek dan bersifat
menguap.

* Oleum : oil, minyak lemak (fixed oil) yang berasal dari tumbuhan yang
dipisahkan dengan pengepresan.

* Pyroleum : tar, dibuat dengan destilasi kering bahan tumbuhan.

* Resina : resin, yaitu produk dan sekret tumbuhan tertentu atau hasil destilasi
balsam, yaitu residu penyulingan balsam.

* Balsamum : balsam, Ianutan resin dalam minyak atsiri yang dihasilkan oleh
tumbuhan tertentu.

Tata nama biologi (Binomial nomenclature - Binominal nomenclature -

Binary nomenclature - - - Shung mng f - rmng f)

Tata nama dalam biologi telah mengalami perubahan berkali-kali semenjak


manusia mencatat berbagai jenis organisme. Plinius dari masa Kekaisaran
Romawi telah menulis sejumlah nama tumbuhan dan hewan dalam
ensiklopedia yang dibuatnya dalam bahasa Latin. Sistem penamaan
organisme selanjutnya selalu menggunakan bahasa Latin dalam tradisi
pencatatan Eropa. Hingga sekarang sukar dijumpai sistem penulisan nama
organisme yang dipakai dalam tradisi Arab atau Tiongkok. Kemungkinan
dalam tradisi ini penulisan nama menggunakan nama setempat (nama lokal).
Keadaan berubah setelah cara penamaan yang lebih sistematik diperkenalkan
oleh Carolus Linnaeus dalam kitab yang ditulisnya, Systema Naturae
("Sistematika Alamiah").
Tata nama binomial
Tata nama binomial (binomial berarti 'dua nama') merupakan aturan
penamaan baku bagi semua organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua
kata dari sistem taksonomi (biologi), dengan mengambil nama genus dan
nama spesies. Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan dalam
bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Aturan ini pada awalnya
diterapkan untuk fungi, tumbuhan dan hewan oleh penyusunnya (Carolus
Linnaeus), namun kemudian segera diterapkan untuk bakteri pula. Sebutan

yang disepakati untuk nama ini adalah 'nama ilmiah' (scientific name). Awam
seringkali menyebutnya sebagai "nama latin" meskipun istilah ini tidak tepat
sepenuhnya, karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli
dalam bahasa latin melainkan nama yang diberikan oleh orang yang pertama
kali memberi pertelaan atau deskripsi (disebut deskriptor) lalu dilatinkan.
Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi
Tata Nama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut
kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tata Nama
Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil hewan; dan Peraturan Internasional
bagi Tata Nama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi,
khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku
bagi tanaman budidaya (Peraturan Internasional bagi Tata Nama Tanaman
Budidaya, ICNCP).
Aturan penulisan

Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama


("epitet" dari

epithet) genus di awal dan nama ("epitet")

spesiesmengikutinya.

Nama genus SELALU diawali dengan huruf kapital (huruf besar,


uppercase) dan nama spesies SELALU diawali dengan huruf biasa
(hurufkecil,lowercase).

Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya


(artinya, suatu teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok,
misalnya pada judul suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama
ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk halberikut:

1. Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis
dengan huruf miring (huruf italik), dan sebaliknya. Contoh: Glycine
soja, Pavo muticus. Perlu diperhatikan bahwa cara penulisan ini
adalah konvensi yang berlaku saat ini sejak awal abad ke-20.
Sebelumnya, seperti yang dilakukan pula oleh Carolus Linnaeus,
nama atau epitet spesies diawali dengan huruf besar jika diambil dari
nama orang atau tempat.
2. Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang
terpisah untuk nama genus dan nama spesies.

Nama lengkap (untuk hewan) atau singkatan (untuk tumbuhan) dari


deskriptor boleh diberikan di belakang nama spesies, dan ditulis
dengan huruf tegak (latin) atau tanpa garis bawah (jika tulisan
tangan). Jika suatu spesies digolongkan dalam genus yang berbeda
dari yang berlaku sekarang, nama deskriptor ditulis dalam tanda
kurung. Contoh: Glycine max Merr., Passer domesticus (Linnaeus,

1978) yang terakhir semula dimasukkan dalam genus Fringilla,


sehingga

diberi

tanda

kurung

(parentesis).

Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama


ilmiah biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung.
Contoh pada suatu judul: "PENGUJIAN DAYA TAHAN KEDELAI
(Glycine

max

Merr.)

TERHADAP

BEBERAPA

TINGKAT

SALINITAS". (Penjelasan: Merr. adalah singkatan dari deskriptor


(dalam contoh ini E.D. Merrill) yang hasil karyanya diakui untuk
menggambarkan Glycine max. Nama Glycine max diberikan dalam
judul karena ada spesies lain, Glycine soja, yang juga disebut
kedelai.).

Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali.


Penyebutan selanjutnya cukup dengan mengambil huruf awal nama
genus dan diberi titik lalu nama spesies secara lengkap. Contoh:
Tumbuhan dengan bunga terbesar dapat ditemukan di hutan-hutan
Bengkulu, yang dikenal sebagai padma raksasa (Rafflesia arnoldii).
Di Pulau Jawa ditemukan pula kerabatnya, yang dikenal sebagai R.
patma, dengan ukuran bunga yang lebih kecil.
Sebutan E. coli atau T. rex berasal dari konvensi ini.

Singkatan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani) digunakan jika nama


spesies tidak dapat atau tidak perlu dijelaskan. Singkatan "spp."
(zoologi dan botani) merupakan bentuk jamak. Contoh: Canis sp.,
berarti satu jenis dari genus Canis; Adiantum spp., berarti jenis-jenis
Adiantum.

Sering dikacaukan dengan singkatan sebelumnya adalah "ssp."


(zoologi) atau "subsp." (botani) yang menunjukkan subspesies yang
belum diidentifikasi. Singkatan ini berarti "subspesies", dan bentuk
jamaknya "sspp." atau "subspp."

Singkatan "cf." (dari confer) dipakai jika identifikasi nama belum


pasti. Contoh: Corvus cf. splendens berarti "sejenis burung mirip
dengan gagak (Corvus splendens) tapi belum dipastikan sama dengan
spesies ini".

Penamaan fungi mengikuti penamaan tumbuhan.

Tatanama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi


Binomial".

Tatanama trinomial
Penamaan biologi dapat diperluas hingga tingkat di bawah spesies
(subspesies). Dalam zoologi penamaan ini disebut "trinomen" sedangkan di

bidang botani penamaan ini disebut "trinomial".