Anda di halaman 1dari 16

PENGUKURAN RISIKO

MAKALAH
Oleh
Kelompok 2

MANAJEMEN RISIKO KELAS D


PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2015

PENGUKURAN RESIKO
A. DEFINISI PENGUKURAN RESIKO
Istilah risiko sudah biasa dipakai dalam kehidupan kita sehari-hari, yang umumnya
sudah dipahami secara intuitif. Tetapi pengertian secara ilmah dari risiko sampai saat
ini masih tetap beragam, yaitu antara lain :
Risiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu
(Arthur Williams dan Richard, M.H).
Risiko adalah ketidakpastian (uncertainty) yang mungkin melahirkan peristiwa
kerugian (loss) (A. Abas Salim).
Risiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto).
Risiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan
(Herman Darmawi).
Risiko adalah probabilitas sesuatu hasil/outcome yang berbeda dengan yang
diharapkan (Herman Darmawi).
Jadi, pengukuran risiko adalah usaha untuk mengetahui besar atau kecilnya risiko
yang akan terjadi. Hal ini di lakukan untuk melihat tinggi rendahnya risiko yang akan
di hadapi oleh perusahaan. Dengan pengukuran risiko seorang manajer mampu
memprediksi resiko apa saja yang akan di hadapi oleh perusahaan, dampaknya
terhadap perusahaan, serta melakukan prioritisasi risiko. Pengukuran risiko
merupakan tahap lanjutan mengindentifikasi risiko.
Definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa risiko selalu dihubungkan dengan
kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan yang tidak diduga/tidak diinginkan.
Dengan demikian risiko mempunyai karakteristik :

Merupakan ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa.

Merupakan ketidakpastian bila terjadi akan menimbulkan kerugian.

Wujud dari risiko itu dapat bermacam-macam, antara lain :


-Berupa kerugian atas harta milik / kekayaan atau penghasilan, misalnya diakibatkan
oleh kebakaran, pencurian, pengangguran, dan sebagainya.
-Berupa tanggung jawab hukum, misalnya risiko dari perbuatan atau peristiwa yang
merugikan orang lain.
-Berupa penderitaan seseorang, misalnya sakit / cacat karena kecelakaan.
-Berupa kerugian karena perubahan keadaan pasar, misalnya terjadinya perubahan
harga, perubahan selera konsumen dan sebagainya.
Risiko dapat dibedakan dengan berbagai macam cara, antara lain :
1. Menurut sifatnya risiko dapat dibedakan ke dalam :
a.

Risiko yang tidak sengaja (risiko murni), adalah risiko yang apabila terjadi tentu

menimbulkan kerugian dan terjadinya tanpa disengaja; misalnya risiko terjadinya


kebakaran, bencana alam, pencurian, penggelapan, pengacauan, dan sebagainya.
b.

Risiko yang disengaja (risiko spekulatif), adalah risiko yang sengaja

ditimbulkan oleh yang bersangkutan, agar terjadinya ketidakpastian memberikan


keuntungan kepadanya, misalnya risiko utang-piutang, perjudian, perdagangan
berjangka (hedging), dan sebagainya.
c.

Risiko fundamental, adalah risiko yang penyebabnya tidak dapat dilimpahkan

kepada seseorang dan yang menderita tidak hanya satu atau beberapa orang saja,
tetapi banyak orang, seperti banjir, angin topan, dan sebagainya.
d.

Risiko khusus, adalah risiko yang bersumber pada peristiwa yang mandiri dan

umumnya mudah diketahui penyebabnya,

seperti kapal tandas, pesawat jatuh,

tabrakan mobil, dana sebagainya.


e.

Risiko dinamis, adalah risiko yang timbul karena perkembangan dan kemajuan

(dinamika) masyarakat di bidang ekonomi, ilmu dan teknologi, seperti risiko


keusangan, risiko penerbangan luar angkasa. Kebalikannya disebut

risiko statis,

seperti risiko hari tua, risiko kematian dan sebagainya.


2. Dapat-tidaknya risiko tersebut dialihkan kepada pihak lain, maka risiko dapat
dibedakan ke dalam :

a.

Risiko yang dapat dialihkan kepada pihak lain, dengan mempertanggungkan

suatu objek yang akan terkena risiko kepada perusahaan asuransi, dengan membayar
sejumlah premi asuransi, sehingga semua kerugian menjadi tanggungan (pindah)
pihak perusahaan asuransi.
b.

Risiko yang tidak dapat dialihkan kepada pihak lain (tidak dapat diasuransikan);

umumnya meliputi semua jenis risiko spekulatif.

3. Menurut sumber / penyebab timbulnya, risiko dapat dibedakan ke dalam :


a.

Risiko intern yaitu risiko yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri, seperti

kerusakan aktiva karena ulah karyawan

sendiri, kecelakaan kerja, kesalahan

manajemen dan sebagainya.


b.

Risiko ekstern yaitu risiko yang berasal dari luar perusahaan, seperti risiko

pencurian, penipuan, persaingan, fluktuasi harga, perubahan kebijakan pemerintah,


dan sebagainya.
B. MANFAAT PENGUKURAN RESIKO
Manfaat Pengukuran Risiko antara lain adalah sebagai berikut:
1. Untuk menentukan kepentingan relatif dari suatu risiko yang dihadapi
2. Untuk mendapat informasi yang sangat diperlukan oleh Manajer Risiko dalam
upaya menentukan cara dan kombinasi cara-cara yang paling dapat diterima atau
paling baik dalam penggunaan sarana penanggulangan risiko
Dimensi yang harus diukur antara lain adalah sebagai berikut:
1. Frekuensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi
2. Tingkat kegawatan atau keparahan dari kerugian-kerugian tersebut
Dari hasil pengukuran yang mencakup dua dimensi tersebut paling tidak dapat
diketahui :
1. Nilai rata-rata dari kerugian selama suatu periode anggaran

2. Variasi nilai kerugian dari satu periode anggaran ke periode anggaran yang lain
naik-turunnya nilai kerugian dari waktu ke waktu
3. Dampak keseluruhan dari kerugian-kerugian tersebut, terutama kerugian yang
ditanggung sendiri (diretensi), jadi tidak hanya nilai rupiahnya saja
Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan dimensi pengukuran tersebut,
antara lain :
1. Orang umumnya memandang bahwa dimensi kegawatan dari suatu kerugian
potensial lebih penting dari pada frekuensinya
2. Dalam menentukan kegawatan dari suatu kerugian potensial seorang Manajer
Risiko harus secara cermat memperhitungkan semua tipe kerugian yang dapat
terjadi, terutama dalam kaitannya dengan pengaruhnya terhadap situasi financial
perusahaan
3. Dalam pengukuran kerugian Manajer Risiko juga harus memperhatikan orang,
harta kekayaan atau exposures yang lain, yang tidak terkena peril
4. Kadang-kadang akibat akhir dari peril terhadap kondisi financial perusahaan lebih
parah dari pada yang diperhitungkan, antara lain akibat tidak diketahuinya atau
tidak diperhitungkannya kerugian-kerugian tidak langsung
5. Dalam mengestimasi kegawatan dari suatu kerugian penting pula diperhatikan
jangka waktu dari suatu kerugian, di samping nilai rupiahnya
C. METODE PENGUKURAN RESIKO
Beberapa metode yang dapat di gunakan untuk mengukur resiko adalah sebagai
berikut ini:
1. Pengukuran resiko dengan distribusi probabilitas.
Di gunakan sebagai gambaran kualitatif dari peluang atau frekuensi.
Kemungkinan dari kejadian atau hasil yang spesifik, di ukur dengan rasio dari
kejadian atau hasil yang spesifik terhadap jumlah kemungkinan kejadian atau hasil.
Probabilitas di lambangkan dengan angka 0 dan 1, dengan 0 menandakan kejadian
atau hasil yang tidak mungkin dan 1 menandakan kejadian atau hasil yang pasti.
Probabilitas merupakan kesempatan atau kemungkinan terjadinya suatu kejadian atau
kemungkinan jangka panjang terjadinya sesuatu.

Distribusi probabilitas menunjukkan probabilitas kejadian bagi masing-masing


outcome yang mungkin. Karena outcome itu merupakan mutually exclusive, maka
semua probabilitas jika dijumlahkan maka jumlahnya sama dengan satu.
3 macam distribusi probabilitas :
a) Total kerugian pertahun
b) Banyaknya kejadian pertahun
c) Kerugian per kejadian
Kerugian biasanya meliputi :
a) Harta termasuk laba bersih
b) Tanggung gugat
c) Personil
Konsep probabilitas :
a) Sample Space : Suatu set dari kejadian tertentu yang diamati (S)
b) Event : Merupakan segmen atau bagian dari Sample Space (E)
Tanpa Bobot : P (E) = E
S
Dengan Bobot : P (E) = W (E)
W (S)
Dimana : P(E) = probabilitas terjadinya event
E

= sub set atau event

= sample space atau set

= bobot dari masing-masing event

Asumsi dalam Probabilitas


a) Bahwa kejadian atau event tersebut akan terjadi
b) Bahwa kejadian-kejadian tersebut adalah mutually exclusive, artinya dua
peristiwa tidak akan terjadi secara bersamaan
c) Bahwa pemberian bobot pada masing-masing peristiwa dalam set adalah
positif, sebab besarnya probabilitas akan berkisar antara 1 dan 0, di mana
peristiwa yang pasti terjadi probabilitasnya 1, sedangkan peristiwa yang pasti
tidak terjadi probabilitasnya 0
Aksioma Definisi Probabilitas
a) Probabilitas adalah suatu nilai/angka yang besarnya terletak antara 0 dan 1,
yang diberikan pada masing-masing peristiwa

0 P (A) 1
b) Jumlah hasil penambahan keseluruhan probabilitas dari peristiwa-peristiwa
yang mutually exclusive dalam sample space adalah 1
c) Probabilitas suatu peristiwa yang terdiri dari sekelompok peristiwa yang
mutually exclusive dalam suatu set (sample space) merupakan hasil
penjumlahan dari masing-masing probabilitas yang terpisah
Sifat Probabilitas
Probabilitas adalah aproksimasi. Jarang sekali terjadi atau bahkan tidak
mungkin dapat diketahui besarnya probabilitas secara mutlak (pasti sama dengan
kenyataan).
2.

Notional Risiko diukur berdasarkan nilai eksposur Contohnya, pengukuran risiko

kredit dengan metode notional. Jika perusahaan meminjamkan uang kepada pihak lain
senilai Rp 2 milyar, maka besarnya risiko kredit berdasarkan pendekatan notional
adalah Rp 2 milyar.
3.

Sensitivitas Risiko diukur berdasarkan seberapa sensitif suatu eksposur terhadap

perubahan faktor penentu. Contoh paling populer adalah risiko aset keuangan atau
sekuritas, yang diukur berdasarkan sensitivitas tingkat pengembalian (return) aset
yang bersangkutan terhadap perubahan tingkat pengembalian pasar. Ukuran ini
dikenal sebagai Beta Pasar. Contoh lain adalah degree of operating leverage (DOL),
yang mengukur sensitivitas laba operasi terhadap perubahan penjualan. DOL
digunakan sebagai ukuran risiko bisnis.
4.

Volatilitas Risiko diukur berdasarkan seberapa besar nilai eksposur berfluktuasi.

Ukuran yang umum adalah standar deviasi. Semakin besar standar deviasi suatu
eksposur, semakin berfluktuasi nilai eksposur tersebut, yang berarti semakin beresiko
eksposur atau aset tersebut.
5. Pendekatan VaR ( value at risk ), risiko diukur berdasarkan kerugian maksimum
yang bisa terjadi pada suatu aset atau investasi selama periode tertentu, dengan tingkat
keyakinan ( level of confidence ) tertentu. Untuk mengukur risiko dengan pendekatan
VaR, diperlukan data standar deviasi dan skor Z dari tabel distribusi normal. Contoh:
diketahui standar deviasi dari suatu aset bernilai Rp 1 juta adalah 2,4%. Pada tingkat

keyakinan 95%, skor Z-nya adalah 1,645. Maka besarnya risiko (dalam nilai Z)
adalah 0,024 x 1,645 = 0,040. Jika nilai Z tersebut dikembalikan ke nilai awalnya
menjadi 0,040 x Rp 1 juta = Rp 40 ribu.
6.

Matriks frekuensi dan signifikansi risiko. Teknik pengukuran yang cukup

sederhana

tidak

terlalu

melibatkan

kuantifikasi

yang

rumit

adalah

mengelompokkan risiko berdasarkan dua dimensi yaitu frekuensi dan signifikansi.


Terdapat 2 hal dalam proses tersebut yaitu :
1. Mengembangkan standar risiko
2. Menerapkan standar tersebut untuk risiko yang telah diidentifikasi
3. Analisis scenario. Kemampuan manajer/perusahaan untuk memprediksi apa
yang akan terjadi, dan berapa besarnya kerugian yang diperoleh.
Example: Teknik pengukuran berbeda tingkat kecanggihannya (tingkat
kuantifikasi ), dalam artian

beda tipe resiko beda juga tekhnik yang

digunakan.
D. CONTOH KASUS PENGUKURAN RESIKO
A.

Identifikasi dan simulasi distribusi frekuensi


Hasil identifikasi dan penyesuaian (fitting) distribusi frekuensi data input

menunjukkan distribusi data tergolong pada dalam distribusi Poisson. Hal ini dapat
dilihat pada gambar 1. Distribusi poisson menurut Walpole (1993: 173) merupakan
distribusi yang menggambarkan distribusi peluang bilangan X yang menyatakan
banyaknya hasil percobaan dalam suatu percobaan poisson. Nilai peluang distribusi
Poisson hanya bergantung pada nilai tengahnya (), yaitu rata-rata banyaknya hasil
percobaan yang terjadi selama selang waktu atau daerah yang diberikan.
Lebih lanjut, hasil penyesuain menunjukkan nilai mean distribusi Poisson
sebesar 1,95 dan nilai standar deviasinya sebesar 1,40. Nilai skewness distribusi
Poisson sebesar 0,72 yang berarti distribusi ini memiliki distribusi data yang condong
ke kiri dan memiliki ekor memanjang ke kanan. Menurut Lewis (2004: 51) analisa
nilai

skewness

sangat

penting

bagi

sebuah

distribusi

operasional

karena

mencerminkan tingkat kejadian yang ekstrem pada sebuah distribusi data. Nilai
skewness yang kurang dari dari satu menandakan distribusi ini tidak memiliki
likelihood data ekstrim yang besar. Nilai skewness positif juga mengindikasikan

banyaknya data positif dalam sebuah distribusi. Sehingga, pada distribusi data ini,
nilai positifnya lebih banyak dari nilai negatifnya.
Nilai kurtosis sebuah distribusi mencerminkan bobot ekor yang dimiliki oleh
distribusi tersebut. Nilai kurtosis distribusi Poisson sebesar 3,51, menandakan
distribusi data Poisson memiliki bentuk leptokurtic. Distribusi leptokurtic merupakan
distribusi yang memiliki nilai kurtosis lebih dari tiga (Lewis, 2004: 55). Artinya,
distribusi Poisson ini memiliki bobot ekor (weight tail) yang tinggi dan bisa dikatan
ekor distribusi semakin jauh dari nilai tengah (mean). Uji statistik Goodness of Fit
(GoF) distribusi Poisson sebesar 98,69 yang ditandai dengan nilai chi-square.
Sedangkan, nilai critical value distribusi Poisson pada selang kepercayaan 99,9%
sebesar 18,47 dan pada selang kepercayaan 99% sebesar 13,28.
Sementara itu, tujuan dilakukannya simulasi distribusi frekuensi kejadian
adalah mendapatkan angka yang tepat sebagai angka acuan jumlah simulasi yang
dibutuhkan distribusi severitas. Fitting distribusi akan menghasilkan DNA data
kejadian yang kemudian akan disimulasikan menggunakan software @Risk.
Simulasi dilakukan sebanyak 1.000 kali. Hasil simulasi data kejadian dikumpulkan
dalam sebuah tabel akumulasi data untuk mendapatkan jumlah total akumulasi.
Jumlah total akumulasi ini yang nantinya akan digunakan untuk mensimulasikan data
kerugian severitas. Hasil simulasi data kejadian dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Simulasi Distribusi Frekuensi Kejadian
Kejadian Per Jumlah Hari

Akumulasi

Hari
0
143
0
1
277
277
2
270
540
3
177
531
4
85
340
5
34
170
6
10
60
7
3
21
8
1
8
Jumlah
1000
1947
Tabel 2 menunjukkan hasil simulasi distribusi frekuensi kejadian kerugian
operasional per hari. Simulasi dilakukan sebanyak 1.000 kali dengan nilai maksimal
kejadian dalam satu hari sebanyak delapan kali kejadian. Jumlah hari tanpa adanya
kejadian yang merugikan sebanyak 143 hari. Sementara jumlah hari yang dalam satu
hari ada satu kejadian sebanyak 277 hari. Delapan kali (nilai maksimum) kejadian

yang merugikan hanya pernah terjadi sekali dalam sehari. Jadi, hasil simulasi
distribusi frekuensi menunjukkan ada 1.947 kejadian secara akumulasi selama 1.000
hari. Sehingga jumlah jumlah simulasi yang dibutuhkan untuk mensimulasikan
distribusi severitas sebanyak 1.947.
B.

Identifikasi dan simulasi distribusi severitas


Distribusi severitas kerugian merupakan distribusi yang menggambarkan pola

penyebaran data kerugian dalam kurun waktu tertentu. Distribusi severitas juga
memiliki sifat yang kontinu. Distribusi severitas juga bisa menjelaskan pola data yang
berbentuk pecahan. Bentuk dari distribusi severitas yang biasa ditemuakan antara lain
distribusi beta, distribusi eksponensial, distribusi lognormal, distribusi Gamma,
distribusi Pareto, distribusi Earlang, dan distribusi Rayleigh (Muslich, 2007: 68).
Pemodelan Value at Risk (VaR) kerugian operasional dengan pendekatan
Advanced Measurement Approach (AMA) menuntut ketepatan dalam menentukan
jenis distribusi severitas kerugian operasional selain juga distribusi frekuensi.
Menurut Muslich (2007: 67), ketepatan menuntukan karakteristik distribusi severitas
menentukan ketepatan dalam menetukan parameter distribusi data. Sehingga
pemodelan pengukuran risiko menjadi lebih tepat dan akurat. Testing karakteristik
distribusi severitas kerugian operasional dapat menggunakan pendekatan tes ChiSquare, Kolmogorov Smirnov (KS), atau Anderson Darling.
Identifikasi distribusi severitas kerugian dilakukan dengan cara memblok data
kerugian operasional pada periode penelitian, kemudian dilakukan fitting distribusi
menggunakan software @Risk. Hasil fitting menunjukkan distribusi data kerugian
memiliki karakteristik jenis distribusi lognormal. Hasil fitting distribusi severitas
ditampilkan dalam gambar 2. Pada penelitian ini, pendekatan Goodnes of Fit yang
digunakan adalah uji statistik chi-square.
Nilai maksimum data input senilai 865.826,02. Nilai minimum data input
senilai 8.663,91 dan nilai minimum distribusi lognormal sebesar 7.839,47. Nilai ratarata (mean) data input sebesar 84.781,68, sedangkan standar deviasi data input senilai
133.953,24. Nilai standar deviasi yang besar mengindikasikan data input memiliki
penyebaran data yang beragam. Derajat skewness data input senilai 4,55, menandakan
distribusi data input memiliki likelihood atas kejadian ekstrim yang tinggi karena
memliki derajat skewness yang lebih besar dari satu. Nilai ini juga menandakan pola
distribusi data input cenderung condong ke kiri dengan ekor memanjang ke kanan.
Nilai kurtosis distribusi input 28,13, menandakan distribusi ini memiliki bobot ekor
peluang distribusi yang semakin jauh dari nilai tengah distribusi data. Nilai kurtosis

yang lebih dari tiga menjadikan distribusi data input tergolong dalam distribusi
leptokurtic.
Hasil fitting distribusi severitas menyebutkan distribusi logaritma normal
(lognormal) sebagai distribusi yang paling cocok dengan jenis distribusi data input.
Menurut informasi pada tabel 4.4 , nilai mean distribusi lognormal sebesar 95.473,49.
Nilai maksimal distribusi lognormal infinity () dan nilai minimalnya 7.839,47.
Standar deviasi distribusi lognormal senilai 230.437,73 mengindikasikan data pada
distribusi ini tersebar secara beragam dan ragam penyebrannya lebih tinggi dari
distribusi data input.
Distribusi lognormal memiliki derajat skewness 26,07 yang berarti distribusi
ini berpola condong ke kiri dan memiliki ekor memanjang ke kanan serta memiliki
kemungkinan terjadinya (likelihood) kejadian ekstrim yang tinggi. nilai kurtosis-nya
5.100,16 menjadikan distribusi lognormal tergolong dalam distribusi leptokurtic. Nilai
kurtosis tersebut juga mengindikasikan distribusi lognormal memiliki bobot ekor yang
jauh dari nilai tengahnya. Chi-square distribusi lognormal sebesar 3,33 dengan nilai
robabilitas 85%. Hal ini mengindikasikan nilai goodness of fit yang baik. Distribusi
lognormal memiliki critical value pada selang kepercayaan 99% senilai 18,48 dan
critical value pada selang kepercayaan 24,32.
Simulasi distribusi severitas dilakukan untuk mengetahui ekspektasi nominal
kerugian perusahaan dimasa mendatang. Simulasi disusun berdasarkan data distribusi
frekuensi dan data distribusi severitas. Penelitian ini hanya menggabungkan
probabilita terjadinya kegagalan sistem per bulan dengan pendekatan distribusi
Poisson dan besarnya kerugian severitas risiko operasional dengan pendekatan
distribusi Log Normal dengan iterasi sebanyak 1.947. Angka 1.947 didapat dari
akumulasi frekuensi kejadian setelah mensimulasikan distribusi frekuensi (lihat tabel
3).
Hasil simulasi distribusi severitas kehilangan menunjukkan nilai maksimal
hasil simulasi sebesar 4.017.517,07 dan nilai minimal senilai 7.877,37. Hasil simulasi
distribusi severitas kehilangan kemudian akan digabungkan dengan distribusi
frekuensi kejadian untuk mendapatkan distribusi kerugian agregat kehilangan.
Tabel 3. Hasil Simulasi Distribusi Severitas
Iterasi ke
1
2
3
4

Nilai Rp 000
131,158.62
166,916.42
38,600.48
25,483.08

5
6

1000

1947
C.

18,932.06
15,548.56

150,688.96

19,341.37

Identifikasi distribusi kerugian agregat


Distribusi kerugian agregat merupakan gabungan dari distribusi frekuensi

kejadian dan distribusi severitas kehilangan. Pendekatan distribusi kerugian agregat


membantu pihak bank atasu sebuah instansi untuk mengestimasi risiko sebuah bisnis
yang dilakukan instansi, menghitung probabilitas nominal kerugian (severitas) dalam
satu tahun, serta mengestimasi frekuensi kejadian merugikan selama satu tahun
(Frachot, et al., 2001: 2).
Penggabungan distribusi frekuensi dan distribusi severitas dilakukan dengan
memasukkan nilai hasil simulasi distribusi severitas kedalam tabel yang jumlah kolom
dan cell nya sesuai dengan hasil simulasi distribusi frekuensi. Data gabungan hasil
simulasi distribusi severitas dan hasil simulasi distribusi frekuensi kemudian
diidentifikasi pola distribusinya menggunakan software @Risk. Fitting distribusi juga
dilakukan untuk melihat persentil data 0,1%. Pola distribusi data gabungan hasil
fitting distribusi dilihat pada gambar 3. Pola distribusi data hasil fitting pada gambar 3
menunjukkan sebuah distribusi yang memiliki ekor panjang ke kanan. Dari gambar
pula dapat diketahui jenis distribusi data adalah distribusi InvGauss.
Distribusi data input memiliki nilai maksimum sebesar 4.071.550,06
sedangkan niiai maksimum distribusi InvGauss tidak terhingga (infinity). Distribusi
InvGauss memiliki nilai minimum -4.677,7 sedangkan data input memiliki nilai
minimum senilai 8.492,93. Kedua distribusi (baik data input dan InvGauss) memiliki
nilai tengah (mean) yang sama sebesar 213.805,27. Standar deviasi distribusi
InvGauss senilai 319.423,15 dan standar deviasi data input senilai 318.177,09. Nilai
standar deviasi distribusi data input lebih kecil dari distribusi InvGauss, sehingga
dapat disimpulkan penyebaran data distribusi InvGauss lebih beragam dari distribusi
data input.
Distribusi data input memiliki derajat skewness dan kurtosis yang lebih besar
dari distribusi InvGauss. Nilai Skewness distribusi data input 5,23 dan skewness
distribusi InvGauss sebesar 4,39. Menurut Lewis (2004: 54) jika sebuah distribusi
memiliki nilai skewness lebih besar dari satu, maka distribusi tersebut tergolong pada
distribusi yang memiliki nilai likelihood yang lebih tinggi. Artinya meskipun kedua

distribusi ini memiliki ekor memanjang ke kanan, akan tetapi distribusi data input
memiliki ekor ke kanan yang lebih panjang dari pada distribusi InvGauss. Nilai
skewness penting dalam perumusan model ataupun pengukuran risiko (terutama risiko
operasional) karena nilai skewness memberikan informasi tingkat likelihood dari
kondisi ekstrim sebuah distribusi (Lewis, 2004: 51).
Kurtosis merupakan sebuah tolak ukur bobot ekor sebuah ditribusi peluang
kejadian. Nilai kurtosis distribusi data input sebesar 46,99 dan kurtosis distribusi
InvGauss senilai 35,06. Kedua distribusi ini tergolong kepada distribusi leptokurtic.
Disebut sebagai distribusi leptokurtic karena memiliki nilai kurtosis yang lebih besar
dari tiga (Lewis, 2004: 55). Artinya, kedua distribusi ini memiliki bobot ekor (weight
tail) yang tinggi atau ekor peluang distribusi semakin jauh dari titik tengah (mean).
Nilai goodness of fit (chi square) distribusi InvGauss sebesar 31,42 dengan nilai
probabilitasnya sebesar 21%. Critical value pada selang kepercayaan 99% senilai
45,64 dan pada selang kepercayaan 99,9% sebesar 54,05.
D.

Hasil penghitungan Value at Risk (VaR)


Value at risk (VaR) Risiko operasional merupakan potensi kerugian pada

periode tertentu dengan tingkat keyakinan (convidence level) tertentu dan dalam
kondisi pasar yang normal. Nilai Value at Risk bisa dapat digunakan sebagai ukuran
biaya modal (capital charge) yang harus dialokasikan oleh sebuah instansi untuk
menutupi potensi kerugian akibat kegiatan bisnisnya (Lewis, 2004: 109). Capital
charge risiko operasional merupakan kerugian tidak terduga (unexpected loss) yang
mana merupakan selisih kerugian terduga (Expected Loss) dengan Value at Risk (VaR)
aktivitas operasional pada selang kepercayaan tertentu.
Sebelum menghitung unexpected loss harian, terlebih dahulu dibutuhkan
identifiksi nilai expected loss dan Value at Risk. Expected loss merupakan nilai dalam
kurva distribusi kerugian agregat yang besarnya senilai 0 sampai nilai tengah (mean)
distribusi agregat. Sedangkan unexpected loss nilainya berada didaerah antara nilai
tengah (mean) distribusi agregat sampai titik P99,9. Nilai 99,9% merupakan nilai selang
kepercayaan pada distribusi agregat. Sehingga P99,9 ialah titik VaR dalam persentil
yang dihitung pada selang kepercayaan 99,9%. Hasil penghitungan Value at Risk
harian Bank Syariah X dituliskan pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil Penghitungan Value at Risk (VaR) Harian
Value at Risk P99,9
Expected Loss
Unexpected Loss

4,071,550,059.70
213,805,267.80
3,857,744,791.90

Pada tabel 4. dapat dilihat nilai Value at Risk (VaR) P99,9 sebesar Rp
4.071.550.059,70 yang didapatkan dari nilai maksimal pada distribusi kerugian
agregat dengan selang kepercayaan sebesar 99,9%. Nilai expected loss harian sebesar
Rp 213.805.267,80 yang didapatkan dari nilai tengah (mean) distribusi kerugian
agregat. Sedangkan nilai unexpected loss harian bank syarian X senilai Rp
3.857.744.791,90.
Setelah didapatkan nilai capital charge harian, kini bisa dihitung capital
charge tahunan. Capital charge atau unexpected loss tahunan didapat dari hasil
perkalian nilai masing-masing angka pada tabel 4.6 dengan akar 365. Langkah ini
dilakukan karena terdapat 365 hari dalam satu tahun. Setelah melakukan
penghitungan, akar 365 adalah 19,10. Hasil penghitungan capital charge risiko
operasional tahunan dan Value at Risk (VaR) tahunan ditulisan pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil Penghitungan Value at Risk (VaR) Tahunan
Value at Risk P99.9
Expected Loss
Unexpected Loss

77,786,854,669.38
4,084,743,905.89
73,702,110,763.48

Tabel 5. diatas menerangkan nilai Value at Risk tahunan pada selang kepercayaan
99,9% sebesar Rp 77.786.854.669,38 yang merupakan hasil perkalian VaR harian
dikaliakan 19,10. Sedangkan nilai expected loss sebesar Rp 4.084.743.905,89 yang
didapat dari hasil perkalian expected loss harian dikalikan 19,10. Sehingga nilai
unexpected loss tahunan senilai Rp 73.702.110.763,48 didapatkan dari hasil
pengurangan VaR tahunan dikurangi expected loss tahunan. Dengan demikian, bank
syariah X harus menyediakan cadangan modal senilai Rp 73,7 milliar sebagai capital
charge untuk mengantisipasi potensi terjadi kerugian akibat risiko operasional.
Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian, dapat diperoleh kesimpulan bahwasanya bank
syariah X memiliki potensi kerugian akibat risiko operasional di tahun mendatang
senilai Rp 73.702.110.763,48. Sehingga mengharuskan bank tersebut untuk
mencadangkan modal senilai Rp 73,7 milliar atau senilai dengan 0,28% dari total
modalnya pada tahun 2011 dan 0,25% dari modalnya pada tahun 2012.
Penghitungan potensi kerugian agregat menggunakan pendekatan Loss
Distribution Aggregate masih memiliki kekurangan, mengingat metode ini belum
menghitung potensi kerugian dengan frekuensi kejadian rendah tetapi berdampak

signifikan terhadap berjalannya bisnis yang dilakukan perusahaan. Sehingga


diperlukan penghitungan menggunakan metode lain untuk melengkapi kekurangan
metode Loss Distribution Aggregate.

E. PENUTUP
A. Kesimpulan
a.

Pengukuran resiko adalah usaha untuk mengetahui besar/kecilnya resiko yang

akan terjadi. Hal ini dilakukan untuk melihat tinggi rendahnya resiko yang
dihadapi perusahaan, kemudian bisa melihat dampak dari resiko terhadap kinerja
perusahaan sekaligus bisa melakukan prioritisasi resiko, resiko yang mana yang
paling relevan.
Tekhnik pengukuran resiko:
1.

Pengukuran probabilitas.,

2.

Notional resiko.

3.

Sensitivitas resiko.

4.

Vilatilitas resiko.

5.

Pendekatan VAR.

6.

Matriks frekuensi dan signifikansi resiko.

7.

Analisis skenario.

Adapun manfaat pengukuran resiko yaitu:


1. Untuk menentukan kepentingan relatif dari suatu risiko yang dihadapi.
2. Untuk mendapatkan informasi yang sangat diperlukan oleh Manajer Risiko
dalam upaya menentukan cara dan kombinasi cara-cara yang paling dapat
diterima/paling baik dalam penggunaan sarana penanggulangan risiko.
B. Saran
Kepada pembaca :

1. Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini, semoga bermanfaat.


2. Kami akui bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami
harap kritikan yang sifatnya membangun.
3. Terkhusus anda yang ENTERPRENEUR pintar-pintarlah mengatur resiko,
sekecil apapun itu, karena ini menyangkut kesuksesan usaha anda.

F. DAFTAR PUSTAKA
Drs D.Herman, Manajemen resiko,cet.12; Jakarta: Bumi Aksara. 2010
Bank Indonesia, 2013. Home: Publikasi: Laporan Keuangan Publikasi Bank. [Online]
Available
at

:http://www.bi.go.id/biweb/Templates/Statistik/Default_Unit_Usaha_Syariah_

[Accessed 16 Juli 2013].


Basel Committe on Banking Supervision, 2006. International Convergence of Capital
Meausurement and Capital Standard: A Revised Framework Comprehensive Version,
Basel: s.n.
Basel Committee on Banking Supervision, 2006. International Convergence of
Capital Measurement and Capital Standards, Basle: s.n.
Shevchenko, P. V., 2008. Estimation of Operational Risk Capital Charge Under
Parameter Uncertainty. The Journal of Operational Risk 3, 1(2), pp. 51-63.
Wahyudi, I. et al., 2013. Manajemen Risiko Bank Islam. I ed. Jakarta: Salemba Empat.
Walpole, R. E., 1993. Pengnar Statistik penerj. Bamabang Sumantri. 3 ed. Jakarta: PT
Gramedia.
Wealth Indonesia, n.d. Investasi: Kasus Penipuan Capital Market: Bangkrutnya
Enron Corp.. [Online] Available at: http://www.wealthindonesia.com/ kasuspenipuan-capital-market/bangkrutnya-enron-corp.html [Accessed 5 April 2013].